.

.

"Aku hanya ingin wanita yang ini."

Jari telunjuk Cho Kyuhyun mengarah tepat ke salah satu foto seorang wanita dengan senyum manis dan rambut hitam sebahu. Usianya tidak lagi muda. Kerutan dan garis halus di sekitar matanya membentuk kesan matang, tetapi wajahnya masih bercahaya karena inner beauty yang kuat. Kyuhyun tidak bisa menahan senyumnya.

Lee Sungmin mengambil kecantikan yang terlampau banyak dari ibunya.

"Tapi Tuan Cho... Lee Min Sae tidak pernah melayani tamu lagi," Manajer klub itu mencoba menjelaskan sepelan mungkin, "seluruh tugasnya... digantikan oleh putranya. Sebenarnya ini adalah rahasia. Kami sudah membuat kontrak bersama Lee Sungmin, selama yang bersangkutan tetap bekerja di klub, ibunya hanya bertugas di balik panggung sebagai karyawan biasa."

Kyuhyun mengangkat satu alisnya, memadamkan rokoknya di asbak dan duduk dengan tubuh yang dicondongkan ke depan meja. Lalu tangannya menggeser sebuah koper berisi ribuan lembar uang.

"Dengan kata lain kalian justru menawariku orang lain. Aku ingin wanita bernama Lee Min Sae itu yang melayani tamu-tamuku, apa kalian mencoba untuk menolak permintaan pelanggan?"

Manajer Park menggeleng susah payah bersama kecemasan di mukanya. "Kami tidak bermaksud seperti itu."

"Lalu tunggu apa lagi?" Kyuhyun menyandarkan tubuhnya kembali dan tersenyum puas. "Beritahu wanita itu dan saat aku menghubungi kalian, pastikan dia akan siap di kantorku."

Manajer Park mengangguk sekilas dan menyuruh seseorang untuk melakukan apa yang Kyuhyun minta.

"Saya pastikan Lee Min Sae akan siap, Tuan Cho."

Cho Kyuhyun tidak bisa mendapatkan seluruh informasi pribadi mengenai Lee Sungmin. Ia mengutuk manajer Park dan loyalitas manajemen klub Regent yang tetap mempertahankan komitmen mereka untuk menjaga rahasia para pekerjanya.

Tapi, apa pedulinya?

Mengetahui fakta jika selama ini Lee Sungmin menjajakan tubuhnya untuk melindungi Lee Min Sae adalah hal terbaik yang pernah Kyuhyun ketahui.

Lee Min Sae sudah berada di dalam genggamannya.

Ia bisa menggunakan wanita itu sebagai titik kelemahan Lee Sungmin, harta karun yang sesungguhnya.

Saat memasuki mobil sedan hitamnya kembali, Kyuhyun melonggarkan kancing kemejanya dan mendesah lepas. Tinggal sedikit lagi... bersabarlah... bersabarlah Cho Kyuhyun...

'Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.'

"Cari tahu kapan Lee Sungmin kembali," ujarnya.

Supirnya mengangguk dari balik kursi pengemudi.

.

.

.

Lee Sungmin tidak peduli jika dirinya berlari seperti orang gila. Seluruh wajahnya dipenuhi peluh dan jantungnya berdebar-debar keras ketika ia tiba di perusahaan Star Property. Kepanikan memaksanya untuk masuk ke dalam, mengabaikan panggilan satpam penjaga di muka dan berjalan lurus ke arah bagian penerimaan tamu di tengah-tengah bangunan megah tersebut.

"Saya ingin bertemu dengan Cho Kyuhyun."

Wanita yang baru saja selesai menerima telepon itu menatapnya sebentar. Sungmin tidak yakin jika ia telah menerima tatapan enggan sekaligus meremehkan.

"Apa Anda sudah membuat janji?"

Sungmin menjawab jujur. "Tidak," katanya, memohon, "tapi saya punya urusan yang sangat penting dengannya."

"Tuan Cho sedang memiliki urusan pribadi dengan seorang tamunya. Beliau tidak bisa diganggu saat ini."

Urusan pribadi? Kedua pipi Sungmin memucat seperti salju.

"Jika mau Anda bisa menunggunya satu jam ke depan."

Satu jam? Cho Kyuhyun bisa melakukan banyak hal yang tidak dapat Sungmin bayangkan dengan waktu sebanyak itu.

"Saya tidak bisa menunggu selama itu!"

Sungmin berseru, beberapa orang yang lewat memandangnya dengan aneh. Wanita itu mengerutkan keningnya dan mendengus. Baru saja ia akan memanggil satpam untuk mengusir Sungmin, sebuah panggilan lain masuk. Ia mengangkat telepon itu dan entah siapa yang sedang berbicara dengannya, matanya tidak lepas dari Sungmin.

Beberapa menit kemudian, wanita itu meletakkan teleponnya dan menatap Sungmin.

"Anda bernama Lee Sungmin?"

Lee Sungmin mengangguk.

"Sungguh mengejutkan. Tuan Cho baru saja menyampaikan jika beliau ingin menemui Anda di ruang kerjanya. Ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan berdua."

Ia baru saja berharap jika seorang Cho Kyuhyun mungkin bisa menjadi negosiator yang baik. Sungmin akan melakukan apapun untuk menyelamatkan ibunya.

Mungkin semua ini kebetulan semata. Cho Kyuhyun hanya memilih orang yang kurang tepat. Semua ini bukan salah satu permainan kejamnya.

Ya, seharusnya Sungmin bisa memikirkan trik dan kata-kata yang membuat Kyuhyun mengurungkan niatnya.

"Oh..."

Tetapi sesuatu yang ia dengar berikutnya berhasil meruntuhkan semua pikiran itu.

"Tuan Cho juga berpesan supaya Anda mempersiapkan diri baik-baik untuk melihat sesuatu yang tidak akan bisa Anda bayangkan," kata wanita itu, masih dengan kening berkerut heran.

Wanita itu tidak mengerti, tetapi Sungmin jelas mengerti.

Cho Kyuhyun brengsek.

Pria itu memang merencanakan sesuatu.

Sungmin bersumpah akan menghajar pria itu dan mematahkan tangannya jika dia berani menyentuh ibunya. Dengan setengah berlari, Sungmin memencet tombol lift tergesa-gesa dan mencari letak ruangan Cho Kyuhyun. Saat berhasil tiba di ruangan yang dimaksud, tanpa basa-basi Lee Sungmin membuka pintu kayu besar itu dengan satu bantingan, tidak mempedulikan teriakan dari sekretaris di ruang depan yang terburu-buru mengejarnya.

Matanya menyala penuh amarah dan bibir tipisnya siap untuk mengeluarkan cacian.

"..."

Tidak ada sepatah kata yang keluar.

Lee Sungmin terpana, matanya bergerak liar dengan bingung. Ibunya memang berada di dalam ruangan itu, tetapi wanita itu duduk tenang masih dengan pakaian lengkap dan dua cangkir teh panas di atas meja, di hadapan Cho Kyuhyun.

Tidak ada sesuatu yang terjadi seperti pikiran buruk Sungmin yang liar.

"Sungmin?" Min Sae menatap putranya, terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Ibu-"

"Tuan... Anda tidak bisa masuk seenaknya."

Sekretaris itu menegur Sungmin, Cho Kyuhyun mengangkat tangan kanannya dengan cepat. "Tidak apa-apa, Yoona. Dia tamuku," ia berkata, lalu menatap ke arah Sungmin dan tersenyum. "Selamat sore, Sungmin ssi. Senang bertemu denganmu lagi, kau tidak keberatan aku berbicara dengan ibumu, bukan?"

Sungmin menjadi salah tingkah. Tubuhnya bergerak, mematuhi perintah halus Kyuhyun yang menyuruhnya duduk.

Pria itu kembali memfokuskan perhatiannya ke Min Sae, seolah melupakan kehadiran Sungmin untuk beberapa saat ke depan. Mereka membicarakan topik yang sama sekali tidak Sungmin pahami. Topik umum, keseharian ibunya, cuaca, sampai yang terakhir adalah sesuatu yang membuatnya tak habis pikir... lagi.

"Beberapa sahabatku berkata Anda bisa membuat pumpkin pie yang sangat lezat."

Lee Min Sae hanya tersenyum dengan sedikit sipu di wajahnya. "Teman Anda terlalu berlebihan, Tuan Cho. Seharusnya cita rasa standar dari klub-klub malam tidak bisa dibandingkan dengan cita rasa makanan yang biasa Anda makan di restoran bintang lima."

"Tidak, tidak, aku bersungguh-sungguh, Ny. Lee." Kyuhyun tertawa begitu santai, seperti orang yang berbeda. Pandangan matanya ramah. "Jika Anda menerima tawaranku, aku akan sangat berterima kasih."

"Tawaran apa?" Sungmin yang sudah tidak tahan menyela. Ia menatap Kyuhyun dengan mata yang dipicingkan, bingung sekaligus curiga.

"Menjadi penyuplai makanan untuk expo properti yang akan digelar minggu depan." Kyuhyun menjawab dengan senyum kecil. "Aku ingin mencoba seperti apa kelezatan pumpkin pie buatan ibumu," katanya, "dan jika boleh, lidahku pun ingin mencicipi 'rasa' yang lain."

Kyuhyun menekankan kalimat terakhirnya dengan tatapan intens ke arah Sungmin, lalu menyeringai diam-diam.

Sungmin berdesir dan matanya membulat. Ia mengumpat, mengutuk tatapan dan kalimat Kyuhyun yang memiliki arti dibaliknya. Wajahnya dipalingkan ke samping dengan dengusan kecil.

"Dengan senang hati aku akan melakukannya, Tuan Cho." Lee Min Sae berkata, "Sudah lama aku tidak bekerja penuh dan mendapatkan bayaran setinggi ini," lalu memandang Sungmin yang duduk di sebelahnya, "aku ingin meringankan sedikit beban dari putraku yang tersayang. Sebutkan saja kriteria yang Anda inginkan, Tuan Cho, saya akan menyiapkannya sebaik mungkin."

"Sekretarisku akan memberikan daftarnya," balas Kyuhyun. Ia memberikan kartu namanya saat Min Sae berdiri dari kursi, "oh, Ny. Lee, bisa Anda membiarkan putra Anda tinggal untuk sebentar? Supir kami akan mengantar Anda pulang ke rumah."

Sungmin menatap tidak suka. "Tuan Cho, ibuku bisa pulang sendiri, Anda tidak perlu bersusah payah untuk mencampuri urusan kami."

"Lee Sungmin!" Ibunya mendesis, melihat putranya dengan wajah merengut. Lalu ia menoleh ke arah Cho Kyuhyun. "Sungmin benar, Tuan Cho. Anda tidak perlu serepot ini. Saya bisa menggunakan bus saja, rumah kami tidak terlalu jauh."

Memang keras kepala, Kyuhyun tersenyum geli dengan satu sudut bibirnya yang ditarik ke atas. Ia mengangkat wajah dan senyum menawan itu sudah terpatri lagi. "Tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai bentuk terima kasih atas kerja samamu, Ny. Lee."

Tidak membiarkan Lee Min Sae merespon lagi, Kyuhyun memerintahkan sekretarisnya untuk mengantar wanita itu ke bawah. Ibunya bergerak kikuk, lalu terpaksa mengikuti sekretaris Kyuhyun yang mengamit lengannya dan membimbing keluar dari ruangan itu.

Dengan matanya, Sungmin memohon agar ibunya tetap tinggal di sana, namun Lee Min Sae tidak diberikan kesempatan bahkan untuk menoleh sekali pun. Ketika hanya tinggal mereka berdua di ruang kerjanya, tangan Kyuhyun sudah menahan pergelangan tangan Sungmin, sementara tangan yang lain segera mengunci pintu itu.

Tubuhnya berbalik dan diri Kyuhyun yang sesungguhnya telah muncul.

Pria itu menyeringai seperti iblis. Iblis yang tampan dan kejam tanpa belas kasihan.

Sungmin melepaskan cekalan itu dan mundur beberapa langkah. "Apa maumu?" tanyanya dingin. "Expo itu hanya bagian kecil dari rencana busukmu, kan?"

"Kau sudah tahu apa yang kuinginkan." Kyuhyun tersenyum mengejek dengan mata menantang, "aku tidak berbohong saat kukatakan aku ingin mencicipi 'rasa' yang lain."

Sungmin tak bergeming, tetapi pundaknya menunjukkan sedikit getaran. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat dingin, bertentangan dengan emosi yang mendidih di dalam tubuhnya.

"Pilih Sungmin," Kyuhyun menyudutkan pria itu, "ibumu atau kau."

"Kau tidak bisa melakukan semua ini," geram Sungmin. Tangannya terkepal kuat.

"Aku bisa." Kyuhyun maju selangkah. Tubuhnya menjulang tinggi di hadapan tubuh Sungmin yang mungil. Ia mengulurkan tangan, membelai punggung Sungmin. Tubuh itu menegang seketika. "Anggaplah ini sebuah permainan, seperti yang biasa kau lakukan. Anggap kau sedang bekerja dan melayani tamu-tamu itu. Aku ingin bersenang-senang Lee Sungmin, " bisiknya dengan suara redaman akan gairah, "serahkan dirimu dan aku tidak akan menyentuh ibumu."

Ia menatap dengan penuh cinta tetapi yang tampak di mata Sungmin hanya sesuatu yang menjijikkan.

"Aku janji... aku tidak akan menyentuh ibumu, asalkan kau tetap bersamaku," Kyuhyun menundukkan kepalanya, menyusupkan hidungnya di lekukan tulang selangka Sungmin yang berbau manis dan harum seperti madu.

Tangan Kyuhyun diletakkan di kedua pundak Sungmin, memaksa pria itu agar berlutut.

"Apa kau benar-benar harus melakukan semua ini?!"

"Aku harus." Kyuhyun menjawab dengan datar, menyentuh dagu Sungmin dan mengangkatnya setengah paksa. "Karena kau tidak akan pernah menerimaku. Sekarang kau tidak punya pilihan lain Sungmin," ia berkata lagi dengan suara yang semakin parau, seolah tahu apa yang dipikirkan Sungmin.

"Kau benar-benar bajingan!" Sungmin menggeram, matanya berair dan ia mengepalkan tangannya sedemikian kencang hingga buku jarinya memutih, "kau menggunakan ibuku!"

Bibir itu hanya tersenyum saat jari-jari panjangnya menelusuri wajah Sungmin yang berlutut di bawahnya. "Aku hanya menggunakan cara lain untuk mendapatkanmu," kata Kyuhyun, menyeringai.

"Aku membencimu, Cho!"

Kyuhyun tertawa, mengangkat tubuh Sungmin dan merebahkan tubuh itu ke atas mejanya. Kertas-kertas dan benda-benda lain itu jatuh tercecer ke lantai.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Menurutmu? Pria yang mendominasi itu balik bertanya. "Kau seharusnya berterima kasih, Lee Sungmin, karena bukan ibumu yang berada di posisi ini. Ingat kata-kataku... ibumu... atau kau? Semuanya terserah padamu."

Kyuhyun menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Di bawahnya, ada Sungmin yang kini terbaring lemas dengan penyerahan diri dan kekalahan. Mata Kyuhyun menggelap dan diselimuti oleh kabut nafsu.

Ia akan mengklaim apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Ini candu dan pemuas ragawinya. Cho Kyuhyun tidak akan membiarkan mangsanya lepas begitu saja, tidak ketika Lee Sungmin sudab tersaji indah di hadapannya.

"Bersikaplah seperti anak yang baik, Lee Sungmin."

.

.

.

"Angkat kakimu."

Sungmin mendelik. Tangannya mendorong dada bidang Kyuhyun dengan kasar.

"Kita sedang berada di dalam permainan, Cho Sungmin. Jangan mengingkari perkataanmu sendiri."

Suaranya serak bercampur gairah yang meletup-letup. Kyuhyun menggesekkan giginya di sepanjang garis leher Sungmin sementara tangannya mencekal kedua tangan pria itu dengan erat. Terlalu erat hingga rasanya menyakitkan. Bagian itu akan memerah. Dan sejujurnya Kyuhyun berharap seperti itu. Ia akan meninggalkan tanda sebanyak mungkin di tubuh Sungmin untuk mengklaim apa yang menjadi miliknya.

Sungmin memberontak di bawah kungkungan tubuh Kyuhyun. Punggungnya semakin tertekan ke permukaan meja kaca yang dingin. Ia menggigil. "Kau salah menyebut namaku, Tuan Cho." Ia tersentak di antara napasnya yang tersengal. Jari-jari panjang Kyuhyun menyiksa dadanya. Sakit dengan sedikit kenikmatan di belakangnya. Ia membenci perasaan aneh itu. "Seharusnya..." Sungmin berkata susah payah, "kau... memanggilku... Kim Sungmin... argggh..."

Gigi Kyuhyun bergemertuk karena emosi. Ia tidak melupakan fakta jika tubuh yang terkulai di hadapannya itu telah telanjang sepenuhnya, kontras dengan dirinya yang memakai pakaian lengkap kantor. Hal itu rasanya semakin membangkitkan libido Kyuhyun, seperti hewan liar yang sedang birahi.

"Namamu akan berubah sebentar lagi, sayang..." Cho Kyuhyun menyeringai.

Rasa dari Sungmin lebih nikmat dari jenis ekstasi apapun. Kyuhyun tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mencicipi seluruh penjuru tubuh Sungmin yang putih dan lembut seperti kain satin.

"Lepaskan aku..."

"Tidak akan." Kyuhyun meludah dan mengumpat. Tangannya mengangkat kedua kaki Sungmin tinggi-tinggi, serta membukanya. Matanya tertuju ke bawah, lalu ia mengulum bibirnya sendiri.

"A-Apa yang akan kau lakukan?"

Pipi Sungmin memerah. Kyuhyun yang melihatnya menyeringai buas.

"Mereka tidak pernah melakukan ini sebelumnya?" bisik Kyuhyun. "Apa yang mereka lakukan kepadamu di permainan sebelumnya? Blowjob? Rimming? Atau mereka menyetubuhimu dengan brutal?"

Saat Sungmin tidak menjawab dan memalingkan wajahnya ke samping, pria itu terkekeh. "Kau perlu tahu, Lee Sungmin," suaranya rendah dan berbahaya, "kau tidak menjawab, itu artinya sama dengan membiarkan aku melakukan caraku sendiri."

Sungmin memekik tertahan. Wajah Kyuhyun berada di bagian bawah tubuhnya, menggoda pusat dirinya dengan lidahnya yang bergerak ahli. Sungmin mengumpat, tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Tidak satu orang pun termasuk Jungmo. Ia berusaha menarik kakinya kembali dan menutup kedua pahanya. Tetapi Kyuhyun menahannya. Tenaga pria itu pun menjadi berpuluh kali lebih kuat dari sebelumnya.

"H-Hentikan!"

Kyuhyun tidak berhenti. Apa yang dapat dijangkau mulutnya seperti zat adiktif yang manis, ia menelusupkan satu jarinya ke dalam, bermain-main dengan gerakan menggoda. Napas Sungmin kian tercekat ketika pria itu membenamkan wajah di antara kedua belahan tubuhnya.

Pria itu pasti sudah gila! Dalam usaha pemberontakannya, Sungmin mulai frustasi. Tenaganya terkuras dan ia tidak sanggup meredam kegilaan Cho Kyuhyun lagi.

Tangannya yang lemah hanya sanggup mendorong bahu Kyuhyun sesekali. Kepalanya bergeleng saat sebuah nama tanpa sengaja terucap keluar begitu saja dari bibirnya yang terbuka. Ia ingin menangis.

"Jung...mo..."

Rahang Kyuhyun mengeras, puncak dari emosinya tersulut. Tubuhnya langsung menegang.

Kenapa harus nama itu? Kenapa nama Kim Jungmo di saat Sungmin telah berada bersamanya?

Telapak tangannya naik, hampir menampar salah satu sisi wajah Sungmin, tetapi Kyuhyun mengurungkan niatnya. Wajah Sungmin... sudah membuatnya kalah sejak awal.

"Kenapa kau menyebut nama pria brengsek itu?!"

Tetapi geraman Kyuhyun hanya menambah isak dari Sungmin. Ia justru menggumamkan nama itu berkali-kali, seperti melafalkan mantra. "Jungmo... Jung...mo..."

"Kenapa kau tidak mau menerimaku?!" Kyuhyun menggeram, matanya kian gelap dan ia semakin menghimpit tubuh Sungmin. "Kau sebut nama terkutuk itu lagi, aku akan menyiksamu beribu kali lipat dari ini, sayangku." Tangan Kyuhyun mencekal dagu Sungmin dan mengangkatnya paksa, melumat bibir itu dengan kasar dan gigitan kecil. "Akan kubuat kau menerimaku dan melupakan pria brengsek itu!"

Tangannya bergerak cepat di sepanjang milik Sungmin, membuat pria itu berteriak tertahan dan menangis karena frustasi. Dia membuat Sungmin mencapai puncaknya beberapa kali tanpa melucuti pakaiannya sendiri. Menikmati wajah penuh kenikmatan itu dan mendengarkan suara penuh hasrat yang memberikan kepuasan tersendiri baginya.

Cho Kyuhyun tidak berhenti dan tidak bisa mengendalikan dirinya.

Sampai orgasmenya yang kelima, Sungmin hampir kehilangan kesadaran karena lemas, pria itu baru berhenti. Napasnya terengah-engah dan dadanya naik turun dengan cepat.

Kyuhyun menjauh. Obsidian hitamnya mengamati Sungmin dengan bercak merah keunguan di sekujur tubuh putihnya dan kedua kaki yang terbuka serta terkulai di pinggir meja. Cairan putih ada di mana-mana, membasahi kemeja Kyuhyun dan sebagian jas hitamnya.

Pandangan Kyuhyun berangsur-angsur normal. Gairahnya memudar dan ia sepenuhnya kembali dengan sisi kemanusiaannya. Ia melepaskan jas untuk menutupi tubuh Sungmin dan merunduk, mencium bibir lembut itu dengan mata terpejam. Gerakannya tidak kasar seperti tadi. Malah, Kyuhyun memperlakukan Sungmin kelewat lembut, seakan dia adalah sosok rapuh yang rentan dan harus diperlakukan sehalus mungkin.

Persis seperti yang Kyuhyun rindukan. Bibir Sungmin selalu manis. Tetapi tidak ada respon sekecil apapun yang ia dapatkan.

Sungmin tidak membalas dan tidak memberikan reaksi sama sekali. Bibirnya diam seperti beku.

Matanya terbuka, basah, berkaca-kaca dan memandang kosong ke depan.

"Sungmin...?"

"..." Pria itu tetap tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya, Kyuhyun merasakan sesak di dadanya. Rasanya lebih menyiksa dibandingkan perasaan sakit apapun. Terlalu sulit untuk digambarkan atau dilukiskan.

.

.

Tbc

.