Tittle : Don't Hate Me
Cast : ~Kim JongIn/Kai
~Lu Han
~Oh Sehun
~Park Chanyeol
~/Find Other Cast/?
Pair : KaiLu/HunHan/ChanHan
Author : SeLuKai
Chapter : 4 of ?
Rate : M
Genre : Angst, Hurt
.
..
...
_Prev_Don't _Hate_Me_Chapter#3_
.
..
...
Tangan Kai mulai menelusup masuk kedalam celana Luhan, meremas sesuatu yang mulai menegang dibawah sana.
"Ahh~ tidak kumohonhh~"
Air mata sudah membasahi pipi Luhan,
dia berusaha keras menahan diri tapi perlakuan Kai yang benar benar membuatnya gila,
Luhan berperang melawan hasrat dan penolakan dari batinnya membuat pusing dikepalanya bertambah lagi.
"Sudah tegang ya?" Kai embisikannya ditelinga Luhan dan menjilati daun telinga Luhan,
membuat Luhan bergerak tidak nyaman dibawah sana tanpa sengaja membangunkan adiknya sendiri.
"Shit"
Kai mengumpat saat dia merasa dirinya juga terangsang dan celananya mulai menyempit dibawah sana.
"Sial, kau harus bertanggung jawab bitch"
Kai menatap Luhan yang hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain tidak mau melihat Kai.
Tangan Kai terulur membuka celana Luhan, dia sudah tidak sabar menuntaskan hasratnya
Drtt! Drrtt!
Suara ponselnya yang tergeletak dimeja nakas dekat tempat tidurnya sedikit mngalihkan perhatian Kai namun sedetik kemudian ia abaikan dan kembali fokus pada selangkangan Luhan.
Drtt Drtt Drtt!
Namun benda persegi panjang itu tidak berhenti berdering membuatnya menggeram marah dan menunda pekerjaannya lalu mengangkat ponselnya dengan kasar.
"Ada apa?!" Bentaknya dengan nada kasar pada orang diseberang sana.
"..."
"Kenapa mendadak? Sial!" Kai mengumpat dengan penuh amarah
"..."
Luhan hanya memperhatikan Kai dalam diam sambil kembali menutupi tubuhnya dengan selimut
"Baik aku segera kesana" Kai membanting ponselnya ke kasur dan berjalan ke lemarinya untuk mengenakan pakaian.
Ia merapikan sedikit rambutnya dengan jemari tangannya dan berjalan ke kasurnya.
Luhan masih terisak disana memperhatikan Kai dalam diam.
"Urusan kita belum selesai" Ucapnya lalu menarik dagu Luhan dan melumat bibirnya sebentar,
lalu ia mengambil ponselnya dan berjalan keluar kamar meninggalkan Luhan yang tangisnya mulai pecah.
.
"Shit"
Kai tidak hentinya mengumpat dan menatap selangkangannya yang sudah mulai menegang.
"Kau harus membayarnya nanti Luhan atas rasa tersiksa ini" Batinnya lalu melajukan mobilnya menuju kantornya dengan kecepatan penuh.
...
..
.
*****_Don't_Hate_Me_Chapter#4*****
.
..
...
"Ya sekian untuk rapat hari ini, aku minta maaf, lain kali akan kita bahas lebih matang lagi dari hari ini" Kai memijat pelipisnya yang terasa berdenyut dan mendudukkan tubuhnya dengan kasar dikursinya.
Semua anggota rapat sudah bubar dan meninggalkan ruangan satu persatu dengan tampang kecewa atau mungkin jengkel, tapi tidak ada yang berani bersuara dan hanya memaksakan senyum saat Kai tiba-tiba membatalkan rapat.
Kai tidak peduli akan hal itu, harinya benar-benar kacau.
"Jangan terlalu dipikirkan"
Tepukan kecil dibahunya membuatnya mengangkat kepalanya dan melihat sang pelaku.
"Oh Sehun" Kai sedikit kaget, dia kira semua sudah meninggalkan ruangan rapat.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu tidak fokus kali ini, tapi aku harap lain kali kau tidak mengecawakan lagi, kau tahu kan waktuku juga tidak kalah berharga dari kerja sama ini?" Ucapnya dengan senyum penuh arti
Kai menepis tangan pemuda berkulit pucat itu dari pundaknya
"Terimakasih sudah memperhatikanku, tenang saja kerja sama ini kujamin akan berjalan lancar, tidak usah khawatir"
Setelahnya Kai meninggalkan rekan bisnis sekaligus musuh bebuyutannya yang sudah dari dulu itu.
.
.
.
Kai melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing atas kemejanya saat memasuki rumahnya, rasanya mengurusi ketinggalan diperusahaan yang sudah menumpuk karena tidak masuk beberapa hari karena Luhan benar-benar membuat harinya semakin buruk.
Mengingat Luhan, entah kenapa membuat Kai sedikit semangat dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya, rupanya Kai sudah tidak sabar bertemu namja yang adalah kakak tirinya itu sendiri.
Dia sudah membayangkan wajah ketakutan namja itu dan sorot matanya yang memohon saat Kai memasuki kamarnya nanti.
Dengan seringaian yang tercetak jelas dibibirnya, Kai membuka pintu kamarnya dan langsung menguncinya setelah ia masuk.
Sedetik kemudian seringaian di bibir Kai pudar, tempat tidurnya terlihat rapi dan tidak ada sosok yang ia cari disana atau mungkin tanpa sadar ia merindukan sosok itu,
"Ck~ kemana dia" Kai membuang dasinya sembarangan
Dikelilinginya kamarnya yang cukup luas itu untuk mencari Luhan, sampai ke balkon kamarnya namun nihil, Luhan tidak ada.
Seingatnya, dia mengunci namja itu dikamar tadi tidak mungkin Luhan bisa keluar.
"Tidak mungkin dia bertindak bodoh dengan terjun dari balkon ini" Entah kenapa Kai langsung menolehkan kepalanya ke bawah dan segera mengelus dadanya karena Luhan tidak tergeletak dibawah sana seperti yang baru saja ia bayangkan.
"Hhh kenapa aku takut dia kenapa napa, seharusnya aku senang kalaupun dia terjun dari sini jadi aku tidak perlu repot-repot membunuhnya dengan tanganku sendiri"
Kai memijat keningnya lagi, bibirnya memang berkata seperti itu tapi batinnya berkata lain dan kakinya segera melangkah menuju kamarnya dan tempat terakhir yang belum ia cari adalah kamar mandi.
Dan smirk menakutkan kembali tercetak dibibir tebalnya saat mendengar samar-samar suara gemercik air dari sana dan pintu kamar mandi itu sedikit terbuka. Tanpa pikir panjang Kai langsung membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Ternyata kau dis-." Perkataan Kai langsung terpotong saat melihat Luhan tergeletak dilantai kamar mandi
"Luhan, hei bangun!" Kai menepuk pipi pucat Luhan namun Luhan tetap tidak bergeming
Kai langsung menggendong Luhan bridal ke kasurnya
"Kai?" Panggil Luhan lemah dan melingkarkan lengannya dileher Kai
Kai menidurkan Luhan dikasurnya dan menyelimuti kakaknya itu
"Sebentar kupanggilkan dokter" Kai hendak beranjak dari dekat Luhan dan megambil ponselnya dari sakunya
"Tidak usah" Luhan menggeleng pelan dan menahan tangan Kai
"Ck- sebenarnya apa yang Kau lakukan disana hah!" Kai menggenggam tangan Luhan yang tadi menahan tangannya.
"Aku-" Luhan takut karena nada suara Kai mulai meninggi.
"Kau berniat bunuh diri dengan mengurung dirimu disana seharaian?"
Kai merasa sangat emosi saat memikirkan kalau Luhan ingin bunuh diri karena tubuhnya yang sudah dingin dan kaku.
Kai bisa menebak dia sudah sangat lama disana dengan keadaan yang sangat dingin.
Luhan hanya menggeleng pelan, tubuhnya mulai bergetar.
"Kau sudah bosan hidup hm? Katakan saja!"
Kai menaiki kasur dan mulai menindih Luhan, tangannya terulur mencekik leher Luhan membuat namja mungil itu membuka matanya dan menatap Kai kaget
"Uhuk, K-Kai-" Luhan memegang tangan Kai yang mencekiknya, lama kelamaan makin kuat membuat Luhan susah bernapas
"Aku akan mengabulkan keinginanmu Luhan"
Kai tidak bisa mengendalikan emosinya dan terus mencekik leher Luhan sampai memerah dan uratnya mulai terlihat
"K-kai aku..ugh- tidak bisa hhh~"
Luhan berkata susah payah, matanya mulai memerah kehabisan nafas,
Tangannya yang mencengkram tangan Kai mulai melemah.
Luhan mulai menutup matanya dan pasrah kalau memang Kai ingin membunuhnya sekarang.
Sedangkan Kai yang melihat pergerakan Luhan mulai melemah langsung melepaskan tangannya dari leher Luhan yang sudah memerah sepenuhnya.
"Uhuk- Hhh hhah~" Luhan langsung mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Kai hanya memperhatikan Luhan diam-diam, matanya terfokus pada bibir pucat Luhan yang terbuka untuk meraup oksigen mengisi paru-parunya yang kosong.
Sebelum akal sehatnya mulai hilang lagi karena ingi membungkam mulut Luhan yang masih mencari oksigen itu dengan bibirnya yang tebal dan memabukkan, Kai beranjak dari atas Luhan dan segera turun dari kasur.
"Kai"
Lagi,
Luhan menahan tangannya untuk pergi
"Shit! Lepaskan aku budak!" Umpat Kai kasar dan menghempaskan tangan Luhan yang memegang tangannya
Luhan menggigit bibir bawahnyanya kuat-kuat.
"A-aku Lapar" Luhan menundukkan kepalanya dalam dan terus menggigit bibirnya, takut-takut kalau dia sedang menggali kuburannya sendiri sekarang.
Kai nampak berpikir sejena,k dia sedang mencerna sesuatu didalam otaknya yang sudah sangat lelah hari ini
"Dari pagi kau mengunciku disini, aku tidak bisa keluar, aku belum makan seharian, tadi siang aku muntah lagi setelah meminum obat dimeja tanpa makan apapun sebelumnya, dan setelahnya aku tidak ingat apa-apa, Aku- hiks"
Luhan terisak dan bahunya bergetar, dia hanya ingin mengatakan yang sebenarnya kalau dia tidak berniat bunuh diri tapi Kai lah yang selalu berniat membunuhnya dengan menyiksanya terus-menerus.
Kai memegang dadanya yang entah kenapa berdenyut sakit,
Benar, kenapa dia malah menyiksa Luhan lagi setelah dia pulang sedangkan dia mengurung namja itu seharian tanpa memberinya makan sedikitpun padahal namja itu masih dalam kondisi yang tidak baik.
Kai mengabaikan perasaan aneh yang menghampirinya, entah itu perasaan bersalah yang teramat dalam karena ia sadar sudah menyiksa Luhan berkali kali lipat hari ini atau karena dadanya sakit saat mendengar tangisan namja dihadapannya ini.
Lihat saja bahunya bergetar hebat menahan isakannya dan terus menundukkan kepalanya mencengkram ujung bajunya sendiri,
Kai sadar betul kalau namja ini sangat ketakutan karena berani menangis dihadapannya.
Ingin sekali Kai menarik namja yang terlihat sangat rapuh itu kedalam pelukannya, namun bukan Kai namanya kalu dia menyerah pada Egonya yang sangat besar.
"Ayo ikut"
Kai menarik kasar tangan Luhan dan menyeretnya keluar kamar
"K-Kai maafkan aku hiks"
Luhan berusaha melawan dan melepaskan tangannya dari cengkraman Kai, namun apa daya, namja berkulit Tan itu terus menyeretnya menuruni tangga dan mencengkram pergelangan tangannya sampai memerah.
"Duduk"
Kai melepaskan tangan Luhan tepat didepan meja makan diruang tengah rumah itu
Luhan yang masih kebingungan menatap Kai hendak menanyakan sesuatu
Kai menarik satu kursi dan mendudukkan Luhan dengan paksa disana.
Kemudian dia duduk berseberangan dengan Luhan tanpa mengatakan sepatah katapun.
Luhan terus menunduk tanpa berani melihat Kai,
dia sedang berfikir kiranya Kai akan menyiksanya dengan cara apa lagi,
dia sudah sangat lelah.
Tanpa ia sadari meja dihadapannya sudah penuh dengan berbagai macam makanan lezat, walaupun ketakutannya sangat besar tapi perutnya tidak dapat berbohong saat aroma lezat dari makanan itu menelusup ke hidungnya.
"Makan" Kai mulai kesal karena Luhan terus menundukkan kepalanya
Perlahan Luhan mengangkat kepalanya dan menatap makanan dihadapannya, dia menelan ludahnya kasar, perutnya sudah tidak sabar untuk mencerna semua makanan lezat itu,
tapi sedetik kemudian dia berpikir lagi,
jangan-jangan Kai menaruh racun disana.
Tangannya yang tadinya mulai terulur untuk mencicipi makanan itu kembali ia tarik dan menyimpannya diatas kedua pahanya.
Kai yang seolah mengerti maksud Luhan Langsung berdiri dari kursinya.
Dia menghampiri salah satu pelayan yang berbaris berjejer disebelah Luhan, membuat Luhan sadar kalau ternyata bukan hanya dia dan Kai yang ada disana.
"Kau meracuni makanan ini hah!" Kai tanpa aba-aba menampar pelayan itu dengan keras sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah
"Ti-tidak tuan ampun"
pelayan itu ketakutan dan tubuhnya bergetar melihat Kai hendak menghajarnya lagi
"Tapi dia tidak mau memakannya, kau meracuninya bukan?" Kai menendang pelayan itu lagi sampai tersungkur di lantai
Luhan yang masih kaget dengan kejadian itu langsung bangun dari kursinya dan mendekati Kai yang sepertinya akan menghajar pelayan tidak bersalah itu lagi.
"Tidak Kai, jangan" Luhan menahan tangan Kai
Tapi langsung ditepis dengan kasar oleh Kai
"Aku akan membunuhnya karena kau tidak mau mekan makanan itu Luhan" Kai mendekati pelayan itu lagi
"Hiks kumohon Kai- jangan, ini salahku" Entah apa yang dipikirkan Luhan dia memeluk Kai dengan erat dari belakang, dan berhasil menahan Kai untuk mengahbisi pelayan tadi
Dia bukannya tidak kuat melawan pelukan Luhan, tapi jantungnya bereaksi lain saat tubuh kurus namja dibelakangnya menempel tanpa jarak pada tubuhnya, Kai menggelengkan kepalanya sejenak dan memasang smirk di dibibirnya.
Kai membalikkan badannya, sedangkan Luhan mulai ketakutan karena jarak mereka yang sangat dekat, betapa bodohnya dia berani sekali melakukan hal seperti tadi, dia menyentuh tangan Kai saja mungkin namja itu akan jijik, apalagi dengan hal yang baru saja ia lakukan.
Luhan kembali menundukkan wajahnya dan tubuhnya bergetar lagi, hanya bisa mematung dihadapan Kai tanpa berniat untuk pergi sekedar menghindari apa yang akan Kai lakukan padanya selanjutnya.
"Bagus, sudah ku katakan bukan, jangan pernah membantah apa yang kusuruh Luhan" Kai menarik pinnggang Luhan untuk menempel pada tubuhnya.
Dia sedikit melenguh saat tanpa sengaja adiknya dan adik Luhan bersentuhan dibawah sana
"Jadilah anak baik kalau tidak ingin aku membunuh orang yang tidak bersalah karena ulahmu" Kai menjambak rambut Luhan membuat namja itu mendongak menatapnya
"Sekarang makanlah" Kai berkata tepat didepan bibir Luhan membuat perasaan aneh kembali menjalarinya sedangkan Luhan dengan mata yang masih berair langsung menganggukkan kepalanya.
Kai melepaskan tangannya dari rambut Luhan karena semakin lama berada di posisi seperti sekarang membuatnya susah berfikir jernih
Kai kembali duduk dikursinya dan Luhanpun melakukan hal yang sama, dia tidak ingin membuat Kai menghajar pelayan yang tidak bersalah itu lagi karena dirinya.
Luhan tidak menatap Kai sedikitpun, Luhan terus fokus pada makanan dihadapannya
memakannya dalam diam tanpa tau apa rasanya karena fikirannya yang kacau dan detak jantungnya yang tidak karuan karea tanpa melihatpun dia sadar kalau namja berkulit tan diseberang sana sedang menatapnya seolah olah akan memakannya jika dia melakukan kesalahan sekecil apapun.
"Uhuk-uhuk"
Karena makan sambil melamun Luhan tersedak makanan dan langsung meneguk habis minum dihadapannya sampai airnya keluar sebagian dari bibirnya dan mengalir turun ke dagu, leher hingga membasahi leher kaos yang sedang ia kenakan.
Kai yang sedari tadi memang menatap Luhan tanpa berkedip merasa semakin tidak nyaman saja dengan adiknya yang dibawah sana apalagi setelah insiden gesekan tadi.
"Shit!" umpatnya tanpa sadar membuat Luhan menghentikan aktivitasnya
Mungkinkah Kai marah karena ia tersedak,
Apa Kai akan membunuh pelayan yang lainnya karena ia tersedak makanan yang mereka bawakan.
Dengan memberanikan diri, Luhan menatap Kai takut-takut.
Kai yang seolah mengerti tatapan Luhan memasang smirknya, dia baru saja mendapatkan sebuah ide yang sangat cemerlang, bahkan lebih cemerlang dari ide apapun yang pernah ia terapkan diperusahaannya hingga maju pesat seperti sekarang.
Kai mulai bangkit dari kursinya dan menuju ke tempat Luhan
"Tidak Kai, aku akan menghabiskanya- ini enak sungguh"
Luhan dengan gemetaran memasukkan makanan itu satu persatu kemulutnya hingga terasa penuh,
Luhan tidak mau ada yang tersakiti lagi karena dirinya.
Kai semakin merperlebar smirk diwajahnya dan mendekati Luhan secara perlahan
Kai mengangkat dagu Luhan yang terus menunduk memenuhi makanan kemulut mungilnya.
Mau tidak mau Luhan mendongakkan kepalanya menghadap Kai dengan mulut yang masih penuh dengan makanan, bahkan sebagian sausnya belepotan disekitar mulut Luhan sampai dagunya.
Tanpa aba-aba Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan.
"Kubantu kau menghabiskannya!
Dengan itu Kai menempelkan bibirnya pada bibir Luhan dan mengambil sedikit demi sedikit makanan yang tidak muat di bibir Luhan,
Luhan sendiri hanya mematung karena tidak menduga Kai akan melakukan hal seperti ini.
Tanpa sadar semua makanan yang tadi penuh dimulut Luhan kini sudah habis dan berpindah kemulut Kai.
Kai belum melepasakan bibir Luhan dan mulai melumat bibir mungil itu dengan penuh tuntutan.
"Mmh~"
Tanpa sadar Luhan melenguh akibat ulah Kai,
Kai semakin bersemangat dan menjilati semua sisa makanan disekitar bibir Luhan, melumatnya lagi dan lagi walaupun tidak ada balasan dari Luhan.
Merasa Luhan mencengkram kemeja didadanya, Kai perlahan melepaskan bibir mambukkan Luhan.
Membuat mereka berdua terengah, terlebih Luhan yang mengambil oksigen sebanyak banyaknya.
Pelayan yang masih setia berdri disana merasa pipi mereka memanas menyaksikan adegan tadi, tidak terkecuali Luhan sendiri yang baru menyadari kalau tadi mereka dilihat oleh semua pelayan yang ada disana.
"Aku tidak akan menyakiti siapapun asal kau tidak melawanku kali ini" Bisik Kai ditelinga Luhan sambil mengulum sebentar daun telinga Luhan.
Luhan yang mendengar nada berat di suara Kai hanya bisa merinding dan menelan ludahnya dengan kasar.
Dia tau betul apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Nghh Janganh-" Luhan menarik pelan rambut Kai yang kini mulai menjilati lehernya dan mulai menghisapnya sesekali.
Para pelayan yang masih setia disana tidak bergeming karena mereka memang tidak berani melakukan apapun mungkin sekedar berdehem agar kedua insan yang tidak tau tempat itu mencari tempat yang lebih aman agar tidak membuat orang lain bersusah payah menahan hasrat mereka juga.
"K-kaih kumohonh" Luhan berusaha menjauhkan lehernya dari jangkaun Kai membuat namja berkulit tan itu merasa kesal karena kesenangannya terganggu untuk mengerjai leher Luhan
"Ssh sakit" Luhan meringis sakit saat Kai menjambak rambut belakangnya dengan kasar
"Kubilang jangan melawan Luhan, Kenapa kau tidak bisa menurut!" Kai menggigit kasar bibir Luhan yang sedikit terbuka sampai mengeluarkan darah.
Melumat bibir Luhan yang berdarah dan menikmati rasa manis yang bercampur darah dari bibir mungil itu, tangannya tidak tinggal diam dan mulai meraba tonjolan kecil di dada Luhan
"Mphh-" Luhan tidak bisa mengatakan apapun karena Kai menciuminya dengan kasar tanpa perduli rasa perih dibibirnya yang sudah bengkak
Luhan menahan tangan Kai yang mulai mencubiti kedua tititk sensitif didadanya.
"Kau benar-benar tidak mendengarkan kata kataku Luhan!" Kai yang memang sudah tidak bisa menahan emosinya atau tidak bisa menahan hal lainnya yang terasa menyiksa adiknya dibawah sana mendorong kasar tubuh Luan hingga punggungnya menabrak meja makan
"Akhh sakit-"
Luhan meringis saat punggungnya terasa panas karena meabrak meja dengan kasar tapi sepertinya namja dihadapannya kini tidak perduli
"Kau yang memintanya Luhan, Kau yang membuatku berbuat kasar"
Kai merobek kaos yang Luhan pakai dan menatap tubuh mulus Luhan terutama kedua tonjolan kecil yang kemerahan didada Luhan,
tiba-tiba Kai merasa tenggorokannya kering dan ingin minum, minum susu Luhan lebih tepatnya.
"Tidak Kai, banyak orang, jangan hiks"
Luhan menyilangkan kedua tangannya didada menutupi kedua nipelnya yang membuat Kai tidak berkedip sedikitpun.
Tapi Kai tidak akan pernah menghentikan kesenangannya hanya karena tangisan Luhan
Itu adalah kesenangannya bukan.
Kai menepis kasar tangan Luhan dan langsung mengulum nipel Luhan
"Nghh Kaihh tidakh kumohon~"
Kai mulai menjilatinya dan mengigitinya sesekali hingga nipel itu mulai mengeras dan semakin kemerahan,
nipel yang satunya Kai cubiti tanpa ampun dengan tangannya.
"Akhh Mmh~"
Luhan tidak bisa menahannya, sentuhan Kai benar benar membuatnya mabuk,
Luhan terus terusan menggigit bibir bawahnya yang sudah sangat bengkak untuk menahan desahan laknat yang terus lolos dari mulutnya
Pelayan disana hanya bisa menunduk tidak berani melakukan apapun
Tangan Kai yang lainnya mulai meraba perut Luhan terus turun hingga kini sudah berada di depan junior mungil Luhan
"Ahhh-"
Luhan tidak bisa menahan desahannya ssat tangan nakal Kai meremas juniornya dengan sengaja
Saat tangan Kai mulai membuka kancing celana Luhan,
dengan sekuat tenaga Luhan melawan dan medorong dada Kai hingga kulumannya pada nipel Luhan terlepas
Kai menatap penuh amarah pada Luhan karena berani melawannya
"Hiks ini salah Kai, aku ini kakakmu"
Luhan terisak dengan tubuh bergetar,
Kai mendekat ke Luhan lagi dengan tatapan membunuh
"Sampai kapanpun aku tidak akan sudi mempunyai kakak sepertimu!" Kai menampar pipi Luhan hingga memerah
"Kau ini hanya budak, sudah seharusnya menuruti semua perkataanku, dasar tidak tau diri"
Kai menjambak rambut Luhan tanpa ampun, menulikan telinganya dari ringisan dan isakan namja itu,
Kai sudah berada dipuncak kekesalannya sekarang, dari pagi dia selalu menahan hasratnya dan adiknya sungguh tersiksa karena berkali kali keinginannya harus ditunda.
"Cih- aku muak melihat wajah menjijikkanmu ini" Kai melepaskan tangannya dari rambut Luhan dan mendorong tubuh mungil namja itu hingga tersungkur dilantai
Kemudian Kai langsung beranjak dari sana menaiki tangga menuju kamarnya
"Sial! sepertinya aku harus bersolo sebelum tidur untuk menidurkan adikku" Kai membanting pintu kamarnya dengan kasar
Luhan masih menatap Kai hingga menghilang dibalik pintu kamarnya.
"Hiks, Kai aku ini kakakmu"
Luhan hanya bisa menangis dan terus terisak meratapi ketidakberdayaannya,
Luhan merasakan perih dibibirnya ketika air matanya mengalir disana,
merasakan dingin karena hari sudah larut malam dan bajunya sudah dirobek setengah oleh Kai dibagian dadanya.
"Apa yang harus kulakukan tuhan"
Luhan memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya disana sambil terus menangis, membuat para pelayan disana menatapnya iba tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
T
B
C
.
.
.
.
HOLA(?) terutama buat temen sebangsa seperjuangan seKaiLu shipper #ciumin(?)
ada yang masih nungguin ff abal ini? Ngak ada? Ok bye(?)
Sebelumnya saya minta maaf karena sangat terlambat melanjutkan ff ini
Maklumlah orang sibuk xD
Thanks buat yang udah nyempetin riview ffnya, sebenarnya saya sudah malas lanjutin ff ini tapi kemaren iseng buka ternyata ada yang nungguin yaudah disempetin ngelanjutinnya mumpung semangat(?)
Riview lagi ok? atau nggak usah biar saya delete saja ff ini
makasih juga buat semua masukannya sangat membantu
Sekian dulu semoga ketemu lagi di next chapt yang entah kapan #plak
See ya mumumu buat readersdul yang nungguin ff ini #cipokin atu atu
