Wait For You
Chapter 4 : Attantion
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Balasan Review :
Hanazono Yuri : Iya ini updatetannya. Makasih ya^^
Mega. Naxxtridaya : Iya boleh kok, silahkan. Makasih,^^
Ryuhara Shanci : Iya. Chap ini baru ada, makasih^^
Isa Lover Orange : Iya nggak papa. Santai aja, yang pentingkan udah ngasih. Ini lanjutannya, makasih ya^^
Marukocan : Tsundere itu apa sih? Dari dulu saya nggak paham. Nanti ya, yang pasti di sebuah Chapter, hehehe… makasih ya^^
Legolas : Makasih ya. Saya akan usahakan agar alurnya nggak kecepatan lagi. Atas reviewnya saya ucapkan terima kasih^^
Uchiha Sakura : Iya, makasih ya^^
Dalam hati Sakura mendesah kecewa karna mendengar jawaban acuh Sasuke, sempat hatinya sakit, namun ia hiraukan semuanya. Sedangkan di sisi lain, Sasuke malah berdecak kesal karna hari ini dia tak melihat paras rupawan Sakura lebih lama, selain itu rasa khawatir dan cemas terus melingkupi dirinya.
KRIIING… KRIIING… KRIIING…
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Siswa-siswi Konohagakuen sibuk melangkahkan kaki mereka untuk pulang. Namun tidak dengan Sasuke yang masih setia duduk di samping ranjang UKS yang ditiduri Sakura. Onyx melembut ketika melihat emerald redup Sakura tertutupi oleh kelopak matanya.
"Kau menyukainya, Uchiha?" tanya Shizune sambil merapikan segala sesuatu obat yang baru ia beli dari apotek.
"Hn," balas Sasuke asal-asalan.
"Kau tau. Itu terlihat dari pancaran mata tajammu yang mulai melembut ketika dia terlelap. Mungkin Haruno tidak menyadarinya," lanjut Shizune. Sasuke membungkam mulutnya, sempat ia tak terpikir tentang hal itu.
Sedangkan di depan pintu UKS, seorang gadis bersurai pirang tengah menemplekan telinga kanannya tepat di tengah pintu.
"Jadi, Sasuke-kun suka pada gadis arogan itu?" gumamnya pelan. Setelah itu ia lanjutkan lagi acara mengupingnya. Gadis berambut panjang dengan poni rata berwarna unggu yang berencana pulang pun mengurungkan niatnya, iris lavendernya menatap bingung pada gadis berambut pirang yang sedang menempelkan telinganya ke pintu UKS. Karna penasaran, ia menghampiri gadis itu.
"I-Ino-san?" ujarnya dengan gugup sembari menepuk pundaknya. Karna kaget, sontak saja gadis itu menjauhkan kepalanya dari pintu dan mendongkakkan kepalanya menghadap ke gadis bersurai indigo itu.
"Hinata? Kukira siapa. Huh, kau mengagetkanku saja," Ino berkata pelan sambil mengusap dadanya.
"Yamanaka-san sedang apa tadi?" tanya Hinata dengan polos.
"Mm… hanya, hanya,… hanya ingin membersihkan debu! Iya, itu saja kok," jawab Ino dengan senyuman kikuknya karna ia berbohong.
"Oh… tapii kenapa dengan telinga?" tanya Hinata lagi.
"Tak apa. Hanya mencoba cara baru, hehehe…" jawab Ino dengan berbohong untuk kedua kalinya.
Cklek.
Sasuke keluar dari ruangan UKS. Ia menatap Ino dan Hinata dengan sebelah alis yang dinaikkan.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Sasuke dengan nada datar dan dinginnya.
"Eh, kalau aku, tadi sedang melihat Ino-san yang menempelkan telinganya untuk membersihkan debu di pintu UKS," jawab Hinata yang kelewat jujur disertai dengan pipinya yang menjadi semerah tomat karna ditanya Sasuke.
"Kau menguping," ujar Sasuke pada Ino dengan tatapan membunuhnya, Ino langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam karna takut akan deathglare yang dilayangkan Sasuke. Melihat itu, Sasuke melangkahkan kakinya untuk kembali ke kelas.
Di UKS…
"Ng…" Sakura membuka kedua matanya. Lalu ia layangkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan UKS.
"Sudah bangun Haruno?" tanya Shizune pada Sakura yang kini telah merubah posisinya menjadi duduk.
"Yah, begitulah Sensei," jawab Sakura seadanya. Lalu Sakura bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu.
"Kau butuh istirahat yang cukup Haruno!" seru Shizune saat Sakura telah melangkah keluar.
Sakura tak menghiraukan pesan Shizune dengan balasan darinya, tetapi hanya megingatnya. "Aku harus memberi pelajaran pad lima orang tenar itu," batin Sakura sebagaii tekadnya hari ini. Tetapi saat ia kembali ke kelas, kelasnya sudah kosong melompong. Sakura menghela nafasnya. Memang salahnya juga sih, dia yang bilang bahwa dia tak akan memberi pelajaran tambahan untuk mereka.
"Sakura," ketika namanya dipanggil, ia langsung memutar badannya ke belakang, ternyata Shikamaru.
"Ya sensei," balas Sakura.
"Tolong susul mereka di Amaterasu Street nomor 7," sambung Shikamaru.
"Baiklah," jawab Sakura lalu mengambil tasnya. Setelah itu pun Shikamaru berlalu, Sakura pun ke lokernya untuk mengambil uang simpanannya. Kembali ia terlihat secarik kertas di air mineral yang baru.
Get Very Well Soon…
Your Screet Admirer,
Raven
Itulah yang Sakura baca dari secarik kertas yang tertempel di air mineral yang telah tersedia. Senyum mengembang di wajah Sakura, segera ia masukkan air mineral itu ke tasnya dan mengambil uang seperlunya.
Sakura segera berjalan keluar dari sekolahnya. Ia berhentikan taksi yang melesat tepat di depannya.
"Amaterasu street, nomor 7," ujar Sakura pada supir taksi. Supir taksi itu menganggukkan kepalanya dan segera melesatkan taksinya menuju tujuan.
Karna melaju dengan kebut-kebutan, taksi itu berhenti tepat di sebuah gedung yang bertuliskan Konoha Entertaiment. Setelah membayar semuanya, Sakura keluar dari taksi dan masuk ke gedung itu.
"Di mana ruangan Team 7?" tanya Sakura pada sang resepsionis.
"Wah, nona ini cantik sekali. Berminat menjadi model atau artis?" tanya sang resepsionis dengan mata berbinar-binar.
"Tolong jangan mengalihkan pembicaraan," balas Sakura dingin.
"Baiklah, baiklah. Mereka ada di lantai 3," jawab resepsinonis itu.
"Makasih," ujar Sakura lalu berlalu pergi. Sakura segera mencari keberadaan lift dan menuju lantai tiga gedung ini.
TING!
Sakura melangkahkan kakinya untuk mencari dimana ruangan Team 7. Ia berjalan mengikuti koridor menurut feelingnya. Dan ketemulah ruangan besar bertuliskan 'Team 7 Room'. Emeraldnya menatap kelima cowok itu dengan tatapan "wow". Karna bagian atas pintu dibuat dari kaca yang bening ia dapat melihat mereka yang sudah banjir keringanya karna menari dan menyanyi. Setelah melihat mereka tak bergerak lagi, ia ketuk pintunya sebanyak tiga kali.
"Buka saja pintunya!" seru Naruto dengan suara cemprengnya. Sakura pun membuka pintunya dengan pelan lalu masuk.
"Eh? Sa-Sakura, maaf ya, aku tak…"
"Tak apa," potong Sakura cepat.
"Sakura, kau sedang apa di sini?" tanya Sai dengan senyumannya.
"Aku ak…"
"Lebih baik kau pulang," potong Sasuke dingin. Sakura mendelik marah.
"Tidak. Aku telah sampai di sini dengan payah, dan aku tak akan pulang dengan sia-sia," balas Sakura dengan sinis.
"Kau itu sakit! Sadar sedikit nona yang pintar," ujar Sasuke kesal.
"Pakailah logikamu tuan Uchiha. Aku bisa berdiri di sini karna aku sudah sehat. Jangan sok tau!" seru Sakura kesal.
"Cih! Itu hanya dari mulutmu, tapi badanmu berkata lain! Coba kau lihat wajahmu yang pucat itu! Seperti mayat hidup saja," balas Sasuke.
"Uchiha, dengarkan aku! Apa yang telah dipercayakan padaku tak akan aku sia-sia kan, walaupun keadaann tak mendukungku! Itu perinsipku!" ujar Sakura kesal.
"Meskipun itu membuatmu mati? Iya? Prinsip bodoh!" seru Sasuke.
"Tak meruntuhkan kepercayaan orang yang telah percaya itu baik. Tapi kau harus melihat keadaanmu itu, jangan sampai kau jatuh sakit. Kau harus menghapus kalimat walaupun keadaan tak mendukung dari prinsip idealmu itu, jika kau ingin hidupmu berlangsung lama," lanjut Sasuke.
"Semua terserah padamu. Karna keputusan apapun untuk dirimu, kaulah yang menentukan," Sasuke mengakhiri kalimatnya.
Semua tercengang melihat Sasuke yang tak seperti biasanya. Sepanjang mereka bersama-sama, Sasuke tak pernah berbicara sepanjang itu dan seperhatian itu. Sementara Sakura dalam hati bersorak senang karna Sasuke perhatian dengannya, namun secepatnya ia hapus perasaannya yang sedang melambung, ia takut kalau nanti ia akan jatuh ke tanah dan merasakan sakitnya.
"Dobe, tolong berikan jus itu padanya," ujar Sasuke yang menunjuk jus tomat yang ada di gelas plastik.
"Jus kesukaanmu ini, Teme?!" tanya Naruto dengan membulatkan kedua blue sapphirenya. Jelas saja mata Naruto membulat, mereka saja mengemis-ngemis minta jus tomat Sasuke tak pernah mendapatkannya, sekarang dengan mantapnya ia memberikan jus tomat ini pada Sakura?
"Aku tak mau mengulang, Dobe," balas Sasuke dingin. Naruto pun memberikan jus tomat itu pada Sakura.
"Tidak, terima kasih," tolak Sakura sopan. "Jus itu kan jus yang kubuat untuknya, belum disentuh lagi," batin Sakura.
"Terima saja, tutor. Kami saja pernah memaksa Sasuke untuk memberikan jus tomat kesukaannya, ia bersih keras tak mau memberinya. Jadi Sakura adalah first people-nya, tapi jika kau menerimanya," sahut Sai di ujung sana.
"Hhh, baiklah. Terima kasih," Sakura pun menerima jus itu. Sasuke pun kembali bergabung dengan teman-temannya, lalu Sakura menyeruput jus itu dengan bahagia yang meliputi hatinya. Sementara Sasuke yang melihat senyuman aneh Naruto membatin "Bodoh!" dan gerutuan lainnya.
To Be Continue
Maaf ya pendek, kekurangan ide nih.
Tapi mungkin dengan review yang kalian berikan, saya bisa mendapat pencerahan.
Terima kasih telah membaca^^
