A/N: Halo lagi, semua! :) Saya, Red-chan, kembali lagi untuk mempersembahkan Chapter 4!
Terima kasih untuk support-nya dan maaf saya selalu telat ^^;
Mungkin akan ada sedikit scene KouseiTsubaki disini *wink wink*
Chapter 4
"Bukan begitu cara kau mengartikan lagu ini."
Watari berdiri disana menatap mata biru Kaori dengan mata coklatnya yang tajam.
Kaori terpaku sebentar, menelan ludahnya,
"A-apa yang..."
Kemudian, seperti tersadar dari tidur, dia memelototi Watari dengan Death Glare-nya yang terbaik,
"Apaan sih!? Kamu gak usah sok ngerti soal musik deh!"
"Menurutku," Watari tidak mempedulikan bentakannya Kaori dan terus memandanginya dengan serius, sebelum akhirnya ia melepas tatapan tajamnya dan menggantinya dengan pandangan lembut dan senyum hangat. "Lagu ini mengibaratkan betapa kuatnya kamu."
Kaori berkedip dan hanya dapat menatap Watari keheranan. Dia ingin membantah ucapan Watari namun ia juga penasaran apa maksudnya.
Aku kuat?
"Maksudmu aku seperti orang yang hobi fitness? .-. " Kaori mengernyitkan dahi dan melipat lengannya, memandangi Watari dengan tatapan maksud loe?
Tapi Watari malah tertawa kecil.
"Bukan kuat begitu," katanya. "Tapi hatimu yang kuat."
"Haaaaaahh? =_= " Kaori makin bingung. "Apaan tuh? Ngaco."
"Arima-chan itu kuat, seperti Musim Dingin, dan cantik, seperti Musim Semi." Watari masih terus berbicara. "Menurutku, sih, begitu." Dengan senyum bodohnya, Watari kembali nyengir.
Wajah Kaori merona.
Kuat? Cantik? Pembohong.
"Kamu gak usah sok tahu." Dengan ketusnya, Kaori meraih strap tas biolanya dan membalikkan badannya dari Watari.
"Kamu cuma orang mesum. Tahu apa kamu soal musik? Tahu apa kau tentang aku? Jangan dekati aku lagi."
Kaori pergi, meninggalkan Watari yang masih berdiri disana.
Dengan langkah kaki berat dan wajah yang masih memerah, Kaori terus menggerutu dalam hati.
Buat apa dia sok memuji aku?
Ah, dia cuma tipe cowok playboy, dia pasti sudah terbiasa berkata begitu ke cewek-cewek yang desperate banget pengen punya pacar!
Aku bukan cewek macam itu, asal tahu aja ya!
"Kuat seperti Musim Dingin dan cantik bagai Musim Semi."
Kaori memperlambat langkahnya.
"Pembohong." Ucapnya lirih. "Dia bohong."
Karena orang seperti itu bukan aku.
"Aku pulang."
Ketika Kaori sedang melepas sepatunya dan akan menaruhnya di rak sepatu, ibunya datang sambil tersenyum. "Kaori-chan! Kaori-chan!"
"Ibu, kenapa?" Kaori kebingungan ketika ibunya langsung mengenggam lengannya dan menariknya ke ruang keluarga. "Ibuuu?"
Di sofa ada seorang pria yang sedang duduk. Berambut coklat dan bermata coklat pula. Ia memasang senyuman yang memamerkan giginya yang berkilau putih bersih.
Kaori mengernyitkan dahi. Kenapa paman ini terasa familiar?
"Jadi inilah Kao-chan." Ucap lelaki itu sambil berjalan mendekati Kaori yang memandanginya aneh. "Hehe. Wajahmu mirip Kousei tapi rambutmu itu dari ibumu ya!" Lelaki ini mulai mengelus-elus rambut ikal panjang Kaori dan sukses membuatnya sebal. Berani amat orang ini!
"Ryouta!" Tsubaki menepuk tangan lelaki ini untuk menyingkirkannya dari kepala anaknya. "Jangan membuatnya kaget, dong! Ah, Kaori-chan," Tsubaki menoleh kearah putrinya sambil menunjuk kearah pria itu dengan jempolnya. "Dia ini Watari Ryouta, teman lama ibu dan ayahmu. Dia sering berkunjung waktu kau masih bayi, tapi pasti kau tidak ingat ya."
Watari...?
Mata biru Kaori membesar dan ia langsung memasang wajah sebel.
Oh God.
Pantas orang ini tampangnya nyebelin.
"Kau boleh panggil aku Paman Ryou-kun." Ucap Watari-san sambil nyengir. Ugh. Lebih nyebelin dari anaknya.
Kaori berusaha sabar dan sopan didepan yang lebih tua tentunya. "Terimakasih, Ryouta-san."
"Kau akan disini sampai makan malam?" Kali ini Tsubaki yang berbicara, melangkah menuju dapur. "Ikut makan saja. Kousei pasti senang kalau tahu kau datang."
"Oke!" Ryouta-san mengacungkan jempolnya. "Aku bisa panggil Yuuta kemari, kan?"
Kaori menganga. Si Watari Yuuta bakal kesini?
"Tentu." Tsubaki menyahut dari dapur. "Kousei akan pulang saat makan malam. Ah, Kaori-chan! Nanti bantu ibu setelah kau mandi ya!"
Kaori mengangguk pasrah sebelum ia melangkah lemas ke lantai atas dimana kamar dan kamar mandi yang biasa ia gunakan berada.
Si Watari Yuuta bakal kesini... gila banget lah.
Ryouta-san sudah sibuk menyamankan dirinya di sofa dan mata yang melekat ke TV, channel olahraga.
Kaori sempat melirik kearah Ryouta-san sebelum ia melangkah ke lantai atas.
Ryouta-san memang tampan, itu tidak ia ragukan. Ia tinggi dan tubuhnya atletis, seperti layaknya seorang atlet ternama. Walaupun hanya mengenakan kaos hitam dan jeans abu-abu biasa, ia terkesan berkelas.
Kaori mendengus sambil melanjutkan langkahnya.
Dia harus menyiapkan mental ketika ia melihat si Watari Yuuta lagi.
"Kuat dan cantik."
*blush*
Kaori langsung menggeleng kepalanya untuk menghilangkan ingatan itu.
Karena, untuk apa mengingat kata-kata bohong?
Suasana langsung hening ketika Kaori membukakan pintu untuk si Watari Yuuta yang masih memasang senyum bodohnya itu.
"Sudah kuduga kamu Arima yang itu!" Ucap Yuuta ketika melangkah masuk ke dalam. "Tidak disangka ternyata orang tua kita berteman baik ya? Ini pasti takdir, Arima-chan! Oh, apa harusnya kupanggil 'Kao-chan'?"
Kaori tetap cuek sementara Yuuta terus menerus berbicara. Ia sudah terlalu capek meladeni omongan omong kosong dari Yuuta yang ia yakin pastilah hanya kebohongan semata. Semua pujian dan senyuman itu semua bohong, karena Kaori yakin bahwa itu hanya trik Yuuta untuk menarik cewek-cewek. Tapi tentunya Arima Kaori tidak akan pernah termakan kebohongan itu.
Mereka tidak membicarakan tentang persoalan di ruang musik siang itu.
Kousei berdiri di ambang pintu dengan mulut terbuka dan mata membulat ketika ia menyadari siapa yang berdiri di depannya.
"Yo!" Ryouta-san nyengir ketika Kousei dengan segera menghampirinya dan memberinya jabat tangan akrab.
"Ryouta! Seharusnya kau telepon dulu kalau mau datang! Kita bisa makan di luar!" Kousei tertawa ketika Ryouta merangkul bahunya.
"Datang tiba-tiba bagai bintang jatuh, itulah aku!"
"Selamat datang." Tsubaki muncul dari dapur dan Kousei langsung menghampirinya dan memberi kecupan singkat di jidat istrinya itu. "Aku pulang."
Kaori langsung menutup matanya dengan wajah memerah sementara kedua Watari tertawa.
"Jadi kalian masih lovey-dovey seperti biasa ya." Ryouta nyengir dan mereka tersenyum. "Kalian pacaran sejak kita lulus SMA dan tanpa terasa Kaori-chan sudah sebesar ini," Ryouta melihat kearah Kaori dan tersenyum. "Keluarga kalian ramai ya. Untungnya aku masih punya Yuuta."
"Aku selalu disini Ayah!" Yuuta tertawa. "Aku gak akan kemana-mana kok."
Kedua ayah-anak itu saling berpandangan, seperti ada koneksi yang tidak terlihat di mata mereka. Ryouta menghela napas dan langsung memeluk putra satu-satunya itu. "Jangan tinggalkan Ayah juga ya."
Bahkan Kaori yang tidak terlalu mengenal Keluarga Watari juga sudah bisa berasumsi bahwa sudah tidak ada sosok ibu disana.
Kaori langsung terdiam melihat sepasang ayah-anak itu berpelukan dan tertawa berdua.
Kaori belum pernah membayangkan jika ia harus tinggal berdua dengan salah satu dari orang tuanya saja. Bagaimana rasanya untuk mereka?
Bagaimana mereka masih dapat tersenyum dan tertawa begitu?
Hidup ini penuh kebohongan.
Apa senyuman itu juga bohong?
Kaori hanya bisa terdiam.
To be continued
A/N: hehe. Yah, scene KouseiTsubaki nya dikit banget :" padahal saya ingin lebih banyak lagi :"
Saya tunggu kritik dan saran Anda! :)
