Millennium

Chapter 4

Pagi yang cerah di hari selasa, orang-orang telah bangun untuk memulai aktivitas mereka. Tidak terkecuali Naruto, Issei, dan Shirō yang saat ini berada di dalam kelas, beberapa menit sebelum jam pelajaran dimulai.

Akademi Tenma adalah sekolah di mana mereka belajar. Bagi kebanyakan orang, Akademi Tenma adalah salah satu sekolah terbaik di Jepang. Namun bagi beberapa orang tertentu, sekolah ini adalah markas utama dari organisasi bernama Millennium cabang Jepag.

"Siswa baru?" tanya Naruto ketika mendengar sebuah berita dari Shirō.

"Ya, siswa ini adalah pindahan dari luar negeri. Tapi, sebenarnya siswa ini adalah seorang anggota Millennium yang dipindahkan ke cabang Jepang" Shirō yang duduk di depan Naruto menjelaskan kepadanya.

"Anggota Millennium?!" Naruto bertanya lagi dengan suara keras.

"Jangan mengatakannya keras-keras!" tegur Shirō.

Beruntung bagi mereka, siswa-siswi di dalam kelas mereka sangat berisik karena membahas hal yang sama. Jadi, tidak ada satupun orang yang mendengar ucapan Naruto. Naruto cengengesan saat Shirō melototinya.

Issei yang duduk di samping Naruto berbisik kepada Shirō, "Hei, Shirō. Apakah orang itu laki-laki atau perempuan?"

Pertanyaan yang normal saat orang lain mendengarnya. Namun kasusnya berbeda jika yang bertanya adalah Hyōdō Issei yang terkenal sebagai orang paling mesum di Akademi Tenma. Apalagi jika dia bertanya dengan wajah yang menunjukkan angan-angan orang mesum.

Shirō memberi Issei tatapan yang datar, namun dia tetap menjawabnya, "Seorang gadis... tapi aku ragu kau punya kesempatan mendekatinya karena kau tidak bisa berbahasa asing."

"Hei, nilaiku di Bahasa Inggris bagus!"

Pintu ter buka keras dan wali kelas mereka masuk ke dalam kelas, semua orang yang telah menunggu di dalamnya menjadi diam. Mereka penasaran mengapa guru ini masuk sekarang mengingat dia selalu telat masuk ke kelas.

Sang guru yaitu Hatake Kakashi, tidak menatap siswa-siswinya sama sekali. Mata dari orang yang bermasker putih itu terpaku pada buku orange yang sedang dibacanya.

"Semuanya..."

Kakashi menarik perhatian semua orang di dalam kelas namun dia masih fokus membaca bukunya. Di saat seperti inilah, mereka menjadi tegang karena menunggu berita dari orang yang paling telat.

"Ini hari selasa."

Dan hilanglah sudah suasana tegang itu.

"Kami juga tahu itu, sensei!"

"Ehem, selamat pagi, semuanya! Berjumpa lagi dengan saya, Hatake Kakashi, yang selalu setia membawakan berita penting kepada kalian semua. Mohon diingat walaupun saya berbicara seperti ini, bukan berarti ini adalah acara berita pagi yang biasa kalian nonton di TV, saya tidak lebih dari seorang guru yang ingin segera mendapatkan seorang pacar. Oleh karena itu, bagi kalian para gadis cantik di kelas ini, kalian boleh mendapatkan nomor handphone saya sebagai hadiah-"

*Bugh, bugh, bugh, gubrak*

Hatake Kakashi dihajar sampai babak belur oleh murid perempuan.

Pada akhirnya, wali kelas 2-B yang telah babak belur itu memberitahu mereka berita penting.

"Mungkin kalian semua telah mendengar berita ini. Akan ada siswa baru yang pindah ke Akademi Tenma dan dia akan ditempatkan di kelas ini sebagai teman sekelas kalian yang baru. Dan dia adalah seorang gadis yang polos dan manis, jadi jangan memakannya –ehem, maksudku adalah kuharap kalian semua bisa menerimanya dengan 'normal'."

Mendengar penjelasan Kakashi, beberapa siswa menjadi bersemangat, beberapa lainnya duduk dengan tenang, dan sisanya menatap ke arah Issei. Ngomong-ngomong, mereka yang bersemangat adalah laki-laki, dan mereka yang menatap Issei adalah perempuan.

"Kenapa hanya aku yang ditatap?! Lihatlah, ada beberapa orang yang menunjukkan niat buruk mereka juga!"

Mengabaikan protes dari Issei, semua orang menatap ke arah pintu. Seorang gadis berambut pirang panjang dan bermata hijau masuk ke dalam kelas. Gadis itu berdiri di depan mereka semua dan tersenyum.

Senyumannya yang polos itu membuatnya terlihat seperti gadis yang tidak mengerti betapa kejamnya dunia.

Sementara itu, siswa yang dikenal karena kemesumannya di kelas 2-B hanya bisa membeku di kursinya. Dia menahan nafasnya saat mengenali siapa gadis yang akan segera menjadi teman sekelasnya itu.

"Perkenalkan dirimu kepada mereka, Argento-san."

"Y-Ya! S-Selamat pagi, semuanya. Namaku adalah Asia Argento dan aku berasal dari Vatikan. M-Mohon kerja samanya!"

Asia Argento memperkenalkan dirinya dengan sedikit malu. Satu-satunya anak di kelas itu yang telah mengetahui namanya melebarkan mata. Seingat Issei, Asia tidak bisa berbicara Bahasa Jepang. Namun gadis ini bisa memperkenalkan diri dalam Bahasa Jepang dengan fasih.

"Baiklah, Argento-san. Kau akan duduk bersama-"

"Ise-san!"

Perkataan Kakashi putus ketika Asia menyerukan nama dari satu-satunya orang yang tidak disangka oleh seluruh isi kelas 2-B. Ini lebih dipastikan ketika pandangan Asia tertuju pada Hyōdō Issei.

"Oh, kau sudah mengenal Hyōdō-san? Hyōdō-san, kau tidak melakukan sesuatu yang... umm, kau tahu, kan?"

"Apapun yang kau pikirkan, aku tidak melakukannya, sensei!"

"Argento-san, Hyōdō-san tidak meraba dadamu atau mencuri celana dalammu, kan?"

"Aku tidak seburuk itu, sensei!"

"T-Tidak, Ise-san tidak melakukannya."

"Begitu rupanya, aku bersyukur kau baik-baik saja, Argento-san."

"Sudah kubilang aku tidak melakukan apapun padanya!"

"Baiklah, aku sudah menentukan siapa yang akan duduk denganmu, Argento-san. Tidak, Hyōdō-san... ini bukan sebuah adegan dalam kisah romantis di mana seorang gadis akan duduk denganmu hanya karena kau mengenalnya. Argento-san, kau akan duduk di samping Hyūga-san. Hyūga-san, tolong angkat tanganmu agar Argento-san bisa melihatmu."

Hyūga Hinata, seorang gadis pemalu yang posisinya jauh dari posisi Issei, mengangkat tangannya. Sepertinya semua orang di kelas setuju dengan keputusan Kakashi dan beberapa gadis memberi Issei tatapan tajam.

"Apa salah dan dosaku?!" jerit Issei dalam keputusasaan.

"Kau itu orang mesum!" balas semua orang di kelas.

Hari ini, kelas 2-B mendapatkan siswa baru bernama Asia Argento. Bisa dibilang mulai dari kehidupan Issei di sekolah menjadi lebih menyenangkan sejak saat itu. Tapi sepertinya dia harus berusaha keras jika ingin melewati dinding tak terlihat yang diciptakan semua siswi untuk mendekati Asia.

Istirahat makan siang tiba dan siswa-siswi berkerumun di kantin untuk makan. Naruto pergi tanpa ditemani dua sahabatnya. Shirō memiliki suatu urusan penting dan Issei tidak diketahui sedang melakukan apa.

Naruto duduk sendirian sambil menikmati ramen yang dipesannya dari kantin. Orang-orang yang lewat pasti akan terkejut melihat tiga mangkuk bekas makan Naruto.

Bukan, mereka bukan terkejut karena porsi makan Naruto yang terlalu besar. Justru mereka tahu betapa cintanya Naruto terhadap Naruto.

Yang membuat mereka terkejut adalah Naruto baru saja menghabiskan tiga mangkuk setelah 15 menit sejak memesannya, biasanya dalam waktu sesingkat itu dia telah menghabiskan sembilan mangkuk.

Jadi, semua orang bertanya-tanya mengapa si pecinta ramen itu tampak tidak bersemangat saat memakan ramen seperti biasanya.

"Tampaknya kau tidak bersemangat hari ini, Uzumaki-kun" Naruto melirik gadis berambut merah yang ditemuinya semalam, Rias Gremory, "Bolehkah aku duduk di sini?"

"Err, ya..."

Naruto menjawab dengan ragu. Dia menjadi gugup bukan karena sosok gadis populer di depannya, melainkan perhatian yang didapatkannya dari semua orang.

Tidak biasanya kau melihat salah satu siswa populer duduk bersama siswa populer lainnya. Meskipun salah satunya menjadi populer karena sering berbuat masalah, jadi bisa dibilang Naruto kurang disukai oleh banyak orang.

"Bagaimana kau tahu tidak bersemangat hari ini?" tanya Naruto.

"Kau sangat menyukai ramen, aku mendengar kau adalah orang yang sangat mencintai ramen sampai ada rumor bahwa kau adalah pendiri aliran sesat yang menyembah ramen sebagai dewa" jawab Rias.

"Rumor macam apa itu?! Tapi, sepertinya itu bukan ide yang buruk karena ramen adalah makanan para dewa" Naruto mengangguk-angguk sambil memikirkan ide cemerlangnya.

"Aku ragu para dewa akan menjadikan ramen sebagai makanan pokok mereka" Rias sweatdrop ketika mendengar ide 'cemerlang' Naruto, "Kembali ke topik, aku sudah bisa melihat betapa besar cintamu pada ramen setelah mengunjungimu semalam. Tapi sekarang aku melihatmu tidak antusias saat menikmatinya. Antara kau tidak besemangat atau ramennya tidak enak."

"Tidak, ramen yang dibuat di sini selalu enak."

"Jadi, apa yang membuatmu tidak bersemangat?"

Naruto mengaduk-aduk ramennya sambil memikirkan apa yang harus dikatakannya kepada Rias. Apakah dia harus memberitahunya tentang pria misterius yang ditemuinya semalam? Itulah yang membuat Naruto merasa dilema.

Memang benar Naruto tidak bisa berhenti memikirkan pria itu Cao Cao. Ini bukan perasaan romantis saat orang jatuh cinta. Mustahil Naruto akan memikirkannya seperti itu. Apa yang mengganggu Naruto adalah identitas sebenarnya dari pria pemegang tombak itu.

Naruto bisa melihat bahwa Cao Cao dan organisasi yang diikutinya sangat berbahaya. Siapapun akan curiga pada pria misterius yang berjalan-jalan membawa tombak di malam hari.

"Rias-senpai, apakah ada orang yang menggunakan kekuatan super untuk melakukan sesuatu yang buruk?"

Rias sedikit terkejut dengan pertanyaan Naruto, "Bukankah sudah jelas? Tentu saja ada orang-orang yang menyalahgunakan kekuatan super mereka. Beberapa dari mereka tidak ragu menggunakan kekuatan super untuk melakukan tindak kriminal seperti mencuri dan membunuh. Kewajiban Millennium selain memburu dark spirit adalah menangkap orang-orang seperti itu."

"Bagaimana jika orang itu melakukan sesuatu yang buruk demi mencapai tujuan yang baik?"

"Fufufu. Jika pertanyaanmu seperti itu, seharusnya kau menanyakan itu kepada ahli hukum atau polisi. Aku sendiri tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu."

"Tapi jika kau ingin mencapai tujuan yang baik, apakah kau akan melakukan sesuatu yang buruk juga, senpai?"

Rias tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada kursi, "Kau tahu, Uzumaki-kun. Aku ini tidak sebaik yang dikatakan orang-orang lain. Terkadang, aku akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Kau bisa menyebutku serakah. Bahkan jika aku mau, aku akan melakukan sesuatu yang buruk jika itu berarti aku bisa mencapi tujuanku."

"B-Benarkah?"

"Tapi jangan khawatir! Aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan mempermalukan nama baikku atau nama baik keluargaku. Karena bagiku, keluarga adalah yang terutama!"

Rias membusungkan dadanya sambil membanggakan keluarganya. Naruto tersenyum saat melihat tingkah yang jarang dilihatnya dari Rias Gremory. Dia sempat sweatdrop ketika melihat beberapa siswa lelaki mimisan dan bahagia melihat senyuman Rias... atau dadanya.

Kemudian dia mengingat lagi pertemuannya dengan Cao Cao. Pria itu mengklaim bahwa tujuan organisasinya adalah sesuatu yang baik untuk semua pengguna kekuatan super.

Naruto tidak tahu apakah itu adalah tindakan yang benar atau salah, tapi dia memutuskan untuk tidak memberitahu Rias tentang Cao Cao. Dia masih mengingat jelas peringatan Cao Cao yaitu tidak mengatakan apapun tentang pertemuan mereka kepada siapapun.

'Aku akan membunuh orang-orang yang dekat denganmu.'

Biasanya orang yang memiliki kekuatan besar akan mengabaikan peringatan tersebut. Tapi bagi Uzumaki Naruto yang tidak berpengalaman dalam menghadapi seorang pengguna kekuatan super, dia tidak ingin mengambil risiko tersebut.

"Uzumaki-kun, aku ingin memintamu untuk bergabung dengan Klub Penelitian Ilmu Gaib" ajak Rias secara tiba-tiba.

"Klub Penelitian apa?" tanya Naruto dengan bingung.

"Klub Penelitian Ilmu Gaib!" Rias mengulanginya bangga.

"Err. Senpai, aku baru tahu ada klub yang melakukan sesuatu seperti itu. Apakah kau ini pemuja setan?"

"Dengarkan aku, Uzumaki-kun! Namanya memang adalah penelitian gaib, tapi secara teknis apa yang kami teliti adalah kekuatan super."

"Lalu, mengapa kau tidak menamakannya 'Klub Penelitian Kekuatan Super'?"

"'Klub Penelitian Kekuatan Super' terdengar kekanak-kanakan dan tidak jelas. Menurutku 'Klub Penelitian Ilmu Gaib' terdengar lebih keren!"

"Ya, tapi itu juga terdengar kekanak-kanakan dan tidak jelas. Tidak, bahkan orang-orang akan merasa curiga ketika mendengar ada kumpulan orang yang sedang meneliti ilmu gaib. Kalian akan dilaporkan ke polisi dan ditangkap."

Istirahat makan siang berakhir.

Naruto mengatakan dia akan memikirkan ajakan Rias untuk bergabung dengan klub. Rias memintanya untuk datang ke ruang klubnya nanti.

Saat ini, Naruto tidak tergabung dalam klub manapun di sekolah. Tidak ada klub yang menerimanya karena berbagai masalah yang diperbuatnya.

Pada tahun pertama, Naruto menantang ketua Klub Judo dalam sebuah pertarungan. Naruto menang, namun gaya bertarungnya yang tidak sesuai dengan Judo membuat orang-orang tidak mengakuinya. Setelah Klub Judo, Naruto menantang klub yang lainnya.

Naruto bukan orang yang ahli bela diri, dia sering bertarung menggunakan gayanya sendiri. Dari pandangan orang lain, Naruto terlihat seperti petarung jalanan.

"Apa yang akan dikatakan Issei saat dia tahu aku bergabung dengan klub orang-orang populer seperti Rias-senpai? Hehe, dia pasti akan menangis."

Aktivitas belajar berlanjut seperti biasanya.

Shirō tidak kembali ke kelas sampai aktivitas sekolah berakhir, dan Kakashi berkata dia sedang izin. Mungkin itu ada hubungan dengan urusan penting yang dikatakannya tadi. Untuk suatu alasan, Issei sedang merasa senang.

Guru Bahasa Inggris mereka yaitu Fujimura Taiga, sangat kesal saat tahu bahwa Shirō tidak bisa mengikuti kelasnya. Semua orang tahu bahwa Taiga adalah wali Shirō dan hubungan keduanya seperti bersaudara meski tidak sedarah.

Taiga yang juga merupakan bintang Klub Kendo itu sangat menakutkan saat marah. Naruto merasa kasihan dengan Shirō.

Saat aktivitas sekolah berakhir, Naruto pergi ke ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib. Issei tidak bisa menunggunya karena dia harus membeli sesuatu di toko.

Klub Penelitian Ilmu Gaib –Naruto masih berpikir namanya aneh– terletak di gedung yang telah ditinggalkan tepat di samping sekolah. Menurut rumor yang beredar, gedung ini adalah bekas rumah sakit saat Perang Dunia Kedua.

"...Banyak orang yang mati di tempat ini, dan beberapa saksi melaporkan mereka melihat seorang gadis berjalan-jalan di lorong gedung ini. Fufufufu."

"Uwaahhh!"

Naruto terkejut saat dia menemukan Akeno yang berdiri di belakangnya. Gadis yang lebih tua satu tahun darinya itu memberinya senyuman menggoda. Tidak seperti biasanya, senyuman menggoda itu seperti sedang menakut-nakuti orang.

"Berhati-hatilah, Naruto-kun. Kau mungkin akan kehilangan kepalamu bahkan sebelum kau menyadarinya."

"Jangan menyebarkan rumor yang tidak masuk akal!"

"Ara~ apakah kau takut?"

"A-Aku tidak takut!"

"Benarkah?"

"Ya!"

"Ufufufufu. Buchō sudah menunggu kedatanganmu. Biarkan aku mengantarmu, Naruto-kun."

Akeno mengantar Naruto ke dalam gedung tertinggal itu dan mereka berjalan sampai ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib. Bukannya Naruto takut kepada hantu, tapi dia sangat waspada saat berjalan bersama Akeno.

Naruto baru berbicara dengan Akeno sekali saja, namun dari pengalaman itu, Naruto menjadi waspada di sekitar Akeno. Menurutnya, Himejima Akeno adalah gadis yang berbahaya yang siap 'memakan' mangsanya saat lengah.

'Apa yang kau pikirkan, Naruto? Akeno-senpai bukan orang seperti itu.' Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mereka berdua sampai di ruang klub dan masuk ke dalamnya. Harus Naruto akui, meskipun penampakan ruangannya tampak seperti perkumpulan orang sesat, paling tidak kebersihannya lebih baik dari yang dibayangkannya.

"Selamat datang, Uzumaki-kun!" Rias menyapanya dari tempat di mana dia duduk.

Naruto melihat sekitarnya. Hanya ada tiga orang saja yang berada di dalam ruangan ini, yaitu Rias, Akeno, dan dirinya sendiri. Jadi, Naruto akan melemparkan pertanyaan yang terpikirkan oleh kebanyakan orang.

"Rias-senpai, di mana anggota yang lain?"

"Mereka sedang mengerjakan misi yang diberikan Direktur. Untuk malam ini saja, hanya akan ada Akeno dan aku di sini. Kau tidak perlu merasa malu dan katakan jawabanmu pada ajakanku."

"Oh, benar juga. Mengenai ajakanmu untuk bergabung, aku masih belum bisa menentukannya. Aku belum mengerti apa saja yang kita lakukan di klub ini."

"Aku sudah menjelaskannya kepadamu, kan? Klub Penelitian Ilmu Gaib melakukan banyak penelitian mengenai kekuatan super. Kami mencaritahu bagaimana kekuatan super seseorang bekerja, apa saja kelebihannya dan apa saja kekurangannya. Tugas kami yang lain adalah mencaritahu lebih banyak hal tentang dark spirit dan pengetahuan yang kami peroleh dapat digunakan untuk mengatasi dark spirit."

"Keren! Kalian tidak terlihat seperti ilmuwan tapi sudah bisa melakukan penelitian yang rumit!"

"Tentu saja!"

Sekali lagi Rias membusungkan dadanya dan bangga pada klubnya sendiri. Akeno yang tersenyum di samping Naruto menghancurkan kebanggaan itu dengan kata-katanya yang kedengarannya 'polos'.

"Apa yang kau bicarakan, buchō? Kita tidak pernah melakukan penelitian mengenai kekuatan super dan dark spirit. Melakukan hal-hal seperti itu adalah tugas Divisi Penelitian di markas pusat."

Senyuman Rias membeku saat Akeno berkomentar pada penjelasannya. Gadis berambut merah yang dipanggil 'buchō' itu menoleh ke arah Akeno dan melotot. Rias menoleh kembali kepada Naruto.

"Ehem, bagaimana menurutmu, Uzumaki-kun? Bukankah ini adalah kesempatan yang bagus bagimu untuk mempelajari lebih banyak tentang kekuatan super dan spirits?"

"Sebenarnya, senpai… aku tidak tertarik untuk bergabung dengan klub. Dan jika aku ingin tahu lebih banyak tentang kekuatan super dan spirits, aku bisa menanyakannya kepada Shirō. Selama beberapa hari terakhir ini, dia sering melatihku" Naruto menolaknya.

"Emiya-kun, huh? Dengarkan aku, Uzumaki-kun. Pengetahuan yang kami miliki lebih banyak dibanding darinya dan aku lebih kuat. Jika kau ingin menjadi lebih kuat, aku juga bisa mengajarimu beberapa hal" Rias mencoba membujuknya lagi.

"Tapi, buchō, kau tidak pernah mengajari apapun kepada kami. Selain itu, kau tidak pernah menang saat bertarung melawan Shirō-kun" sela Akeno.

"Diamlah, Akeno!"

Naruto memegang dagunya dan menutup mata. Pose ini adalah pose yang sering digunakannya saat sedang berpikir keras.

"Rias-senpai… jika aku ikut klubmu, apakah Issei dan Shirō juga bisa ikut?"

"Um, kau bisa mengajak Hyōdō-kun untuk mengikuti Klub Penelitian Ilmu Gaib. Tapi Emiya-kun… aku tidak tahu. Dia pernah menolak ajakanku."

"Kalau begitu, aku tidak bisa mengikuti klubmu. Aku akan masuk ke klub di mana Issei dan Shirō masuk."

"…Kau sangat menjunjung tinggi persahabatanmu dengan mereka berdua, huh?"

Rias tampak kecewa ketika mendengar penolakan Naruto. Mendengar ucapan gadis itu, Naruto tersenyum lebar dan membalas tanpa ragu.

"Mereka berdua adalah teman pertamaku di Akademi Tenma, aku menganggap mereka sebagai teman-temanku yang paling berharga, mungkin aku juga melihat mereka sebagai saudara-saudara yang tidak pernah kumiliki. Ke mana pun mereka pergi, aku akan mengikuti mereka. Karena kami bertiga adalah sahabat selamanya. Satu untuk semua, dan semua untuk satu."

"Fufufu. Seperti kisah Tiga usketeer" ucap Rias sambal tertawa kecil, "Tampaknya aku tidak bisa mengubah pikiranmu selama aku tidak bisa meyakinkan Emiya-kun untuk bergabung denganku. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku sudah mengatakannya kepadamu, kan? Aku tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan apapun yang kuinginkan. Dan mengajakmu bergabung dengan klub ini adalah salah satu keinginanku."

"Sebaiknya kau berhati-hati, Naruto-kun~ Saat buchō berkata dia menginginkanmu, itu artinya dia akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu" tambah Akeno, membuat Naruto merinding ketika memikirkan jika itu akan terjadi.

"Akeno, jangan mengatakan sesuatu yang dapat membuat orang salah paham" Rias menegur Akeno sambil melotot.

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, buchō. Ngomong-ngomong, Naruto-kun… mengapa kau tidak tinggal lebih lama di sini dan mengobrol denganku? Saat ini aku membutuhkan teman bicara sambil menunggu anggota klub yang lainnya datang. Jika kau mau… aku bisa mengajarimu beberapa hal yang penting~"

Nada menggoda itu lagi. Setiap kali Naruto mendengar nada itu dari Akeno, wajahnya memanas. Saat ini, mereka berdua sedang duduk di sofa yang sama dan Akeno mendekatkan diri kepada Naruto.

Yang membuat Naruto memanas bukan hanya nada menggoda yang biasa digunakan Akeno, tapi juga nafas Akeno yang menggelitik di telinganya ketika Akeno membisikkan sesuatu yang dapat membuat orang salah paham.

Beruntung bagi Naruto, Rias datang menyelamatkannya.

"Berhenti melakukan sesuatu yang aneh, Akeno. Kau membuat Uzumaki-kun merasa tidak nyaman."

"Hmm, aku tidak mengerti apa maksudmu, buchō."

"Jangan membuatku kesal. Uzumaki-kun, kuharap Akeno tidak membuatmu merasa tidak nyaman."

"Ah. A-Aku tidak merasa begitu."

"Kau mendengarnya, buchō~ Naruto-kun tidak merasa terganggu sedikit pun. Justru ini akan menjadi kesempatan yang bagus. Aku bisa menggodanya agar dia mau bergabung dengan Klub Penelitian Ilmu Gaib."

"Kau tidak bisa membodohiku, Akeno. Sejak dulu, kau selalu menggoda orang yang polos."

Naruto menatap pertikaian antara dua gadis itu dengan tatapan kosong. Rias yang tampak memarahi anggota klubnya sementara Akeno hanya membalas dengan santai dan senyumannya yang terpaksa 'polos'.

Tidak menghiraukan pertengkaran antar teman itu, Naruto mengamati ruangan Klub Penelitian Ilmu Gaib.

'Ugh, aku masih belum bisa menerima namanya' batin Naruto.

Berbeda dengan klub-klub lainnya, klub ini terletak di gedung yang telah ditinggalkan di samping gedung Akademi Tenma. Dari luar, orang-orang akan berpikir ini adalah bagian dari fasilitas sekolah. Naruto tidak mengetahui banyak hal tentang itu.

Klub Penelitian Ilmu Gaib. Jujur saja, Naruto mendengar klub ini untuk pertama kalinya sejak menjadi siswa di Akademi Tenma. Tidak, Naruto sudah pernah mendengar klub ini sebelumnya. Tapi anggota klub ini yang sedikit membuatnya lupa.

Kalau dia tidak salah, hanya ada beberapa anggota klub yang bisa dihitung dengan jari tangan.

"Uzumaki-kun, apakah kau ingin melihat kekuatan super kami? Mungkin kekuatan kami bisa membuatmu tertarik" ucap Rias.

"Err, entahlah. Tapi aku benar-benar ingin melihat kekuatan super yang lain" jawab Naruto dengan sedikit keraguan dan kesenangan.

Rias dan Akeno mengajak Naruto keluar dari gedung dan mereka bertiga berdiri di lapangan belakang gedung tersebut. Ini adalah tempat yang cocok untuk berlatih karena tidak ada orang yang berjalan melewatinya.

Rias berdiri beberapa langkah di depan Naruto dan mengangkat tangannya ke atas. Tiba-tiba sebuah energi merah gelap muncul di tangannya.

"Ini adalah kekuatan super yang dimiliki oleh kakakku dan aku. Kami menyebutnya Power of Destruction."

Mengarahkan tangannya ke arah sebuah pohon, Rias menembakkan energi merah gelap yang disebutnya 'Power of Destruction'.

Energi penghancur tersebut mengenai pohon yang menjadi targetnya. Setelah itu, yang tersisa dari pohon tersebut adalah bagian bawah batangnya.

"Power of Destruction adalah energi yang dapat menghancurkan apapun yang disentuhnya. Tapi aku masih belum bisa mengendalikannya dengan baik. Untuk saat ini, aku hanya bisa mengeluarkannya dalam bentuk mentah dan melepaskannya. Kakakku, Sirzech Gremory, dapat memanipulasi energi ini sesuka hatinya sehingga dia dapat melenyapkan sesuatu tanpa sisa. Suatu saat nanti, aku akan bisa melakukan hal yang sama dengannya."

"Itu menakutkan…."

Naruto tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi jika energi itu mengenainya. Tanpa ragu lagi, tubuhnya akan hancur jika dia yang menjadi targetnya.

Kemudian, giliran Akeno yang akan menunjukkan kekuatannya kepada Naruto. Gadis yang disebut 'Yamato Nadeshiko' tersebut tersenyum, namun senyuman ini berbeda dari yang sebelumnya. Senyuman ini sangat menakutkan bagi Naruto.

Aliran listrik muncul di tangan Akeno. Uniknya, aliran listrik ini disertai cahaya putih di sekitarnya.

"Sekarang adalah giliranku~"

Akeno menembakkan aliran listrik ke depannya. Akibatnya, tercipta kawah di depan mereka dan rumput-rumput yang ada di sekitarnya hangus.

"Wow! Apakah kekuatan Akeno-senpai adalah listrik?" tanya Naruto yang kagum.

"Tebakanmu hampir benar, Uzumaki-kun. Kekuatan yang dimiliki oleh Akeno adalah Holy Lightning. Dia dapat menciptakan dan mengendalikan petir yang mengandung kekuatan suci. Kekuatan suci adalah jenis kekuatan super yang paling efektif untuk menghancurkan dark spirits dan menghadapi kekuatan super yang jahat" jelas Rias.

"T-Tapi mengapa aku merasa ada yang berbeda dari Akeno-senpai?" Naruto bertanya dengan gugup.

"Oh, aku tidak bisa menyalahkanmu karena merasa seperti itu. Akeno adalah... orang yang sadis" Rias sempat meneguk ludahnya sendiri saat mengatakan itu.

"Ara~ jangan menakuti Naruto-kun, buchō. Aku tidak seperti yang kau katakan."

Bukannya meyakinkan Naruto, kata-kata Akeno malah membuatnya merasa lebih gugup. Sepertinya Naruto benar sejak pertama kali berbicara dengan gadis ini. Himejima Akeno adalah gadis yang sangat berbahaya.

'Hanya masokis yang akan mengejar Akeno-senpai selamanya' batin Naruto sambal tertawa pahit di dalam hati, 'Lupakan saja, aku yakin tidak peduli dia sadis atau bukan, beberapa lelaki akan tetap mengejarnya, bahkan berterimakasih kepadanya jika dia menendang wajah mereka. Orang-orang seperti itu… Issei….'

Naruto merinding saat memikirkan ekspresi Issei yang akan bersyukur jika ditendang oleh Akeno.

"Naruto-kun~ kau tidak sedang memikirkan sesuatu yang buruk, kan?"

"Err… maaf?"

Tidak mungkin Naruto akan mengatakannya kepada gadis ini. Dan juga, Naruto bukan masokis yang siap menerima hukuman Akeno sebagai suatu berkah.

"Kau sudah melihat kekuatan kami, Uzumaki-kun. Apakah ini telah merubah keputusanmu?" tanya Rias.

"Maafkan aku, Rias-senpai. Aku tetap akan menolak ajakanmu" Naruto menolaknya sekali lagi, 'Aku harus menjauh dari Akeno-senpai. Dia terlalu menakutkan.'

"Naruto-kun, kau menolaknya bukan karena aku, kan?"

"T-Tidak!"

Akeno masih menunjukkan ekspresi yang menakutkan bagi Naruto. Sedangkan Rias tampak tidak senang karena ajakannya untuk bergabung dengan Klub Penelitian Ilmu Gaib masih ditolak oleh Naruto.

Rias ingat bahwa dulu Emiya Shirō juga menolak ajakannya. Dan hari ini sahabat Shirō menolaknya juga.

"Rias-senpai, Akeno-senpai, aku harus bekerja sekarang" ucap Naruto.

Bekerja. Rias dan Akeno langsung mengerti bahwa Naruto sedang membicarakan kerja paruh waktunya di kedai ramen yang mereka kunjungi sebelumnya.

"Sampai jumpa besok lagi!"

Mengatakan sampai jumpa, Naruto berlari pergi. Namun sebelum dia menjauh, Rias sempat memanggilnya. Naruto berbalik dan menatap Rias. Dari jarak mereka sekarang, Naruto masih bisa mendengar apa yang Rias katakan.

"Aku tidak bisa memaksamu untuk bergabung dengan Klub Penelitian Ilmu Gaib, tapi kuharap kau terus memikirkannya. Aku akan selalu menunggu jawabanmu, Naruto-kun."

"…Akan kupikirkan, senpai" ucap Naruto sebelum berjalan pergi. Namun dia berbalik sekali lagi dan tersenyum, "Senpai, meskipun aku tidak akan bergabung dengan klubmu, aku akan tetap menolongmu jika kau memintanya. Paling tidak, ini adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan untukmu."

Rias terkejut dengan apa yang dikatakan Naruto, "Kurasa itu tidak buruk juga."

Senyuman Naruto melebar, "Hei, apakah kalian ingin memakan ramen? Aku akan mentraktir kalian dengan masakanku."

Rias dan Akeno saling memandang. Kemudian mereka menoleh ke arah Naruto.

"Baiklah, aku ingin mencicipi ramen yang kau masak lagi. Itu adalah ramen paling enak yang pernah kumakan."

"Berikan aku yang terbaik yang kau punya, Naruto-kun."

Malam itu, Rias dan Akeno mencicipi ramen Uzumaki Special buatan Naruto lagi. Yang membuat Naruto terkesan adalah mereka meminta satu mangkuk lagi setelah menghabiskan satu mangkuk Uzumaki Special.

Rias dan Akeno terlalu menikmati masakan Naruto sambal mengobrol dengannya. Akhirnya mereka lupa bahwa anggota-anggota klub yang lainnya sedang menunggu mereka di ruang klub sampai tengah malam.

Uzumaki Special buatan Naruto ternyata telah memikat hati- err, perut Rias Gremory dan Himejima Akeno.

To Be Continue

Daftar Superpower

Naruto: ?

Issei: Spirit Summoning (Garuda)

Shirō: Object Replication (Kanshō dan Byakuya)

Rias: Power of Destruction

Akeno: Holy Lightning

Hiruzen: Monkey Transformation

Sirzech: Power of Destruction

Penjelasan Superpower

Holy Lightning: Pengguna bisa menciptakan dan mengendalikan petir berkekuatan suci. Sangat efektif melawan dark spirits.

Power of Destruction: Pengguna bisa menciptakan dan mengendalikan energi penghancur.

Saya bingung mau melanjutkan cerita ini bagaimana, padahal baru empat chapters. Karena masih belum bisa menentukan scene pertarungan, akhirnya saya putuskan untuk berfokus pada kehidupan sehari-hari Naruto, Issei, dan Shirō.

Beberapa chapters di cerita ini akan menunjukkan kehidupan sehari-hari para tokoh agar mereka bisa menjadi lebih dekat. Menurut saya ini lebih baik daripada setiap tokoh menjadi dekat dengan tokoh lain hanya dengan melewati situasi yang tegang saja.

Power of Destruction dan Holy Lightning memang bukan ide yang kreatif karena saya mengambilnya dari canon. Saya bingung mau memilih kekuatan super apa untuk setiap tokoh. Tapi mereka akan memiliki kekuatan tambahan ke depannya.

Apakah kalian menyadari bahwa saya mendeskripsikan Tohsaka Sakura berbeda? Yup, dia memiliki rambut coklat kehitaman dan mata hijau kebiruan. Bagi kalian yang tidak tahu, ini sebenarnya adalah warna rambut dan mata Sakura saat masih kecil di canon.

Karena cerita ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan canon (kecuali beberapa unsur seperti kekuatan dan senjata), Tohsaka Sakura di cerita ini tidak memiliki hubungan apapun dengan Matou Zouken. Karena itulah, rambut dan dan mata Sakura tetap sama seperti saat dia masih kecil.

Saya berterimakasih pada reviewer yang telah menyarankan kekuatan super Rin dan Sakura. Sebenarnya, saya tidak berencana memberikan Sakura kekuatan super. Tapi saran dari sang reviewer telah memberikan saya sebuah ide baru.

See you next time!