Akhirnya chapter terakhir juga :D :D dan juga akhirnya aku bisa menyelesaikan fic setelah menelantarkan fic-fic lainnya *tebar bunga* Oh ya, untuk chapter ini adalah lanjutan dari chapter 2 tapi dari sudut pandangnya Sakura lagi. Okeeee, langsung baca aja yaaa...

Warning: OC, gaje, abal, mungkin typo, ide pasaran, ending tidak memuaskan, aneh, dll.

Pairing: SasuSaku

Genre: Romance

Disclaimer: Masashi Kishimoto

DON'T LIKE DON'T READ

"K-kau bohong kan?" tanyaku masih tidak percaya.

"Aku… aku tidak bohong" jawabnya.

"Aku… sudah menyukaimu sejak peperangan dunia shinobi masih berlangsung" lanjutnya.

"Eh? T-tapi kan kita baru bertemu disini…" kataku terkejut.

"Mungkin kau sudah melupakanku, tapi aku selalu mengingatmu. Saat itu, aku hampir mati tetapi kau menyelamatkanku dengan pengobatanmu itu. Saat itu orang yang kau obati sangat banyak, jadi wajar saja kalau kau melupakanku" jelasnya.

"Saat itu, aku pikir aku akan mati…tapi kau menyelamatkanku. Itu tidak bisa kulupakan, aku terus memikirkannya. Dan akhirnya aku sadar bahwa aku…menyukaimu…"

"Lalu aku pikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Tapi ternyata kau kemari untuk membantu tim medis disini. Jujur saja, aku sangat senang, bahkan aku mencalonkan diriku sendiri untuk menjadi pengawalmu. Tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana caraku untuk menyampaikan perasaanku…" lanjutnya.

Aku hanya bisa terdiam mendengar penjelasannya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Dan aku juga tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Untuk beberapa waktu kami terdiam. Dan akhirnya Shinji-kun mulai bicara lagi.

"Sakura…." tiba-tiba ia memanggil namaku.

"I-iya?" jawabku agak canggung.

"A-aku harus kembali ke rumahku. Aku ingin melihat keadaan mereka. Sampai jumpa…" katanya sambil meninggalkanku.

Aku hanya duduk termenung di pinggir danau. Sesaat kemudian, aku baru ingat kalau waktu istirahat ku sudah hampir berakhir. Aku pun segera menuju tenda medis untuk kembali mengerjakan misiku.

.

.

.

Hari ini, rumah sakit baru saja selesai dibangun. Aku dan medic-nin lain bersiap-siap untuk pindah. Ada juga beberapa shinobi yang membantu kami untuk mengangkat barang. Sementara aku dan Kaori-chan membantu korban untuk pindah ke rumah sakit.

"Haaaaah, hari ini benar-benar melelahkan…" ucap Kaori-chan yang baru saja selesai memindahkan para korban.

"Sedikit lagi selesai kok… Tinggal barang-barangnya saja yang perlu dipindahkan" ucapku.

"Kamu kan bukan shinobi disini, aku sih malas kalau disuruh bekerja se-capek ini…" kata Kaori-chan sambil berjalan melewatiku menuju keluar tenda.

"Mau bagaimana lagi kan… Ini misiku. Lagipula aku jadi tidak enak kalau aku hanya bersantai-santai saja sementara orang lain bekerja" ucapku sambil menyusulnya keluar.

"Hei Sakura…" panggil Kaori-chan.

"Ya?"

"Siapa orang itu?" tanya Kaori-chan padaku.

"Orang yang mana?" aku mencari-cari orang yang dimaksud Kaori-chan.

"Itu yang berdiri di dekat gerbang desa… Di-dia kelihatan sangat kereeeen" kata Kaori-chan yang sedari tadi menatap kearah gerbang. Aku pun menoleh kearah gerbang dan saat aku melihat orang yang dimaksud, aku terkejut.

"Sasuke-kun?" kataku pelan, tapi ternyata Kaori-chan mendengarku.

"Sasuke-kun? Kamu kenal dia?" tanya Kaori-chan padaku.

"Y-ya begitulah…" kataku.

"Waaaaah, ayo kesana. Orang-orang sudah berkumpul, kira-kira ada apa ya?" kata Kaori-chan sambil menarik tanganku.

Disana sudah banyak orang yang berkumpul, dan kebanyakan dari mereka adalah wanita yang sedang meneriaki Sasuke-kun.

"Huh, seperti biasanya…" kataku pelan.

"Seperti biasanya?" tanya Kaori-chan.

"Iya, seperti biasanya, Sasuke-kun selalu memiliki banyak penggemar…" jawabku.

"Oooh, pantas sih…" katanya sambil mengajakku melewati kerumunan orang-orang.

Setelah melewati kerumunan, aku melihat Sasuke-kun sedang berbicara dengan Mizukage-sama. Sasuke-kun sepertinya datang sendirian kesini. Sementara Mizukage-sama didampingi beberapa pengawalnya termasuk Shinji-kun. Mereka sepertinya membicarakan sesuatu yang penting. Beberapa saat kemudian Mizukage-sama pergi dari tempat itu diikuti oleh beberapa pengawalnya kecuali Shinji-kun. Ia terlihat masih berbicara dengan Sasuke -kun, tapi sepertinya dia tidak ditanggapi. Aku menghampiri mereka…

"Sasuke-kun… apa yang kau lakukan disini?" tanyaku pada Sasuke-kun. Sebenarnya aku ragu kalau dia akan menjawabnya.

"Mengurus urusan kerja sama" jawabnya datar.

"Begitu ya…" kataku. Aku cukup senang karena ia sudah mau menjawabnya.

"Dan juga… Aku diperintah oleh Dobe untuk pulang bersamamu" lanjutnya.

"Eh? Pulang bersama?" tanyaku.

"Hn. Kenapa? Tidak mau? Kalau begitu aku akan pulang sendiri…" jawabnya.

"Ti-tidak, bukan begitu… Kenapa tiba-tiba kau diperintahkan seperti itu?" tanyaku lagi.

"Tanyakan saja pada Dobe…"

"Kenapa Naruto yang menyuruhmu? Kenapa bukan Hokage-sama?" aku masih terus menanyainya.

"Kakashi sedang pergi ke Suna, jadi Naruto menggantikannya untuk sementara atas kesepakatan seluruh warga. Dan juga, kau banyak tanya" jawabnya dengan nada kesal.

"Ma-maafkan aku…" jawabku sedih.

"Hei Sasuke, jangan bersikap terlalu kasar begitu…" ucap Shinji-kun pada Sasuke-kun.

"Bukan urusan mu…" jawab Sasuke-kun.

"Kau ini…" jawab Shinji-kun sambil sweat drop.

"Sudahlah, itu memang salahku yang banyak tanya…" kataku.

"Tapi kan…" Shinji-kun belum selesai bicara, tetapi Sasuke-kun memotong perkataannya.

"Hn. Kau memang menyebalkan, Sakura…" kata-kata itu lagi. Apakah Sasuke-kun sangat membenciku?

"Maaf…" hanya itu yang bisa kuucapkan. Kaori-chan menatapku dengan tatapan bingung. Ia tidak mengerti situasinya.

"Jadi… kau mau pulang bersamaku atau tidak?" tanya Sasuke-kun.

"Kata Dobe… 'Kalau Sakura-chan tidak mau, kau boleh pulang sendiri Teme' seperti itu" lanjut Sasuke-kun dengan mengulang perkataan Naruto.

"Kalau itu merepotkanmu, aku-"

"Sepertinya Sasuke tidak berniat untuk pulang bersamanya. Yasudah Sakura, kalau memang dia tidak mau, aku akan mengantarmu pulang" kata Shinji-kun tiba-tiba memotong perkataanku.

"Aku tidak kerepotan…" kata Sasuke-kun yang tidak mempedulikan kata-kata Shinji-kun.

"Eh? Yang benar?" tanyaku tidak percaya.

"Hn." ia menjawabnya dengan kata favorit nya itu. Tapi itu membuatku senang.

"Tapi… kemungkinan misiku masih agak lama. Tidak apa-apa kalau kau menungguku?" tanyaku.

"Hn."

"Baiklah kalau begitu…" kataku sambil tersenyum padanya.

"Kalau begitu cepat selesaikan misimu. Kalau sudah selesai katakan padaku. Setelah itu kita pulang. Sekarang, aku akan pergi ke penginapan" kata Sasuke-kun sambil meninggalkanku dan yang lainnya.

"Baiklah!" teriakku padanya.

"Sakura, siapa sih orang itu? Dia kasar sekali padamu…" tanya Kaori-chan tiba-tiba.

"Dia itu Uchiha Sasuke, dia satu tim denganku. Dia itu sebenarnya orang yang baik, hanya saja dia memang dingin…" jelasku padanya.

"Oh jadi dia anggota klan Uchiha yang terkenal itu. Apanya yang baik? Sikapnya sangat kasar" kata Kaori-chan lagi.

"Dia sebenarnya tidak seperti itu, hanya saja… aku sejak dulu memang menjadi pengganggu nya saja, karena itu dia mungkin membenciku…" jawabku sedih.

"Begitu ya? Yah setidaknya dia tidak semenyebalkan Shinji-baka" ledek Kaori-chan sambil menatap kesal kearah Shinji -kun.

"Berisik!" balas Shinji-kun.

"Tuh kan, menyebalkan…" kata Kaori-chan sebal.

"Kaori-chan, ayo kita ke rumah sakit!" ajakku pada Kaori-chan.

"Oh ya! Ayo!" ucapnya sambil menarik tanganku dan meninggalkan Shinji-kun disana.

Dirumah sakit, aku kembali mengerjakan tugasku seperti biasa. Setelah selesai aku kembali ke penginapan. Seperti biasa, Shinji-kun menemaniku. Aku masih memikirkan perkataan Shinji -kun yang kemarin. Entah kenapa aku masih tidak percaya.

Akhirnya kami sampai di penginapan. Saat berjalan menuju kamar kami, Sasuke-kun keluar dari kamar yang berada di depan kamarku. Ia melihat kearah kami dengan tatapannya yang tajam. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya dan pergi.

"Sasuke dingin sekali sih…" kata Shinji-kun.

"Ya… dia memang seperti itu" balasku.

"Sakura…" panggilnya.

"Ada apa?"

"Apa… kau menyukainya?" tanya Shinji-kun yang mengejutkanku. Rona merah pun muncul di pipi ku. Aku berusaha menahannya tapi tidak bisa.

"Ke-kenapa kau berpikir begitu?" tanyaku padanya.

"Karena sepertinya kau senang sekali saat bertemu dengannya. Dan kau juga kelihatan senang kalau kau akan pulang bersamanya" jawabnya.

Aku tidak bisa menjawabnya. Aku akui perkataannya itu benar. Tapi aku tidak enak untuk mengatakannya pada Shinji-kun.

"Tidak usah menutupinya…" kata Shinji-kun sambil meninggalkanku masuk ke kamarnya.

Aku hanya terdiam mendengar kata-katanya. Karena aku sudah terlalu lelah, jadi aku segera masuk ke kamarku untuk beristirahat.

Keesokan Harinya

Aku segera bersiap untuk melanjutkan misiku. Aku tidak ingin membuat Sasuke-kun menungguku terlalu lama. Aku segera mengambil tasku dan pergi keluar kamar. Setelah aku mengunci pintu, aku segera berjalan cepat menuju rumah sakit.

Aku mengobati pasien seperti biasanya. Keadaan disini mulai stabil, sepertinya medic-nin disini sudah tidak memerlukan bantuan yang banyak dariku. Aku bisa pulang sebentar lagi. Karena itulah aku bersemangat menyembuhkan orang-orang. Aku sudah mulai merindukan desa Konoha. Aku ingin bertemu teman-teman lagi. Meskipun rasanya berat juga meninggalkan teman baruku disini. Tapi, suatu saat kami bisa bertemu lagi kan? Begitu pikirku.

Beberapa hari berlalu, misiku sudah benar-benar selesai. Aku segera kembali ke penginapan untuk membereskan barang-barangku. Setelah semua selesai, aku berencana memberitahu Sasuke-kun. Aku pergi ke kamarnya yang berada di depan kamarku. Aku mengetuk pintu kamarnya, berharap ia ada didalam. Tak lama, Sasuke-kun membuka pintunya.

"Apa?" tanyanya.

"Misiku sudah selesai…" jawabku.

"Kalau begitu aku akan membereskan barang-barangku" ucap Sasuke-kun sambil masuk kembali ke dalam kamarnya.

Aku pun menunggu nya di luar. Saat itu, Shinji-kun datang.

"Kau… sudah mau pulang?" tanyanya. Dan saat itu juga, Sasuke-kun keluar dari kamarnya membawa barang bawaannya.

"I-iya, begitulah. Misiku sudah selesai jadi aku harus kembali" jawabku sambil tersenyum pada Shinji-kun.

"Izinkan aku untuk mengantarmu juga" pintanya tiba-tiba. Aku melihat kearah Sasuke-kun yang sedang menatap Shinji-kun dengan tatapan agak kesal? Aku tidak tahu kenapa.

"Eh? Bagaimana yaa… Sasuke-kun, bolehkah?" aku merasa lebih baik aku meminta izin dulu kepada Sasuke-kun.

"Terserah saja" jawabnya sambil meninggalkanku.

"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu" aku dan Shinji-kun segera menyusul Sasuke-kun.

Di gerbang, aku bertemu dengan Kaori-chan, Ayame-chan, Arata-kun dan teman-teman yang lain.

"Sakura, kau sudah mau pulang?" tanya Kaori-chan sedih.

"Iya, aku harus pulang. Suatu saat kita pasti bisa bertemu lagi kok" kataku sambil tersenyum kearah mereka semua.

"Aku akan merindukanmu…" ucap Ayame-chan padaku sambil menepuk pundakku.

"Aku juga begitu…" jawabku.

"Hei Baka! Mau apa kau ikut Sakura?" tanya Kaori-chan pada Shinji-kun.

"Itu bukan urusanmu" jawabnya datar.

" Sakura kan sudah ditemani Sasuke-san, mau apa kau ikut-ikut segala?" kata Kaori-chan sebal.

"Kenapa? Cemburu?" tanya Shinji-kun sambil menyeringai.

"APA?! Apa kau gila? AKU TIDAK AKAN CEMBURU! Aku tidak peduli mau kau menikah dengan seribu wanita sekalipun! Huh!" teriak Kaori-chan yang semakin kesal.

"Kalau begitu kau diam saja, tidak usah ikut campur urusanku" katanya dingin.

"Apa sudah selesai?" tanya Sasuke-kun.

"Ah, iya. Ayo pergi" jawabku.

"Hn." Sasuke-kun lalu berjalan mendahului kami semua.

"Kalau begitu, sampai jumpa semuanyaaaa!" teriakku pada teman-teman baruku.

"Sampai jumpaaaa!" jawab mereka. Aku dan Shinji-kun kembali menyusul Sasuke-kun.

Diperjalanan, kami hanya diam satu sama lain. Tetapi tiba-tiba ada banyak orang yang mengepung kami. Mereka menyerang kami. Sasuke-kun dan Shinji-kun langsung maju untuk melawan mereka. Aku juga ikut maju karena aku tidak ingin dilindungi terus. Jumlah musuh sangat banyak, dari simbol di ikat kepala mereka, mereka adalah ninja pelarian. Aku berusaha melawan mereka semua, tapi aku lengah. Aku tertangkap oleh salah seorang ninja, tapi Shinji-kun menyelamatkanku.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya

"Ya, terimakasih…" kataku padanya.

"Bukan masalah" katanya tersenyum padaku.

Aku melirik kearah Sasuke-kun yang masih terus bertarung. Dia sama sekali tidak peduli padaku. Bodohnya aku mengharapkan perhatiannya. Aku kembali bertarung karena tidak mau merepotkan mereka berdua. Tetapi hal yang sama terjadi lagi, seperti pertarungan sebelumnya. Aku kehabisan chakraku. Aku tidak bisa bergerak akibat serangan-serangan musuh. Tiba-tiba, Sasuke-kun datang menangkis serangan yang menuju kearahku.

"Kau terlalu memaksakan diri kan?" tanyanya di sela-sela pertarungan.

"Sebenarnya bukan masalah bagiku jika harus menunggu lebih lama lagi" lanjutnya.

"Aku tidak mau merepotkanmu…" jawabku.

"Kalau begini malah lebih merepotkan" kata-katanya seperti menusukku. Aku berpikir bahwa benar juga yang dikatakannya. Sepertinya tindakanku selalu saja salah.

"Kau… berhentilah membuatku khawatir dengan tindakan bodohmu itu" ucap Sasuke-kun.

Aku terkejut. Baru saja ia bilang ia mengkhawatirkanku? Tunggu, aku tidak boleh terlalu percaya diri. Tapi… barusan…

"Apa yang kau lamunkan?" tiba-tiba Sasuke-kun bertanya padaku.

"Ti-tidak ada…" jawabku.

"Kalau kau masih sanggup bergerak, sebaiknya menjauh dari sini. Biar aku yang mengurus mereka" ucap Sasuke-kun sambil berusaha menangkis semua serangan yang tertuju padanya.

"Ta-tapi…" aku tidak mau menjauh, aku mau membantu, aku bosan dilindungi terus.

"Kau ini…" Sasuke-kun tiba-tiba mengangkatku dan meletakkanku di tempat yang agak jauh dari area pertarungan. Aku bisa merasakan wajahku memanas saat ini.

"Diamlah disini" lanjutnya sambil meninggalkanku untuk melawan musuh.

Akhirnya aku memilih untuk memulihkan chakraku. Dengan begitu aku bisa mengobati Sasuke-kun dan Shinji-kun nanti. Selang beberapa lama, musuh berhasil dikalahkan. Sasuke-kun dan Shinji-kun terluka cukup banyak. Aku segera menghampiri mereka untuk mengobati luka-luka itu.

"Sakura, terimakasih ya…" ucap Shinji-kun padaku.

"Iya, sama-sama. Terimakasih juga telah melindungiku tadi" balasku.

"Dan juga… terimakasih Sasuke-kun" lanjutku.

"Hn."

"Kau ini… setidaknya katakan hal lain. Misalnya berterimakasih karena Sakura sudah menyembuhkanmu atau apalah…" kata Shinji-kun sambil melirik kearah Sasuke-kun.

"Kenapa kau suka sekali mengusik orang lain?" balas Sasuke-kun.

"Aaaaah, kau ini… Dan juga kenapa kau itu kasar sekali pada Sakura? padahal dia sudah membantumu, dia juga sudah bersikap ramah padamu. Selain itu dia juga menyu-" Shinji-kun tiba-tiba menghentikan perkataannya.

"Menyukaiku kan? Aku sudah tahu" ucap Sasuke-kun.

"Eh? Kau sudah tahu… La-lalu kenapa kau bersikap sekasar itu padanya?" tanya Shinji-kun

"Bukan urusanmu. Berhentilah ikut campur urusan orang lain" jawab Sasuke-kun kesal.

"Setidaknya bersikaplah sedikit lebih lembut, kau ini-"

"Kau menyukainya?" tiba-tiba Sasuke-kun memotong perkataan Shinji-kun.

"I-itu… Iya! Memang kenapa?" tanya Shinji-kun. Aku yang melihat perdebatan mereka berdua hanya bisa terdiam. Aku bingung dengan situasi ini. Selain itu, kenapa mereka berdua terlihat sudah saling mengenal?

"Kalau begitu cobalah buat dia berhenti menyukaiku. Aku sudah berkali-kali melakukannya tapi tidak berhasil…" kata Sasuke-kun.

"Eh? Maksudnya?" Shinji-kun terlihat bingung.

"Aku sudah bersikap sangat kasar padanya lebih dari yang lain, aku sudah berkali-kali mencoba membunuhnya, tetapi dia tetap saja mengatakan padaku bahwa ia menyukaiku. Kau tau Sakura, kau itu benar-benar menyebalkan…" kata Sasuke-kun padaku dan Shinji-kun.

"Me-mencoba membunuhnya? Sakura apa itu benar?" tanya Shinji-kun padaku.

"Iya… Ta-tapi aku pun juga begitu… aku juga pernah mencoba membunuh Sasuke-kun…" jelasku.

"Sudah, aku bosan membicarakan ini… Kau pulang saja dengan orang bodoh ini. Aku duluan.." ucap Sasuke-kun yang tiba-tiba meninggalkan kami.

"Sasuke-kun, tunggu…" saat aku berusaha mengejarnya, Shinji-kun menahan tanganku.

"Sakura, apa maksudnya itu? Kenapa kalian pernah mencoba untuk saling membunuh" tanya Shinji-kun dengan tatapan serius. Akhirnya aku menceritakan hal-hal yang terjadi pada Sasuke-kun. Aku menjelaskan semuanya sampai menceritakan juga tentang perang dunia shinobi. Shinji-kun akhirnya mengerti.

"Aku… sudah berusaha untuk membencinya, tapi aku tidak bisa. Karena itu, maafkan aku. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Tidak akan bisa. Meskipun Sasuke-kun membenciku… aku… aku tetap mencintai Sasuke-kun…" jelasku dengan sedih.

"Aku mengerti…" ucap Shinji-kun dengan senyumannya.

"Lagipula, yang kukatakan waktu itu, sepertinya kau salah paham…" ia mengatakannya sambil kembali melanjutkan perjalanan. Aku terkejut dengan apa yang barusan dikatakan oleh Shinji-kun.

"Maksudnya" aku benar-benar tidak mengerti.

"Aku bilang kan kalau aku menyukaimu. Aku memang menyukaimu, tapi aku tidak mencintaimu. Maksudku aku sangat berterimakasih atas kebaikkanmu saat itu. Semenjak itu aku mengidolakanmu. Dulu aku pikir perasaanku ini memang perasaan cinta. Tapi aku salah. Ternyata aku masih belum bisa melupakan cinta pertamaku. Hehehe…" Shinji -kun menjelaskan semua padaku dengan sikap yang berbeda dari biasanya. Saat ini dia bersikap lebih lembut.

Sejujurnya aku senang dengan penjelasannya barusan, karena itu artinya aku tidak perlu repot-repot menolakknya kan. Dan aku juga tidak menyakitinya dengan perasaanku terhadap Sasuke-kun.

"Sebenarnya pertama kali aku melihatmu, bukanlah saat perang dunia shinobi. Sebelumnya aku sudah pernah melihatmu, memang sih saat itu kau tidak menyadari kalau aku ada di sana. Saat itu mungkin kau terlalu terpesona dengan Sasuke" ucapnya dengan seringai jahil.

"A-apa maksudmu? A-aku tidak mengerti" kata-katanya berhasil membuatku gugup.

"Dan lagi, maksudmu kau sudah pernah bertemu Sasuke -kun sebelumnya?" lanjutku.

"Ya memang. Kau tahu sikapku yang biasanya kutunjukkan tidak seperti ini kan?" tanyanya.

"Iya… memang sikapmu agak berubah sekarang" jawabku.

"Aku belajar sikap dingin seperti itu dari Sasuke, hehehe…" ucapnya sambil tertawa kecil.

"Belajar dari Sasuke-kun?" aku tidak mengerti.

"Kau tahu, saat kau mencintai seseorang, tapi dia tidak merasakan hal yang sama… itu akan membuatmu ingin membuatnya membalas perasaanmu dengan berbagai cara kan? Aku ingin tahu bagaimana aku harus bersikap agar aku bisa melakukannya… Lalu aku bertemu Sasuke, ia bisa membuat wanita jatuh cinta begitu saja meskipun baru bertemu. Karena itulah aku memintanya mengajarkanku. Tapi tentu saja dia menolak. Kemudian, aku mendengar bahwa dia sedang mencari beberapa informasi tentang Kirigakure. Karena itulah aku memberikannya informasi dan sebagai gantinya dia harus mengajarkanku. Akhirnya dia setuju. Saat itu aku tidak tahu kalau dia akan menggunakan info itu untuk hal yang buruk. Jadi saat perang dimulai, aku berusaha memberikan kontribusi sebanyak mungkin untuk membalas kesalahanku itu" jelasnya panjang lebar.

"Jadi kau bersikap dingin seperti itu karena mengikuti Sasuke-kun?"

"Ya begitulah… hahaha" jawabnya sambil tertawa. Aku hanya bisa sweat drop mendengar penjelasannya.

"Lalu, kenapa kau sampai repot-repot mengantarku segala?" tanyaku penasaran.

"Karena aku ingin melihat reaksi Sasuke, hahaha…" ucapnya. Aku tidak mengerti maksudnya.

"Ah! Gerbang Konoha kan sudah dekat, aku mengantarmu sampai disini saja ya. Kalau begitu aku pergi dulu. Suatu saat nanti kalau kita bisa bertemu lagi, kita akan menjadi teman baik kan?" tanya Shinji-kun padaku.

"Tidak usah suatu saat nanti, sekarang pun kita sudah menjadi teman baik" kataku tersenyum kepada Shinji-kun.

"Kalau begitu, sampai jumpa…" ucapnya sambil membalas senyumanku lalu pergi meninggalkanku.

Setelah ia menghilang dari pandanganku, aku melanjutkan perjalananku menuju Konoha. Sampai disana, aku segera menuju ruangan Hokage untuk melaporkan misiku.

"Hokage-sama, misiku sudah selesai. Dan semuanya berjalan dengan baik" laporku pada Hokage yang sedah duduk dikursi Hokagenya.

"Baguslah. Terimakasih atas bantuanmu Sakura. Kau boleh pergi sekarang. Sebaiknya kau beristirahat" ucap Hokage-sama padaku.

"Baiklah, terimakasih…" ucapku sambil meninggalkan ruang Hokage.

Aku berjalan menyusuri desa Konoha untuk mencari Sasuke-kun. Sampai akhirnya aku tidak bisa menemukannya. Lalu aku kembali ke gerbang desa. Saat melewati sebuah bangku panjang di dekat tempat perpisahan pertamaku dengan Sasuke-kun, aku menemukannya. Ia sedang duduk disana.

"Sasuke-kun…" panggilku. Ia tidak menjawab ataupun menoleh padaku. Aku duduk disampingnya.

"Maaf jika aku membuatmu kesal. Aku tau aku selalu menjadi pengganggumu. Aku juga tau bahwa kau membenciku. Maafkan aku…" kataku dengan penuh penyesalan.

"Aku tidak membencimu" kata Sasuke-kun datar.

"Lagipula, apa urusan mu dengan pacarmu itu sudah selesai?" lanjutnya.

"P-pacar? S-Shinji-kun bukan pacarku…" kataku agak terbata-bata.

"Tapi dia menyukaimu kan? Kenapa kau tidak membalas perasaan seseorang yang sangat baik padamu?" tanya Sasuke-kun.

"Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Dia memang bilang bahwa dia menyukaiku, tapi dia tidak mencintaiku. Bahkan ada orang lain yang dicintainya. Dan lagipula, aku… menyukai Sasuke -kun" jawabku pelan.

"Kenapa? Kenapa kau terus menyukaiku? Padahal aku sudah bersikap sangat kasar padamu…" tanya Sasuke-kun yang kali ini memelankan suaranya juga.

"Karena aku tahu, meskipun Sasuke-kun bersikap kasar padaku, Sasuke-kun bukanlah orang yang jahat. Sasuke-kun sudah beberapa kali menyelamatkanku. Karena itulah aku berpikir seperti itu" jelasku padanya.

" Kau… benar-benar menyebalkan…" ucap Sasuke-kun sambil pergi meninggalkanku.

"Tunggu…" teriakku pada Sasuke-kun. Awalnya aku tidak yakin kalau ia akan berhenti, tapi kenyataan berkata lain.

"Tadi Sasuke-kun bilang bahwa kau tidak membenciku, lalu… lalu… kenapa Sasuke-kun terus meninggalkanku. Sasuke -kun, kau berbohong kan? Kau sebenarnya membenciku kan? Aku telah menjadi pengganggumu sejak lama, karena itulah menurutku wajar jika Sasuke-kun membenciku. Meskipun aku sedih dengan hal itu, tapi itu lebih baik daripada kau terus membohongiku! Kumohon… kumohon jujurlah…" aku segera melanjutkan kata-kataku agar ia tidak pergi. Aku mengeluarkan apa yang ada di pikiranku. Tanpa sadar, aku meneteskan air mata. Aku teringat hal-hal yang sudah kami lalui. Aku mulai mengeluh dalam hati.

"Dulu dia tidak seperti ini… Tapi kenapa… kenapa sekarang ia berubah. Apakah ia benar-benar membenciku… Apa ini karena perasaanku? Haruskah aku menghapusnya? Jika itu memang bisa membuatnya memaafkanku, aku akan-"aku mengentikan keluhanku karena tiba-tiba Sasuke -kun melangkah kearahku.

"Kau ingin aku jujur?" tanyanya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.

"Tentu saja!" ucapku sambil terisak.

"Aku… selalu ingin menjauhi dirimu…" saat ia mengatakan itu, rasanya aku seperti ditusuk. Ternyata benar, selama ini Sasuke-kun memang membenciku.

"Aku selalu ingin membuatmu berhenti mencintaiku…"

"Karena itu aku selalu bersikap kasar padamu. Aku ingin kau berpikir bahwa aku membencimu"

"Ya, tapi… aku hanya ingin KAU BERPIKIR bahwa aku membencimu"

"Karena… sebenarnya aku tidak pernah benar-benar membencimu"

"Aku juga tidak pernah benar-benar melakukan apa yang kusebutkan tadi" ia masih terus melanjutkan penjelasannya.

Jarang sekali Sasuke-kun mau berbicara sebanyak ini. Tapi aku masih tidak mengerti apa maksud dari perkataannya.

"Karena, setiap aku ingin menjauhkanmu dariku, di sisi lain aku ingin berada dekat denganmu…" ia berkata dengan suara yang pelan dan lembut. Aku terkejut dengan apa yang dikatakannya. Tetapi otakku belum sepenuhnya mencerna perkataannya itu.

"Dan setiap aku berusaha untuk membuatmu untuk berhenti mencintaiku dan membenciku, di sisi lain…"

"…aku…" ia tiba-tiba memalingkan wajahnya kearah lain

"…" ia terdiam sesaat. Ia menarik napasnya dalam-dalam, kemudian ia kembali membuka mulutnya.

.

.

"…selalu mencintaimu…" lanjutnya dengan suara yang hampir berbisik. Tapi karena jarak kami yang dekat, aku masih bisa mendengarnya.

"Eh? A-apa?" aku terpaku dengan kata-katanya. Wajahku terasa sangat panas saat ini. Aku benar-benar tidak percaya Sasuke-kun mengatakan hal itu padaku. Apa ini mimpi?

"Aku… selalu berusaha menjauhimu karena aku tidak ingin kau terseret ke dalam kegelapan bersamaku. Karena itulah aku bersikap kasar padamu"

"Kupikir aku takkan pernah kembali kesini. Dan sekarang kalaupun aku menerimamu, aku benar-benar tidak pantas. Maksudku, setelah bersikap seperti itu padamu, apakah aku masih bisa disebut pantas untukmu? Aku ingin kau mendapatkan laki-laki yang tulus mencintaimu dan tidak akan menyakitimu. Yang juga akan selalu melindungimu. Meskipun itu juga menyakitkan bagiku…" ia menjelaskan semuanya padaku. Lalu ia berbalik arah dan mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkanku. Aku segera menarik tangannya untuk mencegahnya menjauh.

"Sasuke-kun, aku ingat, dulu saat kita masih genin, kau telah berkali-kali menyelamatkanku dan melindungiku. Lagipula, meskipun Sasuke-kun telah berkali-kali menyakiti perasaanku, tapi Sasuke-kun juga yang menenangkan perasaanku. Aku… sangat senang Sasuke-kun kembali kesini. Bahkan, Sasuke -kun mengorbankan perasaanmu sendiri seperti itu untukku… aku… sangat mencintaimu Sasuke -kun" ucapku seraya memeluknya. Aku pun kembali mengeluarkan air mata. Tapi kali ini, air mata kebahagiaan.

"Sakura…" aku bisa merasakan bahwa ia membalas pelukanku. Aku sangat senang kali ini.

"Aku… aku ini tidak pantas menerima perasaan tulus darimu Sakura. Orang lain juga pasti mengerti itu" lanjutnya dengan nada sedih.

"Aku tidak peduli apa kata orang lain. Aku tau Sasuke-kun adalah orang yang baik. Dan aku akan meyakinkan orang lain akan hal itu. Berhentilah membenci dirimu sendiri Sasuke-kun" ucapku untuk menghiburnya.

Ia terdiam untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya ia angkat bicara.

"Terima kasih Sakura… Meskipun kau menyebalkan, tapi… aku sangat mencintaimu" ucap Sasuke-kun lembut. Wajahku terasa semakin memanas mendengar kata-kata itu darinya. Aku senang sekali, sangat senang. Akhirnya, perjuanganku selama ini tidak sia-sia kan?

Author's POV

Sementara itu di tempat lainnya, seorang gadis berjalan perlahan sambil memperhatikan keadaan desanya. Sudah banyak yang berubah, semua karena perang dunia shinobi. Tapi tidak semuanya berubah, perasaannya tetap sama seperti dulu.

"Apakah tidak bisa untuk kembali seperti dulu, bersama semua teman-teman, ya semua…" batin gadis yang bernama Kaori.

Saat ia sedang melamun, seorang pemuda yang seumuran dengannya menghampiri.

"Sedang apa kau di sini?" tanya pemuda itu.

"Eh? Itu bukan urusanmu! Shinji-baka!" jawab Kaori kesal.

"Kau itu kenapa sih, sepertinya kau benar-benar membenciku…" ucap pemuda yang ternyata bernama Shinji.

"Sepertinya? Itu kenyataan, bukan sepertinya lagi!" omel gadis itu.

"Kupikir kau akan pindah ke Konoha" lanjutnya.

"Untuk apa? Rumahku kan di sini" ucap Shinji yang sekarang berada di sebelahnya.

" Untuk mengejar Sakura…" jawabnya.

"Untuk apa aku mengejarnya?" pemuda itu bertanya kembali.

"Uh, kau itu bodoh ya? Kau menyukainya kan? Kenapa malah kembali kesini hah? Pangeran?" gadis itu mengatakannya dengan nada kesal.

"Ya aku memang menyukainya, tapi aku tidak mencintainya… Aku hanya mengidolakannya, itu saja. Dan lagipula, kalau aku pindah ke Konoha, aku tidak akan bisa menjadi pangeran lagi… Soalnya aku pasti kalah dengan Sasuke…" ucap Shinji dengan nada bercanda.

"Huh! Urus saja gelar pangeranmu itu! Shinji-baka!" ucap Kaori yang semakin kesal.

"Kenapa sih kau jadi begini? Kita kan sudah berteman sejak kecil. Kenapa kau semakin lama malah semakin jutek padaku sih. Kau berubah…" keluh Shinji.

"…" Kaori tidak merespon perkataan temannya itu. Ia hanya terdiam dengan kepala menunduk.

"Hei, kau dengar aku tidak? Aku tidak tahu kenapa, kau benar-benar membenciku ya? Kau juga banyak merubah sikapmu padaku, kau semakin galak dan jutek seperti ini…" lanjut Shinji.

"YANG BERUBAH ITU KAN KAU!" teriak gadis itu sangat keras sehingga membuat Shinji kaget.

"D-dulu, kau tidak seperti ini. Sekarang sikapmu sangat dingin dan itu menyebalkan, kau terasa semakin jauh… aku tidak merasa kita ini teman lagi. Terlebih lagi semenjak kau memiliki fans yang banyak, kau semakin sombong. Aaah! Menyebalkan! Urus saja fans-fans mu yang berharga lebih dari apapun itu!" lanjutnya sambil mulai meneteskan air mata.

"P-padahal… dulu aku menyukaimu… TAPI ITU DULU! A-aku menyukai dirimu yang dulu… dirimu yang banyak tersenyum dan baik pada banyak orang. Bukan dirimu yang bersikap dingin dan sombong seperti ini. Sekarang… sekarang aku membencimu! Shinji -baka! Baka! Baka!" ia kembali melanjutkan perkataannya yang membuat tangisnya semakin pecah.

Ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan temannya itu. Tetapi, baru beberapa langkah ia pergi, ia merasa ada seseorang yang memeluknya dari belakang.

"Maafkan aku…" ucap orang yang baru saja akan ditinggalkannya.

"A-apa yang kau- L-lepaskan aku sekarang!" ia berusaha melepas pelukkan itu tapi tenaganya tidak cukup kuat.

"Tidak mau…" itulah respon yang diberikan pemuda yang memeluknya.

"B-baka! Apasih mau mu? Mau menambah fans mu?! Aku tidak sudi!" omel Kaori.

"Bukan, aku tidak mau menjadikan mu fansku" jawab Shinji.

"Aku ingin menjadikan kau ratu di hatiku…" ucapnya sambil tertawa pelan.

"A-APA YANG KAU BICARAKAN BAKA?!" omel Kaori dengan wajah yang memerah. Ia berusaha melepaskan pelukan itu lagi, tapi Shinji malah mempereratnya. Kaori terus mengomel sehingga membuat fans Shinji pun melihat mereka. Fans nya hanya bisa tercengang melihat adegan itu.

"B-Baka, f-fansmu sedang m-melihat sekarang, cepat lepaskan aku… K-kau mau gelarmu tercinta h-hilang begitu saja?" ucap gadis itu terbata-bata.

"Aku sudah bosan menjadi pangeran. Biarkan saja gelar itu hilang. Asal aku bisa menjadi raja di hatimu, itu sudah cukup" ucap Shinji sambil menyeringai.

"BERHENTI MENGATAKAN HAL ANEH BAKA!" wajahnya semakin memanas akibat gombalan-gombalan yang dikatakan temannya itu.

"Kenapa kau marah? Tadi kau bilang bahwa kau menyukaiku. Bukankah seharusnya kau senang mendapat pelukan dariku?" tanya Shinji dengan nada meledek.

"A-aku bilang aku m-menyukai dirimu yang dulu… Dirimu yang sekarang menyebalkan!" jawab Kaori.

"Hmm, sepertinya aku salah jalan ya, hahaha…" ucap Shinji sambil tertawa.

"APA YANG KAU TERTAWAKAN BAKA! CEPAT LEPASKAN AKU!" omel Kaori lagi.

Akhirnya pemuda itu melepaskan pelukannya. Tetapi ia tetap menahan tangan gadis di hadapannya agar ia tidak pergi.

"Kau bilang aku berubah ya? Itu memang benar sih" ucap Shinji.

"Kau tahu, aku belajar itu dari Sasuke. Karena aku melihat dia bisa memikat banyak wanita, aku jadi tertarik untuk memintanya mengajarkanku bagaimana aku harus bersikap" lanjutnya.

"Kau melakukan itu karena kau ingin mendapat banyak fans kan?" ucap Kaori tanpa menoleh kearah lawan bicaranya. Ia masih belum sanggup untuk melakukannya.

"Bukan. Dulu aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. Rencananya sih, aku mau membuatmu terpikat denganku. Soalnya kau pernah bilang kalau kau suka laki-laki yang sikapnya cool, jadi aku berusaha menjadi seperti itu. Dan dulu kau kan juga galak padaku, jadi kupikir kau membenciku. Tapi setelah aku merubah sikapku kau malah tambah galak. Sepertinya aku salah terus…" jelasnya.

"Tapi sekarang aku lebih memilih untuk menjadi diriku sendiri. Terlebih lagi ternyata kau menyukaiku juga, kalau begitu kau jadi pacarku sekarang…" lanjut pemuda itu sambil menarik tangan Kaori dan mengajaknya pergi dari tempat itu.

"A-apa?! Pemaksaan macam apa itu?! A-apa maksudmu, aku tidak mengerti?" Kaori kebingungan menghadapi temannya yang satu ini, atau mungkin sekarang dia adalah pacarnya.

"Sudah, tidak usah membantah lagi. Kau itu tipe orang yang susah mengakui hal yang sebenarnya, jadi lebih baik kupaksa saja" ucap Shinji sambil terus berjalan.

Kaori pun terdiam. Sebenarnya meskipun ia memang kesal dengan sikap Shinji yang dingin, ia memang masih menyukai nya. Karena itu, bisa dibilang sekarang ini dia cukup senang.

~Owari~

Aaah, fic nya gaje banget ;A; aku emang gak berbakat bikin adegan romance ;A; maaf ya kalo endingnya aneh dan gak seru, terus juga maaf karena malah ada adegan lain selain SasuSaku. Makasih yang udah mau baca sampe chap. terakhir ini. Dan makasih juga buat yang udah mau review, fav & follow fic ini

Balasan review untuk yang non-login:

Untuk ChintyaMalfoy - emang emang, dia gak peka peka, cabutin aja rambutnya XD *dichidori* terimakasih ya buat dukungannya ^^ ada apa ya sama fbku? XD *ditebas* aku mau ngasih tau, tapi jangan disini, nanti fb ku terkenal XD *dikubur*

Untuk phanie-chan - iya cie Sasu-chan cemburu cie *teriak pake toa mesjid* ya mungkin karena sesama orang pinter jadi omongan juga nular XD

Untuk Miss. M - ikutan toel-toel Sasuke *diamaterasu* udah ngakuin kok XD dan ini juga udah update petir *kilat udah mainstream*

oke itu aja, seperti biasa yang login balasannya di pm ya...

Sekiaaaan, terimakasih semuaaaaa~