Chanbaek Story by Yasaenghwa
Proundly Present:
The Devil's Spawn
Teufelsbrut
Birth of Demon
WARNING:
Chanbaek, YAOI, Boyslove, Supranatural/horror/Angst/MPREG, NC-21, Typo(es)
Disclaimer:
this fic is mine,
FANFIC REMAKE DARI FIC KYUMIN "THE DEVIL'S SPAWN"
Terimakasih untuk tidak plagiat, Bash dan flame..
.
.
.
don't like, just click close (X)
Happy reading and enjoy..
Main cast:
Park Chanyeol
Byun Baehyun
Support cast:
Oh Sehun
Kim Junmyun
Do Yeolngsoo
Bae Joo-Hyun (Irene/RV)
Park Chae Young (Rose/BP)
Dan akan bertambah sesuai kebutuhan cerita
Summary:
Baekhyun seorang mahasiswa arkeologi yang menemukan perkamen dalam hutan terkutuk mendapatkan kejadian mengerikan di dalam hidupnya, ia di perkosa oleh 'iblis' yang menanamkan benih dalam perutnya. Apakah dia akan mati? Bisakah ia lepas dari 'iblis' itu? apa yang terjadi dengan Chanyeol sahabatnya?
Previous chapter
"PERGI..! APA YANG KAU INGINKAN?! JANGAN GANGGU AKU, PERGII!" Baekhyun berteriak frustasi, ia menggeleng kalut.
Makhluk itu semakin mendekat untuk menggapai tubuh Baekhyun. Baekhyun semakin terpojok di depan gerbang rumahnya. Entah mengapa tubuhnya amat kaku untuk berbalik membuka pintu gerbang itu dan masuk kedalamnya. Apa mungkin karena terlalu takut sehingga ia lebih memilih menutup matanya dan menggigil?. Baekhyun merasakan gerakannya terkunci, ia tidak bisa lari kemanapun dengan punggungnya yang menghimpit pintu gerbang. Baekhyun hanya bisa berdoa dan pasrah, 'jika memang aku harus berakhir saat ini mungkin itu lebih baik dari pada harus mengalami kejadian menakutkan seumur hidupku' pikir Baekhyun, sebelum teriakan lain menyapa gendang telinganya.
"BYUN BAEKHYUN!"
.
Teufelsbrut
The Devil's Spawn
.
.
.
Chapther 4
"BYUN BAEKHYUN!"
Seseorang berbaju khas rumah sakit berteriak dengan lantang ketika melihat orang yang di kenalnya sebagai 'sahabat' sedang meringkuk ketakutan di depan pintu gerbang sembari menutup matanya dan meracau kalut. Orang yang berteriak itu sempat melihat sekelebat bayangan seseorang dengan kecepatan cahaya pergi meninggalkan sahabat yang di ketahui sebagai Baekhyun itu sebelum ia mendapati tubuh gemetar sahabatnya tersebut dalam keadaan memprihatinkan.
Namja berbaju rumah sakit itu lantas segera menghampiri Baekhyun dengan tergopoh – gopoh. Ia terlihat sangat cemas jika terjadi sesuatu yang buruk dengan sahabat cantiknya.
"Baekhyun-ah, Ya! Byun Baekhyun! Gwenchana?" namja itu mencoba menanyakan keadaan Baekhyun dengan menyentuh perlahan pundaknya yang gemetar.
"PERGI...! KU MOHON PERGI! PERGI KAU MAKHLUK TERKUTUK.. PERGII! Arrgg..Hiks.." Baekhyun menggeleng kalut dan panik saat seseorang memegang pundaknya. Ia masih betah menutup matanya erat sembari mencoba melawan dengan menyentak tangan yang ada di bahunya membabi buta. Sungguh, ia benci di sentuh lagi oleh makhluk mengerikan di depannya.
Melihat reaksi yang diberikan oleh Baekhyun, namja berbaju rumah sakit itu tersentak dan mengernyit. 'Pasti ada sesuatu yang tidak beres disini.' batinnya. Namja berpostur tinggi tersebut mencoba sekali lagi untuk memegang bahu Baekhyun. Kali ini sedikit lebih kuat sembari mengguncang bahu itu agar sang namja mungil yang berada di depannya dapat membuka mata dan sadar siapa yang berada di hadapannya saat ini.
"Hey Bae,, lihat aku.. aku PARK CHANYEOL, Buka matamu Baekhyun-ah!" namja berbaju rumah sakit yang merupakan seorang Park Chanyeol itu sedikit meninggikan suaranya. Bukan maksud membentak, hanya saja dengan kondisi Baekhyun yang kalut dan menutup matanya rapat alhasil cara itulah yang ia gunakan agar bisa menarik perhatian Baekhyun.
Hening beberapa saat.
Baekhyun masih dalam posisi meringkuk dengan nafas yang memburu. Namun lambat laun ia menghentikan racauannya dan memberanikan diri untuk membuka mata secara perlahan ketika ia mendengar seruan lantang seseorang yang tadi mengguncang pundaknya dan mengaku bahwa dirinya adalah Park Chanyeol.
Baekhyun menatap sosok didepannya dengan mata yang dibasahi dengan air yang keluar dari dalamnya. Ia sangat mengenal orang itu. Benarkah orang itu Chanyeol?
"C-Chan.. Chanyeol!" Baekhyun seketika menghambur kepelukan Chanyeol saat menyadari sepenuhnya jika orang yang berada di hadapannya kini adalah sosok Park Chanyeol. Betapa leganya ia saat ini melihat sosok tersebut. Ia seperti terlepas dari jerat kematian pada saat itu juga.
"Nde,, ini aku Bekhyun-ah, aku Chanyeol." Chanyeol membalas pelukan Baekhyun sembari menepuk ringan punggungnya mencoba menenangkan.
"C-Chan-yeol.. hkks.. Yeol-ah." panggil Baekhyun berulang kali dengan isakan yang menjadi seraya mempererat pelukannya pada Chanyeol. Ia mencengkeram baju atasan rumah sakit Chanyeol seolah sedang menyalurkan ketakutan yang begitu mendalam disana.
Chanyeol dapat merasan itu. Ketakutan. Ya, jelas sekali jika saat ini Baekhyun dalam keadaan takut akan sesuatu. Jadi bukan saat yang tepat untuk bertanya macam – macam kepada namja cantik yang berada di pelukannya kini.
"Ssstt... Gwenchana.. ada aku disini bersamamu Bae, tenanglah.. semua akan baik – baik saja, hmm? Percayalah." Chanyeol berujar lembut sembari mengusap punggung Baekhyun beraturan dan mendekap tubuh menggigil itu dengan penuh perlindungan. Entah apa yang di pikirkan Chanyeol sehingga kata-kata itu yang akhirnya keluar dari bibir indahnya. Mungkin sebagai ucapan penenang?.
Bagaikan sebuah mantra penyejuk jiwa Baekhyun mulai merasa tenang setelah mendengar ucapan itu. Baekhyun perlahan menghentikan isakannya dan melepaskan cengkraman pada baju atasan Chanyeol. Ia melepas pelukannya pada Chanyeol secara perlahan dan mata sayunya menatap intens kedua manik mata kelam milik Chanyeol. Ia mencoba mencari keyakinan disana.
Chanyeol membalas tatapan mata itu dengan penuh keyakinan jika semua akan baik – baik saja seperti yang ia katakan. Perlahan tangan dingin nan pucat itu terangkat menuju pipi kiri Baekhyun, mengusap jejak air mata yang ditinggalkan disana dan membelai pipi chubbi itu dengan penuh kelembutan. Seolah pipi itu akan berdarah ketika ia mengusapnya terlalu kasar.
"Tenanglah, Aku bersamamu." ujar Chanyeol dengan senyum menawan terlukis di wajahnya. Baekhyun seakan mendapat kekuatan lebih untuk terlepas dari belenggu ketakutan yang ia rasakan saat ini sehingga dengan cepat ia mengangguk untuk merespon ucapan Chanyeol.
'Ya, aku tidak sendiri. Ada Chanyeol bersamaku.' batinnya
.
.
.
Degub jantung namja mungil itu entah mengapa berdetak tidak normal. hal ini bukan karena ia sedang dalam kondisi takut, namun—
'Aish,, ada apa denganku?! Kenapa malam ini aku merasakan ada sesuatu yang lain dari Chanyeol? Dia—begitu menawan dan tampan ketika di lihat sedekat ini.' monolog Baekhyun dalam hati saat ia mengamati secara detail wajah terlelap di depannya mulai dari rambut berwarna brown sedikit berantakan itu, turun menuju kedua mata yang tertutup dengan alis yang tampak tebal. Jangan lupakan hidung mancungnya dan bibir tebal menggoda sehingga begitu mempesona dan di tambah kulit pucat dengan garis wajah yang tegas. Sungguh, pahatan yang sempurna untuk sebuah wajah. Baekhyun tidak bermaksud berlebihan, namun ia mengakui bahwa ia begitu iri sekaligus takjub melihat sosok sempurna yang kini berada di hadapannya tersebut.
Hey, kenapa tiba – tiba pipi itu merona. Aigoo, seperti gadis – gadis yang sedang jatuh cinta saja kau Byun Baekhyun?
'What?! Andwe! Apa yang aku pikirkan Tuhan?! Tidak mungkin jika aku— aish, Pabbo-ya kau Baekhyun-ah. Seharuskan kau tidak menahan si Park ini untuk—'
Flashback
Setelah berhasil menenangkan Baekhyun dan mengajaknya untuk masuk kedalam mansion, Chanyeol mengantar Baekhyun ke kamarnya untuk istirahat. Baekhyun memang terlihat syok dan butuh istirahat saat ini untuk menjernihkan fikirannya.
.
Terlihat di dalam kamar benuansa serba abu-abu itu seorang namja sedang merapikan selimut yang kini menutupi namja lain yang berbaring di atas sebuah ranjang king size di ruangan tersebut.
"Istirahatlah, kau pasti lelah." ucap namja yang masih mengenakan setelan pasien rumah sakit kepada namja cantik yang masih menatap sayu namja bermarga Park dihadapannya.
"Chanyeol—mianhae."ujar lirih namja bernama Baekhyun itu yang sukses menghentikan aktivitas Chanyeol merapikan selimut yang menutupi hampir seluruh bagian tubuh Baekhyun.
"Maaf? Untuk apa?" Chanyeol hanya menautkan alis, bingung.
"Karena aku tidak menceritakan hal ini kepadamu lebih awal." ujar Baekhyun merasa besalah.
"Hmm, Kau pasti punya alasan untuk tidak menceritakan hal apapun itu yang sedang kau sembunyikan dariku, bukan?"
"Nde, kau benar. Aku hanya tidak ingin kau terlibat dan— dan kejadian waktu itu terulang kembali. Sungguh aku tidak sanggup melihatmu meregang nyawa seperti itu Chanyeol-ah. Aku takut kau—" Baekhyun tidak bisa melanjutkan kalimat yan ia ucapkan. Baekhyun hanya dapat menutup mata dan menggigit bibir bawahnya.
"Baiklah, jika kau tidak ingin menceritakannya—" Chanyeol tidak dapat menyelesaikan kalimatnya saat Baekhyun menyela.
"Tidak. Ku rasa kau juga harus tahu akan hal ini Chanyeol." ujar Baekhyun sedikit tersirat nada keraguan disana.
"Oke,, jadi kau ingin bercerita?" selidik Chanyeol yang kini mendudukkan dirinya ditepi ranjang Baekhyun. Baekhyun meranjak duduk dan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Chanyeol.
Baekhyun menceritakan semua kejadian mengerikan dan ganjil yang ia alami selama ini setelah Chanyeol membacakan isi dari perkamen tersebut. Chanyeol memperhatikan dengan seksama, sesekali dahinya berkerut dan raut wajahnya sulit untuk di tebak. Datar. Begitulah kira – kira respon yang ia tunjukkan.
.
.
Baekhyun mencoba mengatur emosinya kembali setelah menceritakan semuanya tanpa terkecuali sampai pada bagian terakhir dimana ia bertemu dengan sosok asing tak di kenal beberapa menit yang lalu sebelum Chanyeol menemukannya di depan gebang mansion. Ya, sulit memang jika harus menceritakan hal yang tidak ingin kau ungkit, seperti halnya kau menggali kembali lubang yang sudah mati – matian kau tutup. Begitu menyisakan trauma. Itulah yang dirasakan oleh Baekhyun saat ini.
Kadang Baekhyun berfikir apa mungkin ini bagian dari karma karena ia menyepelekan hal-hal yang berbau mistis? Ah,, entahlah—
.
.
Chanyeol tidak merespon secara berlebihan seperti yang di tunjukkan oleh Kai ketika Baekhyun menceritakan hal yang sama. Chanyeol hanya melipat kedua tangannya didepan dada dan mengangguk dengan memasang muka tak terbaca.
Chanyeol menghela nafas.
"Lebih baik sekarang kau istirahat Bae." Chanyeol beranjak setelah mengatakan itu. Namun pergerakannya terhenti saat tangan Baekhyun reflek menggenggam pergelangan tangannya.
"Kau mau kemana Chan?"
"Aku juga akan istiraha. Aku akan tidur di kamar tamu. Kau tidurlah." jawab Chanyeol
"KKajima—" cicit Baekhyun yang membuat Chanyeol menatap bingung.
"Emm—i-itu..Bisakah,, bisakah kau malam ini menemaniku? Tidurlah disini bersamaku Chan, aku—" Baekhyun tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena malu.
"Arrasso, aku akan menemanimu disini." sela Chanyeol sembari beranjak menaiki ranjang sisi sebelah Baekhyun duduk menunduk malu sekarang.
Chanyeol merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu dengan posisi menyamping menghadap Baekhyun.
"Jja.. tidurlah Bae." perintah Chanyeol yang di angguki oleh Baekhyun. Baekhyun merebahkan tubuhnya terlentang disisi sebelah Chanyeol.
Baekhyun masih terjaga. Ia kemudian melirik kearah Chanyeol yang sudah menutup mata dengan tidur menyamping menghadapnya. Kemudian Baekhyun merubah posisinya menjadi menyamping sehingga kini ia menghadap Chanyeol. Saat ia melihat wajah rupawan nan damai itulah jantungnya bermarathon ria.
Flashback end
"Mengagumi wajahku Byunbaek?" tiba – tiba suara Chanyeol memecah keheningan dan mengejutkan Baekhyun yang memang sedang memandang kagum wajahnya. Ingatkan aku jika Baekhyun tadi sempat memuji ketampanan Chanyeol. Kekeke..
Baekhyun membelalakkan mata. Ia menjadi salah tingkah dan pipinya mendadak sepeti tomat ranum ketika pertanyaan Chanyeol begitu tepat sasaran. 'Aish, sial ternyata Park pabbo ini belum tidur, Eoh? Atau pura – pura tidur?'
"K-KAU— Yak, A-Ani... Tingkat percaya dirimu terlalu tinggi tuan Park!" Baekhyun mencoba mengelak yang membuat Chanyeol semakin gemas menggodanya.
"Benarkah? Lalu, kenapa dari tadi kau memandangi wajahku tuan Byun? Terpesona, hmm?" goda Chanyeol yang kini membuka matanya dan menumpukan tangan kanannya sebagai bantal. Menampakkan seriangai yang bagi Baekhyun memuakkan.
"MWO! Terpesona? Aku? Ck.. itu tidak mungkin. Aku lebih tampan darimu Chanyeol-ah" sanggah Baekhyun asal.
"Pttffhahahaha, Kau? Tampan? Aigoo..Kau ini manis Bae dan—"
"Yak! Berhenti bicara omong kosong Chan! Aku namja dan aku tidak manis... Aish aku ingin tidur." Baekhyun membalikkan tubuhnya tidur membelakangi Chanyeol dan beringsut menjaga space dari Chanyeol setelah mengeluarkan kedongkolannya. Sebenarya ia juga sedang menyembunyikan pipinya yang memerah parah karena malu.
'Cantik.' sambung Chanyeol dalam hati untuk kata – kata yang sempat terpotong oleh Baekhyun tadi.
"Kenapa kau berbalik Bae?" Chanyeol tahu Baekhyun sedang kesal sekarang. Namun justru itu yang membuatnya gencar menggoda si namja penyuka strawberry itu.
"..."
"Ya..Ya.. kau tidak ingin tidur menghadapku? Bagaimana jika ketika kau berbalik kau malah menemukan iblis itu dari pada aku dan—"
"ANDWE!" Seketika Baekhyun berbalik dan menghadap Chanyeol. Chanyeol tersenyum puas.
"Kemarilah." Chanyeol menepuk tempat kosong terdekat dari tempatnya berbaring.
Baekhyun hanya merespon dengan menautkan alis. Ia bingung namun tetap beringsut mendekati Chanyeol.
"Ya! kenapa kau lamban sekali?"
Grep—
Chanyeol mendekap erat Baekhyun setelah ia menarik pinggang Baekhyun untuk merapat kearah tubuhnya dan menenggelamkan kepala Baekhyun pada dada bidangnya. Chanyeol meletakkan dagunya diujung kepala Baekhyun. Ia menyesap wangi strawberry yang menguar dari rambut hitam namja mungil itu. Demi dewa – dewi yunani, sekarang jantung Baekhyun semakin tidak bisa terkontrol. Bagaimana tidak jika posisi ini begitu err— romantis? Dengan sebelah tangan Chanyeol merangkul posesif pinggul Baekhyun sedangkan kedua tangan Baekhyun menempel di dada bidang sang namja Park dengan wajahnya yang menghadap dada itu pula.
"C-Chan, apa yang kau—" Baekhyun mencoba melepas dekapan Chanyeol, ia sedikit mendorong dada Chanyeol. Namun Chanyeol justru mempererat dekapannya. Seakan tidak ingin kehilangan 'sahabat'nya itu.
"Ssstt.. Diamlah. Tidur!"perintah Chanyeol.
"T-tapi Chan—"
"Biarkan seperti ini. Tidurlah." suara Chanyeol melembut diakhir sehingga Baekhyun hanya bisa mengerjapkan mata dan menikmati perlakuan tiba – tiba dari Chanyeol yang jujur sangat membuat jangtungnya tidak sehat dan ia akui dirinya merasa nyaman serta aman berada di dekapan Chanyeol.
'Oh gost, apa – apaan ini? Park dobby brengsek! Kenapa kau membuat ku merona sepeti ini Eoh? Apa aku sudah tidak waras? Shit, kenapa ini begitu nyaman?' umpat Baekhyun dalam batin.
Namun tanpa sadar Baekhyun menikmatinya dan melengkungkan senyum. Ia akhirnya menyurukkan kepalanya pada dada bidang Chanyeol untuk mencari posisi nyaman. Baekhyun kemudian menutup mata untuk mengarungi alam mimpi.
Sedangkan namja yang mendekap erat tubuhnya juga mengukir senyum tipis sebelum perlahan memberikan kecupan pada masing – masing kelopak mata yang mengatup milik namja manis di dipelukannya itu.
"Jaljayo~ " ucap namja itu sebelum menutup mata dan menyusul mengarungi mimpi.
'Aku merindukanmu, Aku mencintaimu.' batin salah satu diantara kedua namja yang kini sedang mengarungi mimpi masing – masing sembari mendekap satu sama lain di bawah selimut yang sama dengan jalinan tangan yang jari – jarinya saling mengisi satu sama lain.
.
.
.
Jam baru menunjukkan pukul 08.12 namun Kai sudah berada di mansion Baekhyun. Namja maniak dance itu sekarang sedang duduk di ruang tengah menikmati secangkir green tea hangat sembari menunggu Baekhyun bersiap. Ia sudah berjanji kepada Baekhyun untuk mengantarkannya menemui 'teman' yang bekeja di perpustakaan tempat buku – buku dan perkamen kuno tersimpan.
"Kajja Kai-ah, kita berangkat sekarang?" Baekhyun muncul dari balik tangga dengan setelah kaos biru laut kebesaran di padukan dengan jeans hitam serta sepatu cat putih bergaris biru, terkesan simple namun menawan. Tidak lupa tas ransel ia sampirkan di bahu kanannya.
Kai tersenyum menyambut Baekhyun dan beranjak berdiri dari duduknya.
"Kau sudah siap? Baiklah, kita berang—" kalimat Kai terpotong oleh teriakan seseorang dari ujung tangga.
"Bae! Pinjami aku bajumu!"
Kai terbelalak lebar sedangkan orang yang berteriak dan kini menuruni tangga hanya memasang raut datar.
"YAK! Kenapa kau ada di sini tiang?!" sentak Kai sambil menunjuk orang yang dipanggilnya tiang. Siapa lagi jika bukan Park Chanyeol. Baekhyun yang berada di samping Kai sempat berjengit kaget akan teriakan nyaring Kai.
"Aigo, bisakah kau tidak berteriak? Telingaku masih berfungsi dengan baik hitam. Seharusnya aku yang bertanya, kenapa pagi – pagi begini kau sudah kemari?" Chanyeol malah balik bertanya.
"AISH.. Kenapa kau malah bertanya Eoh?!" seru Kai.
"Hah.. bisakah kalian rukun satu hari saja?" gumam Baekhyun yang melihat tingkah kekanakan dari keduanya.
"Tidak akan/Mustahil" jawab Chanyeol dan Kai bersamaan dengan masing – masing memberikan tatapan tidak suka. 'Kekanakan' Baekhyun memutar matanya malas.
"Oke baiklah, terserah. Apa kita bisa pergi sekarang Kai-ah?" Baekhyun mengalihkan pembicaraan. Namun justru membuat kerutan di dahi Chanyeol.
"Ah, baiklah kajja kita pergi sekarang" jawab Kai sembari merangkul bahu Baekhyun.
"Yakk, kau akan pergi? kemana? Lalu kau akan meninggalkanku sendirian disini begitu?" berondong Chanyeol memicingkan mata.
"Ah ya benar. Aku dan Kai akan menemui teman Kai yang bekerja diperpustakaan buku – buku kuno Chanyeolie.. jadi bagaimana jika aku dan Kai mengantarkanmu dahulu kembali ke rumah sakit?" usul Baekhyun.
"Wow, kau kabur dari rumah sakit?! Bagaimana bisa? Apa kau tidak mampu untuk membayar? Hahaha.." olok Kai.
"Diam kau kkamjong, bukan urusanmu". Sentak Chanyeol yang membuat Kai mengkeret seketika.
"Aku ikut Bae." Putus Chanyeol.
"Tapi Kau—"
"Aku sudah sembuh. Lagipula aku diperbolehkan pulang hari ini Bae, jadi Kita bisa ke rumah sakit dahulu untuk menyelesaikan administrasi kemudian aku akan ikut pergi dengan kalian". Jelas Chanyeol
"Hah baiklah." akhirnya Baekhyun menyetujui usul Chanyeol untuk ikut bersama mereka dengan helaan nafas panjang. Ia malas untuk berdebat dengan namja keras kepala seperti Chanyeol. Lagipula tidak ada salahnya jika Chanyeol ikut.
.
.
.
Kini ketiga namja yang masing – masing adalah Kai, Baekhyun, dan Chanyeol itu memasuki perpustakan yang cukup besar di daerah Daegu. Namja yang di ketahui sebagai Kai, mengedarkan pandangannya kesana – kemari untuk mencari sesuatu, tepatnya seseorang.
"Kai-ah!" seru seseorang dari arah barisan rak buku ketiga dari tempat Kai, Chanyeol dan Baekhyun berdiri.
Kai melambaikan tangannya dan tersenyum ketika ia menemukan orang yang memanggilnya tadi. Sepetinya namja pemilik love smile itulah yang Kai cari.
Namja itu berlari kecil menghampiri Kai yang disampingnya berdiri Baekhyun diikuti Chanyeol yang berada di samping Baekhyun.
"Kau datang?" tanya namja tersebut setelah tiba di depan Kai.
"Nde. Ah Kyungsoo-ah, perkenalkan, dia adalah Byun Baekhyun yang aku ceritakan padamu." ujar Kai menunjuk Baekhyun ketika namja yang dipanggil Kai sebagai Kyungsoo itu tepat berada di depannya.
"Anyeong, Aku Do Kyungsoo. Kau bisa memanggilku Kyungsoo atau D.O, Baekhyun ssi." sapa Kyungsoo dengan sopan memperkenalkan diri. Terlihat sejak tadi senyum itu tidak luntur dari bibir uniknya.
"Ah ne, Aku Byun Baekhyun. Salam kenal Do Kyungsoo-sii." Baekhyun membungkukkan sedikit badannya walau tidak sampai 90 derajat. Hey, dia masih mengerti tatakrama.
"Hahaha,, aigoo, tidak perlu seformal itu. Panggil saja aku Kyungsoo dan aku akan memanggilmu Baekhyunie, otte?" usul Kyungsoo sumpringah.
"Ah nde, kuasa itu lebih baik." jawab Baekhyun sambil mengusap tengkuknya.
Kemudian mata bulat Kyungsoo beralih kepada namja yang berdiri di samping Baekhyun. Ia memiringkan kepalanya.
"Nugu?" tanya Kyungsoo entah kepada siapa.
"Ah, Dia—"
"Park Chanyeol imnida, salam kenal Kyungsoo-ssi. Aku sahabat Baekhyun." Chanyeol memotong ucapan Kai yang akan mengenalkan dirinya. Kai hanya bisa mendengus 'Dasar tidak sopan.'
Kyungsoo kemudian tersenyum dan manggut – manggut mengerti.
.
.
Keempat namja tersebut saat ini duduk melingkari meja yang disiapkan bagi setiap pengunjung yang membaca buku di perpustakaan ini. Kyungsoo mengambil tempat duduk untuk mereka ditempat yang cukup tersembunyi dan beruntung karena perpustakaan tersebut kini masih terhitung sepi.
"Aku sudah mengetahui semua ceritanya dari Kai dan aku juga sudah melihat foto perkmen yang dikirimkan oleh Kai." ujar Kyungsoo memulai pembicaraan. Benar, Kai sempat mengambil foto berkamen itu saat Baekhyun menunjukkannya kemarin malam untuk di tunjukkan kepada Kyungsoo.
"Lalu, apa yang kau temukan Kyungsoo-ah?" tanya Kai yang terlihat lebih penasaran dari ketiganya.
"Emm—aku tidak yakin, tapi— bolehkah aku melihat secara langsung perkamen itu Baekhyun-ah?" pinta Kyungsoo yang kini menatap lekat Baekhyun.
"Ah nde." Baekhyun membuka tas ransel yang tadi ia bawa dan mengeluarkan sebuah perkamen tua dari dalamnya kemudian menyerahkannya kepada Kyungsoo.
Kyungsoo membuka perkamen itu. Seketika dahinya berkerut, ia tampak serius mempehatikan isi pekamen tersebut.
"Dari cerita Kai, bukankah saat itu kau yang membaca perkamen ini Chanyeol-ah?" tanya Kyungsoo tanpa mengalihkan pandangannya dari perkamen.
"Ya, benar. Wae?" tanya Chanyeol sedikit aneh. Kyungsoo beralih menatap Chanyeol dengan mengangkat satu alisnya.
"Bagaimana bisa kau membacanya? Setahuku, simbol dan sandi – sandi ini sulit di pahami dan di pelajari bahkan seorang profesor arkeolog sekalipun, kecuali jika kau adalah keturunan jerman selatan itu sendiri."
Baekhyun dan Kai segera mengalihkan perhatiannya kepada Chanyeol. Tatapan mereka seolah meminta penjelasan dari namja yang masih duduk tenang itu.
"Molla. Yang aku tahu, aku pernah melihat perkamen serupa di tempat kerja ayahku. Aku hanya mengikuti metode ayahku saat menerjemahkan perkamen itu." Jawab Chanyeol enteng.
"Eoh, benarkah? Woah.. Daebak!"pekik Kyungsoo kagum sekaligus tak percaya, ternyata ada metode yang sepert itu. Sepertinya ia harus belajar kepada Chanyeol.
"Chanyeol-ah, apa kau bisa mengajarkan metode itu padaku? Jebal?!" Pinta Kyungsoo dengan owl eyesnya yang di tanggapi rollingan mata dari Chanyeol.
Baekhyun dan Kai yang sempat di buat tegang oleh pernyataan Kyungsoo sweetdrop dengan kelakuan namja pemilik love smile satu ini. 'Anak ini benar – benar, Aish!' rutuk keduanya dalam hati.
"Ya, Lupakan tentang metode apapun itu! Haish, Berhentilah bertingkah seperti itu Kyungie! Jadi lebih baik kau jelaskan saja sebenarnya apa yang menimpa Baekhyun saat ini." Kai yang jengah melihat Kyungsoo yang merayu Chanyeol dengan binary owl eyesnya membuka suara. Cemburu Eoh?
"Ck, .. cerewet sekali. Baiklah Akan aku jelaskan, tapi aku masih belum yakin. kemampuanku masih terbatas." Dengus Kyungsoo yang ditujukan kepada Kai.
Kyungsoo mengambil salah satu dari 3 buku yang tadi sempat Ia bawa sebelum duduk bersama Baekhyun, Kai dan Chanyeol.
Buku itu tampak kuno. Terlihat seperti kitab dengan sampul yang sudah berwarna coklat usang namun begitu klasik dengan ukiran yang menyembul dari sampul buku tersebut. Baekhyun sempat sekilas membaca sampul buku itu yang bertuliskan 'Teufelsbrut' dan dia tidak terlalu bodoh untuk menerjemahkan tulisan jerman itu.
"Ya, tidak perlu terkejut seperti itu Baekhyun-ah. Ini memang buku tentang kebangkitan keturunan iblis." ucap ringan Kyungsoo ketika mendapati Baekhyun membelalakkan mata ketika melihat buku yang dibuka oleh Kyungsoo. Baekhyun segera mengendalikan raut kagetnya. Ia tersenyum canggung.
"Baiklah, lihat ini! dari yang sempat aku baca disini ada tiga cara pembangkitan iblis yaitu Penyatuan, Penanaman, dan Peleburan. Penyatuan, berarti menyatukan aura jiwa murni dengan jiwa iblis. Penanaman berarti, seperti menanamkan bibit iblis pada jiwa murni yang akan dipersembahkan dan peleburan adalah meleburkan jiwa – jiwa yang menjadi dendam dari seorang iblis." Jelas Kyungsoo yang masih mendapat respon kebingungan dari ketiga namja yang menatapnya.
"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Baekhyun menunjuk dirinya sendiri.
"Lihatlah!"
Baekhyun, Kai dan Chanyeol melihat gambar yang di tunjukkan oleh Kyungsoo. Lembar pertama berisi gambar seoang iblis yang sedang menggauli seorang wanita yang menampakkan raut kesakitan. Gambar ketiga terlihat wanita yang terpasung di tengah pentagram kemudian sesuatu di tanamkan oleh iblis kedalam dirinya dan gambar yang terakhir adalah gambar 7 manusia berserakan mati dengan masing – masing dari mereka terkalungkan rantai yang terhubung satu sama lain dan di tengah mereka ada wanita tadi yang berubah menjadi iblis menakutkan mengendong sesuatu berlumuran darah dikedua tangannya.
Ketiganya tercekat. Mengerikan. Itulah yang berada di benak mereka, terutama Baekhyun.
"I-ini, tidak— mungkinkah aku?" Baekhyun menggeleng kalut tidak percaya. Sungguh, ia tidak ingin percaya.
"Mungkin saja. Tapi aku masih ragu karena kau adalah seorang namja Baekhyun-ah, sedangkan setiap pengorbanan akan jatuh pada seorang yeoja." Jelas Kyungsoo bertopang dagu.
"Aku masih belum mengerti apa hubungan yang kau jelaskan dengan perkamen itu Kyungie, apakah perkamen itu tempat mengurung sosok iblis?" tanya Kai dengan muka polosnya.
"Hn, kemungkinan itu ada. Tapi aku akan menujukkan kalian ini." Kyungsoo mengambil buku lainnya yang bertuliskan sejarah masyarakat jerman selatan dan buku satunya lagi yang berisikan misteri pada daerah Westseven bab hutan Bloody wood.
"Kau lihat ini, bukankah sejenis dengan perkamen yang kau temukan Baek?" tunjuk Kyungsoo pada gambar perkamen di buku tersebut. Baekhyun hanya bisa mengangguk dengan wajah masih tampak pucat.
"Dalam buku ini di jelaskan bahwa sebuah perkamen dibuat oleh orang Jerman Selatan sebagai pesan kematian atau bagi mereka yang percaya oleh kekuatan sihir akan menganggap bahwa perkamen adalah tempat jiwa – jiwa tersesat berada karena membawa sebuah dendam. Dengan kata lain sebuah perkamen akan dipercaya membawa suatu kutukan. Yang menaik disini kutukan tesebut akan berimbas kepada siapapun yang membacanya. Bisa jadi orang tersebut akan mati saat itu juga." papar Kyungsoo.
Baekhyun dan Kai yang mendengarkan penjelaskan Kyungsoo melebarkan mata namun berbeda dengan Chanyeol yang malah mengernyit heran.
"Siapapun yang membacanya? Berarti bukankah itu aku? Tapi, aneh.. aku tidak merasakan sesuatu yang ganjil dalam diriku. Semuanya baik – baik saja. Bahkan aku masih hidup." Chanyeol membuka suara.
"Nde, itulah yang aku herankan. Kenapa hal ganjil malah menimp Baekhyun?" Kyungsoo meletakkan tangannya di pelipis.
"A-apa mungkin karena aku yang meminta Chanyeol yang membacanya?" cicit Baekhyun ragu.
"Ck.. itu tidak masuk akal Baekhyun-ah. Ku rasa bukan karena itu." Kyungsoo menepis komentar Baekhyun.
"Lalu apa yang akan terjadi denganku selanjutnya?" lirih Baekhyun menundukkan kepala. Ia merasa sedih dengan nasibnya sendiri.
Kyungsoo menghela nafas. Ia juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Hey, dia bukan peramal.
"Akupun tidak tahu Baekhyun-ah. Jika benar kau adalah jiwa murni yang dikorbankan itu, maka— selanjutnya iblis itu akan menanamkan sesuatu pada dirimu mengingat jika kau telah emm— di gauli olehnya seperti yang gambar dalam buku ini jelaskan." ujar Kyungsoo secara hati –hati.
"Andwe! Aku tidak mau! Jebal tolong aku Kyungsoo-ah! Jebal.." Baekhyun menggenggam tangan Kyungsoo dengan kedua tangannya. Mata Baekhyun berembun siap menumpahkan air mata yang sudah menumpuk. Perasaannya kalut. Ia sangat takut.
"Mianhae Baekhyun-ah, aku belum menemukan buku untuk menghentika upacara pembangkitan iblis itu. Tentu saja aku juga sangat ingin menolongmu. Tapi maaf, aku sendiri juga tidak tahu apa yang harus kita lakukan." Kyungsoo berujar sendu, merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa – apa.
"Tidak.. hkks, bagaimana ini? A-aku... hkks." akhirnya pertahanan Baekhyun runtuh. Ia tidak peduli jika ia dianggap namja cengeng. Ia bingung, bagaimana dengan nasibnya? Apakah akan sama dengan isi dari buku menjengkelkan itu?
Chanyeol reflek memeluk tubuh gemetar Baekhyun yang berada di sampingnya. Membisikkan kalimat penenang untuk namja mungil itu.
"Ssstt.. tidak apa – apa Bae, ada aku disini. Aku berjanji akan berusaha mencari jalan keluar untukmu. Kau tidak akan apa – apa, hanya cukup percaya padaku, Arra?" Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun dengan tangannya. Menyampaikan dari matanya yang memandang lembut wajah Baekhyun, jika namja berparas tampan tersebut akan melindungi namja berwajah manis dihadapannya.
Baekhyun mulai luluh dan mengangguk. Bertumpu kepada Chanyeol sepenuhnya.
"Aku akan menagih ganjimu Park bodoh." Baekhyun berujar lirih sembari menghapus kasar air matanya.
Kai dan Kyungsoo yang menyaksikan kedua namja itu saling bertukar pandang seolah masing – masing mereka bertukar dialog dari tatapan itu.
'Benar kataku kan chagi? Chanyeol memang begitu proktektif.' batin Kai menyeringai.
'Hah, kau benar Kai-ah, dia begitu romantis. Tidak seperti kau!' Kyungsoo merubah tatapannya dengan deathglare mematikan. Kai hanya menanggapi deathglare dari kekasihnya dengan cengiran bodoh. Oow, aku belum memberi tahukan kepada kalian jika meraka adalah sepasang kekasih?
.
.
Setelah Baekhyun berhasil tenang, Baekhyun dan Chanyeol pamit untuk pulang kepada Kyungsoo dan Kai. Eoh, kalian tanya mengapa Kai tidak pulang bersama mereka? Kai memberi alasan jika ada urusan lain dengan Kyungsoo. Hahaha.. alasan klise, bilang saja ingin memadu kasih.
"Mianhae Baekhyun-ah, aku tidak bisa membantu banyak." ucap Kyungsoo setelah memeluk Baekhyun sebagai ucapan perpisahan.
"Aniya- gwenchana, Kyungsoo-ah. Aku justru berterima kasih kau mau membantu." ucap Baekhyun menenangkan Kyungsoo agar tidak merasa tidak enak dengan dirinya.
"AH Iya! Kenapa aku hampi lupa." Kyungsoo memekik kecil dan merogoh saku celana jins birunya.
Baekhyun, Kai dan Chanyeol menatap penasaran kearah Kyungsoo.
"Ini Baekhyun-ah, itu adalah kartu nama dari kakak sepupuku dari China. Namanya Xi Luhan, dia—mungkin bisa dianggap sebagai seorang pemilik indra keenam. Lebih banyak tahu tentang hal magis dari pada aku, Ku rasa kau bisa kesana untuk meminta bantuannya." Kyungsoo memberikan kartu nama bertuliskan XI LUHAN kepada Baekhyun. Baekhyun menerimanya dengan senang hati, ia tidak perduli jika kini ia percaya akan hal mistis. Persetan dengan logika. Entahlah, Baekhyun kini tidak berfikir kanya mengandalkan logikanya saja. apapun akan ia lakukan demi lepas dari belenggu menakutkan yang sedang ia alami.
"Gomawo, Kyungsoo-ah." Baekhyun kembali memeluk Kyungsoo.
"Cheonmaneyo Baekhyun-ah, jika kau membutuhkan bantuan jangan sungkan untuk menghubungiku, Arra?!" ujar Kyungsoo sembari melepaskan pelukannya dan menggengam tangan Baekhyun.
"Baiklah Kyungsoo-ssi, sepertinya aku dan Baekhyun harus pamit. Terimakasih karena sudah membantu." ucap Chanyeol menginterupsi.
"Baiklah.. baiklah, aku tahu Tn posesif. Ck.. kenapa kalian tidak jadi sepasang kekasih saja!" celetuk Kyungsoo yang sukses membuat Baekhyun dan Chanyeol merah padam dari pipi sampai telinga karena malu. Sedangkan Kai mencoba menahan tawa dengan omongan to the point kekasihnya.
"Eoh.. Begitukah?! Apa kita terlihat seperti sepasang keka—"
"AH Baiklah, sepertinya kita memang harus pulang Chan. Kyungsoo- ah, Kai-ah kami permisi pulang. Anyeong!" Baekhyun memotong kata-kata Chanyeol yang akan membuatnya malu di hadapan Kyungsoo sembari menyeretnya untuk keluar dari pepustakaan itu. Aigoo- ya..
.
.
Keesokan harinya di Campus..
Chanyeol dan Baekhyun sedang berjalan beriringan menysuri koridor Campus. Chanyeol sudah merasa baikan. Begitulah katanya saat Baekhyun menemukan si pemuda tinggi itu tepat saat akan memasuki pintu gerbang Fakultas mereka. Sepanjang perjalanan mereka menuju kelas pagi Baekhyun tidak banyak bicara. Pemuda mungil itu hanya mengaucapkan sedikit kalimat basa-basi kepada Chanyeol dan setelahnya diam. Baekhyun menjadi lebih diam serta tidak seperti biasanya semenjak bertemu dengan Kyungsoo dan mendengar spekulasi dari pemuda pemilik mata bulan tersebut. Chanyeol tahu Baekhyun sedang kalut saat ini sehingga ia memberi kesempatan kepada Baekhyun untuk menenangkan dirinya tanpa protes.
Namun, tiba-tiba Baekhyun berhenti di depan sebuah madding Campus. Ia Memperhatikan dengan seksama sebuah poster berukuran … yang terpajang disana. Chanyeol berani bertaruh jika Baekhyun sempat mengerutkan dahi seperti mengingat sesuatu dan tidak lama ia membelalakkan mata dan reflek mundur satu langkah.
Chanyeol mengenyit bingung. Ia menoleh untuk menyaksikan apa yang terdapat didalam poster tersebut. 'Tidak ada yang aneh? Hanya berisi tentang seorang pemuda tampan pemenang ajang pemilihan model majalah kampus edisi terbaru dari Fakultas Kesenian. Ada apa?' batinnya.
"A-aku harus pergi Chanyeol. Kau kekelas saja dahulu, aku akan menyusul nanti." Baekhyun tiba – tiba saja berlari sedang Chanyeol masih dalam keadaan bingung mencoba berteriak menghentikan langkahnya.
"YAK, Baekhyun-ah ada apa denganmu! Kenapa Kau mau kemana? Aish.."
Baekhyun seketika berhenti dan membalikkan badan seraya berkata, "Aku harus memastikan sesuatu. Akan aku ceritakan nanti." Balas Baekhyun yang kemudian setelah itu berlari menuju suatu tempat meninggalkan Chanyeol dengan beribu tanda tanya dikepala.
.
.
Baekhyun sedang berada di depan Fakultas lain sekarang. Lebih tepatnya ia sedang berdiri di depan Fakultas Kesenian. Baekhyun kini melangkahkan kakinya menyusuri karidor Fakultas tersebut untuk mencari seseorang. Ia sempat berdebat dengan Chanyeol di sambungan telefon tadi saat namja manis itu mengatakan bahwa dirinya tidak bisa mengikuti kelas pagi. Chanyeol sempat bertanya khawatir dimana ia sekarang dan bagaimana kondisinya. Namun, Baekhyun bisa meyakinkan Chanyeol untuk tidak terlalu khawatir karena ia baik-baik saja sekarang. Akhirnya Chanyeol mengalah dengan syarat, Baekhyun harus langsung menghubunginya jika terjadi sesuatu. Baekhyun hanya berdecak sebelum akhirnya ia mengiyakan dan menutup sambungan mereka.
Dan kini Baekhyun berada di depan sebuah kantin Fakultas kesenian setelah mendapatkan informasi dari mahasiswi yang berada di Fakultas ini bahwa orang yang ia cari sedang berada ditempat tersebut.
"Kai-ah!" Baekhyun sedikit berteriak memanggil sembari melambai saat matanya menemukan pemuda tan sedang duduk didepan sana tengah menikmati sekotak bento diatas meja.
Kai sedikit terperanjat mendengar panggilan Baekhyun kemudian mengalihkan pandangan untuk mendapati Baekhyun tengah menghampirinya dengan sedikit berlari.
"Baek? Kenapa kau ada disini?" Sedikit bingung Kai bertanya saat pemuda mungil itu kini tepat dihadapannya.
"Aku mencarimu Kai."
"Mencariku?" Kai menunjuk dirinya dengan sumpit yang ia pegang saat mendengar jawaban Baekhyun. Baekhyunpun mengangguk dan bertanya, "Bolehkah aku duduk?"
Seketika Kai merutuk dirinya karena telah membiarkan Bekhyun berdiri dengan nafas terengah usai berlari.
"A-ah mian, duduklah."
Tanpa menjawab apapun Baekhyun mendudukkan dirinya didepan Kai yang kembali menikmati bentonya.
"Mau ku pesankan sesuatu?" Kai bertanya kepada Baekhyun namun dibalas dengan sebuah gelengan.
"Aku kemari untuk bertanya sesuatu kepadamu Kai."
Kai kemudian menghentikan suapannya untuk menatap Baekhyun dengan kernyitan didahi.
"Ingin menanyakan apa?"
Pemuda mungil di depan Kai itu sempat mengatur nafasnya untuk sedikit menenangkan kegelisahan hati sebelum kemudian melontarkan sebuah pertanyaan didalam kepalanya.
"Kau tahu dengan pemuda pucat dengan rahang tegas yang memenangkan kontes pemilihan model majalah kampus edisi terbaru bulan ini? Dia mahasiswa dari kampusmu. Apa kau mengenal pemuda itu Kai?"
Pertanyaan Baekhyun mulanya membuat Kai berfikir sejenak sebelum kemudian ia mengetahui siapa pemuda yang dimaksud oleh sahabatnya itu.
"Owh itu.. Apa kau sedang bertanya tentang Oh Sehun?" Kai menjawab dan bertanya ringan sembari memasukkan Chicken teriyaki kedalam mulutnya.
"Oh Sehun?" kernyitan bingung dengan beribu tanda tanya memenuhi pikiran Baekhyun.
.
.
.
"Oh Sehun, dia merupakan mahasiswa setingkat denganku tetapi kita berbeda kelas. Dia biasanya mengambil kelas sore atau malam karena aku dengar paginya ia akan mengikuti klub modeling. Si albino itu memang berbakat untuk menjadi seorang model. Dia memang popular di kampus ini tapi aku tidak begitu dekat dengan anak itu. Kita hanya mengucapkan salam basa-basi ketika bertemu. Tapi, aku dengar dari mahasiswi penggosip yang mengikuti kelas sore atau malam 2 hari yang lalu Sehun tidak mengikuti kelas. Awalnya mereka pikir anak itu sakit. Namun kemarin gossip yang aku dengar dari sahabat baiknya, Sehun dilaporkan tiba-tiba menghilang oleh orang tuanya. Pihak polisi masih menyelidiki apakah ada tanda – tanda tindak penculikan disini. Yeah, mengingat sehun adalah keturunan dari seorang konglomerat terkaya ke-dua seasia."
Baekhyun mengingat kembali akan ucapan Kai pagi tadi saat meminta pemuda itu menjelaskan siapa Oh Sehun. Omong-omong saat ini Baekhyun sedang berada di kamarnya untuk beristirahat setelah seharian dipusingkan dengan masalah perkamen dan tugas tambahan akibat membolos.
'Oh Sehun? Menghilang? 2 hari yang lalu? Apa mungkin pemuda itu—'
Drrt.. drrt..
Dering pesan menghentikan monolog Baekhyun. Baekhyun segera membuka kunci smartphonenya dan tertera nama Kai disana dengan lampiran sebuah foto. Baekhyun sengaja meminta Kai mengiriminya foto Oh Sehun yang di maksud oleh si pemuda tan itu kepadanya saat si pemuda tan tidak memiliki potret dari pemuda tersebut di galeri handphonenya. Alhasil Kai berjanji akan mengirimi Baekhyun potret Oh Sehun setelah ia mendapatkan fotonya dari teman-teman yang lain. Dan baru saat inilah Baekhyun mendapatkan foto rupa dari pemuda itu. Ia hanya ingin memastikan siapa tahu pemuda dari Fakultas kesenian yang ia lihat di poster mading bukanlah Oh Sehun melainkan orang lain. Mungkin saja dia salah.
Namun pada saat dirinya membuka potret itu kedua mata Baekhyun membelalak lebar. Ia meneguk salivanya dengan susah payah.
'Orang ini? Benar, dia orang itu. Wajah mereka sama persis. Bagaimana bisa dia tahu tentangku? Bagaimana bisa dia tahu tentang perkamen itu?' batin Baekhyun.
Iya, yang di lihat Baekhyun saat ini adalah benar jika orang misterius yang menemui Baekhyun saat itu memiliki rupa yang sama dengan namja bernama Oh Sehun.
'Lalu, bagaimana ia memiliki mata yang dimiliki oleh makhluk itu. Bahkan saat ia menggeram suara itu sangat mirip dengan makhluk yang sudah—'
"AARGGG.. Aku tidak ingin mengingatnya!" tiba-tiba Baekhyun berteriak dan mengacak surai hitamnya seperti orang yang sedang frustasi. Ia menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Kepalanya menjadi pening. Apa lagi ini?
"Apa mungkin iblis dalam perkamen itu masuk kedalam tubuh pemuda ini? atau Diakah iblis itu?" gumam Baekhyun sebelum menutup matanya untuk sekedar mengistirahatkan pikiran dan jiwanya yang lelah.
Jika di fikir secara logika semua menjadi berhubungan...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
Yo… ini aku up Chap 4 walaupun review gak sesuai target tapi yaudahlah terserah,, mau baca mau review atau gak terserah dah..
.
.
Thanks yang udah Review, untuk versi aslinya udah mau End.. Nyahaha…
FF ini bakal aku update rutin tiap malem jum'at di FFN dan Wattpad..
Oke, gue lagi males banyak bacot..
Next or delete?
Thankyuuu…
Salam 614 & 137…
