Disclaimer: Any dialogue you recognize is taken from "The Hunger Games" by Suzanne Collins. No copyright infringement intended. Please rate & review!
Reaping Day
Gale membencinya dan ia tahu itu.
Setiap kali Katniss muncul di beranda belakang rumahnya sambil menawarkan sekeranjang kecil buah stroberi segar dari hutan, ia akan mendapati Gale berdiri di anak tangga terbawah—menatapnya dengan penuh kebencian yang semakin sengit hari demi hari. Gale benar-benar tidak pernah masuk ke rumahnya atau bahkan sekedar membuka mulutnya untuk mengutarakan beberapa suku kata. Bahkan tidak pernah sekalipun Gale melangkah mendekat dari anak tangga terbawah untuk menuju ke pintu belakangnya. Cara Gale melihat bagian luar rumahnya membuat Madge tak berkutik dan merasa bersalah. Gale selalu terlihat ingin segera lari dan meninggalkan tempat itu sesegera mungkin setelah Katniss menyelesaikan urusannya.
Madge melambangkan segala hal yang Gale anggap keliru—dengan pemerintahan, dengan harta, dengan kekuasaan—dan ia tahu semua itu.
Hari ini adalah Hari Pemungutan. Madge merapikan gaun putihnya yang lembut saat ia bergerak menuju lemarinya. Ia mengambil pita sutra merah muda dan sebuah pin pemberian ibunya dari kotak perhiasan kayu, kemudian duduk di depan cermin rias. Ia duduk dengan hati-hati, mengumpulkan semua rambutnya lalu mengangkatnya dan mengikatkan pita di sekitarnya. Dengan cekatan, ia mengikat rambutnya erat. Setelah itu, ia menyematkan pin emas itu pada gaunnya. Ia menatap pantulan bayangan dirinya di cermin sekali lagi.
Madge mendesah, menyadari penampilannya memuaskan. Di lantai bawah, Penjaga Perdamaian tambahan, wartawan, dan kru kamera yang didatangkan dari Capitol berkerumun untuk menyiapkan perhelatan besar di hari ini. Madge tahu ayahnya ingin ia datang dan segera turun setelah ia siap, tapi ia mengambil waktu soliter sejenak untuk duduk dalam keheningan kamarnya.
Kepalanya sakit dan matanya lelah. Dia tidak pernah bisa tidur di malam sebelum Hari Pemungutan.
Madge tahu ibunya tidak akan bangkit dari tempat tidur hari ini. Ia menganggap ini adalah hal baik—ibunya tidak akan tahan dengan dengan keadaan ramai di lantai bawah. Ia akhirnya berdiri, merapikan gaunnya, lalu menuruni tangga dengan langkah berat.
Benar saja, Emer, salah satu pegawai di rumahnya, sedang memasak di dapur sementara orang-orang Capitol dengan gaun aneh bergerak ke kiri dan kanan, mengoceh dengan aksen Capitol yang angkuh. Ayahnya mungkin berada di ruangan lain, memberi instruksi kepada para Penjaga Perdamaian baru atau semacamnya. Madge bergegas melewati orang-orang Capitol sebelum menuju ruang belakang. Dengan lega, ia mendapati ruangan itu kosong.
Ada ketukan di pintu belakang rumahnya, dan ia bergegas untuk membukanya. Mungkin akan lebih baik untuk melakukannya dengan cepat karena ada pejabat pemerintah di ruangan sebelah. Madge membukanya dan mendapati Katniss dan Gale yang berdiri di hadapannya. Ia terkejut karena untuk pertama kalinya Gale berani untuk mendekati rumahnya.
Madge tersenyum, tapi Gale tidak.
"Gaun yang cantik," kata Gale dengan nada dingin. Madge terkejut karena ini kali pertama Gale berbicara kepadanya. Apakah Gale bermaksud ironis atau sungguh-sungguh tentang komentarnya?
Madge menatap Gale, bingung dan tidak yakin apakah ia bersungguh-sungguh atau hanya menyindir. Madge menekan bibirnya dan menghendaki dirinya untuk menjawab. "Yah, jika aku akhirnya harus pergi ke Capitol, aku ingin kelihatan cantik, kan?" Ia mengatakan dengan cara yang paling sarkastik yang ia tahu.
"Kau takkan pergi ke Capitol," jawab Gale dengan tenang. Tatapannya jatuh pada pin Mockingjay yang tersemat di gaunnya. Terukir indah dan terbuat dari emas. Benda itu bisa digunakan untuk membeli roti selama berbulan-bulan untuk keluarganya. "Kau memasukkan berapa nama? Lima? Aku memasukkan enam saat umurku baru dua belas."
Ucapan Gale sama halnya dengan tendangan di dada.
"Itu bukan salahnya, " kali ini Katniss angkat bicara membela Madge.
"Ya, itu bukan salah siapa pun. Karena memang aturannya begitu," tukas Gale sambil melirik Katniss. Saat itu Madge tahu jika Gale mengatakan hal ini kepada Katniss.
Pandangan Madge beralih ke Katniss seraya memberikan uang pembayaran stroberi. "Semoga beruntung, Katniss," katanya sambil menutup pintu. Berusaha untuk tidak membantingnya.
"Kau juga," suara Katniss terdengar samar.
Itu saja. Tidak ada ucapan semoga beruntung untuk Gale. Walaupun Madge tahu bahwa nama yang Gale masukkan lebih banyak dari siapapun yang ada di Distrik 12.
Siang itu, semua orang di barisan memusatkan perhatian mereka pada panggung sementara yang didirikan di depan Gedung Pengadilan. Terdapat tiga kursi, sebuah podium, dan dua bola kaca besar, satu untuk anak-anak perempuan dan yang lainnya untuk anak-anak lelaki. Mengkilat di bahwah terik matahari.
Di kursi pertama ada Effie Trinket, pengiring Distrik 12. Dia lebih sering tinggal di Capitol, dan terlihat jelas dari penampilannya. Seringai putih menakutkan, rambut merah jambu menyala, dan pakaian hijau cerah khas Capitol. Tepat di sebelahnya adalah Walikota Undersee. Ayah Madge.
Hal berikutnya berjalan cepat. Hingga tiba saatnya Effie berjalan menuju bola kaca yang berisi nama anak-anak perempuan. Dia mengulurkan tangan, mengaduk-aduknya sejenak, lalu menarik secarik kertas. Seketika segala hal yang berada di sekeliling Madge berjalan dengan gerakan yang sangat lambat. Ia bisa mendengar suara degup jantungya dan juga milik semua orang yang berada di halaman Gedung Pengadilan siang itu. Ia berharap nama yang dipegang Effie bukan miliknya.
"Primrose Everdeen!"
Secara refleks, tatapan Madge beralih ke arah Katniss yang membeku di tempat hingga akhirnya sadar apa yang terjadi.
"Prim!" Katniss memekik, otot-ototnya mulai bergerak lagi. "Prim!" Katniss berlari mendesak kerumunan yang membukakan jalan agar bisa dilaluinya. Ia sampai tepat saat Prim akan menaiki tangga menuju panggung. Mendorongnya ke belakang untuk kembali. "Aku mengajukan diri!" teriak Katniss. "Aku mengajukan diri sebagai peserta!"
Katniss. Katniss telah mengajukan diri. Katniss telah mengajukan diri untuk memburu kematiannya. Katniss akan mati.
Hal yang berikutnya terjadi juga tidak terduga. Peserta laki-laki tahun ini adalah Peeta Mellark, anak tukang roti, salah satu orang yang bisa Madge katakan sebagai teman meskipun ia sendiri tidak terlalu yakin jika Peeta menganggapnya sebagai teman.
Setelah walikota selesai membacakan Perjanjian Pengkhianatan, Katniss dan Peeta berjabat tangan. Madge tidak dapat bernapas. Tidak dapat berpikir. Ini bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan, dingin dan keras, mematikan dan menyakitkan. Mereka akan mati dalam hitungan hari, dan jika beruntung, tetap salah satu dari mereka akan mati.
Madge menuju Gedung Pengadilan untuk menemui Katniss, berusaha membendung air matanya. Ia menolak untuk menangis karena Katniss adalah orang yang pantas menumpahkan air mata saat itu.
Ia tidak berniat memberikan pin milik ibunya kepada Katniss. Ia bahkan tidak mempunyai ide itu hingga beberapa menit sebelum memasuki Gedung Pengadilan. Tapi ia merasa harus melakukannya.
Ibunya selalu berusaha menyematkan pin itu pada gaun Madge di Hari Pemungutan hingga ia merasa Madge cukup dewasa untuk melakukannya sendiri. Ibunya juga selalu berkata pin itu akan melindunginya.
Jika pin ini adalah yang harus ia berikan kepada Katniss, maka dengan senang hati ia akan memberikannya. Berharap pin ini juga akan melindunginya nanti.
"Mereka akan mengizinkanmu memakai satu barang dari distrikmu di dalam arena pertarungan. Satu benda yang mengingatkanmu pada rumah. Maukah kau memakai ini?" Madge mengulurkan pin itu pada Katniss. Sejenak, Katniss hanya terdiam.
"Pin milikmu?"
"Sini, ku pakaikan di gaunmu ya?" Madge tidak menunggu jawabannya, melainkan langsung menyematkan pin itu di pakaiannya dengan tangan agak gemetar. "Katniss, janji ya kau akan memakainya di arena?" tanya Madge sekali lagi dengan suara sedikit goyah. "Janji?"
"Ya," jawab Katniss singkat.
Madge menatapnya beberapa saat dan menyadari jika mungkin ini menjadi momen terakhir dirinya dengan Katniss. Ia memberi kecupan singkat di pipi Katniss lalu pergi meninggalkan ruangan.
Madge berdiri sejenak di depan pintu ruangan tempat Katniss berada, berusaha menenangkan dirinya.
Saat itu juga, Gale berjalan mendekat ke arahnya dan melewatinya begitu saja untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Waktu berlalu begitu saja sementara Madge masih duduk di tangga Gedung Pengadilan yang senyap. Ia tidak mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat di belakangnya hingga pemilik langkah itu berdeham.
"Kau memberikan pin emasmu kepadanya, Undersee?" seseorang bertanya dengan nada tak acuh yang ia gunakan tadi pagi.
Madge melihat ke arah sumber suara dan mendapati mata kelabu Gale Hawthorne menatap tajam ke arahnya.
"Untuk apa?" tanya Gale sekali lagi.
"Aku tak tahu. Mungkin akan membantunya nanti," Madge menjelaskan. Segera setelah kata-kata itu keluar, Madge menyesal karena telah mengucapkannya.
"Jangan konyol," Gale membelasut. "Benda bodoh itu tidak akan berguna. Kau mau membantu Katniss? Bagaimana dengan menyumbangkan uangmu yang melimpah untuknya? Atau mungkin menjadi sukarelawan menggantikannya sebagai peserta. Atau mungkin lebih baik kau yang terpilih!"
Madge mencoba menahan air matanya. Kata-kata Gale menghujam bagai belati. Namun ia tetap tidak akan menangis di hadapannya.
Gale yang terlihat geram berjalan meninggalkan Madge tanpa menengok ke belakang. Kedua tangannya terkepal sambil sesekali terdengar makian keluar dari mulutnya.
Setetes air mata jatuh melewati pipi Madge yang lembut.
