Misteri Lukisan Dua Gadis Bersaudara 4
Pagi itu adalah pagi yang sibuk di mansion Phantomhive. Semua pegawai menyibukkan diri untuk mempersiapkan jamuan pesta kebun yang dijadwalkan akan berlangsung tengah hari nanti. Masih terlalu pagi memang. Itu sebabnya Sebastian belum membangunkan bocchan-nya.
Meyrin keluar dari dapur dengan membawa setumpukan piring dengan sedikit tergesa-gesa.
"Oi! Meyrin! Setelah kau selesai dengan pekerjaanmu, cepat Bantu aku!" Teriak seseorang dari dalam dapur kepada Meyrin yang berada di 15 meter dari dapur.
"Iya, Bard-san. Sebentar." Jawabnya pada si penyeru yang ternyata Bard. Ia lanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti.
"Ya ampun… harus cepat-cepat. Kalau tidak Sebastian-san bisa marah." Gumamnya.
Selang 40 detik, langkah Meyrin kembali terhenti. Kali ini ia menginjak sesuatu yang basah dan… agak 'keras'.
"Astaga. Apa yang kuijak ini?"
Saat ia melihat kepada 'sesuatu yang ia injak, tiba-tiba….
"KYAAAAAAA…..!"
"PRAAAANNNGGG…!"
"Ada apa?" Bard berlari panik ke arah Meyrin yang berteriak histeris, disusul oleh Sebastian yang datang dari arah yang berbeda.
"Ada apa, Meyrin?" Tanya Sebastian.
"Kau pecahkan piring lai?" Ejek Bard.
Meyrin terlihat gemetar di sudut ruangan. Ia terlihat shock.
"I…. i… itu…." Tunjuk Meyrin ke arah 'sesuatu' yang ia injak tadi.
"Astaga!" Bard dan Sebastian terkejut.
Betapa tidak. Di sana tergeletak Nina dengan tubuh bersimbah darah dan sebuah kapak tertancap di punggungnya!
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Bard memarahi Meyrin.
"Aku tidak tahu! Saat aku berjalan Nina-san sudah begini." Tukas Meyrin.
"Astaga, siapa yang melakukan ini?" Gumam Sebastian.
Keributan ini pun terdengar ke seluruh mansion, sampai-sampai membangunkan penghuni mansion yang sedang tertidur pulas. Tak terkecuali sang Earl.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Ciel dengan masih mengenakan piyamanya menghampiri sumber keributan, disusul Prince Souma, Elizabeth, Frances dan Agni.
"Tidak sopan membangunkan orang dengan ca…. Astaga!" Frances terkejut. Ia tak lagi melanjutkan 'omelannya' itu karena tak kuasa melihat tubuh Nina yang terkujur kaku di atas lantai dengan darah menyelimutinya.
"Apa yang terjadi? Kenapa Nina?" Ciel panik. Semua panik.
Souma pingsan di tempat. Finnian yang lanjut menyusul tuannya pun kemudian menangis dan pingsan pula. Ada sesuatu yang ganjal. Elizabeth terlihat dingin dengan tatapan mata aneh dan berbeda dari biasanya. Ia tidak menempakkan kepanikan, apalagi sampai menjerit histeris seperti biasa yang ia lakukan ketika ada sesuatu hal yang buruk terjadi, apalagi kejadian seperti ini. Hanya wajah dingin tanpa ekspresi.
"Sepertinya ada yang mencoba membunuh nona Hopkins, walau rencananya tidak berjalan dengan mulus." Bisik Sebastian kepada bocchan-nya. Walaupun disebut bisikkan, tapi perkataannya bias terdengar oleh semua orang di sana. Terlihat saat ia mengakhiri perkataannya tersirat rasa kaget di wajah masing-masing orang (kecuali Lizzie).
"Nina-san masih hidup. Denyut nadinya masih ada!" Seru Agni dengan gembira dan penuh syukur setelah ia memeriksa denyut nadi Nina.
"Kalau begitu, Sebastian, bawa Nina ke rumah sakit secepatnya. Ini perintah!"
"Yes, My Lord…"
~ooo0ooo0ooo~
Suasana siang itu sangat mencekam, seperti ada kabut hitam yang melanda mansion Phantomhive. Tidak ada pesta kebun seperti yang direncanakan. Suasana siang itu sangatlah buruk
Semua berkumpul di ruang santai, kecuali Meyrin dan Finnian yang menunggui Nina di rumah sakit, Elizabeth yang entah kemana, Bard yang sedang sibuk memasak di dapur dengan ditemani Tanaka yang hari itu terus mengawasinya.
"Argkh! Kenapa jadi seperti ini?" Omel Souma membuka siang yang sunyi di ruang santai itu. Omelannya itu pun sampai-sampai membuat semua terperanjat
"Semua ini gara-gara lukisan itu! Sebelum lukisan itu datang tidak terjadi apa-apa kan?" sambungnya.
Ciel termenung. Ia tak habis pikir kalau bencana benar-benar menimpa kediamannya. Apakah ini karena lukisan 'terkutuk' itu?
Sebastian menuangkan teh ke dalam cangkir. Ia suguhkan kepada tuan mudanya, tetapi tak digubris. Ia pun meletakkan secangkir teh itu di atas meja.
"Bukannya akau percaya pada hal-hal yang berbau okultisme seperti itu. Tetapi, kenapa kau tidak buang saja lukisan itu. Apa kau mau sesuatu yang buruk terjadi lagi di rumahmu?" Frances membuka suara.
"Ya! Dengarkan bibimu, Ciel!" sambung Souma.
Ciel tetap termenung. Entah apa yang ia pikirkan. Sebastian pun ikut bungkam mulut. Entah apa yang dipikirkan pasangan master-butler itu.
"Jika aku mempunyai pikiran yang pendek, sudah kubuang lukisan itu sejak awal." Akhirnya Ciel membuka suara. Pernyataannya tersebut membuat kaget Frances dan Souma.
"Oh, iya. Bibi, mana Lizzie?" Tanya Ciel pada bibinya. Sejenak Frances geram karena berpikir kalau Ciel mencoba mengalihkan pembicaraan. Tetapi, melihat ekspresi wajah dan kenyataan kalau Elizabeth tidak ada, ia pun sama herannya dengan Ciel.
"Entahlah" jawabnya singkat dengan penuh kecemasan.
"maaf, nyonya. Kalau boleh saya berbicara, nona Elizabeth terlihat sangat aneh hari ini." Timpal Sebastian.
"Aneh? Apanya yang aneh?" Tukas Frances.
"Ketika nona Hopkins ditemukan dengan keadaan seperti itu, nona Elizabeth tidak menampakkan ekspresi apapun. Biasanya jika hal buruk terjadi, nona Elizabeth selalu menjerit histeris bahkan terkadang sampai menangis. Selain itu nona Elizabeth juga sangat peka terhadap situasi. Tetapi kali ini ia terlihat sangat dingin dengan tatapan mata yang aneh." Jelas Sebastian.
Mendengar itu, Frances tercenung. Benar juga dengan apa yang dikatakan Sebastian. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya.
Ketika semua kembali terdiam, keributan muncul…
"BRAAAKKK…"
"Apa itu?" Ciel terkejut. Ia pun berlari ke luar ruangan. Diikuti oleh Sebastian di belakangnya.
Ciel semakin terkejut ketika melihat sumber keributan itu.
"Apa i…"
"Hai…! 3"
Tampak Grell terjungkir menabrak jendela mansion hingga pecah dengan tangan terlambai.
"Grell Sutcliff?" Ciel terkejut.
"O, Sebas-chan! 3" Seru Grell terbangun, kemudian sengan segera ia memeluk Sebastian, tetapi Sebastian cepat menghindar hingga ia kembali terjungkal.
"Grell-san. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sebastian dengan posisi membungkuk kea rah Grell yang belum terbangun.
"Aku bosan. Will terus memarahiku, padahal aku sudah melakukan tugasku dengan baik." Kata Grell dengan wajah dramatis.
"Jadi aku kesini untuk bersantai, tentunya menemuimu :*" lanjutnya.
"Ini bukan situasi yang bagus untuk bersantai. Disini sedang terjadi masalah. Kau tahu?" Bentak Ciel.
"Huh, sudahlah…"
"Ciel, kau mau kemana?" Sahut Souma dari dalam ruang santai.
"Aku mau ke rumah sakit, membesuk Nina. Sebastian, ayo." Kata Ciel. Sebastian pun mengikuti bocchan-nya.
"Hei, hei! Kau mau kemana? Aku baru saja datang." Timpal Grell
"Kau bisa membantuku, Grell-san. Kau bisa menjaga mansion bersama Agni-san dan Bard. Selain itu kau juga bisa membereskan kaca-kaca yang berserakan ini dan membetulkan jendela yang kau tabrak ini." Ujar Sebastian dengan tersenyum manis kepada Grell. Grell pun tampak terpesona dengan senyuman Sebastian.
"Bibi, Souma. Aku pergi dulu" Pamit Ciel pada Souma dan Frances.
Sebastian pun pergi mengikuti Ciel dari belakang.
"O, tentu saja. Eh, hei! Kau mau membiarkanku disini mengerjakan pekerjaanmu? Hei! Dengarkan aku!" Omel Grell. Sebastian terus berjalan tanpa memperdulikan Grell yang terus mengoceh…
~ooo0ooo0ooo~
"Ah, bocchan!" Sapa Meyrin dan Finnian yang sedari tadi terus duduk menunggui Nina yang terbaring.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Ciel.
"Dokter bilang kondisi Nina-san sudah agak membaik. Tapi belum sepenuhnya pulih. Luka di punggungnya sangat parah." Jelas Meyrin
"Tapi masih beruntung Nina-san masih hidup." Sambung Finnian dengan wajah berseri.
"Ya, kita tunggu saja perkembangannya." Ujar Sebastian.
Sementara itu di Mansion…
"Ugkh! Dasar Sebas! Tidak punya perasaan. Teganya dia meninggalkan seorang gadis dengan luka di tubuhnya bersama orang-orang seperti ini." Gumam Grell mengoceh sendirian sambil menyapu serpihan-serpihan kaca yang tercecer di lantai. Agni yang mengawasinya pun geleng-geleng kepala.
"Emang dia seorang wanita?" Bisik Souma pada pelayan setianya. Sebenarnya ia (mungkin) tahu kalau Grell itu laki-laki. Tetapi karena sikapnya yang seperti itu, ia ragu.
"Entahlah. Tetapi dari kelihatannya dia seorang lelaki. Sebastian-san juga pernah bilang begitu." Jawab Agni.
Mendengar itu, Souma langsung bergidik.
"Hei! Bantu aku!" Oceh Grell menunjuki Agni yang sedari tadi berdiri mengamatinya.
"Hei! Sebastian bilang ini pekerjaanmu! Jadi cepat kerjakan!" Tukas Souma.
Grell pun terpaksa menuruti.
Ketika Grell menyapu sembari mengoceh, Agni dan Souma mengamatinya, tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang gadis.
"huuuuu…."
"Siapa itu?" Souma ketakutan. Ia gemetar hampir menangis.
"ha~h, mungkin itu hanya gadis kecil berambut pirang itu." Jawab Grell enteng dengan masih kesal.
"Bu… bukan tau! Suaranya berbeda." Timpal Souma.
Suara tangisan itu semakin lama semakin keras. Tiba-tiba, sesosok bayangan putih berbentuk seorang gadis remaja perlahan-lahan menghampiri ketiga orang itu. Souma sudah semakin gemetar. Begitu pun dengan Agni, walau secara nyata tidak terlihat. Grell masih sibuk menyapu serpihan-serpihan kaca.
Bayangan itu makin dekat…. Makin dekat…. Makin… dekat….
"WAAAAAAAAA…!"
~ooo0ooo0ooo~
Nina mulai siuman. Ketika ia membuka matanya, ia melihat sosok Meyrin dan Finnian yang tersenyum ke arahnya, begitu pun dengan Sebastian, tak terkecuali Ciel, walaupun ia tak menampakkan senyuman.
"Syukurlah kau sudah sadar." Sahut Meyrin
"Kau baik-baik saja kan?" Finnian masih sedikit khawatir. Namun di wajahnya terbersit rasa syukur yang tak terhingga.
"Dimana aku?" Tanya Nina setengah sadar. Terlihat dahinya yang dibalut perban dan luka yang masih belum sembuh menandakan bahwa ia harus tinggal di rumah sakit beberapa hari lagi,
"Anda di rumah sakit." Jawab Sebastian sambil menyunggingkan senyuman manis khasnya.
Nina masih terlihat lesu. Sakit yang dirasakannya masih terus menenmpel. Ia pun menarik napas dalam-dalam, kemudian membuangnya.
"Nina, boleh aku bertanya sesuatu?" Ujar Ciel tiba-tiba. Nina sepertinya tidak keberatan dan kemudian mengangguk perlahan. Ciel pun mengajukan pertanyaannya.
"Apa kau melihat siapa yang membuatmu seperti ini."
Nina menerawang kembali ke belakang. Ciel khawatir dia tidak bisa mengingatnya, sebab petunjuk satu-satunya peristiwa ini hanyalah Nina seorang. Lukisan "The Princess of Ainsworth" pun tidak bisa dijadikan acuan utama peristiwa misterius nan horror di Mansion Phantomhive, meskipun banyak kejadian-kejadian aneh yang berasal dari lukisan itu sendiri.
"Ya, aku masih ingat." Jawabnya
Ciel terkejut. Sebastian pun terperanjat. Meyrin dan Finnian tak terkecuali.
"Orang yang mencoba membunuhku…. Dia…."
Semua menjadi semakin penasaran. Seisi ruangan begitu sunyi, menunggu jawaban Nina.
"Lady Elizabeth…."
TO BE CONTINUED…
