.
Chapter 3
You Hurt Me
.
Menggas mobilnya, Park Jimin kini menuju kearah toko roti favoritnya. Jimin sudah menjadi pelanggan setia disana, dan tentu saja nenek pemilik toko roti tersebut sangat mengenal Jimin dan seringkali memberikan bonus roti kepada Jimin. Membayangkan roti daging asap favoritnya saja sudah membuatnya tersenyum-senyum sendiri, apalagi membayangkan kembali dirinya dan Yoongi yang telah menghabiskan waktu bersama hingga siang hari pada hari ini.
Ketika Jimin sampai di tempat toko roti yang Ia senangi, Jimin disambut pelukan hangat oleh nenek pemilik toko roti, Bora.
Penampilan Bora tidak sesuai dengan umurnya yang kini sudah memasuki awal 60-an. Bora bisa dibilang sangat fashionable dibandingkan dengan ahjumma yang seumurannya, dan itu membuatnya terlihat lebih muda dari umur aslinya. Bora sendiri kini hidup dengan menjanda dan Ia selalu bercerita mengenai mantan suaminya yang seorang pemabuk dan sering memukulnya tiap kali Ia pulang dalam kondisi mabuk kepada Jimin setiap kali Jimin mendatangi toko rotinya. Setiap mendengar cerita Bora, Jimin selalu prihatin dan turut sedih walaupun Jimin sudah terlalu sering mendengar cerita Bora. Kemudian Jimin selalu mencoba menghibur Bora dengan bercerita tentang kisah-kisah lucu yang Ia alami maupun yang Ia dengar dari teman-temannya yang lain dan itu membuat Bora kembali ceria.
"Chimmy! Aku menyimpan roti daging asap kesukaanmu untukmu! Aku yakin kau akan datang kembali hari ini. Firasatku tidak akan keliru," Bora tersenyum lebar sembari mengambil tujuh roti daging asap berukuran besar yang berada di penghangat roti menggunakan pencapit dan memasukkannya di dalam plastik putih. "Hari ini adalah hari 33 tahun pernikahanku bersama mantan suamiku. Walaupun 10 tahun yang lalu kami sudah bercerai, aku masih merayakannya dengan memberikan satu roti gratis kepada setiap pelanggan yang membeli- oh, kau pasti sudah pernah mendengar penjelasanku ini kan, Chimmy? Hahaha! Tapi aku akan menggratiskan ini semua untukmu Chimmy, dengan bonus lima nasi kepal!" Bora tertawa lepas sambil memberikan plastik putih berisi tujuh roti daging asap berukuran besar serta lima nasi kepal kepada Jimin.
Chimmy adalah nama panggilan Jimin yang Bora berikan kepadanya. Semenjak Jimin bercerita ketika Ia sedang berada di Amerika dalam acara American Hustle Life bersama member BTS lainnya dan salah satu orang Amerika, Tony, memanggil namanya dengan sebutan 'Chim-Chim' dan Bora merasa nama panggilan itu cocok dengan Jimin. Kemudian Ia mengubahnya sedikit dengan mengganti '-Chim' menjadi '-my'. Jimin juga tidak keberatan dengan nama panggilannya yang baru itu- menjadi hiburan di dalam telinga Jimin tiap kali Bora memanggilnya begitu, sementara Jimin hanya memanggil Bora dengan sebutan 'ahjumma'.
Mata Jimin membulat sebelum akhirnya Ia menolak dengan kedua tangannya yang meraba-raba kedepan wajah Bora. "Ahjumma- sungguh anda tidak perlu melakukan ini. Aku akan membayar-"
"Tidak perlu, Chimmy. Aku tahu selama ini kau terus-terusan menabung agar kau bisa hidup berkecukupan. Kau bahkan hanya memakan nasi sehari sekali. Itu tidak menyehatkan tubuhmu, Chimmy. Kau dulu sangat segar bugar, dan kini kau semakin kurus. Kumohon jangan menolak ini, Chimmy." potong Bora dengan tatapan penuh kekhawatiran yang mendalam kepada Jimin.
Memang kenyataannya Jimin memakan nasi hanya satu porsi dalam sehari, dan Jimin pun tahu bahwa itu kebiasaan yang buruk dalam pola makannya. Bahkan Jimin tahu tubuhnya yang dulu bisa membuat para lelaki iri dan membuat para perempuan berteriak dengan girangnya, kini menjadi kurus dan bahkan Ia kehilangan abs miliknya yang Ia bentuk mati-matian. Namun, itu adalah salah satu cara agar Ia tetap bisa menghemat dengan kondisinya yang sedang menganggur ini.
Mendengar ucapan Bora yang sangat benar, membuat Jimin hanya bisa menunduk pelan dan meraih plastik putih yang Bora berikan kepadanya. Bora kembali tersenyum dan kemudian Ia mendorong tubuh Jimin dari belakang- membawanya ke daerah foto keluarga milik Bora yang tergantung di dinding dekat meja kasir.
"Melihatmu membuatku teringat kepada anakku satu-satunya, Sohyun." Bora menatap salah satu foto keluarga yang tertampang di dinding, kemudian Ia tersenyum lembut. Senyuman itu tercampur antara senyuman sedih dan senyuman bahagia, dan Jimin dapat merasakan itu. Walau melihat Sohyun dalam foto itu bukanlah untuk pertama kalinya bagi Jimin, Jimin tetap memandang foto itu. "Oh Tuhan, lihat betapa manisnya senyuman bahagia yang terlukis di wajahnya, Chimmy…."
Sebagai respon, Jimin hanya mengangguk kecil dan tersenyum kepada Bora walau pandangannya tetap tertera pada foto yang Bora pandang. Jimin mengalihkan pandangannya sedikit untuk melihat Bora. Bora sedikit menitikkan air matanya, dan Jimin pun kembali menenangkan Bora dengan memeluknya erat, Bora menangis di dada Jimin. Namun, kali ini lebih keras dari tangisannya yang biasanya.
"Aku telah menganggapmu sebagai anakku sendiri, Chimmy…. Tolong, jagalah kesehatanmu…."
Dan Jimin membalas dengan anggukan dan senyuman yang hangat, walaupun Bora tidak bisa melihat senyumannya. "Terimakasih, Ahjumma."
Jimin kembali menaiki mobilnya dan mengendarainya kearah apartemen tempat ia tinggal. Jimin tinggal di apartemen yang tidak jauh dari toko roti Bora. Apartemen yang ia tinggali cukup nyaman dan lokasinya sangat strategis. Bahkan kakek tua pemilik apartemen juga sangat ramah dan baik hati kepada Jimin, dan itu membuat Jimin sangat betah bertempat tinggal disana.
Selama di perjalanan, Jimin memutar radio dalam mobilnya dan mendengarkan lagu-lagu yang disetel oleh sang radio host. Tiba-tiba, salah satu dari lagu Yoongi dan Soomin terputar. Itu membuat Jimin sedikit terkejut, namun Ia tetap mendengarkan lagu itu karena Jimin menyukai semua musik yang Yoongi buat.
Kau bagaikan matahari di musim semi dalam kehidupanku.
Ketika sinarnya datang menerpa ke seluruh tubuh, memberikan perasaan hangat nan nyaman hingga ke dalam beluk hati.
Walau awan gelap dengan kejamnya menutup pancaran sinarmu, aku akan terus menunggu.
Walau dinginnya hujan menusuk tubuhku, aku akan terus menunggu.
Walau bulan menggantikanmu saat malam tiba, aku akan terus menunggu.
Menunggu pancaran kehangatanmu yang meluluhkan hatiku yang membeku setelah sekian lama.
Karena hanya kaulah satu-satunya yang dapat menghangatkan ruang kosong nan dingin dalam hatiku ini.
Nyanyian Soomin sangat indah dalam lagu Yoongi, dan Jimin akui ia sangat menyukai suara Soomin lebih dari suara nyanyiannya sendiri. Jimin rasa, semua lagu Yoongi yang Soomin nyanyikan dapat membuat semua orang yang mendengar akan menangis ataupun bahagia. Sungguh, Jimin sangat menyukai lagu-lagu Yoongi terutama lagu-lagunya saat featuring dengan Soomin. Walau mendengarnya sedikit membuat hati Jimin teriris.
Ketika sampai di depan apartemennya, Jimin segera memarkirkan mobilnya dan mematikan mesinnya. Ia berhenti sejenak di dalam mobil, menatap langit yang kini sangat cerah dengan warna biru dan awan putih lembut disekitarnya. Jimin tersenyum, mengingat betapa bahagianya ia hari ini setelah menghabiskan waktunya bersama dengan Yoongi. Walau hanya untuk beberapa jam saja, itu sudah cukup bagi Jimin. Dan ia juga bahagia bisa mendapatkan makanan yang banyak dari Bora tanpa membayar.
Setelah cukup memikirkan hal-hal yang membuatnya bahagia hari ini, Jimin turun dari mobilnya dan memencet kunci mobilnya agar mobilnya terkunci. Jimin menaiki anak tangga dalam apartemennya untuk menuju kearah lantai tiga dimana letak kamarnya berada. Setelah sampai di lantai kamarnya, Jimin menghampiri kamarnya yang berada tidak jauh dari tangga. Lalu ia membuka kunci pintu depan kamarnya dan ia memasuki kamarnya. Melepas sepatu yang ia pakai, Jimin berjalan dengan lelahnya menuju ke kamar tidurnya. Tidak lama setelah Jimin merebahkan badannya di atas kasur, Jimin menerima sebuah- beberapa buah chat yang membuat handphone-nya bergetar. Setelah melihat nama sang pengirim chat, Jimin tersenyum sangat lebar- pipinya hampir terasa sakit karena senyuman itu.
"Yoongi-hyung…." Jimin tersenyum hingga gigi-giginya yang putih rapi berjejer terlihat dari mulutnya.
Jimin dengan segera membangkitkan tubuhnya dan sekarang dalam posisi duduk di atas kasurnya. Kedua tangannya memegang erat handphone-nya seraya tidak ingin melepaskannya dan matanya tidak jelalatan kemana-mana- terfokus hanya pada layar handphone-nya.. Ia membalas chat Yoongi dengan lihainya, namun menghapus berulang-ulang kali karena ia selalu kebingungan bila ingin membalas chat dari Yoongi dan itu membuat detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Dan akhirnya, ia pun membalasnya setelah 2 menit lamanya.
Setelah mengirim balasan chat-nya kepada Yoongi, Jimin berteriak dalam hati. '"Menyenangkan sekali" katanya! "Menyenangkan sekali"!'. Kemudian Jimin mengecup kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya yang sedikit berkeringat- merasakan pipinya kini mulai menghangat dan ia tak henti-hentinya tersenyum lebar.
Beberapa detik kemudian, ia menerima balasan dari Yoongi dan itu membuat jantung Jimin berhenti berdetak untuk beberapa saat.
Yoongi-hyung
Park Jiminie, besok pagi bisa bertemu denganku? Aku menemukan pekerjaan untukmu. (01:45 PM)
"Pekerjaan?" Jimin mengernyitkan alisnya. Ia tidak pernah berpikir Yoongi akan memperdulikan tentang pekerjaannya, walau selama ini Jimin tahu Yoongi selalu menyarankan Jimin untuk segera mencari pekerjaan agar ia tidak akan kehabisan uang nantinya. Sebenarnya topik mengenai pekerjaan sedikit sensitif bagi Jimin. Namun, bertemu besok pagi dengan Yoongi? Tentu saja Jimin mau.
You
Baiklah, hyung. Bertemu dimana? Kafe tadi terlalu jauh dari arah rumahmu. Bagaimana bila kita bertemu di tempat makan J? Aku ingin makan ramyun milik tempat makan itu lagi~ Sangat enak! (01:46 PM)
Yoongi-hyung
Kalau begitu, kita bertemu disana pukul 10 pagi. (01:46 PM)
You
Jangan terlambat lagi, hyung! Bila kau terlambat, belikan aku tiga mangkuk ramyun~ :P (01:46 PM)
Yoongi-hyung
Dasar bocah (keke). Kali ini aku tidak akan terlambat lagi. Sampai jumpa esok hari. (01:47 PM)
You
Aku bukan bocah! Oke, hyung. Sampai jumpa~ (01:47 PM)
Jimin menghela nafas, lalu merebahkan tubuhnya kembali ke atas kasur biru muda empuk miliknya. Jimin sebenarnya sedang tidak ingin memikirkan pekerjaan, namun melihat kondisinya sekarang yang selalu mencoba irit memang mengharuskannya untuk mencari pekerjaan agar kondisi keuangannya selalu ada pemasukan. Memikirkan pekerjaan sangatlah membuat pusing Jimin, karena banyak pekerjaan yang ia tidak betah.
Setelah terlalu banyak berpikir tentang pekerjaan, Jimin menutup matanya dan terlelap dalam tidurnya.
Esok harinya, Yoongi bangun lebih pagi dari hari kemarin. Ia ingat bahwa ia harus menyetel alarmnya dengan benar pada malam hari sebelumnya. Yoongi kini dapat mandi dengan santai dalam bathub miliknya bersama dengan sabun gelembung beraroma jeruk yang mengisi air hangat dalam baknya. Yoongi merendam tubuhnya sambil memikirkan nada-nada dalam musik yang akan ia buat.
Setelah hampir satu jam Yoongi berendam dalam bathub-nya, Yoongi membangkitkan tubuhnya dan mengeringkannya dengan handuk lembut miliknya. Yoongi segera keluar dari kamar mandi dan memakai kemeja hijau tua dan ripped jeans biru, memasang jam tangannya yang ia pakai kemarin saat bertemu dengan Jimin, kemudian menyisir rambut hitamnya dengan rapi. Yoongi mengambil dompet dan handphone miliknya, ia juga mengambil skrip drama Minho untuk melihatkannya kepada Jimin nanti dan kemudian ia berjalan keluar dari rumahnya dan segera mencari tumpangan.
Menaiki taksi yang berhenti saat melihat Yoongi yang sedang mencari tumpangan, Yoongi mendapati bahwa sopir taksi itu adalah orang yang sama dengan sopir taksi yang ia tumpangi kemarin saat bertemu dengan Jimin di kafe kopi.
"Senang bertemu dengan Anda lagi, pak." Yoongi menyeringai kearah sopir taksi yang kemudian membalas sapaan Yoongi dengan senyumannya yang hangat.
"Senang bertemu dengan Anda. Ingin pergi kemana?" sopir taksi itu kembali menggas taksinya untuk bersiap-siap mengendarainya kearah tujuan.
"Tolong antar saya ke tempat makan J, pak."
"Baiklah. Cuaca hari ini sangat bagus, semoga tidak ada kemacetan seperti hari kemarin. Dan saya harap saat sampai di tujuan nanti hujan tidak akan turun." sopir itu tertawa kecil sambil mengendarai taksinya.
"Saya harap juga begitu." Yoongi terkekeh sedikit.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan nyaman, sopir taksi itu menyalakan radio dalam taksinya. Radio itu memutar lagu Yoongi- membuat Yoongi sedikit kaget. Ia berpikir apakah sopir taksi ini menyadari Yoongi sebagai komposer lagu ini atau tidak, tapi kemudian ia hanya menggelengkan kepalanya lalu menatap keluar jendela.
"Lagu-lagu Anda benar-benar menyentuh para hati pendengar. Suara malaikat milik Park Soomin juga mungkin salah satu faktornya." mendengar sopir berkara seperti itu, Yoongi segera membalikkan wajahnya untuk melihat kearah sopirnya yang kini tersenyum sangat lebar.
"Ah, jadi Anda mengenal saya." ucap Yoongi tersenyum malu sambil mengusap belakang lehernya. Sopir itu melirik sebentar kearah Yoongi melalui spion kaca diatasnya, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan.
"Tentu. Jujur saja, saat saya melihat Anda kemarin, saya hampir tidak mengenal Anda. Namun saat radio dalam taksi memutar lagu Anda, saya tersadar bahwa Anda adalah Min Yoongi- produser musik yang juga member dari boyband Bangtan Sonyeondan. Sungguh, mengingat penampilan Anda yang mencolok dulu saat BTS masih aktif, membuat saya tidak mengenal Anda sekarang dalam sekali tatap. Sekarang Anda terlihat seperti orang yang biasa-biasa saja." Yoongi tertawa mendengar ucapan sang sopir.
"Mungkin karena saya mengecat rambut saya kembali menjadi warna hitam. Dulu saat BTS masih aktif, saya termasuk member yang terkenal dengan warna-warna rambutnya yang mencolok. Jadi wajar saja saya terlihat seperti orang biasa sekarang dengan warna rambut saya yang hitam."
"Benar sekali. Memangnya, mengapa Anda mengecat warna rambut Anda dengan warna hitam?" tanya sang sopir sambil menoleh kearah Yoongi, perlahan-lahan memberhentikan mobilnya saat lampu merah menyala.
"Tidak apa-apa. Saya hanya tidak ingin terlihat mencolok. Saya kini hanyalah seorang produser musik yang tidak sering menampakkan dirinya dalam dunia televisi. Saya hanya ingin kehidupan layaknya manusia biasa yang penuh dengan ketenangan dalam mengerjakan pekerjaannya."
"Pasti sangat melelahkan bila hidup menjadi orang yang terkenal seperti Anda. Memang kenyataannya, hidup dalam kesederhanaan dan ketenangan itu adalah harapan sebagian orang-orang yang terkenal. Saya yakin itu." Yoongi mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan sang sopir yang sangat benar.
Lampu hijau kembali menyala, dan keheningan yang nyaman pun kembali mengitari mereka. Namun tidak lama kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Yoongi mengambil dompet yang berada di saku belakang ripped jeans miliknya, dan memberikan sejumlah uang kepada sang sopir. Melihat jumlah uang yang lebih banyak dari harga yang seharusnya ia bayar, sopir itu membelalakkan matanya.
"Yoongi-ssi, uang yang Anda berikan terlalu banyak." sang sopir segera memisahkan uangnya agar uangnya kini berjumlah pas, dan memberikan kembali lebihannya kepada Yoongi.
"Ambil saja, pak. Anda membuat perjalanan ini sangat nyaman. Saya harap saya bisa bertemu dengan Anda lagi." Yoongi tersenyum sambil mendorong pelan tangan sang sopir yang tengah memberikan uang Yoongi kembali kepadanya.
"Terimakasih banyak, Yoongi-ssi. Saya doakan kesuksesan dalam karir Anda." ucap sang sopir sambil tersenyum lebar. Yoongi membalas senyuman itu dengan lebih lebar, dan kemudian ia keluar dari taksi itu. Sang sopir melambaikan tangannya kearah Yoongi dari dalam taksi dan Yoongi membalas lambaian itu, lalu sang sopir menggas taksinya untuk mencari penumpang lainnya.
Yoongi berjalan memasuki tempat makan yang ia janjikan bersama Jimin. Yoongi melihat-lihat ke segala arah dan ia masih tidak menemukan sesosok lelaki berambut coklat, kemudian ia melihat kearah jam tangan yang ia pakai. Waktu masih menunjukkan pukul 09:45 AM. Tanpa basa-basi, Yoongi duduk di tempat yang tidak terlalu ada banyak orang. Pelayan datang dan Yoongi pun memesan pesanan yang Jimin inginkan, yaitu ramyun kesukaannya dan Yoongi memesan niku udon yang merupakan makanan favoritnya sendiri.
Beberapa menit kemudian, pintu masuk kembali terbuka dan muncul seorang lelaki berambut coklat dengan sweater abu-abu yang ia kenakan. Lelaki itu, Park Jimin, melihat sesosok Yoongi yang juga melihatnya dari tempat duduknya. Yoongi tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Jimin dan Jimin segera mendatangi Yoongi sambil tersenyum lebar.
"Lihat sekarang siapa yang terlambat." goda Yoongi sambil memandang keluar jendela, senyumannya masih tersirat di bibirnya yang tipis. Walaupun ia tidak memandang kearah Jimin, tapi ia tahu Jimin sedang cemberut.
"Aku tidak terlambat, hyung! Ini masih pukul 09:48 AM!" bantah Jimin sambil menggembungkan pipinya dengan lucu. Yoongi dapat melihatnya dari sudut matanya, dan itu membuat Yoongi menyumpah dalam hatinya bahwa tidak ada makhluk yang lebih manis dan imut daripada Jimin.
"Baiklah, baiklah. Oh iya, lihat ini." Yoongi memberikan skrip drama Minho kepada Jimin, dan Jimin langsung mengambilnya dan mengamati halaman depan skrip itu- matanya membelalak begitu melihat ada foto Seokjin disitu.
"Jin-hyung memerankan drama?!" seru Jimin kaget dan ia langsung menutup mulutnya dengan tangannya, takut orang-orang sekitar terganggu dengannya.
"Begitulah. Awalnya aku juga kaget, lalu aku langsung menelponnya saat itu juga, untuk menyelamatkannya atas debut pertamanya sebagai pemeran utama," Yoongi tertawa kecil dan ia melihat Jimin dengan ekspresinya yang masih kaget dengan tangan yang menutup mulutnya- matanya tidak berpindah sedetik pun dari kertas yang ia lihat daritadi. "Jadi, begini. Kau ingat kan, mengapa aku mengajakmu untuk bertemu denganku hari ini?" tanya Yoongi sambil menengakkan posisi ia duduk dan menatap mata Jimin dalam.
Jimin menatap kearah Yoongi dan dengan segera ikut menegakkan posisinya, menaruh skip drama di atas meja. "Iya, hyung. Apa kau ingin aku jadi pemeran dalam drama ini bersama Jin-hyung? Bila begitu, aku akan katakan 'big no'. Suaraku tidak cocok untuk ber-acting, hyung. Kau tahu itu." Jimin memutar kedua bola matanya, lalu kembali menatap Yoongi dengan malas.
"Bukan begitu, bodoh." Yoongi menghela nafas, mengusap wajahnya dengan telapak tangannya setelah mendengar dugaan Jimin yang tidak masuk akal. "Jadi, begini. Aku ingin kau berkolaborasi denganku dalam mengisi soundtrack drama ini." jelas Yoongi kembali menatap mata Jimin dalam-dalam. Suaranya terdengar sedikit berat saat mengatakannya.
Mata Jimin melebar- kaget. Jimin sangat kaget mendengar tawaran dari Yoongi. Ia sangat tidak menduga bahwa Yoongi akan memintanya untuk bernyanyi dalam lagunya. Jimin segara mengalihkan pandangan matanya dari Yoongi, dan kini Jimin menunduk dan menatap meja yang berada di depannya. Jimin tidak berbicara sepatah kata pun, dan bahkan nafasnya terdengar tersengal-sengal.
Yoongi meneguk liur, kembali membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu sebelum Jimin berbicara. "Hyung, kau bodoh?" kini Jimin menatap mata Yoongi dalam-dalam. Tatapannya terlihat penuh dengan perasaan kesedihan juga perasaan marah.
"Jimin-"
"Kau tahu bahwa aku sudah tidak bisa bernyanyi lagi, dan kini kau malah memintaku untuk bernyanyi? Hyung, apa kau berpikir bahwa aku yang sekarang ini tidak bisa bernyanyi lagi hanyalah sebuah bohong belaka?" wajah Jimin sedikit memerah, pipinya terasa hangat. Tidak hanya pipi, sekujur tubuhnya terasa hangat dan tenggorokannya sedikit sakit saat berbicara.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Jimin. Aku tahu kau tidak bisa bernyanyi lagi, tapi aku mohon-"
"'Aku mohon bernyanyilah, karena aku yakin kau pasti akan bisa bernyanyi kembali' itu, kan, yang ingin kau katakan, hyung?" Jimin mengepal kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap sedikit dalam pada kulitnya. Yoongi sedikit tersentak, namun kemudian ia kembali membuka mulutnya.
"Jimin!"
"Hyung! Aku sudah membuat malu agensi karena membatalkan karirku sebagai soloist, dan kau pikir aku masih pantas untuk muncul di dunia televisi? Sudahlah, hyung. Hentikan." Jimin mencengkram kuat sweater-nya, ia kembali menunduk.
Yoongi tidak bisa berkata apa-apa, ia sangat takut menyakiti Jimin lebih dari ini. Tapi ini semua ia lakukan demi Jimin. Yoongi ikut menunduk, menatap meja yang mungkin bila ia adalah benda hidup, meja itu sudah menatap Yoongi sinis.
"Hyung, aku tahu niatmu sangat baik untuk mencarikanku pekerjaan." Jimin beranjak dari kursinya. "Tapi, kau menyakitiku, hyung." Jimin segera pergi- menghilang dari pandangan Yoongi.
Kini Yoongi hanya sendiri, masih dalam posisinya yang menunduk. Hingga akhirnya sang pelayan datang dan menaruh dua mangkuk ramyun hangat.
"Silahkan." ucap sang pelayan sambil tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan Yoongi yang masih termenung dalam dunia pikirannya. Yoongi melihat kearah depannya- dua mangkuk ramyun. Masih hangat. Namun, entah kenapa, begitu melihat kursi depannya tidak ada yang menempati, hatinya kembali mendingin. Ia mengambil satu mangkuk yang berisi niku udon, dan memisahkan kedua sumpit kayu yang masih menyatu lalu melahap makanannya.
Ia tersenyum miris dan bergumam, "Bodoh. Mana bisa niku udon menghangatkan hatimu."
.
.
.
TBC
HAHAHA akhirnya bisa update juga setelah sekian lama ditumpuk sama tugas sekolah dan ulangan harian /cry/. Sebagai gantinya, saya bikin chapter ini agak panjangan deh~ Tapi maaf, saya males (lagi) buat ngeliat ulang jadi maaf kalo ada typo atau apapun yang membingungkan /plak
Hayooo yang review pada ngira bakal fluff-fluff yaaaaa maaf aja, ini bakal agak sedih-sedih gitu /KETAWA JAHAT/ Hayoo kenapa Jimin-nya gabisa nyanyi lagiiii~ /dilempar
Terus review yaaa~! Makasih yang udah ngereview selama iniiii ^^
