BACKSTREET

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

Pair: AkaKuro, KiKuro, AkaFuri

Warning: Mengandung unsur BL/Yaoi, Typo, Eyd berantakan dan ranjau bertebaran

Rated: T+

Backstreet©Daisy Uchiha

Beta Reader© AuRi416

Cover©

Don't Like Don't Read

Happy Reading ^_^

Backstreet Chapter 4

Kise Ryouta memandang Sensei yang tengah mengajar di kelas dengan tatapan malas, iris emas sesekali melirik jam tangan mahal di pergelangan, bibir mendecih tidak suka, lima menit sebelum jam istirahat baginya terasa sangat lama dan menjengkelkan, intinya Kise tidak sabar. Saat ini dia butuh sang kekasih, Tetsuyacchi-nya. Hati masih gundah jika belum bertemu langsung, dia hanya ingin memastikan jika sang Malaikat baik-baik saja.

Lima hari di Jerman membuat hari-harinya kacau, dia benar-benar tidak bisa jauh dari Kuroko. Dan hampir saja Kise meluncur ke apartemen kekasihnya begitu tiba di Tokyo, kalau saja dia tidak ingat jika sudah dini hari.

Bel berdentang bagaikan alunan musik surga di telinga. Dengan secepat kilat, bahkan tanpa menunggu sang Sensei meninggalkan kelas, Kise berlari bak orang kesetanan. Tidak peduli dengan larangan lari di koridor atau pun dengan gerutuan orang yang ditabraknya. Fokusnya hanya satu, Kuroko Tetsuya.

Napas Kise memburu begitu kaki menapak di depan kelas Kuroko. Senyum lebar tidak pernah luntur begitu melihat sang Kekasih tertangkap di retina. Ekspresi Kuroko masih datar seperti biasa, iris biru masih jernih seperti saat sebelum dia pergi. Namun, entah mengapa saat ini Kuroko terlihat jauh lebih manis di mata emasnya. Dia tidak pernah tahu jika akan seperti ini rasanya merindukan Kuroko Tetsuya. Kise baru saja menyadari jika dia jatuh lebih dalam lagi pada pesona yang dimiliki si Mahluk biru.

"Tetsuyacchi, aku kangen-ssu!" Kise berteriak hingga suaranya menggema di kelas Kuroko.

Beberapa pasang mata memandang heran dan penuh tanda tanya. Namun saat tahu siapa pelakunya, mereka kembali pada aktivitas semula. Kise Ryouta dan kehebohannya. Bukanlah hal yang baru, jadi untuk apa dipermasalahkan?

Kuroko yang melihat tingkah Kise hanya menatap sang Kekasih datar dan tetap bergeming di tempat duduk. Bukan Kise namanya jika tidak berbuat heboh dan tentu membuat lelaki tampan tersebut menjadi pusat perhatian.

Kise berlari menerjang tubuh yang lebih kecil darinya, hingga membuat Kuroko terjungkal. Dekapan dieratkan, namun setelah tahu sang Kekasih kesakitan pelukan diurai terpaksa, sebelum akhirnya membantu Kuroko kembali duduk di bangku. Sepasang telapak tangan menangkup pipi pucat Kuroko dan menghujaninya dengan kecupan bertubi.

Kuroko meremas pundak Kise, meminta dilepaskan. Kise memeluk dan mencium pipi Kuroko di depan umum bukanlah hal yang baru, namun biar bagaimana pun Kuroko butuh jeda untuk bernapas.

Melihat Kuroko kepayahan tak lantas membuat Kise melepaskan, justru telapak tangan yang bertengger di pipi Kuroko pindah ke belakang kepala, berusaha membuat si Manis diam dan menerima.

Kuroko melotot galak, meski tidak semua orang bisa melihat. Sinyal yang dia kirim bukannya tidak sampai, namun memang sengaja di abaikan Kise. Kecupan di wajah memang disudahi, tapi sekarang justru bibir yang diinvasi. Kalau sudah begini, terpaksa kepalan tangan yang harus memperingati.

Bugh

Suara debaman menggantikan tatapan tidak percaya yang dilayangkan teman sekelas Kuroko saat melihat keduanya berciuman beberapa saat yang lalu. Mereka menggelengkan kepala prihatin atas apa yang menimpa Kise.

"Tetsuyacchi, hidoi-ssu," Kise merengek, sedangkan telapak tangan mengusap pantat yang mencumbu lantai.

Kuroko tidak mau dengar, apalagi memperhatikan, dia lebih memilih memalingkan muka. Kemudian meninggalkan kelas tanpa peringatan. Kaki menghentak kasar, pertanda dia sedang kesal. Bahkan teriakkan Kise yang memintanya berhenti diabaikan.

Furihata yang melihat interaksi kedunya hanya bisa tersenyum pahit. Bisa dia lihat betapa Kise sangat mencintai Kuroko. Meski terlihat sering berselisih, namun tidak lantas membuat mereka berpisah, justru membuat keduanya semakin terlihat mesra. Berbeda saat dia bersama Akashi, lelaki tampan bersurai merah tersebut tidak pernah menunjukkan perasaannya secara gamblang. Entah karena memang sifatnya begitu atau karena Akashi sebenarnya tidak memiliki rasa cinta untuknya.

Furihata menggelengkan kepala panik saat pemikiran tersebut melintas begitu saja. Kagami Taiga yang saat itu kebetulan duduk di sebelahnya untuk menyalin jawaban tugas hanya bisa menaikkan sebelas alis.

"Kau kenapa?"

"Eh?" Furihata kaget, tidak sadar jika sedari tadi Kagami memperhatikan.

"T-tidak apa-apa, Kagami-kun," Jawab Furihata akhirnya.

Kagami merasa bahwa sang rekan menyembunyikan sesuatu, tapi lelaki kekar tersebut lebih memilih diam. Menutup buku saat selesai dengan salinan tugasnya, Kagami kembali bertanya. "Mau ke atap bersama?"

Surai coklat menggangguk disertai senyum manis yang terpatri di bibir. Entah mengapa hal tersebut membuat pipi Kagami dirambati rona merah. Hal simple yang entah bagaimana membuat si Surai merah juga ikut tersenyum.

.

.

.

.

"Akashi," Pundak ditepuk pelan, meminta atensi.

Kepala merah Akashi menengok ke sumber suara, sepasang alis tertaut saat tahu Aomine lah yang memanggil.

"Kau terlihat senang," Bangku digeser ke belakang, sebelum kemudian duduk di atasnya.

"Apa sangat terlihat?" Ujar Akashi. Pandangan sudah tidak fokus pada buku di tangan.

Aomine mengendikkan bahu, "Kelihatannya begitu."

"Sei-chan!"

Satu orang lagi muncul, makhluk melambai yang entah bagaimana bisa menjadi sahabat Akashi, meski dengan segala tingkah absurd yang mengikuti. Mibuchi menggebrak meja perpustakaan, membuat si Flamboyan dihadiahi lirikan maut oleh penjaga perpustakaan.

Mibuchi meringis, meminta maaf secara non-verbal atas apa yang dilakukan, sebelum akhirnya memusatkan perhatian pada si Merah. "Katakan padaku bahwa ini hanya gosip, Sei-chan!" Kepala maju, wajah dibuat seserius mungkin, bersiap menginterogasi. Sedangkan Aomine yang tidak tahu apa-apa hanya diam menonton.

"Apa maksudmu, Reo," Suara memang terdengar biasa saja, namun terdapat nada berbahaya di dalamnya.

"Apa benar kalau kau sedang berpacaran dengan—" Mata bergerak resah, "—anak SMA itu?"

Aomine tersedak ludah sendiri, cukup terkejut dengan apa yang terjadi, "Kau sedang tidak bercanda 'kan, Mibuchi?"

Kepala menoleh, bibir mengerucut sok imut, "Tentu saja tidak!"

"Uh!" Aomine mengusap tengkuk, tidak tahu harus berkomentar apa.

"Jadi, Sei-chan—"

Akashi menghembuskan napas panjang, mungkin memang sudah waktunya semua orang tahu jika memang dia sudah memiliki kekasih.

"Ya," Akashi menjawab pendek.

Akashi tidak tahu jika jawaban yang keluar dari mulutnya bisa membuat Mibuchi berteriak heboh dan Aomine terdiam cukup lama. Hingga menjadikan mereka bertiga pusat pusat perhatian.

"Jadi yang membuatmu terlihat senang, ini?" Aomine bertanya memastikan. Terjawab sudah tingkah aneh Akashi beberapa hari ini. Akashi dan senyum manis bukanlah kombinasi yang bagus, sebab biasanya pemuda tersebut mengatupkan bibir rapat.

Alis merah naik berapa inchi,"Tentu saja bukan."

Sekarang giliran Mibuchi yang menatap kedua temannya bingung, mata memandang Akashi dan Aomine bergantian, dia tidak tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan.

"Lalu?" Aomine masih mendesak ingin tahu.

"Bukan urusanmu, Daiki."

Mibuchi menempelkan kedua telapak tangan di pipinya sendiri, kepala menggelang bingung, sebelum akhirnya berteriak heboh, "Apa sih yang sedang kalian bicarakan?"

"Ini juga bukan urusanmu, Reo," Iris merah menatap tajam.

Tangan bergerak cepat membereskan jurnal dan beberapa buku bertemakan bisnis yang berserakan di atas meja. Ransel di ambil, sebelum kemudian meninggalkan keduanya tanpa jawaban pasti. Apa yang dia katakan memang benar, dia tengah menjalin hubungan dengan Furihata yang notabene masih pelajar SMA, namun bukan pemuda bersurai coklat tersebut yang membuatnya terlihat bahagia, seperti yang Aomine katakan. Ada alasan lain mengapa dia tidak hentinya menebar senyum yang sanggup membuat semua wanita bertekuk lutut, dan Kuroko Tetsuya-lah alasan itu.

.

.

.

.

SMA Seirin adalah sekolah tingkat menengah yang baru berdiri sekitar tiga tahun. Wajar jika belum berkembang seperti SMA yang lain. Kegiatan clubnya pun belum begitu banyak. Satu-satunya club yang menonjol hanyalah club bakset. Club yang dimanageri oleh Aida Riko tersebut mampu membawa sekolah mereka berlaga di Winter Cup, bahkan sampai memenangkan kejuaraan tersebut. Semenjak itulah eksistensi SMA Seirin mulai dipandang oleh semua orang, bahkan membuat SMA ini cukup diperhitungkan.

Gymnasium yang terletak di sebelah aula sekolah memang selalu ramai, terutama saat sore hari, karena memang di sinilah club reguler basket berlatih. Pantulan bola basket, teriakan para pemain dan sorak sorai penonton mendominasi suasana latihan sore itu.

Kuroko Tetsuya sedang melakukan pemanasan saat tiba-tiba Kise datang dan berdiri di depan pintu Gym. Pemuda tampan tersebut memang diam saja, namun teriakan fans-nya cukup menarik perhatian Kuroko. Hingga membuat pemuda manis tersebut terpaksa menghampiri.

"Tetsuyacchi, aku kangen-ssu," Senyum tidak pernah luntur sedikit pun dari bibir Kise sejak tadi pagi dan kalimat ini pun tidak pernah bosan Kise ucapkan sepanjang pagi hingga sore hampir menjelang.

Kise merentangkan tangan hendak memeluk pemuda manis yang sudah ada di depan mata, namun dengan sigap Kuroko menghindar. Dada Kise berdenyut nyeri, karena tidak biasanya Kuroko menghindari sentuhannya. Kuroko memang tidak menolak, namun biasanya menerima, bukan menghindar.

"Badanku berkeringat, Ryouta-kun," Kuroko beralasan.

Kise tersenyum maklum, telapak tangan terangkat, mengusap helaian biru sang Kekasih, "Setelah latihan mau berkencan denganku-ssu?"

Kuroko diam, bimbang. Karena jujur saja, dia sudah ada janji dengan Akashi, dan pria merah itu tidak akan suka jika dia membatalkannya begitu saja.

Dengan wajar datar Kuroko menjawab, "Maaf, Ryouta-kun, hari ini aku tidak bisa."

Kise merengut kecewa. Dia sangat merindukan Kuroko, oleh karena itu setibanya di Jepang, dia ingin menebus waktu yang mereka lewatkan.

"Bagaimana kalau besok saja?" Ujar Kuroko mengusulkan.

Binar bahagia tidak bisa Kise sembunyikan saat mendengar apa yang Kuroko tawarkan. Memang rasanya kecewa saat ini, tapi setidaknya besok dia bisa menghabiskan waktu sepuasnya bersama orang yang dicintai.

"Kuroko!" Kagami berteriak meminta atensi si Biru.

Kepala bersurai biru menengok ke belakang, pandangan mengarah ke iris merah Kagami.

"Kalau sudah selesai, cepat kembali, latihan akan segera dimulai."

"Ha'i, Kagami-kun," Balas Kuroko singkat. Kemudian memandang kekasihnya lagi. "Aku harus segera latihan, Ryouta-kun."

"Wakatta," Tangan terangkat, menepuk puncak kepala si Biru. Sebelum akhirnya turun ke pipi dan mengusap pelan, "Pulang latihan aku jemput, ya-ssu?"

"Tidak perlu, Ryouta-kun, kau juga harus belajar untuk ujian nanti, 'kan?"

Kise mengerucutkan bibir, merajuk. Namun tidak berapa lama kemudian, Kise kembali tersenyum manis, "Baiklah. Telpon aku jika sudah sampai rumah, ya-ssu?"

Kepala biru mengangguk setuju, "Ha'i."

Telapak tangan Kise mengusap sisi wajah Kuroko, badan di condongkan ke depan, kemudian bibir merah Kuroko menjadi santapan. Kuroko yang sudah biasa hanya bisa menerima, tapi juga tidak membalas.

"Baiklah, aku pergi dulu-ssu," Kise mengakhiri ciuman di bibir manis Kuroko, karena keadaanlah yang memaksa.

Kuroko masih berdiri, memandang kepulangan Kise hingga punggung tegapnya tidak lagi terlihat di mata. Tatapan mata memang datar seperti biasa, namun percayalah jika dia sedang memandang sang Kekasih penuh sesal. Melihat Kise yang kecewa, jujur saja membuat hatinya terluka. Kise selalu menjadikan dia prioritas utama, tapi dengan jahatnya dia malah menduakan Kise. Apakah keputusannya untuk menerima Akashi salah? Sudah terlambatkah untuk menghentikan semua?

.

.

.

Latihan sudah berakhir sejak 30 menit lalu. Anggota basket reguler yang lain sudah beranjak meninggalkan ruang loker untuk segera pulang. Kini tinggal dua orang yang masih bertahan, yakni sang Power Forward dan si Bayangan. Keduanya masih sibuk mengemasi jersey yang harus mereka bawa pulang.

"Mau pulang bersama?" Ajak Kagami sembari menutup loker dan tidak lupa menguncinya. Badan dibalik menghadap sang Bayangan.

"Tidak, Kagami-kun, ada hal yang harus kulakukan" Balas Kuroko tanpa mengalihkan pandangan. Telapak tangan tetap memasukan jersey ke dalam tas.

"Baiklah, aku duluan," Ujar Kagami. Tas selempang disampirkan di pundak kiri, sebelum kemudian berjalan meninggalkan Kuroko seorang diri.

"Ha'i."

Kuroko melangkah dengan pelan, berusaha menikmati keheningan yang ada disekeliling, dia sangat menikmati ketenagan yang ada. Lembayung senja menambah romantis suasana, kalau saja dia tengah berdua.

.

.

.

Kagami sudah hampir sampai di stasiun dekat sekolah, namun tiba-tiba dia teringat jika jersey-nya masih ada di dalam loker gym. Akan sangat merepotkan jika dia sampai lupa membawanya pulang dan tidak mencucinya. Sebab besok dia masih harus latihan seperti biasa.

"Sial! Kenapa aku sampai lupa membawa jersey basketku, sih!" Kagami menggerutu sepanjang jalan. Bahkan dia mengabaikan tatapan penuh tanda tanya yang pejalan kaki lain layangkan.

Semua sumpah serapah yang ingin dia keluarkan kembali tertelan, saat tanpa sengaja iris merahnya menangkap sang Bayangan sedang berbica dengan sesorang. Kagami mencoba mengamati orang yang sedang berbicara dengan Kuroko. Namun sampai kepala pusing, dia tidak tahu siapa orang itu, sebab posisi orang asing tersebut membelakanginya. Menurut pengamatan Kagami, sepertinya orang tersebut cukup kaya, dilihat dari mobil sport yang pemuda asing itu bawa.

Kagami terpaksa diam dan memilih untuk melihat dari kejauhan saja, tidak mau mengganggu. Siapa pun yang bersama Kuroko saat ini, bukanlah urusannya, selama sang Bayangan tidak dalam bahaya.

Kaki menapak di gerbang, iris biru jernih memandang lurus pada satu objek yang tengah bersandar di pintu mobil. Hal tersebut membuat segaris senyum tersemat di bibir. Iris merah delima, wajah tampan rupawan, dialah Akashi Seijuurou, kekasih gelapnya.

"Sei-kun."

Suara datar nan merdu menyapa gendang telinga Akashi. Kontak mata terpaksa dilepas dari layar gadget, sebelum kemudian memasukan benda pipih tersebut ke dalam saku kemeja. Badan ditegakkan, iris mata kini sepenuhnya memandang entitas yang sudah lama dia tunggu.

"Sudah selesai, Tetsuya?" Segaris senyum terpeta di bibir yang biasanya terkatup rapat.

Kuroko menganggukkan kepala singkat, membenarkan apa yang Akashi ucapkan.

Akashi mengulurkan lengan kanan meraih tubuh mungil Kuroko dan menghilangkan jarak yang ada. Telapak tangan bergerak mengelus surai biru muda pelan, sebelum kemudian turun ke tengkuk, memaksa tubuh di hadapannya untuk tetap berada pada posisi yang sama, sebelum akhirnya bibir merah Kuroko menjadi sasaran.

Akashi bahkan mengabaikan fakta jika keduanya kini tengah berdiri tepat di depan gerbang sekolah Kuroko, dan siapa pun bisa melihat jelas apa yang sedang mereka lakukan. Namun, kalau sang Malaikat sudah ada di depan mata dengan wajah begitu menggoda, apakah Akashi sanggup mengabaikannya? Tentu saja tidak, bukan? Moment seperti sekarang ini sudah dia nantikan sejak dulu, dan kini Kuroko sudah dapat dia miliki seutuhnya. Jadi tidak ada alasan lagi untuk dia menahan diri, 'kan?

Ciuman Akashi terasa sangat berbeda dengan yang biasa Kise lakukan. Jika sang Model selalu langsung memberinya sebuah kecupan penuh tekanan perasaan, yang akan diulangi bertubi-tubi tanpa jeda. Maka Akashi bertindak sebaliknya, awal ciumanya hanya berupa sentuhan halus yang mengambang, persis seperti sentuhan kupu-kupu yang mendarat di ujung jari, gesekan kecil lembut sukses membuat permukaan bibir terasa tergelitik. Kemudian dilanjutkan dengan kecupan-kecupan kecil tanpa tekanan yang akan kemudian ditarik kembali dalam sebuah senyuman lembut.

Kuroko menjadi gamang, bila biasanya dia hanya pasif menerima ciuman yang Kise berikan. Kali ini bibirnya bergerak maju, mengejar kehangatan dan sentuhan yang kekasih merahnya tawarkan. Bibir mereka bertemu di tengah, dalam sebuah raupan hangat tanpa tekanan, tanpa paksaan. Saling mengulum permukaan bibir, hisapan lembut yang memabukan diberikan bergantian dibagian atas dan bawah, si Biru Muda sampai lupa caranya bernafas.

Durasi ciuman memang tidak seberapa lama, namun membuat hati Kuroko berdebar kencang, badannya tersentak dan bergetar. Memang ini bukan pertama kalinya dia menerima sebuah ciuman intens, namun entah mengapa Akashi sanggup membuat seluruh kinerja tubuhnya melemah, bahkan saat ciuman itu diberikan tanpa menggunakan lidah. Andai saja Kuroko tidak sedang dalam pelukan Akashi, mungkin badan mungilnya sudah terjatuh ke tanah.

Pelukan terpaksa dilepas sejenak, ibu jari mengusap lelehan saliva di sudut bibir, kemudian tersenyum menggoda. "Mau lebih, Tetsuya?"

"Mou! Sei-kun! Jangan mulai lagi," Kuroko memukul dada Akashi pelan, hanya main-main. Pipi pucat berubah menjadi merah, bahkan melebihi warna rambut sang Kekasih.

Tangan Akashi menangkap pergelangan Kuroko, sebelum kemudian mencium punggung tangan tersebut penuh pemujaan. Iris merah mengerling, ingin melihat reaksi sang Kekasih, dan seperti yang diharapkan, pipi meronalah yang dia dapati, membuat sosok Kuroko Tetsuya terlihat jauh lebih manis dalam iris delimanya.

"S-sei-kun, malu—" Kuroko memalingkan muka, tidak tahan dengan semua godaan yang diterima.

Kecupan diakhiri, sebelah telapak tangan melepas genggaman, jemari kokoh merambat ke pipi pucat yang kini dihiasi rona merah, kemudian mengusapnya penuh perhatian.

Telapak tangan Akashi terasa hangat, membuat Kuroko nyaman, bahkan tanpa sadar dia sudah memejamkan mata, menikmati segala sentuhan yang Akashi curahkan.

"Kau manis sekali, Tetsuya," Tangan masih bertengger di pipi sang Kekasih, pandangan mata hanya tertuju pada wajah merona Kuroko.

Iris biru Kuroko terbuka perlahan, semburat merah masih menghiasi pipi, bibir mengerucut tidak suka, "Sei-kun, aku tidak manis!"

Akashi terkekeh ringan, jelas-jelas Kuroko itu manis, semua orang juga tahu akan fakta itu, tapi si Empunya sendiri malah tidak merasa.

"Mau pergi sekarang?" Tanya Akashi lembut.

"Ha'i."

Akashi membukakkan pintu mobil, meminta Kuroko masuk, "Silahkan masuk, Dear."

Kuroko memang diam saja, tapi jika diperhatikan lagi, entah sudah semerah apa pipi pucatnya, dan itu tidak luput dari perhatian iris tajam Akashi Seijuurou.

Setelah Kuroko masuk ke mobil, Akashi segera menutup pintu dan berjalan memutar, sebelum kemudian mendudukan diri di balik kemudi, tidak lama setelahnya mobil sport merah kesayangan melaju membelah jalanan Tokyo.

Namun sepasang kekasih tersebut tidak tahu, bahwa interaksi keduanya terekam jelas dalam iris merah sang Power Forward Seirin, bahkan saat keduanya tengah bercumbu. Jujur saja, hal tersebut cukup mengganggu Kagami. Dia memang bukan tipe orang yang akan mencampuri urusan orang lain. Tetapi ini Kuroko Tetsuya, sahabat baiknya, dan dia merasa Kuroko bukanlah orang lain. Dia tahu pasti bahwa sang Sahabat tengah menjalin hubungan dengan Kise Ryouta, dan pemandangan yang dia lihat barusan membuatnya bingung harus bersikap seperti apa.

.

.

.

Mobil sport merah membelah jalan Tokyo senja hari ini, jalanan yang padat merayap cukup membuat Akashi jengkel sebenarnya. Namun, karena suasana hatinya sedang bagus, dia mengabaikan kepadatan itu. Yang penting saat ini adalah acara makan malam berdua dengan Kuroko Tetsuya. Memang bukan pertama kali mereka pergi berdua seperti sekarang, tapi kini status keduanya telah berubah menjadi sepasang kekasih. Sejak beberapa hari lalu, dia telah resmi memiliki pujaan hati.

Akashi menghentikan laju mobil saat traffic light yang sebelumnya berwarna orange berubah menjadi merah menyala. Pemuda tampan tersebut mengalihkan pandangan pada pemuda yang duduk dengan tenang di sebelahnya. Iris yang biasa menatap tajam, kini memandang sosok bersurai biru dengan tatapan lembut penuh cinta.

Merasa dipandangi, membuat Kuroko terpaksa berhenti melihat keluar jendela dan balas menatap kekasih barunya, dengan wajah datar dan tatapan mata polos Kuroko bertanya, "Kenapa, Sei-kun?"

Akashi tidak menjawab. Tetapi tangan kiri melepas kemudi, sebelum kemudian mengusap sisi wajah Kuroko lembut. Kulit pemuda itu terasa lembut membuat Akashi tidak pernah bosan untuk menyentuhnya, lagi dan lagi.

Kuroko yang diperlakukan demikian hanya diam, menikmati sentuhan hangat Akashi di wajahnya. Setiap inchi wajah mulai merona merah. Bibir bergetar mengumandangkan tanya, "Apa ada sesuatu di wajahku, Sei-kun?"

"Ya—" Jawab Akashi tidak fokus.

Pandangan mata Akashi sepenuhnya tertuju pada belah bibir merah Kuroko yang sangat menggoda, tampak sedikit membengkak karena ciuman mereka tadi, seakan meminta Akashi untuk kembali segera menyentuhnya. Dengan perlahan Akashi mencondongkan tubuh, kepala dimiringkan beberapa derajat, sebelum kemudian bibir miliknya menginvasi bibir Kuroko lembut. Awalnya memang hanya kecupan biasa tanpa godaan seperti biasanya, namun karena terbawa suasana senang dengan status kekasih yang kini dimiliki. Membuat Akashi tidak bisa menahan diri lagi, dan dikecupnya pemuda manis itu tanpa henti.

Akashi meninggalkan bibir Kuroko untuk melebarkan wilayah kekuasaanya. Perlahan namun pasti, bibir pemuda bersurai merah tersebut kini menyusuri bagian pipi, dagu, hingga berakhir di leher jenjang Kuroko. Pertama untuk menghirup aroma wangi vanilla yang menggoda, kemudian menjilat dan memberi gigitan kecil—meninggalkan banyak kiss mark di sepanjang leher jenjang yang memikat. Bekas itu tidak akan hilang selama beberapa hari, apalagi terdapat di tempat yang sangat mudah terlihat.

Akashi hanya ingin menunjukkan pada dunia bahwa Kuroko Tetsuya sudah menjadi miliknya. Terutama pada pemuda tampan bersurai kuning cerah yang kini menyandang status sebagai kekasih resmi Kuroko. Memang terdengar jahat dan egois, namun Akashi bukanlah tipe orang yang mau berbagi, terlebih bila itu Kuroko Tetsuya. Dia ingin secepatnya mengklaim sang Malaikat secara resmi untuk dirinya sendiri.

Tubuh ringkih Kuroko bergetar, tidak kuat menerima semua godaan yang Akashi berikan. Panas yang semula berpusat di bagian leher, kini menjalar ke seluruh tubuh, wajahnya pun sudah semerah surai sang Kekasih. Segala sentuhan yang Akashi lakukan membuatnya tidak berdaya. Jangankan untuk melawan dan menghentikan, untuk menopang tubuhnya sendiri pun dia sudah tidak sanggup.

Kedua telapak tangan meremas kemeja yang dikenakan Akashi hingga kusut, dia butuh jeda waktu untuk menstabilkan detak jantungnya, dengan terbata Kuroko berkata, "Sei-kun—"

Akashi berhenti menginvasi, iris delima memandang si Biru dengan seksama. Kuroko dengan segala kesempurnaanya, benar-benar membuat dia tergila-gila, bahkan sanggup membangunkan sisi liar yang selama ini terkubur.

Kuroko terengah, pandangan mata sayu dan tidak bisa fokus. Surai biru berantakan dan lepek oleh keringat, akibat seringnya dia menggelengkan kepala saat semua sentuhan Akashi menjelajahi tiap inchi tubuh dan membuatnya merasa terbakar. Saliva yang entah milik siapa, meleleh melewati sela bibir dan bergerak menuruni dagu. Semua hal tersebut sukses membuat seorang Akashi Seijuurou lupa diri dan lupa lokasi.

Akashi menerbitkan seringai di wajah tampannya. Apa yang terjadi pada penampilan Kuroko yang berantakan saat ini adalah karena ulahnya, dan dia merasa sangat puas akan fakta tersebut.

Klakson beruntun dari mobil di belakang mereka membuat pemuda beriris delima tersebut menghentikan segala fantasi liarnya. Dengan segala pengendalian diri yang dia punya, Akashi berusaha menahan segala gejolak yang ada. Masih menyempatkan diri untuk mengecup sudut bibir Kuroko sekilas, sebelum kemudian kembali mengemudikan mobil sport merahnya cukup kencang.

.

.

.

Furihata melangkah lemas, pandangan terfokus pada layar telpon genggam yang tidak juga menunjukan tanda adanya pesan masuk. Nafas dihembuskan kasar, bibir melengkung ke bawah. Entah mengapa akhir-akhir ini kekasihnya sulit sekali dihubungi, rasa khawatir tersebersit begitu saja, takut jika ada hal buruk yang menimpa.

Karena lelah menunggu dalam ketidakpastian, akhirnya Furihata memutuskan untuk mengunjungi apartemen sang Kekasih. Berharap Akashi berada di sana, sehingga dia bisa melepaskan rindu yang membelenggu jiwa.

Setelah naik kereta dan berjalan kaki selama kurang lebih 20 menit. Akhirnya gedung apartemen mewah yang dihuni sang Kekasih terlihat di depan mata. Furihata menghembuskan napas lega, pergelangan tangan menyeka keringat yang membasahi pelipis. Tidak tahu perjalananya akan selelah ini, sebab sebelumnya dia datang dengan menggunakan mobil sport yang Akashi kendarai, bukan berjalan kaki seperti sekarang.

Dengan penuh semangat dia melangkah, senyum tidak pernah lepas dari bibir tipisnya. Begitu kaki menapak di loby, kilap penuh kemewahan langsung menyapa retina. Dengan langkah lebar bahkan terkesan terburu-buru Furihata berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai teratas gedung, tempat sang kekasih tinggal.

Tinggal beberapa langkah ke depan dan Furihata dapat menemui wajah tampan sang Kekasih. Namun, sebelum tangan menjangkau bell di samping pintu, benda pipih yang berada di saku seragamnya bergetar, menandakan ada pesan masuk.

Jantung Furihata berdebar, berharap sang Kekasihlah yang menghubungi. Memang benar, pesan tersebut berasal dari Akashi, namun hal itu bukanlah pesan yang dia harapkan.

From: Akashi Seijuurou

Aku sedang sibuk, dan tidak ada di apartemen.

Satu pesan singkat yang membuat Furihata mencengkeram dada karena terasa nyeri, bahkan liquid bening mulai turun dari mata tanpa dia sadari. Sudah beberapa hari ini Akashi mengabaikannya, jangankan untuk menemui, mengirim pesan pun jarang. Akashi hanya akan memberi kabar jika Furihata duluan yang mengirimi pesan, dan itu pun Akashi akan membalasnya setelah beberapa jam berselang, seperti sekarang ini.

Furihata memasukkan ponselnya kembali kedalam saku, sebelum kemudian mengusap kasar air mata di pipi. "Mungkin memang Seijuurou-kun sedang sibuk," Furihata tersenyum pahit setelahnya, berusaha menghibur hati sendiri.

.

.

.

Tidak butuh waktu lama bagi Akashi untuk mengemudikan kendaraanya, mereka telah sampai di restoran favorit si Surai merah. Memang bukan restoran bintang lima, namun sanggup membuat Kuroko Tetsuya berdecak kagum dengan dekorasi unik yang dimiliki.

Akashi tersenyum tipis saat tahu pilihannya tidak salah. Senang jika Kuroko menyukai restoran ini, hal tersebut terlihat jelas dari iris biru jernih kekasihnya yang kini berbinar cerah. "Kau suka, Tetsuya?"

Kuroko mengangguk semangat, netra jernihnya masih mengagumi pemandangan yang cukup memanjakan mata.

Tangan kanan Akashi dimasukkan dalam kantung celana, sedangkan lengan kiri merangkul pundak Kuroko protektif.

Kuroko yang diperlakukan demikian hanya meronakan kedua belah pipi pucatnya, pandangan mata menunduk, malu. Dengan bergetar dan terkesan kaku, lengan kanan memeluk pinggang Akashi erat. Seakan memberi tahu bahwa dia senang dengan semua perlakuan lembut yang Akashi lakukan.

Pelayan menyambut dengan senyum ramah begitu keduanya memasuki restoran. Suara merdu khas gadis muda menyapa, "Silahkan. Untuk berapa orang, Tuan?"

Dengan lengan yang masih merangkul pundak Kuroko, Akashi berkata datar, "Dua orang, private room."

Pelayan bersurai coklat tersenyum manis, "Baiklah, silahkan ikuti saya."

Akashi dan Kuroko berjalan mengikuti di belakang. Pemuda bersurai biru masih menunduk malu, biar bagaimana pun kini mereka tengah berada di ruang publik, dan tanpa peduli sekeliling Akashi masih setia merengkuh tubuh Kuroko, bahkan kini rangkulannya terasa semakin kencang.

"Sei-kun, kita sedang ditempat umum," Bisik Kuroko lirih, memperingatkan.

Akashi memandang sang Kekasih dengan ekspresi wajah biasa saja, sepasang alis merah bertaut, "Lalu?"

Kuroko mendengus, memilih diam dan membiarkan apa yang Akashi ingin lakukan. Tapi tanpa sadar bibirnya mulai mengerucut, jengkel.

Akashi menundukkan wajah, membisikkan kalimat lembut penuh rayuan, "Jangan menggodaku ditempat seperti ini, Tetsuya."

Napas beraroma mint menggelitik cuping telinga Kuroko, membuat sang Empunya bergidik geli. Sebelum kemudian kalimat bernada bahaya mengalun merdu dari bibir Akashi, "Kau tidak ingin aku menyerangmu sekarang 'kan, Dear?"

Pintu di geser pelan, mempersilahkan mereka berdua masuk. Ruangan dengan dinding berwarna coklat muda terpampang di depan mata. Tanaman hias di seberang, meja berkaki rendah, bantal duduk di setiap sisi meja, dan tatami yang juga berwarna coklat benar-benar memanjakan penglihatan, membuat ruangan tersebut terasa begitu nyaman.

"Silahkan," Pelayan menyerahkan buku menu indah pada Akashi dan juga Kuroko secara bergantian. Tangan kiri memegang note, sedangkan jemari kanan memegang pena, siap untuk mencatat menu yang akan di pesan.

Akashi tidak perlu terlalu lama melihat buku menu, sebab dia sudah sering mampir, dan sudah tahu apa yang akan dia pesan. Pemuda tersebut memandang Kuroko lembut, sebelum kemudian bertanya, "Sudah tahu apa yang akan kau pesan, Dear?"

Kuroko menggeleng lemah, semua yang ada di buku menu terlihat enak dan membuat liur ingin menetes. Rasanya ingin mencoba semua namun itu tidak akan mungkin, sebab dia bukanlah Kagami yang bahkan sanggup memakan puluhan burger sekaligus.

Wajah cemberut, bibir mengerucut, iris biru berkaca-kaca, tidak tahu apa yang harus dia pesan, "Terserah Sei-kun saja," Akhirnya Kuroko berkata setelah lama menelusuri buku menu.

Akashi terkekeh, gemas dengan tingkah laku si Manis, kalau saja mereka sedang berdua, sudah habis si Biru dimakannya.

Kepala merah mendongak, memandang pelayan yang kini entah mengapa bersemu merah.

"Sup tofu dua, ocha dingin dua, vanilla milkshake premium satu—" Akashi berhenti sebentar, iris merah kembali mencari menu makan malam yang lain, "Okonomiyaki, Onigiri, Sashimi, Shabu-shabu—"

Akashi mungkin masih akan memesan lagi, kalau saja jemari mungil Kuroko tidak menarik ujung kemeja yang dikenakannya. "Apa tidak terlalu banyak, Sei-kun?"

"Tidak, kau harus makan banyak, Tetsuya," Jawab Akashi pelan. "Ada yang ingin kau pesan lagi?"

Kuroko menggeleng malu-malu, "T-tidak."

"—Baiklah, itu saja," Pemuda tampan bersurai merah kembali mengangsurkan buku menu pada gadis manis yang duduk tidak jauh darinya.

"Ha'i, mohon tunggu sebentar, Tuan," Pamit sang Pelayan, meninggalkan sepasang kekasih di ruangan yang sudah dipesan.

Tidak lama kemudian, dua orang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Meja jati berukuran sedang kini penuh seluruhnya dengan semua makanan yang sudah Akashi pesan. Kuroko menggelengkan kepala, tidak tahu bagaimana caranya menghabiskan semua makanan itu, andai saja ada Kagami, mungkin ini bukanlah perkara sulit.

Mereka berdua memakan hidangan yang tersaji dengan tenang. Akashi yang terlahir dari keluarga terhormat sudah terbiasa makan dengan etika yang terjaga, sedangkan Kuroko memang pada dasarnya tidak terlalu suka bicara. Apalagi saat sedang makan seperti sekarang.

Akashi membersihkan mulutnya dengan sapu tangan, kebiasaan yang sudah sedari kecil dia lakukan. Netra delima melirik sang Kekasih yang duduk di sebelah, cara makannya yang lambat bahkan terkesan tidak berminat membuat Akashi tersenyum kecil. Ibu jari kanan terangkat, membersihkan noda saus di sudut bibir sang Terkasih.

Kuroko memalingkan wajah, tindakan kecil yang Akashi lakukan membuat pipinya lagi-lagi bersemu, malu dengan tingkahnya yang masih kekanak-kanakan, makan dengan saus belepotan. Kuroko memegang sumpitnya kencang, mencoba mengalihkan perhatian, "Maaf, Sei-kun."

"Tidak masalah, Dear—" Akashi menjilat ibu jari yang dia gunakan untuk membersihkan bibir Kuroko. "—lagi pula ini manis," Lanjut Akashi dengan tatapan menggoda.

"Aku mau ke toilet sebentar, Sei-kun," Kuroko meletakkan sumpit di meja, sebelum kemudian berdiri.

"Perlu ku temani?" Tanya Akashi dengan nada merayu, sengaja menggoda sang Kekasih.

"Tidak perlu," Pemuda bersurai biru kabur, bahkan dia menutup pintu geser kelewat kencang, dia hanya terlalu malu diperlakukan demikian oleh sang Kekasih.

.

.

.

Suara TV mendominasi ruangan yang sejak tadi diisi oleh kesunyian. Kise bangkit dari ranjang, berjalan mondar-mandir tanpa tujuan, perasaannya gelisah. Sebab, sudah sejak tadi dia menunggu kabar dari si Biru muda, namun hingga sekarang tidak ada kabar ataupun kejelasan, sungguh membuatnya khawatir. Puluhan pesan sudah dia kirimkan, bahkan beberapa panggilan dia layangkan, namun semua tidak membuatnya lega, karena tidak satu pun pesannya di balas, bahkan panggilannya juga tidak di jawab.

Kise melirik jam dinding di sisi kamar, bibir digigit cemas, telpon genggam tidak pernah lepas sedetik pun dari tangan.

Kise mengacak surai pirangnya, frustasi, "Kenapa masih tidak ada kabar juga, sih? Kau sedang di mana, Tetsuyacchi?"

.

.

.

Tidak lama setelah Kuroko meninggalkan ruangan untuk pergi ke toilet, telepon genggam si Biru berkali-kali berdering. Karena terganggu dengan bunyi yang ditimbulkan, membuat Akashi melongokkan kepala, penasaran dengan siapa yang sudah menghubungi kekasihnya tanpa henti, dan nama Kise Ryouta lah yang terpampang di layar.

Akashi mendecih tidak suka, dia merasa cemburu dengan semua perhatian yang Kise berikan pada kekasihnya. Tangan terulur ke depan, mengjangkau telpon genggam Kuroko yang berada tidak jauh darinya. Pria tersebut melihat history panggilan, dan hampir semua di dominasi oleh nama si Kuning berisik.

Melihat deretan nama itu membuat Akashi jengah, dan tanpa persetujuan Kuroko, dia menghapus semua log masuk yang berhubungan dengan Kise, terutama panggilan yang baru saja masuk. Telpon Kuroko masih berada di tangan, saat tiba-tiba ada pesan masuk beruntun yang dia duga berasal dari orang yang sama. Benar saja, ada dua puluh pesan masuk secara beruntun semua berasal dari Kise Ryouta.

Akashi geram, langsung dia menghapus semua pesan yang Kise kirim, setelah membaca satu per satu terlebih dahulu. Tidak ingin Kuroko memikirkan lelaki lain, terutama saat sedang berdua dengannya. Hanya boleh ada satu nama di hati Kuroko Tetsuya, yaitu Akashi Seijuurou.

Akashi menyeringai, semua pesan dan log panggilan tidak terjawab sudah dihapus. Kuroko tidak akan tahu jika Kise sedang menunggu kabar si Biru muda. Mission completed.

"Sei-kun," Kuroko bersuara.

Akashi kaget saat tiba-tiba sang Kekasih sudah duduk di sebelahnya, "Sudah ke kamar mandinya?"

Kuroko mengangguk, pandangan mata tertuju pada benda pipih yang berada di tangan Akashi, "Kenapa telponku ada di tanganmu, Sei-kun?"

Pemuda tampan bersurai merah tersenyum tipis, berusaha bersikap biasa saja, dia tidak ingin Kuroko tahu apa yang sudah dia lakukan, "Aku meminjamnya sebentar, ingin melihat isi galery pacarku—" Jeda sejenak. Akashi mengamati raut wajah Kuroko, "Apa tidak boleh, Dear?"

Kuroko tertegun sejenak, "Tidak apa-apa, Sei-kun."

Pewaris tunggal Akashi meletakkan telpon genggam berwarna biru di meja, telapak tangan menepuk pahanya sendiri, meminta Kuroko duduk dipangkuan.

Kuroko melotot tidak percaya dengan apa yang Akashi minta, namun dia juga tidak bisa menolak. Maka, dengan canggung dan perasaan campur aduk dia mendekat, sebelum kemudian mendudukan diri di pangkuan Akashi, sesuai permintaan si Merah.

Dagu bertumpu di pundak orang terkasih, sepasang lengan memeluk perut Kuroko, erat dan penuh keposesifan di dalamnya. Hidung mancung mengendus leher yang menguarkan aroma vanilla. Tanpa peringatan, Akashi sudah mengecup sisi leher Kuroko berkali-kali, bahkan kini beberapa kiss mark menambah banyak jumlah noda merah yang ada di leher pucat si Biru muda.

Tubuh Kuroko bergetar resah, kedua iris jernihnya bahkan sudah tertutup rapat sedari tadi. Akashi dan sentuhannya, semua itu benar-benar membuatnya kehilangan logika seketika. Bibir mungil mengerang, mendesah pasrah saat bibir Akashi menghisap kuat leher pucatnya. Apa yang Akashi lakukan jauh lebih nikmat dibandingkan dengan apa yang pernah Kise lakukan padanya selama ini. Entah karena dia memang lebih mencintai Akashi atau bagaimana, dia tidak tahu. Yang pasti, Akashi dan segala godaannya sudah berhasil membombardir pertahan si Biru.

Pemuda tampan menyeringai puas dengan segala respon yang Kuroko tunjukan, polos dan tanpa ada yang ditahan, semua ditunjukan apa adanya. Kegiatan mencumbu leher disudahi, kalimat merdu mengalun dari bibir Akashi, "Besok mau berkunjung ke apartemenku, Dear?"

Kuroko masih memejamkan mata, kepala di gelengkan, tanda menolak, bibir tipis bersuara meski tersendat, masih kesulitan mengatur nafas yang tersengal. "T-tidak bisa, Sei-kun, besok aku sudah ada janji dengan Ryouta-kun."

"Batalkan, Tetsuya," Suara Akashi terdengar berbahaya, tidak mau di bantah.

Pemuda manis itu bergerak tiga puluh derajat, mengubah posisi tubuh menjadi miring, membiarkan kepala birunya bersandar di dada Akashi. Kuroko membuka mata perlahan, kedua iris sayunya memandang Akashi, "Tolong mengertilah, Sei-kun, aku tidak mungkin membatalkannya begitu saja, dia juga kekasihku. Dia akan curiga jika aku menolak ajakanya untuk berkencan lagi."

Akashi mendengus kasar. Kuroko dan segala tingkah seduktifnya ternyata mampu membuat orang tidak terbantahkan macam Akashi tidak bisa berkata selain iya. "Baiklah."

Kuroko tersenyum dalam hati, dia tahu Akashi akan membiarkannya pergi, setidaknya untuk sekarang. Lengan ramping terulur, melingkar di leher kokoh Akashi. Iris biru kembali terpejam.

Melihat ekspresi yang begitu pasrah dari sang Pujaan hati, tanpa membuang banyak waktu, Akashi menghapus jarak yang ada. Bahkan kali ini dengan lebih membabi buta, dia menghadiahkan ciuman di seluruh permukaan wajah Kuroko, leher dan bahkan tulang selangka si Biru tidak luput dari jamahan bibir ganas Akashi. Kuroko hanya diam menikmati apa yang Akashi lakukan padanya, dia memasrahkan seluruh tubuh, jiwa dan hidupnya pada sang Kekasih yang saat ini tengah memberinya pelukan teramat erat.

TBC

a/n:

Terimakasih yang sudah mereview di chap-chap sebelumnya, thanks juga buat yang udah fav dan follow.

Buat yang udah log in: May Angelf, Naruhina Sri Alwas, deerwinds947, Izumi-H, Akiko Daisy, Nakamoto Yuu Na dan hiromineha. Sudah di balas lewat PM ya..

See you next chpa..