""Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnngggg"
Aku terbangun dari lamunan indahku, dan membelalakkan mata. Bola mataku reflek melirik ke arah telepon putih yang tergeletak di meja kasir, sambil berusaha merespon apa yang telah terjadi.
"Hey angkat teleponnya! Apa sih yang kau lakukan?" pekik bosku yang sepertinya sedang sibuk dengan adonannya di dapur. Dengan pangling, aku segera berdiri dan menuju arah telepon. Kau tahu, hampir dua minggu aku bekerja disini, dan ini adalah momen pertama dimana aku harus mengangkat panggilan telepon di toko ini!
Dengan pelan, aku mengangkat gagang telepon dan menempelkannya di daun telinga. "Ha… Halo?"
"Selamat siang, apa benar ini Freiheit Cake?" Tanya seseorang dari seberang telepon. Dari suaranya, sepertinya dia seorang wanita paruh baya.
"Ah ya benar. Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku balik.
"Begini, cucu perempuanku, Ymir, akan berulang tahun minggu depan. Kami berencana membuat pesta kecil-kecilan bersama teman-temannya. Bisakah kalian membuatkan kuenya?" jelas wanita tersebut.
Aku terbelalak, dan tersenyum sumringah. "Bisa! Tentu saja bisa! Baiklah, kami akan buatkan kue ulang tahun yang special untuk cucu Anda!" jawabku dengan semangat yang membara. Yay! Akhirnya ada yang memesan kue! Suatu perkembangan yang cukup besar! Sungguh, rasanya cahaya berkah dari dewa kue telah sedikit menyinari toko suram ini.
"Wah, baguslah, terima kasih ya," ucap wanita itu, kemudian menutup telepon
Tuan Rivaille menyembulkan kepalanya dari pintu dapur, kemudian menatapku dengan tatapan suramnya yang khas. "Siapa tadi?"
"Ah!" Pekikku begitu melihat wajahnya. "Tebak apa yang baru saja terjadi? Aku baru saja menerima pesanan kue ulang tahun! Taraaa! Hebat kan aku," ucapku dengan semangat, sambil mengacungkan jari membentuk "peace" ke wajahnya.
Bukannya menjadi cerah, wajah suram tuan Rivaille malah semakin suram dan suram. Ia mendelikkan matanya dengan beringas.
"Apa yang kau lakukan?!"
Love in Freiheit Cake
Chapter 4 : Special Birthday Cake From Rivaille
(Suichi Shinozuka)
Shingeki no Kyojin belongs to Isayama Hajime
'
'
Enjoy the story!
"E… eh?" pekikku tak percaya atas apa yang kudengar. Bukannya pujian, yang kudapat malah omelan?
Bletak!
"Ouch!" aku memegang jidatku. "Mengapa kau menjitakku?!" pekikku tak terima. Apa-apaan sih bosku ini?!
"Kau! Mengapa kau dengan sembarangan menerima pesanan kue ulang tahun?" bentak pria itu. Tak terima dibentak, aku membentaknya balik.
"Memangnya kenapa? Apa yang salah dengan menerima pesanan kue ulang tahun? Lagipula ini kemajuan besar, bukan? Memangnya kau tak bisa membuatnya?!" bentakku balik.
Tak sesuai dugaanku, lelaki itu malah terdiam. Dia mengatupkan bibirnya, dan mengatur nafasnya.
"Benar, aku tak bisa membuatnya," jawabnya pelan, kemudian kembali ke dapur.
Aku terdiam sejenak, masih dengan ekspresi tak percaya. Eh? Serius? Ia tak bisa membuatkan kue ulang tahun? Mengapa? Padahal jika kulihat, kue-kue buatannya lebih dari biasa dan bisa bersanding dengan kue-kue dari toko-toko yang lebih besar. Mengapa?
Aku kembali duduk di meja kasir. Rasanya, agak bersalah juga membentaknya seperti tadi. Habis, siapa yang mengira jika dia tak bisa membuatkan kue ulang tahun? Huh! Lagipula ada baiknya juga kan jika ia mulai belajar cara membut kue ulang tahun?
Selang beberapa lama, beberapa pembeli mulai berdatangan. Aku melayaninya dengan seramah mungkin, dan memberikan mereka diskon. Ya, semenjak aku mengundang anak-anak, toko ini memang jadi agak sedikit berdatangan pembeli. Tapi, tetap saja aku harus mencuri hati mereka dengan memberikan promo dan diskon. Yah, walaupun untungnya jadi tidak terlalu banyak. Tapi yang namanya usaha, harus dimulai dari bawah dan harus menerima kerugian, bukan?
Beberapa jam kemudian, toko kembali sunyi. Tiba-tiba saja, perasaan bersalah pun muncul lagi. Aku jadi tidak tega terhadap bosku sendiri, walau selama ini ia selalu merepotkanku.
Aku berjalan menuju dapur, dan mengintip. Kulihat, ia sedang duduk di kursi, dengan tumpukan kertas putih dan pensil yang tergeletak dihadapannya. Iris abu-abunya melirik kearahku.
"Umm, maaf atas kelancanganku tadi, Tuan," ucapku gugup dan penuh keraguan. Dan seperti yang kuduga, responnya hanya berupa dengusan. Melihatnya sudah agak menjinak, aku berjalan mendekatinya.
"Apa yang kau kerjakan?" tanyaku, sambil duduk di sampingnya.
Ia kembali menatap selembar kertas dan pensil di depannya. "Sedang membuat kue ulang tahun," jawabnya singkat.
"E, eh?" ucapku tak mengerti. Mm, maksudnya membuat kue dengan kertas dan pensil? Kau mau membuat anak itu tewas dengan menelan gumpalan kertas dan karbon?
"Maaf, maksudnya apa?" tanyaku dengan halus, takut membuatnya emosi.
"Aku sedang merancang kuenya, kau bodoh," ucapnya dingin, sedingin balok es.
Aku sedikit mendongakan wajahku, tanda mengerti. Tuan Rivaille kemudian menggoreskan pensil di kertas itu, menggambar sesuatu. Tetapi, sebertinya ia tak puas dan merobek kertas tersebut. Ia mengambil kertas baru, dan menggambar lagi.
"Sepertinya kau buruk dalam menggambar," desisku dalam hati.
Aku terus melihatnya menggambar. Ia menggambar bulat, oval, merobek kertas tersebut, menggambar lagi, persegi, segitiga, menghapusnya dengan ganas, menggambar lagi, oval lagi, prisma, bahkan persegi enam! Aku muak melihatnya!
"Maaf Tuan, kau sedang merancang kue atau mengerjakan soal pecahan matematika?" tanyaku gemas. Tuan berambut hitam itu sepertinya juga muak dengan apa yang ia lakukan, kemudian meletakan pensilnya dengan kesal.
Aku menatapnya dengan tatapan prihatin. Ternyata, tak tega juga melihat pria dewasa ini bersedih dan putus asa. Dengan pelan, aku mengambil secarik kertas lagi. "Tuan, mengapa kau tidak membuat kue yang biasa saja, seperti kue ulang tahun pada umumnya? Berbentuk bulat atau kotak, dengan lumuran whipped cream warna-warni, serta lelehan coklat dan buah cherry diatasnya?" kataku memberi saran. Pria itu langsung menggeleng.
"Tidak," ucapnya singkat.
Aku menaikan alisku. "Mengapa?"
"Aku, ingin membuat yang agak special. Sesuatu yang akan menjadi kenangan dalam hidupnya. Jadi, tidak bisa sembarangan saja," ucapnya dengan yakin. Mendengar pernyataannya, pipiku jadi bersemu merah.
"A—apa-apaan dia? Kenapa tiba-tiba jadi sweet begini?"
"Jadi?" tanyaku. "Kue special itu yang seperti apa?
Tuan Rivaille menatap ke depan, dengan ekspresi yang sedikit rumit. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
"Hmm, aku ingin kuenya berbentuk seperti apa yang ia sukai," jawab pria itu akhirnya.
Aku membelalakkan mataku. "Ah aku tahu! Anak perempuan pasti menyukai bunga! Kita hiasi saja kuenya dengan krim berbentuk bunga-bunga. Hmm, atau pita? Anak perempuan suka pita. Ah tapi, strawberry yang banyak juga pasti disukai para gadis kecil…" aku terus bergumam pada diriku sendiri. Hmm, ternyata cukup membingungkan juga menebak-nebak apa yang anak itu sukai.
"Ymir, kan? Sebenarnya dulu anak itu agak sering kesini bersama neneknya. Jadi sepertinya aku tahu apa yang ia sukai…" jawab pria bermanik silver itu.
Aku menatapnya sambil mengembungkan pipiku kesal. "Huh! Bilang dari tadi dong!" pekikku. "Umm, lalu apa yang disukai anak itu?" tanyaku lagi.
Tuan Rivaille menghembuskan nafasnya keras. Lama ia terdiam, dan akhirnya ia menjawab.
"Kau tahu, gadis itu sedikit rumit. Ia menyukai monster."
Keesokan harinya, aku bangun dengan mata yang terbelalak ketika jam menunjukkan angka 9. Aku langsung melompat dari tempat tidurku, dan menuju kamar mandi.
"Sial! Kenapa bisa kesiangan bangun sih?! Kenapa alarmnya mati?!" umpatku kesal, sambil merapikan rambut vermilionku. Cellphoneku terus berbunyi, dan ketika kulihat siapa yang menelepon, sudah kuduga. Dia adalah Tuan Rivaille. Dengan pelan, aku angkat telepon itu, dengan ekspresi ketakutan.
"Hey jam berapa ini? Toko sudah buka sejam yang lalu, kau tahu!" teriaknya dari seberang telepon, membuatku tuli untuk beberapa detik.
"Maaaf, tunggu lah sebentar. Aku akan segera kesana!" balasku, kemudian menuju kamar mandi.
Tak sampai 20 menit, aku sudah berganti baju dan siap untuk berangkat. Kugunakan sepatuku, dan langsung berlari keluar dari apartemen. Aku menyusuri jalan setapak dekat taman dengan berlari, dan brugh! Aku menyandung sesuatu dan jatuh tersungkur!
"Aw, sial," desisku sambil menahan sakit.
"Petra? Kau tak apa-apa?" jerit seseorang, kemudian diikuti teman-teman yang lainnya. Ternyata, mereka adalah Eren, dan kawan-kawannya. Anak-anak itu segera berlarian ke arahku, dan membantuku berdiri.
"Ah, terima kasih adik-adik," ucapku sambil berusaha berdiri, dan membersihkan lututku dari pasir. Untunglah tidak ada yang terluka. "Kalian sedang apa disini?" tanyaku lagi.
"Kami, sedang bermain. Lihat, itu sekolah kami!" ucap Armin sambil menunjukkan sebuah bangunan besar disamping taman.
"Wah wah wah," aku berdecak melihat gedung sekolah dasar yang besar, tidak seperti sekolahku dulu. Tiba-tiba, pandanganku beralih dan kulihat sosok Ymir—bersama Christa—sedang berjongkok, dan jaraknya agak jauh dari teman-temannya yang lain. Aku segera menghampirinya.
"Hai Ymir, Hai Christa!" Sapaku ramah. "Ingat aku kan?"
Christa membelalakkan matanya, dan pipinya pun bersemu merah. "Petra!"
Aku mengacungkan jariku yang membentuk "peace" kearahnya. Sedangkan Ymir, hanya melihatku sekilas, dan kembali sibuk dengan sesuatu yang dipegangnya.
"Ah, kucing!" pekikku. Ya, yang sedang dipegang Ymir adalah seekor anak kucing berwarna coklat kekuningan, dan sangat lucu.
"Petra suka kucing juga?" Tanya Christa, diikuti dengan anggukan semangatku. "Ya sangat suka! Tapi dirumah aku tak pelihara, karena anjing peliharaanku tidak suka," ucapku.
"Petra punya anjing?" tiba-tiba Ymir mendongakan kepalanya, dan bertanya padaku. Kemudian, aku menganggukan kepalaku.
"Wah senangnya," gumam gadis berambut coklat tua itu. "Aku… aku ingin pelihara kucing ini. Kasihan dia, harus tidur di taman ini. pasti dingin sekali," ucapnya, sambil mengelus-elus kucing kecil itu. "Tapi nenek mengijinkan tidak ya…"
Kami bertiga terdiam sejenak.
"Mm, coba saja tanya dulu, siapa tahu diijinkan, bukan?" kataku memecah keheningan.
"Entahlah, kata nenek kucing suka mencuri makanan. Sepertinya dia tidak suka…" ucap gadis kecil tersebut dengan wajah yang muram.
Padahal aku sudah terlambat cukup lama, tapi aku berjalan dengan pelan dan lesu ke arah toko. Sampai di depan toko, begitu membuka pintu, aku sudah disambut oleh bosku dengan tatapannya yang berapi-api.
"Tunggu! Jangan marah dulu! Dengarkanlah cerita yang baru saja terjadi," ucapku sambil mengacungkan tanganku, mencegah bosku yang satu ini agar tidak meledak.
"Grrr…" geramnya seperti serigala buas yang kelaparan. Sebelum pria ini melahapku hidup-hidup, aku segera mendorongnya dengan halus dan mengajaknya ke dapur.
Tiga puluh menit pun berlalu. Aku menatap mata tuan Rivaille lekat-lekat. "Mengerti, kan?"
"Oh begitu," ucap pria bermanik silver itu sambil menyeruput teh gandumnya.
"Yap," aku mengakhiri ceritaku yang panjang lebar. "Jadi, setelah mendengar ceritaku, apa kau punya rencana tentang wujud kuenya?" tanyaku.
Pria itu terdiam sejenak, kemudian menyeruput teh hangatnya lagi.
"Cerita yang bagus. Tapi tetap saja tak bisa dijadikan alasan keterlambatanmu," ucapnya dingin.
"E… Eeh?! Kau masih membahas tentang terlambat?"
"Mulai besok, aku akan menjemputmu dan kita berangkat bersama. Agar kau tak terlambat," mata silvernya menatapku tajam.
"A…APAAA?!" pekikku tak percaya. Wajahku berubah merah antara marah dan malu. Apa katanya? Menjemputku tiap hari? Apa tidak salah dengar? Tidak, itu kejahatan!
"Tidak mau! Dan tidak akan pernah!" bantahku, dengan tangan mengepal keras.
"perlawanan tak diterima. Ini agar kau disiplin," ucapnya dingin.
"Hah! Apa ini semacam perploncoan? Tidak! Kau tidak boleh menginjakkan kakimu di tempat tinggalku!" bantahku lagi. Membayangkan tiap hari tuan Rivaille menjemputku, membuat bulu kudukku berdiri dan kepalaku jadi pening.
Tiba-tiba, pria itu bangun dari kursinya, dan mendekatkan wajahnya padaku. Jemarinya yang kurus dan lembut, pelan-pelan menyentuh daguku. Jemari itu mengangkat daguku pelan, hingga manik vermilionku bertatapan dengan bola mata silvernya yang redup. Hal itu tentu saja membuatku terkesiap.
"Kenapa tidak boleh? Apa kau punya pacar? Apa pacarmu akan marah bila aku mengunjungi apartemenmu? Bisiknya, dan membuat wajahku merah padam. Tanganya yang pucat merusaha merangkul pinggangku, dan seketika membuat mataku terbelalak.
"Le…Lepas!" jeritku sambil menghempaskan tangannya. "Dasar mesum!" pekikku sambil berlari kearah kasir, dan "BLAM!" aku menutup pintu dapur keras-keras.
Tiba-tiba, aku membuka pintu dapur lagi. "Aaa… aku tak punya pacar! Camkan itu!" ucapku kemudian menghempaskan daun pintu lagi.
Tuan Rivaille melengos melihat kelakuan pegawainya yang tidak sopan. Ia kembali menyeruput teh gandumnya, kemudian tersenyum kecil.
"Bos kurang ajaaarrr!" teriakku dalam hati. Aku mengacak-acak rambutku sendiri, berusaha untuk melupakan apa yang baru saja pria dewasa itu lakukan. "Kalau sampai ia menjemputku ke apartemen, aku akan melapor pada polisi!" jeritku pelan. Kedua tanganku menopang pipiku yang masih terasa panas dan warnanya pasti merah padam.
Esoknya, pagi-pagi sekali, ketika kelopak mataku masih terlalu sakit untuk terbuka, seseorang dengan kurang ajarnya menekan bel apartemenku terus-menerus. Dengan gusar, aku membuka pintu, dan berdirilah sesosok pria di depanku. Sayup-sayup, sambil berusaha membuka kelopak mataku yang merekat, aku melihat sosok pria yg di depanku sedang menyilangkan kedua tangannya.
"Bangunlah pegawai malas!" pekiknya dengan suara berat khasnya.
Aku mengerutkan kedua alisku, tandaku sedang marah besar.
"INI MASIH PAGI SEKALI, TUAN BESAR!" terikku di depan wajahnya. Aku bisa berteriak begitu keras dan semangat, padahal mataku saja belum terbuka sempurna. Hebat.
Aku tak menggubris lelaki tak tahu diri itu, dan segera berlari ke kamar, dan menghempaskan badanku lagi di kasur. Baru saja beberapa detik memejamkan mata, tiba-tiba, ada seseorang menyeret kakiku, dan sontak membuatku terkejut. Pria itu dengan lancangnya masuk ke kamarku!
"Tuan! Kau mulai tidak sopan! Siapa yang mengijinkan kau—HWAA!"
Belum selesai kalimatku, tiba-tiba tuan Rivaille memanjat kasurku, dan menahan kedua tanganku dengan tangannya. Posisi kami, aku berbaring dibawahnya—dengan kedua tangan yang ditahan olehnya—dan dia berada diatasku sambil menatap lancang wajahku!
"Hey ayo berangkat kerja, monster kecil!" bisiknya diatasku.
"Kau yang monster!" desisku sambil terus meronta. "Lepaskan! Atau kupanggil polisi!"
Pria itu segera melepas kedua tangannya, dan membebaskanku. Sontak aku melompat dari kasur, dan menuju pojokan ruangan. Melindungi diri.
"Tuan, kau mulai berbahaya," ucapku, masih dengar tatapan gusar.
"Hmp!" dengusnya. "Hey, cepatlah siap-siap. Kita akan membuat kuenya sekarang. Temani aku membeli bahan-bahan," ucapnya.
Kini giliranku yang mengendus, dan tanpa ba-bi-bu, aku langsung masuk ke kamar mandi.
"BUGH!" aku menghempas dua buntalan plastic besar yang berat diatas meja. Fuh, aku menyeka keringatku. Tentu saja sangat berat membawa belanjaan sebanyak ini bagi seorang gadis sepertiku. Tenagaku rasanya sangat terkuras, dan terkulai lemas di kursi. Sedangkan bosku, ia hanya membawa tas kecil berisi belanjaan kopi dan teh persediaan untuknya sendiri. Sungguh, mungkin inilah yang disebut perbudakan.
"Baiklah," ucapnya dengan kedua tangan di pinggang, "Ayo kita buat kuenya."
"Ha? Kue seperti apa?" tanyaku dengan malas. Kemudian, ia membuka buku catatannya, dan menjelaskan dengan panjang lebar.
Kami berdua pun membuat kue yang direncanakan. Tuan Rivaille menjelaskan, dan aku membuatnya. Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini. tapi, idenya cukup brilliant.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, dan rumah mungil milik Ymir dan keluarganya tampak ramai. Anak-anak mulai menempati tempat itu, dengan canda tawa mereka. Pesta akan segera dimulai. Tetapi, kue ulang tahun gadis kecil itu tak kunjung datang. Tentu saja, hal itu membuat nenek Ymir merasa resah.
"Nek, kuenya belum datang? Teman-temanku sudah datang semua nih," ucap gadis itu. Wanita tua itu meremas-remas tangannya. "Tunggu ya, nenek akan menelepon mereka," ucapnya.
Baru saja melangkah kearah telepon, tiba-tiba, sebuah mobil silver parker di halaman mereka.
"Maaf menunggu anak-anak, kuenya datang!" teriak gadis berambut vermillion. Yap, itu aku. Aku mengeluarkan kotak besar dari kursi belakang. Setelah mematikan mobil, bosku pun keluar dari mobil sambil menyeka rambutnya.
Anak-anak berteriak kegirangan, dan menghampiriku. Tiba-tiba kotak kue yang kubawa direbut oleh bosku.
"Biar aku yang memberikan," ucapnya. Aku membelalakkan mataku, tapi akhirnya menurutinya.
Tuan Rivaille membuka tutup kotak, dan membungkuk di depan Ymir.
"Alles gute zum geburtstag."
Gadis berkuncir kuda itu seketika terbelalak, kemudian tersenyum sangat lebar.
"Kucing! Bentuk kuenya kucing!" teriaknya dengan wajah bersemu. Teman-temannya ikut terbelalak dan berteriak kagum.
Pria bermanik silver itu kemudian berdiri, dan berhadapan dengan nenek Ymir. Dengan mata berkilat-kilat, ia pun mulai berbicara.
"Nenek, biarkanlah Ymir memelihara kucing." Ucap pria itu. Hal itu membuat Ymir dan neneknya terkejut seketika.
"Tuan?!" pekik Ymir.
"Ijinkan dia. Aku yakin Ymir akan merawatnya," sambung tuan Rivaille dengan tatapan serius.
Wanita paruh baya itu memutar bola matanya tanda mempertimbangkan. Tak lama kemudian, ia pun tersenyum.
"Tentu saja boleh," ucapnya.
Mata Ymir membesar dan berkaca-kaca. Ia pun langsung berlari dan memeluk neneknya. "Terima kasih nek!" ucapnya dengan sangat bahagia. Wanita itu tetap tersenyum sambil mengelus kepala cucunya dengan lembut. Tak lama kemudian, ia melepas pelukannya, dan giliran memeluk tuan Rivaille.
"Ugh," tampaknya bosku cukup kaget tiba-tiba dipeluk oleh gadis kecil itu.
"Danke!" ucapnya. "Ini adalah ulang tahun terspesial!"
Tiba-tiba anak-anak lain ikut berhamburan memeluk tuan Rivaille. Mereka tampak terharu dengan apa yang bosku lakukan. "Hey hentikan—" ucapnya dengan gusar.
Aku langsung terharu dan berkaca-kaca melihat adegan itu, sungguh, bosku yang sangat keras kepala dan super menyebalkan, ternyata bisa seromantis ini. aku pun berlari, dan ikut memeluknya.
"Kenapa kau malah ikutan memelukku?! Aku merasa sesak!" Pekik tuan berambut hitam legam itu di depan wajahku. Tapi, aku tak menggubriskannya dan tetap memeluknya erat.
"Terima kasih, Tuan!" teriak semuanya.
To be continued
