MOMMY MAID

.

Disclaimer : Belong to God and theirselves :D This story is mine. Not for commercial.

Author : Lee Rae Ra / Iqlima

Genre : General, Romance

Rate : T

Length : Sequel

.

Summary : Jung Yunho duda tampan dengan anak berusia 6 tahun bernama Changmin. Choi Jaejoong adalah Maid baru mereka. Bagaimanakah hari-hari Jaejoong selama menjadi Maid bagi Yunho dan Changmin?

.

MOMMY MAID

.

Yoochun tak menjawab, melainkan menghadapkan ponsel Jaejoong pada Yunho. Yunho terperangah.

"Kenapa kalian menatap ponselku seperti itu?" tanya Jaejoong heran.

Yoochun ganti menghadapkan ponsel yang dipegangnya kepada Jaejoong.

"Ige mwoya?! Siapa yang mengganti wallpaperku dengan fotoku bersama Go Ara?!"

.

MOMMY MAID

.

Jaejoong langsung merebut ponselnya dari Yoochun. "Pasti kerjaan monyet satu itu. Awas saja, kuadukan pada Donghae." Rutuk Jaejoong sambil mengganti wallpaper ponselnya dengan fotonya bersama Junsu, lalu memberikan ponselnya kembali pada Yoochun.

"Kau bertemu Go Ara?" tanya Yunho dengan suara tercekat.

Jaejoong menghela nafas pasrah. "Ne.. Kemarin.."

"Dimana kau bertemu dengannya?" tanya Yunho lagi.

"Kafe langganananku, Mirotic Cafe."

Yunho terdiam, pandangan matanya kosong. Jaejoong diam tak tahu apa-apa. Yoochun menatap Yunho dengan pandangan cemas sambil memainkan ponsel Jaejoong. Sedangkan Changmin hanya terus makan tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya.

"Eh.. Aku ke balkon dulu ya, mau telepon Ayahku." Pamit Yoochun canggung.

Setelah Yoochun pergi, ruang makan dipenuhi keheningan. Hanya sesekali terdengar suara denting sendok dari Changmin.

"Jae.. Bisa ikut aku sebentar?" tanya Yunho.

Jaejoong mengangguk.

"Aku tunggu di kamar." Kata Yunho sambil beranjak pergi.

Jaejoong menghela nafas panjang. "Mommy tinggal sebentar ya, Minnie makan sendiri tidak apa-apa?"

Changmin mengangguk. "Ne.. Sana sana Mommy pergi sama Daddy!"

Jaejoong bangkit dan naik ke lantai dua. Begitu sampai di kamar Yunho, Jaejoong mengetuk pintu. Setelah mendengar suara Yunho yang menyuruhnya masuk, perlahan Jaejoong membuka pintu kamar dan menemukan Yunho sedang duduk di samping ranjangnya, sedang mendekap sesuatu.

"Ada apa?" tanya Jaejoong.

Yunho tak menjawab, melainkan mengulurkan sesuatu yang didekapnya pada Jaejoong. Jaejoong mengernyit begitu melihat Yunho mengulurkan pigura foto.

"Kenapa kau memberiku fotomu dengan Go Ara?" tanya Jaejoong sambil mengamati foto itu.

"Apa kau yang meletakkan foto ini di atas meja?" Yunho balik bertanya.

"Ne.. Karena jatuh dari ranjang." Jawab Jaejoong polos.

Yunho bangkit. "APA KAU TIDAK TAHU KALAU MEMANG SENGAJA KUSEMBUNYIKAN DI SITU?!" bentak Yunho sambil menunjuk-nunjuk Jaejoong.

Jaejoong mundur beberapa langkah karena mendengar bentakan Yunho. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya serta matanya yang memanas.

"SENGAJA KUSEMBUNYIKAN DI SITU AGAR AKU BISA MENDEKAPNYA TIAP MALAM!" bentak Yunho lagi.

Jaejoong semakin menunduk. Bulir-bulir air mata mengalir dari mata doe nya yang indah.

"Jhwesonghamnida.. Aku tidak tahu.." kata Jaejoong dengan suara bergetar.

Tiba-tiba terdengar suara ribut dan kemudian pintu kamar Yunho menjeblak terbuka. Yoochun dan Changmin masuk. Pandangan mata Yoochun langsung tertuju pada Yunho, sedangkan Changmin langsung menatap Jaejoong.

Changmin berlari mendekati Jaejoong dan terkejut melihat wajah Jaejoong yang dipenuhi air mata.

"Daddy kenapa bentak-bentak Mommy?!" seru Changmin kesal sambil menginjak kaki Yunho keras.

"Aww! Minnie nakal!" seru Yunho.

Setelah membentak Ayahnya, Changmin langsung berlari menghampiri Jaejoong lalu ikut menangis dan memeluk Jaejoong.

"Mommy uljima.. Mommy uljima.." isak Changmin.

Jaejoong menghapus air matanya dan berjongkok lalu menatap Changmin. "Mommy tidak menangis. Minnie tidak boleh menangis, sini Mommy hapus air mata Minnie.."

Yoochun yang masih berada di ambang pintu tidak mengerti apa duduk permasalahannya. Kemudian Yoochun melihat pigura foto yang ada di tangan Jaejoong. Yoochun mengangguk kecil, dia mulai paham sekarang. Dia beringsut mendekati Yunho dan berusaha menenangkannya.

"Man.. Ada apa?" tanya Yoochun.

Yunho menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Dia telah memindahkan Ara.."

Yoochun memasang wajah tak mengerti. "Apa maksudmu?"

"Kau tahu sendiri jika aku selalu mendekap pigura foto itu jika aku sedang tidur.. Dia memindahkannya.."

Yoochun melirik sekilas ke arah pigura foto yang masih digenggam Jaejoong. Dia menghela nafas panjang dan mengelus-elus punggung Yunho.

"Dia tidak tahu, Yun.. Dia tidak tahu.."

"Sebenarnya aku tidak berniat memarahinya.. Tapi begitu melihat fotonya bersama Ara, entah mengapa aku jadi marah. Sungguh, aku tak ada niat memarahinya hanya karena memindahkan foto itu." Kata Yunho, nada suaranya menjadi normal kembali. "Kau bisa bawa Changmin keluar? Aku ingin berbicara berdua dengan Jaejoong."

Yoochun mengangguk dan mendekati Changmin, mengajaknya bicara sebentar. Changmin menatap Jaejoong tidak rela, seakan tidak rela berpisah dari Mommy nya walaupun hanya sebentar saja. Jaejoong ikut membujuk Changmin dan akhirnya Changmin mau diajak pergi oleh Yoochun. Yoochun menggandeng tangan Changmin dan bergegas membawanya keluar kamar.

Ketika pintu kamar sudah tertutup, kamar kembali diliputi keheningan. Hanya terdengar isakan tertahan dari Jaejoong. Yunho mendekati Jaejoong dan memegang bahunya.

"Minhae.. Aku tidak bermaksud marah padamu karena memindahkan foto itu.. Hanya saja.. Entah mengapa timbul amarah di hatiku begitu melihat kau bersama Go Ara.." jelas Yunho.

Sambil tetap menunduk, Jaejoong mengangguk pelan dan menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya.

Yunho menghela nafas panjang. "Go Ara itu mantan istriku."

"MWORAGO?! KAU SERIUS?!" seru Jaejoong histeris.

Jelas saja Yunho kaget melihat Jaejoong yang tadi menunduk sambil menangis tapi sekarang malah berteriak-teriak di hadapannya.

"JADI DIA ITU JUGA IBU CHANGMIN?!" seru Jaejoong lagi.

Buru-buru Yunho langsung mendekap mulut Jaejoong. "Heh! Diam! Jangan teriak-teriak!" seru Yunho.

"Emmm emmm emmm!" seru Jaejoong tak jelas karena mulutnya dibekap oleh Yunho.

Yunho melepaskan tangannya dari mulut Jaejoong.

"Pantas saja dulu itu dia vakum setahun! Hamil rupanya!" seru Jaejoong lagi.

"Ck, kau ini tidak usah berteriak kenapa sih?" tanya Yunho kesal.

Jaejoong memasang wajah polos. "Jadi itu sebabnya.. Ternyata kau pernah menikah dengannya."

Yunho mengangguk. "Tapi sekarang aku sudah bercerai dengannya." Katanya getir.

"Kenapa bercerai?"

"Dia ingin melebarkan karirnya. Sehingga dia memilih untuk meninggalkanku dan Changmin." Jelas Yunho.

"Setelah bercerai, kalian tidak ada komunikasi lagi?"

"Hampir tidak ada. Pernah sekali dulu dia meneleponku dan bertanya 'Sudah saatnya Changmin masuk TK kan? Dia akan masuk TK mana?' dan aku jawab di Balloon. Sejak kami bercerai, hanya tiga kali ia pernah meneleponku untuk menanyakan Changmin. Setidaknya, dia masih peduli pada Changmin."

Jaejoong jadi sedih mendengar cerita sedih Yunho. Dia tak menyangka artis yang dipuja-puja seantero Korea Selatan ternyata tega meninggalkan suami dan anaknya yang masih sangat kecil hanya untuk karirnya. Dia heran melihat Yunho yang menganggap bahwa Ara masih peduli pada Changmin. Seorang Ibu yang tega meninggalkan anaknya di usia yang masih sangat kecil dan hanya tiga kali menelepon untuk menanyakan Changmin itu bisa disebut peduli?

"Tapi kenapa kau marah melihat fotoku bersama Go Ara? Kau cemburu padaku yaaa karena aku berfoto dengannya?" goda Jaejoong, berusaha membuat suasana riang kembali.

Yunho mendengus. "Jelas tidak!"

Jaejoong tertawa. "Ya sudah kalau begitu, maafkan aku karena seenaknya memindahkan fotomu. Aku hanya heran mengapa ada pigura foto yang diletakkan di ranjang."

Yunho tersenyum. "Ne, gwenchana. Sekarang, mari kita kembali makan. Changmin dan Yoochun pasti sudah menunggu."

: MOMMY MAID :

Seperti biasa, Jaejoong sedang ada di kamar Changmin, menemani Changmin tidur siang sambil membacakan dongeng untuknya.

Tak lama kemudian, Jaejoong mendengar suara ribut di bawah. Tanpa perlu menengok ke bawah pun Jaejoong sudah tahu siapa yang datang. Pasti Yunho dan Yoochun. Sejak diangkat menjadi Direktur cabang, kini mereka pulang tak tentu jamnya, karena mereka bisa membawa pekerjaan mereka pulang. Dan pekerjaan mereka tak seberat dulu karena kini mereka mempunyai banyak anak buah.

Walaupun mereka ditempatkan di perusahaan yang berbeda, tetapi itu tak mengurangi intensitas pertemuan Yunho dan Yoochun. Itu semua karena letak perusahaan mereka yang berdekatan, tetapi mereka bergerak di bidang yang berbeda. Yunho bergerak di bidang pembangunan dan Yoochun di bidang fashion.

Perlahan Jaejoong turun dari ranjang Changmin, membetulkan selimut Changmin, lalu turun ke bawah.

Jaejoong mencari Yunho dan Yoochun ke ruang tengah, tetapi tidak ada. Kemudian Jaejoong menuju ke dapur dan melihat Yunho dan Yoochun tengah makan.

"Annyeong." Sapa Jaejoong.

Yoochun menoleh. "Ah, Jae! Masakanmu enak!" katanya sambil mengacungkan jempol tangan kirinya.

Jaejoong tersenyum. "Jangan berisik ya, Changmin baru saja tidur."

"Kuperhatikan setelah kau ada di sini, Changmin berubah. Dia menjadi lebih gembira dan eerr.. lebih sehat." Kata Yoochun.

Yunho tertawa. "Bagaimana dia tidak sehat? Biasanya dia makan junk food tapi sejak ada Jaejoong, dia selalu diberi makanan bergizi!"

Yoochun dan Jaejoong ikut tertawa. Kemudian Jaejoong ikut duduk di meja makan dan mulai mengambil nasi.

"Oh ya, Jae. Untuk merayakan pengangkatan kami sebagai Direktur, kami mau mengajakmu untuk makan malam, bersama Changmin juga." Kata Yunho.

Jaejoong mengangguk-angguk. "Oke, kapan?"

"Jumat malam."

"Hanya berempat saja?" tanya Jaejoong lagi.

Wajah Yoochun bersemu merah, Yunho pun dengan sengaja menyenggol sahabatnya itu. Yoochun mendelik ke arah Yunho, Yunho hanya tertawa.

"Sebenarnya.. Aku juga mau ajak Junsu." Kata Yoochun malu-malu.

"MWORAGO?!" seru Jaejoong keras.

Yunho menepuk bahu Jaejoong. "Tidak usah kaget begitu, Jae. Ternyata dia memang sudah menaruh hati pada adikmu."

Jaejoong tertawa. "Tak kusangka ada yang menyukai bebek itu!"

Yoochun menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Tapi kau jangan memberitahunya! Aku yang akan memberitahunya sendiri."

Jaejoong mengacungkan kedua jempol tangannya. "Siap!"

"Jumat malam, kami akan menjemputmu di rumah." Kata Yunho.

"Memangnya kau tahu alamatku?" tanya Jaejoong.

"Saat kau mendaftar sebagai Maid kan kau menulis alamatmu." Kata Yoochun datar.

Jaejoog mengangguk-angguk. "Memangnya mau makan malam dimana sih? Harus pakai baju formal atau baju santai saja?"

"Santai saja."

Jaejoong berpaling pada Yoochun. "Kenapa kau bisa menyukai Junsu? Apa nanti kau tahan dengan suara melengkingnya itu? Apalagi dia cerewet sekali."

Yoochun tersenyum. "Sejak pertama melihatnya dekat dengan Changmin, hari seleksi Maid itu, aku sudah tertarik padanya. Lagipula dia M-Preg.."

Jaejoong tertawa. "Yah, sudah nasibku dan adikku menjadi M-Preg."

: MOMMY MAID :

Sekali lagi Jaejoong merapikan rambutnya. Setelah yakin dirinya sudah rapi, Jaejoong bergegas keluar dari kamarnya.

"Su-ie! Ppali!" seru Jaejoong di depan pintu kamar Junsu.

"Iya iya cerewet!" balas Junsu dari dalam kamarnya.

"Yang cerewet sebenarnya siapa ~~ Aku tunggu di bawah!" teriak Jaejoong seraya berjalan menuju tangga.

Jaejoong bersiul-siul sembari menuruni tangga.

"Tumben sekali Bosmu mengajakmu keluar." Komentar Heechul saat Jaejoong muncul di ruang tengah.

Jaejoong menghempaskan pantatnya ke sofa. "Dia dan sahabatnya diangkat menjadi direktur di perusahaan cabang." Katanya sambil tersenyum.

"Lalu kenapa adikmu juga diajak?"

"Tapi Umma jangan bilang pada Junsu ya?"

Heechul mengangguk.

"Sahabat Bosku.. menyukai Junsu." Bisik Jaejoong.

"Mworago?!" tanya Heechul terkejut.

Jaejoong mengangguk-angguk senang. Sementara itu Heechul asyik tersenyum sendiri, membayangkan apabila kedua anaknya menikah dengan dua direktur perusahaan cabang.

Tak lama kemudian, Junsu turun.

"Kalau bukan karena hyung memaksaku, aku tidak akan mau ikut." Gerutu Junsu.

Jaejoong tertawa. "Sudah, tidak usah protes!"

Lalu terdengar suara mobil berhenti. Jaejoong bergegas berdiri dan menuju ke depan, diikuti oleh Junsu dan Heechul.

Begitu Jaejoong membuka pintu, dilihatnya Yunho dan Changmin berdiri di samping mobil hitam milik Yunho. Di belakangnya, Yoochun berdiri di samping mobil merah miliknya.

Jaejoong berjalan ke depan dan membuka pagar. Changmin langsung masuk dan memeluk Jaejoong.

"Mommy cantik sekali.." puji Changmin.

"Annyeong Changmin!" sapa Junsu sambil berjongkok.

"Ah, annyeong noona!" seru Changmin sambil memeluk Junsu.

Di belakang Jaejoong dan Junsu, Heechul memperhatikan Yunho dan Yoochun seksama, membuat Yunho dan Yoochun jadi salah tingkah.

Jaejoong menyuruh Yunho dan Yoochun mendekat. Kemudian Yunho dan Yoochun mendekat ke arah mereka.

"Umma, ini Bosku. Jung Yunho." Kata Jaejoong memperkenalkan Yunho.

Yunho menyalami Heechul sambil tersenyum. "Jung Yunho imnida."

"Choi Heechul." Kata Heechul.

"Kalau yang ini, Park Yoochun." Kata Jaejoong.

Yoochun langsung menyalami Heechul. "Park Yoochun imnida."

"Choi Heechul."

Junsu bangkit sambil menggendong Changmin."Sudah jangan lama-lama, ayo cepat pergi biar cepat pulang." Gerutu Junsu kesal.

Heechul menginjak keras kaki Junsu, membuat sang empunya kaki menjerit keras.

"Umma! Appo!" seru Junsu.

Heechul melotot ke arah Junsu. "Tidak usah banyak bicara! Kau ikuti kakakmu saja, dia tahu aturan yang benar."

Junsu mengerucutkan mulutnya. Jaejoong mendekati Junsu dan menarik-narik lengan bajunya.

"Umma, kami pergi dulu ya." Pamit Jaejoong.

"Ne, hati-hati ya.." senyum Heechul.

Jaejoong dan Junsu yang menggendong Changmin berjalan keluar. Tetapi Yunho dan Yoochun malah kembali mendekati Heechul.

"Ahjumma, saya izin membawa Jaejoong ya.." pamit Yunho.

"Saya izin membawa Junsu ya.." pamit Yoochun.

Heechul tertawa kecil. "Bawalah kedua anakku itu, tapi pulangkan keduanya dalam keadaan utuh dan selamat!"

Yunho dan Yoochun mengacungkan kedua jempol mereka. "Siap!"

Yunho dan Yoochun bergegas keluar menyusul Jaejoong dan Junsu.

"Jaejoong, kau ikut mobilku dan Junsu ikut mobil Yoochun." Kata Yunho.

Junsu bersiap-siap memprotes lagi tetapi lagi-lagi kakinya diinjak, kali ini oleh Jaejoong. Jaejoong melotot ke arah Junsu, seakan memberikan peringatan Sudah-Turuti-Saja-Apa-Kata-Yunho. Junsu menggerutu, dengan langkah terpaksa dia berjalan lambat menuju mobil Yoochun.

"Minnie mau ikut Junsu noona atau Mommy?" tanya Jaejoong pada Changmin.

"Junsu noona saja!"

Jaejoong mengangguk dan kemudian masuk ke dalam mobil Yunho. Kedua mobil itu pun berjalan meninggalkan rumah tersebut.

: MOMMY MAID :

Mobil Yunho berhenti di sebuah restoran keluarga yang cozy. Yunho membawa mobilnya menuju ke tempat parkir. Jaejoong mengamati tempat parkir yang cukup ramai tersebut.

"Tempat parkirnya saja penuh begini.. Apa masih ada tempat?" tanya Jaejoong khawatir.

Yunho tersenyum. "Tenang saja, pasti dapat."

Yunho turun dari mobilnya diikuti oleh Jaejoong. Kemudian Junsu, Changmin, dan Yoochun turun dari mobil Yoochun.

Dengan riang Changmin yang menggandeng tangan Junsu langsung berlari menghampiri Jaejoong, membuat Junsu juga harus berlari mengikuti Changmin.

"Mommy ayo masuk! Minnie suka sekali datang ke restoran ini, semua makanannya lezat!" celoteh Changmin sambil menggandeng tangan Jaejoong.

Maka kini kedua tangan Changmin tertaut pada Jaejoong dan Junsu. Yunho dan Yoochun berjalan memimpin di depan, diikuti oleh tiga sekawan di belakangnya.

"Atas nama Park Yoochun." Kata Yoochun pada seorang pelayan di pintu.

Pelayan itu tersenyum. "Mari, lewat sini."

Mereka berlima mengikuti langkah pelayan sampai ke sebuah meja yang bertuliskan "RESERVED".

"Gamsahamnida." Kata Yoochun.

Pelayan itu membungkukkan badannya rendah. Mereka berlima segera mengambil tempat duduk masing-masing dan mulai memesan makanan.

: MOMMY MAID:

Pagi-pagi sekali, di kediaman Choi sudah ribut. Ini disebabkan karena Jaejoong yang sibuk menyiapkan bekal makanan untuk Family Day Out hari ini. Tapi bukan hanya Jaejoong yang menyiapkannya sendiri, dia juga dibantu oleh Ibunya. Heechul sangat bersemangat karena sejak awal Jaejoong bekerja di rumah Yunho, Heechul ingin agar Jaejoong dan Yunho bisa menjadi pasangan kekasih.

"Umma jangan terlalu banyak sayurnya.. Sedikit saja!" pekik Jaejoong.

Tergopoh-gopoh Heechul menyingkirkan sayur dari masakannya. "Aish, iya iya!" seru Heechul.

Sementara itu di ruang tengah, Siwon menonton televisi sambil sesekali mendengarkan keributan di dapur. Lalu tiba-tiba muncul Junsu.

"Appa.. Mereka ribut sekali." Gerutu Junsu sambil mendaratkan pantat bebeknya ke sofa.

Siwon tersenyum. "Kau tahu sendiri bagaimana Umma. Eh, lalu bagaimana dengan makan malam kalian kemarin? Kau belum cerita pada Appa."

Junsu mengerucutkan bibrinya. "Tidak asyik! Jaejoong hyung asyik sendiri dengan Yunho hyung dan Changmin."

"Itu kan wajar, mereka kan sekarang sudah biasa bersama-sama. Memangnya kau kenapa?"

"Jadi kan aku hanya punya Yoochun untuk diajak bicara." Gerutu Junsu.

Siwon tertawa kecil. "Lalu kenapa kau marah?"

Junsu menatap Siwon heran. "Ya jelas aku kesal! Aku sebal, Yoochun terus mengajakku bicara. Dia menanyakan riwayat pendidikanku, pekerjaanku, apa makanan kesuakaanku, apa hobiku, tempat favoritku.. Seperti mau wawancara kerja saja! Apalagi dia terus tersenyum padaku. Aku tidak suka pandangan mata dan senyumnya padaku, terlihat mesum!" gerutu Junsu.

Siwon mengangguk-angguk mengerti. "Su-ie, apa kau tidak tahu arti di balik sikap Yoochun yang kau ceritakan itu?"

Junsu menggeleng bingung. "Memang ada apa?"

Siwon berdeham kecil. "Itu artinya dia menyukaimu."

"MWORAGO?!" Junsu melotot.

Siwon mengangguk sambil tersenyum. "Dia menyukaimu, Su-ie. Dari ceritamu saja sudah terlihat jelas. Appa saja mengerti, kenapa kau yang mengalami sendiri malah tidak mengerti?"

"Aish, Appa! Tidak, Yoochun tidak menyukaiku!" pekik Junsu kesal.

Siwon tertawa keras. "Anak Appa malu-malu rupanya."

Kemudian Jaejoong muncul di ruang tengah. Di punggungnya tersampir sebuah tas ransel besar. Di belakang Jaejoong menyusul Heechul.

"Kau mau Family Day Out atau mau camping?" tanya Junsu, membelalakkan mata melihat besarnya tas Jaejoong.

"Ini isinya makanan. Kau tahu sendiri Changmin suka makan." Jawab Jaejoong. "Ya sudah, aku pergi dulu ya." Pamit Jaejoong.

Jaejoong bergegas memakai sepatu dan keluar dari rumah, menuju ke halte bus. Seperti biasa, pagi-pagi seperti ini bus masih sepi, sehingga Jaejoong bisa meletakkan ranselnya di bangku sebelahnya.

Bus mulai berjalan dan Jaejoong mulai merenung. Kemarin malam dia menyaksikan sebuah drama serial yang dibintangi oleh Go Ara. Dan episode malam itu adalah episode terakhir, yang tentu saja banyak adegan ciuman di dalamnya.

Entah mengapa, hati Jaejoong sakit melihat Go Ara berciuman dengan pria lain. Saat melihat Go Ara melakukan adegan ciuman, Jaejoong membayangkan Yunho. Bagaimana sakitnya hari Yunho melihat mantan istrinya bermesraan dengan pria lain.

Jaejoong tidak mengetahui benar atau tidaknya, tetapi dia merasa bahwa Yunho masih mencintai Ara.

: MOMMY MAID :

"Selamat pagi ~!" seru Jaejoong riang begitu memasuki apartemen Yunho.

Tidak seperti pagi biasanya, pagi ini Yunho dan Changmin sudah bangun. Keduanya bahkan sudah berpakaian rapi dan duduk manis di ruang tengah sambil menonton televisi. Jaejoong mengangkat satu alisnya keheranan.

"Aku mimpi apa semalam? Biasanya saat aku sampai di sini, kalian masih tidur." Kata Jaejoong sambil meletakkan tas ranselnya ke sofa.

Yunho tersenyum. "Pagi-pagi Changmin sudah bangun, lalu dia memaksaku untuk bangun dan mandi."

"Mommy, cepat masak! Minnie sudah lapar.." rengek Changmin.

Jaejoong mengangkat kedua jempol tangannya. "Minnie tunggu ya, Mommy masak dulu."

Jaejoong membalikkan badannya dan berjalan menuju dapur. Sepeninggal Jaejoong, Changmin langsung beringsut mendekati Yunho.

"Daddy.. Mommy cantik tidak?" tanya Changmin.

Mata Yunho memandang ke langit-langit. "Cantik sekali.."

"Masakan Mommy enak tidak?" tanya Changmin lagi.

Yunho mengerutkan keningnya. "Dia bahkan tidak bisa memasak.."

Changmin melongo mendengar jawaban Ayahnya. Tetapi dia tidak peduli dan terus bertanya.

"Kalau Mommy menikah dengan Daddy, nama Mommy siapa?"

"Jung Ara. Eeeeehh.. Bukan bukan!" Yunho panik sendiri.

Changmin menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan cemberut. "Ara itu siapa?! Minnie sudah curiga tadi! Minnie tanya masakan Mommy enak atau tidak, tapi Daddy malah jawab Mommy tidak bisa masak!" seru Changmin, matanya dipenuhi air mata.

Yunho panik melihat Changmin yang menangis. Dia berusaha menenangkan Changmin dan menghapus air matanya.

"Aduuh.. Maafkan Daddy! Daddy tadi sedang membayangkan artis Go Ara itu!" kata Yunho jujur.

Changmin menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Minnie kan sedang membicarakan Mommy, kenapa Daddy malah membayangkan artis?!" tanya Changmin sengit.

"Mianhae.. Daddy terlalu suka dengan Go Ara."

"Go Ara yang main di acara kesukaan Daddy itu? Yang jadi Han Seulri bukan?" tanya Changmin, menghentikan tangisnya.

Yunho heran mengapa Changmin bisa tahu dia menonton drama serial yang dibintangi Ara tiap minggu.

"Ah.. Ne.."

"Dia bahkan tidak cantik!" seru Changmin.

DEG!

Hati Yunho bagai disambar petir begitu mendengar perkataan Changmin. Changmin mengatakan bahwa Ara tidak cantik. Bagaimana bisa Changmin berkata seperti itu, padahal kenyataannya Ara sangat cantik.

"Dia tidak cantik! Aktingnya jelek!" seru Changmin lagi.

Yunho mengelus dadanya sabar. "Minnie.. Go Ara itu sangat cantik, aktingnya pun bagus. Buktinya dia memerankan Han Seulri dengan baik." Kata Yunho mencoba menjelaskan.

Changmin mendengus. "Go Ara tidak cantik! Mommy jauuuuuuh lebih cantik daripada dia!" seru Changmin.

Kali ini Yunho terdiam, berusaha meresapi perkataan Changmin. Jauh di dalam hati kecilnya, dia memang merasa bahwa Jaejoong cantik, bahkan lebih cantik dari wanita asli. Ingatan Yunho melayang ke tempo hari, hari dimana Jaejoong mengenakan setelan jas resmi wanita. Saat itu, Jaejoong benar-benar terlihat cantik.

Kemudian pikiran Yunho melayang, dia yang ada di perusahaan, bersama Changmin dan Jaejoong. Dia dan Changmin mengenakan jas, sedangkan Jaejoong mengenakan jas wanita. Sungguh keluarga yang bahagia..

"Daddy?"

Tiba-tiba Yunho tersadar dari lamunannya. Dia menoleh dan melihat Changmin yang sedang memandangnya dengan intens.

"Daddy melamun?" tanya Changmin polos.

Yunho tersenyum. "Daddy hanya sedang membayangkan keluarga kita."

Changmin yang mendengar jawaban Yunho langsung bersorak. "Tidak usah dibayangkan, Daddy! Kita kan sudah jadi keluarga! Daddy dan Minnie, ditambah Mommy." Kata Changmin, matanya berbinar-binar.

Saat itu juga, perasaan Yunho terhadap Jaejoong berkobar. Jaejoong mulai mendapat tempat di hatinya.

.

.

.

To Be Continued...

.

.

.

Maaf karena keterlambatan update T_T

Keteteran dengan tugas-tugas sekolah. Minggu kemarin sibuk nyelesain tugas yang gak ada habisnya padahal mau UKK.

Dan sekarang di tengah-tengah UKK saya menyempatkan nulis FF ini, soalnya modem juga abis pulsanya dan saya terus menghubungi si penjual pulsa tapi gak digubris :x Demi readers tercinta T_T

Maaf sekali lagi Update selanjutnya mungkin agak lama, mohon dimaklumi ya..