The original story belongs to rawrchelle
Characters © Masashi Kishimoto
.
.
. . . . . . . . . . . . . . .
(deg. deg. deg.)
"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Ke mana kita pergi?"
Hening.
"Kita bisa terus mencari Naruto."
Sasuke-kun. Sasuke-kun.
Sasuke-kun?
"Kau bersedia melakukannya?"
Mengapa sisi manusiamu hanya muncul ketika aku nyaris pergi?
Mengapa kau hanya menyerah ketika diriku retak dan di ambang kehancuran?
"Aku… tidak punya apa-apa lagi."
Sasuke-kun.
"Jangan menyentuhku, Sakura."
(hangat. sedu. air mata.)
"Kau masih memilikiku."
(hembuskan.)
Kau masih memilikiku.
. . . . . . . . . . . . . . .
Sasuke semata-mata hanya mempunyai libur akhir pekannya. Lagipula, untuk sebagian besar waktu, pria itu hanya tinggal di kantornya dan mengerjakan pekerjaan. Tampaknya pekerjaannya banyak termasuk tentang dokumen legal. Sakura biasanya akan memeriksa pasien, bermain Resident Evil, atau memakan semangkuk ramen bersama Naruto di dapur.
Jika mungkin, ia akan bilang bahwa dirinya bahagia. Tapi untuk beberapa alasan, itu tidak cukup.
(tidak ada yang pernah cukup.)
Lebih sering daripada tidak, ia akan menangkap dirinya menatap penuh kerinduan ke luar jendela. Entah bagaimana, halaman belakang terlihat membosan dibandingkan dengan seluruh dunia. Mengemudi ke pantai pada malam hari dalam sebuah truk bukan apa-apa ketika ia membayangkan kota.
Ia dan Sasuke punya sebuah rahasia. Sesuatu yang bahkan Naruto—sahabat Sasuke—tidak tahu.
Mereka berlatih. Sasuke melatih apinya, dan ia memperhatikan. Pria itu pernah mengatakan padanya kalau di dalam mimpinya, Sakura bisa menyembuhkan orang-orang seperti sihir—tangan Sakura akan bersinar, dan luka-luka akan sembuh dengan ajaibnya.
Ia hanya bisa berharap itu benar.
Tapi ia memulainya dengan hal biasa dulu. Paling tidak, apa yang Sasuke pikir hal biasa. Pria itu pernah bilang kalau mereka bisa berjalan di atas air—semua orang bisa melakukannya—jadi ia mencobanya. Sasuke bisa melakukannya dengan bertahap; kakinya masih terendam di dalam air, tapi tetap berdiri.
Dan jika ada suatu koneksi antara mimpinya dan kehidupan ini, Sakura akan menerimanya.
. . . . . . . . . . . . . . .
FADING AWAY
. . . . . . . . . . . . . . .
Ia senang pergi keluar kota dengan Sasuke.
Mungkin itu karena hanya itu waktu di mana dirinya mendapatkan pengalaman tentang dunia luar, disamping kenyataan bahwa udara terasa dingin dan gelap, dan kebanyakan orang sedang tidur. Sedikit sepi, tapi ia memang sudah kesepian sepanjang hidupnya—jadi tidak begitu berbeda.
(ia suka aroma truk, dan duduk dalam keheningan bersama sasuke.)
"Naruto-sama, kau mengemudi, benar?"
Si pirang mengerutkan hidungnya. "Berhenti memanggilku seperti itu, Sakura-chan. Itu menyeramkan. Panggil saja aku Naruto."
Ia ragu-ragu sejenak, karena dirinya selalu menempelkan suffix pada setiap akhiran nama semua orang. "Naruto?" ia mencobanya, merasa seolah-olah ia akan dihukum untuk itu.
Naruto menyeringai. "Begitu. Dan ya, aku mengemudi. Kenapa?"
"Bisakah kau mengajariku?" Naruto terlihat terkejut, dan Sakura segera tahu bahwa dirinya mengatakan sesuatu yang salah. "Maaf." Ia sedikit tertawa, tapi itu terdengar kosong. "Itu sebuah… lelucon. Apa itu lelucon yang bagus?"
Naruto menariknya ke dalam sebuah pelukan, seperti biasa—tapi itu masih mengejutkan Sakura. Kontak fisik bukan sesuatu yang dapat dibiasakannya dengan sangat cepat.
"Kau tahu, secara teknis, kau diizinkan untuk pergi keluar."
"Keluar?"
"Ya. Selama kau tidak mendapatkan masalah apapun atau urusan apapun yang memerlukan identitas atau apapun, kau akan baik-baik saja. Tak seorang pun bisa mengatakan kau ilegal. Hanya teme yang tidak ingin mengambil resiko."
Ia sedikit mengerutkan dahi. "Oh. Sasuke-sama hanya khawatir padaku."
Naruto mengibaskan tangannya. "Itulah masalahmu. Kau tidak pernah melakukan hal lainnya! Kau membiarkan Sasuke-sama membuat semua keputusan untukmu, dan kau bahkan tidak bisa berdiri untuk diri sendiri. Kau membiarkan dirimu dikurung di tempat ini, dan satu-satunya waktu kau pernah menghirup udara luar adalah ketika kami berdua menemanimu ke halaman belakang, atau ketika Sasuke mengantar beberapa orang-orang ilegal seperti, Siberia, atau sesuatu."
Ia mengerjap. "Tapi Sasuke-sama pemilikku."
(ia bukan apa-apa tanpa sasuke.)
"Persetan," Naruto mendengus. "Aku akan mengajarimu cara mengemudi."
. . . . . . . . . . . . . . .
"Kenapa kau sangat mencintai tomat?"
"Ketika aku kecil, Ibuku punya kebun tomat. Aku tidak mencintai tomat."
Ia menelan ludah.
"Aku menciantai Ibuku."
. . . . . . . . . . . . . . .
"Apa arti sebuah nama?" ia membaca nyaring. "Itu yang kita sebut mawar dengan nama lain akan bau manis."
"Shakespare." Sasuke menaikkan satu alis. "Aku tidak membawamu untuk menjadi orang seperti itu."
"Aku sudah menyelesaikan semua buku medis dan ilmu pengetahuanmu," ucapnya malu-malu. "Aku berpindah ke sastra sekarang." Bukan berarti ia tidak tertarik dengan sastra yang sebenarnya—hanya saja sastra memprovokasi perasaan pembaca, dan dirinya tidak benar-benar mempunyai perasaan yang berfungsi dengan sempurna. Ia tidak merasakan apapun termasuk ketika dirinya membaca buku itu. "Sasuke-sama—"
"Untuk sekali, aku pikir aku akan mengambil kata-kata Naruto. Panggil aku Sasuke saja."
Ini benar-benar di luar batas. Naruto, ia bisa mengerti, karena pria itu hanyalah seorang teman—memang benar, kan? Ia belum bisa benar-benar menerapkan hal itu—tapi Sasuke? Sasuke punya kepemilikan atas dirinya. Ia tidak punya hak untuk memanggil Sasuke dengan cara sama.
Ia menggelengkan kepalanya dengan gelisah. "Tidak. Sasuke-sama adalah Sasuke-sama."
Bibir Sasuke sedikit melengkungkan seringai kecil. "Apa arti sebuah nama?" tanyanya, mengulangi kata-kata Sakura. "Itu yang kita sebut mawar dengan nama lain akan bau manis."
Tapi jika Sasuke beralasan seperti itu, ia tidak bisa menentangnya.
Ia ragu-ragu ketika kembali bicara. "S…Sasuke," berhenti sejenak, berharap Sasuke tidak akan memarahinya. "Kapan kita meninggalkan kota lagi?"
Sasuke kembali ke pekerjaannya. "Lusa. Mengapa kau bertanya?"
"Kita hanya belum pergi akhir-akhir ini." sejak hari di mana dirinya bersama Naruto, ia merasa benar-benar dibatasi, tak peduli betapa luas mansion ini. Sebagian besar waktu, ia habiskan di ruang bawah tanah, kamarnya, dapur atau ruang tamu. Ia selalu berada di sayap timur. Ia sudah tahu beberapa waktu lalu bahwa daerah Itachi berada di sayap barat, jadi ia mencoba untuk menghindarinya sebisa mungkin.
"Lagipula yang kau lakukan hanya tidur saat menuju ke sana dan saat kembali."
"Aku juga memperhatikan!"
Sasuke terlihat geli. "Tentu saja." kemudian menghela. "Aku hanya sibuk akhir-akhir ini."
"Apa yang kau lakukan seharian?"
Sasuke menatapnya cukup lama. ia sudah terbiasa dengan ini—bahkan, menikmatinya—karena ia tahu kalau Sasuke sedang memikirkan dirinya dan merenungkan tentang apa yang harus pria itu katakan padanya. Terkadang, ia ingin berpikir bahwa Sasuke sedang memikirkan apa yang akan dikatakan untuk membuatnya bahagia.
"Tak ada yang perlu kau khawatirkan," ucap Sasuke akhirnya, mendorong kacamatanya lebih tinggi di batang hidungnya.
Hanya keheningan beberapa saat selanjutnya; ia sedang membaca Romeo and Juliet, dan Sasuke mengerjakan pekerjaannya. Begitu nyaman—sebelum dirinya bertemu Sasuke, ia bahkan tidak pernah menyangka akan mempunyai hidup seperti ini.
Tapi akankah ini sebuah akhir?
(semua hal baik datang untuk sebuah akhir.)
"Mereka…" ia mengendikkan bahu untuk membentuk kata-katanya. "Romeo dan Juliet saling mencintai."
Sasuke tidak mendongak. "Ya, benar."
Ia mengerutkan dahi. "Mereka bersedia mengorbankan nyawa mereka untuk yang lainnya."
"Ya, benar."
"Itu… agak bodoh."
Akhirnya, Sasuke meliriknya. "Ya, benar."
Ia tersenyum kecil. "Aku tidak akan pernah menjadi seperti mereka."
"Baiklah."
(semua hal baik datang untuk sebuah akhir.)
. . . . . . . . . . . . . . .
(deg. deg. deg.)
"Dingin sekali…"
"Apa yang kau harapkan di Negara Bumi?"
Apakah salah untuk bilang aku tidak keberatan?
Apakah egois untuk bilang meskipun aku kehilangan segalanya, dan sahabatku menghilang…
Menghabiskan waktu bersamamu tidak masalah sama sekali?
Apakah salah untuk bertanya jika kau merasakan hal yang sama?
"Apa yang membuatmu berpikir kemungkinan Naruto berada di sini"
(bernapas. bernapas. bernapas.)
"Ketika terakhir kali aku berhubungan dengan Akatsuki, markas sementara mereka ada di sini."
"Dan kau tahu mereka memiliki Naruto?"
"Ya."
Sasuke-kun yang pintar.
(menggigil.)
"Bagaimana caramu bertahan dari udara dingin?"
"Aku membuat api."
(hangat.)
Sasuke-kun, kau sangat hangat.
"Aku rasa aku sudah bilang berhenti bersandar padaku."
"Aku akan melakukannya, tapi berbagi kehangatan tubuh mungkin menjadi cara aman untuk bertahan dalam temperatur seperti ini."
(bernapas. bernapas…)
Kau berusaha menyembunyikannya, tapi kau sangat hangat.
"Hn."
(... bernapas.)
. . . . . . . . . . . . . . .
Ia sudah menghabiskan sepanjang hari untuk berlatih. Dan akhirnya, hari ini, ia bisa berdiri di atas air.
Ia mengisi penuh bak mandi besar, dan sudah berusaha berdiri di atasnya selama beberapa jam. Dan akhirnya, sekarang, ia bisa. Tepat di permukaan. Tidak terendam, seperti Sasuke—tapi tepat di atas, hanya membuat sedikit riak dari gerakannya.
Ini seperti sihir. Dan sekarang, ia tahu, ia butuh sedikit sihir dalam hidupnya.
(apa saja yang membuatnya tetap berharap bahwa ada banyak hal di dunia daripada mansion uchiha dan dunia malam.)
Dan sekali ia bisa berdiri di atas air, ia berpikir jika dirinya bisa berdiri di atas benda lainnya. Seperti dinding. Atau langit-langit.
Ia menemukan bahwa dirinya bisa—ia hanya belum cukup menguasainya. Dan itu membuatnya sangat bangga, karena apa Sasuke mengetahui ini? Apa Sasuke tahu bahwa mereka bisa berjalan di dinding dan langit-langit?
Ia menunggu Sasuke pulang malam itu untuk memberitahunya. Untuk mengatakannya pada Sasuke, dan pergi keluar dengan truk dan membawa pasiennya ke pelabuhan untuk mengirim mereka pergi ke tempat yang lebih baik. Ia tidak sabar. Ia sudah lama tidak menghirup udara luar.
(antisipasi. gembira. bersemangat.)
Ketika waktu makan malam bergulir dan Sasuke belum kembali, ia menemukan sebuah tomat di kulkas dan menggigitnya sedikit. Tidak sesuai dengan seleranya, tapi ia tidak bisa memasak apapun dengan benar, jadi ia memakannya. Dan ketika dirinya selesai, ia membuat cokelat hangat untuk menghilangkan rasa tomat tadi.
Tapi bahkan setelah tengah malam, Sasuke tidak di sana. Dan dirinya merasa khawatir.
Sasuke mungkin hanya tertahan di tempat kerja. Itu biasa terjadi. Tapi Sasuke bilang dia akan berada di sini—dan dia tidak pernah terlambat.
Ia mengerutkan dahi. Pasien-pasiennya menunggu. Ia sudah bilang pada mereka kalau mereka akan bebas malam ini, jadi mereka mungkin lebih tidak sabar daripada dirinya.
Mungkin ia harus melakukannya. Mungkin ia harus membawa mereka, dan mengantar mereka keluar kota dan mengirim mereka pergi. Ia sudah sering melihat Sasuke melakukannya—dan ia tahu kemana harus pergi, karena ia hampir seperti robot, dan hanya tahu hal-hal ini, meskipun lebih sering tertidur dalam perjalanan.
Sasuke tidak pernah mengatakan kalau ia tidak boleh mengambil sesuatu dengan tangannya sendiri. Ia berdiri, jantung berdebar-debar di tulang rusuknya.
Memang hal yang benar Naruto mengajarinya cara mengemudi.
. . . . . . . . . . . . . . .
"Dia meninggal sebelum sampai di sini, Sakura. Ini bukan kesalahanmu."
Ia tidak berhenti melakukan CPR. "Tapi aku bahkan tidak mendapat kesempatan untuk menyembuhkannya—"
"Dia mati. Biarkan dia pergi."
"Tapi—"
Sasuke meletakkan tangannya di pergelangan Sakura, dan menghentikan pergerakannya.
"Ada beberapa hal yang hanya harus kau biarkan untuk pergi."
. . . . . . . . . . . . . . .
Pria itu mengerutkan dahi. "Di mana Uchiha-san?"
"Oh. Dia… um, sibuk malam ini. Jadi aku membawa mereka sebagai gantinya."
"Sendirian?"
"Dia membiarkanku." Tegasnya. Pria itu terlihat ragu. Tapi ia tidak bisa membawa pasiennya kembali sekrang—mereka sedang menunggu di dalam truk. Bahkan ada seorang wanita muda yang mengatakan padanya tentang bagaimana wanita itu akan menemukan kehidupan baru, dan seorang pria yang dia cintai, dan menetap untuk mempunyai anak.
Ia tidak bisa kembali sekarang.
(tidak ketika ia datang sejauh ini. tidak ketika ia berusaha keras untuk melakukan sesuatu yang berharga.)
"Aku tidak bisa mengirim mereka tanpa tanda tangannya," ucap pria itu menghela. "Kau tidak sah."
"Kalau begitu, aku yang akan menandatanganinya! Kumohon? Mereka benar-benar ingin pergi." Dan ia berharap ini akan bekerja—karena jika tidak, jika pria ini benar-benar menginginkan tanda tangan Sasuke, maka ia akan berada dalam masalah besar saat kembali.
Pria itu mengerutkan dahi. "Aku bersumpah jika aku mendapatkan masalah karena ini, kau adalah orang pertama yang akan kuburu."
Ia mengangguk. "Oke!"
Ketika ia menulis Sakura di kertas, itu terlihat tidak professional, kontras dengan tanda tangan indah milik Sasuke. Lalu ia mulai meragukan dirinya.
Ia menarik napas dalam, bertekad.
Menyengir, ia melangkah ke truk dan membuka pintu belakang. Memberi isyarat pada pasiennya untuk keluar, dan mereka muncul, satu per satu. "Pergi ke sana," ucapnya, menunjuk pada pria yang sekarang berada di perahu. "Dia akan membawa kalian pergi."
Wanita muda yang menceritakan padanya tentang impiannya menyambar tangannya. Dan Sakura sadar, wanita itu memiliki mata biru, lebar dan penuh dengan harapan.
"Terima kasih," bisiknya pelan.
Kata-kata itu menggema di pikirannya.
(terima kasih. terima kasih. terima kasih.)
"Sama-sama."
. . . . . . . . . . . . . . .
"Mimpi itu berkabut, benar?"
"Ya."
"Tapi meskipun aku tidak pernah mengingat mimpiku, aku tahu mimpiku selalu… jelas. Semuanya menjadi berkabut ketika aku bangun."
"Mungkin kita salah."
"Apa maksudmu?"
"Mungkin hidup inilah mimpi kita."
"…"
"…Dan mimpi itu adalah hidup kita."
. . . . . . . . . . . . . . .
Ia merasa lelah ketika kembali. Yang ia inginkan hanyalah mandi air hangat, cokelat hangat, lalu mengubur diri di tempat tidur.
Sayangnya semua tidak berjalan sesuai rencananya.
(tak satu pun pernah.)
Sasuke sedang duduk di ruang tamu ketika ia kembali, tapi ia tidak sadar, karena ia begitu lelah. Ia sedang berjalan susah payah ke kamar mandi, ketika dirinya merasakan cengkeraman erat di pergelangan tangannya. Ia berbalik, bertemu dengan mata gelap, penuh kemarahan.
"Darimana," desis Sasuke lambat, "kau?"
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa takut. Ia sudah pernah takut pada Itachi, ia pernah takut pada pasiennya yang mencekiknya sampai hampir mati—tapi ia tidak pernah takut pada Sasuke sebelumnya. Dan ini adalah pertama kalinya ia pernah melihat wajah Sasuke berkerut penuh kemarahan, kemarahan mutlak—
"Aku…" ia menelan ludah. "Ke pelabuhan. Membawa… pasien… ke pelabuhan." Ia menemukan dirinya sulit bernapas dan membentuk kalimat yang jelas.
"Kapan" ia mengernyit ketika cengkeraman Sasuke semakin mengerat di pergelangan tangannya—"aku pernah"—Sasuke menyandar lebih dekat padanya—"mengijinkanmu melakukan itu?"
"Aku—maafkan aku," ia terengah-engah, berusaha menjauh. Cengkeraman Sasuke menyakitkan. "Kumohon. Maafkan aku."
"Apa kau sadar konsekuensi yang bisa terjadi jika kau ditemukan? Apa kau tahu apa yang bisa terjadi padamu? Kau bisa mati. Kau bisa ditemukan oleh pemerintah dan dieksekusi. Dan siapa yang harus disalahkan? Aku. Kau akan menjadi kematianku."
Apakah salah untuk berpikir Sasuke indah? Apakah salah untuk berpikir bahwa, saat Sasuke mendekat padanya, benar-benar menggelegak, pria itu tetap menjadi hal terindah yang pernah dilihatnya? Ia menggigit lidahnya untuk menahan airmata dalam matanya.
(maaf. maaf. maaf.)
"Kau—kau terlambat, dan aku pikir—"
"Kau tidak memikirkan apa-apa. Kau tidak merasakan apa-apa." Sasuke mengambil satu langkah mendekat padanya, dan ia tersandung mundur, membentur dinding. "Kau adalah Sakura, kau hanyalah seorang dokter, dan jika aku ingin, aku bisa membunuhmu sekarang juga."
"Maafkan aku." Suaranya bergetar. Airmata bergulir di pipinya, tapi ia tidak tahu mengapa. Orang menangis ketika mereka sedih—tapi ia tidak sedih. Ia ketakutan.
Sasuke cukup dekat untuknya merasakan napas hangat pria itu di mulutnya. Sasuke cukup dekat untuknya bergerak sedikit, dan hidung mereka akan bersentuhan. Sasuke cukup dekat untuk melelehkannya dengan mata onyx pria itu. Pergelangan tangannya terbakar. Sasuke menghambat sirkulasi di tangannya.
"Sakit," rengeknya.
Beberapa saat keheningan menegangkan. Dan akhirnya, Sasuke melonggarkan cengkeramannya. Tapi jari ramping itu masih melingkari tangan Sakura.
"Aku tidak bisa," ucap Sasuke perlahan, bernapas dalam, "melakukan ini tanpamu. Aku tidak bisa menemukan alasan mengapa aku bermimpi tentangmu jika kau tidak di sini."
"Aku…" Sakura menelan ludah. "Maafkan aku." Dan tiba-tiba, rasa sakit di pergelangan tangannya adalah hal terakhir yang ada di pikirannya saat ia menghembuskan napas perlahan, menyandar pada dinding di belakangnya. Sasuke terlihat begitu lelah; ada kantong mata di bawah matanya, posturnya membungkuk, dan terasa seperti dia mengatakan tolong, tolong jangan lakukan ini padaku.
Tapi Sakura tidak begitu yakin, karena dirinya tidak pernah ahli dalam membaca seseorang, apalagi Uchiha Sasuke.
(ia bahkan belum memberitahu sasuke bahwa ia bisa berdiri di atas air. Ia bahkan belum memberitahu sasuke bahwa ia bisa melakukan hal yang tidak mungkin.)
"Ayo tidur," saran Sakura pelan. "Aku akan mengantarmu kembali ke kamarmu." Dan Sasuke mundur tanpa kata, dan berjalan ke kamarnya bersama-sama dalam diam. Jantung Sakura masih berdebar dari adrenalin, dan ia menjaga jarak dari Sasuke saat mereka menyusuri lorong kosong.
(insting sudah ada bersamanya sejak awal.)
Ia hanya pernah berada di kamar Sasuke beberapa kali. Kamarnya besar dan nyaman, dengan dekorasi merah. Piyama Sasuke terlipat rapi di atas tempat tidur, dan Sasuke melepaskan pakaiannya dan memakai piyamanya. Sakura dengan sopan membalikkan badan sampai Sasuke selesai.
"Pakai ini." Sakura berbalik dan Sasuke melemparkan kaos dan celana pendek padanya. Ia mencoa menangkapnya, namun gagal.
"Kenapa?"
"Lakukan saja." Dan Sasuke menghilang ke kamar mandinya. Bingung, Sakura mengganti pakaiannya, mendapati baunya seperti Sasuke.
(baunya seperti rumah.)
Ketika Sasuke kembali, dia naik ke tempat tidur dan mengambil buku yang terletak di nakas, membuka dan membacanya.
"Kau benar-benar harus tidur." Ucap Sakura takut-takut. "Kau terlihat lelah."
"Kau juga," ucap Sasuke datar, tanpa mendongak. "Pergi sikat gigimu, lalu kembali ke sini."
Sakura melakukannya, dan ketika ia kembali, Sasuke sudah menyingkirkan bukunya dan berbaring di bawah selimut, matanya tertutup. Napas Sasuke pelan, napas Sakura pelan—semuanya pelan.
(kedamaian sementara.)
Senyum kecil menghiasi bibirnya, dan ia bahkan bertanya-tanya apakah sepuluh menit lalu benar terjadi. Sasuke yang marah menghilang begitu cepat—dan berpikir bahwa pria itu ada ketika Sasuke yang ini sedang tidur hanya membuatnya merasa aneh.
Ia berjinjit pelan ke nakas Sasuke untuk mematikan lampu, ketika tangan Sasuke melesat dan menyambar pergelangannya yang sakit. Ia tersentak.
"Masuk ke kasur." Ucap Sasuke, sebelum melepaskannya. Sakura mendesah lega, dan merangkak di samping Sasuke, di bawah selimut. Sasuke mengulurkan tangan dan mematikan lampu, sebelum bergerak ke posisi yang nyaman. "Mulai sekarang"—suara Sasuke mulai menghilang—"kau akan selalu berada di bawah pengawasan. Tanpa pengecualian."
"Baik." Suara Sakura juga mulai menghilang; ia juga kelelahan.
(kedamaian sementara.)
.
.
To be continued…
