Declaimer : I don't own Naruto

I don't have much to say.

!#$%^&* Chapter 4: Worry

Nb: Shikamaru dan Temari sekelas? Karena kejeniusan Shikamaru, ia langsung menjadi senior. Jadi Shikamaru dan Ino tidaklah sederajat.

Sementara Gaara dan Ino masih dapat dibilang junior.

"Tuan Inoichi, pihak atasan meminta anda untuk menjalankan bagian tugas kali ini." kata salah satu bawahan Inoichi.

"Baiklah, beri aku detail penjelasannya, dan aku akan segera ke sana." perintah Inoichi. Dengan sopan, bawahan Inoichi tersebut segera meninggalkan ruangan.

Inoichi mengambil secarik kertas, dan bolpoin miliknya. Duduklah ia, dan menulis sesuatu di kertas tadi, membuatnya menjadi sebuah surat. Tidak lupa ia selipkan beberapa dokumen resmi dan beberapa amplop kecil yang sudah terisi ke dalam amplop besar beserta surat yang ditulisnya.

'Ino, hanya ini yang bisa ayah berikan. Maaf ayah karena selama ini ayah tidak bisa menemanimu.' batin Inoichi setelah selesai menuliskan alamat tujuan pada amplop besar tersebut. Dan beranjaklah ia dari kursinya dan keluar ruangan.

.

~!#$%^&*

.

Hari-hari berlalu seperti biasa bagi Ino. Berpakaian seragam, beriringan dengan sang pacar menuju sekolah, dan memasuki gerbang sekolah untuk menuju ke ruang kelas. Hingga perpisahan mereka karena ruang kelas yang berbeda.

"Pagi Yamanaka." ucap Gaara dari belakang. Membuat Ino berbalik.

"Oh..pagi Gaara. Pagi ini dapat kelas apa? Jangan-jangan sama lagi ya.." tebak Ino seraya mereka berjalan ke ruang kelas.

"Kenapa? Tidak suka?"

"Bu-bukan kok, aku hanya menebak kan? Justru aku senang ada yang kukenal. Akhir-akhir ini tidak sedikit siswi yang menjahuiku, mungkin mereka terpengaruh berita koran itu ya. Huh.."

"Berita apa?" terdengar keseriusan di suara Gaara.

".."

"?"

"..Yay, aku punya teman yang nggak baca koran juga." Ino yang kegirangan justru mendapat tatapan 'kenapa' 'apa yang salah dengan anak ini' dari Gaara.

"Begini, aku digosipkan menggoda Sasuke, padahal jelas-jelas terlihat aku yang digoda…" Bel tanda mulai jam pertama memotong penjelasan detail dari Ino. Merekapun dengan segera menuju ruang kelas mereka yang kebetulan sama.

'Digoda Sasuke?' batin Gaara.

.

~!#$%^&*

.

~Jam makan siang.~

"Hai! Kau Shikamaru kan?" ucap Temari. "Kenapa tidak keluar?"

Shikamaru yang merasa tidur rutin kelasnya diganggu, hanya mendongak melihat siapa yang mengajaknya bicara barusan. Dan mendapati sesosok siswi berambut pirang berkucir empat tersenyum kepadanya. Seraya menunggu jawaban yang ditanya.

"Huh? Kau siapa?" tiga kata itu terucap begitu saja dari mulut Shikamaru.

"Kau? Bagaiman kau tak tahu, aku teman sekelasmu. Banyak mata pelajaran dimana kita selalu sekelas. Bagaiman kau tidak tahu sih." nada tinggi Temari berhasil membuat Shikamaru menutup telinganya.

"…" respon Shikamaru.

"…"

"…"

"Aku Temari, salah satu murid baru di sini." Temari yang pada awalnya jengkel karena keberadaannya tidak diperhatikan itu menyerah. Membiarkan untuk pertama kalinya mengalah terhadap seseorang.

"Oh, kau Temari itu? Salah satu anak baru itu kan?" sebelum Shikamaru dapat kembali ke kebiasaan tidur kelasnya yang sempat terganggu, Temari lebih dulu memotongnya.

"Jangan sok jenius deh.."

"Tadi kau sendiri yang bilang kan…" Shikamaru memotong.

"A.."

"Sudahlah aku mau tidur, kau boleh pergi kalau tak ada urusan lagi." Shikamaru memalingkan pandangannya dari Temari dan kembali ke posisi tidurnya dengan kepala tersembunyi di kedua lengannya di atas meja.

"Argghh…" geram Temari.

.

~!#$%^&*

.

"Hei kalian!" kata Sasuke yang tiba-tiba berhasil membuat Ino dan Gaara berhenti sebelum keluar kelas dan berbalik menatap Sasuke.

"Apa?" tanya Ino.

"Tugas kelompok kita tinggal beberapa hari lagi. Aku mau membicarakan dimana kita akan bekerja bersama kali ini."

"Ke rumahku saja." pikiran cepat Gaara berhasil membuat kesimpulan. Gaara takut bila rencana kakanya berhasil, dan membuat Shikamaru datang ke rumahnya, ia akan melihat Ino menangis di depannya. Gaara tak ingin hal itu terjadi.

"Baiklah, setelah jam terakhir selesai kita ke rumah..Gaara" kata Sasuke yang sejak awal memang tak suka keberadaan Gaara. Entah karena penampilannya, atau perbuatannya yang berhasil membuat Ino ramah kepadanya.

Sasukepun beranjak pergi meninggalkan Gaara dan Ino dan menuju ke ruang OSISnya.

"Ah..!" Sasuke berhenti di ambang pintu dan berbalik. "Ino, sebentar lagi akan diadakan pesta sekolah. Ada pihak luar yang ingin meramaikan sekolah kita. Kalau kau mau kau boleh menyumbang suaramu." tanpa berbasa-basi, Sasuke langsung beranjak pergi tanpa menunggu jawaban pasti dari Ino.

"Kau akan ikut?" tanya Gaara.

"Entahlah..tapi mungkin aku akan ikut."

.

~!#$%^&*

.

"Anda benar akan mengambil misi ini Tuan Inoichi?" tanya pemuda berambut pirang kepada atasannya.

"Ayah...sudah kubilang kan, panggil aku ayah, Deidara." balas Inoichi kepada pemuda bernama Deidara tersebut dengan senyumnya.

"A-Ayah...Ayah yakin akan keputusan ini?" Deidara tidak tahu harus bagaimana meyakinkan seseorang yang memintanya memanggil ayah itu untuk tidak mengambil keputusan berisiko yang diberikan atasan kepadanya.

"Tidak apa-apa. Ini keputusanku, hanya ini yang bisa kulakukan. Tolong lakukan permintaan terakhirku ya,. Deidara." pinta Inoichi kepada Deidara yang sudah dianggapnya anak sendiri selama berpisah dengan putrinya. Bahkan Inoichi sempat mengadopsi Deidara menjadi putranya untuk menemani Ino di rumah.

"Baiklah..Ayah."

Inoichi yang sudah selesai mengemasi barangnya, kini melangkah menuju Deidara dan memberinya pelukan seraya berbisik di telinganya.

"Jaga Ino baik-baik." pinta Inoichi sambil menepuk-nepuk punggung anak angkatnya.

Setelah merasa cukup, Inoichi pergi meninggalkan Deidara yang masih menikmati sisa keberadaan seseorang yang telah menganggapnya anak itu. Deidara yang memang sejak lahir sudah tidak mempunyai orang tua, kini sangatlah bersyukur masih ada yang mau menganggapnya anak.

'Harum, bau bunga…aku tak akan mengecewakanmu…Ayah. Aku akan menjaga Ino.' batin Deidara.

.

~!#$%^&*

.

~Seusai sekolah~

"Ayo, Shikamaru, kita keluar sebentar." ajak Temari sambil menarik-narik lengan Shikamaru.

"Kita refreshkan pikiran kita di luar. Kita makan di restaurant, jalan-jalan di taman kota, dan melihat pemandangan." Temari yang bersikeras mengajaknya, hanya mendapat geraman dari Shikamaru.

"Kenapa harus aku sih? Tidak ada orang lain apa? Wanita memang merepotkan…" keluh Shikamaru.

"Ayolaaah…sehari saja. Ayo!" tenaga Temari berhasil membawa Shikamaru keluar kelasnya dan sedang menuju gerbang sekolah.

Temari yang terlalu bersemangatnya, tidak mempedulikan geraman Shikamaru untuk membuka ponselnya sedetik saja.

Hingga Shikamaru menyerah untuk menghubungi Ino, berharap Ino dapat mengerti, toh, cuma sehari.

~Sementara itu~

Gaara dan Ino berjalan beriringan menuju ruang kelas Shikamaru.

"Kenapa tidak memberitahuinya lewat e-mail saja?" tanya Gaara ketika mereka hampir sampai depan kelasnya Shikamaru.

"Karena aku yakin hal itu merupakan hal yang merepotkan bagi Shikamaru.." jawab Ino dengan tawa terkikih-kikihnya. Ino memang cukup lama mengenal Shikamaru, bahkan sejak mereka baru lahir. Hingga Ino mengenal betul ciri khas Shikamaru.

Sesampainya di depan pintu ruang kelas Shikamaru, dengan segera Ino memperhatikan isi kelasnya, mengamati keberadaan pacarnya itu. Tetapi hanya bangku-bangku tak berpenghuni dan seorang siswi yang sedang piket siang saja yang menghuni ruang kelas itu. Tanpa buang-buang waktu, Ino langsung menuju ke arahnya dan menanyakan keberadaan Shikamaru.

"Maaf, kau tahu dimana Shikamaru?"

Siswi itu mendongak dan tersenyum pada Ino.

"Shikamaru baru saja pulang." kata siswi tersebut tetap dengan senyumnya.

"Pulang? Sendiriankah?"

"Tidak, dia pulang dengan temannya. Tapi, menurutku dia tidak pulang. Lebih tepatnya mereka pergi bersama."

"Oh…" setelah mengucapkan terima kasih Ino beranjak pergi dengan Gaara. Walaupun Ino sedikit cemas, tapi dia mengerti Shikamaru. Shikamaru tidak mungkin sengaja tidak mengabarinya kalau memang tidak mendadak."

'Yah…mungkin pekerjaan OSIS lagi.' pikiran positif Ino berhasil membuatnya tersenyum kembali.

'Mungkinkah? Temari?' kecemasan Gaara muncul.

Perjalanan mereka menuju gerbang sekolah berlangsung dalam keheningan. Hingga mereka sampai di depan gerbang, mereka mendapati sesosok siswa berambut pirang jabrik berlari ke arah mereka.

"Untung kalian belum pergi terlalu jauh." Naruto terengah-engah dari larinya.

"Kalian ditunggu Sasuke di tempat parkir. Katanya, mumpung bawa mobil, sekalian saja..kalian pergi bersamanya." setelah menyampaikan pesan, siswa tersebut pergi dengan melambaikan tangan kea rah Ino dan Gaara.

Gaara dan Ino saling bertukar pandang.

"Baiklah, kita tidak mungkin membuatnya menunggu lama kan? Kasihan dia…Ayo, Gaara!" ajak Ino sambil menarik tangan Gaara menuju tempat parkir sekolah.

~Tak lama kemudian~

"Kalian lama sekali…ayo cepat naik!" perintah Sasuke yang baru saja bersandar di mobilnya, dan kini mulai membukakan pintu penumpang bagian depan, yang pasti untuk Ino memasukinya.

"Arigatou ne.." ucap Ino. Setelah yakin Ino telah masuk mobil, Sasuke menutupkan pintunya dan berbisik pada Gaara yang memang berada di sampingnya saat itu.

"Kau tidak keberatan kan duduk di belakang..huh" Sasuke menyeringai dan segera menuju kemudi mobil.

Gaara tidak menanggapinya dan segera memasuki mobil.

Finally…

Guys...Perhaps I'll off of fanfiction cause school examination.

I'm going to study much. And I'm sorry if I can't update the chapter soon.

Sorry, sorry, sorry.

Remember to click 'Review'. Kay!