Chansung merangkul bahu Junho dari belakang tanpa aba-aba, menghentikan langkah Junho.
"Apa yang–" suara Junho terhenti dengan tindakan Chansung selanjutnya yang lagi-lagi tak pernah terpikirkan oleh Junho.
Dia mencium pipi Junho, dengan posisi tetap merangkul bahunya dari belakang. Jangan salahkan Junho ketika tanpa sadar ia menjatuhkan gunting dan sisir yang ia genggam, sementara matanya melebar sempurna dengan penuh keterkejutan. Desiran aneh beserta angim musim semi yang datang entah dari mana, seolah mengelilingi mereka berdua kala itu juga.
Butuh waktu sembilan detik bagi Junho, untuk segera sadar dari keterkejutannya. Ia langsung menjauhkan kepalanya ke depan dan buru-buru melepaskan rangkulan Chansung. Berbalik menghadap pemuda itu sambil melemparkan tatapan penuh horror.
"A-apa yang baru saja kau lakukan?"
Raut wajah Chansung juga terlihat bingung dengan sikap Junho yang mendadak menjauhinya itu. "Aku hanya mengungkapkan rasa terima kasihku."
"D-dengan cara men-men…" Junho merasa sulit untuk mengatakan kata itu secara gamblang.
"Mencium pipimu," Chansung malah melanjutkannya dengan nada santai, berbanding terbalik dengan Junho yang kini melotot garang padanya. "Apa itu salah?" kali ini Chansung bertanya sambil memiringkan kepalanya dengan mata yang mengerjap polos.
Junho merutuk dalam hati. Bingung ingin menjawab apa. Ia tidak tahu pasti apa yang sebenarnya ada dalam pemikiran penyihir muda itu. Apa Chansung benar-benar bodoh atau dia hanya berpura-pura bertingkah terlampau polos?
...
P.S.P
( Pacarku Seorang Penyihir)
by Sayaka Dini
Fantasy/Romance/Humor
Disclamer: Semua anggota 2pm milik Tuhan. Dan cerita ini asli milik Ayaaaaa! Yah, buatan Aya sendiri!
Inspirasi: Harry Potter, My girlfriend Gumiho, Rooftop Prince.
Main Pairing: ChanHo / ChanNuneo, Khunwoo / Khunyoung, TaecSu / OkKim.
Warning: BoyxBoy. Shounen-ai. Miss Typos bertebaran di mana-mana, terlalu malas untuk mengeceknya lagi *plaak!* maaf (=.=)'
Warning tambahan: Karena gendernya Fantasy dan Humor, jadi ada beberapa karakter yang sedikit OOC. Mian.
Don't like? So i hope you dont read this. Oke?
…
Junho membasuh wajahnya di wastafel kamar mandi. Lalu melihat pantulan dirinya di depan cermin. Menyisir poni rambut coklatnya yang sempat basah ke atas dengan jemari tangannya, kemudian ia menyapu wajahnya dari sisa air. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Namun bayangan ketika Chansung memeluknya dari belakang dan memberikan kecupan pada pipinya, seolah kembali muncul dan terpatri jelas di depan cermin di hadapannya. Junho menggigit bibirnya, merasakan pipinya sempat memanas tanpa alasan yang jelas.
"Sial," ia mengumpat pelan. Merunduk sambil memukul pelan dadanya, mencoba menghentikan debaran jantung yang terlalu menggebu di dalam sana. "Aku hanya terkejut, yah, terlalu terkejut," klaimnya pada dirinya sendiri.
Ini tidak benar! Kalau ia mendadak memiliki perasaan lain terhadap penyihir aneh yang baru ia kenal selang tiga hari ini. Hanya karena sebuah ciuman pipi singkat yang berlangsung tidak kurang dari sepuluh detik? Dia pasti sudah gila.
Junho cukup yakin kalau tipe yang menarik perhatiannya itu hanyalah seorang wanita dewasa yang minimal lebih tua tiga tahun darinya. Sementara saudara kembarnya, Wooyoung, akan lebih tertarik dengan anak perempuan imut yang lebih muda tiga tahun darinya, seperti anak smp tetangga sebelah yang bernama IU itu. Yah, Junho cukup yakin kalau orientasi seksual keluarganya tak pernah menyimpang.
Tapi…..
Wajah maskulin dengan mata coklat bulat yang terlihat polos beserta hidung yang begitu mancung dan juga bibir kerucut yang begitu menawan. Junho akui, Chansung memang terlihat lebih tampan.
.
.
.
"Aaaghhh!" Junho berseru sambil kembali membasuh wajahnya dengan pancuran air dari keran dengan begitu bringas. Berusaha membuang jauh-jauh pemikiran anehnya tentang penyihir yang juga seharusnya terlihat aneh di mata Junho.
Junho tak habis pikir. Bagaimana jadinya jika Wooyoung tahu kondisi saudaranya yang terlihat kacau hanya karena seorang pria. Dia mungkin bisa saja mati di tangan kakaknya itu. Yah... Mungkin saja.
.
.
~*~P.S.P~*~
.
.
"Jadi, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Wooyoung mulai gusar. Karena sejak tadi, yang ia ketahui, mereka sudah berjalan selama lebih dari sepuluh menit tanpa tujuan yang jelas.
Nichkhun menghentikan langkahnya, diikuti oleh Wooyoung yang berhenti selangkah di belakangnya. "Ke tempat yang menyenangkan," jawab Nichkhun sambil menoleh ke sana ke mari, seolah mencari sesuatu.
"Lebih jelasnya ke tempat menyenangkan apa dan di mana?"
Nichkhun menoleh. Menatap Wooyoung dengan senyuman canggung sambil menggaruk tengkuknya. "Sebenarnya, aku juga tidak tahu."
"Mwo?" tanya Wooyoung dengan nada tak percaya. "Maksudmu?"
"Yah... katakan saja aku tidak begitu tahu wilayah ini."
"Kau juga seorang pendatang di kota Seoul ini?"
"Bisa dibilang seperti itu."
Wooyoung nelangsang. Langsung jongkok nan pundung di tempatnya sambil membenamkan wajahnya di tempat.
Dia itu bodoh atau kelewat nekat sih, pikir Wooyoung merana. Bodohnya lagi, mengapa ia nurut begitu saja diajak oleh orang asing yang ternyata, bisa dibilang mungkin seorang turis di sini. Tak beda jauh dengan Wooyoung yang notabene adalah orang Busan asli, bukan Seoul. Ke ibukota negara ini juga palingan setahun sekali, itu pun kalau jalan-jalan selalu diantar Jaebeom, sepupunya itu. Mana ia tahu jalanan Seoul secara detail. Daya ingat Wooyoung tentang arah jalanan tak begitu baik. Berbeda dengan saudara kembarnya, Wooyoung itu buta arah parah. Kenapa di saat seperti ini Junho malah ada di Busan? Batin Wooyoung meringis, nyaris menangis.
"Jangan khawatir Wooyoung-ah," Nichkhun memanggil dengan nada lembut dan aksen yang sok akrab. "Aku memiliki peta wilayah kota ini."
Wooyoung mendongak dari posisi jongkoknya. Menatap bingung ke arah Nichkhun yang tahu-tahu sudah membentangkan sebuah kertas besar yang bergambarkan peta. Sejak kapan? Seingatnya, Nichkhun tadi tak membawa apapun, bahkan tas kecil maupun tas ransel tak ada.
"Kau dapat dari mana?" tanya Wooyoung heran sambil berdiri dari jongkoknya dan melirik ke arah peta di tangan Nichkhun.
"Katakan saja tempat mana yang ingin kau datangi?" lagi-lagi Nichkhun mengabaikan pertanyaan Wooyoung dan malah mengajukan pertanyaan lain.
Wooyoung sedikit mencibir ke arahnya, namun ia menurut. Melirik peta tersebut, matanya bergulir ke sana ke mari mencari sederet nama tempat. Setelah ketemu, ia menunjuk satu titik sambil bergumam, "Aku ingin ke Namdaemun Sijang, soalnya aku lapar dan belum makan siang." Lalu ia menatap Nichkhun dengan pandangan sedih. "Tapi kita tak tahu posisi kita sekarang dimana?" tanpa sadar Wooyoung cemberut dengan begitu cutenya.
"Tenang saja," balas Nichkhun dengan nada santai sambil tersenyum. Sebelah tangannya terulur meraih telapak tangan Wooyoung yang tak menunjuk peta dan menggenggamnya. "Serahkan saja padaku," tambahnya lagi sambil ngewink menggoda ke arah Wooyoung. Membuat Wooyoung memberikan tatapan risih meski jantungnya berdebar dan dadanya berdesir aneh.
"Pejamkan matamu," pinta Nichkhun kemudian.
Wooyoung makin bingung, namun lagi-lagi dia menurut. Dia sendiri tak tahu mengapa ia begitu penurut hari ini. Padahal biasanya, jika ada orang yang seenaknya memerintahnya tanpa alasa, tak jarang Wooyoung pasti menantang. Jangan jauh-jauh, dengan Jaebeom, sepupunya yang empat tahun lebih tua dari Wooyoung itu saja mereka sering berdebat.
"Jangan kau buka matamu sebelum kuminta, Arrachi?" terdengar suara Nichkhun lagi.
Wooyoung mengganguk pelan dengan mata tertutup. Entah kenapa dia begitu percaya pada Nichkhun kalau lelaki itu tak mungkin berbuat macam-macam padanya. Kalau pun Wooyoung merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya, dia tinggal membuka mata dan memberontakkan. Tapi, untuk apa juga Nichkhun berbuat macam-macam padanya. Dia terlihat seperti orang baik kok. Iya kan?
Tak lama kemudian, Wooyoung merasa ada sebuah dorongan yang nyaris membuatnya terjatuh, namun tarikan di salah satu tangan yang digenggam Nichkhun membuatnya malah tertarik kedepan dan menubruk tubuh seseorang yang Wooyoung yakini sebagai milik Nichkhun. Mengingat bagaimana aroma lotus khas namja tersebut yang langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya.
Suara lalu lalang beberapa orang di sekitar mereka, mendadak lenyap dan hening seketika. Wooyoung bisa merasakan tubuhnya sempat melayang dengan kaki yang tergantung tanpa pijakan. Matanya terpejam erat, alisnya berkerut gelisah dan takut. Namun sebelah lengan Nichkhun yang merangkul pinggangnya secara posesif, dan juga tangan lainnya yang memegang lembut belakang kepala Wooyoung yang terbenam di dadanya. Membuat seluruh kegelisahan Wooyoung seolah bisa teratasi dalam sekejap.
Lagi-lagi Wooyoung bertanya dalam hati, mengapa hari ini dia menjadi anak baik yang begitu menurut? Dan mengapa kejadian aneh yang pertama kali dia rasakan ini membuat ia begitu nyaman?
Hanya lima belas detik kemudian, Wooyoung kembali merasakan kakinya berpijak pada sesuatu tempat. Suara bising pejalan kali yang berlalu lalang, dan juga hiruk pikuk pembicaraan acak yang saling menyahut pun terdengar di sekitar mereka.
Rangkulan Nichkhun pun terlepas. "Buka matamu." Wooyoung sempat bergidik mendengar bisikan Nichkhun yang bernada aneh menurutnya. Apalagi dengan dadanya yang sempat berdesir sesaat.
Perlahan, Wooyoung membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat, tentu saja wajah Nichkhun di hadapannya yang tersenyum begitu sumringah. "Tada!"
Dan mata Wooyoung langsung membulat terkejut begitu sadar dengan lingkungan sekitarnya. Ini bukan di pinggir jalan raya yang tadinya tampak asing dan sempat membuat Wooyoung merasa tersesat. Melainkan, lingkungan dan suasana riuh ini jelas-jelas adalah Namdaemun Sijang. Pasar tradisional yang terkenal di Seoul sebagai pusat perbelanjaan jalanan yang begitu lengkap, yang sudah aktif dan buka sejak 11 siang sampai jam tiga pagi. Dan ini adalah tempat favorite Wooyoung maupun Junho ketika mereka berkunjung ke Seoul.
Wooyoung tersenyum lebar. Sempat melupakan fakta bagaimana caranya Nichkhun bisa membawanya kemari dalam sekejap. Rasa senang dan juga lapar yang mulai mendesak diri Wooyoung untuk segera mencicipi berbagai makanan jajanan yang tersedia di pasar tersebut, membuat Wooyoung benar-benar lupa sesaat tentang kejadian aneh yang baru saja ia alami bersama Nichkhun.
Wooyoung mulai berjalan dan hendak menghampiri salah satu stan ddeokbokki yang aromanya sudah tercium begitu sedap. Namun langkahnya terhenti ketika ia akhirnya menyadari sesuatu. Nichkhun yang berjalan di belakangnya, menyusul Wooyoung dan memandangnya dengan heran.
"Waeyo?"
Dengan wajah memelas dan penuh kekecewaan. Wooyoung memandang Nichkhun sambil mengerucutkan bibirnya. "Aku lupa bawa uang." Benar, ia lupa kalau tas ransel yang berisi dompetnya itu tertinggal bersama Jaebeom dan klub membernya di sebrang tempat nan di sana.
Nichkhun malah tersenyum geli. "Jangan khawatir. Aku yang sudah mengajakmu jalan-jalan, jadi aku akan membayar apapun yang kau inginkan kali ini."
"Kau serius? Apa kau tidak terlalu berlebihan?" tanya Wooyoung ragu sambil menatap enggan pada Nichkhun.
Senyuman khas Nichkhun mendadak hilang dan tergantikan dengan tatapan serius yang jarang ia keluarkan. "Kau mau kubayarkan atau tidak?" bahkan perkataannya kali ini terdengar penuh penekanan, seolah sedang mengancam.
Wooyoung sempat bergidik, sebelum ia akhirnya tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya. "Hahaha.. oke-oke. Itu bagus." Tanpa ragu pun ia mulai menarik lengan Nichkhun dan membawanya ke salah satu stan yang menjual ddeokbokki. "Kita ke sana!" serunya bersemangat. Mempunyai teman se'baik' Nichkhun ternyata sangat menyenangkan.
Nichkhun tersenyum penuh kebanggaan melihat kecerian yang tergambar di raut wajah Wooyoung. Penyihir tampan itu menepuk saku celananya yang berisi dompet tebal. Dalam hati dia berterima kasih sekaligus minta maaf pada Taecyeon. Karena sudah meminjam dompet penyihir jenius itu tanpa izin sama sekali. Lagian, mana mungkin Nichkhun bisa mendapatkan uang yang berlaku di dunia ini dalam jangka waktu tiga hari ia tiba di sini. Iya kan?
Dalam hati, Nichkhun menyeringai begitu lebar. Taecyeon memang sangat memberikan banyak bantuan padanya di dunia ini. Entah secara sadar maupun tidak.
.
.
~*~P.S.P~*~
.
.
Taecyeon bersin tanpa sebab. Ia sejenak mengusap hidungnya. Lalu kembali menumpuk lima koleksi album idolanya yang ia punya. Sesekali ia melirik ke kanan dan kiri. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa tak ada seorang pun yang melihatnya.
Sial. Mengapa tingkahnya malah terlihat seperti orang yang sedang ingin mencuri sesuatu. Padahal ini adalah rumahnya sendiri dan benda yang kini ia pegang adalah barang miliknya sendiri. Lagian apa yang perlu ditakutkan kalau hanya dia seorang yang berada di ruang tengah, sementara Nichkhun sudah keluar rumah sejak pagi tadi entah kemana, dan Junsu yang berada di dalam kamarnya yang tak bisa berjalan sama sekali.
Sadarlah Taecyeon. Kau hanya terlalu paranoid untuk takut diketahui sebagai salah satu fans dari Jun. K. Penyayi solo terkenal yang sudah banyak berprestasi itu. Yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah menyimpan semua koleksi album Jun. K itu di tempat aman yang tak bisa ditemukan oleh orang lain kecuali dirimu sendiri. Yah, hanya itu, pikir Taecyeon.
Penyihir itu lalu berdiri tegap sambil melambaikan tangannya. Membuat tumpukan lima keping CD album di hadapannya tadi itu melayang di udara. Dengan gumaman mantra singkat dan jentikan jari, lima benda sejenis berbeda cover itu lenyap dalam sekejap. Berpindah tempat ke tempat yang paling aman menurut Taecyeon.
Sebuah helaan nafas lega keluar dari pernapasan Taecyeon. Penyihir jenius itu menyandar pada sisi dinding terdekat dengan pandangan mata yang menerawang jauh. Masih teringat jelas bagaimana dirinya pertama kali tinggal dan mulai menyesuaikan diri di dunia ini sejak lima bulan yang lalu.
Saat itu, ketika ia berjalan ke toko buku bekas di pinggir jalan yang biasa malah menyimpan banyak buku tua yang selalu menjadi minat Taecyeon. Tanpa sengaja di tengah perjalanan dia mendengar lantunan musik beserta suara merdu dari salah satu speaker yang berbunyi di toko kecil kaset CD. Taecyeon terpaku dengan suara itu. Katakan saja kalau dia benar-benar menyukai suara itu sejak pertama kali mendengarnya.
Alunan nyanyian merdu dengan suara yang terdengar lembut dan berwarna seperti malaikat itu, tak pernah sekalipun Taecyeon mendengar sebelumnya. Taecyeon memang hanyalah penyihir kutu buku yang lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan atau pun di rumah dengan membaca buku. Dan tidak pernah sekali pun ia menerima ajakan temannya untuk berkunjung di danau orzt saat liburan tiba untuk mengintip para mermaid, yang konon katanya, nyanyian terdengar begitu merdu. Tapi entah kenapa, Taecyeon kini memiliki pemikiran bahwa suara yang di dengarnya saat ini tidak kalah merdu dari mermaid di dunia sana, bahkan mungkin suara penyanyi yang ia dengar kini jauh lebih merdu dan mampu menggetarkan hati maupun bulu kuduk yang meremang karena merinding dengan suara indah tersebut.
Ketika dentungan musik itu mencapai akhirnya, dengan penutupan nada rendah sang penyanyi yang begitu memukau. Baru membuat Taecyeon tersadar dengan keterpakuan dan kediamannya yang sejak tadi berdiri di depan toko musik tersebut. Tanpa berpikir panjang pun, Taecyeon segera memasuki toko musik tersebut dan bertanya tentang lagu yang baru saja diputar tersebut kepada pemilik tokonya. Setelah sang empu toko menjelaskan siapa penyanyi tersebut beserta dengan lima album yang sudah diliris penyanyi solo itu. Tanpa ragu Taecyeon langsung memborong lima macam album tersebut dengan kilatan langkah yang ada di matanya kala itu.
Sejak saat itu, ia selalu memutar lantunan lagu dari penyanyi yang ia ketahui bernama Jun.K itu, sambil membaca buku maupun saat-saat ia membuat ramuannya. Tak pernah sekalipun Taecyeon menyempatkan diri untuk menonton MV atau acara TV yang mencangkup tentang penyanyi idolanya itu. Ia memang tak berminat memiliki TV di rumahnya, karena deretan buku lebih menarik perhatiannya, tipikal Taecyeon sejati. Di cover album Jun. K tersebut juga hanya ada beberapa gambaran foto Jun. K yang penuh dengan maskara ala pantomin atau Joker –tokoh antagonis Batman–. Ada juga yang hanya bertuliskan 'No Love', dan bergambarkan kepala panda saja.
Jadi bukan kesalahan Taecyeon sepenuhnya kalau ia tak sadar dengan cepat, saat pertama kali mendapati sosok Junsu di rumahnya, dengan wajah polos tanpa make up sama sekali, beserta tatapan bingung ketika tubuhnya terkena ramuan hijau itu, bahwa manusia biasa itu tak lain adalah Jun. K. Lagian Taecyeon tak juga memiliki petunjuk apapun ketika ia menlap sebagian sisa ramuan hijau di tubuh Junsu, dengan wajah polos nan cute Junsu yang tampak lelap kala itu, ternyata adalah orang yang sama dengan wajah yang berdandan ala Joker yang tampak agak menyeramkan di salan satu cover album milik Jun. K.
Intinya, Jun. K dan Junsu adalah orang yang sama. Penyanyi solo idolanya itu adalah orang yang sama dengan namja yang kini lumpuh akibat ramuan Taecyeon itu sendiri. Kini Taecyeon tak tahu dirinya harus menyikapi peristiwa ini dengan kebahagian atau malah penyesalan karena kecerobohannya.
"Hei! Taecyeon-sshi!"
Seruan Junsu terdengar dari dalam kamar. Membuat Taecyeon segera tersadar dari pikirannya. Dengan jentikan jari, ia membuat dirinya sendiri berpindah tempat dan langsung berdiri di samping ranjang Junsu.
Junsu sempat memekik kaget melihat kemunculan Taecyeon yang seperti hantu itu. Namun penyanyi itu langsung menghela nafas dan mencoba menenangkan dirinya dari keterkejutan tersebut. Dia harus tetap mengingat bahwa kini dia tinggal di rumah seorang penyihir, dan harus terbiasa dengan hal-hal aneh nan baru seperti itu. Ah, rasanya seperti mimpi saja.
"Ada apa?" tanya Taecyeon berusaha terdengar datar, meski hatinya tadi sempat membuncah mendengar suara Junsu yang memanggil namanya. Oh Taecyeon, sadarlah. Kau hanya mengidolakannya, menyukai suaranya, bukan orangnya. Taecyeon berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Alis Taecyeon bertaut heran saat melihat raut wajah Junsu yang tampak gelisah. Namja yang kini lumpuh itu, sedang menggigit bibir bawahnya dengan mata yang bergulir liar. Tampak ragu ingin mengatakan sesuatu.
Taecyeon menghela nafas. "Katakan saja kau mau apa. Bukannya sudah kubilang aku akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau alami saat ini," bujuk Taecyeon, mencoba meyakinkan Junsu agar tidak terlalu enggan padanya.
"Aku mau buang air kecil," gumam Junsu pelan tanpa menatap Taecyeon, namun itu cukup terdengar oleh namja tinggi tersebut.
Tanpa Junsu sadari, Taecyeon sempat melotot di tempat. Penyihir jenius itu tak pernah menyangka hal sepele yang mungkin berdampak besar itu keluar dari bibir permohonan Junsu. Sial. Taecyeon tak bisa menggunakan sihir peminda pada Junsu ke kamar mandi dan melakukan kegiatannya di dalam sana. Ingat, ramuan itu juga berfungsi sebagai perisai sihir terhadap Junsu. Membuat segala sihir apapun tak berfungsi pada tubuhnya saat ini.
Jadi, dia benar-benar harus melakukannya secara manusia biasa untuk menjadi pengasuh Junsu. Dalam hati Taecyeon meratapi nasibnya.
Tenang Taecyeon. Ini bukan apa-apa. Tak perlu dikhawatirkan karena kau hanya menyukai suaranya, yah, hanya suaranya. Lagi-lagi dalam hati Taecyeon berusaha meyakinkannya dirinya sendiri.
Dengan sedikit ragu, namun pada akhirnya Taecyeon tetap melakukannya. Mengangkat dan menggendong tubuh lumpuh Junsu dari atas ranjang dengan ala bridal style, gaya ala manusia biasa. Dalam hati Taecyeon mendengus.
Junsu sempat memekik kaget dan memberontak. Meski gerakan yang dibuat hanyalah gelengan kepala, karena seluruh tubuhnya terasa begitu mati rasa untuk digerakkan.
"Kau mau apa? T-tunggu dulu! Kau mau membawaku kemana? Turunkan aku!"
"Diamlah. Aku hanya ingin membawamu ke kamar mandi dan membantumu menyelesaikan masalah kecilmu itu. Mana mungkin aku membiarkan kau membuatku makin repot dengan mengencingi ranjangku sendiri?"
Junsu mati kutu. Tak bisa membalas ucapan itu. Kepalanya menoleh ke arah berlawanan dari Taecyeon sambil mengumpat pelan. "Sial. Katakan padaku kalau aku sedang bermimpi."
Taecyeon tersenyum miring. "Setidaknya kau bersyukur karena kita sesama pria."
Ada jeda sedikit sebelum akhirnya Junsu kembali membalas dengan suara lirih. "Yah, kau benar."
Suara pintu kamar mandi pun tertutup setelah keduanya masuk di dalam sana. Dari luar, bisa terdengar suara Taecyeon yang mengeluh.
"Kau bau."
"Yach! Tentu saja badanku bau dan gatal! Kau tidak ingat apa? Aku jadi tidak mandi selama tiga hari karena ramuan bodohmu itu!"
"Salahmu sendiri juga sudah memasuki rumah orang sembarangan," balas suara Taecyeon dengan nada datar namun terdengar menyebalkan di telinga Junsu.
"Aku melakukannya karena sedang terdesak. Lagian mengapa kau tidak menutup jendela rumahmu kalau kau sedang menyimpan ramuan berbahaya di dalamnya, dasar pabbo!" sungut Junsu tak mau disalahkan sepenuhnya.
"Aku tidak pabbo," desis Taecyeon, tidak suka orang mengatainya pabbo sementara nyaris seluruh dunia sihir mengakuinya sebagai penyihir yang jenius.
Junsu tak lagi membalas. Seolah ia bisa merasakan sinyal berbahaya ketika melihat aura tak mengenakkan dari sekitar tubuh Taecyeon.
Hening dalam kecangguan. Sebelum akhirnya Taecyeon kembali bersuara. "Mau mandi?"
Tak lama kemudian, sebuah suara shower pun terdengar dari dalam kamar mandi tersebut.
(A/N: ini bukan rate M. jadi jangan berpikir macam-macam dan berharap ada suara desahan)
.
.
~*~P.S.P~*~
.
.
Ini sudah yang kelima harinya Junho mendapati sekolahnya makin ramai dengan para murid perempuan yang rasanya selalu bertambah dan berdatangan ke sekolah tiap harinya. Padahal ini kan masih liburan musim panas. Lagian, mereka yang datang itu juga tidak memiliki kepentingan berarti (menurut Junho) karena mereka tak mengikuti pelajaran tambahan seperti Junho dan 27 siswa lainnya.
Sesampainya Junho di lantai dasar gedung sekolah. Ia bisa melihat beberapa kumpulan yeoja-yeoja yang bersemangat, terkadang mereka terkikik bersama sambil melihat ke arah gerbang sekolah. Tempat di mana tubuh tegap Chansung berdiri di sana sambil menunggu seseorang.
Junho menghela nafas. Masih teringat jelas di benaknya bagaimana ini semua dimulai. Lima hari yang lalu, sehari setelah Junho memotong rambut Chansung sebaik mungkin dengan model trend saat ini. Junho yang baru keluar kelas dari pelajaran tambahannya itu, langsung diseret oleh tiga teman yeoja-nya yang juga ikut kelas tambahan itu. Awalnya ia tidak memiliki ide mengapa ketiga temannya itu tampak malu-malu tapi dengan raut penasaran dan sedikit ragu-ragu bertanya pada Junho. Siapa gerangan kah namja tampan yang sedang menunggunya itu di depan gerbang sekolah?
Junho sendiri nyaris tak mempercayai penglihatannya saat melihat penampilan Chansung kala itu. Wow, cepat juga dia belajar, pikir Junho. Padahal baru semalam ia memberikan katalog majalah trend fasion edisi terbaru. Junho pikir Chansung adalah orang bodoh. Ternyata tidak juga. Atau jangan-jangan dugaan Junho tentang Chansung yang berpura-pura bertingkah kelewat polos itu benar? Junho masih tak tahu jawaban pastinya.
Dan beginilah suasana sekitar Junho saat ini. Berjalan ke arah gerbang dengan berbagai bisikan centil para yeoja yang dilewatinya mengenai Chansung. Hanya lima hari, dan kabar berhembus begitu cepat. Betapa mengerikannya keahlian gosip para yeoja tersebut.
"Apa dia seorang mahasiswa? Penampilannya begitu keren dan dewasa!" salah satu komentar yeoja sempat masuk ke telinga Junho yang melewatinya.
Heh. Betapa penampilan bisa menipu orang. Padahal Chansung sendiri seumuran dengan mereka. Bahkan sebulan lebih muda dari Junho. Rasanya Junho ingin tertawa miris dalam hati.
"Oppa ya? Sangat tampan. Aku tak pernah melihat wajah seperti itu. Mungkin dia berasal dari luar negeri. Ah, mungkin saja Itali!"
Luar negeri apanya? Luar dunia lain sih, iya! Hah. Coba kalau mereka melihat penampilan Chansung sebelumnya. Dengan rambut panjang sebahu belah tengah yang tampak kuno, dan juga pakaian hanbok abu-abu yang tampak kampungan. Mereka pasti akan mengira kalau Chansung berasal dari negara antah berantah yang tak berpenghuni. Dalam hati, Junho tertawa mengejek yang tampak mengerikan atas pemikirannya barusan. Hahaha... antah berantah...
"Sudah selesai, Junho-yah?" suara husky Chansung yang terdengar sok akrab itu. Mampu menyadarkan Junho bahwa kini dia sudah mencapai gerbang sekolah dengan Chansung yang berdiri di hadapannya.
Junho melirik Chansung dengan sinis. "Mengapa kau selalu saja menjemputku ke sini?" desisnya tak suka. Yah, mengapa kau tidak di rumah saja dan tak usah berkeliaran ke mana-mana, tambah Junho dalam hati.
"Kan sudah kubilang padamu Junho-yah. Aku bosan di rumah terus sendirian. Lagian kau melarangku untuk masuk ke dalam sekolahmu. Jadi yah, aku menunggumu di sini saja." Jawaban Chansung selalu saja sama seperti hari-hari sebelumnya. Alasan yang sebenarnya cukup masuk akal, namun Junho seolah tak ingin menerima alasan itu. Pokoknya Junho tak suka jika Chansung selalu saja ke sekolahnya. Hanya tidak suka dengan hal itu, meski Junho sendiri tak bisa memastikan alasannya apa.
"Junho-sshi~" panggilan kompak para yeoja yang berjalan melewati mereka, menyempatkan diri untuk menyapa Junho. "Kami duluan yah~" mereka melambai pada Junho, meski dengan secara terang-terangan mata mereka hanya tertuju pada Chansung yang berdiri di sebelah Junho.
Junho memaksakan diri membalas senyuman mereka. Chansung yang tak tahu apa-apa atau pura-pura tak menyadarinya, ikut balas tersenyum lebar, seperti senyuman orang bodoh menurut Junho.
Setelahnya, para yeoja itu berbalik sambil memekik histeris yang terdengar menyebalkan di telinga Junho. "Kyaaa... senyumannya tampan. Sangat tampan!"
Bodoh. Idiot. Tolol. Junho mengumpat dalam hati sambil mengepal tangannya kuat melihat kepergian yeoja-yeoja centil itu. Tahu begini, Junho tak akan mau dengan sukarela memangkas rambut Chansung dan memberikannya majalah fasion itu dulu. Biar saja, dia tampak seperti orang udik. Agar semua mata genit itu tak memandang penuh minat ke arah Chansung. Cukup Junho saja yang menyadari ketampanan penyihir muda itu.
.
.
.
Keringat dingin mendadak muncul dari kening Junho. Hal GILA macam apa yang baru saja kau pikirkan tadi? ? ? ? histeris Junho dalam hati.
Rasanya Junho ingin sekali membenturkan kepalanya ke pagar gerbang sekolah di dekatnya.
"Junho-sshi," suara yeoja lain kembali memanggilnya dari belakang.
Junho mendengus kesal sambil memumar bola matanya bosan. Apa lagi sekarang? Jangan bilang ada salah satu teman yeoja-nya yang ingin dikenalkan kepada Chansung? Heh. Enak saja.
"Ada apa?" balas Junho dengan nada tak bersahabat sambil membalikkan badannya ke arah asal suara yeoja tersebut. Namun pandangan matanya yang sempat menajam berubah terkejut melihat sosok yeoja yang ia kenal betul, kini berdiri tak jauh di hadapannya. "N-nuuna..."
Sudah seminggu lebih lamanya, dan Junho tak pernah sekalipun berpikir kalau dia akan bertemu lagi dengan Kim Soeun di depan gerbang sekolahnya sendiri.
.
.
.
.
_To_Be_Continued_
Mau tahu kejadian langkah saat proses Aya nulis chapter ini? Selama satu hari satu malam. Aya jadi orang yang tak waras karena mengetik cerita ini sambil ngakak sendiri di depan laptop. Benar kan? Sudah tak waras? (Author langkah: orang tak waras yang mengakui kegilaannya sendiri)
Balas Review:
Kim 'Nyx' Eunjung: xixixi… jadi gimana perkembangan Khunwoo menurutmu di sini? :D
BLUEFIRE0805: Kkk~ jadi gimana menurutmu setelah melihat tingkah Chansung di sini? Masih menduganya sebagai orang pervert? *smirk
thiezz hezty aka park yara istriduniaaheratnxajunhomakh unie: wew, daebak, namanya panjang amat. Ahh.. jangan nangis dunk. Nanti Aya juga ikutan nangis karena Khunnie blum kembali (nah lho?). Terima kasih sudah mau mendukungku. *kibarkan bendera KY, CH, TS.*
: coba dilihat lagi chap pertama. Nichkhun dengan Chansung bukan saudara kandung. Tapi sepupu, itu pun sepupu tiga kali. Yang tak lain artinya nenek Nichkhun dan nenek Chansung yang sepupu satu kali.
Nhawoo: bagian sebelah mananya yang buat kamu ngakak *penasaran* pengen tahu buat intropeksi karangan sendiri.
woo4ever: sekali lagi kukatakan. Aya suka dengan koment yang panjaaaang! *ketawa-ketiwi baca komentmu* oke-oke, jadi gimana KY moment di sini. Aya sadar sih, ini belum nyampe bagian romantisnya, tapi moga aja cukup menghibur.
Irnafith: Sudah Aya tambahin. Kalau mau lagi, nunggu di chap depan aja yah. XD
JunKAY0430: ahh. Mian. Baru setengah jalan 'skandal junsu' buat aya gak kuat. Gak tahu, bisa lanjutin apa nggak *meragukan
Yesikashii: Emang sengaja buat pasangan ChanHo di sini agak kocak.^^ Yosh. Fighting! Makasih udah ngereview saeng… :D
Weniangangel: iya nih, kemarin lagi dibalap-balapnya karena didesak. Sampai gak sempat balas review. Ahh… tapi aya memang agak malas mau ngecek typo-nya kembali *author malas#plaak* sekali kukatakan: Mian. Baru setengah jalan 'skandal junsu' buat aya gak kuat. Gak tahu, bisa lanjutin apa nggak *meragukan
Inkballoon: saeng jangan nangis yah, *nepok-nepok* jadi gimana KY moment di sini. Aya sadar sih, ini belum nyampe bagian romantisnya, tapi moga aja cukup menghibur.
Azula: xixixi.. Uyong selalu menggemaskan di mataku. Makanya karakternya di sini menggemaskan. :D
Woojay: Alasan mengapa Taec baru nyadar kalo itu Junsu adalah Jun. K. Sudah dijelaskan di atas kan? XD Udong punya sifat brother compleks di sini. Chansung cium pipinya Junho. Maaf, dari awal fict ini akan tetap berada di jalur rate T. :D
Wokeh. Kali ini Aya dalam mood baik buat update cepat.. tapi gak tahu pasti nanti lanjutannya gimana, masih bisa update cepat, atau malah yang kayak minggu lalu. ,
Hanya Tuhan yang nantinya... doakan saja yang terbaik, oke, #wink
Berkenan untuk meninggalkan Review lagi chingu ? ? #puppy eyes
~AyA~
