"Hinata, tolong bawakan buku buku ini ke ruangan ku!" ujar Sasuke sesaat setelaah bel istirahat berdering. Ia berlalu begitu saja menuju pintu keluar.

Hinata menghela nafas. Siksaan Sensei nya di mulai lagi hari ini. Bagaimana jika sekolah tahu Sasuke bekerja sebagai Pettiseri di cafe itu? Apakah dia akan di pecat? Hinata hanya tersenyum dengan jalan pikirannya yang tiba tiba berubah jahat.

"Hey, Hinata... Sensei lagi, ha?" ujar seseorang disampingnya. Hinata langsung merona saat ia sadar siapa yang berdiri disampingnya.

"Ah... tidak, Na- Naruto-kun..." suaranya bergetar. Ya, tiap kali berhadapan dengan Naruto, ia menjadi sangat gugup.

"Hmm, oke... hey, sensei menyuruhmu membawa buku sebanyak ini?" Naruto menunjuk tumpukan buku di hadapan mereka yang tidak sedikit.

"Ya..."

"Mau ku bantu?"

"Ah, ti- tidak, a-aku bisa sendiri, Na- Naruto..."

"Haha, cara bicaramu memang lucu! Ayolah, kubantu ya!" Naruto langsung mengambil sebagian buku yang sekarang sudah ada di tangan Hinata.

"Ano... ma-maaf, merepotkanmu..." ucap Hinata, saat mereka berjalan berdua di koridor, menuju ruangan guru.

"Hey, aku kan yang seenaknya menawarkan diri. Biasa saja!" Naruto tersenyum dengan senyuman khasnya, memamerkan gigi gigi putih nya.

Hinata tersenyum. Mencoba menyembunyikan rona merah diwajahnya. Ia benar benar menyukai anak laki laki disebelahnya ini. Ya, suka sekali. Dimatanya Naruto selalu jadi matahari yang bersinar dengan garang di musim panas. Dan tawa lebarnya yang sangat khas itulah yang membuat Hinata tertarik.

"Permisi, Sensei..." Naruto mengetuk pintu ruangan Sasuke. Hinata mengikuti dari belakang.

Seorang anak laki laki berambut merah dengan mata hijau emerald dan lingkar mata hitam memandang Hinata dari kursi di hadapan meja Sasuke. Ia mengenakan seragam yang sama dengan mereka, tapi Hinata belum pernah melihatnya sebelumnya. Tatapan mata cowok itu dingin dan tajam, menatap Hinata dan naruto bergantian.

"Hn, ya, letakkan disini..." ujar Sasuke dari balik meja. Sedang sibuk membaca kertas kertas yang ada di hadapannya.

Naruto mengangguk, memberi Hinata isyarat agar mengikutinya. Naruto meletakkan tumpukan buku di meja Sasuke, lalu mengambil tumpukan buku di tangan Hinata untuk ditumpuknya lagi di atas tumpukan buku pertama.

"Kami permisi, Sen..."

"Hinata!" seru Sasuke tiba tiba. Menghentikan langkah Naruto dan Hinata yang berjalan keluar ruangan.

"Ya, Sensei?" tanya Hinata, bertukar pandangan dengan Naruto, tak mengerti.

"Kau tetap disini, Naruto, kau boleh pergi... Terima kasih!" perintah Sasuke. Naruto mengangkat bahu sambil tersenyum hambar ke Hinata.

"Oh, Oke... sampai nanti, Hinata!" ucap nya, lalu bergerak keluar ruangan.

Hinata tersenyum melihat Naruto pergi. Ia menarik nafas, lalu berjalan mendekati meja Sasuke. Berusaha menghindari tatapan dingin cowok berambut merah yang duduk di kursi sebelahnya. Benar benar tak nyaman.

"Ada apa...?" tanya Hinata.

"Hinata, ini Gaara, murid pindahan dari luar negeri, dia akan jadi anggota baru kelas mu!" Sasuke menunjuk Gaara, Hinata mau tak mau berbalik, menghadap cowok berambut merah itu.

"Oh, hai..." sapa Hinata kaku.

"Dan Gaara, ini Hinata, pengurus kelas yang bertanggung jawab akan pengenalan sekolah untukmu, mulai hari ini..." tambah Sasuke lagi. Hinata terbelalak.

"Apa?" tanyanya heran sekaligus jengkel.

"Kau mendengarku..." jelas Sasuke ringan.

Hinata jengkel setengah mati. Lagi lagi, Sasuke memutuskan hal tentang dirinya sesuka hati. Tanpa diskusi terlebih dahulu. Ia menatap benci pada Sasuke, yang di tatap malah cuek saja.

"Baiklah, kalian boleh keluar..." ujar Sasuke, membalas tatapan garang Hinata.

"Ugh...!" Hinata menghela nafas jengkel, berjalan cepat keluar ruangan.

Gaara mengikutinya dari belakang.

"...dan ini gedung olahraga. Di sebelah kanan ada lorong yang menuju ruang loker dan shower untuk siswi dan siswa. Gedung ini dilengkapi lapangan basket, badminton, dan gawang kecil untuk futsal. Lapangan tennis sekolah ada di bagian luar, dan kolam renang di hall kaca bagian utara... Oke?" penjelasan hinata tentang sekolah berakhir.

Mereka kini ada di lapangan basket indoor sekolah. Sudah setengah jam Hinata mengantar 'teman' barunya berkeliling sekolah. Sesuai perintah sensei 'sialan' nya, Hinata menjelaskan apa saja yang di tanyakan oleh Gaara. Untung saja Gaara bukan tipe cowok cerewet yang serba ingin tahu, malahan cenderung cuek, jadi pekerjaan Hinata sedikit lebih ringan.

"Apakah kau seorang Hyuuga?" Pertanyaan Gaara membuat Hinata terdiam, lalu menatap Gaara tajam.

"Memang kenapa jika 'ya, aku hyuuga', hah?" Hinata bertanya kembali, dengan nada suara sinis. Ia betul betul membenci marga bangsawannya itu. Sebisa mungkin ia mencegah orang lain tahu bahwa dia seorang Hyuuga, namun itu tak akan terjadi. Ya, mata putih lavendernya tak mungkin bisa berubah.

Gaara membalas tatapan tajam Hinata. Lalu tersenyum sinis.

"Hn... Menarik..." ujarnya.

Hinata benar benar tak mengerti apa yang diinginkan cowok ini. Ia membuang muka, berjalan pergi menjauhi Gaara.

"Sepertinya semuanya sudah jelas bagimu, aku pergi...!" ucapnya, sambil melambai.

Dibelakangnya Gaara menangkap sosok Hinata dalam ponsel genggamnya. Mengambil gambar cewek itu diam diam.

"Sungguh, gadis Hyuuga yang menarik..." ujarnya pelan. Memandang foto gadis berambut indigo gelap di layar ponselnya.

"Hey, bagaimana bocah merah itu?" tanya Sasuke dengan posisi khasnya. Duduk di hadapan Hinata dengan puntung rokok di tangannya.

Hinata tak berpaling dari kertas soal yang tengah dikerjakannya, ia menjawab pelan.

"Menjengkelkan..."

Sasuke tertawa kecil, menatap Hinata. Hinata yang sadar dirinya di pandang, menghela nafas, lalu membalas pandangan Sensei nya.

"Kurasa dia tipe orang pendiam... bagaimana bisa ia membuatmu jengkel?" Sasuke meniupkan asap rokoknya perlahan, mencoba agar asapnya tak menerpa wajah Hinata.

"Ia hanya diam untuk menghindari hal merepotkan, saat berbicara lidahnya akan selalu tajam, seperti Sensei..." komentar Hinata keluar begitu saja. Ia sudah tak perduli.

"Sepertiku...?" Pandangan heran Sasuke belum beranjak dari parasnya. Ia malah melipat tangannya di meja dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.

"Ya, apa Sensei nggak sadar?" Hinata kembali mengerjakan tugasnya.

"Tidak, apa menurutmu aku seperti itu...?"

Hinata berhenti menulis. Ia menatap Sasuke, lalu menyeringai.

"Sensei menanyakan pendapatku?"

Sasuke mengangguk, mencoba mempertahankan ekspresi cueknya, namun dalam hati, dia benar benar sangat penasaran. Sebetulnya seperti apa sosoknya di mata Hinata? Yang pasti sudut pandang Hinata terhadapnya akan sangat berbeda dari para fangirl nya.

"Baiklah...! Sensei itu adalah orang yang... Umm..." Hinata berhenti, mimiknya seperti sedang berpikir. Membuat Sasuke makin tak sabar, karena penasaran.

"...Yang...?" Sasuke semakin merapat ke meja, ia membuang puntung rokoknya yang sudah di matikan melalui jendela.

" ... Me –nye –bal –kan!" lanjut Hinata, memenggal tiap kosa katanya dengan senyuman manis. Sasuke terkejut.

"Aku menyebalkan?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Yap! Sensei selalu melakukan apa yang sensei inginkan, tanpa konfirmasi dulu ke orang yang sensei perintahkan. Aku, misalnya! Dan itu melelahkan...!"

"Hn...?"

"Dan, yah, aku tahu Sensei populer, di kalangan siswi atau pun di antara guru guru wanita yang lain... Tapi, mengacuhkan mereka itu bukan sikap yang bisa dilakukan seorang guru! Aku tahu mereka berisik, ribut, menyebalkan... Setidaknya bersikap ramah lah ke mereka, Sensei... mereka kan perempuan, makhluk yang ada untuk di sayangi...!" Lanjut Hinata, berapi api.

"Lalu...?" respon singkat Sasuke, membuat Hinata menambahkan ceramahnya lagi. Sungguh, dia tak pernah berbicara sebanyak ini sebelumnnya.

"Yang sangat ku benci itu, sikap Sensei yang selalu seenaknya! Melakukan sesuatu yang sensei suka, tapi tak pernah dapat masalah dari sikap itu... Kenapa? Karena Sensei seorang 'sensei', atau hanya keberuntungan saja? Sensei hebat dalam berkelit, stay out of trouble, sedangkan murid yang selalu kena getahnya... ugh, curang!" dan dengusan jengkel Hinata mengakhiri ceramahnya.

Ia duduk lagi dengan tenang di hadapan Sasuke. Menunduk sebentar, mengatur nafasnya yang memburu. Lalu kembali sibuk dengan kertas kertas soal yang sudah hampir selesai.

"Itu, pendapatku..." ujarnya tenang.

Sasuke tak bisa menahan senyumnya, ia tertawa. Hinata yang belum pernah melihat senseinya ini tertawa sebelumnya, menatap Sasuke bingung.

"Hmpf... hahaha..."

"E- eh? Kenapa tertawa?" Hinata merengut, ekspresi nya lucu dengan pipi merah malu dan bibir mengerucut sebal.

"Kau... memang menarik, Hyuuga...!" ujar Sasuke, menyentil dahi Hinata.

"Aduh! Hey, buat apa itu?" Hinata mengusap dahinya. Wajahnya masih merona karena malu sudah di tertawakan.

Hinata menatap Sasuke tajam, berharap ia berhenti tertawa jika di pelototi. Sasuke yang masih tertawa, menyembunyikan wajahnya di balik lengannya yang terlipat di meja.

"Kh... Khuhuhu... Hmpf..." suara tawa Sasuke benar benar membuat Hinata jengkel.

"Ih, terserah...!" Hinata memutuskan kembali sibuk dengan kertas tugasnya.

"Hey, Kau sungguh berpendapat demikian?" tanya Sasuke, masih tersenyum menahan tawanya.

Hinata mengangguk, tak berpaling dari kertas soal. Lima menit kemudian, ia berdiri dari bangku, dan menyerahkan kertas soal itu pada Sasuke.

"Nih, sudah selesai... Aku permisi, Sensei..." Hinata meraih tasnya, dan membereskan buku dan alat tulisnya. Hari sudah sore, dan langit diluar agak mendung, mungkin sebentar lagi Kakashi akan datang menjemput. Ia harus cepat pergi dari sekolah.

Sasuke mengambil kertas soal Hinata, lalu duduk bersandar di meja. Memperhatikan hinata yang tengah membereskan barang bawaannya.

"Bye, Sensei...!" Hinata beranjak dari samping Sasuke, berjalan ke arah pintu keluar.

Tiba tiba Sasuke meraih tangan Hinata dan menarik tubuhnya keras, hingga badan Hinata yang tak siap menabrak tubuhnya. Tas yang di pegangnya terjatuh. Pergelangan tangan Hinata terasa sakit karena cengkraman Sasuke.

"Aduh, sakit... Kenapa sih? lepaskan!" Hinata mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Sasuke.

Sasuke hanya menatap Hinata dalam diam. Tangan kirinya menarik pinggul Hinata, makin mendekat ke tubuhnya. Jarak hidung mereka sekarang hanya berkisar lima senti.

"Kau memang sesuatu yang... beda..." bisik Sasuke, tersenyum.

Wajah Hinata merona. Kaget.

"A-... Apa-?"

Kata kata Hinata terpotong. Sasuke sudah menempelkan bibirnya ke bibir Hinata.

Sasuke mencium Hinata lembut. Hinata yang kaget membelalakan mata. Memberontak, mencoba mendorong tubuh Sasuke.

"Sen... –Nnh.. A-.. sei... Hnn!"

Sasuke menarik pinggul Hinata agar duduk di pangkuannya. Kini posisi Sasuke duduk di kursi siswa, dan Hinata duduk di atasnya dengan kaki terbuka di kedua sisi pinggul Sasuke. Rok sekolahnya pun tersingkap, memperlihatkan kaki putih mulusnya.

Ciuman Sasuke makin menggila, ia memasukkan lidahnya ke mulut Hinata. Hinata kesulitan bernafas, masih mencoba memberontak. Tapi kekuatan gadis kecil memang tak bisa mengalahkan kekuatan pria dewasa. Hinata merasakan sakit di pergelangan tangannya saat ia mencoba melepaskan diri. Cengkraman Sasuke terlalu keras.

Kepala Hinata terlalu pusing untuk menyadari rintik hujan di luar semakin deras.

Sasuke tersenyum di tengah ciumannya, menyadari hinata yang kelelahan karena memberontak. Ia melepaskan ciumannya, menciptakan benang liur antar lidah keduanya. Hinata bernafas berat, matanya terpejam, pipinya memerah, dengan nafas memburu. Membuat senyum di wajah Sasuke melebar.

Sasuke beralih ke leher Hinata. Ia menciumi dan menjilat segala sisi leher Hinata. Membuat Hinata mengerang.

Hujan diluar semakin deras. Sambaran petir yang keras dan tiba tiba mengagetkan Hinata. Membuatnya sadar dengan apa yang dilakukan Sasuke padanya. Dia tak mau ini. Hatinya menolak.

"SENSEI!" Hinata mendorong Sasuke keras, menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai. Ia menatap Sasuke takut. Meremas bagian kerah bajunya, mencoba menutupi lehernya yang memerah akibat kiss mark Sasuke.

Sasuke sendiri terkejut dengan apa yang telah dilakukannya. Dia menutup mulutnya dengan tangan kiri, lalu jatuh berlutut dihadapan Hinata.

"Hina...? Hinata...!" Sasuke mencoba merengkuh wajah Hinata.

Hinata yang terlanjur takut, memejamkan mata rapat rapat. Tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya merah, reaksi biasa, namun kali ini berbeda. Bukan karena malu, tapi karena takut. Sasuke sangat terpukul dengan reaksi Hinata. Tak menyangka bahwa gadis dihadapannya akan bereaksi setakut ini terhadap apa yang telah dilakukannya.

'tentu saja BODOH! Kau melewati batas!' suara hati Sasuke berbicara.

"Maaf..." bisik Sasuke pelan, memandang Hinata.

Hinata memaksa bangkit dari tempatnya terjatuh, masih mencengkram kerah bajunya sendiri. Sengaja menghindari kontak mata dengan Sasuke. Ia meraih tas dan ponselnya yang terjatuh tak jauh darinya, dan dengan cepat berlari dari kelas itu. Meninggalkan Sasuke yang menunduk depresi di lantai kelas.

"Hinata?" Kakashi berseru kaget, memeperhatikan Hinata yang baru saja masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang disampingnya.

Tubuh Hinata bergetar hebat. Bahkan giginya bergeretak mengigil. Tangannya masih mencengkram kerah bajunya. Tubuhnya basah oleh hujan, rambutnya berantakan karena berlari. Tas sekolahnya jatuh ke bawah kakinya, bahkan belum sempat ter resleting dengan baik.

Kakashi mengira ia menggigil karena dingin. Ia mulai menyalakan pemanas dalam mobil. Ia bahkan melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke tubuh menggigil Hinata.

"Hinata, kau kenapa...?" tanya Kakashi, mulai menjalankan mobil.

Hinata hanya diam. Pikirannya masih mengingat kejadian berbahaya yang dilakukan Sasuke tadi.

Bagaimana tangan yang kuat namun lembut itu menggenggam tangannya. Bagaimana nafas berat itu berhembus lambat di dalam ringga mulutnya. Bagaimana bibir lembut itu mengunci rapat bibirnya. Bagaimana lidahnya bergulat menimbulkan rasa yang aneh. Bagaimana reaksinya ketika duduk di pangkuan dengan posisi erotis itu. Dan bagaimana kecupan dalam penuh perasaan meninggalkan bekas. Tak hanya di leher dan dada, namun juga di akal pikiran, ingatan, dan hati.

Hinata menunduk. Menahan air matanya menetes. Meremas jaket kakashi yang menempel di tubuhnya. Bukan mencari kehangatan, tapi perlindungan.

Kakashi hanya bisa menatap Hinata khawatir, sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap bisa sampai di apartemen mereka dengan cepat, dan menceritakan semuanya.

Hinata mengenakan piyama putih longgar nya. Lengan panjang dan celana panjang yang melebihi tangan dan kakinya bisa menjaganya tetap hangat. Kepalanya tertutupi handuk kecil lembut yang di pakainya untuk mengeringkan rambut.

Menekuk lututnya di dada sehingga sosoknya makin meringkuk di atas sofa, tangannya mencari kehangatan dari secangkir cokelat panas yang di buat Kakashi untuknya. Matanya memandang kosong ke arah televisi di hadapannya. Menampilkan acara drama yang biasa di putar 3 kali seminggu.

Kakashi bergerak ke arah jendela, memperhatikan keadaan. Diluar hujan badai masih bergemuruh. Petir menyambar nyambar. Benar benar hujan deras. Dan hal ini sudah berlangsung lebih dari tiga jam sejak pertama kali turun. Langit sore jadi makin gelap ditutupi awan hitam yang sangat tebal.

"Hinata, kalau masih kedinginan, tidurlah di kamarmu setelah rambutmu kering..." Kakashi berjalan mendekati Hinata, untuk duduk di sampingnya.

Hinata yang tak merespon membuatnya gemas. Ia langsung menepuk kepala Hinata keras. Plak!

"Cukup! Sini, biar kukeringkan rambutmu dengan benar!" Kakashi memaksa kepala Hinata menghadap wajahnya. Mulanya Hinata terbelalak kaget, namun sedetik kemudian raut wajahnya kembali kosong. Kakashi mulai menggerakan handuk di kepala Hinata, dengan lembut mengeringkan rambutnya.

"Hey, Kakashi..." kalimat pertama yang keluar dari mulut Hinata setelah sekian jam.

"Hn...?" Kakashi menjawab, masih sibuk mengeringkan rambut Hinata.

"Dimana Hanabi-chan?"

"Dia bilang hari ini akan pulang larut,ada acara di sekolahnya"

"Dia tidak pulang ke rumah Ayah?"

"Tidak... Hiashi sedang ke luar negeri, ia ingin menginap disini sementara waktu"

"Oh..."

Dan perbincangan selesai, hanya sunyi dan sayup sayup suara TV. Terdengar sesekali Hinata menyeruput cokelat panasnya.

Kakashi berhenti mengeringkan rambut Hinata, merasa rambutnya sudah cukup kering. Kakashi bangkit dari sofa.

"Pergilah tidur, kau akan merasa lebih tenang!" Kakashi berlalu, sambil mengacak rambut Hinata pelan.

Hinata menyeruput cokelatnya lagi. Bersyukur ia memiliki Kakashi. Lebih bersyukur lagi ketika sadar bahwa Kakashi tak mencoba bertanya atau memaksanya bercerita apa yang telah terjadi. Karena sungguh, ia benar benar ingin melupakan kejadian di sekolah tadi.