Disclaimer : Hidekaz Himaruya
Rating : Masih T. Bisa berubah sewaktu - waktu tergantung mood Author.
Warning : Author newbie, jadi banyak TYPO dan aneh. Abal2 dan tidak masuk di akal. Ini percobaan nekad dari author yang baru ngeh dikit tentang hetalia. *ditimpuk pake batukali se-truk*
Cerita Sebelumnya:
"Oh... kalau begitu aku akan kembali ke asrama sendiri saja." Kata Nesia berbalik hendak pergi.
"Jangan! Setelah dua serangan dalam sehari ini, terlalu berbahaya untukmu kembali sendirian. Kami akan mengantarmu sampai gerbang asrama." Kataku menyeret Nesia dan Alfred keluar dari sekolah.
Tumben sekali Nesia tidak memberontak seperti tadi pagi. Alfred berjalan di sampingku, sementara Nesia tertinggal selangkah di belakangku. Ah, iya, aku hampir lupa ingin menanyakan tentang kalung yang dipakainya pada Nesia. Aku menemukan bahwa Nesia memakai kalung dari platina tadi pagi saat menghisap racun dari lehernya. Mungkinkah dia anggota ke-5 yang dimaksud Francis?
Sebaiknya nanti saja aku menanyakannya. Sekarang bukanlah waktu yang tepat. Sekarang adalah waktu untuk memperketat penjagaan karena mereka sudah mulai agresif dan tinggal satu makhluk lagi yang mereka incar. Entah mengapa instingku mengatakan jika Flying Mint Bunny dan teman - temanku dalam bahaya.
—OOOoooOOO—
ARTHUR POV
Aku akan memikirkan segala cara untuk membuat mereka yang entah siapa pun itu berhenti dari tindakan bodohnya. Berani - beraninya mereka menantang personifikasi Britania Raya ini. Aku tidak akan segan lagi untuk mencarinya. Sudah cukup dengan korban kali ini. Akan aku acak - acak area bangunan lama.
Tanpa sadar, kakiku sudah melangkah jauh meninggalkan sekolah dan menuju asrama wanita. Hh... terlalu banyak hal yang membuatku marah hingga tak bisa berpikir jernih belakangan ini. Aku sadar, penjagaan di malam hari ini tak banyak membantu. Tapi, aku takut ada kemungkinan serangan lain saat semua terlelap dan tak satupun yang bisa menyelamatkannya.
Langkah kami terhenti setelah kami berada di depan asrama wanita. Aku melirik Nesia yang juga berhernti selangkah di belakangku. Wajahnya tertunduk dan tertutupi rambutnya yang tergerai. Aku bingung dan langsung berjongkok di hadapannya untuk menatapnya yang terus menunduk. Alfred juga ikut - ikutan berjongkok di hadapan Nesia.
"Ada apa?" Tanyaku bingung. Bukannya menjawab, Nesia malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ada apa?" Sekali lagi aku bertanya pada Nesia. Akhirnya aku memaksanya untuk menatap mataku.
Wajah Nesia merah padam seperti sedang demam. Tapi, tanganku tidak merasakan peningkatan suhu tubuh Nesa dari dagunya yang kini aku tahan agar tak memalingkan wajahnya lagi. Nesia tetap diam tak menjawabku.
"Oh, aku tahu. Kaicho, itu..." Kata Alfred sambil menunjuk sesuatu arah.
Aku mengikuti arah telunjuk Alfred. Ah! Tanpa sadar, sejak tadi aku menggenggam tangan mungil Nesia. Buru - buru aku melepaskan genggaman tanganku darinya. Karena terbiasa menggandeng tangan adikku saat kecil, aku sampai lupa kalau makhluk mungil ini mungkin tak terbiasa dengan sentuhan fisik seperti Kiku. Well, yang pernah aku tahu, sentuhan fisik seperti ini memang masih tabu di negara - negara Asia. Tapi, ini kan hanya gandengan saja. Masa iya sampai sebegitunya?
"Ugh, ARTHUR BODOH! KENAPA TIDAK MENYADARINYA SEJAK TADI?!" Semprot Nesia tiba - tiba lalu pergi meninggalkan kami begitu saja.
Aku menatap Alfred dengan pandangan heran. Alfred hanya terkikik melihatku yang bingung terkena semprotan Nesia. Kami segera bangkit dan pergi menuju asrama pria.
"Ada apa sih dengan kurcaci kecil itu?" Tanyaku bingung.
"Salah Kaicho sendiri sih. Nesia itu lebih tertutup dan pemalu dari Kiku. Dia tidak terbiasa dengan sentuhan fisik antar lawan jenis, Kaicho. Adiknya saja hampir semuanya perempuan, makanya dia tidak terbiasa dengan laki - laki." Terang Alfred membuatku mengangguk mengerti.
Ternyata dugaan awalku benar. Ah, dia memang gadis yang menarik. Aku baru tahu di zaman ini masih ada gadis yang tidak terbiasa dengan pegangan tangan. Bahkan wajahnya jadi lebih merah dari pada tomat segar. Memikirkannya saja membuatku geli sendiri mengingat wajahnya yang benar - benar lucu.
Aku pun mengunci pintu kamarku. Baru saja kepalaku menyandar pada bantal, pikiranku terusik dengan satu hal. Kemana Lukas? Biasanya dia tidak sulit dicari. Well, mungkin lebih baik aku coba hubungi dia. Ng? Lho? Kenapa Lukas tak mengangkatnya? Nadanya tersambung, namun Lukas tak juga menjawab panggilanku. Apa dia sedang sibuk?
Aku sudah coba menghubungi Lukas sebanyak 5 kali. Tak ada satu pun panggilanku yang terjawab. Akhirnya aku meninggalkan ponselku di atas kasur setelah membantingnya dengan cukup keras ke kasur dan pergi untuk mandi. Huh, nanti juga akan telepon balik jika sadar ada panggilan tak terjawab dariku.
Air dingin mengalir melalui kepalaku. Ya, aku sengaja mandi tidak menggunakan air hangat untuk mendinginkan kepalaku yang rasanya sudah dipenuhi asap tebal. Aku butuh penjernihan pikiran untuk mencari cara menangkap mereka. Aku tak mau nama baikku sebagai tameng pelindung hancur karena kasus ini.
Selesai menggosok tubuhku di bawah shower, aku berganti pakaian dan bersiap untuk patroli malam ini. Well, aku makan malam dulu sebelum benar - benar keluar asrama untuk patroli. Tepat ketika aku akan membuka pintu, seseorang mengetuknya. Ternyata Lukas.
"Selamat malam, Tuan Arthur Kirkland." Sapa Lukas tak seperti biasanya. Aku tahu nada ini, dia pasti ingin membicarakan sesuatu yang penting dan sangat rahasia.
"Tidak usah berbasa - basi, git. Aku tahu kau mau sesuatu." Ucapku dingin.
"Hahaha... ternyata kau tahu apa yang aku inginkan." Kata Lukas melepas sikap formalnya.
"Masuk! Kalau mau bicara, jangan di tempat umum." Kataku lalu menyingkir dari pintu.
Kami duduk di sofa yang ada di pojok kamarku. Well, aku tak suka berbasa - basi ria dan langsung menanyakan tujuannya.
"Ada apa? Oh, iya, kenapa tidak mengangkat teleponku?" Tanyaku langsung tanpa basa - basi.
"Oh, ponselku tertinggal di kamar. Aku tak tahu kau meneleponku. Aku kemari karena ada berita dari kepala sekolah. Magic Club diminta untuk menyebar anggotanya ke ke-3 gedung kelas, asrama, dan area bangunan lama." Kata Lukas.
"Kepala sekolah tahu masalah ini?!" Aku terkejut bukan main.
"Entahlah. Aku hanya disuruh menyampaikan itu pada semuanya." Kata Lukas ringan.
"Aneh. Aku belum memberi tahu apa - apa pada Pak Tua itu." Kataku bingung dengan perintah dari Pak Tua itu.
"Nah, itu juga yang ingin aku tanyakan padamu. Memangnya kau yakin belum melapor apapun kepada beliau?" Tanya Lukas memastikan.
"Yakin. Dan tak akan ada yang berani melapor kecuali atas izinku. Ah, kecuali..." Aku tak melanjutkan kata - kataku.
"Kecuali apa?" Kali ini Lukas terdengar begitu penasaran.
"Ah, bukan apa - apa. Mungkin aku lupa membungkam mulut kodok itu. Kalau begitu, besok akan aku bagi penjagaannya agar tidak bentrok dengan pembagian dengan OSIS dan Dewan Keamanan. Sekarang, aku harus patroli lagi. Kau mau membantuku kan?" Kataku menutupi perkiraanku.
"Dengan senang hati." Kata Lukas.
"Kalau begitu, bantu Willem menjaga wilayah sekolah." Perintahku.
"Baiklah. Kalau begitu, aku bersiap dulu di kamarku." Setelah berkata begitu, Lukas pergi dari kamarku dan meninggalkanku yang termenung sendirian di sofa empukku.
Tidak, Francis tidak selancang itu. Aku yakin anggota ke-5 itulah yang melaporkannya. Tapi, siapa? Apa Nesia? Bukankah dia baru tahu hari ini tentang detail kasusnya? Aku yakin sekali Nesia tidak ada waktu untuk melapor kepala sekolah tentang apa yang terjadi. Kecuali...
Aku segera mengambil ponselku begitu aku baru teringat jika aku belum memiliki nomor ponsel Nesia. Bloody hell! Aku lupa jika aku belum meminta nomor gadis itu. Baiklah, akan aku pastikan dia memberiku penjelasan malam ini juga.
Segera, aku melesat meninggalkan kamarku menuju luar dan berkeliling sebentar hanya untuk memastikan keadaan sebelum kakiku melangkah ke tempat Nesia. Aku tak peduli dengan peraturan dan tanggapan bodoh orang lain ketika melihatku memasuki area asrama wanita. Yang pasti aku hampir lengah karena keunikan Nesia sampai aku lupa betapa mencurigakannya gadis itu.
—OOOoooOOO—
NESIA POV
Saat berkata aku mengambil tasku dan menunggu Eliza, aku tidak berbohong. Karena memang itu niat awalnya, lalu, aku baru ingat jika aku belum memberikan laporan harianku ke kepala sekolah. Ya sudah, aku lapor saja kejadian penyerangan hari ini. Lalu, setelah melapor, ternyata Eliza belum juga kembali dan aku melihat Arthur dalam keadaan menyedihkan seperti itu.
Entah apa yang merasuki diriku saat itu, aku tak suka melihat Arthur lemah seperti itu. Tidak sesuai dengan imej menyebalkannya. Dan lagi... rasanya lucu ketika bertengkar karena hal sepele dengannya. Hal itu membuatku terkikik geli di bawah guyuran shower ini.
Setelah aku matikan shower, aku beralih kepada bathup yang aku isi kembang 7 rupa, yaitu mawar merah, mawar putih, kantil, melati, kenanga, sedap malam, dan melati gambir. Kembang 7 rupa mempunyai arti dan makna dalam kehidupan manusia. Bunga Mawar Merah yang mempunyai makna kelahiran diri manusia ke dunia. Bunga Mawar Putih yang maknanya ketentraman, sejahtera, dan damai. Lalu bunga Kantil, yaitu memiliki jiwa spiritual yang kuat untuk meraih sukses lahir maupun batin. Bunga Melati bermakna dalam melakukan tidakan selalu melibatkan hati (kalbu), tidak semerta merta melakukan. Bunga Kenanga mengandung makna generasi penerus leluhur. Bunga Sedap Malam melambangkan keharmonisan dan ketentraman. Dan yang terakhir, bunga Melati Gambir bermakna kesederhanaan.
Tidak ada tata cara khusus sebenarnya, karena aku bukan melakukan ruwatan maupun upacara adat kehamilan dan kelahiran. Hanya menghilangkan rasa jijik karena sentuhan laki - laki lain. Yah, mungkin kata jijik bukan kata yang tepat sih karena aku bukan pengidap Obsessive Compulsive Disorder. Aku hanya mau memurnikan kembali, kalau kata Ayah, diriku dari sentuhan orang - orang yang tidak berhak, belum berhak, menyentuhku. Dan cara termudahnya ya seperti ini, membasahi seluruh tubuhku dengan air yang sudah dicampur kembang 7 rupa.
Aku tak tahu sebenarnya apa maksud dari mandi kembang ini. Aku hanya menjalankan adat dan kebiasaan yang Ayah dan Ibu turunkan padaku. Lagi pula, aku juga merasa lebih segar dan tenang setelah berendam dengan air yang dicampur kembang 7 rupa. Mungkin ini hanya efek psikologis sebab aku mengikuti apa yang orang tuaku ajarkan. Entahlah, yang pasti aku merasa ini ada untungnya bagiku, selain sebagai parfum alami saat mandi. Hehehe...
Tepat saat kakiku menginjak lantai luar kamar mandi untuk berganti pakaian, pintu kamarku diketuk. Mungkin si Malay atau Eliza. Tadi sore kan Eliza bilang di pesan singkat akan mampir ke kamarku dulu sebelum berjaga. Aku segera mengganti pakaianku dan membungkus rambutku yang basah dengan handuk. Aku hampir lupa jika malam ini aku bertugas untuk menjaga wilayah asrama. Dengan terburu - buru, aku memakai celana training panjang dan kaus lengan panjangku karena udara malam cukup dingin jika harus memakai baju lengan pendek.
Ketukan pintu semakin keras terdengar. Huh, dasar tidak sabaran! Untung aku sudah makan dan tidak ada tugas malam ini. Dengan masih menggosokkan rambutku yang terbungkus handuk agar cepat kering, aku membuka pintu kamarku dengan satu sentakan.
Mataku terbelalak. Bukan Maya ataupun Eliza yang aku dapatkan dibalik pintu kamarku. Tidak, bukan Kiku dan Alfred juga seperti kemarin. Arthur si alis tebal menyebalkanlah yang ada di balik pintu itu. Ada apa dia kemari? Bukankah ini melanggar peraturan? Bahkan dia sendiri yang memintaku dan Eliza membantu mengamankan situasi disini agar tidak melanggar peraturan lagi.
"Ada apa? Kenapa kemari?" Tanyaku heran.
"Aku perlu bicara berdua denganmu. Ada beberapa hal yang harus aku pastikan tentangmu." Jawab Arthur dingin.
"Tidak bisa nanti?" Kataku berusaha untuk mengundurnya.
"Harus sekarang, ini penting. Kita ke dermaga agar tak ada yang mencuri dengar." Kata Arthur bersikeras.
"Baiklah, tunggu 5 menit. Aku akan menaruh handukku dulu." Kataku lalu langsung menutup pintu.
Setelah menaruh handuk, menjepit rambutku dengan jepit bunga melati kesayanganku, dan mengantungi ponselku, aku keluar dari kamar bersama Arthur setelah terlebih dahulu mengunci pintu kamarku. Kami bergegas keluar asrama sebelum ada penghuni lain yang keluar dan melihat kami bersama. Aku tak mau berurusan dengan siswi lain.
Kini, kami berada di jalan utama dan melangkah menuju dermaga. Kami terdiam satu sama lain sepanjang jalan menuju dermaga. Yah, hanya sekolah dan dermaga saja yang merupakan kawasan netral dimana siswa laki - laki dan siswi perempuan boleh bertemu secara bebas. Karena dermaga ini gelap dan dekat dengan hutan, tak banyak yang mau kemari. mereka lebih memilih bertemu di sekolah atau di jalan utama. Walau tak banyak juga yang berani keluar pada malam hari.
"Jadi, apa yang ingin kau pastikan tentangku, Arthur?" Kataku begitu aku duduk di pinggir jembatan menghadap ke laut. Tanganku menopang pipiku yang mengarahkan wajahku menghadap Arthur yang sudah duduk disampingku.
"Kalungmu itu... dari platina?" Tanya Arthur terdengar ragu. Seperti ragu untuk marah atau tidak(?).
"Begitulah. Kau tahu darimana aku memakai kalung platina?" Kataku bingung.
"Aku tak sengaja menyentuhnya saat menghisap racun tadi pagi. Jadi, dari mana kau dapatkan kalung itu?" Kata Arthur seolah menginterogasiku.
Aku teringat kata - kata kepala sekolah untuk tidak membocorkan apapun mengenai kalung ini. Eh? Bukankah beliau hanya berpesan untuk jangan sampai ada yang mengetahui aku memakai kalung ini? Ah, aku jadi teringat perkataannya sore tadi.
"Terima kasih atas laporannya hari ini. Teruslah melaporkan perkembangannya padaku. Aku izinkan kau untuk membantu mereka, tapi jangan lupa untuk terus merahasiakan tugasmu ini dari mereka. Dengan begini, kau akan lebih mudah bergerak tanpa perlu takut dicurigai." Kata kepala sekolah panjang lebar setelah menerima laporan dariku.
"Baiklah, aku mengerti." Kataku menanggapi peringatannya.
"Kalau bisa, bawa dokumen asli milik Arthur itu kemari. Biar aku yang menyimpannya nanti sebelum aku musnahkan bersama dokumen lain yang mereka gunakan untuk upacara itu. Aku takut akan ada salinan lain dari dokumen terkutuk itu jika terus berada di tangan Arthur. Aku yakin kau bisa mengambilnya tanpa menimbulkan kecurigaan kan, Nesia? Aku tahu Arthur pasti tak akan mengizinkanmu mengambil dokumen itu jika kau memintanya baik - baik." Kata kepala sekolah lagi - lagi memberikan tugas tambahan bagiku.
"Akan aku usahakan secepatnya karena Arthur menguncinya dalam brankas. Aku tak begitu yakin bisa mengambilnya karena mengingat betapa rapinya Arthur menyimpan dokumen itu, tapi akan tetap aku usahakan." Kataku berusaha menyanggupinya karena memang tidak boleh ada penolakan dalam surat perjanjian yang ditanda tangani Ayah yang kemudian ditujukan untukku itu yang kemudian terpaksa aku tanda tangani juga.
"Oh, iya, mengenai luka di lehermu itu... Apa Arthur sendiri yang mengobatinya?" Kata kepala sekolah yang membuatku terheran karena pertanyaan anehnya itu.
"Begitulah." Kataku sekenanya.
"Kalau begitu, mungkin Arthur akan bertanya mengenai kalung itu. Kau tak perlu mengatakan apapun dan cukup memperlihatkan liontin itu pada Arthur. Dia tidak akan bertanya lagi padamu." Kata kepala sekolah misterius. Ah, aku benci sikap sok misteriusnya itu.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, aku permisi." Kataku pamit sebelum aku semakin jengkel dengan semua tingkah tua bangka itu. Jika saja dia bukan teman Ayah dan aku tidak terikat kontrak perjanjian konyol itu, mungkin aku tak akan mau mendengar semua perintah dan kata - kata sok misteriusnya.
Aku mendengus kesal karena membayangkan kejadian tadi sore. Sungguh, semua itu membuatku tidak nyaman. Siapa coba yang harus menanggung resiko jika ketahuan? Hanya aku. Kepala sekolah tua itu hanya bisa memerintah dan tak menanggung resiko apapun. Jika saja waktu bisa aku putar lagi, mungkin aku sudah menghentikan Ayah dari semua tindakan bodohnya.
"Hei, kau mendengarku tidak?" Kata Arthur mengejutkanku dari lamunanku.
"Iya, aku dengar. Tentang kalung ini kan?" Kataku sambil menunjukkan liontin aneh yang menggantung di rantai platina kalung itu.
Mata Arthur sukses membulat dan sepertinya yang dikatakan kepala sekolah salah karena detik berikutnya Arthur menyemprotku dengan segudang pertanyaan.
"Kapan kau mendapatkannya? Kenapa bisa? Apa kau tak memikirkan bahaya menjadi 'pedang' sekolah?" Tanya Arthur bertubi - tubi membuatku pusing sendiri untuk menjawabnya.
"Aduh! Kalau nanya satu - satu! Aku jadi bingung harus jawab darimana." Ujarku kesal dengan banyaknya pertanyaan yang Arthur ajukan.
"Kalau begitu jawab dari pertanyaan pertamaku." Kata Arthur mulai tenang dengan nada dingin yang kentara.
"Dasar! Aku mendapatkannya belum lama ini dari seseorang dan aku tak tahu mengapa aku yang diberi kalung ini. Bahkan maksudnya saja aku tak tahu karena aku hanya diminta menjaganya dan merahasiakan aku memilikinya, kecuali padamu. Dan untuk pertanyaanmu yang terakhir, aku tak mengerti maksudmu, Arthur. 'Pedang' sekolah? Apa itu?" Kataku menjelaskan dengan panjang lebar setelah menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Tidak salah lagi. Memang kaulah pemegang platina ke-5. Memangnya kau tidak diberi tahu apapun mengenai kalung itu?" Kata Arthur malah membuatku tambah tak mengerti.
"Sama sekali tidak." Kataku benar - benar penasaran.
"Begini, di sekolah ini memiliki 5 anggota eksekutif OSIS. 4 orang dipilih oleh siswa, dan 1 orang spesial dipilih oleh yang berkuasa, yaitu kepala sekolah. Karena pilihan kepala sekolah, dia memiliki kedudukan setara denganku, ketua OSIS. Tak ada yang mengetahui anggota ke-5 itu selain kepala sekolah. Tapi, dia bisa ditemukan melalui aksesoris platina yang harus dia kenakan sebagai tanda dia anggota eksekutif OSIS. Semua anggota eksekutif OSIS memakai aksesoris platina dengan emblem OSIS yang mengukir disana." Kata Arthur sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya.
Aku terkejut melihat ukiran di cincin itu yang sama dengan bentuk aneh liontin yang ada di kalung yang aku kenakan. Aku tidak habis pikir, aku tidak pernah mendaftar jadi OSIS, bahkan aku anak baru di sekolah ini. Bagaimana bisa aku jadi anggota eksekutif? Ini tidak masuk akal.
"Tidak mungkin. Aku tidak pernah menjadi anggota OSIS. Apalagi aku anak baru. Bagaimana bisa—?" Aku tak sanggup melanjutkan pertanyaanku karena terlalu syok.
"Aku juga tidak tahu. Kepala sekolah memiliki standar tersendiri dalam memilihnya. Tidak peduli anak baru, anak kelas X, atau bahkan anak kelas XII yang akan lulus, siapa saja bisa jadi anggota ke-5 itu. Aku sendiri tak pernah melihat ada anggota ke-5 sebelum ini karena biasanya posisi itu selalu kosong." Jelas Arthur masih dengan nada dinginnya yang sedingin malam ini.
"Jadi, aku terikat OSIS dan segala kegiatannya? Lalu, apa tugasku? Oh, sial! Aku dijebak lagi sama tua bangka itu!" Kataku pasrah dan kesal yang kentara. Aku frustasi.
"Tidak, kau tidak terikat seperti kami. Kau hanya terikat untuk berada di garis depan bersama kami untuk mempertahankan sekolah dan siswanya dari ancaman bahaya. Maka dari itu, kau adalah 'pedang' yang bertugas mencari celah kelemahan lawan sebelum akhirnya menusuk untuk menang." Jelas Arthur panjang.
"Mencari celah? Menusuk? Aku tak paham apa yang kau maksud. Jika begitu keadaannya, aku akan mengembalikan kalung ini dan menolak posisi ini. Aku tak ingin terlibat dengan organisasi apapun." Kataku hendak bangkit dari dudukku, namun dicegah Arthur.
"Kau tak bisa mengembalikan apa yang sudah dibebankan padamu. Well, dibebankan mungkin bukan kata yang tepat, mungkin dipercayakan padamu adalah kata yang lebih tepat untuk menggantinya. Nesia, aku tahu kau ingin menolaknya, tapi kau coba saja dulu. Setidaknya sampai kasus ini selesai, karena ini juga menjadi tanggung jawab kita berdua, sebagai 'pedang dan tameng sekolah'. Dewan Keamanan hanya akan berperan sebagai petugas evakuasi keadaan semakin berbahaya. Kitalah yang harus mencegahnya, karena kita garis pertahanan depan." Kata Arthur panjang lebar membuatku semakin tak mengerti dengan keadaan sekolah ini yang semakin aneh di mataku.
"Entahlah, Arthur. Aku bahkan tak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan disini." Ujarku lirih.
"Jika ini tentang Willem, percayakan saja padaku. Tapi, kau juga harus berjanji padaku untuk tak sembarang melaporkan kasus ini pada Pak Tua itu. Aku tak bisa percaya pada tua bangka yang suka seenaknya itu." Kata Arthur sambil merapikan rambutku yang terbang menutupi wajahku karena tertiup angin malam dengan lembut.
Aku hanya terdiam menatap mata emerald yang kini menembus mataku seolah menenggelamkanku kedalam kilauan indahnya. Aku terpesona menatap pria Eropa yang sering kali menyebalkan itu saat rambut pirangnya ikut berterbangan tertiup angin. Tidak, Arthur. Bukan Willem yang membuatku tidak ingin bertahan disini. Aku hanya ingin kembali ke sisi Ayah dan menjaganya dari orang - orang yang hobi memanfaatkan kebaikan hatinya. Aku tak tenang meninggalkannya hanya dalam pengawasan Ibu yang terlalu penurut dan adik - adikku yang tidak bisa aku andalkan, kecuali si Singapore. Akhirnya aku mengangguk pelan untuk memberikan jawaban pada Arthur.
Yah, aku tak begitu serius juga berjanji tak akan melapor. Hey, aku punya perjanjian dengan kepala sekolah, ingat? Namun, aku setuju untuk tak melaporkan kejadian seutuhnya karena sama seperti Arthur, aku juga tidak menyukai kepala sekolah. Sedikit banyak aku pun curiga padanya. Untuk kasus seperti ini, tak ada yang bisa kau percaya, bahkan saudaramu sendiri.
"Ayo, kembali. Aku masih harus berkeliling dan kau juga masih harus menjaga asrama, kan?" Kata Arthur bangkit dari duduknya sambil mengulurkan tangan untuk membantuku bangun.
Tentu saja aku tak meraih tangannya. Aku baru mandi kembang, tentu saja aku menolak sentuhan kulit dari lelaki lain selain keluargaku. Seromantis apapun dia, aku tak akan tergoda. Tidak untuk yang kedua kalinya. Aku tidak akan kembali membuka hatiku untuk pria Eropa yang terkenal licik, meski harus aku akui jika Arthur berbeda. Kami kembali dalam diam dan berjalan menuju tempat tujuan kami masing - masing meninggalkan sejuta pertanyaan lain yang masih mengganjal di hati.
—OOOoooOOO—
NORMAL POV
Elizabeta sudah lelah memencet bel kamar Nesia berkali - kali namun tak juga di bukakan pintu. Setelah 20 menit menunggu di luar, Elizabeta menyerah dan memutuskan untuk turun ke lobby. Matanya menyipit mendapati ada 2 sosok yang berjalan berdampingan lalu berpisah di depan gerbang asrama wanita. Tentu saja Elizabeta mengenali salah satu sosoknya sebagai sang ketua OSIS. Dari caranya berjalan saja, ia sudah bisa memastikan jika orang itu Arthur Kirkland. Mata Elizabeta sukses terbelalak begitu menyadari sosok yang satu lagi adalah Kirana Kusnapharani yang sedari tadi dicarinya.
"Kau dari mana, Nesia?" Tanya Elizabeta begitu melihat Nesia datang dari gerbang depan asrama.
"Aku ada keperluan sedikit di dermaga." Jawab Nesia santai.
"Dengan Kaicho?" Kata Elizabeta memastikan penglihatannya tadi.
"Begitulah. Hanya mendiskusikan mengenai kasus ini. Ada beberapa hal yang aku tanyakan padanya." Kata Nesia mengerti kecurigaan Elizabeta.
"Oh, begitu. Rambutmu berantakan sekali ngomong - ngomong." Kata Elizabeta sambil memperhatikan wajah Nesia dengan nada menggodanya.
"Angin di dermaga memang cukup kencang. Sudahlah, kita mulai berjaga." Kata Nesia sambil tersenyum.
Keduanya berjalan beriringan diselingi tawa dan senggolan bahu dari Elizabeta yang sedang menggoda Nesia. Padahal mereka baru berkenalan, tapi entah Nesia yang mudah berbaur atau Elizabeta yang cocok dengan sifat Nesia sehingga keduanya cepat akrab dan menghilangkan sikap formal yang mereka lakukan ketika pertama berkenalan. Mereka bergurau seolah mereka adalah sahabat sejak kecil.
Nesia kagum dengan sosok Elizabeta yang tangguh dan anggun pada saat yang sama. Elizabeta kini mengenakan gaun tidurnya yang ditambah dengan sweater untuk menghangatkan dirinya. Ditangannya terdapat senjata andalannya yaitu sebuah penggorengan atau dia biasa menyebutnya frying pan. Sikapnya yang tangguh dan siap sedia sangat kontras dengan penampilannya yang feminin. Itulah yang membuat Nesia kagum dan merasa cocok dengan Elizabeta.
Sementara Elizabeta juga mengagumi Nesia yang friendly dan easy going. Keramahan dan kesantunan Nesia-lah yang membuat Elizabeta tertarik untuk berteman dengannya. Selain itu, ketangguhan Nesia yang walau mungil tapi kuat itu membuatnya nyaman karena merasa cocok dengan sikapnya. Walau Elizabeta merasa heran juga dengan penampilan Nesia yang tomboy sekaligus manis pada saat yang sama.
Malam semakin larut dan kegiatan berjaga masih tetap dilakukan. Nesia merapatkan kedua tangannya yang mulai kedinginan memeluk tubuhnya sendiri. Kini, ia sedang menjaga bagian belakang asrama sampai ke kebun yang berada di dekat sekolah. Sementara Elizabeta sedang menjaga bagian depan asrama beserta taman hingga perbatasan mendekati hutan yang membatasi antara area asrama dan dermaga bersama dengan frying pan-nya.
Ya, sekolah ini memang aneh karena letaknya yang berada di tengah hutan belantara dan hanya ada sebuah jalan yang menjadi satu - satunya akses menuju dermaga yang jarang dilabuhi kapal. Namun, para siswa disini tidak perlu khawatir karena fasilitas didalamnya sudah sangat lengkap. Ada perkebunan dan peternakan di area antara sekolah dan asrama untuk memenuhi kebutuhan makanan segar para siswa. Belum lagi ada juga fasilitas perawatan tubuh di dalam asrama dan juga mini market yang menyediakan apa saja. Makan pagi dan malam pun sudah terjamin oleh kantin asrama masing - masing, kecuali mereka malas keluar kamar untuk menuju ruang makan di lantai 1 asrama.
Kedua asrama ini terbagi dalam beberapa blok dan lantai. Basement itu tempat untuk melakukan perawatan dan fasilitas lainnya seperti mini market, tailor, laundry, dan lain sebagainya. Untuk lantai 1, terdapat lobby, ruang makan, dan beberapa kamar untuk tamu yang ingin menginap. Sementara lantai 2 ke atas, diisi dengan kamar asrama yang terbagi dalam 7 blok. Setiap kamar juga sudah berisi lengkap layaknya apartemen kecil seperti ruang tidur, kamar mandi, toilet, dapur kecil, dan sofa tamu. Semua lantai terhubung dengan tangga dan lift. Dan khusus pemilik kamar dengan posisi terluar seperti Nesia, ada tangga darurat yang juga bisa di gunakan di dekat lorong yang sudah seperti balkon untuk mereka karena posisinya yang langsung menghadap taman depan atau belakang asrama. Tidak ada perbedaan antara asrama wanita dan asrama pria.
Perhatian Nesia terusik. Ada sesuatu yang berbisik di telinganya, tapi tak ada seorang pun disana selain dirinya. Bahkan, tak ada makhluk tak kasat mata disekitarnya. 'Ah, aku baru ingat. Ini pasti Ayah', ujar Nesia dalam hati. Nesia langsung mencari tempat tak terlihat dan mulai melakukan ritualnya.
Nesia menarik napasnya perlahan dan mengembuskannya. Tak lama tubuh Nesia yang terduduk bergeming dan jiwanya melesap menuju dimensi lain tempat ayahnya menunggunya. Ya, Nesia ternyata baru mendapatkan panggilan dari ayahnya untuk bertemu.
"Ada apa, Ayahanda?" Tanya Nesia bersimpuh dihadapan ayahnya.
"Kirana Kusnapharani, putri sulung Ayah. Maaf memanggilmu malam - malam begini. Ada hal penting yang harus Ayah beri tahu padamu langsung dan tidak bisa lewat telepon." Kata ayahnya sambil mengisyaratkan Nesia untuk duduk tegak menghadapnya.
"Apa ada kaitannya dengan kasus kali ini?" Tanya Nesia penasaran.
"Benar. Ini mengenai isi perjanjian itu. Ayah tahu ini salah, tapi jangan laporkan semuanya pada Peter. Ada yang salah dengan kasus kali ini. Aktifitas ghaib disana tidak normal, Anakku. Ayah takut ada penyadap di sekitarmu dan akan membahayakan dirimu." Kata ayah Nesia terlihat benar - benar khawatir.
"Dari awal aku sudah memberi tahu Ayah untuk tak menerimanya, bukan?" Kata Nesia ketus melihat sikap tidak tegas ayahnya kali ini.
"Ayah tak bisa menolaknya, tidak setelah Ayah berhutang budi padanya berpuluh - puluh tahun silam. Dia yang sudah membantu Ayah mengerti berbagai bahasa saat Wang Yao kecil dan yang lain datang ke rumah. Jadi, Ayah mengerti apa yang mereka bicarakan." Jelas ayah Nesia getir.
"Ayah sudah berteman dengan banyak orang asing sejak lama?!" Seru Nesia terkejut.
"Begitulah. Itu kejadian lama saat kau masih dalam kandungan ibumu. Ayah pernah jadi tuan rumah untuk perdagangan dari berbagai belahan dunia. Jadi, saat Willem datang saat perang itu terjadi, Ayah mengerti apa yang dia katakan." Kata sang ayah membuat Nesia meringis.
"Dan Ayah dengan mudahnya menerima semua permintaan si kepala tulip itu—" Desis Nesia tajam.
"Sudahlah, Nak. Bukan itu inti permasalahan ini. Ayah hanya ingin memperingatkanmu untuk tidak mempercayai siapapun mengenai informasi apapun yang kau dapat. Upacara yang sedang berusaha kau cegah sangat berbahaya, bahkan jika salah melangkah, bisa jadi semuanya akan musnah dan sejarah akan kembali menuju awal pembentukan dunia." Kata ayahnya menyela protes yang akan Nesia lancarkan selanjutnya.
"Aku mengerti Ayah. Aku sendiri tak ingin semua kembali menjadi bola gas panas yang sangat besar." Kata Nesia mengangguk lemah.
"Dengar anakku, apapun yang terjadi, Ayah percaya kau bisa mengambil keputusan yang terbaik. Ayah percaya padamu, maka dari itu Ayah memilihmu untuk kesana." Kata ayah Nesia lembut sambil membelai kepala putri sulungnya itu dengan sayang.
"Ayah..."
"Satu lagi pesan dari Ayah, lepaskan dendammu, Nak. Dendam tak akan mengembalikan semuanya menjadi lebih baik. Kesalahan di masa lalu adalah sebuah pelajaran yang akan membentukmu menjadi lebih hebat di masa depan. Apapun yang terjadi, jangan ubah masa lalu karena masa depan seperti apa yang terjadi jika masa lalu berubah tidak akan ada yang tahu. Bisa jadi semua akan lebih buruk dari ini." Kata ayah Nesia lalu menghilang.
Nesia masih merenungi kata - kata ayahnya. Perlahan dia kembali ke dalam tubuhnya sebelum ada yang menemukan tubuhnya dan mengira dirinya sudah mati karena terus bergeming tanpa bernapas. Ya, ini adalah salah satu ilmu yang Nesia pelajari dari leluhurnya. Ilmu untuk memisahkan tubuh dan sukmanya. Sayangnya Nesia tidak bisa terlalu lama meninggalkan tubuhnya jika masih ingin hidup karena tubuhnya masih membutuhkan oksigen. Lagi pula, ilmu ini terlalu berbahaya karena dapat menarik perhatian makhluk astral lain untuk merasuki dan mengendalikan tubuh tanpa jiwa itu.
Perlahan, Nesia kembali mengambil napas panjang. Nesia melirik jam di ponselnya, lalu mendesah berat. 'Sudah pagi rupanya. Lebih baik aku menemui Eliza untuk mengajaknya kembali ke dalam asrama', ujar Nesia dalam hati ketika melihat angka yang ditunjukan di jam ponselnya merujuk pukul 3 pagi.
Akhirnya, Nesia dan Elizabeta kembali ke dalam kamar mereka di asrama setelah memastikan semuanya benar - benar aman. Nesia mengerang pelan begitu kepalanya menyentuh bantal di atas kasurnya. Matanya benar - benar mengantuk sekarang.
Sementara itu keadaan di luar sana tidak seaman perkiraan Nesia dan Elizabeta yang kini mulai nyaman bergumul di balik selimut mereka masing - masing. Arthur yang melihat sinar merah di udara langsung melesat menuju sumber bola cahaya itu. Alfred dan Kiku pun tersingkap terkejut melihat bola merah di langit gelap itu.
Arthur segera menelepon Alfred untuk memintanya dan Kiku untuk tak bergerak dan meningkatkan pengawasan di sekitar sana. Alfred dan Kiku pun tak jadi beranjak dari tempat mereka berjaga. Arthur terus berlari menuju ke arah sekolah, arah asal cahaya itu.
"Lukas! Apa yang terjadi disini?" Tanya Arthur begitu dirinya melihat Lukas terjatuh tak berdaya dengan tubuh penuh luka.
"Mereka tiba - tiba menyerang. Aku tak tahu mengapa, lalu mereka menyerangku dan Willem." Kata Lukas sambil menunjuk ke arah Willem yang sudah tidak sadarkan diri di taman tak terurus area bangunan lama.
"Willem! Bangun, git!" Kata Arthur sambil berlari mendekati Willem.
Sebuah cahaya berwarna kuning membutakan pandangan Arthur. Arthur tak bisa melihat apapun yang ada di hadapanya. Tiba - tiba cahaya itu menghilang dan keadaan kembali gelap. Begitu Arthur membuka matanya yang sempat tertutup menahan silau akibat cahaya tadi, ia baru menyadari jika bukan hanya cahaya itu yang menghilang, namun juga Willem Van Govert.
"WILLEM!"
Arthur menjerit panik mencari keberadaan sang personifikasi Netherland itu. Rasa frustasi dan kemarahan mengambil alih dirinya. Aura gelap muncul di sekelilingnya. Sebuah kekuatan besar siap meledak dari diri Arthur. Tapi, kekuatan itu masih ditahannya. Pandangannya kini beralih kepada Lukas yang terluka dan membantunya untuk kembali ke asrama dan menemui Vladimir.
Tanpa membuang waktu lagi, Vladimir membantu Lukas menyembuhkan lukanya. Arthur segera menyeret Alfred dan Kiku untuk rapat dadakan di kamar Ludwig yang masih tergolek lemas dengan luka di sekujur tubuh. Ludwig bingung dengan kehadiran Arthur, Kiku, dan Alfed yang tiba - tiba di pagi buta seperti ini.
"Ada apa sebenarnya ini, Kirkland?" Tanya Ludwig bingung setelah membiarkan ketiganya masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya masih terbalut perban, namun masih sanggup untuk beraktifitas ringan.
"Iya, Kaicho. Kenapa menyeret kami dengan kasar seperti itu?" Tanya Kiku bingung.
"Willem menghilang. Sepertinya dugaanku mengenai penculikan personifikasi benar." Kata Arthur membuat semua yang ada disana berteriak terkejut.
"APA?!"
"Bagaimana bisa itu terjadi, Kirkland?! Kau tak membiarkannya berjaga sendirian kan?" Seru Ludwig marah.
"Tidak, dia berjaga bersama Lukas. Aku juga tak tahu bagaimana awalnya karena posisiku sedang berada di area perkebunan asrama. Lukas bilang, tiba - tiba ada yang menyerang mereka dan Willem tak sadarkan diri saat aku sampai, sementara Lukas terluka disana." Jelas Arthur.
"Mereka menyerang dimana?" Tanya Kiku penasaran.
"Area bangunan lama. Sepertinya mereka sedang berjaga berkeliling disekitar sana." Kata Arthur.
"Cih, lagi - lagi disana." Ludwig berdecih kesal.
"Sepertinya lebih baik kita isolasi daerah itu, Kaicho." Usul Alfred bergidik ngeri.
"Itu juga yang sedang aku pikirkan. Tapi, kita harus mengisolasi dari mana? Area bangunan lama kan menyatu dengan belakang GOR dan samping gedung kelas 1. Sulit untuk menentukan posisi amannya." Kata Arthur berpikir keras.
"Bagaimana jika kita telusuri saja pagi ini. Aku yakin mereka memakai pola tersendiri untuk menyerang dan area pertahanan mereka tidak seluas itu." Kata Ludwig memberi saran.
"Benar juga. Baiklah, akan aku periksa pagi ini. Kau jangan bergerak dari asrama sebelum tubuhmu benar - benar pulih, Ludwig. Alfred akan menjagamu kali ini dan jangan membantah." Perintah Arthur mutlak. Ludwig hanya bisa tersenyum kecut mendengar perintah Arthur.
"Kaicho akan memeriksanya sendiri? Kalau begitu aku ikut." Kata Kiku.
"Aku tidak sendiri. Aku akan pergi bersama Nesia. Kau berjaga di sekolah saja bersama Elizabeta. Kalau ada sesuatu yang gawat, segera hubungi kami. Ah, aku hampir lupa, kita juga diminta berjaga dengan anggota Magic Club. Lokasinya meliputi asrama, seluruh gedung, dan area bangunan lama. Untuk bangunan lama, biar aku yang menjaga. Tidak akan aku biarkan mereka lolos lagi." Kata Arthur geram.
"Nesia? Gadis Asia yang waktu itu menyapamu di gerbang, Kiku?" Tanya Ludwig bingung.
"Iya, itu Nesia." Jawab Kiku.
"Gadis mungil yang kelihatan lemah itu mau membantu Kirkland memeriksa area bangunan lama? Jangan bercanda, Kirkland! Kau mau membunuh gadis lemah itu?" Kata Ludwig ragu dengan keputusan Arthur.
"Benar, Kaicho. Jangan libatkan Nesia dalam hal berbahaya seperti itu." Kata Alfred menyetujui pendapat Ludwig.
"Nesia tidak lemah, asal kau tahu, Tuan Ludwig Beilschmidt. Bahkan bisa dibilang dia terlalu kuat untuk ukuran tubuhnya yang terlalu mungil itu." Desis Arthur tajam.
"Yah, yah... terserah apa katamu, Kirkland." Kata Ludwig tidak peduli lagi.
"Sekarang bubar dan beristirahatlah sampai pagi. Aku akan melihat keadaan Lukas dulu di kamar Vlad. Kalian berhati - hatilah karena mereka masih mengincar 4 orang lagi." Kata Arthur membubarkan pertemuan dan keluar dari kamar Ludwig.
Pikiran Arthur semakin bercabang sekarang. 'Bukankah mereka baru mengumpulkan 4 makhluk? Kenapa sekarang malah mencari 4 penguasa dan 1 pemegang kunci? Apa mau mereka? Kenapa merubah pola penyerangan? Ugh, aku jadi tidak bisa berpikir jernih. Lebih baik aku melihat keadaan Lukas sebelum kembali ke kamar', kata Arthur dalam hati.
Arthur segera melihat keadaan Lukas yang kini jauh lebih baik setelah efek dari sihir penyembuh Vladimir bekerja. Setelah itu, Arthur kembali ke kamarnya dan mencoret - coret jurnalnya, mengurutkan setiap peristiwa, tempat kejadian, hingga korban. Sejauh ini kesimpulan yang bisa ia ambil hanya area bangunan lama lah tempat yang paling mencurigakan. Otak cerdasnya seolah tidak mau berkompromi sekarang ini. Tidak ada pilihan lain selain mencari petunjuk disana. Karena lelah, Arthur pun tertidur dengan kepala yang menempel pada meja belajarnya.
—OOOoooOOO—
ARTHUR POV
Pagi sudah menjelang begitu mataku terbuka. Aku merutuki leherku yang sakit karena tertidur berbantalkan meja belajarku selama satu jam. Ya, aku memang tidak tertidur lama, namun cukup untuk mengatasi lelahku seharian kemarin. Setidaknya itu rekor tidur terlamaku saat sedang sibuk seperti ini.
Dering alarm membuat mataku terjaga sepenuhnya. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan segera membersihkan tubuhku yang penuh dengan peluh hasil berjaga dan berlari semalam. Aku sangat menikmati saat dimana air mengalir melewati kepala, bahu, dada, hingga kakiku. Rasanya nyaman dan gemericik air yang dihasikkannya seperti melodi menenangkan bagiku.
Setelah berganti seragam, aku segera keluar menuju ruang makan hanya untuk mengambil segelas kopi dan sepotong roti karena kopi di kamarku sudah habis. Aku segera menghabiskan rotiku sebelum ada murid lain yang datang dan membawa gelas kopiku keluar asrama menuju sekolah.
Kakiku terhenti sebentar melihat asrama wanita. Apa gadis itu sudah bangun? Ah, aku jadi bingung pada diriku sendiri. Di satu sisi, aku sangat curiga dengan pengangkatannya sebagai anggota ke-5 dan ingin mendesaknya untuk memberikan penjelasan lebih, tapi di sisi lain aku juga tidak tega menekannya dan dia memang terlihat polos tak mengetahui apapun. Semua perasaanku yang ingin menekan, mencurigai, dan marah padanya hilang seketika begitu aku bertatap langsung dengannya. Aku seolah terhipnotis dengan mata coklat indahnya dan kepolosan wajah manisnya. Bahkan aku lupa untuk meminta nomor teleponnya kemarin. Padahal kami berbicara cukup lama di dermaga.
Aku menggelengkan kepalaku pelan dan melanjutkan perjalananku menuju sekolah sambil meresap kopi yang ada di tanganku. Sebenarnya aku lebih menggemari teh dari pada kopi, tapi aku saat ini lebih membutuhkan kopi untuk menjaga mataku agar tetap terjaga. Well, setidaknya hanya sampai kasus ini selesai.
Kakiku terus melangkah mendekati sekolah. Setelah sampai, aku langsung menghempaskan diriku ke kursi kebanggaanku di ruang OSIS. Aku kembali mengecek jurnalku dan coretan - coretan di dalamnya. Memang benar aku mencurigai Nesia yang tiba - tiba pindah dan menjadi anggota ke-5 tanpa tahu apa - apa. Tapi, setelah aku pikir lagi, untuk apa dia menyerang dirinya sendiri jika memang dia pelakunya? Untuk apa pula dia mati - matian menyelamatkan adiknya waktu itu?
Agh, aku sungguh tak mengerti dengan semua ini. Sepertinya petunjuknya masih belum cukup. Saat ini, hanya diriku saja yang benar - benar bisa aku percaya. Semua kemungkinan selalu ada. Semoga saja tidak akan ada penghianatan seperti perang dunia dulu. Aku tidak tahu lagi harus percaya pada siapa jika sampai ada penghianatan lagi.
"Puu?" Tiba - tiba Flying Mint Bunny muncul disamping kepalaku.
"Ah, kau benar. Jika mereka berhianat, setidaknya aku masih memilikimu." Kataku sambil mengelus lembut Flying Mint Bunny.
Entah dia benar - benar mengerti atau tidak, Flying Mint Bunny mengangguk senang padaku. Makhluk ini benar - benar manis hingga membuatku ingin meleleh. Setelah puas mengelus makhluk manis ini, aku kembali pada jurnalku. Namun, ponselku berdering nyaring mengganggu konsentrasiku.
"Apa?" Sahutku galak saat melihat nama yang tertera pada ponselku adalah Francis Bonnefoy.
"Aduh, Arthie... Jangan galak begitu, ini masih pagi." Kata si kodok Perancis itu dengan nada flamboyannya yang membuatku jijik.
"Jangan basa - basi. Itu membuatku jijik, git! Kenapa menelepon pagi - pagi?" Kataku dingin.
"Honhonhon... Kau memang tidak bisa diajak bergurau, Arthie. Ini tentang kepala sekolah dan anggota ke-5 itu. Kemarin, tak sengaja aku melihatnya masuk ke ruang kepala sekolah saat aku meninggalkan ruang kesehatan untuk pergi ke toilet." Kata Francis mulai serius.
"Aku sudah tahu. Dia sendiri yang mengakui dia anggota ke-5, tapi aku tak tahu sebanyak apa yang dia ceritakan pada Pak Tua itu." Kataku.
"Oh, kau sudah tau siapa anggota ke-5 itu, Arthie?" Tanya Francis takjub.
"Ya, begitulah. Aku melihat aksesoris platina miliknya. Kau sendiri? Bagaimana kau tahu?" Kataku penasaran.
"Asal negaranya. Kau tahu kan tentang KOPASUS? Meski BIN tidak masuk kategori 10 badan intelijen terbaik di dunia, tapi KOPASUS masuk sebagai militer ke-3 terbaik di dunia. Aku langsung yakin dia orangnya." Kata Francis penuh percaya diri. Dan dengan kepercayaan dirinya itu aku tahu jika kami membicarakan orang yang sama.
"Apa hubungannya KOPASUS dengan anggota ke-5?" Tanyaku bingung.
"Astaga! Ternyata kau belum mengerti juga, Arthie? Aku tak menyangka penerusku akan selambat ini. Kau ingat strategi yang membuat mereka begitu kuat dan di takuti?" Kata Francis malah membuatku penasaran.
"Geriliya?" Sepertinya aku melupakan amarahku karena ledekan Francis tadi dan lebih menonjolkan sisi penasaranku.
"Yup, benar. Mereka pandai bersembunyi dan berkamuflase sebelum akhirnya menyerang dengan fatal? Sangat cocok kan dengan tugas anggota ke-5?" Kata Francis lebih bangga. Harus aku akui dia memang lebih encer untuk soal beginian.
"Ah, benar juga. Lalu, apa lagi yang kau lihat?" Kataku berusaha mengorek informasi.
"Tak ada. Hanya melihat dia masuk ke ruang kepala sekolah, lalu aku masuk toilet. Setelah itu, saat aku keluar, aku melihatnya sudah bicara denganmu. Ah, saat lewat ruang kepala sekolah karena penasaran, aku juga mendengar suara laki - laki lain. Apa Pak Tua itu punya kekasih pria?" Kata Francis asal. Aku hanya bisa memutar bola mataku karena keanehan makhluk itu.
"Itu Lukas. Dia dipanggil untuk dimintai tolong menjaga sekolah bersama Magic Club." Kataku ketus karena pertanyaan tidak masuk akal dari kodok Perancis itu.
"Oh, begitu. Ku kira sejak awal Pak Tua itu gay karena aku tak pernah tahu dia punya istri." Kata Francis mulai bergosip. Huh, dasar penggosip! Sepertinya lain kali akan aku paksa makhluk itu keluar dari geng busuknya agar tidak semakin tercemar.
"Sudahlah, itu tidak penting. Masih ada hal yang harus aku cek." Kataku langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari kodok itu.
Aku mengalihkan perhatianku lagi menuju jurnalku. Aku mulai menelusuri rentetan kejadian. Ah, mungkin sebaiknya aku mulai mencari dari ruangan Pak Tua itu sebelum ke area bangunan lama. Aku butuh data mengenai penangguhan pembangunan gedung lama. Mungkin akan aku coba dengan cara halus sebelum aku mengambilnya secara paksa. Setidaknya aku tidak ingin menodai nama baikku sebagai seorang gentlemen yang beradab.
"Puu..." Kata Flying Mint Bunny gelisah.
"Ada apa?" Kataku sambil mengelus kepalanya. Dia terus memberontak dan menggelengkan kepalanya.
"Puu!" Aku jadi bingung dengan kegelisahannya.
Tiba - tiba dia keluar dari ruang OSIS. Aku mengejarnya karena takut dirinya akan terperangkap dan menghilang seperti yang lain. Aku melihat ke sekelilingku begitu kakiku mencapai luar gedung sekolah. Gawat, aku kehilangan jejak Flying Mint Bunny.
Aku sudah mengelilingi lapangan depan dan sekitarnya, tapi tak juga menemukannya. Aku harus minta bantuan seseorang untuk mencarinya di area seluas ini! Siapa? Lukas sedang terluka, sementara Vlad sedang menemani Lukas. Siapa yang bisa membantuku? Aku begitu panik dan akhirnya memutuskan mengecek di luar gerbang sekolah.
Nesia! Benar, dia bisa melihat Flying Mint Bunny. Aku yakin dia bisa membantuku sebelum semuanya terlambat. Secepat mungkin aku berlari menuju asrama wanita tanpa peduli dengan matahari yang semakin beranjak naik dan aktifitas para siswa yang mulai ramai. Aku segera menaiki tangga melalui belakang asrama wanita dan menuju kamar Nesia.
Aku memencet bel berkali - kali dan menggedor pintu kamarnya dengan sedikit tidak sabar. Tapi, Nesia tak kunjung membukakan pintunya. Tak ada tanda - tanda dirinya di dalam kamar. Aku mengecek di bawah pot bunga yang ada di depan kamar Nesia. Ada kunci disana. Pantas saja dia tak membukakan pintu kamarnya. Aku segera turun menuju ruang makan di lantai 1. Mungkin saja dia sedang makan.
BRAKK! Pintu ruang makan asrama wanita terbuka lebar dengan sangat keras. Terdengar teriakan heboh yang sangat menjijikan para siswi yang melihatku dengan tatapan kagum. Tanpa peduli dengan beberapa dari mereka yang mulai mengerubungiku dan mengelu - elukan namaku, aku segera mencari kepala milik kurcaci mungil yang bermakhkotakan surai gelap sekelam langit malam dengan hiasan jepit bunga melati.
Ketemu. Aku menyeringai lega begitu menemukan pemilik kepala bermahkotakan langit malam itu tengah menyeruput teh miliknya dengan makanan yang baru tersentuh setengah dihadapannya bersama Elizabeta, beberapa teman Asianya, dan adiknya yang baru aku ingat pernah kutemui dulu. Aku segera menghampiri Nesia yang terlihat tengah panik menjelaskan sesuatu dan menyeretnya keluar sebelum dia sempat memberontak.
"Apa apaan ini?!" Semprot Nesia galak begitu kaki kami melangkah keluar gerbang asrama.
"Aku butuh bantuanmu sekarang. Tidak ada waktu lagi." Kataku sambil mempercepat langkah kakiku.
"Jelaskan dulu padaku!" Kata Nesia masih galak.
"Flying Mint Bunny hilang. Tadi dia terlihat gelisah, lalu keluar dan menghilang." Kataku mempersingkat cerita sambil terus menyeret Nesia.
"Flying Mint Bunny yang ini?" Kata Nesia membuatku otomatis menghentikan langkah kakiku dan menoleh padanya.
Aku melihat tangan Nesia yang sebelah lagi sedang memeluk Flying Mint Bunny yang kini sudah lebih tenang. Aku mengambil napas panjang dan mengembuskannya dengan keras karena lega. Aku segera mengambil alih Flying Mint Bunny dari tangan Nesia dan memeluknya lega. Setelah itu aku memintanya kembali ke dimensinya untuk membuatnya tetap aman.
Nesia menatapku geli dan aku segera memalingkan wajahku darinya karena pasti ada semburat merah di pipiku. Aku bersyukur karena semuanya masih aman saat ini. Aku tak bisa membayangkan lagi apa yang harus aku lakukan jika upacara itu sampai terlaksana dengan Flying Mint Bunny sebagai tawanannya. Karena sudah terlanjur menarik Nesia keluar, aku kembali menariknya menuju sekolah untuk mengajaknya bekerja sama mengendalikan situasi yang mulai kacau ini. Entah mengapa, firasatku mengatakan untuk mempercayai Nesia meskipun dialah yang paling mencurigakan dibanding semuanya.
—OOOoooOOO—
Catatan Author:
1. Informasi mengenai kembang 7 rupa beserta maknanya Author dapat dari Wikipedia.
2. Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah kelainan jiwa karena terobsesi dengan kebersihan. Penderitanya bisasanya tidak suka menyentuh barang - barang yang sudah dipegang orang lain sebelum membersihkannya sampai benar - benar bersih ataupun disentuh orang lain. Bahkan mereka akan membersihkan tangan mereka dengan cairan pembersih tangan setelah berjabat tangan dengan orang lain. Boleh dicari infonya di mbah gugel.
3. Ilmu yang Nesia gunakan sebenarnya terinspirasi dari 'ilmu rogo sukmo'. Kalau kalian pernah menonton film insidious, seperti itulah rogo sukmo. Penasaran? Boleh cari di mbah gugel (lagi).
4. KOPASUS : Korps Pasukan Khusus, militer Indonesia yang sangat diakui dunia. Yang pernah Author baca, KOPASUS termasuk pasukan elit militer yang terbaik nomor 3 di dunia dan salah satu yang paling ditakuti. Kalau kalian pernah ingat Amerika kalah saat perang dengan Vietnam, itu karena pasukan Vietnam memakai taktik khusus yang mereka pelajari dari KOPASUS. Info lengkap boleh di cari di gugel.
BIN : Badan Intelijen Indonesia, badan yang mengenai masalah intelijensi di Indonesia. Sayang sekali, BIN tidak termasuk 10 badan intelijen terbaik di dunia. More info, please search gugel.
5. Geriliya: taktik perang yang digagas Jendral besar Soedirman. Taktik ini digunakan saat perang di Ambarawa dulu. Aduh, ini Author males ngetik lagi, jadi cari gugel aja yaa...
Segitu dulu ya, catatan dari Author nya. Untuk chapter selanjutnya kayaknya bakalan bener - bener lama update nya, soalnya ini Author mau fokus untuk ujian SBMPTN dulu. Insya Allah di waktu senggang masih bakal di ketik, tapi Author enggak jamin cepet update nya. Doain aja Author ga lupa sama plot fanfic nya gara - gara kepalanya penuh sama rumus matematika, kimia, dan fisika. Huehehehe... *mulai gila sendiri*
Tengkyu banget buat yang udah REVIEW, FOLLOW, dan FAVORITE cerita abal - abal dari Author ini. Emang gaje banget nih isinya. Kalo isi chapter ini terkesan numpuk tolong di maklumi saja ya, kan Author masih newbie. Maaf ya, Arthur nya Author buat labil macam ababil *PLAKK/digampar*.
