Potongan IV: Lari (133 kata)

Peluh itu bercucuran dan terus membuat alur-alur baru. Titik-titik basah tercetak di atas trek kecokelatan lapangan. Semakin gencar berjatuhan ketika pemuda itu berhenti dengan menumpu telapak tangan pada masing-masing lutut. Napas memburu.

Ia paham aturan bahwa tidak boleh langsung berhenti jika berlari, namun sudah terbiasa.

Tidak lama, Naruto menyusul. Pemuda itu sama kuyupnya, tapi masih dapat bertahan di putaran keenam ini.

Kiba tidak ingin menolehkan wajahnya. Ia sungguh tidak ingin. Tapi… sekali lagi, ia sudah terbiasa. Terbiasa untuk memandang salah satu jendela perpustakaan. Refleks.

Hinata masih berdiri di sana sejak putaran pertama. Jauh, namun terlihat jelas arah matanya. Naruto.

Jika sudah begitu, Kiba akan segera mengenyahkan rasa lelahnya. Ia berlari, menyusul Naruto. Pun berhasil, ia tahu Hinata tidak akan memindahkan pandangannya.

Kiba akan terus berlari. Berlari demi menghapus kenyataan getir yang selalu mengejarnya.

Potongan IV selesai—

A/N: Saya merasa tidak adil kepada Kiba, tapi beginilah cerita berjalan. Terima kasih kepada anonreviewer yang telah me-review. :D