Madness of love and desire
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Rated: M
Pair: NaruFemSasu, Slight: NaruTsunade, MenmaFemSasu.
Warning: AU, OOC, Typo(s), Bashing-chara, Multi-chapter, Chapter 4, Death-chara.
A/N:
Terimakasih banyak bagi yang sudah rev/fav/follow! #Hug_satu2. Maaf ya untuk review yang nggak pakai akun, ane tidak bisa membalasnya disini karena nanti spoiler! Hehe
\(^o^)Enjoy reading! (^o^)/
.
[Andaruvhia]
.
Bruk!
"JIRAIYA SIALAN!" Bersamaan umpatan-umpatan kasar yang sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang wanita. Tsunade mencoba menghindar namun malah terguling beberapa kali di tumpukan salju.
Jiraiya adalah nama dari seorang blacksmith sekaligus kawan lama Tsunade. Tempat tinggalnya didesa besi, berjarak lima kilometer dari desa kayu. Sebelum dua blonde diteleport paksa ke daerah tundra, Jiraiya telah menyanggupi permintaan Naruto untuk membuatkan sebuah pedang.
Tapi ada satu syarat, mereka harus mencari bahannya sendiri! Bahannya hanya satu dan tampak menggelikan, yaitu bunga Roshlweiff. Ya bunga, kalian tidak salah baca kok! Namun tentunya, bukan bunga biasa.
Penampilan fisik mirip bunga mawar tapi berwarna putih bening. Mengeluarkan pendaran cahaya terang saat malam tiba. Konon, berasal dari air mata penyihir terkuat yang tumpah di dataran es. Ada dua puluh bunga yang mekar sempurna dalam satu musim. Bila disentuh, satu kelopaknya dapat berubah menjadi sebongkah orichaltite .
Orichaltite yaitu batu mulia multi-guna yang sudah sangat langka di Fantasia. Kelangkaannya disebabkan eksplorasi tambang sejak seribu lima ratus tahun lalu. Sampai sekarang, masih banyak orang yang mencarinya, dan rela membayar sangat mahal demi mendapat sebongkah kecil batu yang fisiknya lebih indah dari berlian tersebut.
Bayangkan berapa banyak uang yang didapat bila orichaltite tersebut dijual? Semua keinginan yang serba mewah jelas akan terwujud! Hasrat duniawi, sempat membuat Tsunade salah fokus.
Meskipun cuma mencari bunga, tugas yang terlihat sederhana itu cukup sulit juga. Ternyata disana ada mahluk yang menjaganya! Parahnya, Jiraiya tidak menceritakan apapun perihal singa gendut yang bisa berbicara dan berjalan menggunakan dua kaki seperti manusia.
Beruntung pengetahuan Tsunade terhadap monster aneh cukup luas, menurut buku Momonnogizebirushienshensinda season empat chapter delapan belas di halaman seratus tujuh puluh dua yang pernah Tsunade baca, dialah Tuxkar! Sang taring es dari utara. Andai saja ukurannya lebih mini, Tsunade pasti akan memeluknya gemas bukan malah ingin mengalahkannya.
.
.
"Jangan terus menghindar, bocah! [Aero slicer!]" Dari ketiadaan angin puyuh yang sanggup mengiris kulit korban muncul, berhembus untuk menyerang Tsunade yang masih berlari menjauhi jebakan es Tuxkar.
Wush!
Telat menambahkan mana untuk pertahanan diri, Tsunade hampir terkena sabetan angin dibagian pinggangnya. "Uaggh! Naruto tolong a-" Tsunade mendadak facepalm. Ah, dia baru ingat jika Naruto sudah membeku akibat terkena sihir Tuxkar karena berusaha menyelamatkannya tadi.
"Rasakan ini, [Aqua barrage!]"
Sring!
"[Merz barrier!]" Sihir pertahanan dari mana Tsunade berhasil mementalkan serangan Tuxkar. Singa tersebut mendecih tak suka. Dia lantas mengambil pose bertapa untuk mengisi kembali mananya.
Sementara Tsunade, dia tengah berpikir keras didalam barrier. Bukannya Tsunade tidak sanggup untuk melawan, pasalnya dia petarung jarak dekat dan tidak memiliki banyak sihir. Sedangkan Tuxkar, terlalu gesit untuk ukuran singa gendut dan selalu berhasil menangkis pukulan monsternya. Padahal pukulan merupakan senjata utama Tsunade.
Disisi musuh, Tuxkar sudah selesai bertapa. Terdapat lingkaran kebiruan di sekitar mata, pertanda mode xagenya baru saja aktif. Mode xage menjadikan kekuatan sihir pengguna meningkat berpuluh kali lipat serta mana yang tidak akan habis. Tapi mode tersebut hanya bertahan selama lima menitan saja.
"Mari kita lanjutkan pertarungan kita bocah! Aku sudah siap untuk menghancurkan-"
"Tunggu sebentar!" potong Tsunade seraya masih fokus dalam mode berpikirnya. Ekspresinya begitu serius. Elemen sihir Tuxkar adalah air, angin dan es. Jadi sihir yang bisa mengalahkannya yaitu tipe api, petir atau tanah? Tapi dia tidak memiliki elemen alam! Tsunade menggigit bibirnya frustasi.
"Beraninya kau menyela perkataan-"
"Kau bisa diam tidak? Aku sedang berpikir nih!" Tsunade membentak kesal. Tidak menghiraukan Tuxkar yang semakin geram karena tingkahnya. Namun tidak berapa lama, firasat Tuxkar malah memburuk. Dia menerka-nerka dalam diam, tentang apa yang sedang direncanakan oleh Tsunade sampai sikapnya berubah ceria.
"Khukhukhu.." Tawa serak dari Tsunade membuyarkan lamunan tuxkar.
Tawa aneh Tsunade mengingatkan tuxkar akan lamia pedofil, musuhnya seratus tahun lalu. Lonjakan emosi, berhasil membuat Tsunade mengeluarkan tawa aneh. Sebab, setelah sekian menit berpikir, akhirnya Tsunade menemukan solusi mudah untuk mengalahkan Tuxkar.
Menurut buku momonnogi, bukan sihir elemen yang menjadi kelemahan Tuxkar! Melainkan sesuatu yang lembut, panjang dan memiliki lendir. Kira-kira apakah itu? Memainkan sumber ketakutan adalah kunci utamanya. Yang jelas, kini Tsunade tidak bisa menahan seringaian jahilnya.
.
.
"Ufufu, baiklah mari kita lanjutkan! [Summon: Snaizl!]"
Boof!
Sepasang netra hijau Tuxkar melebar, kemudian melotot horor saat asap putih pekat mereda dan menampilkan mahluk besar nan panjang, berlendir, hidup lagi. Dialah Katsuyu, siput putih raksasa yang selalu dipanggil Tsunade ketika situasi mendesak.
Tuxkar mulai berkeringat dingin, dia membekap mulutnya. Dari keadaannya dapat dipastikan dia akan muntah.'Ck, sial! Darimana bocah itu tahu bila dia fobia siput?!'
Salahkan mendiang sang adik yang membuat Tuxkar takut oleh binatang menjijikan itu! Padahal dia adalah singa! Terkenal ganas, kuat, keren tapi kelemahannya malah binatang yang jelas lebih lemah darinya? Astaga... sangat memalukan! Tuxkar merasa harga dirinya turun drastis.
"Katsuyu, serang dia!"
Tsunade menunjuk Tuxkar yang sedang dilanda berbagai macam emosi, akibat mahluk yang dibencinya muncul. Katsuyu mengangguk lalu menggembungkan mulutnya bersiap menyemburkan cairan asam yang bisa melelehkan baja sekalipun.
"A-aku me-menyerah!" cicit Tuxkar, suaranya teramat kecil. Namun, telinga Tsunade yang sedang dalam mode jahil, masih sanggup mendengar suara Tuxkar secara jelas.
"Apa kau bilang?!" Tsunade berpura-pura tidak mendengar. Aktingnya yang sok polos patut diacungi jempol! Tentu saja Tsunade tidak akan melewatkan kesempatan ini. Rencana kedua untuk menjahili Tuxkar.
"Aku me—"
"Huh? Aku tidak mendengarnya dengan jelas~" Wajah Tuxkar sudah memerah menahan amarah. Oh jangan lupakan belasan urat kekesalan yang menonjol di dahi dan tangan.
"AKU SUDAH MENYERAH BOCAH BERENGSEK!"
Nging!
Telinga Tsunade langsung berdenging, meski sang pemilik telah refleks menutup kedua indera pendengarannya. Teriakan Tuxkar sanggup menggetarkan lapisan es tebal yang Tsunade pijak. Suara yang luar binasa.
"Hehehe!" Tsunade terkikik puas. Dia menjentikan jarinya, dan detik itu pula sosok Katsuyu menghilang dalam kepulan asap. Ternyata tidak perlu bertarung mati-matian cukup mengetahui satu kelemahan saja. Tsunade dapat membungkam telak musuh-musuhnya. Terimakasih banyak buku Momonnogi!
[Kediaman Uzumaki]
.
Kushina menghentikan acara minum tehnya sejenak. Dipandanginya lekat Menma yang baru saja pulang dari penjara trossi. Rasa penasaran menggelitik sanubarinya sehingga wanita paruh baya tersebut memutuskan untuk angkat bicara.
"Bagaimana keadaannya?" Kushina kemudian menaruh cangkir tehnya di atas meja. Lantas memberikan kode pada sang anak agar duduk disampingnya. Menma membatalkan niat untuk masuk kekamar dan memilih menuruti kode Kushina.
"Buruk." Balas Menma singkat. Tangannya terjulur untuk mengambil beberapa kue kecil yang baru saja disajikan oleh pelayan.
"Baguslah." timpal Kushina santai.
Perkataan Kushina mengundang kernyitan tak suka dari Menma. Ketidaksukaannya bertambah, ketika Uzumaki bungsu mendapati seringaian sinis terukir dibibir tipis berpoles gincu merah Kushina.
"Berfoya-foya, serta menodai nama baik kerajaaan dengan bersikap jalang tak ubahnya binatang. Sasuke memang pantas mendapatkan hukuman yang setimpal Menma."
Penuturannya spontan mendapat respon dari Menma. "Bisakah sehari saja ibu tidak menjelekkan Sasuke?" pinta Menma ketus. Sungguh dia sudah jengah akan perilaku ibundanya. Menma tahu perbuatan Sasuke sudah keterlaluan. Tadinya Menma berharap, setidaknya Kushina memiliki rasa prihatin atas kondisi Sasuke karena mereka berdua sama-sama wanita.
Terlebih, Kushina juga merupakan saksi hidup, bagaimana proses metamorfosis Sasuke dari seorang gadis polos nan baik hati sampai menjadi seperti sekarang ini. Tapi kenyataan yang ada malah sebaliknya. Perasaan kecewa Menma pada Kushina, dapat dipastikan tidak akan memudar dalam waktu dekat.
Kushina menanggapi permintaan Menma dengan dengusan geli. Seolah ucapan dari sang anak tidak lebih dari guyonan lucu baginya. "Sudah ibu duga kau akan berbicara seperti itu. Lalu, bisakah sehari saja kau tidak membela Sasuke?"
Menma terdiam seraya memalingkan mukanya kesamping.
"Berarti jawabannya tidak." Kushina mengambil kembali cangkir tehnya. Menghirup aroma khasnya sesaat kemudian meminumnya perlahan.
"Kau tidak pantas menyergah perkataanku yang merupakan fakta, Sedangkan kau sendiri malah melakukan pembelaan yang sia-sia."
Kushina melirik sekilas Menma yang masih diam membisu. "Bila cintamu pada Sasuke membuat akal sehatmu rusak, lupakanlah dia Menma. Masih banyak wanita yang lebih baik darinya."
Menma tersentak. Jadi, ibunya sudah tahu bahwa dia memiliki rasa pada Sasuke? Namun, seharusnya Kushina paham, bahwa melupakan seseorang yang kau sukai tidak semudah membalikkan tangan. Perlu proses dan pengorbanan. Apalagi untuk Menma yang baru saja menyadari perasaannya akhir-akhir ini.
Rasanya tidak adil tatkala pihak dirinya lah yang harus selalu mengalah. Jika dirinya tidak bisa memiliki Sasuke. Maka sang kakak pun harus demikian! Puas akan pemikirannya, Menma pun berani menatap tajam Kushina. "Bila ibu memaksaku untuk melupakan Sasuke, maka ketentuan tersebut harus berlaku juga pada Naruto!"
"Naruto, kah?" Kushina membalas setelah menghabiskan tehnya.
"Ibu sudah menyuruh Naruto untuk melupakan Sasuke sejak tiga tahun lalu. Tapi anak itu terlalu bebal. Meski dia sendiri menyadari, bahwa dirinya pasti akan terluka." Lanjut Kushina, tatapannya menerawang seolah mengingat masa lalu.
"Naruto dan Sasuke, sama-sama telah mengalami banyak penderitaan. Makadari itu, Ibu telah menyetujui keputusan Fugaku untuk membatalkan acara pernikahan mereka. Tidak akan ada lagi pihak yang tersakiti, karena memang inilah yang terbaik."
Menma ternganga, "A-apa?! Mengapa begitu mendadak?"
Entah Menma harus bahagia atau tidak. Walaupun Menma kurang menyukai sifat Naruto. Disatu sisi dia sedikit prihatin pada Uzumaki sulung. Melihat bagaimana sulitnya perjuangan Naruto untuk merubah perilaku Sasuke. Menma pun tidak akan sanggup bila harus melakukan hal serupa.
"Ini tidak mendadak! Kedua belah pihak, sudah pernah merundingkannya sejak lama. Hanya saja, sekaranglah waktu yang tepat. Sasuke akan selamanya terkurung dipenjara, sedangkan Naruto, dia masih memiliki masa depan yang cerah." Jawab Kushina tenang. Bila tentang itu, Menma juga tidak bisa menyangkalnya.
"Ibu harap, kakakmu tidak lagi terjebak dalam masa lalunya." Senyuman pahit dari Kushina, menjadi penutup pembicaraan diantara mereka.
[Desa besi]
.
"Woah! Aku tidak menyangka kalian bisa mendapatkan orichaltite sebanyak ini!" Jiraiya memasukan enam belas orichaltite berukuran sedang kedalam perkamen sihirnya. Tidak lupa juga menambahkan satu buah batu berwarna merah serta secangkir kecil serbuk keemasan.
Sedangkan Naruto, ia ambil tangan Tsunade, lalu menangkupnya. "Ini semua berkat Tsunade. Terimakasih banyak ya, aku berhutang budi padamu." Sahut Naruto tulus.
Pada awal perjalanan mereka, Naruto sempat mengira Tsunade akan merepotkannya. Tapi ternyata tidak. Justru Tsunade banyak membantunya, dari hal sepele seperti mencari tambahan makanan dihutan, tour guide dadakan, sampai mengalahkan Tuxkar seorang diri. Bila tidak ada Tsunade, Naruto yakin dirinya tidak akan bisa sampai sejauh ini.
Tsunade cuma mengangguk kaku. Dia bingung harus bersikap seperti apa. Apalagi ketika dirinya mendadak menerima pelukan hangat dari Naruto. Sebab tidak terbiasa, wajah Tsunade spontan merona.
Dilain pihak, bukannya memulai pekerjaan, Jiraiya malah bersiul-siul genit memandang interaksi duo blonde. Tsunade yang tengah malu-malu, nampaknya jadi hiburan seru bagi Jiraiya. "Ciee, Tsuna-"
Duagh!
"Diamlah Jiraiya!" Tsunade mendesis dingin pada Jiraiya yang sudah tersungkur menabrak tembok seberang akibat pukulan supernya.
"Tehee~"
Naruto terbelalak takjub tatkala Jiraiya kembali bangkit seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal tembok seberang pun mengalami keretakan yang cukup besar. Berarti regenerasi tubuh Jiraiya sangat hebat atau mungkin karena telah terbiasa?
"Berhubung persiapannya sudah selesai, kalian berdua tunggu saja diluar!" Jiraiya kemudian mendorong punggung duo blonde agar segera meninggalkan ruangan. Tidak terima, karena Jiraiya mendorongnya kasar , Tsunade jelas ingin protes.
"Oi Jirai-"
"Ini rahasia perusahaan, kalian tidak juga tidak boleh mengintip!"
Blam!
...Sepuluh menit kemudian...
Krieet..
Naruto dan Tsunade serempak menoleh ke sumber suara. Pintu rumah Jiraiya, telah dibuka kembali oleh sang pemilik. "Kalian berdua, silahkan masuk!" Serunya dari dalam.
Mereka masuk kedalam dan disambut oleh senyuman khas Jiraiya. Pria tersebut menyerahkan sebuah gulungan berukuran sedang pada Naruto. "Aku menyegelnya kesini, supaya lebih mudah kau bawa."
"Terimakasih tuan Jiraiya." Naruto menerimanya dengan senang hati. Dia memasukan gulungan tersebut pada tas coklat yang terpasang disabuknya. Akhirnya benda kedua telah Naruto dapatkan. Berarti tujuannya sekarang hanya satu, yakni mencari sebotol kecil air mata phoenix. "Berapa biayanya?" tanya Naruto kemudian.
"Aku sudah mengambil sisa orichaltite Roshlweiff sebagai bayarannya. Tidak apa, kan?"
Naruto ber'oh ria, "Tidak apa, silahkan diambil sa—"
Sring! Pluk!
Tiba-tiba, lingkaran sihir kuning berlambang elemen petir muncul diatas Naruto. Sepucuk surat berstempel pusaran air jatuh darisana. Naruto langsung mengenali siapa pengirim surat tersebut. Karena elemen petir adalah elemen alam adiknya, Menma. Namun yang membuat Naruto bingung, tidak biasanya Menma mengirim surat padanya. Ada apakah gerangan? Pasalnya hubungan mereka sedikit merenggang sejak beberapa tahun lalu. Satu-satunya asumsi yang mendekati ialah, adanya kabar buruk.
Tanpa membuang waktu, Naruto segera membuka lalu membaca isi surat tersebut. Hanya dalam waktu empat detik, kedua alis Naruto tertekuk tajam serta rahangnya mengeras. Tidak ada lagi sorot kelembutan dalam iris safir birunya. Naruto bagai sosok yang berbeda. Baru kali ini Tsunade mendapati Naruto bersikap seperti itu. Dia jadi penasaran apa isi surat tersebut.
"Tsunade, kau ikut aku! Kita akan pergi ke Trossi!"
Naruto menarik lengan Tsunade, memaksa gadis itu agar memasuki lingkaran sihir teleportasi yang ia buat. Tsunade tidak bisa berkomentar apa-apa. Dia hanya termenung seraya meratapi lengannya yang memerah.
[Trossi]
.
Aku merasa tenagaku melemah, sudah beberapa kali aku mencoba untuk berenang ke permukaan, Namun arus yang deras kembali membuatku tenggelam. Dingin dan sesak. Rasanya sulit sekali untuk bernafas. Leherku serasa tercekik. Aku tidak ingin mati disini. Aku masih ingin hidup.
Siapapun, tolong aku!
.
Byur!
Kesadaran kembali menghampiri Sasuke. Penglihatannya yang sudah kabur, melihat siluet seseorang berenang ke arahnya. Raut pria itu tampak sulit diartikan. Sebelah tangan Sasuke tanpa sadar terulur, menggapai sosoknya.
Grep.
Sang pria berhasil menggapai uluran tangan Sasuke, lantas menggenggamnya erat. Seolah tidak ingin melepaskannya. Dia kemudian menarik tangan itu, sampai tubuh mereka berdua berdekatan. Tanpa ragu, pemilik surai pirang tersebut mencium bibir ranum Sasuke.
Diambang batas kesadaran, Sasuke merasakan sentuhan yang begitu lembut dan tanpa nafsu. Layaknya ungkapan permintaan maaf yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.
.
Mata Sasuke mendadak terbuka, binarnya masih tetap redup. Namun sekarang ada yang berbeda. Meski tidak ada ucapan ataupun isakan yang keluar. Tetapi, liquid bening perlahan menetes dari sepasang onyx hitamnya. Mengalir cukup banyak sampai membasahi pipinya yang berdebu.
Sebelum rasa kantuk kembali merenggut alam sadarnya, Sasuke sempat menggumamkan sebuah nama. "Naruto.."
-Tbc-
A/N:
Orichaltite = singkatan dari orichalcum dan adamantite, yang main harvest moon pasti tahu.
Tuxkar = Pelesetan dari Tuskar di DOTA XD
Xage = Sebenernya sage mode di Naruto canon, tapi ane rubah namanya biar agak unik Hehehe
Chapter depan, chapter terakhir! #YEAHHH o
Terima kasih bagi yang sudah membaca. Silahkan utarakan pendapat kalian, baik berupa kritik/saran di kotak review. Setiap review/fav/follow yang kalian berikan, menambah semangat ane buat menulis. (^O^)/
