This story belong to Purpleskies, and I just translate it.

Please don't reupload this story!

This is MY BELOVED KAISOO STORY LINE

NOCTURNA SUPPRESSIO

4

Almost Warning Cause 'Something' Inside


Summary :

Do Kyungsoo sangat menyukai tinggal di alam mimpinya. Dia menghabiskan banyak waktu hanya untuk bermimpi, menemukan sebuah kehidupan yang lebih baik dari pada kenyataan.

Tapi apa yang membuat Kyungsoo gagal untuk menyadari bahwa tidak semua mimpi indah akan terjadi seperti apa yang mereka—mimpi itu—tampakkan.

Foreword :

"Apakah kau lelaki yang ada di mimpiku?"

"Wow. Itu adalah hal paling murahan yang pernah aku dengar."


NOCTURNA SUPPRESSIO


*Please read the special note from Me at the end of this story*

Kecelakaan kecil mobil. Itulah apa yang telah terjadi.

Ayah Kyungsoo jatuh tertidur di belakang kemudi ketika beliau sedang di jalan untuk menjemput ibu Kyungsoo dari toko sayur-sayuran. Untungnya, beliau bisa mengendalikan mobil agar tidak menabrak mobil lain, dan membanting setir menuju sisi jalanan yang kosong, lalu menabrak sebuah tiang lampu. Beliau baik-baik saja terlepas dari lengannya yang patah dan beberapa luka dan goresan. Kyungsoo telah melewati dua hari dari kelasnya hanya untuk membantu ibunya merawat sang ayah di rumah sakit.

Itu menjelaskan kenapa ayahnya lalu tidak menjemput ibu Kyungsoo dan kenapa suaranya sedikit serak saat beliau menelepon Kyungsoo hari itu. Kyungsoo pikir kecelakaan itu bisa membuat ibunya sedikit bersimpati. Tapi semua yang mereka lakukan di rumah sakit hanyalah berdebat dan bertengkar, ibunya menyebut ayahnya bodoh di depan beliau dan Kyungsoo hanya bisa duduk di sana lalu mengabaikan teriakan itu.

Pada hari ketiga, Kyungsoo merasa sudah cukup untuk berada di tengah pertengkaran, dan ia keluar untuk mencari pekerjaan agar ia bisa membantu tagihan rumah sakit. Ia tidak peduli pekerjaan apa yang harus ia lakukan, selama ia bisa mendapat bayaran dan sebelum hari berakhir, ia menemukan toko buku kecil tua yang sedang membutuhkan pembantu. Bayarannya tidak begitu banyak tapi Kyungsoo sudah dalam keadaan putus asa.

Malam itu, Kyungsoo menemukan dirinya ada di sebuah padang rumput, mendongak pada langit yang keabuan. Awan yang terlihat berat membuat Kyungsoo berpikir sebentar lagi akan turun hujan dan ia harus cepat menemukan naungan. Tapi ia menyukai di mana ia sekarang, tempat tidak ada siapapun yang berteriak dan tidak ada yang berbicara tentang tagihan dan obat. Ia sendirian dalam kesunyian, hanya itulah yang ia inginkan.

Sebuah wajah mengisi pandangannya dan Kyungsoo memundurkan ke belakang karena kaget dan ia memberengut seiring kekehan Kai terdengar. Sudah lama sejak Kyungsoo melihat lelaki tinggi dengan senyum sempurna dan kulit gelap ini, dan Kyungsoo memaafkan Kai karena telah menakutinya sambil Kai duduk dengan kaki menyilang di tempat kosong sebelahnya. Lagipula, Kyungsoo merindukannya.

Mereka duduk di sana, memandang pada awan seiring sebuah kilatan muncul, lalu berangsur pergi.

"Mimpimu jadi bisa diperkirakan." Kai berkata padanya. "Langit yang mendung… Gemuruh di kejauhan… Hujan…"

Kyungsoo menghela napas sambil ia menatap ke tanah. "Sudah kubilang aku membosankan."

Mereka duduk di sana dalam diam lagi, diam yang anehnya Kyungsoo merasa nyaman, ketika Kai tiba-tiba berdiri dan menarik kedua tangan Kyungsoo yang sebelumnya tangan itu melingkari lututnya. Kyungsoo, terkejut, mendongak ke arah Kai ketika lelaki itu tersenyum.

"Ayo."

Kyungsoo melihatnya dengan bingung. "Apa?"

"Ayo." Kai menarik Kyungsoo agar ia berdiri dan Kyungsoo mengikutinya.

"Kita mau pergi ke mana?" Kyungsoo bertanya dan Kai hanya tersenyum.

"Tempat yang ingin kau datangi waktu yang lalu."

Kyungsoo mencoba untuk mengingat apa yang ia katakan pada Kai terakhir kali mereka bertemu tapi ia tidak bisa mengingatnya.

"Di mana—"

"Kita pergi ke Paris."

Kyungsoo tidak punya waktu untuk menyiapkan dirinya seiring rumput tempat ia berdiri mulai berangsur pergi. Langit mendung yang ia pandangi awal tadi mulai berputar dan bercampur dengan warna ungu dan biru yang damai. Mereka tidak bergerak se-inci pun tapi semuanya telah bergeser, Kyungsoo merasa mereka hanya berjalan ke arah sesuatu. Bagaimanapun ia mengetahui sesuatu yang tidak dapat dimilikinya begitu kaki mereka menapaki tanah.

Seiring putarannya berhenti, Kyungsoo mendongak. Ia menahan napas ketika menyadari dirinya tengah menatap ke arah Menara Eiffel dengan cahaya di sekeliling Kyungsoo, di bawah matahari terbenam yang indah.

"Oke, jadi pintu masuknya lewat sini—"

Kyungsoo tidak membiarkan Kai menyelesaikan kalimatnya lalu menarik Kai melewati jalan ke bangunan yang sangat besar itu. Terakhir kali mereka ke sini, Kai membuatnya menghilang begitu cepat dan Kyungsoo tidak membiarkan Kai melakukan itu lagi. Terkikih seperti anak kecil, ia mengeratkan pegangannya pada Kai seiring mereka berjalan ke lift. Ia telah membaca banyak sekali buku dan melihat banyak sekali gambar untuk tahu jalanan di sini, berapa lantai bangunan ini, dan ia mendengar Kai tertawa di belakangnya seraya menarik tangan Kyungsoo.

"Pelan-pelan, Kyungsoo, kita memiliki seluruh waktu di dunia ini."

Kyungsoo menoleh ke arahnya dan mengerutkan dahi. "Tidak, kita tidak bisa pelan-pelan. Aku bisa bangun kapan saja."

Tanpa menunggu jawaban, Kyungsoo menekan tombol yang akan mengantarkan mereka ke lantai paling atas dan mengamati dengan diam sambil senyum lebar terpampang di wajahnya ketika ia menatap pemandangan indah Paris yang ada di bawahnya.

"Aku tidak percaya aku di sini." Kyungsoo bernapas, memandang pada semuanya. "Ini semua indah."

Kai mengangguk. "Tunggu sampai kau berada di atas."

Mereka tiba-tiba mencapainya setelah beberapa detik—Kyungsoo heran kenapa di mimpinya waktu tetap terasa sama tapi ia melupakan semua itu saat mereka sampai—dan Kai telah berpegangan pada Kyungsoo sekarang saat ia melihat pemandangan di bawah.

Selalu ada sesuatu tentang Menara Eiffel yang menyita perhatian Kyungsoo. Mungkin itu karena strukturnya dan bagaimana semuanya telah dibangun. Atau mungkin tentang sejarah di belakangnya. Tapi Kyungsoo selalu ingin melihat ini dengan matanya sendiri dan sekarang karena ia di sini, semua yang bisa ia lakukan adalah berdiri dan menerima semuanya.

"Kau tidak berpikir untuk lompat lagi, kan?" Kai bertanya dan Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

"Apa kau bercanda? Apa aku terlihat seperti aku ingin bangun sekarang juga?" Kyungsoo bertanya dan ia melihat Kai tampak lega.

Kyungsoo merasa ia adalah orang paling beruntung di dunia pada saat itu. Untuk bisa melihat semua ini, untuk bisa mengunjungi satu tempat yang lama ia impikan. Yah, ia pikir, inilah mimpi. Tapi ini semua masih terasa sangat nyata dan bagaimanapun juga ia menikmatinya. Ia lebih baik seperti ini daripada menghadapi kenyataan aslinya.

"Aku harap aku bisa memfotonya." Kyungsoo menghela napas. "Aku harap saat aku bangun, semua ini dapat menjadi nyata."

Kai hanya berdiri terdiam di sisinya, membiarkan Kyungsoo untuk menikmati pemandangan.

Saat langit sudah berganti jadi gelap, bintang-bintang menghiasi langit malam, Kai menyentuh Kyungsoo dari sebelahnya, berkata padanya mereka harus pergi.

"Kenapa?" Kyungsoo mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak merasa aku sudah bangun."

Kai tertawa kecil. "Kita bisa datang lain waktu. Aku sedang berpikir untuk membawamu ke suatu tempat di mana kita bisa bersenang-senang."

Kyungsoo menaikkan matanya pada Kai. "Di mana?"

Kai hanya menjawabnya dengan seringai misterius dan memegang tangannya sekali lagi seiring ia membawa Kyungsoo ke lift.

"Kai, kau mau membawaku ke mana—"

"Ikut aku saja." Kai berkata seraya mereka memasuki lift. Memencet tombol lantai paling bawah, Kyungsoo menunggu dengan penuh minat untuk mereka sampai di sana. Tapi saat pintu terbuka, bukan lantai bawah Eiffel Tower yang dilihatnya, tapi tempat indah yang dipenuhi dengan orang-orang yang berpakaian mahal dari kepala hingga kaki.

"Di mana…" Kyungsoo melihat sekeliling dengan tidak percaya. Lantai yang berkarpet, mebel yang kelihatan mewah, lukisan besar dan tempat lilin yang luar biasa… Kyungsoo heran di mana mereka berada.

"Kai, kita di mana—" Kyungsoo terdiam saat matanya terarah ke Kai. Pakaian yang biasa ia gunakan lenyap, dan Kyungsoo tiba-tiba bersyukur Kai terlihat berwarna. Lelaki di depannya telah memakai setelan hitam, sepatunya mengkilap, dan rambutnya bergaya sempurna. Kyungsoo tidak pernah melihat Kai seperti ini dan ia tanpa malu menyapu pandangannya turun menelusuri tubuh Kai, melihat bagaimana tampaknya ia.

"Kau terlihat sangat bagus juga." Kai memberinya seringai seperti biasa dan Kyungsoo memandang dirinya sendiri dan apa yang ia kenakan. Ia memakai setelan rapi yang ketat dan ia tidak punya waktu untuk bertanya pada Kai apa yang terjadi saat ia merasakan tangan Kai mengelilingi bahunya sembari membawanya ke dalam.

Mereka ada di suatu istana yang Kyungsoo rasa sebelum ini ia telah melihatnya tapi ia tak dapat benar-benar yakin di mana. Wanita-wanita memakai gaun panjang berkilau dan para pria memakai setelan. Kyungsoo berjalan terhuyung dengan Kai di sisinya dan mereka berjalan cepat melewati keramaian.

Lukisan di dinding menarik perhatian Kyungsoo dan ia terhenti.

"Kyungsoo—" Kai merengek di sebelahnya tapi Kyungsoo mengabaikannya karena ia memikirkan lukisan ini. Tempat ini… Ia telah melihat tempat ini sebelumnya.

Kyungsoo membiarkan matanya berpindah ke tanda yang ada di sebelah lukisan itu.

"Monte… Monte Carlo…" Kyungsoo mengejanya lalu ia menahan napas seiring ia menyadari di mana mereka berada. Mereka bukan berada di istana. "Kita ada di kasino?"

Kai mendiamkannya dan menarik Kyungsoo ke meja panjang di mana orang-orang sedang bermain permainan rolet. Kai menarik satu kursi dan mendorong Kyungsoo ke sisinya seiring tangannya memberi dealer uang yang jumlahnya sangat banyak.

"Darimana kau mendapatkan itu?!" Kyungsoo berseru. Ia masih tidak paham bagaimana mereka berakhir di sini dan ia hanya melihat Kai mengambil gulungan tebal uang dari sakunya, jumlah yang Kyungsoo tahu mustahil untuk dibawa-bawa sejak mereka bertemu di—di mana sebenarnya mereka bertemu? Kyungsoo tidak bisa mengingatnya dan saat ia ingin bertanya, Kai mencondongkan wajah ke arahnya dan Kyungsoo menelan ludah saat ia menatap mata Kai yang begitu dekat.

"Maukah kau berhenti berteriak dan bermain saja denganku?" Kai berkata dan Kyungsoo hanya mengangguk, menatap Kai yang menaruh taruhannya.

Kyungsoo menatap dalam diam pada awalan, tangannya bergetar ketika Kai memulai permainan. Ia tidak pernah ke kasino sebelumnya tapi ia mengetahui tempat ini dari buku. Dan ia tidak pernah bermain rolet. Tapi Kai tampaknya sangat berpengalaman dan hanya dalam tiga ronde, Kai telah banyak menang.

"Tenanglah," Kai berbisik di telinganya tiba-tiba, membuat Kyungsoo melonjak di tempat duduknya. Kai menyadari tangan Kyungsoo gemetar dan ia memegangnya, mengelusnya di bagian punggung tangan. Kyungsoo menyukai sentuhan Kai dan ia menjadi tenang dengan apa yang ia lakukan.

Pada ronde kelima, Kai memenangkan jutaan dolar dan Kai menukarkan kepingan-kepingannya dengan uang. Kyungsoo tertawa ketika Kai melemparkan uang itu ke udara dan memandangnya ketika uang itu jatuh ke wajahnya. Kemudian ia membiarkan Kai mengambil untuknya, satu persatu.

"Akhirnya, sebuah senyuman."

Kyungsoo menatapnya. "Akhirnya? Aku sudah tersenyum sejak kau membawaku ke Menara Eiffel."

Lelaki itu meringis ke arahnya. "Biarkan aku mengambil alkohol untukmu,"

"Aku tidak minum alkohol." Kyungsoo berkata padanya seiring Kai menariknya menjauh dari meja. "Dan berapa umurmu? Tidakkah kau terlalu muda untuk minum alkohol?"

Kai tidak menjawab seraya ia memimpin Kyungsoo berjalan kedua pintu yang besar dan ia membalikkan tubuhnya dengan seringai nakal di wajahnya.

"Siap?" Ia bertanya dan Kyungsoo memandangnya.

"Siap untuk apa?"

Kai mendorong pintu itu agar terbuka dan Kyungsoo tiba-tiba berada di dalam pelukan seorang wanita yang memakai baju terbuka dan dandanan tebal. Musik berdentum keras di telinganya dan suara tawa genit wanita meliputi dirinya yang lalu memberikan kecupan ringan di wajahnya.

Sinarnya tidak begitu terang tapi warna-warna di sekeliling tempat itu rasanya membutakan Kyungsoo. Tangan-tangan mulai menjelajahi tubuh dan wajahnya dan ia menghindar dari mereka. Ia mencengkram tangan yang dipegangnya saat ia menyadari hal itu telah hilang.

"Ap—Kai!" Kyungsoo berteriak di antara keramaian, mencari Kai ketika ia melihat lelaki itu menertawakan dirinya persis di dekatnya sebelum menarik Kyungsoo yang sedang kebingungan ke sisinya. Ada bekas lipstik di pipi Kai dan ia mengusapnya agar hilang.

"Maaf tentang itu." Kai berkata, membawanya ke satu meja. "Aku seharusnya mengatakan padamu apa yang akan terjadi ketika kau memasuki Moulin Rouge."

"Memasuki apa?" Kyungsoo bertanya seiring ia duduk di sebelah Kai. Tapi pertanyaannya terabaikan saat Kai mulai melambaikan tangan ke seseorang untuk memesan minuman.

"Ini untukmu." Kai menawarkan Kyungsoo minuman berwarna biru dan Kyungsoo melirik minuman itu.

"Apa ini?"

Kai mengangkat bahu dan ia mengambil minuman yang berwarna merah. "Aku tidak tahu. Tapi minumlah itu. Rasanya enak. Bersulang!"

Kyungsoo membenturkan gelasnya dengan gelas Kai dan kepalanya ia kulaikan ke belakang setelah ia menyelesaikannya dalam satu teguk. Minuman itu tidak terasa apa-apa dan Kyungsoo menatap Kai saat lelaki itu menghabiskan miliknya sendiri.

"Enak?" Kai bertanya saat Kyungsoo meletakkan gelasnya kembali di atas meja.

"Aku tidak dapat merasakan apapun." Kyungsoo menjawab dan Kai melambaikan tangannya untuk memesan lagi.

"Huh… Mungkin itu hanya berlaku untukku." Kai berkata seperti ia berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian ia memberi Kyungsoo minuman lain dan tersenyum. "Tapi minumlah itu."

"Aku baik—"

"Bersulang!"

Kyungsoo memutar matanya ketika gelasnya berbenturan dengan gelas Kai dan mereka menghabiskannya dalam satu teguk lagi.

Kyungsoo menyadari tempat itu sedikit kuat untuk menyukainya. Warna-warnanya terlalu ramai tapi tempat itu temaram. Terlalu banyak merah dan hitam dan musiknya terlalu keras. Tapi ketika ia menatap ke arah Kai yang berada di tengah-tengah semua ini, ia terdiam di kursinya dan berpikir mungkin ia butuh tenang dan menikmati suasana yang berbeda ini.

Mereka agak mabuk dalam menit-menit berikutnya. Atau mabuk. Kyungsoo tidak bisa berkata kapan sebenarnya ia merasa kepalanya sedikit ringan karena bahkan sebelumnya ia tak bisa merasakan apapun. Ia berpikir apakah itu mungkin. Untuk dapat mabuk di mimpimu.

Kyungsoo mencoba untuk menjauhkan pikiran itu dan mengingatkan dirinya lagi kalau ia harus berhenti menganalisis semuanya. Ia sedang tertidur. Ia sedang bermimpi.

Kai mengambil minuman lain dan Kyungsoo memandangnya, rambutnya yang dibentuk sempurna sekarang berantakan. Wajahnya terlihat kemerahan dan Kyungsoo menyadari warna itu memikat. Dasinya tidak melingkar ketat di lehernya tapi longgar dan Kyungsoo meliriknya karena bagaimana lehernya bisa begitu panjang dan bagaimana bibirnya terlihat penuh, lidahnya terjulur keluar hanya untuk menjilat alkohol yang mungkin masih ada di mulutnya.

"Bosan?"

Kyungsoo berkedip ke arahnya dan menggelengkan kepala, berharap Kai tidak menyadari bagaimana lirikan Kyungsoo ke arahnya.

"Aku—aku baik-baik saja." Kyungsoo berdeham dan menelan sisa terakhir minumannya sendiri.

Kai terkekeh dan memutar-mutar gelasnya di atas meja. "Baguslah kalau begitu."

Kyungsoo melirik ke arah meja dan menyadari berapa banyak minuman yang telah mereka habiskan.

"Berapa umurmu?" Kyungsoo berkata dan Kai menatapnya balik. Kyungsoo menyadari agak susah untuk menatap langsung pada dua mata itu dan ia malah mengalihkan pandangannya ke atas meja. "Maksudku, bagaimana jika seseorang menemukanmu sedang minum di sekitar sini."

Kai menyeringai. "Dan siapa yang akan menemukanku? Kita ada di alam mimpi, Kyungsoo."

Kyungsoo menatapnya.

"Di alam mimpi," Bola mata Kai dipenuhi kegembiraan saat Kyungsoo bertatapan dengan matanya. "Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan."

Apapun yang kuinginkan… Kyungsoo kembali bersandar, menenangkan.

"Jadi apalagi yang bisa kita lakukan?" Kyungsoo berkata dan Kai memandang terkejut ke arahnya.

"Kau masih mau lagi?"

Kyungsoo menatapnya malu-malu. "Yah, ini sesuatu yang menyenangkan tapi…"

"Tapi?" Kai memandang sekeliling lalu matanya kembali lagi menatap Kyungsoo. "Kau sudah pergi untuk melihat Menara Eiffel, pergi berjudi di kasino yang paling terkenal di dunia dan sekarang kita ada di kabaret paling populer di Prancis. Apalagi yang kau inginkan—oh, tunggu." Kai mengangkat jari lalu menunjuk ke arahnya dan tersenyum. "Kupikir aku tahu apa yang kau inginkan."

Kyungsoo baru saja mau berkata ia lebih memilih Menara Eiffel ketika Kai menjentikkan jarinya dan dua gadis yang sangat seksi datang ke arah mereka dengan lingerie ketat lalu duduk di sebelah kursi yang mereka duduki.

"Uh, Kai?" Kyungsoo merasa kaku saat gadis di sebelahnya mulai duduk di pangkuannya dan membelai pipinya. Kyungsoo memberikan gadis itu sebuah senyum yang sangat canggung dan menatap Kai yang duduk di sebrangnya sambil tersenyum dengan gadis lainnya yang menggerakkan tangannya turun ke dada Kai dengan centil.

"Inikah yang kau inginkan?" Kai berkata, lalu menaruh lengannya pada gadis di sebelahnya dan menariknya mendekat saat gadis yang ada di pangkuan Kyungsoo mulai menggerakkan tangan di rambutnya.

"Ini?" Kyungsoo berkata sambil bertanya-tanya apa yang membuat Kai berpikir ia menginginkan ini. "Oh tidak tidak, aku tidak menginginkan ini. Aku—"

Gadis itu mulai menggigit telinga Kyungsoo dan ia menahan napas, menekan matanya agar tertutup. Ia mendengar gadis itu tertawa centil dan ia berharap mimpi ini adalah satu di antara mimpi-mimpi yang semuanya ada di warna hitam dan putih karena ia bersumpah pipinya sedang berwarna merah memalukan. Ia tidak pernah mempunyai kekasih atau seseorang untuk melakukan hal ini dan ia tidak tahu bagaimana memberi reaksi. Apakah ia memegang gadis ini? Di mana? Apakah ia pernah berkata jika apa yang gadis ini lakukan agak tidak senonoh? Siapa nama gadis ini? Bahasa apa yang ia gunakan?

Kyungsoo merasa gadis ini menyelipkan tangannya di paha Kyungsoo dan Kyungsoo menghirup udara di napasnya seiring ia melihat ke arah lain.

Kai sialan, Kyungsoo mengutuk di pikirannya dan ia memandang ingin tahu apakah Kai menertawainya ketika ia melihatnya mencium perempuan itu yang sedang bergelayut di lengannya. Kyungsoo melihatnya menyelipkan tangan di paha gadis itu dan mengangkatnya ke pangkuannya. Gadis itu memekik di antara ciuman mereka dan mengigit bibir bawah Kai, tangannya mulai melepas kancing teratas setelan Kai.

Kyungsoo melihat semua ini, dadanya tiba-tiba terasa seberat satu ton. Ia melihat bagaimana jemari ramping Kai berputar pada ikat pinggang di lingerie milik gadis itu. Ia melihat bagaimana jemari itu meluncur naik dan turun pada lengan gadis itu dan bagaimana bibir Kai menjadi mengkilap dan sangat kemerahan. Ia melihat bagaimana Kai memberi gadis itu seringai yang sama, seringai yang juga membuat Kyungsoo menjadi sangat berdebar dan—

Kai menoleh untuk melihat ke arahnya dan Kyungsoo menyadari ia tengah menatap bola mata gelapnya yang teduh.

Ia tidak yakin ini karena cahaya lampu yang temaram atau bahkan karena alkohol tapi ia menemukan dirinya berpikir bagaimana rasanya jika Kai menciumnya dan bukannya mencium gadis-gadis ini. Bagaimana rasanya jika tangan Kai membelai sisi tubuhnya, menyeret jemari panjang itu naik dan turun. Bagaimana bibirnya akan menyentuh bibir Kyungsoo dan bagaimana rasanya ia.

Kyungsoo tidak menatap ke arah lain ketika ia menyadari ia tidak ingin gadis-gadis ini.

Ia ingin Kai.

Kai menatap ke arahnya dengan senyum jahat yang tampan dan Kyungsoo merasakan hatinya berbenturan dengan dadanya.

Ia melihat Kai membisikkan sesuatu pada telinga si gadis tanpa melepaskan pandangannya ke arah Kyungsoo. Gadis itu mengangguk, tertawa centil lagi sembari ia melepaskan tangan Kai darinya dan berdiri untuk membawa gadis yang duduk di pangkuan Kyungsoo pergi. Gadis itu memberi Kyungsoo kerlingan dan melambai lalu mereka berjalan menjauh dan sebelum Kyungsoo dapat bertanya apa yang Kai katakan pada mereka, Kai mendekat dan menarik dasi Kyungsoo ke arahnya.

Melihat Kai sedekat ini membuat paru-parunya berhenti bekerja dan Kyungsoo tak dapat melakukan apapun kecuali memandang pada bibir menggoda itu. Ia melihat bibir itu berubah menjadi senyum yang menampakkan gigi seputih mutiara dan Kai mendekat menyandarkan tubuhnya.

"Aku tidak gay." Kyungsoo buru-buru berkata, bahkan tidak mengerti kenapa ia mengatakan itu atau kenapa ia merasa ia harus mengatakan itu. "Maksudku, aku bukan—"

"Aku tidak begitu peduli." Kai berkata, suara berat dan sensual dan Kyungsoo tidak punya waktu untuk mempersiapkan dirinya ketika Kai menariknya mendekat, menciumnya.

Ketika ia merasakan bibir Kai di bibirnya, ketika ia merasakan bagaimana lembut dan tebalnya bibir itu, ketika ia merasa ia balas mencium Kai, tempat itu mulai memudar dan Kyungsoo merasakan dirinya bernapas. Membuka matanya, ia melihat dirinya berada di sofa ruangan ayahya di rumah sakit, ayahnya tengah tertidur di kasur sementara ia dapat mendengar suara ibunya di luar yang sedang berbicara dengan dokter.

Kyungsoo mencengkram dadanya saat ia bernapas dalam-dalam, merelakan hatinya untuk tenang. Ia menangkap bayangannya pada kaca yang berada di seberang dan ia melihat dirinya tampak kemerahan. Ia tak mengenakan tuksedo lagi tapi bajunya seperti biasa dan Kai…

Kyungsoo perlahan menyentuh bibirnya di mana Kai menciumnya. Itu terasa sangat nyata.

Tidak, Kyungsoo menggelengkan kepalanya saat mengumpulkan kesadaran. Itu hanyalah mimpi. Hanya mimpi.

Tapi Kyungsoo tak bisa melakukan apapun tapi hanya berpikir lagi bagaimana itu terasa sangat nyata dan ia bersandar kembali di sofa dan berpikir apa-apaan tadi.


NOCTURNA SUPPRESSIO


Kyungsoo kembali ke kelasnya saat hari kelima, dan ia mencoba untuk tidak memikirkan mata kuliah yang ia telah tinggalkan. Topik yang berbeda, teori-teori, persamaan-persamaan… Tapi bahkan jika sebanyak apapun sesuatu yang harus ia lakukan, sebanyak apapun barang yang harus ia resahkan, ia masih menemukan dirinya berpikir tentang yang terakhir kali ia impikan. Mimpi di mana Kai menciumnya.

Ia tidak bermimpi selama beberapa waktu dan itu membuat Kyungsoo merasa ringan tapi juga gelisah. Satu sisi, ia merasa tidak yakin apa yang akan ia katakan jika bertemu Kai tapi di sisi lain, ia ingin tahu apa yang membuat Kai melakukan itu. Ia ingin tahu apa yang Kai pikirkan tentang hal itu.

Itu karena alkohol, Kyungsoo terus berkata pada dirinya lagi dan lagi ketika ia sampai di dorm. Itu karena alkohol.

Kyungsoo melihat Baekhyun yang sedang siap-siap untuk kelasnya saat ia masuk dan Baekhyun bertanya pada Kyungsoo bagaimana kabarnya.

"Aku baik-baik saja." Kyungsoo menjawab, memberikan senyum kecil. "Apa saja yang kulewatkan?"

"Banyak." Baekhyun berkata lalu memberikan Kyungsoo satu ikat catatan lalu Kyungsoo berterimakasih. "Dan kita punya deadline tugas. Hari ini."

Kyungsoo menatapnya. "Hari ini?"

Baekhyun mengangguk. "Batas waktunya sampai jam enam."

Kyungsoo mengerang, menutup wajahnya dengan notesnya lalu Baekhyun mengguncangnya.

"Aku sudah tahu kau belum menyiapkan diri jadi dengar," Baekhyun memajukan tubuhnya. "Ada seseorang di kampus yang bisa mengerjakan laporan penelitian untukmu."

Kyungsoo menatapnya dengan wajah datar.

"Tidak. Aku tidak melakukan itu Baekhyun."

Baekhyun mengangguk-angguk. "Aku tahu, aku tahu. Dan aku tidak akan menyarankanmu melakukan hal ini jika kau tidak melewatkan banyak sekali mata kuliah kita."

Kyungsoo berpikir tentang ini lalu Baekhyun melanjutkan.

"Namanya Luhan. Ia senior dan ia hebat. Semua tugas yang ia kerjakan selalu berakhir dengan nilai yang bagus."

Kyungsoo mempertimbangkan pilihan ini tapi ia menyadari jika ia tak punya cukup pertimbangan pada pilihan pertamanya. Dan ia tidak punya apapun untuk kehilangan kecuali untu tertangkap meskipun itu tidak mungkin. Ia telah belajar banyak dari sekarang untuk tahu banyak siswa di sekeliling mereka yang melakukan hal ini setiap waktu.

"Baiklah." Kyungsoo berkata. "Siapa namanya tadi?"

"Luhan." Baekhyun menjawab. "Ada harga untuk pekerjaannya omong-omong."

Kyungsoo menghela napas. "Aku sudah mengira."

"Dan ia akan menjadi sedikit aneh."

Kyungsoo tertawa pelan karena ia bahkan tidak peduli tentang itu. Dia sudah mempunyai keanehan sendiri; ada dalam bentuk seorang yang bernama Kai, dan tidak memedulikan kata-kata Baekhyun. "Yeah, oke. Thanks!"

Kyungsoo buru-buru keluar untuk mencari Luhan ketika untungnya, seorang siswa yang ia tanyai di perpustakaan mengenali Luhan. Ia terbilang kecil untuk seorang senior, mempunyai rambut berwarna coklat terang dan wajah yang cantik dan Kyungsoo berlari-lari kecil untuk menghampirinya.

"Halo, aku minta maaf mengganggumu tapi kau Luhan, benar?" Kyungsoo bertanya dan Luhan mengangguk seraya melanjutkan tulisannya pada tentang sesuatu.

"Teman sekamarku berkata kau membuat laporan penelitian dan aku benar-benar butuh bantuanmu."

"Kelas siapa?" Luhan bertanya, membuka lembaran notesnya lagi.

"Lee. Ekonomi."

Luhan menyeringai. "Oh beliau. Yeah aku akan mengerjakannya."

"Terimakasih." Kyungsoo menghela napas lega. "Bisa aku tahu berapa harga untuk yang pertama ini?"

Luhan mengibas tangan ke arahnya. "Jangan khawatir tentang yang satu ini."

Kyungsoo menatapnya dengan mata membulat. "Apa kau serius? Karena topik beliau begitu berat dan—"

"Aku masih tidak terima karena beliau membuatku harus mengulang dalam salah satu testnya hanya karena aku menjelaskan suatu teori yang rumit padanya, jadi yeah, serahkan ini padaku."

Kyungsoo menyadari ia sangat menyukai Luhan dan ia tersenyum. "Terimakasih."

Luhan mengangguk lagi. "Kau bisa mengambil tugasmu pada jam lima sore ini dan—"

Luhan menatap ke arahnya dan berhenti saat Kyungsoo bertatapan dengannya pertama kali.

"Dan?" Kyungsoo bertanya ketika Luhan mulai menatapnya dengan pandangan aneh. Seperti Luhan sedang mempelajari dirinya dan Kyungsoo berpikir jika ia mempunyai sesuatu di wajahnya.

Ia akan menjadi sedikit aneh, kata-kata Baekhyun mengambang di telinganya. Abaikan itu. Kyungsoo berpikir. Ia membantumu dengan tugasmu.

"Dan?" Kyungsoo bertanya lagi dan Luhan berkedip lalu mengalihkan pandangan.

"Dan aku akan berada di sini." Luhan berkata, suaranya sedikit pelan dari sebelumnya dan Kyungsoo memajukan tubuhnya untuk bisa mendengarnya. "Aku akan berada di sini di perpustakaan dengan tugasmu."

"Terimakasih banyak." Kyungsoo tersenyum dan Luhan hanya memandangnya dengan pandangan aneh lagi sebelum Kyungsoo buru-buru keluar dari perpustakaan untuk pergi bekerja.


NOCTURNA SUPPRESSIO


Kyungsoo mendapati bekerja di toko buku sedikit lebih baik daripada bekerja di toko roti. Ia tidak punya piring untuk dicuci dan saat ia menjatuhkan satu atau dua buku, mereka tidak pecah. Kyungsoo sedang berada di tengah-tengah pekerjaannya memisahkan tumpukan buku menurut urutan huruf ketika tiba-tiba Kai berada di sisinya, sedang bersandar di salah satu rak.

Kyungsoo menjatuhkan buku yang ia bawa dalam kekagetan dan Kai mengambilnya lalu mengembalikannya pada Kyungsoo.

Apakah ia ingat? Kyungsoo terdiam, mencoba berpikir tentang saat terakhir.

Ia tidak terlihat seperti ia mengingat apa yang terjadi. Ciuman itu. Kyungsoo tidak mengerti kenapa itu sangat mengganggunya ketika ia benar-benar teringat bahwa ia menginginkan hal itu terjadi juga. Ia mengingat dengan jelas saat ia menatap Kai dan berpikir bagaimana ia ingin mencium Kai. Dan sekarang ia di sini, berharap semuanya kembali.

Ia menggelengkan kepala dan dengan hati-hati mengambil buku itu kembali dengan mengucapkan "Terimakasih." pelan, menjaga supaya ia tidak menyentuh Kai lalu ia mendengar Kai tertawa.

"Kau tidak perlu merasa canggung bersamaku."

Oh tidak, Kyungsoo berpikir jika menjadi seorang dream walker bisa membuat Kai membaca pikirannya saat matanya melebar.

"Kau bisa… Kau bisa membaca pikiran juga?"

Kai tertawa lagi. "Tidak."

Kyungsoo merasa lega.

"Tapi aku tidak perlu menjadi pembaca pikiran untuk tahu apa yang kau rasakan. Wajahmu mengatakan semuanya."

Ia melakukan hal ini lagi. Sebenarnya itu sedikit menyentuh saat seseorang tahu apa yang kau rasakan. Dan Kyungsoo tak pernah punya seseorang yang benar-benar mengetahuinya. Bahkan kedua orang tuanya tidak. Tapi dari semua orang, sepertinya Kai menjadi seorang yang paling dekat yang memahami dirinya dan bisa membaca dirinya. Tapi sekali lagi, kenapa orang itu harus Kai? Bahkan ia tidak nyata!

Kyungsoo berkedip padanya beberapa kali sebelum mengalihkan pandangannya untuk memisahkan lebih banyak buku. Ia harap Kai tidak membawa-bawa tentang ciuman itu bahkan ketika ia sendiri tidak mengerti bagaimana hal itu terjadi.

Kyungsoo merasa Kai berkeliling di antara rak-rak dan melihat-lihat dengan tangan di sakunya dan Kyungsoo mencoba berkonsentrasi dengan apa yang ia lakukan. Ensiklopedia di bagian ini, kesastraan di sini…

"Apa yang kau lakukan di perpustakaan?" tanya Kai.

"Ini toko buku."

"Sama saja."

Kyungsoo memutar bola matanya lalu ia menumpuk lebih banyak buku.

"Apa yang kau lakukan di sini omong-omong?" Kyungsoo bertanya. "Aku sedang bekerja."

"Secara teknik, kau sedang tidur." Kai berpendapat seraya tertawa pelan dan Kyungsoo menatap tajam padanya. Kai benar.

Kyungsoo berjalan dan menumpuk lebih banyak buku tetap, mengabaikan Kai dan mencoba semampunya agar tidak bicara pada Kai kalau-kalau mereka mulai membicarakan tentang ciuman itu.

Kyungsoo membenci ciuman itu. Hal itu yang terus dipikirkannya pada hari-hari ini. Saat itu ia sedang mabuk. Mereka berdua sedang mabuk. Meskipun ciuman itu ada di mimpinya berarti hal ini tidak bisa dihitung sebagai ciuman secara nyata, benar?

Dan Kai. Kyungsoo menyelinap mengintipnya dan melihat Kai sedang membolak-balik buku. Ia benci bagaimana Kai memberikan effek seperti ini padanya. Dia benci tentang bagaimana Kai membuatnya bingung namun juga membuatnya suka menghabiskan sebagian besar waktu bersamanya. Ia benci bagaimana Kai bisa tahu apa yang ada di pikirannya dan juga cara Kai memandangi dirinya.

Kyungsoo mengalihkan perhatiannya kembali ke buku-buku tapi itu tak ada gunanya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh Kai dan seringai bodoh, senyuman bodoh dan ciuman bodoh itu.

Mungkin bukan dia yang membawa efek ini padanya, Kyungsoo berpikir seiring ia mencapai bagian teratas dari rak buku dan menempatkan satu tumpukan buku di sana. mungkin Kai berpikir jika Kyungsoo hanyalah seseorang yang bisa bermain dengannya. Kai itu tampan, mempesona, lucu… Semua yang tidak ada dalam diri Kyungsoo dan Kai bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Lalu apa yang sedang ia lakukan dengan Kyungsoo?

Kyungsoo menggerutu pada dirinya sendiri saat ia meraih rak paling atas dan tidak sengaja menyenggol beberapa buku yang ada di sana. Ia tahu bahwa sudah terlambat untuk berbalik kemudian meringkuk dan Kyungsoo mengangkat lengannya untuk melindungi dirinya. Ia lebih memilih lengannya yang sakit daripada punggungnya ketika tiba-tiba merasakan sepasang lengan menariknya. Kyungsoo merasakan tubuhnya telah berbalik saat ia terantuk ke lantai, kepalanya direngkuh oleh seseorang, dan saat ia membuka matanya, ia melihat Kai berada di atasnya, wajahnya sangat dekat dengan wajah Kyungsoo sendiri.

Kai berada di hitam dan putih lagi dan Kyungsoo berharap itu tidak terjadi. Kyungsoo ingin melihat mata Kai dalam warna. Kyungsoo bisa terus-menerus menatap tentang betapa indahnya mata Kai. Bagaimana saat ia berpikir untuk bisa melihat ia secara nyata. Dia tahu ia hanyalah seorang anak. Kyungsoo dapat mengatakan saat ia berbicara dengan Kai dan ia cenderung merengek dan bersifat main-main. Tapi Kyungsoo tahu dia juga mencoba untuk menjadi seseorang yang nyatanya ia tidak bisa. Ini adalah matanya. Dan Kyungsoo tahu.

Kyungsoo merasakan jantungnya berdetak begitu cepat ketika ia menatap mata Kai dan ia berharap Kai tidak merasakannya. Ia begitu dekat, tubuhnya menyentuh tubuh Kyungsoo. Ia hangat, panas dari tubuhnya mengalir ke tubuh Kyungsoo. Kyungsoo tidak tahu berapa lama lagi mereka akan bertahan seperti ini dan bahkan ia tidak bebicara, tidak percaya bagaimana suaranya akan terdengar nantinya.

Ia tidak menyadari Kai memajukan tubuhnya, hidungnya nyaris menyentuh hidung Kyungsoo. Butuh beberapa saat bagi Kyungsoo untuk sadar ketika ia merasakan napas Kai di pipinya, matanya melirik ke bawah, ke arahnya.

Tidak, ini tidak bisa terjadi lagi.

Pada momen itu, Kyungsoo mengalihkan pandangannya dan ia merasakan Kai berhenti. Ia tidak tahu apa yang membuat dirinya mengalihkan pandangan. Tapi ia tahu ia tidak bisa memiliki ciuman bodoh yang lain, momen bodoh yang lain pada akhirnya akan terpikir olehnya tentang hal bodoh ini setiap saat ketika ia sudah bangun dan meskipun tanpa merasa malu ia menginginkan hal seperti ini juga, hanya saja ia tidak bisa.

Karena ia tahu Kai tidak nyata dan rasanya menyakitkan bahkan berpikir untuk menginginkannya seperti ini ketika ia tidak nyata.

Kyungsoo merasakan napas Kai di telinganya.

"Bangun." Kai berbisik. Apa?

"Bangun." Kai berkata lagi. Sekarang Kyungsoo bisa merasakan napas Kai di lehernya juga. "Kau punya deadline tugas."

Tugas? Kyungsoo berpikir. Tugas apa?

"Bangun, Kyungsoo." Kai berkata lagi dan Kyungsoo menyadari apa yang ia bicarakan. Tugasku!

Kyungsoo membuka matanya dan ia mendapati dirinya berada di toko buku sendirian. Ia ada di lantai, tengah terduduk di bawah dengan tumpukan buku di sebelahnya dan ia mencari Kai.

Tentu saja ia tak ada di sini, Kyungsoo merosot di tempatnya duduk dan memejamkan matanya. Kai hanyalah mimpi.

Bahkan ciuman itu… Kyungsoo menyentuh bibirnya lagi. Mimpi…

Mengerjap menghilangkan rasa kantuk di matanya, Kyungsoo melihat sekeliling untuk sesuatu ketika ia menyadari saat ini hampir pukul 5 sore.

Sialan, tugasku!

Kyungsoo bergegeas berdiri dan meraih barang-barangnya, melupakan mimpi dari kepalanya dan berharap ia tidak terlambat.


To Be Continue


Well special thanks to~! Purpleskies who is gave me a permission to translate this story, and don't forget to author KimSangraa who is help me to trans this chapter.. Thanks a lot for all.. And, once again.. i do not own this story. this story belongs to Purpleskies.

Untuk chapter ketiga kemarin lama diupdate karena takut jarak updatenya kelamaan sama chapter 4 ini, karena yah, schedule dari Sangra—who is trans this chapter for me—sangat amat teramat sibuk, dan dia selalu pulang sore, saya tahu itu.. karena saya juga mengalami :D whahaha.. Tetap kasih sesuatu saran atau kritik apapun di review.. dan karena ini ada 5k lebih, saya mohon apresiasinya, hargailah usaha para translator. But please have a decency, readers :)

ada beberapa kata yang mungkin kurang bisa dimengerti atau kurang nyambung, itu dikarenakan entah kenapa di chapter ini banyak kata author Kim Sangraa banyak sekali kata yang dia bener-bener mengerti maksudnya tapi sangat susah menjabarkannya, dan setelah saya liat dan hal itu emang benar adanya.. jadi saya beserta para translator meminta maaf.. :D

Chapter 6 benar-benar ada warning.. :D

And my dearest silent readers! One comment doesn't hurt that much.. so please give a comment. Kalian para readers, boleh merekomendasikan ff ini untuk dibaca dan review, tetapi, jangan pernah menyarankan orang lain atau diri kalian sendiri untuk me reupload story ini tanpa izin..

maaf kalau masih ada typo yang tersisa..

Terimakasih untuk semuanya..^^

Read original story :

www . asianfanfics dot com /story/view/387220/4/nocturna-suppressio-exo-kai-k yungsoo-kaisoo

*tolong hilangkan spasi serta kata 'dot' itu diganti dengan tanda titik untuk membaca original story.


Last Word Review and Favorite please! :)