Chapter 4 : Segno


"Oh? Apa kalian sedang berdiskusi? Aku mengganggu ya?" Mark bertanya ketika menyadari eksistensi Renjun dan Jaemin, senyum tipis masih terpatri di wajahnya.

Disuguhi senyuman yang seperti itu-simpel, tidak berlebihan tetapi meskipun begitu tetap mematikan-membuat mereka agak tersihir dan gugup. Kedua bocah itu saling pandang sebelum menjawab-mereka juga menyikut satu sama lain, astaga.

"Kami? Tidak-tentu tidak. Iya kan, Jaemin?"

"Benar, Haechan malah mengeluh ingin pulang dari jam terakhir tadi. Katanya ia sedikit pusing."

Jaemin menimpali sekaligus menebar dusta-memang mulutnya tidak bisa dipercaya. Haechan hampir saja menyiram Jaemin dengan jus mangga yang tinggal setengah dan melayangkan sanggahan jika Jaemin tidak menekankan kakinya lebih keras, seolah injakan kakinyanya yang sedari tadi masih bertengger di atas sepatu Haechan tidak cukup sakit.

"Kau sakit?" Mark kembali menatap Haechan dengan sorot mata yang biasa-sorot mata yang sampai sekarang tidak bisa Haechan artikan dan cukup untuk membuat Haechan tidak berkutik di bawah tatapannya.

"Iya?"

Bodoh. Renjun dan Jaemin membatin bersamaan. Seolah mempunyai kemampuan telepati, Haechan mengoreksi ucapannya.

"Maksudku tadi, sekarang sudah baikan." ujar Haechan disertai senyuman canggung, mencoba untuk meyakinkan Mark.

"Yakin?"

Persetan dengan meyakinkan Mark. Karena selain gagal-total-ia jadi teringat dengan debat kusir yang terjadi diantara dirinya dan Jaemin tidak lama sebelumnya. Di depannya, Jaemin tengah tersenyum mengejek dengan alis yang dinaik-turunkan. Haechan mendelik sebal.

Tidak ingin mengulur waktu lebih lama-dan mempermalukan dirinya lebih jauh lagi-Haechan mengangguk mencoba meyakinkan Mark sekali lagi. Secara teknis dia tidak berbohong karena dari awal dia memang tidak sakit, tapi karena Jaemin repot-repot menambah drama di kehidupannya, Haechan harus sedikit bersandiwara.

Mark mengangkat satu alisnya, tidak seratus persen percaya pada Haechan dan agak curiga melihat interaksi antara tiga siswa di hadapannya. Melihat Haechan yang sepertinya tidak akan menjelaskan lebih jauh dan mempertimbangkan waktu yang terus bergulir, Mark memutuskan untuk tidak ambil pusing. Setelah Haechan berdiri dan mengalungkan tasnya ia segera berpamitan-karena Mark adalah orang yang sopan dan Haechan bahkan tidak berfikir untuk sekedar melambaikan tangannya sebagai tanda berpisah.

Haechan berjalan mengekor di belakang Mark seperti anak ayam. Pandangannya terbagi, sesaat pada lantai marmer yang mengilat, pada waktu yang lain ia menatap kosong pada punggung tegap dan bahu lebar milik Mark. Jika dihitung-hitung Haechan lebih banyak melakukan hal yang terakhir disebut meskipun ia tidak akan mengakuinya.

Terlalu sibuk dengan pikirannya, ia tidak menyadari tubuhnya sudah berdiri di depan mobil milik Mark. Haechan menghembuskan nafas panjang yang secara tidak sadar ia tahan.

π

Haechan menatap keluar jendela mobil memandangi langit yang dihiasi semburat oranye dan jingga. Di hamparan langit yang dilapisi cahaya lembayung senja ia dapat melihat siluet burung-burung yang berterbangan.

Dia meremas ujung lengan kemejanya cemas, Haechan tidak yakin ia akan dibawa kemana dan berada di dalam mobil berdua bersama Mark yang notabene adalah orang asing membuatnya gugup dan was-was di saat yang bersamaan. Dari kaca pandang Mark melihat Haechan menggigit bibir bawahnya.

"Jangan melakukan itu," Mark menegur Haechan, otomatis membuatnya mengalihkan pandangan ke arah kursi kemudi.

"Melakukan apa?"

"Kalau kau terus melakukannya bibirmu bisa berdarah," Mark menjelaskan, suaranya menghantarkan getaran aneh pada ujung-ujung syaraf Haechan.

"Maaf."

Mark meliriknya sekilas lalu berkata dengan nada menyelidik, "Kenapa minta maaf?"

Tidak tahu harus menjawab apa-dia juga tidak tahu kenapa mengucap kata maaf, Haechan hanya mengedikkan bahu tidak yakin.

Keheningan sempat tercipta sampai mobil berhenti di perempatan lampu merah. Mark kembali menengok Haechan dari kaca pandang, anak itu sedang memainkan kancing lengan almamaternya. Salah tingkah. Tersenyum miring dengan sorot mata mengetahui, Mark memanggil namanya.

"Haechan?"

"Ya?"

Mark memutar lehernya mengamati Haechan, "Kau takut padaku?"

"Apa?"

"Kau takut padaku?" Mark mengulang sekali lagi.

Pertanyaan Mark, menurut Haechan, sangat absurd dan tidak terduga. Dia tidak tahu jawaban apa yang Mark harapkan. Takut? Apakah dia takut pada Mark?

"Apa... apa maksudnya itu?"

Melihat Haechan yang kesusahan menjawab Mark mencoba memberinya pencerahan. "Kau selalu terlihat ingin kabur jika melihatku. Bahkan sekarang kau terlihat ingin membuka pintu itu dan berlari keluar dari mobil."

"Tidak juga," sanggah Haechan cepat. Suaranya agak tercekat dan terdengar tidak meyakinkan. "Aku selalu begitu kalau bertemu dengan orang asing."

"Jadi kau tidak takut denganku?" Mark masih menatapnya, kilatan di matanya seolah menantang Haechan untuk menyanggahnya. Di tempat duduknya, Haechan berusaha keras untuk mempertahankan kontak mata dengan Mark.

"Aku memang selalu canggung kalau bersama dengan orang asing," ia membela.

"Begitu ya?"

"Aku tidak takut kok," tanpa sadar ia kembali menggigit bibir bawahnya.

Sedetik kemudian ia mendelik dan beringsut mendekati jendela-sampai punggungnya menempel-ketika Mark sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya. Alisnya terangkat sebelah melihat respon Haechan yang jika dipikir ulang berkontradiksi dengan pernyataannya barusan. Dari sudut mata Haechan, ia melihat tangan Mark terulur meraih ke arahnya. Ia berjengit ketika ibu jari yang putih dan dingin itu menyapu bibir bawahnya.

"Sudah kubilang jangan melakukannya, itu akan menyakitimu."

Mark tidak juga menyingkirkan tangannya. Manik hitamnya masih menatap lurus ke manik cokelat Haechan yang sedikit bergetar. Saat itu juga Haechan kesulitan bernafas.

"Lampu hijaunya sudah menyala."

"Sayang sekali."

Baru ketika kendaraan di samping mereka mulai bergerak Mark melepas pandangannya (dan menarik tangannya) dari siswa kelas tiga sekolah menengah atas itu dan beralih fokus ke jalan. Sisa perjalanannya ia habiskan memandang kosong keluar jendela-lagi. Mencoba nengalihkan pikirannya yang berkecamuk dengab menatap pohon dan tiang listrik yang berkelebat melaluinya.

Mark yang lagi-lagi menengok Haechan melalui spion hanya menarik tipis satu sudut bibirnya ke atas.

π

Mata Haechan memicing tajam pada bangunan bergaya Renaissance kuno yang berdiri kokoh di hadapannya. Dia bertanya-tanya dalam hati kenapa ayahnya meminta dia datang kemari. Tempat ini merupakan bekas kantor-yang beralih menjadi tempat arsip dan perpustakaan-yang jauh dari kota, Haechan sering mengunjungi bangunan dengan jendela-jendela yang besar ini ketika masih kecil. Untuk alasan tertentu ayahnya sering membawa keluarganya kemari entah melakukan apa, dan Haechan kecil sering berlari dan bermain sendiri di sepanjang koridor untuk mengusir rasa bosannya.

"Masuk saja," celetuk Mark menyadari keraguan Haechan.

Ia merajut langkah ragu melewati stoa yang di kanan kirinya berdiri kokoh pilar-pilar yang menjulang tinggi. Ia berbelok ke kiri menuju pintu besar dari kayu oak yang tingginya kira-kira tiga meter lebih.

Aula. Ia melangkah masuk dan tidak peduli berapa lama waktu yang telah berlalu, Haechan masih terpukau melihat chandelier raksasa yang menggantung dari langit-langit. Sibuk mengagumi lampu gantung, Haechan tidak sadar Mark sudah ada di sampingnya.

"Mr. Lee ada di halaman belakang," Ia menepuk bahu Haechan pelan sebelum melangkah terlebih dulu.

Haechan menyipitkan matanya ketika cahaya matahari menerobos masuk saat pintu menuju halaman dibuka. Menampakkan jalan setapak berbatu putih dan karpet rumput hijau. Setelah berjalan lima menit, dari ekor matanya Haechan menangkap bayangan Mr. Lee kira-kira sepuluh meter dari air mancur.

Dahi Haechan mengkerut. Tidak hanya ayahnya saja yang duduk mengitari meja putih, Taeyong juga duduk dengan satu kaki yang bertumpu di sebelah Mr. Lee, satu tangannya memegang... secangkir teh?

Mereka sedang pesta teh?

"Haechan," Taeyong melambai memberi isyarat pada Haechan untuk mendekat.

"Kenapa hyung ada di sini?" Haechan menembakkan pertanyaan begitu jarak antara dirinya dan Taeyong cukup dekat.

"Tugas," timpal Taeyong singkat dengan senyum misterius.

"Tapi-"

"Bagaimanapun juga tujuanmu ke sini bukan untuk menginterogasiku. Aku harus ke Gangnam bersama Mark, sudah dulu ya," sela Taeyong sambil mengusak rambut Haechan. Haechan menatap punggung Taeyong yang menjauhinya menghampiri Mark. Pria yang berdiri di dekat baju zirah yang seolah menjaga pintu itu menganggukkan kepalanya singkat sebelum melenggang pergi bersama Taeyong.

"Duduklah."

Haechan membalik tubuhnya cepat, seolah lupa akan keberadaan ayahnya di sana. Padahal alasan mengapa ia kemari adalah ayahnya. Laki-laki paruh baya yang mengenakan setelan semi formal itu sedang mengaduk tehnya pelan ketika Haechan duduk di sebrangnya.

"Kenapa ayah memintaku kemari?" Dan kenapa ayah ada di sini?

Mr. Lee meletakkan sendok teh di samping cangkir putih berisi teh yang asapnya masih mengepul. Ia menyeruput sedikit cairan berwarna cokelat bening itu dengan kalem, seolah tidak mendengar pertanyaan Haechan. Pertanyaan ulang sudah berada di mulut Haechan ketika akhirnya Mr. Lee berbicara.

"Tidak ada alasan khusus. Workshop terakhir di semester ini diselenggarakan di gedung ini, Paman Kim menungdang untuk makan malam. Sudah lama juga kan kau tidak bertemu dengan kakak sepupumu?"

"Iya juga, sih."

Mendengar kata kakak sepupu perasaan Haechan bercampur antara antusias dan kesal. Antusias karena memang sudah lama ia tidak bermain bersama kakak sepupu yang mirip kelinci itu, kesal karena ia sering jadi korban kejahilan dan eksperimen aneh miliknya.

Kejadian terburuk yang dialaminya karena ide kakak sepupunya-dan karena kebodohanya sendiri-adalah jatuh dari pohon oak di malam hari. Haechan selalu mengerang sengit kalau mengingatnya sampai detik ini.

"Bagaimana persiapan ujian akhirmu?"

Kalimat itu bagai bom yang dijatuhkan tepat di kepala Haechan. Ayahnya mengangkat topik yang paling ia hindari. Ia heran kenapa orang-orang menanyainya perihal ujian akhir, jika boleh jujur hal itu agak mengganggu Haechan. Moodnya pasti akan segera memburuk.

"Baik-baik saja." Yang mau ujian itu kan aku, kenapa orang repot-repot mengurusi itu sih?

"Sudah tahu akan mengambil jurusan apa?"

Jika tadi Haechan merasa terganggu, ia kini merasa dirantai pada beban berton-ton yang akan dilemparkan ke laut, menyeretnya tenggelam. Biasanya ia akan mengabaikan pertanyaan seperti itu atau menjawab dengan asal-asalan dengan 'Aku tidak tahu'. Entah seseorang menaruh racun pada jus mangganya atau otaknya sedang dikendalikan alien, Haechan melontarkan kata-kata yang tidak ia duga.

"Aku ingin mengambil sastra atau filsafat."

Mr. Lee memandang anaknya sedikit terkejut namun perlahan ekspresinya berubah tidak terbaca, syukur-syukur ia tidak tersedak teh yang diminumnya. Di lain sisi Haechan mengokohkan tembok mentalnya, bersiap menerima semprotan ayahnya yang bisa datang kapan saja.

"Oh."

Oh?

"Universitas mana yang akan kau masuki?"

Haechan berpikir sepertinya bukan jus mangganya yang diberi racun, melainkan teh manis milik ayahnya. "Ayah tidak marah?"

"Kenapa ayah harus marah?"

"Karena aku tidak memilih kriminologi seperti ayah dan kakak?"

"Bicara apa sih anak ini," Mr. Lee berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala, mengabaikan Haechan yang ternganga dan berceloteh tidak jelas.

Haechan terlalu sibuk terbuai dalam keterkejutan. Membuatnya buta akan senyum tipis laki-laki yang seudah membesarkannya sarat akan kesedihan dan rasa bersalah, namun kelegaan terbesit di matanya.

Tinggal sedikit lagi.

π

"Tidak terduga sekali ya."

Kakak sepupunya-Kim Doyoung, yang Haechan sebut mirip kelinci-menggumam sambil mengangguk-angguk setelah Haechan bercerita mengenai ayahnya yang dengan mudahnya menyetujui pilihan Haechan.

"Kau tidak kelihatan-dan terdengar terkejut?"

"Memang tidak," Doyoung menyeringai, membuat Haechan mendengus sebal.

"Kakak sepupu mirip kelinci yang menyebalkan," Haechan berkata ketus.

Doyoung serta merta melempar bantal berbentuk bulan yang mengenai pelipis Haechan lumayan keras. Hampir saja dia terlempar dari balkon kalau bukan karena pembatas besi yang dipasang di sekelilingnya. Makan malam sudah berlalu, Haechan dan Doyoung memutuskan untuk bersantai-santai di balkon yang menghadap kebun belakang rumah. Angin dingin karena hujan membelai manja wajah mereka.

"Karena itu memang tidak mengejutkan, bodoh," sahut Doyoung sinis.

"Kukira dia akan memintaku mengambil kriminologi," sanggah Haechan setengah merengek.

"Paman tidak berpikiran sepicik itu, bocah."

"Kau berharap apa kalau dari bayi sudah disuguhi teka-teki dan cerita detektif-Hei! berhenti melempariku dengan boneka!"

Haechan menyerukan protes ketika dua boneka Stitch menghantam tubuhnya beruntun. Dalam hati ia bertanya-tanya sejak kapan Doyoung mengoleksi boneka Stitch. "Dan aku bukan bocah! Umurku delapan belas tahun besok Juni!"

"Tetap saja bocah. You're like eight to me." Doyoung membalas setengah mencemooh, Haechan yang mendengar penuturan Doyoung memberengut tidak terima. Ia gatal akan membalas 'Kau saja yang tua' tetapi ia tidak ingin dilempari boneka lagi.

Seolah teringat sesuatu, Doyoung mengerling menatap Haechan. Matanya berkilat mengingatkan Haechan pada penyihir yang licik dan jahat, sekujur tubuhnya merinding. Firasatnya buruk, kalau sudah seperti ini, Haechan tidak akan menyukai apapun yang akan keluar dari mulut Doyoung.

"Padahal kudengar kalau kau mau mengambil Kriminologi, Mark akan menjadi tutormu."

Kalau situasinya sudah seperti ini, Haechan memilih untuk pura-pura bodoh saja. "Mark siapa?"

"Jangan pura-pura bodoh, kau itu se-transparan air. Mark Lee teman kakakmu tentu saja! Taeyong bilang kau sudah bertemu dengannya. Dia bilang kau jadi salah tingkah dan sikapmu jadi aneh," Doyoung menyahut disertai senyuman yang memuakkan, matanya masih mengamati gelagat Haechan. Dia lupa kalau Doyoung itu seorang psikiater.

"Memangnya aku harus apa?" tepis Haechan sambil menolehkan kepala ke halaman belakang. Matanya berubah sengit ketika melihat pohon oak di kejauhan-pohon oak dimana dirinya terjatuh dan hampir mematahkan kakinya.

Haechan tidak mengerti kenapa diantara topik yang ada Doyoung memilih mengungkit nama orang itu. Orang itu yang diributkan oleh Jaemin di kantin. Orang itu juga yang membuat jantung Haechan hampir berhenti di dalam sedan hitam. Orang itu juga yang membuat Haechan kewalahan hanya karena kehadirannya saja.

"Mungkin kau harus menghilangkan rona merah itu dari wajahmu," Doyoung menggoda Haechan lengkap dengan cengiran yang menyebalkan. Haechan mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengerang dan menelungkpkan kepalannya.

"Berisik, siapa yang merona!?" seru Haechan sebal.

"Lalu itu apa?"

"Di sini panas!"

"Hujan bahkan sedang turun dengan deras, bodoh," Doyoung menyahut tidak percaya.

"Aku benci kau!"

"Mukamu makin merah, tuh. Sedang memikirkan Mark ya?"

"Jangan sok tahu! Pergi sana!"

Doyoung tertawa terbahak-bahak mengalahkan bunyi hujan. Hawa menjadi dingin namun Haechan merasa tubuhnya panas. Ia tidak yakin rasa panas di wajahnya disebabkan oleh emosi yang ia tahan atau karena bayangan pertemuannya dengan Mark tiga hari terakhir ini tengah berputar seperti film di kepalanya.

Bahkan ketika ia memejamkan matanya mencoba untuk tidur di sedan ayahnya pun sosok itu masih melekat di kelopak matanya, menghantuinya. Sosok itu-Mark Lee.

A/N: hehehe(?)