Semoga kalian tidak menemukan typo.
.
Fiction. AU. Vkook
.
Chapter 4
.
.
.
2011, Juni 26
Minggu
Jam dua dini hari dan Jungkook masih berharap Taehyung akan mengiriminya pesan balasan. Tapi hingga pagi ketika dia bangun dari tidurnya. Bahkan pemuda itu belum membaca chatting Jungkook.
"Kau mau melakukan apa, Kook? Game atau film?".
Bambam bertanya pada Jungkook yang baru menghabiskan serealnya-yang hampir menyerupai muntahan coklat karena mengembang- sebagai sarapan. Pemuda itu terlihat tidak bersemangat sejak bangun.
"Aku akan pulang saja".
Bambam yang tadinya ingin Jungkook tetap tinggal dan menemaninya menghabiskan waktu di hari minggu menurut saja mendengar penuturan yang diinginkan temannya itu. Lagian, pemuda yang Bambam akui memiliki gigi seperti kelinci memang terlihat sedang tidak bersahabat dan murung. Bahkan sejak tadi dia hanya mendapat respon kecil atas cerita yang dia perdengarkan pada Jungkook. Toh, Jungkook juga menolak bujukan untuk curhat padanya.
Jungkook pulang memakai jasa angkutan umum yang bernama bus dan sampai di rumah keluarga Park sekitar jam sebelas siang. Salahkan dirinya dan Bambam yang tidur seperti kerbau dan bangun pukul sepuluh kurang. Hingga dia harus merasakan teriknya sinar mentari yang mengawalnya pulang.
Ketika berjarak dua rumah, Jungkook berhenti begitu melihat motor hitam yang dia kenal terparkir begitu saja di pinggir jalan depan rumah keluarga Park. Kemudian dia melangkah tergesa memasuki pekarangan rumah keluarga Park saat melihat seseorang duduk di salah satu kursi di teras.
Jungkook membuka mulutnya untuk berbicara, tapi rasanya ada sesuatu tertahan dalam tenggorokannya saat melihat bagaimana pemuda yang semalaman mengganggu pikirannya itu tertidur di dalam duduknya. Pemuda Kim yang terlihat lelah itu begitu nyenyak seakan tak terganggu dengan hadirnya Jungkook.
Jungkook hanya terus berdiri menghalau sinar matahari musim panas yang mencoba menyoroti Taehyung. Dia tetap diam di sana. Sepuluh menit. Lalu dua puluh. Terus bertambah sepuluh. Ketika kedua mata yang terpejam membuka secara perlahan. Taehyung menatapnya dengan sayu dan kelelahan; berusaha tersenyum. Kali ini, biarkan Jungkook yang bicara duluan.
"Kenapa-".
Jungkook terkejut mendengar suaranya sendiri yang tercekat di awal kemudian berdehem kecil untuk menormalkan suaranya sebelum kembali bertanya dengan nada normal. Senormal mungkin.
"Kenapa tidak balas pesanku?".
Haruskah ini yang dia tanyakan lebih dulu? Padahal Jungkook juga ingin tahu kemana pemuda itu semalam, kemarin, juga di hari-hari sebelumnya. Kemana dia mengajak Jennie kencan; kenapa mereka putus; kenapa dia memacari gadis itu; apa Taehyung memegang tangannya; bagaimana sikap Taehyung pada Jennie, apa semacam lakunya pada Jimin, atau padanya. Lebih lagi kenapa Jungkook ingin tahu itu semua?
"Sepertinya tertinggal di rumah, aku tidak membawanya sejak kemarin".
Taehyung meregangkan kaki dan tangannya kemudian berdiri mensejajarkan diri dengan Jungkook. Berdehem sekali mengusir kantuk dan canggung. Jungkook kembali melempar tanya, kau ke mana sih, tanpa kejelasan di waktu yang mana yang Jungkook tanyakan. Taehyung sempat tertawa kecil mendengar cara Jungkook bertanya. Suaranya lirih dan semakin mengecil di akhir kata. Jelas menuntut dan merengek.
Dan Taehyung tahu kemana tanya milik Jungkook mengarah. Bukan di hari kemarin tapi untuk ke waktu di mana mereka saling diam. Taehyung tidak merasa harus menjawab ini karena seharusnya Jungkook tahu, bahwa Taehyung hanya di sana. Seharusnya Jungkook tahu Taehyung memerhatikannya di sekolah tapi pemuda itu hanya diam. Seharusnya Jungkook tahu Taehyung mencoba menariknya dalam obrolan kala dia bertandang ke rumah Jimin tapi Jungkook tetap diam.
Jadi siapa yang harusnya bertanya di sini?
"Apa kau merindukanku Jungkook?".
Mata bulat Jungkook sempat melebar sesaat. Tak menyangka Taehyung akan langsung bertanya begitu. Mereka masuk dalam pikiran masing-masing; Jungkook dengan keterkejutan dan kebingungannya untuk menjawab; Taehyung bersama harapannya. Taehyung sangat berharap Jungkook akan jujur kali ini. Bukannya kepedeaan, dia hanya ingin mendengar apa yang dilihatnya dalam sorot mata Jungkook.
"Kau tidak bisa menjawab pertanyaan dengan kalimat tanya juga, Hyung!".
Heh, meskipun tidak menyangkal tapi sepupu sahabatnya itu membuat pengalihan dan keduanya bungkam, lagi. Tidak bisakah Jungkook hanya menjawab? Seperti yang Taehyung lakukan untuk pertanyaan pertama dari Jungkook. Tanpa ada yang ditutup-tutupi. Taehyung masih diam saat Jungkook melangkah ke pintu dan membukanya setelah memutar kunci di tangan. Lalu masuk setelah dipersilakan oleh pemuda Jeon.
"Duduklah dulu, aku akan buat minuman".
Ungkap Jungkook dan segera beranjak menuju dapur. Tapi Taehyung mengikutinya; menahan tangannya untuk membuat Jungkook berhenti. Seperti yang sudah-sudah, beginilah cara Taehyung menghentikannya. Menggenggam pergelangan tangan Jungkook. Syukurlah kali ini tak ada rasa sakit.
"Aku datang bukan untuk bertamu".
"Lalu apa mau mu?".
Jungkook membiarkan Taehyung tetap memegang tangannya. Pemuda itu sadar bahwa perlahan kakak kelasnya itu melangkah lebih dekat ke arahnya. Menghapus jarak angin. Jungkook hanya ingin melihat sejauh mana Taehyung akan bertindak; dan lagi dia pikir ini saatnya untuk tidak menghindar. Mungkin memang sudah seharusnya dia tidak menjauh. Sesuai keinginannya yang selalu dia coba enyahkan. Nyaris tiga bulan dia menahan diri, sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menyerah dan meruntuhkan ego.
"Lupakan pertanyaanku tadi dan beritahu aku di mana kau menginap".
"Kenapa kau ingin tahu?".
"Jungkook-".
"Buat saja ini jadi mudah Hyung! Katakan apa yang ingin kau katakan".
Jungkook menarik napasnya dari mulut dan berusaha menahan ringisannya karena tanpa sadar cengkraman Taehyung mulai sakit di lengannya. Ya Tuhan, jangan lagi. Tolong, jangan rasa sakit lagi. Jangan biarkan ego mereka kembali membumbung tinggi.
"Dan aku juga akan katakan apa yang ingin ku katakan padamu, Hyung".
Dari cara Taehyung menatapnya Jungkook tahu pemuda itu ingin menyampaikan banyak hal sama seperti dirinya. Kesedihan dan keputusasaan jelas terlihat dari mata Taehyung yang berwarna coklat madu. Indah. Juga mengusik hatinya, dia ingin tahu apa yang Taehyung pikirkan, yang pemuda itu lakukan belakangan hingga matanya tak sejernih yang Jungkook ingat.
"Aku serius merindukanmu Kook".
Ya, awali dengan hal baik. Biarkan Jungkook tersenyum mendengar semua pengakuan Taehyung.
Tangan sunbae-nya itu tak lagi mencengkeramnya. Jungkook merasakan tekanan di pinggang kanannya. Juga rasa geli dari tangan Taehyung yang menelusuri leher hingga pipi kiri. Jungkook ikut andil untuk memegang tangan Taehyung yang menangkup wajahnya. Bernapas sejenak dan Jungkook merasakan hangatnya tangan Taehyung.
"Aku menginap di rumah Bambam semalam".
Taehyung mendengus dan tertawa kecil mendengar apa yang diutarakan dongssaeng-nya. Melihat bagaimana Jungkook yang menunjukkan rasa nyaman dalam kedekatan mereka. Taehyung tahu bahwa adik kelasnya itu hanya malu mengakui hal yang sama seperti yang dia rasakan. Pemuda itu tersenyum sebelum menimpali.
"Kh, kau punya ego yang besar".
Taehyung masih tersenyum dan Jungkook ikut seketika; tersenyum bersama.
"Seperti kau tidak saja".
Senyum Jungkook berubah menjadi sebuah cengiran lucu. Membiarkan Taehyung melihat bagaimana kedua gigi depan bagian atasnya yang menggemaskan layaknya gigi kelinci. Mereka tetap dalam posisi. Saling himpit seakan begitulah seharusnya. Tenggelam dalam kenyamanan masing-masing. Menganggalkan amarah, ego, dan melupakan pertengkaran; perang dingin diantara mereka yang berlalu bagai angin.
Kemudian Taehyung bersuara.
"Satu hal lagi Jungkook".
Ucap Taehyung dengan wajahnya yang berubah serius. Mulutnya terkatup rapat bersama tubuhnya yang menegak.
"Apa?".
Jungkook harap ini bukan sesuatu yang buruk melihat bagaimana raut pemuda Kim.
"Kakiku pegal".
Taehyung terhuyung kebelakang karena Jungkook mendorongnya sekuat tenaga. Memutus segala kontak fisik yang baru saja mereka lakukan. Pemuda Kim tertawa dengan keras begitu mendengar decakan kesal dari bibir Jungkook.
Idiot dan bodoh adalah kata yang Jungkook gumamkan di tengah tingkah Taehyung. Katakanlah Jungkook benar karena kakak kelasnya itu malah semakin terpingkal hingga duduk di sofa sambil memegangi perut. Maka biarkan saja Jungkook tinggal untuk ke kamar.
Setengah jam kemudian Taehyung naik menghampiri Jungkook. Takut kalau pemuda itu malah jatuh tertidur meninggalkan Taehyung dalam kesendirian di ruang tamu. Sampai di depan kamar Jungkook, Taehyung memanggilnya dengan nama kecil. Dua kali dan tak ada sahutan. Taehyung mengetuk untuk ketiga kali pintu kamar pemuda yang lebih muda darinya. Mulai berpikir bahwa tebakannya benar.
"Jungkook!".
Sabar bukanlah sifat Taehyung jadi dia langsung saja mencoba memutar kenop pintu dan sayangnya di kunci dari dalam. Apa pemuda itu selalu mengunci pintu saat tidur? Bahkan siang hari?
"Jeon Jungkook!".
Bukan lagi ketukan, Taehyung menggedor pintu kamar Jungkook dengan cepat tanpa jeda. Hingga telinganya mendengar slot kunci yang di buka dan mendapati Jungkook di balik pintu itu meringis, mencoba tersenyum padanya. Taehyung langsung bertanya tentang apa yang Jungkook lakukan, setelah dia melepas napas lega.
"Hehe, tidak ada Hyung".
Jungkook mengusap belakang lehernya untuk menutupi kegugupannya. Sebenarnya sejak tadi dia hanya mondar-mandir di dalam kamarnya selepas berganti pakaian. Berpikir bagaimana harus bersikap di depan Taehyung. Wajahnya panas hingga telinga mengingat perbuatan mereka setengah jam yang lalu. Saling himpit seolah mereka terbiasa dengan itu. Tersenyum bodoh layaknya remaja kasmaran. Wah, memang siapa yang kasmaran? Mereka memang remaja, tapi kasmaran? Sungguh? Entahlah.
"Sudahlah. Ayo ikut aku".
"Kemana?".
Taehyung tersenyum gemas melihat Jungkook yang memiringkan kepalanya selagi bertanya. Membuatnya tanpa sadar mengulurkan tangan mengusap poni rambut dongssaeng-nya itu. Warnanya hitam, sangat pekat dan terasa halus.
"Jangan tanya terus, ikut saja!"
Jungkook menggeleng sambil mengulum bibirnya dan berusaha menyatukan kedua alisnya. Taehyung menanyakan alasan dari ketidakmauan Jungkook. Menahan uluran tangannya untuk kembali menyentuh rambut si adik kelas. Kelewat menggemaskan.
"Bagaimana jika nanti kau menculikku?".
Taehyung tertawa mendengarnya dan Jungkook suka melihat bagaimana kakak kelasnya itu mendongak saat tertawa. Membuat Jungkook puas memandangi rahang tegas milik Taehyung. Pemuda Kim itu ternyata tidak hanya tampan tapi juga menawan.
"Kau pikir aku Ahjussi mesum yang mengincar anak kecil sepertimu?".
"Aku tidak menyebutmu Ahjussi mesum".
"Ya ya, benar. Aku akan menculik mu jadi tolong ikut saja".
Kemudian Jungkook mengejar Taehyung yang berjalan mendahuluinya menuruni tangga.
"Aku tidak akan ikut jika kau mau menjualku di black market".
"Tau apa kau tentang itu?".
"Mereka bisa saja menjadikanku pelacur".
"Atau memotong-motong tubuhmu".
"Menjijikkan Hyung! Apa aku akan diperkosa juga?".
Mereka terus saling melempar kalimat hingga keluar rumah. Lebih tepatnya, Jungkook bertanya-hal buruk apa saja yang akan dia dapat saat berada di pasar gelap- dan Taehyung menjawab-tentu Jungkook akan mengalami semua yang dia tanyakan-. Taehyung berjalan di depan Jungkook. Menyuruh Jungkook untuk kembali mengunci pintu dan obrolan masih berlanjut dalam langkah menyusuri halaman.
"Jadi, kau tidak akan menjualku kan?"
Oh, haruskah Jungkook benar-benar berpikir ke sana?
"Jungkook dengar, kenapa aku harus repot menjualmu jika aku saja menginginkanmu".
Kalimat telak yang berhasil membungkam rentetan tanya milik Jungkook. Pemuda manis itu langsung menunduk malu. Menyembunyikan rona pipinya dan menghindari tatapan Taehyung yang teduh. Andai Jungkook mau mendongak untuk melihat sebuah ketulusan, yang bahkan tak disadari oleh Taehyung sendiri.
"Kau memang bukan Ahjussi, hyung, tapi mesum memang cocok untukmu".
Cicit Jungkook sambil berusaha meremas celana jeans yang di pakainya. Taehyung tersenyum melihat tingkah adik kelasnya yang selalu terlihat lucu dan kelewat menggemaskan. Dan lagi, bukankah Jungkook yang sejak tadi berpikiran mesum? Bertanya apa dia akan dijadikan lacur dan diperkosa? Berusaha mencairkan suasana, Taehyung langsung memakaikan satu helm yang dia bawa pada Jungkook.
"Oke manis, mari nikmati perjalananmu bersama orang mesum ini, yeah?".
Jungkook hanya bisa menggangguk sambil terus menunduk kemudian naik ke atas motor setelah Taehyung duduk. Mereka diam selama perjalanan. Jungkook sibuk mengucap -tenang, jangan cepat-cepat- dalam hati kepada pacu jantungnya.
Taehyung tak bisa menghilangkan senyum di wajahnya ketika merasakan tangan Jungkook yang semula berpegangan pada kedua sisi pinggangnya perlahan mulai merembet ke depan; memeluknya erat. Tangan pemuda itu melingkari tubuh Taehyung.
( ^^ )
.
.
.
"Wah, ini bagus hyung".
Hampir lima bulan hidup di seoul, Jungkook belum pernah melihat yang seperti ini. Jimin hanya pernah mengajak Jungkook keluar di sekitar komplek untuk mampir di kedai atau toko aksesoris dan tak pernah keluar malam. Jungkook juga tidak terlalu ikut dalam pergaulan teman-temannya yang suka hangout selepas jam sekolah. Belum lama, Jungkook memang pernah menyusuri sungai Han bersama Bambam dan Lisa, membeli odeng dan kembang api. Tapi itu hanya satu kali saat bulan Mei, hari di mana hubungan Taehyung dan si Jennie itu menyebar layaknya semut yang ditumpahi minyak tanah.
Singkatnya, Jungkook buta arah di Seoul.
Jungkook suka bunga. Di busan dia selalu membantu ibunya untuk merawat halaman belakang yang dihiasi berbagai bunga harum dan indah. Kebun bunga kecil milik ibunya yang cantik dan penuh warna. Jadi jangan salahkan rasa senang Jungkook begitu melihat padang bunga di tengah kota Seoul yang padat. Ini seperti keajaiban, dia bahkan tak percaya meski sudah mendengar penjelasan dari Taehyung.
Katanya ini adalah taman bunga mawar putih yang bersinar layaknya bintang di malam hari. Lebih dari dua puluh lima ribu bunga LED buatan di tanam di sini. Di atas gedung Dongdaemun Design Plaza.
Sangat indah.
Tak henti-hentinya Jungkook berucap memuji cantiknya tempat yang dia kunjungi saat ini. Gedung Dongdaemun saja sudah bagus saat hanya dilihat dari luar tadi dan lebih bagus saat dia memasuki kawasan History and Culture Park-nya. Luar biasa indah.
Sejak siang setelah Taehyung mengajaknya makan di restaurant seafood yang sangat enak, Jungkook benar-benar di manjakan. Mereka pergi ke sebuah tempat dengan banyak lukisan di tembok dan sepanjang jalan. Itu adalah daerah pemukiman padat penduduk di lingkungan Naksan di distrik Jongno. Mereka mengambil banyak foto di sana.
Lalu Taehyung menawarinya naik subway dan meninggalkan motornya di area parkir dekat stasiun. Selama di subway Jungkook melihat foto-foto barunya bersama Taehyung. Dia terus tersenyum dan tertawa mengomentari setiap foto yang tersimpan dalam ponselnya. Taehyung menjanjikannya untuk melihat setiap sudut kota Seoul kedepannya. Mereka turun di stasiun Dongdaemun History and Culture Park. Mengunjungi sebuah kafe sekedar membeli minum dan di sinilah mereka. Menikmati suasana romantis dari cantiknya taman bunga.
Ini hari minggu yang bahagia bagi Jungkook. Rasanya tidak ingin cepat berakhir. Tapi sepertinya Taehyung belum puas. Dia masih menyimpan satu tempat lagi sebelum mengantar Jungkook pulang. Satu tempat yang sebenarnya adalah tujuan utama mereka. Tempat yang membuat Taehyung datang menjemput Jungkook siang tadi.
Taehyung harap pemuda Jeon itu tidak menyesal setelah ini.
( ^^ )
.
.
.
Taehyung menghentikan motornya di tempat parkir gedung Seoul Central Hospital. Sebelum mereka memasuki lobi rumah sakit, Taehyung sempat berhenti untuk mengatakan satu kalimat peringatan pada Jungkook.
"Apapun yang ada di dalam nanti, kau harus kuat dan tidak boleh marah ya, Jungkook".
Perkataan Taehyung menimbulkan banyak spekulasi buruk dalam kepala Jungkook. Tapi pergerakan Taehyung yang menuntunnya untuk tetap diam menjadikannya hanya menyimpan itu semua dalam benak.
Ruang inap vip adalah tujuan mereka. Di sana Jungkook mendapati sepasang suami istri yang tidak lain merupakan kedua orang tua Jimin. Yang membuatnya terkejut adalah kehadiran dari kedua orang tuanya. Kenapa mereka semua di sini?
( ^^ )
.
.
.
"Eomma dan appa sampai di sini siang tadi. Maaf tidak mengabarimu dulu. Ini juga mendadak".
Bukan itu seharusnya jawaban yang ia dapat atas pertanyaannya. Mengapa kedua orang tuanya ada di Seoul? Terlebih di rumah sakit bersama paman dan bibi Park.
Jungkook memaksa mendapat penjelasan tentang ini.
Dan dia tak bisa menahan air matanya. Dia tertawa sepanjang siang hingga lewat jam makan malam di saat kakak sepupunyanya terbaring di rumah sakit. Sudah dua hari Jimin sekarat diambang kematian dan Jungkook baru diberitahu? Selama ini Jimin mengidap penyakit dan Jungkook baru tahu?
"Maaf merahasiakan ini, Jiminie yang minta".
Ibunya mengusap kepalanya lembut. Memberitahunya dengan amat halus. Tapi Jungkook tidak terima. Memang siapa dia hingga semua orang merahasiakan ini darinya? Apa Jungkook orang asing? Kedua orang tuanya dan Taehyung tahu Jimin di rawat. Bahkan orang yang tidak ada kaitannya dengan keluarga ini saja tahu. Jennie, kakak kelasnya yang kemarin memposting sebuah foto tangan yang terinfus. Gadis itu sudah ke sini di saat Jungkook justru mengkhawatirkan pemuda yang menyandang marga Kim.
Rasanya seperti dikhianati.
Bukan hanya oleh keluarganya tapi juga oleh Kim Taehyung. Memang siapa gadis itu untuk Jimin? Mereka bahkan tidak saling kenal. Kenapa Taehyung harus mengajak gadis itu untuk ikut menjenguk Jimin kemarin? Apa-apaan.
Jungkook tidak peduli. Dia merasa sangat bodoh jika terus ada di sini.
Taehyung menghela napas melihat Jungkook yang terus berjalan pergi tanpa menghiraukan teriakan ibunya. Jungkook bahkan belum lihat kondisi Jimin. Pemuda itu sama sekali tak berhenti. Meninggalkan dua pasang orang tua juga Taehyung yang sejak tadi sibuk menenangkan Jungkook. Taehyung menawarkan diri untuk ikut bersama bungsu Jeon, berjaga-jaga kalau pemuda itu menangis atau malah memilih melakukan hal bodoh. Seperti menyebrang sembarangan, mungkin?
( ^^ )
.
.
.
Putra tunggal dari keluarga Park yang kini menginjak usia sweet seventeen adalah seorang perwujudan nyata dari sosok malaikat. Banyak orang mengakui hal tersebut bahkan di lima menit awal perjumpaannya dengan pemuda bernama Park Jimin.
Tumbuh dalam lingkup kasih sayang orang tua sebagaimana yang diidam-idamkan oleh setiap anak adalah yang menjadikan pemuda itu selalu tersenyum bahagia menjalani hidupnya. Tidak hanya sifatnya yang di sukai karena kebaikan hatinya. Paras pemuda itu pun banyak di puji dengan ketampanannya sebagai laki-laki dan kecantikannya dalam tersenyum.
Jungkook pernah bertanya perihal Jimin yang memilih melanjutkan studinya dengan homeschoolinguntuk menyelesaikan SMA. Membatasi diri dalam setiap kegiatan yang seharusnya bisa pemuda itu rasakan di usia mudanya. Jimin hanya menjawab bahwa dia hanya ingin merasakan hal tersebut. Katanya dia tidak suka dengan peraturan sekolah yang kolot dan menjadikannya muak. Seperti tidak boleh mewarnai rambut dan mempunyai tato.
Yang Jungkook tidak mengerti waktu itu adalah bahkan Jimin tak punya setitik tato apapun di kulit mulusnya. Pun hingga sekarang. Tidak pernah sekalipun rambut Jimin terlihat tidak hitam. Tapi Jungkook hanya tak mau terlalu ikut campur dan mengenyahkan segala prasangkanya. Membuat Jungkook menyesal karena sifat cueknya yang tak mencoba lebih dekat pada kakak sepupunya itu. Dia menyesal begitu ingat ketika dirinya hanya akan meladeni Jimin saat Jimin lah yang menghampirinya.
Ibunya bilang, anak dari bibinya itu sedang berjuang untuk tetap tersenyum dan menikmati kehidupannya. Jimin sedang melawan hal jahat yang akan memisahkannya dari keluarga mereka. Dari kedua orang tuanya, dari sahabatnya, juga dari Jungkook.
Selama ini Jungkook tidak pernah sekali pun berpikir bahwa dengan semua yang di miliki kakak sepupunya itu, Park Jimin menyimpan rasa sakit yang luar biasa dihidupnya.
Bukan karena dia kehilangan kasih sayang dari setiap orang yang mencintainya. Bukan dari rasa yang dia kunci rapat-rapat untuk sahabatnya. Melainkan dari sebuah infeksi yang selama ini ia derita. Pemuda itu harus berjuang melawan penyakit yang menyerang sensor rasa sakit dalam tubuhnya. Fibromyalgia, jika Jungkook tidak salah ingat. Dokter masih tidak tahu kenapa Jimin sampai jatuh hingga masuk dalam fase koma. Tapi katanya, tingkat stres adalah kemungkinan utama.
( ^^ )
.
.
.
"Sejak kapan Hyung tahu?".
Jungkook sudah selesai dengan keterkejutannya mendengar segala penuturan bibi Park dan Mamanya. Kini Jungkook berdiri merasakan dinginnya hembusan angin di atap rumah sakit. Bersama Taehyung di sampingnya.
"Semester dua. Saat kami kelas tiga SMP".
Taehyung mendengar bagaimana Jungkook mendengus kemudian tertawa menyedihkan. Dia hanya diam mencoba mengerti kondisi Jungkook yang sempat terguncang mengetahui kondisi Jimin.
Taehyung memang tahu soal penyakit Jimin seminggu setelah pemuda itu menerima diagnosa dokter. Rasanya dia tak ingin mengingat bagaimana Jimin yang selalu penuh dengan senyum, terlihat begitu hancur meraih asa kala itu.
Pemuda Park itu menolak apapun yang seharusnya dia lakukan saat itu. Menolak ikut ujian akhir, menolak untuk mendengar saran dokter, menolak menemui Taehyung, menolak pengobatan, hingga menolak untuk tetap makan dan tidur. Jimin hanya menangis dan terus menangis.
Hampir dua puluh empat jam mengunci kamarnya yang akhirnya berhasil didobrak paksa oleh ayahnya. Taehyung ada di sana saat Jimin mengacungkan pisau dapur menolak siapapun untuk mendekatinya. Taehyung ada di sana saat Nyonya Park terus memohon dan membujuk Jimin untuk makan.
Hingga Jimin kelelahan dan terlelap dalam tidur panjangnya selama dua hari karena kurangnya asupan makanan. Menjadikan Taehyung ikut turun tangan dan memeluk sahabatnya itu hingga sesak. Memintanya bertahan untuk Taehyung. Jika tak ingin untuk dirinya sendiri maka Jimin bisa bertahan untuk sahabatnya.
Perlahan pemuda Park itu mendengarkan apa yang dokter katakan. Jimin melakukan apa yang harus dia lakukan sesuai keinginan Taehyung. Pemuda itu sempat menolak untuk tidak mendaftar di SMA seperti kawannya tapi kemudian Taehyung berjanji akan terus mengunjungi Jimin di sela waktunya membuat Jimin menjalani homeschool yang di jadwalkan Nyonya Park.
Jungkook diam mendengar Taehyung yang bercerita tentang Jimin dalam menerima penyakit yang di deritanya. Adik dari Jimin itu mencoba untuk tidak kembali menangis; membasahi pipinya dengan air mata seperti yang dilakukannya setengah jam yang lalu. Ketika dia meminta penjelasan. Kenapa semua orang tahu tapi Jungkook tidak? Kenapa Jungkook dibodohi hingga begini?
Setelah tak ada lagi suara dari mulut Taehyung, Jungkook pergi begitu saja setelah menyuruh Taehyung untuk tidak mengantarnya pulang. Pemuda itu hanya ingin sendiri.
Tapi bukan Taehyung jika tidak mengikuti Jungkook yang pulang menaiki bus dari halte depan rumah sakit. Taehyung melihat bahu Jungkook yang bergetar karena menahan tangisnya. Pemuda itu bersandar pada jendela bus hingga Taehyung yang mengendarai motornya di samping bus itu melihat bagaimana air mata Jungkook turun membasahi pipinya.
Jungkook tidak sadar bahwa Taehyung masih mengikutinya hingga ke rumah Jimin. Taehyung bahkan tetap berdiri di temani motornya untuk menunggu Jungkook mematikan lampu dalam kamarnya. Mengawasi adik kelasnya itu dari luar rumah Jimin.
( ^^ )
.
.
.
Pagi harinya Jungkook mendapati kedua orang tuanya dan paman Park ada di rumah. Mereka menyelesaikan sarapan dengan obrolan ringan minus Jungkook yang hanya diam dengan menanggapi seadanya dengan anggukan atau pun gelengan. Membuat ketiga orang tua itu sadar bahwa Jungkook masih belum bisa menerima kenyataan yang di hadapi Jimin.
Jungkook bahkan menolak tawaran ayahnya untuk mengantarnya ke sekolah. Begitu Jungkook selesai dan beranjak dari meja makan untuk memakai sepatunya, ibunya di sana untuk mengikuti Jungkook hingga depan rumah. Seperti dulu saat ibunya itu mengantarnya hingga ke pagar rumah saat dia SMP, untuk memastikan Jungkook tidak meninggalkan apapun untuk kegiatannya di sekolah.
Pasangan anak dan ibu itu mendapati seorang pemuda yang berdiri bersandar di tembok pagar rumah keluarga Park. Kim Taehyung memberikan salam pada Nyonya Jeon dan meminta izin dengan mengatakan akan berangkat ke sekolah bersama dengan Jungkook jika di perkenankan.
Tentu Nyonya Jeon tidak menolaknya karena pemuda tampan itu sangat baik dan sopan. Hingga rela untuk menjemput Jungkook. Semalam pun wanita itu tahu bahwa Taehyung mengawal anaknya untuk mencapai rumah. Jadi kenapa harus menolak tawarannya? Toh, artinya Jungkook akan selamat sampai sekolah, Taehyung yang jamin.
Awalnya Jungkook ragu dan ingin menolak karena dia masih merasa marah pada Taehyung dan tak mau dekat-dekat dengan pemuda itu, tapi mendengar ibunya yang menyuruhnya untuk cepat-cepat menjadikan Jungkook hanya diam dan menurut.
Begitu sampai di kelas, Jungkook merasa menjadi artis dadakan karena di kerubungi oleh gadis-gadis kelasnya yang bertanya seputar kenapa dirinya bisa berangkat sekolah bersama sunbae mereka yang tampan. Sejak kapan Jungkook dekat dengan senior Kim itu hingga pertanyaan aneh mengenai apakah Jeon Jungkook berpacaran dengan Kim Taehyung.
Jungkook bingung-terlalu berisik- dan muak jadi dia diam tanpa niat untuk menjawab dan menyuruh teman-temannya itu untuk menghilangkan rasa penasaran mereka yang berlebihan. Memang kenapa jika dia ke sekolah bersama Sunbae-nya? Kenapa jika dia dekat dengan kakak kelas- nya?
"Ku pikir kau membencinya Kook".
Lisa yang semenjak kedatangan Jungkook hanya diam. Memilih bersuara begitu pemuda yang tadi di kerubungi telah duduk di kursi.
"Memang".
Jungkook menjawab dengan nada kesal. Tentu saja dia benci. Memangnya dia artis yang harus di wawancarai? Tidak biasanya dia jadi pusat perhatian di kelas, terlebih ini di sekolah, sepanjang tempat parkir-koridor semua mata memandangnya.
"Tapi kau terlihat dekat dengannya".
Yuju yang duduk di atas meja Lisa pun ikut dalam merecoki Jungkook. Membuat Jungkook sadar bahwa maksud Lisa tadi bukan benci terhadap suasana yang Jungkook alami tapi benci kepada senior Kim. Seharusnya Jungkook jawab tidak, dia tak benci Kim Taehyung, dia hanya marah saja. Tapi Jungkook tak ingin membenarkan perkataan Yuju juga. Apa yang harus Jungkook katakan?
"Kebetulan saja dia sedang baik hati dan mengajakku berangkat bersama".
"Artinya kalian memang dekat hingga kau bisa tahu suasana hatinya".
Sialan untuk mulut biadab milik Bambam yang memojokkan Jungkook dengan telak. Menjadikan pemuda bergigi kelinci mendengus keras. Lisa dan Yuju kompak mengatakan 'nah' serempak. Seakan setuju pada Bambam.
"Bukankah kalian tidak suka membahas dia?".
Ungkap Jungkook mengingatkan. Karena sungguh dalam obrolan mereka selama ini, Kim Taehyung adalah hal tabu. Tak sekalipun mereka menyinggung soal senior Kim.
"Jangan coba menghindar Kook!".
"Serius! Aku benar berpikir bahwa ada sesuatu dengan kalian".
"Kalian lihatkan bagaimana wajahnya tadi saat memandang Jungkook yang tiba-tiba berlari begitu turun dari motornya?".
Persetan dengan ketiga temannya yang sedang out of the character. Jungkook hanya perlu fokus pada pelajaran hari ini karena bel masuk baru saja berbunyi.
( ^^ )
.
.
.
Jungkook sedang mengisi jurnal kelasnya di temani oleh Lisa dan Bambam. Mereka sepakat untuk mampir ke tempat makan baru di daerah Gangnam yang merupakan milik ibunya Lisa. Tak ada siapapun selain mereka di sana. Jungkook sibuk dengan jurnalnya. Bambam dengan game dalam smartphone-nya. Dan Lisa sibuk mengganggu Jungkook dengan rasa penasarannya.
"Kook, kau serius mau membuatku mati penasaran ya?".
Kesekian kalinya Lisa bertanya dan hanya gumaman huruf 'e' plus 'm' dari Jungkook yang dia dapat. Gadis itu berdiri menggunakan lututnya dengan tubuh yang sepenuhnya bersandar pada meja yang di tempati Jungkook. Tangannya terlipat rapi sebagai bantalan kepalanya yang sejak tadi miring ke kiri dan ke kanan.
"Kook, Kau serius mau-".
"Diamlah Lisa! Kau tidak akan dapat apapun".
Bambam yang sejak tadi anteng dalam memainkan ponselnya mulai jengah juga mendengar Lisa yang terus menanyakan hal yang sama; pun dengan kalimat tanya yang sama persis setiap menit.
"Apa pedulimu? Jujur saja kalau Kau juga penasarankan? Lagipula-".
Jungkook menutup buku jurnalnya dengan keras sambil teriak bahwa dia sudah selesai dan membuat kedua temannya terlonjak. Dia bangun dari duduknya dan memakai tas kemudian melenggang keluar, seakan tak peduli pada dua jenis kelamin yang hendak adu mulut. Bambam bergerak cepat mengekorinya.
Jungkook bisa bersabar untuk mendengarkan pertanyaan yang sama dari Lisa. Tapi untuk mendengarkan perdebatan tidak penting antara kedua temannya yang berkewarganegaraan bukan Korea. Jungkook akui, dia tidak sanggup.
"Hei! Kenapa kalian mengabaikanku?".
Teriak Lisa kemudian mengejar kedua temannya yang sudah lebih dulu keluar dari kelas.
( ^^ )
.
.
.
Hampir dua puluh menit berlalu setelah bel akhir berbunyi. Taehyung masih berdiri menyandar pada body motornya. Pemuda yang pagi tadi membuat heboh karena kedatangannya bersama murid kelas satu yang tak banyak diketahui eksistenainya. Terlebih pemuda yang dia bonceng malah lari meninggalkan seniornya begitu saja.
"Oppa!".
Taehyung tersenyum pada Jennie yang melangkah mendekatinya kemudian berdiri di hadapannya. Gadis yang belum lama ini menjadi miliknya itu tersenyum teramat manis. Taehyung bertanya kepada mantannya itu kenapa belum pulang mengingat ini sudah cukup sore dan sekolah hampir sepi.
"Uang ku habis... dan aku lupa bawa dompet".
Gadis itu berbicara dengan cemberut lalu berubah menjadi cengiran lucu tanpa rasa bersalah. Seperti gadis lima tahun yang mengadu pada ayahnya. Taehyung mengusap pelan pelipis mantan kekasihnya dan tersenyum maklum.
"Hah~ ceroboh sekali sih".
"Hehe, kan ada Oppa, bus tidak akan memberiku tumpangan gratis. Jadi antarkan Aku, ya?".
Niat Taehyung menunggu bukanlah untuk Jennie, tapi melihat bagaimana gadis di depannya ini memasang puppy eyes yang menggemaskan membuatnya lupa pada tujuan awal.
"Kapan aku menolakmu? Kau minta putus pun aku turuti kan?".
"Yay, Oppa-jjang!".
Taehyung meninggalkan area parkir sekolah begitu Jennie duduk di belakangnya dan memeluknya erat. Juga meninggalkan tiga orang murid kelas satu yang sempat berhenti mengamati tindak lakunya pada mantan teman kencannya.
( ^^ )
.
.
.
"Karena itu kau dekat dengannya?".
Jungkook hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Bambam. Tapi kemudian dia menjawab dengan suara bahwa mereka tidak dekat, hanya kebetulan berangkat bersama.
Mereka bertiga sudah berada di restaurant baru yang mereka tuju. Sembari menunggu pesanan datang Jungkook memutuskan untuk membuka suaranya perihal Kim Taehyung, setelah mendengar kedua temannya yang sejak perjalanan menuju tempat makan selalu membahas Kim Kim Couple. Sangat di luar kebiasaan yang membuat telinga Jungkook panas. Tidak taukah bahwa mereka bukan lagi sepasang kekasih?
Tentu Lisa dan Bambam masih belum tahu bahwa kedua orang bermarga Kim itu tidak lagi sepasang kekasih. Tapi mengingat interaksi keduanya di area parkir sekolah, Jungkook jadi ragu. Apa Jennie bohong soal putusnya hubungan mereka?, Jungkook mencibir dalam hati. Tapi kemarin Taehyung memebenarkan pertanyaannya soal putusnya mereka kok. Iya, Jungkook ingat. Jadi haruskah Jungkook mengatakan ini atau tidak?
Sayangnya dia tidak berani. Dia takut Taehyung akan marah karena Jungkook menyebarkan ini dan menyebutnya penggosip. Lagian tensi diantara dia dan Taehyung masih buruk karena Jungkook masih marah pada Taehyung soal Jimin. Dia tidak mau keadaan jadi semakin buruk nantinya jika Taehyung juga marah padanya dan mereka terlibat perang dingin lagi. Mereka bahkan baru berbaikan kemarin, meski tanpa kata maaf.
Biar Jungkook saja yang marah. Taehyung jangan.
Jadi untuk membuat Lisa dan Bambam berhenti, Jungkook mengatakan kalau senior Kim adalah teman dari kakak sepupunya yang sering main ke rumah. Lambat laun mereka dekat meski tak akrab.
"Dan untuk yang tadi pagi?".
Sepertinya Lisa masih saja penasaran.
"Seperti yang kalian bilang, Taehyung sunbae memang orang yang baik. Dia hanya menghiburku karena Jimin hyung masuk rumah sakit".
Hanya 'oh' panjang yang keluar dari mulut Lisa dan Bambam. Kemudian tak ada lagi bahasan tentang siapapun bermarga Kim dalam obrolan mereka selanjutnya ketika asyik menghabiskan makanan yang mereka pesan.
Ibu Lisa baik sekali, wanita itu menolak pembayaran dari Jungkook dan Bambam. Katanya, sebagai rasa terima kasih sudah mau berkunjung juga berteman dengan anak gadisnya. Lisa terlihat sangat cuek di sekolah. Tapi bersama ibunya gadis itu menjadi sangat manis. Jungkook mengakui itu dalam hatinya.
Jungkook pulang bersama Bambam menggunakan taksi. Bukan untuk menyombongkan diri, mereka hanya lelah, terlebih malas untuk berdiri sepanjang perjalanan di dalam bus mengingat ini jam pulang kantor. Lagipula, Bambam ngotot akan membayar ongkosnya, Jungkook hanya menerimanya dengan senang hati.
( ^^ )
.
.
.
Taehyung melihat Jungkook yang keluar dari dalam taksi, tepat di depan rumah Jimin. Pemua Kim menghampiri Jungkook yang seketika diam begitu mata bulatnya menangkap sosoknya. Jungkook hanya menunggu. Tetap berdiri di luar pagar. Menunggu Taehyung sampai di depannya. Tapi selayaknya Jungkook yang memilih diam, Taehyung pun sama.
Jungkook menahan kata-katanya sekuat mungkin. Dia sudah menahan ini sejak malam kemarin. Lalu tadi pagi hingga saat ini. Apakah harus dia tetap menahannya hingga besok bahkan lusa. Tidak mungkin.
"Kenapa kau membawanya ke sana lebih dulu?".
Kening Taehyung mengerut.
"Apa maksud-".
"Jennie sunbae... kenapa kau membawanya ke rumah sakit dan bukannya aku dulu?".
Jungkook merasakan bibir bawahnya bergetar membuatnya tanpa sadar menggigitnya untuk diam. Matanya perih. Tapi Taehyung malah sempat-sempatnya menggoda Jungkook. Bertanya. Jadi ini penyebab marahnya Jungkook pada Taehyung? Bukan karena pemuda itu ikut menyembunyikan rahasia Jimin? Melainkan mengajak Jennie untuk menjenguk sahabatnya?
"Itu berbeda! Aku juga marah untuk itu...".
"Ayo masuk dulu, ibumu menunggu".
Taehyung mencoba melangkah lebih dekat untuk mengajak Jungkook masuk. Pemuda itu justru mundur selangkah. Menampik uluran tangan Taehyung. Memaksa Taehyung untuk cepat memberinya jawaban. Taehyung mencoba kembali melangkah maju dan Jungkook justru semakin menuntut.
"Jawab aku!".
"Karena aku bersamanya!".
Taehyung menarik napas dalam dan menahannya. Dia baru berteriak pada Jungkook hingga pemuda itu terlonjak. Sedetik wajahnya mengeras dan dia merasa bersalah melihat Jungkook yang terkejut setengah takut. Kali ini dia berusaha untuk menjaga suaranya.
"Saat Eomma menelpon bahwa Jimin koma aku di jalan mengantarnya pulang. Pikirmu aku ingat untuk tetap mengantarnya? Fokus ku langsung pada Jimin, Jungkook. Memacu motorku ke rumah sakit".
Jungkook tidak merespon. Bahkan saat Taehyung mengangkat satu alisnya dan menunjuk ke arah rumah dengan dagunya. Isyarat apa Jungkook sudah mau masuk ke rumah atau belum. Kepalang tanggung bagi Jungkook. Masih ada yang mengganggunya.
"Bukan karena dia lebih... berarti?".
Taehyung mendengus dan terkekeh geli.
"Kau ingin aku menjawab apa?".
Entah sadar akan pertanyaannya atau apa. Jungkook jadi salah tingkah. Pemuda itu menunduk dan melarikan matanya ke kanan dan ke kiri. Setelahnya dia mendongak hanya untuk menatap sekilas pada Taehyung sebelum berbalik pergi melewati pagar.
"Lupakan. Aku mau masuk".
Taehyung hanya tersenyum melihat punggung Jungkook. Kemudian niat jailnya kembali mencuat.
"Apa kau mau dengar bahwa kau lebih berarti darinya?".
Pertanyaan Taehyung menghentikan langkahnya. Detak jantungnya meningkat dan Jungkook gugup. Telinganya mendengar langkah Taehyung di belakang, semakin dekat. Tubuhnya di putar untuk kembali menghadap pemuda Kim. Taehyung membawa kepalanya untuk mendongak. Menyentuh lembut dagu Jungkook, menjaga pandangannya tetap lurus pada Taehyung.
Tuhan, Jungkook harus jawab apa?
Ya atau tidak?
.
.
.
.
.
( TBC )
Terima Kasih.
Tbh sih, ada rasa kurang puas untuk ch ini :)
but, i hope yall don't feel it :(
mohon review-ne?
...
Special Thanks for you who gimme review:
idiotqueen [hehe, sori tbc nya udah paten di situ XD oke :v]
ZzzK [makasih :D semangat juga bacanya!]
dianaindriani [seperti yg ku bilang kemarin 'mereka masih remaja labil' maklumin aja... mungkin JK lagi pms? XD]
Nichola Arisue [wah makasih, semoga gk capek nunggunya ;) /eh XD]
Ly379 [he'em bisa jadi tu... :D]
itsathenazi [nah, bisa maju bisa juga ngk/lol/ iya berdoalah semoga yoongi cepat dateng :D]
HilmaKins [semoga di ch 4 ini gk bingung lagi ya :) well, makasih]
Guest [:D makasih, nah semoga ini juga tetep seru ya]
semut bakar [sayang bukan tae,, tapi ncimmoll yg collapse, huhu / :') ]
Homin lover [sudah terjawab ya siapa yg sakit, huhu... nah, welcome to you :D]
Jika ada rasa kurang puas dg jawaban aku di sini, boleh ko kalo mau pm, tapi gk janji fast respon ya... hehe /XD/;
Fav and follow :
Buzlague, KukisEnaHALAL, TaeJung1, dianaindriani, CaratARMYmonbebe, JeonXXX, Taekooks'cream, obatnyamukbakar, Ly379, bibble-ie, jvodka-ssi, solideo62, idiotqueen, kelincitembem, reepetra, jeykeyy, Nichola Arisue, World fanfiction, 7, Adilaarang, HilmaKins, Springtae-sama, SwaggxrBang, TaeBaby10, Yuth girsang, aliceus, lailannur00, Ewin Karoyani, Tipo, 99, itsathenazi, taemochii, Haodong;
waiting and also red this fic.
...
Disclaimer : The ownership I have is just this Storyline. Any Name, Brand, or Anything else is not mine.
.
Coming Soon Chapter 5
"Kenapa harus kau, Hyung?"
.
"Kenapa bukan Lisa atau Yuju saja?"
.
"Kau harus melakukan ini untuk membangunkan ku lain waktu".
Jungkook masih diam tanpa menolak apapun. Matanya hanya fokus pada usapan tangannya yang kini tak lagi mendapat bimbingan dari Taehyung. Dia terus mengusap secara perlahan sisi wajah Taehyung.
.
Jangan mencariku. Jangan datang padaku. Lakukan itu untuk orang lain Jungkook. Tiga kalimat yang terus menggema dalam kepala Jungkook.
.
