Warning: This story contains Shounen Ai/BoyxBoy. If you don't like it or disagree with it then you may click back or close button.

Pairing: Kailu, Hunhan

Rating: Mungkin T ...

Genre: Romance, Fluff, slight!Angst

Disclaimer: Para member EXO bukan milik om! Luhan, Kai, dan Sehun juga bukan! Duh kalau nyulik itu bukan dosa pasti om udah nyulik mereka dan maksa mereka buat nc-an di depan mata om. Pokoke semua nya bukan milik om lah om males nyebutin, tapi ini cerita milik om jadi tolong jangan plagiat.

A/N: Halo semuanya ^^ Kali ini om mempersembahkan Jongin yang udah kalian tunggu-tunggu~ Maaf kalau ada typo, cerita kurang seru, alur cerita memusingkan, dkk dsb. Soalnya om juga author baru jadi yah.. Pokoke dinikmati dulu lah ini cerita ~ Selamat membaca!

.

.

Rhinompedo

.

.

Tepat di depan Luhan terdapat sebuah toko kue yang bernama ShiHan Cafe and Bakery. Dinding toko itu berwarna kuning gading. Berbagai tanaman dan pernak-pernik menghiasi toko itu sehingga terlihat seperti rumah permen yang terdapat di cerita Hansel and Gretel. Tidak salah lagi, toko itu adalah milik Sehun dan Luhan.

Belum juga Luhan memasuki toko itu, seseorang sudah menarik tubuhnya dengan paksa ke dalam. Karena ditarik, tubuh Luhan menjadi tidak seimbang dan jatuh kepelukan orang yang menariknya.

"Hyung! Apa yang kau lakukan berdiri di depan situ?" Tanya sosok itu sambil membalas pelukan Luhan.

"P-Park Chanyeol! Jangan mengagetkanku seperti itu!" Seru Luhan. Jantungnya berdetak dengan kencang, tapi tentu saja bukan karena Chanyeol yang memeluknya.

"Kau datang untuk bekerja, hyung?" Tanya Chanyeol. Pelukan mereka masih belum dilepaskan karena Chanyeol yang keenakan. Mana mungkin ia melepaskan kesempatannya untuk memeluk makhluk yang sangat cantik dan indah itu?

".. Entahlah? Dan kau bisa melepaskanku sekarang juga, Chanyeol." Ujar Luhan.

"Aish, hyung. Kan jarang sekali aku memelukmu!" Ucap Chanyeol dengan manja. Tentu saja ucapan Chanyeol itu 100% palsu. Setiap kali bertemu Luhan, ia pasti langsung memeluknya tanpa mempedulikan waktu maupun tempat.

"Terserah kau sajalah. Hari ini semuanya berjalan dengan baik?" Tanya Luhan.

"Tentu saja, hyung. Tapi agak sedikit sepi tanpa kehadiranmu dan Sehun." Ujar Chanyeol. Wajah Luhan langsung berubah murung mendengar kata 'Sehun'. Oops. Sepertinya ucapannya menusuknya tepat dijantung. Belum sempat Chanyeol meminta maaf, sebuah tangan sudah menjitak kepala Chanyeol dengan keras sehingga membuatnya melepaskan pelukannya dan meringis dengan kencang.

"Umin-hyung! Kenapa kau harus menjitak kepalaku dengan sangat kencang?!" Teriak Chanyeol.

"Dasar bodoh. Luhan, ucapan si bodoh ini tidak bermaksud seperti itu." Ucap Minseok yang biasa dipanggil Xiumin oleh rekan-rekannya.

"Tidak apa-apa, hyung." Ucap Luhan.

"Duduklah dulu. Sebentar lagi akan kami buka tokonya." Ucap Minseok. Ia menarik lengan Chanyeol dan membawanya ke dapur, sehingga meninggalkan Luhan sendirian.

Mata Luhan tertuju pada salah satu tempat duduk yang berada di dekat jendela yang menampilkan pemandangan di luar tokonya. Tempat itu adalah tempat favoritnya dan Sehun. Bisa dibilang juga dengan sarang cinta mereka.

Dulu, ia dan Sehun selalu duduk di tempat itu dengan senyuman. Namun sekarang, hanya ada Luhan.

Luhan duduk termenung dikursinya. Memerhatikan para pekerjanya sibuk mondar-mandir membuka dan mempersiapkan toko.

Tanpa Luhan sadari, Joonmyeon mendekatinya dan duduk kursi yang berada di seberang Luhan.

"Hyung, jangan melamun." Ucap Joonmyeon. Sontak, Luhan kaget dan membuat meja di depannya sedikit terangkat.

"Joonmyeon-ah! Jangan membuatku kaget begitu!"

"Hyung, kau sendiri yang sedari tadi terus melamun." Luhan hanya mengerucutkan bibirnya ketika mendengar perkataan Joonmyeon.

"Umin-Hyung! Jongdae! Tolong antarkan pesananku!" Seru Joonmyeon. Minseok dan Jongdae datang membawa 1 cangkir minuman cokelat yang di atasnya dihiasi dengan gambar beruang, dan sepotong kue Strawberry Shortcake.

"Itu... Untukku?" Tanya Luhan.

"Spesial untuk bos cantik yang kesepian." Ujar Joonmyeon sambil terkekeh pelan.

"Nikmati pesanan anda." Ucap Jongdae dan Minseok secara bersamaan sambil mengedipkan mata mereka.

"Kalau begitu kutinggalkan kau sendiri dulu, hyung." Ujar Joonmyeon.

Sekarang tinggal Luhan yang duduk sendirian. Ia menghela napas dan memerhatikan bentuk beruang yang dibuat di atas cokelat panas itu. Sayang sekali kalau ia harus merusak bentuk itu saat meminumnya.

Waktu terus berjalan, namun Luhan tetap tidak bisa melupakan kesedihannya walaupun ia melahap kue dan cokelat panas yang sangat enak.

.

.

Rhinompedo

.

.

Tubuh Luhan terbaring di atas kasur. Hari ini tidak ada hal yang menarik. Menarik... Tunggu dulu. Mendengar kata 'menarik', ia jadi mengingat perkataan nenek yang ia temui waktu itu. Mungkin sebaiknya ia pergi ke air terjun itu?

Ia baru sadar bahwa rasa penasaran menghantuinya. Memangnya ada apa dengan air terjun itu? Kenapa tiba-tiba muncul seorang nenek yang tiba-tiba menghilang? Kenapa akhir-akhir ini ia selalu memimpikan seseorang menunggunya di air terjun itu? Ugh, kepalanya mulai pusing memikirkan hal-hal seperti itu.

Lebih baik ia segera tidur, dan esok hari ia akan ke air terjun itu untuk mengusir rasa penasarannya.

.

.

Rhinompedo

.

.

Esok harinya, Luhan bersiap-siap pergi di pagi hari. Ia membawa gunting, karena seingatnya di tempat itu terdapat berbagai macam bunga yang indah. Dan juga bisa dipakai untuk berjaga-jaga apabila terjadi suatu hal yang menyeramkan.

Dasar penakut.

Untuk yang terakhir kalinya, ia memantapkan hatinya dan segera meninggalkan rumahnya. Dengan tambahan gunting dan semprotan merica dikantongnya yang diselimuti oleh sebuah serbet dan ia simpan disebuah keranjang.

.

.

Rhinompedo

.

.

Suara daun kering yang diinjak memenuhi hutan itu. Sesosok pria mungil berjalan, dengan sangat lambat dan berhati-hati, melewati pepohonan yang besar dan daunnya sangat lebat. Kelinci-kelinci yang hidup di hutan itu bingung ketika melihat sosok itu. Kenapa ia begitu ketakutan? Pada akhirnya kelinci-kelinci itu mengikutinya karena penasaran.

Luhan, si pria mungil, menyadari bahwa hewan-hewan nan lucu itu mengikutinya. Mereka saling bertatap-tatapan. Luhan berjongkok untuk mengamati hewan itu lebih dekat. Kelinci-kelinci itu tidak takut ataupun kabur, mereka terus diam memerhatikan Luhan, dan itu membuatnya sedikit tertawa.

"Mau menemaniku ke air terjun?" Tanya Luhan pada kelinci-kelinci itu. Tiada respon akan pertanyaan Luhan. Jadi, ia memutuskan untuk menaruh keranjang yang ia pegang di depan kelinci-kelinci itu dan menaruh mereka ke dalam keranjang.

"Sepertinya kalian kesepian, dan aku butuh teman. Jadi tolong temani aku?" Tanya Luhan lagi. Kelinci-kelinci itu memberikannya respon dengan duduk manis di dalam keranjang. Melihat hal itu, Luhan tertawa kecil lagi dan mendekap keranjang itu kedadanya lalu kembali melanjutkan perjalanannya.

Seingatnya, air terjun itu berada tidak jauh lagi. Tapi ia tidak tahu kalau ingatannya bisa diandalkan atau tidak. Kali ini, ia takut akan tersesat.

Dengarkan suara gemercik air, maka kau akan tahu dimana letaknya.

Suara itu tiba-tiba terdengar dikuping Luhan. Seperti memberikan petunjuk kemana ia harus pergi. Memang suara itu membuatnya takut dan merinding, tapi ia bisa berhenti di tengah jalan karena rasa penasarannya dan juga ia sudah lupa dengan jalan yang sudah ditempuhnya.

Luhan memejamkan matanya, memfokuskan indra pendengarannya pada suara air. Kakinya terus melangkah dengan mengandalkan suara-suara yang ada di sekitarnya. Ajaibnya, ia sama sekali tidak tersandung batu, ranting yang patah, ataupun akar pohon sama sekali. Lama-kelamaan, suara gemercik air terdengar semakin kencang ditelinganya.

Buka matamu dan lihat apa yang kau temukan.

Luhan membuka matanya secara perlahan. Dikedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya yang menyelimuti retinanya.

Kaget. Itulah yang ia rasakan. Bagaimana tidak? Di depan matanya sudah terdapat air terjun legendaris itu. Rasanya aneh, waktu Sehun menyatakan perasaannya di tempat yang sama—air terjun itu—tidak ada kejadian-kejadian aneh yang menimpa mereka. Tapi kenapa sekarang terasa berbeda? Dan juga air terjun itu nampak.. lebih indah sepertinya.

Ah, Luhan tidak mau ambil pusing. Ia menaruh keranjang yang sedari tadi didekapnya ke atas sebuah batu besar. Kelinci-kelinci itu mulai turun satu persatu dari keranjang miliknya dan melompat-lompat mendekati air terjun.

Langkah demi langkah, hati Luhan berdetak dengan kencang entah apa sebabnya. Ia lepaskan sepatu yang bertengger dikakinya seharian dan ditaruh di dekat air terjun itu. Kepalanya menengok ke bawah, melihat air yang memantulkan bayangannya sendiri. Luhan menyadari suatu hal saat melihat bayangannya. Kantong mata dan ekspresi sedihnya mendadak hilang begitu saja padahal tadi pagi nampak begitu jelas di wajahnya.

Luhan duduk di pinggir air terjun itu dan mencelupkan kedua kakinya ke dalamnya. Rasa dingin air itu membuatnya merasa segar. Ia jadi ingin mandi di air terjun itu, tapi tentu saja tidak mungkin karena bisa-bisa ia terbawa arus.

Matanya terus memerhatikan air yang mengalir melewati kakinya dan pikirannya sudah melayang entah kemana. Ia tidak sadar bahwa ada sebuah sosok yang mendekatinya.

"Apa yang kau lakukan di sini dengan ditemani kelinci?" Tanya sosok itu. Sontak, Luhan terkejut dan berteriak dengan sangat tidak jantan. Ia langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat sosok yang menyapanya itu.

"S-Siapa kau?! Mau apa kau denganku?!" Seru Luhan. Ia sudah tidak bisa berpikir dengan normal karena kejutan yang ia dapatkan barusan. Napasnya menjadi sangat tidak teratur.

"Hey, hey, nona manis. Atur napasmu dulu." Ujar sosok itu. Luhan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan agar bisa lebih tenang.

"Terimakasih atas saranmu, tapi aku bukan seorang nona." Ucap Luhan datar. Ia masih berusaha untuk mengatur napasnya.

"... Baiklah, nyonya."

"Aku ini laki-laki!" Bentak Luhan. Apa kecantikan Luhan benar-benar membuat orang itu buta sehingga tidak bisa membedakan jenis kelaminnya?

"Aku tidak bisa mempercayaimu, tapi baiklah. Perkenalkan, namaku Jongin, tuan atau nona manis." Ucap sosok itu.

"Aku Luhan, dan aku ini 100% laki-laki." Balas Luhan sambil mengerucutkan bibirnya. Sepertinya Jongin masuk ke dalam daftar orang yang meragukan jenis kelamin Luhan.

"Ya, ya, terserah kau sajalah. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Jongin. Ia memutuskan untuk ikut duduk di samping Luhan dan ditemani oleh kelinci-kelinci.

"Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu apa yang sedang kulakukan—" Jongin terkekeh. "—tapi yang kutahu, air terjun ini akan memberikan sebuah kejutan pada seseorang yang sedang sedih, kecewa, atau patah hati." Ujar Luhan.

"Heh, darimana kau tahu hal seperti itu?" Tanya Jongin penasaran.

"Seorang nenek memberitahukanku seperti itu. Lagipula, tidak ada salahnya untuk mencoba kan?"

"Hm, kau benar." Mereka terdiam untuk beberapa saat. Menikmati angin yang berhembus dan suara gemercik air untuk sesaat.

"Jadi, Luhan, kemana kekasihmu yang menyatakan perasaanmu di sini?" Luhan terkejut mendengar perkataan Jongin. Seingatnya, tidak ada orang selain mereka berdua dihari itu dan mereka tidak pernah menceritakan tentang pernyataan itu kepada siapapun.

"B-Bagaimana kau bisa tahu?!"

"Aku ada di sini waktu itu."

"Oh.."

"Jadi kemana kekasihmu itu?"

Luhan menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan hatinya untuk menceritakan kembali hal yang ingin ia lupakan.

"Ia dirawat di rumah sakit." Lirih Luhan.

"Separah itukah?"

"Sangat parah hingga... Ia bisa meninggal." Air mata Luhan turun satu per satu. Sial. Ia tidak ingin menangis di depan orang yang baru ditemuinya.

Tanpa diduga, Jongin mendekatkan tubuhnya dengan Luhan dan mengusap-usap pelan punggungnya.

"Tenang saja, Lu. Takdir yang akan menentukan nasibmu. Entah bagaimana jadinya, kau pasti akan mendapatkan yang terbaik untukmu." Ujar Jongin masih mengusap-usap punggung Luhan. Namun, tangan nakal milik Jongin mengusap punggung Luhan semakin lama semakin ke bawah hingga menyentuh daerah bokong Luhan dan membiarkan tangannya bertengger di daerah itu sedikit lebih lama. Dasar anak mesum.

"Terimakasih banyak, Jongin.. Tapi kau tidak perlu mengusap daerah bokongku." Ucap Luhan sambil memukul pelan bahu Jongin. Tapi entah kenapa kelakuan Jongin tidak membuatnya kesal maupun jijik. Luhan malah tertawa kecil.

"Maafkan aku, Lu, tapi aku tidak bisa menahannya." Ujar Jongin dengan senyuman mesum andalannya.

"Dasar mesum." Ejek Luhan. Ia menyandarkan tubuhnya kedada bidang milik Jongin. Otomatis, Jongin segera merangkul tubuh Luhan agar posisi mereka lebih nyaman.

Kehangatan tubuh Jongin membuat Luhan merasa nyaman. Bahkan Sehun tidak sehangat ini. Ah, Sehun.. Ia hampir lupa dengan Sehun karena Jongin. Apakah ini pertanda baik atau..buruk?

Tapi entah kenapa, ia merasa hubungannya dan Jongin sangat dekat walaupun ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.

"Kau tahu Jongin? Entah kenapa aku merasa seperti kita sudah pernah bertemu. Tapi aku tidak yakin." Ujar Luhan jujur.

"Aku juga merasa seperti itu, Lu. Tapi aku yakin kita belum pernah bertemu sebelumnya."

Mereka terus berpelukan satu sama lain. Melupakan waktu yang terus berjalan dan keadaan disekeliling mereka.

.

.

Rhinompedo

.

.

"Lu, kau tahu itu bunga apa?" Tanya Jongin sambil menunjuk pada kumpulan bunga yang tidak jauh dari posisi rangkulan mereka.

"Itu bunga iris." Jawab Luhan. Jongin melepaskan rangkulannya—dengan sangat terpaksa—dan berjalan kekeranjang milik Luhan.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku pinjam guntingmu dulu, Lu." Bagaimana caranya Jongin bisa tahu kalau Luhan membawa gunting? Mungkin, sebelum menyapa Luhan membongkar isi keranjang Luhan. Mungkin.

"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Luhan.

"Aku hanya menebaknya." Jawab Jongin dengan enteng. Setelah mengambil gunting milik Luhan—dan mengernyitkan dahinya ketika melihat semprotan merica—ia berjalan menuju kumpulan bunga iris itu. Jongin berjongkok dan memotong bunga itu satu per satu.

"Kenapa kau memotong bunga itu?" Tanya Luhan, namun tidak ada respon dari Jongin. Entah karena ia tidak mendengarnya atau tidak ingin menjawabnya.

Ketika sudah mencapai 10 tangkai bunga iris, Jongin berdiri dan mendekati Luhan.

"Lu, hari sudah mulai sore. Pulang dan bawalah bunga ini untuk kekasihmu." Ujar Jongin sambil menyodorkan rangkaian bunga iris—yang ditaruh ke dalam keranjang—kepada Luhan.

"..Baiklah. Terimakasih banyak, Jongin. Kau tidak pulang bersama denganku?" Tanya Luhan.

"Tidak. Aku ingin berdiam diri di sini sebentar lagi." Jawab Jongin.

"Kalau begitu, aku temani."

"Tidak, Lu. Hari sudah semakin larut dan kau harus pulang. Lagipula aku pulang berlawanan arah denganmu." Luhan mengerucutkan bibirnya mendengar alasan Jongin.

"Tapi aku bisa pulang nanti!" Seru Luhan. Ia tidak ingin meninggalkan Jongin secepat ini.

"Aku takut kau akan tersesat. Kau kan tidak tahu daerah sini. Dan lagi kau pasti takut jika pulang saat hari sudah gelap, kan?"

"Humph. Baiklah kalau begitu. Besok kau akan datang kemari?"

"Ya."

"Janji?" Tanya Luhan dengan polosnya.

"Janji."

"Tapi besok aku harus menemui Sehun.."

"Datanglah kapanpun, Lu." Ujar Jongin dengan senyuman dibibirnya.

"Baiklah.. Sampai jumpa besok, Jongin!" Seru Luhan sambil berjalan meninggalkannya dan melambaikan tangan ke arahnya.

"Sampai juma besok, Lu." Balas Jongin sambil melambaikan tangannya pada Luhan.

.

.

Rhinompedo

.

.

Kali ini, Luhan bingung jalan mana yang harus ia pilih. Ia benar-benar lupa dengan jalan yang telah ia tempuh.

... Jangan-jangan ia tersesat? Tersesat di hutan, sendirian.. dan lagi hari mulai gelap. Ini mimpi buruk bagi Luhan!

Lepaskan kelinci dikeranjangmu dan mereka akan menunjukkan jalan pulang.

Suara itu lagi!

Tapi, tanpa menunggu lebih lama lagi—karena ia ingin sekali cepat sampai di desanya—, Luhan segera melepaskan kelinci-kelinci itu. Dan setelah dilepaskan, semua kelinci itu meloncat-loncat hanya kesatu arah. Luhan mengekori mereka dari belakang layaknya anak ayam yang mengekori induknya.

Ajaibnya lagi, ketika sadar, Luhan sudah berada di tempat masuk hutan itu. Rasanya ia ingin sembah sujud seketika. Siapapun pemilik suara yang telah menuntunnya, Luhan sangat berterimakasih.

Kalau begitu, inilah saatnya untuk berpisah dengan kelinci-kelinci yang selalu menemaninya saat di hutan.

"Terimakasih banyak! Besok akan kubawakan wortel segar untuk kalian semua!" Seru Luhan sambil melambaikan tangan kepada kelinci-kelinci yang kembali melompat-lompat ke dalam hutan.

Sebuah senyuman terlukis dibibirnya. Harinya bersama Jongin benar-benar menyenangkan!

Tapi, tunggu dulu.. Ia teringat akan sesuatu.

Bukankah satu-satunya jalan keluar dari hutan itu adalah menuju desanya?

A/N: Gimana ceritanya? Om minta reviews dong dari kalian para hantu ff~ Siapa tahu gitu om jadi semangat nulis gegara kalian :3 Terimakasih yang sudah membaca sampai akhir bahkan sampai A/N juga. Tapi kali ini om bakal ngasih berita duka. Setelah ini om kayaknya enggak bisa update seminggu sekali. Hidup dikenyataan itu benar-benar pahit, nak~ Om minta maaf kalau setelah ini update-nya lama, tapi om enggak berniat buat ninggalin ini cerita begitu saja. Yak sekian dari om~ Once again, thank you so much and do you mind to leave some reviews? ^^