Yo, chapter 4 updated! Entah knp si reader makin bego aja disini *dihajar* Trus tdnya gw mu bikin ini chapter ada bagian penting yg serius, tp kok malah ngaco gini ya. Soalnya gak muat sih, klo itu dimasukin ya, jd panjang bgt cuy. Jd gw potong deh lanjut di chapter berikutnya. sebenernya gw pengen lanjutin ff gw yg laen tp krn ini berpeluang berchapter byk jd mgkn ini yg lebih sering gw update. jadi, CEKIDOT!
Warning : Gaje, abal, OOC akut, typo(s), judulnya gak nyambung.
Pairing : Akashi x Reader x ... ups, (udah mau ketauan)
Rate : T
Genre : Supranatural, friendship, romance (untuk sementara)
Body x Soul
Kuroko no Basuke Milik Fujimaki Tadatoshi-san
Body x Soul adalah khayalan bejad sang author saat banjir
Chapter 4
"Aku tidak tahan lagi. Benar-benar tidak tahan lagi!"
.
.
.
Seorang sosok bersurai merah baru saja memasuki ruang kelasnya dengan penuh kekesalan. Dia menuju tempat duduknya dan menaruh tas dengan sedikit hentakan. Seisi kelas yang melihat kedatangan temannya, yang bisa dibilang baru saja mengalami kecelakaan, hanya diam saja—lebih tepatnya takut—karena ekspresi wajahnya saat memasuki kelas sangat menakutkan.
Plester dan kapas masih menempel erat di dahinya, bahkan tangan kanannya masih terbalut perban. Tetapi orang yang sedang dalam keadaan tidak berdaya seperti itu kenapa bisa terlihat mengerikan?
Tiba-tiba saja seorang gadis bicara padanya,
"Akashi-kun, tempat dudukmu kan disana, bukan disini. Ini tempatnya."
Gadis itu bicara sambil menunjuk bangku yang seharusnya adalah tempat duduk lelaki itu. Lelaki bersurai merah yang masih terlihat kesal itu menjawabnya ketus,
"Kau ini bagaimana Shio-chan, aku kan duduk disini! Itu tempatnya Akashi-kun."
"Heh? Tapi kau kan Akashi-kun… eh?"
"Ah.."
Sepertinya sosok merah itu menyadari sesuatu. Seketika pintu digebrak seseorang—gadis muda yang juga masih mengenakan plester dan kapas di dahinya. Tidak hanya itu, dia terlihat mengeluarkan aura hitam dan memandang tajam lelaki surai merah itu. Oh, mungkin dia mendengarkan obrolan tadi.
Gadis muda itu menghampiri si rambut merah, menarik bajunya dan menyeretnya keluar kelas. Seisi kelas heboh melihat kejadian itu, apalagi anak perempuan. Semua bersorak ria—mendukung pemilihan pilkada besok—bukan, tidak, salah— mendukung gadis muda yang baru saja menyeret orang yang dikenal sebagai raja setan keluar kelas.
Di halaman belakang sekolah,
"Kau mau 'mati' ya?! Kalau segitunya kau ingin 'mati', kau akan ku bunuh sekarang juga!"
Dia mengancam sambil menari-narikan gunting di udara. Dari mana dia dapat gunting itu? Entahlah.
Tatapan Akashi yang sangat dingin dan mengerikan membuatmu merinding. Beberapa hari yang lalu kalian hampir saja mati, jadi tidak mungkin kau mau mengalaminya lagi. Padahal sepertinya ada yang kau lupakan.
"Gomen, Akashi-kun. Aku hanya kesal saja sejak pagi, jadi tidak sadar."
Kau memajukan bibirmu, seperti anak kecil yang sedang ngambek. Akashi semakin menekuk alis.
"Jangan membuat wajah kekanakan seperti itu menggunakan wajahku."
"Gomen."
Oke, diomeli Akashi di pagi hari bukanlah hobimu jadi sebaiknya sudahi saja dan minta maaf.
Lalu, kau teringat alasan kau kesal pagi ini,
"Akashi-kun, kau tidak melihatnya kan? tidak kan? tidak menyentuhnya juga kan? tidak kan? aku tidak bisa tidur semalaman memikirkan itu!"
Ternyata itu sebabnya? Kau menyebur Akashi dengan pertanyaan-pertanyaan. Sekilas, ekpresi wajah Akashi—tidak, wajahmu yang sedang dipakai Akashi—berubah disertai sedikit senyuman nakal. Dia mengerti apa maksudmu.
"Hmm..bagaimana ya? Aku tidak bisa bilang."
"APA? Aku saja tidak berani mandi! Kau malah—"
"Hah? Jadi kau tidak mandi?! Apa yang kau lakukan pada tubuhku!"
"Aku tadi pagi dipaksa mandi oleh Nakano-san. Ta-tapi Akashi-kun kau sungguh tega! AAAAAAAAAAHHHH~"
"Sudah kubilang, jangan teriak seperti perempuan begitu!"
"Tapi, AKU INI PEREMPUAN!"
"IYA! Tapi identitasmu sebagai perempuan ada disini!" Akashi menunjuk dadamu. Ehem, tenang saja, dia hanya menunjuknya.
Seketika terlihat wajah Akashi dibuat memerah oleh dirinya sendiri. Walaupun tentu saja yang sesungguhnya merasakan adalah kau. Kau berusaha tidak berkomentar saking malunya.
"Sudahlah, tidak hanya kau yang sedang kesal, kau pikir aku suka tiba-tiba jadi perempuan? Menyebalkan."
"Hah? Menyebalkan? Enak saja! Laki-laki lebih menyebalkan!"
"Tentu saja menyebalkan! Digoda laki-laki di jalan, saat berjalan harus perhatikan rok—repot sekali dan bahkan saat aku naik bus tadi, cih!"
"Memang ada apa di bus, Akashi-kun?"
"Tadi pagi bus penuh sekali. Tiba-tiba saja ada bapak-bapak mesum dan aku dipegang-pegang. Langsung saja aku botaki dia di tempat dengan gunting ini."
'Pantas saja dia bawa gunting. Jadi untuk pertahanan diri ya?',pikirmu.
"Tuh kan! Laki-laki yang menyebalkan, semua itu terjadi karena laki-laki. Tapi, kok aneh ya? Aku saja tidak pernah digoda di jalan, dimesumin orang juga belum pernah—jangan sampai."
Akashi berdecak keras. Kesal.
"Maksudmu, jangan-jangan saat ini tubuhmu yang ditempati jiwaku jadi menarik perhatian? Jangan bercanda."
"Apa? Jadi kalau aku tidak menarik ya?!"
Sudahlah jangan bertengkar lagi. Ceritanya jadi tidak bisa berlanjut.
Akashi berusaha menenangkan diri, kemudian kembali serius,
"Sudah lupakan. Aku sudah bilang, kita harus hati-hati. Kuasai peran masing-masing, jangan sampai hal seperti itu terjadi lagi. Masalah tadi, aku akan berusaha menjelaskannya pada Shiori-san."
Kau mengangguk setuju.
Kalian kembali ke kelas. Kalian disambut hangat sorakan dan jabat tangan dari berbagai arah sambil diucapkan, "Selamat ya kalian berdua!" Bahkan mereka melupakan wajah Akashi yang mereka bilang seram dan tetap mengucapkan selamat.
Kau dan Akashi hanya memasang wajah kebingungan dengan apa yang terjadi. Dari pada terjadi insiden seperti tadi pagi, kalian memilih diam dan menurut saja. Kini Akashi duduk di bangkumu dan kau duduk di bangku Akashi. Bangku Akashi tepat satu baris dibelakang bangkumu, dan agak disebelah kanan. Posisi duduk seperti itu sekarang membuatmu bisa melihat Akashi dari belakang.
.
.
.
"A-aduh."
Kau merintih kesakitan. Entah kenapa tangan kanan Akashi terasa sakit lagi. Sebenarnya semenjak semalam kau juga merasakan hal yang sama. Apakah luka Akashi separah itu sampai sakit sekali dan harus diperban?
Kau semakin merasakan kesakitan. Apa ini efek jabat tangan massal tadi? Sepertinya tidak. Guru yang sedang mengajar memperhatikan dan menghampirimu. Kemudian dia menyuruhmu ke UKS untuk diperiksa, takut-takut luka hasil kecelakaan itu terbuka dan semakin parah.
Akashi tak melepaskan pandangannya padamu sampai sosokmu menghilang dari kelas. Ekpresi wajahnya kelihatan murung.
.
.
.
Pulang sekolah.
"Apa tanganku baik-baik saja? Apakah sesakit itu?"
"Sekarang sudah tidak sakit, aku sudah minum obat penahan rasa sakit."
"Hmm.."
Ekspresi wajah Akashi yang agak murung membuatmu salah paham.
"Apa? Segitunya kau khawatir pada tubuhmu? Kau takut ada bekas lukanya ya?"
"Ha?"
Kau selalu mengira Akashi adalah orang terlalu fokus pada diri sendiri. Jadi, kau berkesimpulan dia tidak mau tubuhnya kenapa-kenapa sehingga merusak imagenya. Kau saja sering dimarahi jika membuat ekspresi-ekspresi aneh.
Akashi tidak merespon dan malah mengalihkan pembicaraan,
"Sudahlah. Teman setimku sedang menunggu. Kemarin kau sudah email mereka semua kan?"
"Hn.. Hn.." Dua anggukan.
"Ingat, jangan sampai kau melakukan kesalahan. Kalau tidak, ha ha.."
Wajah dengan seringaian khas disertai kuda-kuda gunting melayang sudah terlihat. Kau hanya bisa mengangguk dan menelan ludah. Berdoalah, kau tidak dibunuh olehnya. Jangan buat kata-kata di buku catatannya menjadi nyata.
"E—to, Akashi-kun? Kau ikut juga?"
"Tentu saja. Untuk mengawasimu."
GLEK.
.
.
.
Kau dan Akashi sudah berada di lapangan basket. Disana terlihat manusia-manusia berambut pelangi sedang mengobrol. Kau sudah siap menyapa mereka.
"Hai~ Teman-temaaaan~"
Sapaan macam apa itu? Walau terlihat buruk, itu sukses membuat gerombolan pelangi itu menoleh ke arahmu.
PLAAAK‼
"Aduh!"
Kau merasa ada yang memukulmu. Ternyata Akashi. Dia mendekatkan mulut padamu dan berbisik,
"Dasar bodoh! Aku tidak pernah menyapa mereka dengan nada riang seperti itu. Dan! Kau tidak perlu sok sok merendahkan suara. Suaraku sudah ngebas. Bodoh!"
"O-oh iya ya. Aku ulang saja ya," bisikmu pada Akashi.
Kau dikatai bodoh karena kau memang bodoh, lalu apa Akashi juga tidak bodoh? Padahal dia memukul kepalanya sendiri, mungkin itu akan berefek buruk pada lukanya dan juga imagenya. Baiklah, sepertinya berada di tubuhmu cukup mempengaruhi kondisi kejiwaannya.
Kau kembali memandang rekan setim Akashi yang kini sedang kelihatan kebingungan karena sepertinya baru saja mendengar suara gaib yang tidak bisa mereka percaya. Ditambah lagi, kelakuan kaptennya itu bersama dengan gadis antah berantah yang tak mereka kenal.
"Teman-teman. Sudah lama tidak bertemu."
Kau mencoba untuk meniru seringaian Akashi. Hm, cukup bagus. Cara kau bicara juga tidak buruk, walaupun uji coba pertama gagal. Akashi juga ikut mengangguk setuju dengan caramu.
"Sepertinya berhasil Akashi-kun!" bisikmu.
Akashi kembali mengangguk.
Melihat kaptennya kembali ke karakter, mereka terlihat merasa tenang—entah tenang, entah was was.
"Akashi, kau sudah baik-baik saja nanodayo?"
"Nyam…nyam…"
"Iya, Akashicchi! Kau sudah boleh ke sekolah? Lebih baik kau istirahat beberapa waktu-ssu."
"Padahal kami ingin mengunjungimu di rumah sakit, tapi kau melarang. Kulihat, keadaanmu cukup buruk."
Si rambut biru tua memperhatikan tubuh Akashi dari ujung rambut sampai ujung kaki diikuti oleh si rambut kuning dan hijau. Kau merasa agak risih ditatap di seluruh tubuh. Tenang saja, yang ditatap kan bukan tubuh ratamu tapi tubuh seksi Akashi. Mereka terlihat khawatir melihat kondisi kapten mereka—entah benar, entah tidak.
Kau berusaha mengingat nama mereka. Tadi pagi kau sudah diberi catatan nama mereka berdasarkan warna rambutnya. Kau juga sudah diceritakan tentang karakter bahkan keahlian mereka. Ace, Power Forward, Biru tua—Aomine Daiki. Shooting guard, Oha-Asa freak, Hijau—Midorima Shintarou. Center, si perut karet, Ungu—Murasakibara Atsushi. Small forward, Tukang copas, Kuning—Kise Ryouta. Eh? Kise Ryouta? Kau langsung memandang si rambut kuning blonde itu, memperhatikan wajahnya pekat-pekat.
"KISE RYOUTA?!"
Kau berteriak keras, tentunya sangat tidak Akashi. Hampir saja Akashi akan memukulmu lagi, tapi..
"Hah? Ada apa Akashicchi?"
Kau mendekatinya. Akashi menyernyitkan dahi, bingung. Kau mengeluarkan sesuatu dari tas kemudian menyodorkannya pada Kise.
"Boleh aku minta tanda tanganmu?"
Gubrak!
Kise mengedip-ngedipkan mata kebingungan melihat aksi kapten yang mendadak seperti fansgirlnya. Semua sweatdrop.
Oh, tidak. Akashi menyebarkan aura hitamnya lagi disana. Lagi-lagi dia menyeretmu menjauhi mereka. Mereka makin sweatdrop melihat kaptennya diseret dengan tak elitnya oleh seorang gadis tak dikenal.
"Bodoh, bodoh. Sekarang apalagi yang kau lakukan? Kubilang, kuasai peran kita masing-masing. Kau masih mau hidup atau tidak?!"
"Tapi Akashi-kun! Itu Kise Ryouta! Aku harus minta tanda tangannya!"
"Kenapa? Kau fansnya?"
"Tidak."
Akashi menatapmu kesal.
"Buat adikku di rumah, Akashi-kun! Adikku fansnya Kise-kun!"
Akashi mulai membayangkan adikmu yang berumur 10 tahun itu berteriak-teriak histeris di kamar saat membaca majalah yang terpampang foto Kise dengan pose menggoda. Baiklah, lupakan.
"Hei, kalian berdua baik-baik saja?"
Midorima akhirnya angkat bicara sambil membetulkan kacamatanya yang agak merosot karena peristiwa 'Tanda Tangan dan Seret Akashi'. Sentak, kalian berdua menoleh ke arahnya.
"Baik-baik saja." Akashi menjawabnya kalem.
"Kau ini siapa?", tanya si rambut biru dan berkulit tan bernama Aomine Daiki.
"Teman sekelas Akashi-kun."
"Lalu kenapa kau ada disini?"
"Terserah padaku. Urusanmu apa? Urusi urusanmu sendiri."
Cara menjawabnya mengingatkan Aomine pada seseorang. Pada akhirnya, dia tidak banyak protes lagi. Kau menepuk kening. Sama saja kalau seperti ini. Akashi saja tidak bisa memerankan perannya dengan baik. Sudahlah.
Lalu kau kembali membuka suara,
"Baiklah. Kise Ryouta, Aomine Daiki, Midorima Shintarou dan Mura—"
JLEBB!
Kau merasakan sesuatu lagi. Sedikit 'ketukan' di pinggang yang rasanya sakit sekali. Lagi-lagi diam-diam Akashi yang melakukannya, dia menatapmu dan mendengus. Kau lupa, kalau Akashi memanggil mereka dengan nama kecil mereka. Lagipula, masa iya, panggil mereka pakai nama lengkap? Memangnya absen kelas?
"A-ah—ehem. Baiklah, Ryouta, Daiki, Shintarou dan Atsushi. Dengarkan. Mulai sekarang, aku akan menjadi kapten kalian."
"?!"
Bodoh, Akashi MEMANG kapten mereka! Kini giliran Akashi yang menepuk kening. 'Hancur sudah', pikirnya. Sepertinya tidak ada harapan ini akan berjalan lancar.
"Maaf teman-teman. Aku terlambat. Ah, Akashi-kun, kau sudah kembali ke sekolah? Bagaimana keadaanmu?"
Kau mendengar suara yang sangat kau kenal. Kau menoleh ke arahnya dan mendapati lelaki berambut biru muda, dan berwajah datar disertai aura minim baru saja datang.
"Ku-Kuroko-kun.."
"? Hai?" Kuroko agak memiringkan kepalanya.
"A-ah, aku sudah baik-baik saja, Tetsuya. Tidak usah khawatir."
Akashi hanya memandangi 'pemandangan langka yang terlihat' antara Kuroko dan 'Dirinya'—yang kini wajahnya sedang MEMERAH MERONA. Dipastikan para fujoshi dan fudanshi sedang berteriak melihat adegan 'Akashi yang mendadak UKE'.
"Itu 'dia', orang yang paling tidak ingin dia perlihatkan sosoknya menjadi raja setan. 'Dia' yang kau pertanyakan. 'Dia' yang disukai olehnya."
Akashi menoleh cepat ke arah bisikan suara suatu mahluk bersayap putih—yang mengenalkan diri sebagai—Shinigami. Shinigami itu tersenyum manis kepadanya. Sejak kapan Shinigami itu ada disana? Entahlah. Akashi terlihat tidak nyaman dengan senyuman itu.
"Berisik."
"AAH!" kau berteriak melihat sosok Shinigami itu tiba-tiba muncul dan sedang bicara dengan Akashi. Di saat yang sama, Shinigami itu dengan senyuman bodohnya melambaikan tangan padamu.
"Ada apa, Akashi-kun?", Kuroko bertanya padamu, heran.
"E—to, Ku—Tetsuya. Ti—", kau melirik si Shinigami yang kini tertarik pada lucky item yang dipegang oleh Midorima, yaitu boneka doraemon, "—Tidak apa-apa kok." Kau meneruskan kata-katamu tetap sambil mengawasi si Shinigami yang kini beralih memandang heran Kise yang sedang galau dengan kertas dan pulpen untuk tanda tangan.
'Sepertinya tidak ada yang bisa melihat Shinigami itu selain aku dan Akashi,' pikirmu. Sejenak sedikit lega.
"Hm? Kau. Doumo. Kenapa kau ada disini? Kau kenal dengan Akashi-kun?"
Kuroko melihat Akashi dan padanya—yang tentu saja ia pikir itu adalah dirimu. Benar, Kuroko Tetsuya kenal denganmu. Akashi hanya menatapnya dalam diam dan datar, tetapi pada akhirnya membuka mulut,
"Aku teman sekelasnya."
"Oh, begitu. Luka itu? Masaka..?" Akashi menyentuh luka di keningmu.
"Iya, aku bersama Akashi-kun saat kecelakaan itu. Aku juga korban."
"Souka. Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?"
"Tidak. Baik-baik saja," Kuroko terlihat lega setelah Akashi mengatakan baik-baik saja. Kemudian Kuroko tersenyum manis padanya.
Pada saat itu, kau melihat wajah tersenyum Kuroko yang seharusnya ditunjukkan padamu. Lagi-lagi kau membuat wajah Akashi memerah. Semua memandangmu heran.
"A-akashicchi? Apa kau benar-benar baik-baik saja?"
Kau tersadar dari mimpi indah yang dipenuhi senyuman lembut Kuroko.
"Hn? Te-tentu aku ba-baik-baik saja," jawabmu terbata-bata.
"Lagipula Akashi, kenapa kau naik bus itu nanodayo? Biasanya kan kau diantar pulang supir." Midorima yang dari tadi hampir terserang penyakit jantung akibat kelakuan aneh kaptennya kini mulai bertanya hal yang juga ingin sekali kau ketahui jawabannya. Karena kau tidak tau, kau hanya melirik Akashi yang sedang bicara dengan Kuroko dan mengatakan hal yang sama seperti waktu sebelum kau dan Akashi naik bus itu.
"Mobilku mogok. Aku terpaksa naik bus."
"Kalau begitu naik saja taksi-ssu. Kau kan kaya."
Kau berusaha membuat Kise diam dengan meniru tatapan kejam Akashi. Pernyataan Kise yang polos itu akhirnya hanya dianggap iklan saja. Tiba-tiba kau merasa tangan kanan Akashi sakit lagi.
"A-aduh. Sakit sekali."
"Ada apa Akachin~? Tanganmu sakit?" Murasakibara yang dari tadi sibuk mengunyah tanpa memperdulikan kejadian luar biasa di depan matanya akhirnya bicara disertai Aomine yang sok memberi saran,
"Lebih baik kau istirahat untuk sementara, sepertinya lukamu masih belum sembuh benar."
"Tidak bisa. Aku harus ikut latihan dan mengawasi kalian karena sebentar lagi In—in—in…?" kau menggaruk kepala, lupa dengan lanjutan kalimatmu. Langsung kau berbisik lagi, bertanya pada Akashi yang sudah selesai bicara dengan Kuroko.
"Ano, Akashi-kun. In apa ya? In-in.. itu loh yang pertandingan."
"Inter High." Kau mengangguk ingat dan kembali bicara pada rekan setim Akashi.
"Benar! Sebentar lagi kita akan berpartisipasi dalam Inter High, jadi latihan harus diperketat. Aku akan mengawasi latihan kalian."
GLEK.
Semua menelan ludah. Sudah dipastikan latihan menuju Inter High akan terasa seperti neraka jika kapten mereka ada.
"Eh~ kenapa aku dari tadi dicuekin ya?", tanya Shinigami itu sambil mojok di ujung ruangan. Bodoh sekali, tidak ada yang bisa melihatmu! Kau dan Akashi tidak bisa bicara, nanti orang lain akan curiga.
"Baiklah, teman-teman. Cukup itu untuk hari ini. Aku akan mulai mengawasi kalian besok," semua keliatan lega sejenak walaupun tidak tau apa yang akan terjadi besok.
"—Kalau begitu, aku pulang dulu."
Sebelum pergi, kau sedikit melirik ke arah Kuroko dan hampir saja merona lagi melihat senyumannya, tetapi Akashi sudah menghalangi duluan dengan menarik bajumu.
"Tunggu dulu, Akashicchi. Tanda tangannya bagaimana-ssu?"
"Eh? A-ah, ehem— begini Ryouta. Lain kali saja. Tapi, pastikan kau akan memberikannya padaku."
Kise mengangguk. Akashi kembali mendengus kesal.
.
.
.
Kau pulang sekolah di antar oleh supir Akashi. Bahkan Nakano-san yang khawatir pada Botchannya ikutan menjemputmu. Dari kejauhan, Akashi memperhatikanmu. Tapi, yang paling ia pandang dalam-dalam adalah luka yang terbalut perban tebal di tangan kanan tubuhnya. Wajahnya terlihat sangat menyesal.
"Kalau tau akan begini, waktu itu percuma saja. Pada akhirnya malah kau yang merasakan sakitnya," katanya pelan.
Sesosok mahluk yang sedang mengikutinya diam-diam, lagi-lagi menyeringai.
.
.
.
.
TBC…
Next Chapter Preview
"Kau pintar sekali berakting, Akashi Seijuuro-kun."
"Diam!"
"Aku tau segalanya."
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"
"Semua itu salahmu."
"Takdir tidak bisa dirubah tapi.."
Sip, jadi dah ini chapter. Oke. Ini chapter bego abis. Kapan coba seriusnya? Chapter depan kale. gw pengen cepet2 bagian pentingnya! tapi kok gak nyampe2 yak? arrgh! yaudah ah!
Oiya, mulai chapter ke depan jadi Akashi x Reader x Kuroko. Ditunggu ya~ Reviewnya jangan lupa! please~
