WEDDING ROMANCE [REMAKE]
...
Cash:
Xi Luhan (20thn/GS)
Oh Sehun (23th)
Kris Wu a.k.a Wu Yifan (26th)
Huang Zitao (23thn/GS)
Cash lainnya akan di temukan seiring dengan berjalannya waktu
Rated: T+
Genre: Drama, Romance, GS for UKE
.
.
.
Remake dari novel 'Wedding Romance' karya 'Chairun Najmi'
.
.
.
HAPPY READ!
.
.
.
BAB 4
Wu Yifan tidak berhenti terkekeh geli mendengar semua cerita Sehun mengenai pertengkarannya dengan Luhan kemarin. Merasa selalu lucu melihat sepasang suami istri itu setiap kali bertengkar. Selalu berakhir dengan ciuman panas seperti biasanya, pikir pria itu. Terkadang ia merasa cukup iri melihat kemasraan keduanya, tapi jika melihat keduanya dalam situasi tidak mengenakan seperti kemarin, ia jadi berpikir ulang untuk sekedar berharap memiliki rumah tangga seperti mereka berdua.
Saat ini keduanya tengah berada di kantin atas kampus yang lumayan sepi. Hanya ada beberapa orang yang berada di sana karena saat ini hampir semua mahasiswa berada dalam kelas masing-masing. Beberapa gadis-gadis yang duduk tak jauh dari mereka terdengar saling berbisik-bisik kecil. Bagaimana tidak? Kedua pria tampan milik universitas itu sedang berada di sana dan dapat membuat gadis manapun terpekik senang.
"Menurutmu apa ini sudah berakhir?" Sehun menaikkan sebelah alisnya, memandang Kris sembari menunggu jawaban. Tangannya membuka tutup botol minuman yang sempat ia beli tadi.
Kris mengedikkan bahunya ringan, "mungkin."
"Mungkin?" ulang Sehun. Jedua matanya menyipit pada Kris, lalu ia mendekatkan pinggir mulutnya botol minum itu pada bibirnya dan meneguk sebagian isinya.
Kris mengangguk kecil, melemparkan tatapan ke samping sembari menarik napas panjang. "Luhan adalah gadis yang sulit di tebak, Sehuna. Seharusnya kau tahu itu..." gumamnya pelan, bahkan Sehun menajamkan indra pendengarannya untuk itu. "Selama ini banyak gadis yang mengejar-ngejarmu. Menggilaimu seperti orang bodoh," sesaat Kris mengulum senyuman dan melirik Sehun yang merengut kesal. "Tapi istrimu tak pernah terusik dengan hal itu, 'kan?" sambungnya.
"Hm, lalu apa hubungannya?"
"Huang Zitao," jawab Kris secepat ekpresi wajahnya tampak berubah. Tatapan pria itu begitu serius pada Sehun. "Kau menyukainya?" tanya Kris.
Sehun mengernyitkan alisnya, lagi. Tersenyum simpul sebelum kembali meneguk minumannya. Ibu jarinya bergerak cepat pada sudut bibirnya yang basah untuk menyeka, "pertanyaan bodoh."
"Ya, aku menunggu jawabanmu!" desis Kris. Kali ini wajahnya tidak seserius sebelumnya.
"Dia hanya temanku, sedangkan Luhan..." Sehun menghela napas, mengambil fokus pada kedua mata Kris yang menunggu jawabannya, "nyawaku," sebelah sudut bibirnya tertarik ke samping membentuk senyuman miring andalannya. "Dan seingatku, aku sudah mengatakan hal itu padamu."
Kris mengangguk kecil. Wajahnya menunjukkan kelegaan. "Aku percaya padamu, Oh Sehun. Masalahnya, Luhan pasti belum sepenuhnya mempercayaimu."
"Aku tahu, makanya aku menemuimu," entah mengapa Sehun menunjukkan wajah kesalnya pada pria itu. "Luhan bilang, ada banyak hal yang selalu ia ceritakan padamu. Hanya padamu, Wu Yifan."
Kris tampak terkesiap. "Dia mengatakan hal itu?"
"Hm," Sehun mengguk malas. "Boleh aku tahu apa saja yang kalian ceritakan?"
Kris menyipitkan kedua matanya. "Aku selalu profesional, Sehuna. Semua rahasia pasien-pasienku akan aku lindungi."
"Sayangnya istriku bukan salah satu dari pasienmu!" sungut Sehun. Kris tergelak mendegarnya, tangannya menyambar botol minum milik Sehun lalu meneguknya tanpa permisi. Sehun masih menatapnnya menunggu. Sejak Kim ahjumma mengatakan sesuatu padanya mengenai Kris dan Luhan, pria itu tiba-tiba saja merasa cemas. "Kris-ya...," panggilnya.
"Hm, wae?"
"Kau tampan, kaya dan pintar."
"Hahaha, kau sedang tidak jatuh cinta padaku, 'kan?"
Sehun memutar bola matanya malas. "Justru aku ingin bertanya apa kau tidak pernah jatuh cinta pada seorang gadis?"
Kris tersenyum simpul. "Tentu saja pernah, aku pernah menyukai seorang gadis. Bahkan hingga saat ini, aku masih menyukainya. Tapi sayang," ia terkekeh pelan dengan mimik wajah miris. "Dia jatuh cinta pada pria lain."
WEDDING ROMANCE [REMAKE]
Luhan mendesah kecewa menemukan ruangan Kris kosong tanpa penghuni. Seperti biasa, gadis itu akan selalu mengunjungi tempat itu sekedar berkeluh kesah. Menceritakan apa saja yang telah terjadi padanya sepanjang hari ini pada Kris. "Kemana si naga bodoh itu?" gumamnya pelan. Kepalanya memutas sekitar untuk mencari keberadaan Kris.
Yakin jika pria itu tidak berada didalam ruangannya, ia kembali menyeretkan langkahnya keluar. Kakinya berjalan ringan di sepanjang koridor kampus. Sesekali mengembungkan pipinya lucu. Ia mulai memikirkan kegiatan apa yang harus ia lakukan pada jam kosong seperti ini.
Sempat berpikir menelpon Baekhyun yang hari ini tidak masuk, padahal gadis itu tidak pernah absen walau satu hari pun karena tak ingin melewatkan waktu untuk memeriksa pakaian seperti apa yang Sehun kenakan setiap hari. Luhan terkekeh pelan memikirkan hal itu. Terkadang merasa lucu dengan kelakukan Baekhyun.
"Gadis itu selalu..." bibirnya terbuka kecil ketika tatapannya terpaku ke arah lapangan basket. Kedua matanya mengerjap, menatap secara bergantian kedua pria yang tampak sedang bermain di sana dan diselingi dengan canda tawa. Ia melirik sekitar lapangan, terkejut melihat sudah banyak gadis yang mengelilingi lapangan itu. "Aigoo... sejak kapan mereka suka bermain basket?" gumamnya. Ia tertawa geli lalu melangkahkan kakinya mendekati kerumunan.
"Oh Sehun!"
"Wu Yifan!"
"Fighting!"
Segala teriakan terdengar di sana-sini. Luhan bahkan harus menutup telinganya dengan kedua tangannya saat memasuki kerumunan itu. 'Dasar gadis-gadis gila', batinnya. Meskipun ia sendiri termasuk salah satu dari mereka karena turut bergabung di sana. Ia bahkan mengambil barisan paling depan, dan mulai memperhatikan Sehun yang saling merebutkan bola untuk melemparkannya kedalam ring.
Luhan tersenyum kecil ketika melihat Sehun cukup sulit merebut bola itu dari tangan Kris. Pria itu tampak lebih fokus menyeka keringat di wajahnya daripada mencari cara agar mendapatkan bolanya. Gadis itu yakin jika suaminya mulai merasa tak nyaman dengan keringat yang sudah mulai membasahi tubuhnya hingga bentuk tubuh itu tercetak sempurna dari balik kemeja putihnya yang basah. Sehun memang tidak suka berkeringat karena itu membuatnya merasa kotor.
Sehun terlihat melemparkan senyum setengahnya pada Luhan hingga semua gadis yang berada di sekitar istrinya berteriak histeris. Pria itu tampak mengatakan sesuatu pada kris, mungkin ia mengatakan jika ada Luhan di sana karena Kris reflek menoleh ke arah Luhan dan melemparkan senyuman manisnya. Dan gadis-gadis itu kembali berteriak.
Luhan membalas senyuman kedua pria itu padanya. Masa bodoh dengan teriakan gadis-gadis ini, pikirnya. Toh, kedua pria itu tersenyum padanya. Ia dapat melihat Sehun melangkah meninggalkan Kris dan tampak mulai mendekatinya. Seketika jantuk Luhan berdegup kencang, 'jangan bilang dia ingin menghampiriku'. Ia mengerjap beberapa kali saat Sehun semakin mendekatinya. Tapi belum sempat Sehun sampai di tempatnya, tiba-tiba saja ada suara seseorang yang memanggil Sehun hingga ia membalikkan tubuhnya ke arah belakang.
"Ck, dia lagi...," sungut Luhan tajam.
"Ah... kenapa sih gadis itu selalu mendekati Oh ssaem?"
"Dasar genit!"
"Cih, aku membencinya!"
Umpatan demi umpatan terdengar di sekitar Luhan. Ia menoleh pada gadis-gadis yang saling mengeluarkan sumpah serapahnya pada Huang Zitao. Dahinya menyeringit tak percaya. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang membenci Tao. Tapi masih banyak lagi yang lebih membenci gadis itu. Luhan kembali memperhatikan Sehun dan Tao di sana, menyipitkan matanya tajam pada Sehun.
'Kau telah berjanji, Oh. Awas saja jika kau melupakan janjimu.'
Decitan kecil Luhan terdengar ketika Huang Zitao menyerahkan sebuah handuk kecil pada Sehun. Terlihat sekali oleh Luhan ketika ia memerhatikan suaminya. Meski Sehun sudah berjanji, meski permasalahan mereka usdah selesai sejak semalam. Namun, dalam hati kecil Luhan belum sepenuhnya mempercayai Sehun. Setiap kali melihat suaminya berdekatan dengan teman masa lalunya itu, Luhan selalu merasakan perasaan tak enak.
Luhan masih mengawasi keduanya, menunggu reaksi Sehun. Dan sebelah alis gadis itu terangkat ke atas ketika Sehun kembali melanjutkan langkahnya tanpa menerima handuk pemberian Tao padanya. Degupan jantung Luhan semakin menggila ketiak Sehun tersenyum kecil sembari mendekatinya. Ia meneguk ludah gugup, suara berisik di sekitarnya membuat ia sulit berkonsentrasi untuk sekedar mengatur napas.
Sehun berhenti tepat di depannya. "Boleh aku pinjam saputanganmu, nona Lu?" tanya pria itu masih dengan senyum kebesarannya.
Pekikkan tertahan dari samping hingga belakang tubuh Luhan membuatnya tersentak. Gadis itu menundukkan kepalanya, memperhatikan saputangannya. Lalu kembali mengangkat wajahnya menatap Sehun. "Ini?" tunjuknya pada saputangan biru miliknya. Sehun mengangguk kecil. Luhan melirik ke samping sesaat, begitu terkejut menemukan tatapan penuh iri oleh gadis-gadis di sana padanya. Namun ia malah tesenyum bangga, lalu ia melirik ke belakang tubuh Sehun melaui bahu pria itu. Ia mengulurkan sebelah tangannya pada Sehun. "Ambillah, Oh seonsaengnim."
Sehun mengulumkan senyum. Sepertinya pria itu tahu apa yang sedang di pikirkan oleh istri manjanya ini. Ia mengambil sapuntan itu dari tangan Luhan. "Apa boleh tidak aku kembalikan?" godanya.
Luan berdehem kuat agar suaranya terdengar oleh sorang gadis yang berdiri kaku tak jauh dari tubuh suaminya. "Entahlah. Aku tidak yakin, sseam. Tapi, sepertinya saputanganku akan kembali ke dalam lemari pakaianku," ujarnya dengan sedikit menaikkan nada suaranya. Ya, tentu saja dia benar. Saputangan itu tetap akan kembali ke dalam lemari pakaiannya, bukan?
Sehun menutup mulutnya dengan punggung tangan. Mencoba menhan tawa gelinya yang sedang ia tahan. Lalu pria itu mengangguk kecil, melemparkan senyuamnnya lagi sebelum beranjak pergi meninggalkan lapangan basket itu serta gadis-gadis yang berteriak kecewa.
Luhan melirik Kris yang masih berdiri di tempatnya dengan senyuman lebar. Pria itu mengacungkan ibu jarinya pada Luhan sebagai penghargaan atas sikapnya. Ia mengangguk dengan senyuman geli. Kemudian kembali menatap sinis Tao yang masih menatapnya tak percaya. 'Hahaha, kau terkejut, eo?' Luhan menarik sebelah sudut bibirnya hingga mengukir senyuman mengejek untuk Tao. Kemudian ia berbalik dan tidak lupa mengibaskan rambutnya angkuh pada Tao.
WEDDING ROMANCE [REMAKE]
"Nona Huang, kau baik-baik saja?"
Teguran Kris membuat Tao tersentak. Ia sama sekali tidak menyadari jika Kris sudah berada di hadapannya.
"Oh, ya. Aku baik-baik saja. Kenapa kau bertanya begitu?" ujar gadis itu dengan wajah gugup. Meski ia masih sulit menghilangkan pikiran-pikiran anehnya mengenai Luhan. Entah mengapa baginya Luhan adalah seorang gadis yang sangat menyebalkan.
Kris tertawa kcil. "Karena sejak tadi, bahkan hingga lapangan basket ini telah sepi dan hanya menyisakan kau dan aku. Kau tetap diam berdiri mematung di sini."
Kedua mata Tao melebar terkejut. Ia melemparkan tatapan pada sekeliling lapangan. Dan apa yang dikatakan Tao memang benar. Di sana sudah tidak ada lagi siapa pun selain merak berdua. "Kemana semua orang?" gumamnya.
"Tentu saja sudah kembali melakukan aktivitasnya masing-masing," jawab Kris. Pria Cina-Canada itu sangat betah berdekatan dengan gadis Qingdao itu. Terlihat tatapan lembut yag selalu ia berikan pada Tao.
Tao mengangguk mengerti lalu kembali berdiam diri. Tapi seteah itu kembali menatap Kris dengan pandangan menyipit. "Kau terlihat sangat akrab dengan gadis itu?"
Kris tersenyum dan mengangguk skali. "Kenapa? Kau cemburu?" balasnya.
Tao menatap pria itu datar. "Hanya jika kau adalah kekasihku."
Kris menarik sudut bibirnya, "jadi, kau ingin aku menjadi kekasihmu?" godanya.
"Tidak. Kau sudah gila?"
Kris tertawa puas melihat wajah cemberut Tao padanya. Pria itu mulai terbiasa dengan sikap acuh Tao padanya.
"Wu Yifan-ssi...," panggil Tao dengan nada serius.
Kris menghentikan tawanya meskipun masih sesekali terkekeh pelan. "Eum, wae?"
"Ada yang ingin aku kutanyakan."
"Apa itu?"
Tao mengambil napas panjang. "Benar kau sangat dekat dengan gadis itu?"
Kris mengangguk. "Namanya Xi Luhan. Aku berteman dekat dengannya sejak masuk ke sini," jelasnya.
"Termasuk Sehun?"
Dahi Kris mengerut waspada. "Makdsudnya?" pria ini merasa Tao sedang menyadari sesuatu dan ia berharap jika itu bukanlah rahasia besar Luhan dan Sehun.
"Kau berteman dekat dengan Luhan sejak ia masuk ke sini dan setahuku kau juga berteman dekat dengan Sehun. Jadi kupikir, jika Luhan adalah teman dekatmu, itu bearti Luhan juga dekat dengan Sehun. Benar, 'kan?"
Dalam diam Kris meneguk ludahnya berat. Tapi priaini masih berusaha terlihat santai di hadapan gadis itu. Gadis pintar, pikirnya. "Aku tidak mengerti ke arah mana pembicaraan ini...," ujar Kris mengelak.
Tao memutar bola matanya malas. "Oke. Kuperjelas padamu," Tao menatapKris bersungguh, sungguh. "Entahlah ini benar atau tidak. Tapi, dari pemikiranku setelah melihat mereka berdua. Aku yakin, mereka memiliki hubungan spesial," Tao memberi jeda setelah kalimat itu untuk menunggu reaksi Kris. Sayangnya, ia hanya menemukan tatapan tak mengerti dari pria itu.
"Hubungan spesial?"
"Ya, seperti... hubungan sepasang kekasih."
Mulut Kris ternganga lebar. "Hei, di sini itu tidak diperbolehkan. Mahasiswa dan pengajar adalah larangan Kyunghee. Tidak terkecuali asisten dosen seperti Sehun itu."
Kali ini dahi Tao berkerut. Melihat dari reaksi Kris, sepertinya apa yang dia pikirkan salah. "Tapi sepertinya gadis itu menyukai Sehun," gumamnya sembari membuang muka.
Kris tersenyum simpul. "Ada lebih dari seribu mahasiswi yang menggilai pria itu di sini. Apa menurutmu mereka juga memiliki hubungan spesial dengannya?"
Tao menoleh pada Kris. Ucapan Kris terdengar benar di telinganya. Ia memang masih sangat baru berada di sana, tapi sudah sangat tahu sebesar apa popularitas Sehun sebagai seorang pria yang di gemari oleh para gadis di universitas itu.
WEDDING ROMANCE [REMAKE]
Luhan tidak berhenti tersenyum seperti orang bodoh sepanjang hari ini. Bahkan, saat ia sedang mandi pun gadis Cina itu masih saja terus tersenyum. Kejadian di lapangan basket siang ini membuatnya merasa sangat bahagia. Terlebih dengan kehadiran Tao di sana. Dan lebih membuatnya senang, ia bisa membalas rasa sakit pada gadis itu ketika Sehun lebih membelanya kemarin saat mereka bertengkar.
"Aku yakin dia sedang sangat kesal padaku," gumamnya diselingin tawa ringan. Ia duduk di kursi kecil yang berada di depan meja riasnya. Kedua tangannya maish sibuh mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.
Sebuah deringan ponsel terdengar olehnya. Ia melirik ke ranjang di mana ponsel itu terletak di sana. Dengan langkah malas ia mengambil ponsel itu. Dahinya mengkerut ketika nama Baekhyun tertera di layar ponselnya.
"Yeoboseo?"
"LUHEEEEEN!"
Luhan segera menjauhkan ponselnya ketika lengkingan suara Baekhyun hampir memekakkan telinganya. "Dasar gadis gila!" umpatnya sebelum kembali menempelkan ponsel itu pada telinganya. "Ah, wae?!"
"Hiks, huweeee."
Luhan mengernyitkan alisnya. "Ya, kenapa kau menangis, Baekhyun-ie?" tanya Luhan tidak mengerti.
"Lu, pagi ini rumahku mengalami kebakaran."
"Mwo?!" pekik Luhan. "Lalu, kau tak apa-apa? Apa kau terluka?"
"Anni, tapi... hiks. Rumahku habis terbakar semua. Tidak ada yang tersisa selain ponselku ini. Aku dan keluargaku harus tingga di rumah ahjussi-ku untuk beberapa bulan ke depan."
"Ya Tuhan..." gumam Luhan tanpa dapat di cegah. Wajahnya menampakkan kesedihan. "Aku turut berduka cita, Baek. Tapi syukurlah kau dan keluargamu selamat," tuturnya.
"Ya, kau benar. Tapi sepertinya aku tidak akan melanjutkan kuliahku, Lu"
"Ya! Waeyo?"
"Sudah kubilang, rumah kami habis terbakar dan tidak ada yang tersisa. Orangtuaku... pasti tidak sanggup membiayai keperluan kuliahku nanti, Lu. Bahkan tinggal di rumah ahjussi-ku saja, kami merasa sudah merepotkannya."
Luhan terenyuh mendengar suara lirih Baekhyun. Biasanya, gadis ini selalu berbicara dengan penuh semangat padanya. Tapi ketika ia berbicara dengan nada seperti itu, kenapa Luhan merasa ingin menangis?
"Aku pasti akan merasa kehilanganmu, Baek," desis Luhan.
"Hahaha, kau kan bisa mengunjungiku bila sempat. Lagi pula, aku pasti akan sering menghubungimu, Luhannie... apa lagi jika aku butuh informasi tentang Oh-ku. Hei, bagaimana keadaan Oh-ku hari ini? Pakaiannya seperti apa yang ia kenakan?apa dia terlihat sangat tampan?"
Luhan tersenyum getir. Suara Baekhyun terdengar begitu sendu. "Dia sangat tampan hari ini. Dia mengenakan kemeja putih dan bermain basket bersama Dokter Wu siang tadi," jawabnya pelan.
"Jinjja?! Wah, pasti di sana sangat ramai."
Luhan mengguk lirih. "Baekkie...," panggilnya.
"Ah, sepertinya eomma sedang memanggilku. Aku harus segera pergi, Lu. Kapan-kapan aku akan menghubungimu lagi. Anyyeong..."
Sambungan telpon telah terputus. Kini Luhan hanya bisa menatap ponselnya sedih. Ia yakin Baekhyun pasti sangat sedih saat ini. Berhenti kuliah karena musibah yang menimpa keluarganya. Meski bukan Luhan yang mengalaminya, tapi ia dapat merasakan kesedihan gadis itu.
"Kasian Baekhyun," gumamnya, "tidak ada lagi gadis yang selalu merecokiku dengan segala informasi tidak penting mengenai Sehun," Luhan kembali tersenyum getir.
Ia menyecahkan tubuhnya di atas ranjang sembari menatap lurus ke depan. Kembali mengingat masa-masa indahnya bersama Baekhyun. Meskipun gadis itu terkesan menyebalkan baginya, tapi tetap saja Baekhyun adalah sahabat baiknya. "Andai saja aku bisa membantu Baekhyun..." gusarnya, menengadah ke atas memperhatikan langit-langit kamarnya yang membisu.
Tapi setelah itu tiba-tiba saja ia terkesip hingga berdiri cepat. Kedua matanya mengerjap dengan mulut yang sedikit terbuka. "Ya, tentu saja aku bisa membantunya," pekiknya senang. Ia melompat-lompat girang sebelum melesat keluar kamar tanpa terlebih dahulu berganti pakaian karena saat ini hanya mengenakan jubah mandi yang menutupi tubuh kecilnya.
WEDDING ROMANCE [REMAKE]
Sehun memutar keran shower hingga air yang sedari tadi mengguyur tubuhnya berhenti. Ia menajamkan telinganya saat mendengar suara berisik dari dalam kamar. Menyapu wajah tampannya hingga rambutnya yang terurai basah di atas wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lalu mengambil handuk dan mulai mengeringkan diri.
Handuk berukuran sedang itu melilit di atas pinggang hingga hanya menutupi bagian itu sampai lututnya. Lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari dalam pintu kamar mandi. Hal pertama yang ia temukan setelah membuka pintu kamar mandi adalah istrinya yang sibuk mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari pakaian miliknya.
"Apa yang kau lakukan, Lu?"
Luhan memutar kepalanya ke belakang, menemukan Sehun yang menatapnya dengan alis saling tertaut. "Ah, aku hanya meminta semua pakaianmu saja."
Sehun masih menatapnya tidak mengerti. Istrinya baru saja meminta semua pakaiannya tanpa seizin darinya. Dan yang lebih membuatnya bingung,untuk apa semua pakian itu? Merasa butuh penjelasan, Sehun berjalan cepat mendekati lemari pakiannya, sempat menggeleng kecil karena sebagian lemarinya itu sudah mulai kosong. Ia menutup kedua lemari hingga Luhan berdecak kesal. Lalu berdiri di depan sana dengan pose yang menurut Luhan sangat sexy bersandar pada pintu lemari dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan oh, tentu saja jangan lupakan tubuh atasnya yang tanpa busana.
"Seingatku, kau masih memiliki banyak pakaian di dalam lemarimu. Lagi pula kau wanita dan aku pria. Jadi untuk apa kau meminta semua pakaianku dan kau hampir saja membuatku mati kedinginan malam ini karena isi lemariku sudah mulai habis?"
Luhan mendengus jengah. Ia turut melakukan hal yang sama, melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku akan membuat sebuah pelelangan," jelasnya pendek.
"Lalu apa hubungannya dengan pakaianku?" tanya Sehun dengan alis mengernyit. Lalu pria itu membelak lebar saat mengerti akan sesuatu, "Lu, jangan katakan kau akan..."
"Yup!" Luhan mengangguk mantap. "Aku akan melelang semua pakaianmu, tuan Oh," ucapnya di akhiri senyuman manis.
"Tidak!" tolak Sehun cepat. "Atas dasar apa kau berani melelang pakaianku semua, hem? Lagian untuk apa kau melakukannya? Kau sudah gila?" cecernya.
"Heish!" runtuk Luhan. "Aku membutuhkan banyak uang saat ini, tuan Oh. Jadi berikan saja semua pakaianmu padaku," senggahnya sembari mengulurkan kedua tangannya ke depan.
"Uang?" ulang Sehun. "Jika kau membutuhkan uang kenapa kau tidak meminta padaku saja? Aku belum jatuh miskin, nyonya Oh."
"Itu memang akan aku lakukan. Tapi masih belum cukup, aku butuh lebih banyak lagi."
"Untuk?"
"Membantu Baekhyun agar dia tetap bisa melanjutkan kuliahnya."
Mulut Sehun sedikit terbuka. Tubuhnya tidak lagi bersandar pada lemari seperti tadi. Ia menatap Luhan menuntut. "Byun Baekhyun?" ulangnya.
"Eum."
"Dia tidak melanjutkan kuliahnya lagi?"
"Ya, sepertinya begitu. Rumahnya terbakar tanpa sisa. Kasian Baekhyun..." wajah Luhan kembali menyendu. Dia menatap Sehun penuh harap. "Jebal... biarkan aku mengambil semua pakaianmu, Hun. Aku akan melelang semua pakaian-pakaian itu pada semua gadis-gadis di kampus. Kau 'kan masih bisa membeli pakaian baru."
"Tapi kenapa harus melelang pakaianku?"
"Karena semua gadis di kampus selalu tertarik pada hal yang berhubungan denganmu. Coba kau pikir, aku akan melelang semua pakaianmu dengan harga tinggi dan bayangkan berapa keuntungan yang bisa kuperoleh. Belum lagi ditambah dari hasil uang pemberianmu dan juga Kris. Ah... aku yakin Baekhyun pasti akan kembali kuliah seperti biasanya."
"Tunggu, kau sudah melelang semua pakaianku, dan kau juga ingin meminta uangku, nyonya Oh? Woah... kau sangat luar biasa," cibir Sehun.
Luhan kembali merengut. "Apa peduliku, sekarang menyingkirlah! Masih ada beberapa pakaian yang harus kuambil," tangannya menarik lengan Sehun agar segera menyingkir dari sana.
"Ya! Aku belum menyetujuinya, Luhan."
"Kalau kau tidak setuju, itu bearti kau tidak pantas menjadi seorang dosen, Oh. Seharusnya kau ikut membantu ketika ada menemukan mahasiswamu yang ingin menolong temannya yang sedang butuh pertolongan."
Sehun memutar bola matanya jengah. Xi Luhan memang terlalu pandai mencari alasan dan sialnya dia selalu terbujuk oleh alasannya. "Sisakan beberapa untukku. Kau tidak ingin 'kan suami tampanmu ini datang ke kampus tanpa busana?" ia memiringkan kepalanya menatap Luhan.
Gadis itu tersenyum lebar. "Tentu saja. Terima kasih, tuan Oh." Menyapukan kecupan singkat di bibir Sehun, setelah itu ia kembali sibuk mengeluarkan pakaian suaminya. Sedangkan Sehun hanya bisa mendesah pasrah.
WEDDING ROMANCE [REMAKE]
Pelelangan pakaian Oh Sehun
LIMITED EDITION
Wu Yifan dan Oh Sehun tersenyum simpul membaca pamfletbesar di sana, mereka menyaksikan bagaimana hobohnya Luhan melelang semua pakaian Sehun di sebuah tenda yang di didiran oleh teman-teman sekelasnya. Ia menceritakan musibah yang menimpa Baekhyun pada teman-teman sekelasnya yang lain dan mereka semua mengajukan diri untuk membantunya.
Dan kerja keras gadis itu sepertinya berhasil, terlihat dari banyak gadis yang berkerumunan di tenda miliknya untu membeli pakaian milik Sehun. Mereka tidak pedul, walaupun itu pakaian pria dan tentu saja mereka tidak dapat mengenakannya. Tapi bagi mereka, pakaian itu adalah barang berharga yang tak ternilai harganya dan mereka harus mendapatkannya.
"Apa pakaian dalammu juga ikut dileleng?" tanya Kris dengan kekehan kecil.
Sehun tersenyum miring."Hampir saja, jika aku tidak menyelamatkannya lebih dulu," jawabnya.
Kris tertawageli mendengarnya. "Luhan benar-benar..." ujarnya.
"Aku heran, dari mana gadis itu mendapatkan semua pakaianmu, Oh Sehun?"
Kedua pria tampan itu sontak menoleh ke asal suara. Huang Zitao sudah mendekati mereka, lalu ia berdiri di hadapan priaitu. "Atau mungkin... kau rela dengan senang hati memberikannya?" Tao melanyangkan tatapan curiganya pada Sehun.
Sehun mendesah malas, sama sekali tak terpancing oleh kecurugaan Tao. Ia kembali menatap pada kerumunan yang di ciptakan oleh istrinya itu. "Apa di LA kau belum pernah menemukan hal seperti ini, nona Huang?"
Tao mencibir pelan, melirik Kris yang tengah menatap padanya.
Sehun menurunkan tatapannya pada Tao. "Aku hanya mencoba membantu salah satu mahasiswaku. Apa itu salah?" senyuman separuh itu kembali di layangkan.
Tao terkekeh pelan, sepertinya gadis ini kembali menemukan sikap hangat Sehun setelah beberapa terakhir ini pria itu tampak menjaga jarak dengannya. "Entahlah, tapi..."
"Tao mencurigai kalian berdua, Sehuna," sambar Kris. Sontak Tao mendelik tajam padanya, seakan mengancam pria itu agar tidak kembali membuka mulutnya. Sayangnya, Kris semakin melakukannya.
"Mencurugai kami? Aku dan Luhan?" Sehun menunjukkan ekpresi terkejut pada Kris. Lalu kembali menatap Tao dengan wajah tidak mengerti. "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"
"I-itu... sebenarnya aku tidak berpikir..."
"CHAKKAMAN!"
Ketiga orang tadi memutar wajahnya masing-masing ketika terdengar suara menggelegar milik Luhan. Entah apa yang telah terjadi di sana hingga gadis itu berteriak karena meraka sama sekali dapat mendengarkan apa yang di ucapkan Luhan di sana.
Tapi Luhan tampak sedang berbicara dengan semua orang sembari melirik ke arah mereka bertiga. Ada sebuah kemeja hitam yang ia pegang erat dengan kedua tangannya, kemeja favoritnya. Karena menurut Luhan, Sehun akan terlihat semakin tampan ketika mengenakan kemeja itu.
"Apa yang terjadi padanya?"gumam Tao.
Sehun dan Kris memusatkan tatapan mereka pada senyuman penuh arti milik Luhan ketika semua orang turut menolah pada mereka bertiga.
"Sepertinya dia akan mulai menjelankan aksinya,"gumam Kris yang terdengar seperti sedang memperingatkan Sehun.
Pria itu menyipitkan matanya pada Luhan. Seakan sedang mengatakan, 'apa yang sedang kau rencanakan, Lu?' Tapi kedua matanya segera melebar saat gadis-gadis yang tadinya mengelilingi Luhan, kini sudah berbalik dan berlari ke arahnya dengan tatapan lapar.
"O-oh...!" seru Kris dan Tao bersamaan.
"Shit!" umpat Sehun sebelum ia melangkah mundur dan mulai berlari menyelamatkan dirinya. Meski begitu pria itu masih sempat mendengar teriakan istrinya yang sangat bersemangat.
"Hanya 15 menit, oke?!"
Kris tertawa terbahak-bahak melihat Sehun berlari kencang demi menyelamatkan nyawamnya sendiri. Yuo, dikejar oleh puluhan bahkan ratusan gadis-gadis entah mengapa baginya sangat mengerian. "Jangan masuk ke ruanganku, Oh Sehun! Mereka 'kan tahu jika kau berada di sana!" teriaknya.
Tao melirik tajam. "Sepertinya kau sangat suka melihatnya terjebak oleh gadis-gadis itu."
Tawa Kris mereda. Ia mulai memfokuskan tatapannya pada Tao yang mengerut masam. Pria itu menarik napas panjang. "Wae? Kau keberatan, eo?"
"Cih, untuk apa?"
"Mungkin saja kan kau juga menyukai Sehun," Sehun dapat melihat wajah tegang Tao saat ini. Pria otu semakin yakin jika akan sangat sulit mendapatkan gadis pujaan hatinya. "Dilihat dari wajahmu, sepertinya aku benar." Ia tersenyum simpul.
"Omong kosong," sungut Tao. Memalingkan wajah merahnya ke samping untuk sekedar menjauhkan tatapan intimidasi milik Kris.
"Benar, jika sajah wajahmu tidak memerah seperti itu."
Tao tak bersuara, bahkan ia tidak berani kembali menatap Kris. Dalam hatinya ia mengutuk pris itu yang dengan mudahnya dapat menebak perasaanya. Merasa semakin gugup, Tao segera memutarkan tubuhnya dan berniat pergi meninggalkan Kris. Hanya saja pria itu kembali berbicara.
"Sekedar bocoran untukmu, nona Huang. Sehun tidak akan bisa kau dapatkan meski kau berusaha sekuatmu."
Kaki Tao seketika berhenti melangkah, namun tubuhnya masih enggan berbalik. Ia lebih ingin mendengar semua perkataan Kris padanya.
"Sebagai seorang teman, aku tidak ingin kau kecewa di suatu hari nanti karena ditolak olehnya. Dia bukanlah pria yang mudah mencintai gadis, dia sangat sulit disentuh oleh siapa pun termasuk kau. Singkatnya, Sehun tidak akan pernah bisa menyukaimu apa lagi mencintaimu, nona Huang."
Tubuh Tao memutar begitu saja ke hadapan Kris. Melayangkan tatapan tajam pada pria itu. "Kenapa kau bisa seyakin itu, Wu Yifan-ssi? Dia pria dan aku yakin dia juga akan membutuhkan seorang gadis untuk menemani hidupnya," balanya sengit.
Kris mengangguk pelan tanpa ekspresi. "Tentu saja. Tapi itu bukanlah kau..." jawabnya.
Tao tersenyum jengah. Kakinya bergerak mendekati Kris hingga mereka saling berhadapan. "Sekedar bocoran untukmu, Wu Yifan. Pria itu, Oh Sehun. Pria yang kau sebut tidak akan pernah menerimaku, beberapa tahun yang lalu saat kami masih berada di high school. Dia bahkan memintaku untuk menjadi kekasihnya."
Kedua mata Kris melebar mendengarnya. Tatapannya menggelap seiring senyuman penuh kemenangan Tao merekah.
"Bukan hanya kali ini saja aku melihatnya digilai para gadis. Bahkan sejak dulu hingga sekarang, Sehun memang selalu dikejar para gadis di sekelilingnya. Dan menurutmu, mengapa dia lebih memilihku untuk menjadi kekasihnya, Wu Yifan-ssi."
T.B.C
Sorry for typo ^^
