Chapter empat update~! Minggu kemarin aku bolong update karena mau belajar buat ulangan. Untungnya ulangannya sudah selesai kawan-kawan. Kalau begitu silakan membaca chapter empat ini.
Review kalian sudah aku balas lewat PM~
::
::
::
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
The Power of Six Sense: My Love Story © Hikaru-Ryuu Hitachiin
Pairing: Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
Genre: Supernatural & Romance
Warning: OOC, Typo(s), Gaje, Abal, Judul dan genre tidak nyambung dengan cerita, Alur kecepatan, dan lain lain.
Rated: Teen
::
~ Happy Reading ~
::
::
::
"Haa~" aku menghela napasku, aku benar-benar tidak menyukai perasaan ini. Perasaanku bercampur aduk, antara bingung, bimbang, sedih, dan hal yang sejenis.
Aku terduduk di sisi tembok, memegang kepalaku yang rasanya hampir pecah. Kenapa aku tidak bisa mengunci kemampuanku kalau ke dia? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Aku baru menyadarinya tadi. Padahal aku sudah mengunci kekuatanku, tapi tetap saja. Naruto, Sai, dan orang lainnya, aku dapat mengunci kemampuanku kalau ke mereka. Tapi, kenapa ke Sakura tidak bisa? Apa ada sesuatu yang menganjal sehingga tidak bisa?
"Kamu masih ada disini?" kulihat Sai yang berjalan keluar dari pintu, ia berjalan menujuku dan berdiri di hadapanku. Aku tidak tahu, dia sudah ada dari tadi disana atau malah baru sampai ke sini.
Aku memang kurang cocok dengan orang seperti Sai, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa dengan sifatnya yang seperti itu. Aku yang jarang tersenyum ini, bisa berteman dengan orang yang suka sekali tersenyum seperti dia. Walau kadang merepotkan, selalu saja membuat berkas-berkas penting jadi alas gambar. Tapi, itu malah memperindah berkas-berkas.
"Jawab pertanyaanku dong," Ha~ Paling males kalau harus menjawab pertanyaan dari dirinya. Pertanyaan yang kurang penting, padahal dia sendiri sudah tahu kalau aku masih ada disini.
"Iya," aku membalas pertanyaan itu dengan datar, Sai yang dari tadi berdiri kini pun duduk di sebelahku. Apa dia melihat semua kejadiannya ya? Apa dia juga melihat bayangan itu?
"Lalu kenapa masih ada disini?" Aku menengok ke arahnya. Dia sendiri kenapa masih ada disini? Kenapa malah menanyakan hal itu padaku? Tanya saja dirinya sendiri yang belum pulang.
"Cari angin," setiap jawaban yang kuberikan padanya hanyalah jawaban yang singkat dan tidak bernada. Sudah tahu aku tidak suka di tanya-tanyain seperti itu, tapi masih saja dia suka bertanya.
"Oh~" sekarang respon yang diberikan Sai hanya seperti itu. Sepertinya ia sudah kehabisan pertanyaan untuk diberikan padaku. Baguslah~
Kulihat dirinya melihatku sambil tersenyum, "Tadi aku lihat loh," sebuah pernyataan yang membuatku bingung. Memangnya dia lihat apa? Lihat kejadian itu, atau malah melihat bayangan itu?
"Lihat apa?"
"Bayangan tadi," ternyata benar ya? Dia melihat bayangan itu. Sudah pasti dia berada di tempat itu sejak kedua gadis itu datang ke atap ini.
"Bayangan?" Aku yang pura-pura bodoh malah bertanya seperti itu. Tidak mungkin aku menyetujui yang dibilang oleh Sai. Hanya aku yang boleh tahu tentang bayangan tadi. Nanti ini malah jadi gosip di sekolah, aku paling males jadi pusat gosip anak sekolahan. Jadi anak populer saja sudah membuatku risih~
"Bayangan kekasih," sepertinya sudah tidak bisa dielak lagi. Dia sudah benar-benar melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Tidak mungkin aku mengelaknya, karena apa yang dilihatnya sudah pasti tepat dimatanya.
"Kamu melihatnya ya?" sebenarnya aku sedikit kecewa. Aku yang tidak mau berhubungan dengan mitos di sekolah ini pun malah jadi terlibat didalamnya.
Walaupun aku tidak mau berhubungan dengan mitos di sekolah ini, tapi entah kenapa aku mengetahui semua mitos yang ada disini. Tapi ada beberapa yang tidak kuketahui, mitos itu lah yang biasanya muncul di festival mitos sekolah. Mitos-mitos yang baru akan terbentuk~ Aku dapat mengetahui semua mitos yang disini mungkin karena kemampuan yang kumiliki.
Pasti mitos di festival itu adalah mitos-mitos baru yang baru saja tercipta. Makanya, aku tidak ada niat untuk ikut festival itu. Tahun kemarin saja aku meliburkan diri. Tapi kalau tahun ini, aku merasa aku harus mengikutinya.
"Iya," aku mendengar suara Sai. Tadi aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri sampai lupa kalau ada kehidupan lain disebelahku.
"Aku tidak tahu, mitos tentang bayangan kekasih itu benar atau tidak."
Malam sudah tiba, suasana di sekolah ini jadi terasa sepi dan hening. Pasti semuanya sudah pada pulang, hanya aku dan Sai yang masih saja enak-enakan di atap.
"Dengan ketepatan yang akurat, namun tidak pasti." sama seperti orang yang tertarik pada misteri, pasti akan menyebutkan itu kalau ada orang yang tidak percaya pada mitos yang ada di sekolah ini.
Aku tahu kalau Sai itu tidak begitu tertarik dengan mitos-mitos sekolah ini, tapi kenapa dia malah membicarakan hal itu ya? Apa mau dijadikan tema untuk gambarnya yang berikutnya?
"Yah~ Aku tahu itu,"
"Lalu bagaimana dengan gadis itu? Apa kamu akan membiarkannya terus seperti itu?" inilah yang paling tidak kusuka. Apa harus ya membahas tentang hal seperti ini?
"Aku tidak tahu," aku memang tidak tahu, apa yang harus kuperbuat padanya? Jika terus-terusan seperti ini, tidak enak juga rasanya. Gara-gara masalah ini, aku jadi kurang serius dan teliti.
"Ternyata kamu masih belum bisa mengambil tindakan ya," mendengar ucapan Sai, aku jadi terdiam, dan melihat langit yang sudah gelap. Bintang-bintang pun sudah mulai bermunculan, bulan juga sudah tampak.
Aku memang belum dewasa, itulah kenapa aku tidak bisa mengambil tindakan yang tepat. Tapi, hanya inilah yang dapat kulakukan.
"Suatu saat~ Dia akan melepaskan dan menghilangkan perasaannya, dengan perasaan yang tidak ragu-ragu."
Sai diam, nampak dari wajahnya kalau ia sedang khawatir padaku. Tapi inilah keputusanku, aku belum bisa merubahnya. Sampai saat itu tiba, tetap inilah keputusan yang tepat.
"Lalu melupakanku, dan semua kenangan selama dua jam itu."
:
::
:::
The Power of Six Sense: Love Story
Chapter 4
:::
::
:
"Sakura-chan~ Kenapa kamu jadi kabur-kaburan seperti itu sih kalau ada Sasuke?" pertanyaan dari Ino membuat Sakura berhenti, ia menundukkan kepalanya dengan wajah yang muram.
"Untuk apa tetap disana jika ada orang yang tidak menyukai keberadaan kita," jawaban dari Sakura tentu saja masuk akal bagi Ino. Tapi bukannya seperti itu bukan? Tidak mungkin Sasuke tidak menyukai keberadaan Sakura.
"Baiklah, kalau itu aku mengerti. Tapi bukannya kamu menyukai Sasuke? Tunjukkanlah kalau kau memang menyukainya~" kata-kata Ino membuat Sakura kembali bersedih. Apakah dia pantas menyukai seorang Uchiha Sasuke?
"Tidak," jawaban dari Sakura membuat Ino memiringkan kepalanya.
Apa tadi katanya? Tidak? Tidak gimana maksudnya? Bukannya Sakura itu menyukai Sasuke, ia pernah bilang sendiri kalau tidak salah. Tapi kenapa sekarang dia bilang tidak? Kenapa perasaannya tiba-tiba berubah seperti itu?
"Ha? Tidak?" Ino benar-benar tidak dapat membaca pikiran Sakura. Sifatnya yang tidak spesifik dan bimbang itu benar-benar membuat Ino prihatin. Apakah Sakura tidak bisa membaca hatinya sendiri? Tidak mengerti perasaannya sendiri?
"Aku akan menguburkan perasaanku dalam-dalam," masih pada posisi seperti itu, Sakura bingung harus berbuat apa. Apa yang harus dilakukannya? Ia mau marah, tapi tidak bisa. Ia juga mau menangis, tapi tidak ada air mata yang keluar.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah lelah," jawaban yang menunjukkan bahwa Sakura telah menyerah. Menyerah untuk mendapatkan Sasuke, menyerah untuk mengalami hubungan dengan Sasuke. Menyerah untuk mencoba, agar semua kembali seperti dulu. Kembali seperti disaat-saat dua jam yang lalu~
Apakah benar akan kembali seperti dulu?
"Lelah?" Ino jadi khawatir. Yang ia lihat di film-film sekilas, kata lelah hanya untuk orang yang sudah putus asa. Lalu, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. OH NOOO~
"Menyukai orang yang sama untuk yang kedua kalinya," Ino mengerti, dirinya tahu apa yang dirasakan Sakura. Menyukai orang yang sama untuk kedua kalinya. Yang pertama dibiarkan, yang berikutnya juga. Bagaimana kalau ditolak juga? Ia tidak bisa membayangkannya.
Ino yang tidak tahu harus berkata apa-apa lagi hanya bisa terdiam. Kenapa Sakura menyerah semudah itu? Ini baru tiga bulan lho!
"Kejadian ini, pasti akan sama seperti dengan yang lalu. Berpisah," Ino benar-benar tidak menyukainya, Sakura berpikir negatif memulu! Sebaiknya dirinya memberikan respon yang positif agar Sakura tidak bertambah pemikiran negatif-nya.
"Kamu bilang apa Sakura-chan?! Jangan menyerah~! Karena," hampir saja Ino keceplosan untuk menyebutkan bahwa ia melihat bayangan kekasih itu.
"Karena?" tapi Sakura yang penasaran dengan kelanjutan kata-kata Ino bertanya. Ia mengucapkan kata-kata terakhir yang Ino sebutkan dengan nada bertanya.
'Tidak mungkin aku memberitahukannya soal bayangan kekasih itu,' kenapa tidak mungkin? Mungkin Ino beranggapan bahwa Sakura tidak akan mempercayainya. Makanya Ino tidak mau menyebutkannya sampai ada bukti yang bisa digunakan untuk meyakinkan Sakura.
"Karena apa?" Sakura bertanya lagi, Ino benar-benar bingung harus menyawab apa.
Jadi hanya jawaban inilah yang dapat dilontarkannya, "Karena kamu sangat menyukainya!" jawaban yang sudah dapat dipastikan kebenarannya, tapi belum dapat diterima oleh orangnya sendiri.
"Sudahlah," sudahlah? Sakura benar-benar menyerah ya? Dengan nada tidak bersemangat, ia mengucapkan itu.
"Tapi kamu tidak ada niat untuk bunuh diri, kan?" Sakura terbelalak saat mendengar pertanyaan tidak penting itu dari Ino.
"Untuk apa!? Hanya orang bodoh saja yang bunuh diri karena tidak mendapatkan cintanya," Sakura adalah tipe orang yang tidak suka mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Ia mau meninggal secara alami, tidak merasakan sakit.
"Syukurlah~ Tapi kamu tidak boleh menyerah semudah itu dong," Ino mengangguk-angguk saat mendapatkan jawaban dari Sakura. Ia juga terus menerus membuat Sakura jadi bersemangat kembali, jangan seperti itu terus.
"Aku sudah tidak mau tahu dengan perasaan itu," lagi-lagi perkataan Sakura membuat Ino terdiam. Tidak ada cara lain lagi, selain memberitahukan Sakura tentang bayangan kekasih itu. Tapi apakah Sakura akan percaya?
"Sakura-chan," Ino memanggil Sakura, tapi karena Sakura sudah mendapatkan masukan yang negatif akhirnya Sakura membalasnya dengan nada yang tidak baik.
"Apa lagi?" perasaan Sakura yang negatif membuat dirinya jadi seperti itu. Dengan nada yang meninggi dan sedikit ada rasa kesal didalam hatinya.
"Bayangan kekasih itu," Sakura tersentak, ia menundukkan kepalanya saat itu juga. Ia tahu apa yang mau dibicarakan oleh Ino.
"Aku sudah tahu, tidak ada bayangan yang terpantul ya? Sudah pasti, karena aku dan dirinya bukan pasangan yang cocok." dengan nada sedih, Sakura mengutarakan apa yang ada didalam pikirannya. Tapi Sakura belum melihatnya, kan?
"Kamu belum melihatnya," Ino yang tahu kalau Sakura belum melihatnya jadi mengucapkan itu. Sakura memang belum melihatnya, jadi jangan seenaknya memutuskan hal seperti itu. Jangan mengambil keputusan sebelum ada bukti kuat untuk meyakininya.
"Aku memang tidak melihatnya, tapi itulah pemikiranku." pemikiran Sakura yang salah langsung dielak oleh Ino.
"Kamu salah,"
"Ha?"
"Bayangan kekasih terpantul dengan jelas disana," apa yang tadinya mau dirahasiakan oleh Ino kini sudah diketahui oleh Sakura. Ia gagal menyembunyikan hal yang mau disembunyikan olehnya.
"Apa!?" Sakura kaget, ia kaget karena mendengar hal yang tidak masuk akal. Mana mungkin bayangan itu benar-benar terpantul, kan?
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," Sakura terdiam, tapi Ino tetap saja menyebutkan hal-hal yang tidak mungkin.
"Ha~ Jangan bercanda Ino-chan, itu tidak mungkin." Sakura menghela napasnya, ia tetap saja berpegang teguh pada pendapatnya. Itu tidak mungkin dan sangat tidak mungkin.
"Aku tidak bercanda," tapi Ino tetap saja menyebutkan hal itu. Kalau ia benar, ia tetap harus menyebutkan hal-hal yang dianggapnya benar. Walaupun orang yang di depannya itu tidak percaya.
"Sudahlah, kalau itu maksud untuk menghiburku, aku ucapkan terima kasih." dengan rasa tidak semangatnya, akhirnya ia tetap tidak mempercayai ucapan Ino. Sakura sudah menyerah untuk masalah rasa sukanya yang sekarang. Mungkin ia akan mencari orang baru yang cocok untuk menerima rasa sukanya itu.
"Sakura-chan," Ino khawatir, ia sangat khawatir dengan kondisi dan keadaan temannya itu. Ia sudah berusaha, tapi tetap saja gagal. Ia jadi bingung harus berbuat apa lagi.
"Sudah dulu ya, kita berpisah disini. Sampai jumpa besok," karena sudah sampai di tempat untuk berpisah, Sakura pun pamitan pada Ino. Ia berjalan dengan lesu sambil menundukkan kepalanya.
Ino terdiam melihat Sakura yang mulai menghilang dari pandangan matanya. Sosoknya telah menghilang, ia mengangkat kepalanya dan melihat bintang-bintang.
"Sakura-chan, aku tidak berbohong loh."
::
::
::
"Entah kenapa, aku jadi kepikiran soal kata-kata Ino." setelah Sakura sampai di rumahnya, ia langsung masuk ke dalam rumahnya. Tanpa mengucapkan salam, ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Orang tuanya saja sampai heran melihat tingkah Sakura yang tidak seperti biasanya.
Ia jadi teringat dengan kata-kata Ino, 'Bayangan kekasih, terpantul dengan jelas disana.' kata-kata itu membuat Sakura jadi bingung. Ia jadi bimbang dengan perasaannya sendiri. Ia harus percaya atau tidak?
"Haa~ Aku tidak percaya," walaupun Sakura bilang tidak percaya, tapi entah kenapa ada sedikit rasa yang mengatakan bahwa kata-kata Ino itu tidak salah.
Ia melompat ke kasurnya, "Tapi, bolehkah aku sedikit berharap?" Sakura mengambil ponselnya.
Inu-chan~ Aku baru saja mendengar hal yang tidak mungkin terjadi dari temanku. Aku tidak terlalu mempercayainya, tapi bolehkah aku sedikit berharap?
Dikirim sudah sms itu pada Inu-chan~
"Sms masuk~"
"Hei~ Ada sms masuk nih," dengan sedikit menyernyitkan matanya, kakak dari pemilik ponsel ini membaca dari siapa pesan tersebut.
"Dari.. Haru-chan? Siapa tuh?" yang awalnya tenang-tenang saja sambil mengelap rambutnya yang basah, kini ia merebut ponsel itu dengan cepat dari tangan kakaknya.
"Kakak tidak perlu tahu," katanya. Ia pun duduk disisi yang berbeda dengan kakaknya.
"Hee? Haru-chan punya banyak masalah rupanya," lupa kalau sang kakak sedang memperhatikannya. Orang ini malah mengucapkan kata-kata tadi seakan tidak ada orang disekitarnya.
"Siapa sih Haru-chan?" Kakak yang penasaran pun bertanya, tapi sayangnya sang adik tidak mau memberitahukan hal itu pada siapapun.
"Kakak tidak perlu tahu,"
Begini lho Haru-chan~ Temanmu mengucapkan hal yang tidak kamu terlalu percaya. Tapi mungkin, kamu boleh berharap. Karena kadang kala, temanmu itu tidak berbohong. Cobalah untuk sedikit mempercayainya~
Membaca balasan dari Inu-chan, membuat ia jadi lebih tenang. Jadi ia tertidur setelah itu. Karena terlalu banyak pikiran, Sakura jadi tertidur karena kelelahan. Sampai-sampai ia tidur menggunakan seragam dan kaus kaki.
Paginya seperti biasa, Sakura sudah melihat Ino yang duduk di kursinya. Ino memang suka sekali berangkat pagi, makanya ia tidak pernah terlambat masuk sekolah.
"Ino-chan," seperti biasa juga, Sakura memanggil Ino untuk dimulainya sebuah interaksi antar sahabat.
"Pagi Sakura-chan," seperti tidak ada sesuatu yang terjadi kemarin, mereka bersikap seperti biasanya. Sepertinya mereka berdua tidak mau memikirkan hal kemarin lagi. Yang berlalu biarkanlah berlalu, lakukanlah apa yang telah terjadi sekarang.
"Hinata-chan mana?" Sakura bertanya, karena ia baru kali ini melihat Hinata yang belum hadir di tempat. Biasanya kan Hinata datang lebih cepat dari Sakura.
Ino mengangkat bahunya, "Belum datang sepertinya," jawab Ino. Sebenarnya Ino juga penasaran kenapa Hinata kali ini datangnya telatan, tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika orangnya sendiri belum datang.
Sakura melihat Ino, dan menghela napasnya. "Maaf atas kelakuanku kemarin ya," Sakura langsung menuju tempat duduknya yang berada tepat disebelah Ino.
Ia menggantungkan tasnya di cantelan yang ada disebelah mejanya dan duduk agar lebih enak bercerita.
"Tidak apa," Ino yang sedang asyik menyoret-nyoret buku yang ada didepannya tidak menatap wajah Sakura saat itu.
Sakura jadi penasaran, ia pun melihat buku yang sedang dicoret oleh Ino. "Hei, kenapa buku perpustakaan itu dicoret? Kenapa mitos pertama diberi coretan bintang?" tanya Sakura.
"Yah~ Ini biar aku tahu yang tepat sama tidak," tepat atau tidak ya? Tapi Sakura masih belum mengerti apa maksudnya. Apa perbedaannya? Kenapa Ino seenaknya saja mencoret buku perpustakaan?
"Artinya bintang itu apa?" Sakura yang tidak mengerti pun bertanya, tapi saat ini ia masih belum sempat bertanya. Kenapa Ino mencoret buku itu? Mungkin nanti ia akan menanyakannya.
"Itu artinya mitos ini memang tepat," dengan santainya Ino menyebutkan itu, dan tentu saja Sakura kaget. Tepat bagaimana? Dibuktikan saja belum~
"Tapi kan belum dibuktikan," Sakura menatap Ino yang kini sudah menatapnya, ia menopang dagunya dengan sebelah tangannya.
"Sudah, aku sudah melihatnya dengan jelas saat itu. Itu sudah cukup untuk jadi bukti," dengan senyuman dari Ino, Sakura tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin ia mengelak sebuah keyakinan yang telah dipastikan oleh sahabatnya. Apalagi itu berhubungan dengan hal yang disukai olehnya.
"Haa~ Aku tidak mengerti, Ino-chan salah lihat kali! Tapi, tidak apa. Kalau kamu mengatakan itu, aku akan coba untuk percaya juga. Walau aku masih belum percaya,"
Ino hanya diam mendengar kata-kata Sakura, "Buku itu boleh tuh dicoret? Kan milik perpustakaan," kembali Sakura bicara. Tapi kali ini sebuah pertanyaan, bukan yang lainnya.
"Tidak apa, buku ini sudah jadi milikku." jawaban Ino membuat Sakura merasa heran. Miliknya? Sejak kapan buku itu menjadi milik Ino? Memangnya, buku perpustakaan bisa menjadi milik murid?
"Ha?" Sakura yang tidak mengerti akhirnya merespon kata-kata Ino hanya dengan dua huruf dan satu kata itu.
"Kepala sekolah memberikannya padaku," dan kata-kata inilah yang membuat Sakura kaget. Buku dari perpustakaan bisa berikan!? Setahu ia, mana bisa diberi begitu saja, walau sama kepala sekolah sekalipun. Hanya bisa dipinjam, dibaca, dan dikembalikan lagi. Bagaimana diberi? Kalau buku yang hanya dikeluarkan sekolah untuk dibaca oleh murid-murid sekolah mana mungkin diberikan.
"Diberi? Kok bisa?" kalau memang buku perpustakaan bisa diberi, dirinya juga mau deh. Ada satu buku yang ia koleksi tapi kehabisan saat mau dibeli.
"Ya, aku menyukai buku ini." alasan yang tidak jelas memang. Kalau alasannya hanya menyukai buku itu, mana mungkin kan dikasih begitu saja? Pasti ada alasannya~
Jangan-jangan Ino adalah mata-mata yang diutus sekolah untuk membuktikan kebenaran mitos-mitos yang ada di sekolah itu lagi!? Sudahlah~ Jangan bercanda.
"Hoo~" kembali Sakura kehabisan kata-kata, responnya kembali seperti itu. Tetap satu kata, walau hurufnya bertambah satu.
"Sakura-chan," Ino memanggil Sakura, dan Sakura pun menanggapinya. "Ya?"
"Bayangan kekasih itu beneran terpantul, aku tidak berbohong." untuk yang kedua kalinya Ino kembali mengungkit-ungkit mitos yang pertama. Sakura agak kesal juga, karena ia lagi malas mengungkit hal itu sekarang. Tapi, inilah takdir yang sedang dihadapinya.
"Iya, iya, aku percaya." jawaban seadanya ini tentu saja membuat Ino kecewa. Kenapa? Karena Sakura masih belum mempercayainya. Kenapa Sakura tidak mempercayainya walau sedikit saja?
"Kamu seperti itu, aku anggap kamu tidak percaya." Ino menutup bukunya, dan memasukkannya ke dalam tas kembali.
"Haha~ Ino-chan ini,"
"Haaa~" Ino menghela napasnya, sepertinya Sakura memang tidak mempercayainya ya? Coba kalau Sakura percaya, pasti ada hal yang lebih seru lagi.
'Aku tidak boleh terlalu cepat berharap, kan?'
"Ohayou~" kehadiran Hinata membuat keadaan keduanya mulai membaik. Suasana beku disana lama kelamaan mulai mencair.
"Ohayou Hinata-chan," sapa Ino dan Sakura secara bersamaan.
"Bicarain apa?" saat ini Hinata memang ketinggalan informasi, karena ia datangnya telat. Tapi untungnya Ino sudah memberitahukannya tanpa diminta terlebih dahulu.
"Sini," Ino berbisik pada Hinata, entah apa yang dibicarakan mereka berdua. Tentu saja itu membuat Sakura menjadi penasaran.
"Eh? Beneran?" tapi mendengar reaksi Hinata, Sakura jadi tahu apa yang dibicarakan oleh mereka berdua. Tanpa perlu bertanya terlebih dahulu~
"Beneran deh," balas Ino. Ino melihat Sakura yang menatapnya dengan pandangan yang seperti tidak suka gitu. Tapi biarlah, memberitahukan hal yang sebenarnya.
Hinta mengira ia salah dengar, ia pun mengulangi bertanya. "Serius?" tanyanya. Ia melihat Ino mengangguk, "Iya," jawab Ino setelahnya.
Sakura penasaran apa yang mereka bicarakan sebenarya. Walau ia sudah memperkirakannya, tapi belum tentu benar, kan?
"Bicarain apa sih? Bayangan kekasih lagi?" Sakura sedikit kesal saat ini. Kenapa sih kedua temannya itu membicarakan tentang mitos pertama? Padahal, ia ingin segera melupakan kejadian itu.
"Ketahuan ya?" tanya Ino dengan nada-nada sok imut.
"Ketahuan lah, suara sekecil apapun dapat kudengar." perkataan Sakura memang bisa dibilang benar. Ia memiliki pendengaran yang sedikit lebih tajam dibandingkan dengan kedua temannya itu.
"Tapi Sakura-chan tidak percaya sama sekali," dengan nada kecewa, Ino meletakkan kepalanya diatas meja.
"Sebaiknya Sakura-chan sedikit percaya," dan Hinata yang mudah percaya pada teman langsung membela Ino. Walaupun ia tidak melihatnya sendiri, tapi ia beranggapan bahwa Ino tidak berbohong.
"Yah, mungkin akan kucoba." mendengar ini Ino mengangkat kepalanya kembali, Hinata dan Ino hanya menghela napas. Susah juga ya meyakinkan seorang Haruno Sakura, pikirnya.
"Tapi aku tidak tahu apakah aku masih menyukainya atau tidak." kembali Ino dan Hinata saling pandang, dan kembali menatap Sakura.
"Kenapa?" tanya Ino dan Hinata secara bersamaan.
"Entah kenapa, aku merasakan perasaanku saat ini beda dengan yang dulu." Sakura tidak mengerti, perasaannya yang sekarang dengan yang dulu memang berubah.
Perasaan yang sekarang lebih besar daripada yang dulu. Itulah yang membuat Sakura menganggapnya berbeda. Tapi, Sakura masih belum menyadarinya.
"Hah?" dua orang yang bingung akan perasaan temannya melongo. Sakura saja tidak mengerti perasaannya, apalagi mereka? Tambah tidak tahu lah~
"Sebaiknya jangan cepat memutuskan, aku tidak tahu. Apakah ini yang dinamakan suka?" sampai saat ini, Sakura hanya mau berhati-hati. Ia memutuskan untuk tidak menarik kesimpulan terlebih dahulu.
Ia mau memastikannya dulu, barulah ia tahu perasaannya yang sebenarnya. Mungkin akan ketahuan kalau dirinya berada dekat dengan Sasuke langsung.
"Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan menyadarinya. Pertemuanmu dengannya saat itu, bukanlah sebuah kebetulan. Saat ini pun, kalian sudah ditakdirkan untuk bertemu. Kamu menyukainya atau tidak pun, itu adalah keputusanmu. Kamu memang menyukainya, atau hanya sekedar kagum saja. Pastikan itu,"
::
::
::
"Tidak bisa?!" Naruto begitu kaget mendengar informasi yang diberikan oleh Sai. Bagaimana tidak? Masa kali ini Sai tidak bisa melakukannya? Padahal tahun lalu tugas ini diberikan dan dipercayakan pada Sai. Jadi sekarang harus bagaimana?
"Lalu bagaimana? Hanya kau yang dapat diandalkan dalam hal ini," Naruto benar-benar kecewa, baru kali ini Sai tidak bisa melakukan sebuah tugas.
Sedangkan Sasuke sedang terfokus pada satu hal. Ia memikirkan siapa yang memiliki kemampuan yang sama seperti Sai, biar tugas itu bisa ditukaralihkan pada orang lain itu. Makanya Sasuke diam saja sejak tadi.
"Ayolah~ Tanpa papan penyambut tamu sekali-kali tidak apa," menyebutkannya tanpa ada rasa bersalah. Sai tersenyum seperti biasanya, tentu saja itu membuat Naruto sedikit kesal. Mana ada festival sekolah tanpa ada papan penyambutan!?
"Mana bisa begitu!" Naruto benar-benar dibingungkan oleh kejadian ini. Malah festival sekolah tinggal tiga bulan lagi lagi!
"Aku tetap tidak bisa," ucap Sai dan sesaat melihat Sasuke yang terdiam. Sepertinya Sai masih berpegang teguh pada keputusannya yang bulat itu. Sebenarnya apa yang mau dilakukannya ya sehingga tidak bisa?
"Maaf," permintaan maaf Sai membuat Naruto pasrah, Naruto pun ikutan melihat Sasuke yang masih diam saja.
"Haa~ Mau diapain lagi," Naruto benar-benar kecewa. Kenapa kejadian ini bisa terjadi? Kalau seperti ini kejadiannya, seharusnya dibilangin dari beberapa hari sebelumnya. Sekarang, siapa yang akan menggantikannya?
"Jadi, apakah ada yang bisa menggambar lagi di sekolah ini selain aku?" sebenarnya Sai juga sedikit bertanggung jawab karena tidak bisa melakukannya. Ia merasa bersalah~ Tapi banyak kok yang bisa, carilah di klub menggambar dan melukis.
Setelah dipikir-pikir, aneh juga rasanya kalau tidak papan penyambutan di depan sekolah. Mudah-mudahan saja orang yang dicari tepat ditemukan. Karena minggu depan sudah harus mulai membuatnya.
Sasuke berdiri, "Ada," jawabnya. Sasuke langsung berjalan keluar dari ruangan itu. Tapi belum sempat keluar seutuhnya, ada pertanyaan yang membuatnya terhenti.
"Siapa?" pertanyaan Naruto lah yang membuatnya berhenti. Sasuke melihat ke dalam, "Akan kubicarakan dengannya nanti," dan ia pun langsung menghilang dari hadapan keduanya.
"Bagus~! Kemampuannya tidak beda jauh, kan?" Naruto melihat Sai, Sai pun membalas tatapan mata Naruto.
"Mungkin," jawabnya singkat. Sai menjawab seperti itu karena ia tidak tahu yang mana orang yang dimaksud oleh Sasuke.
"Memangnya tanggal segitu mau ngapain? Sampai tidak bisa membantu sekolah," akhirnya Naruto menanyakan hal yang membuatnya bingung. Biasanya sih Sai paling mau membantu sekolah, jadi jarang menolak.
Tapi kali ini ia menolaknya, jadi pasti ada suatu hal yang mau dilakukannya. Itulah yang membuat Naruto bingung sekaligus penasaran. Hal penting apa yang lebih penting dari sekolah bagi Sai?
"Lomba," jawaban singkat Sai kembali membuat Naruto tambah bingung. Lomba apa maksudnya?
"Lomba lukis antar provinsi," penambahan kata-kata dari Sai membuat Naruto mengerti sekarang. Kadang, hobi memang lebih penting dari pada sekolah.
"Kamu yang terpilih jadi kandidat?" Naruto kagum dengan Sai, ia terpilih dari berjuta-juta anak di kotanya. Sampai sekarang Naruto belum menemukan hal yang enak untuk dilakukan seperti Sai. Tapi, ia ingin menjadi pemimpin. Itulah tujuannya sampai saat ini.
"Iya," jawaban singkat kembali terlontar dari mulut Sai.
"Kalau gitu selamat ya~!" ucapan selamat yang terlupakan kini sudah tersebutkan sudah.
Tapi lagi-lagi jawaban singkat yang diterimanya, "Iya," itu sedikit membuat Naruto sebal juga. Diberi kata-kata yang panjang tapi malah dibalas dengan jawaban yang singkat.
"Tema lombanya apa?" selain rasa kesal, ia juga sedikit penasaran dengan tema yang jadi di lombakan. Jadi ia bertanya~
"Pertemuan yang ditakdirkan," mata Naruto bersinar, tema yang begitu indah ya. Mungkin gambaran Sai yang waktu itu yang dijadikan sketsa gambarnya ya?
"Wah~ Cocok tuh temanya sama cerita si Teme sama Sakura-chan," Sai mengangguk. "Iya~ Aku akan menggambar itu, idenya dari kejadian mereka berdua. Cerita mereka berdua sangat menarik. Ingat kan gambarku saat itu?" Naruto mengangguk.
"Kadang-kadang, kejadian seperti itu cocok juga ya untuk dijadikan tema." Naruto melihat langit biru, "Iya," Sai pun ikut-ikutan melihatnya.
"Kadang, semua yang kita rasakan tidak sesuai dengan apa yang kita lihat. Tidak sesuai dengan kenyataannya,"
Naruto cengo melihat Sai. Walaupun tidak nyambung, tapi Sai bisa mengucapkan kata-kata yang sebagus itu? Tidak mungkin! Biasanya hanya kata-kata yang biasa-biasa ke bawah saja yang diucapkannya. Tumben sekali~
"Kamu tahu siapa yang dimaksudkan olehnya?" sampai saat ini pun Sai masih penasaran dengan orang yang dimaksudkan oleh Sasuke. Jadi ia bertanya pada Naruto, mungkin saja Naruto mengetahuinya.
"Tahu," ternyata benar, sesuai dugaannya. Ternyata Naruto memang tahu siapa orang yang dimaksudkan oleh Sasuke. Ia mengetahuinya setelah mengingat kejadian diwaktu SMP dulu.
"Siapa?" tanya Sai setelahnya. Langsung saja Naruto memberikan ciri-ciri orang yang dimaksud, "Kamu ingat gadis berambut pink muda itu?" tanyanya.
"Ingat~ Mana mungkin lupa sama saingan waktu SMP," Naruto mengangguk-angguk, mana mungkin kan melupakan saingan sendiri.
"Teme akan memilihnya," tapi kenapa Naruto bisa seyakin itu ya? Padahal kan belum tentu Sakura orang yang terpilih itu.
"Tapi kenapa Sasuke tahu kalau dia bisa menggambar ya? Bukannya hanya yang sekolahnya sama waktu SMP saja ya yang tahu," Naruto bingung lagi sekarang. Benar juga apa yang dikatakan oleh Sai. Tahu dari mana ya?
Naruto tersenyum, dirinya jadi mengingat sesuatu. Pasti itulah yang membuat Sasuke tahu~
"Entahlah~ Mungkin sebuah kenangan waktu dua jam itu yang mengingatkannya,"
:::
::
:
To Be Continue
:
::
:::
Bersambung lagi~ Bagaimana chapter yang ini? Berikan pendapat dan penilaian kalian di kotak review ya.
Oke~ Sampai bertemu chapter berikutnya.
Thanks To:
- Kaoru-Kagami Yoshida
- Uzunaruseka
- Erika Liana 19
V
V
V
