"Cheer up baby! Cheer up baby! Jom deo himeul nae!" -Himchan
#banghim #bap #t #gs
Bang Her!
4
Dengan langkah kecil kedua kaki pendek bergerak setengah berlari di antara kerumunan berpasang-pasang kaki yang tingginya nyaris menyamai puncak kepalanya. Beberapa kali dia berhenti lalu menyelinap gesit di celah keramaian sambil sepasang tangan gemuknya tidak lepas memeluk sebuah boneka kodok berwarna hijau. Duk! Tanpa sengaja dia menabrak seseorang, membuatnya terpental ke belakang dan jatuh dengan bokong mendarat lebih dulu. Bocah tersebut memekik, hampir berteriak menangis sebelum sepasang tangan hangat meraihnya dengan lembut.
"Kau baik-baik saja?" sebuah suara berat menyapa, menyusul dengan jongkoknya seorang pria tinggi di depan anak kecil yang barusan menabrak kakinya hingga terjatuh, tangannya terulur menyentuh wajah bocah itu, memeriksa lengan serta kedua lututnya memastikan jika dia tidak terluka. "Ada yang sakit?"
Bibir si anak merengut, perlahan kepalanya mengangguk. Dia berdiri dibantu oleh namja yang dia tabrak. "Tatit. Di tini. Okon. (Sakit. Di sini. Bokong)," ocehnya sembari menepuk celananya di bagian belakang.
"Ah, pantatmu sakit?" Yongguk melebarkan mata terkejut. "Mana Paman lihat," pintanya sambil menarik bocah laki-laki yang kira-kira baru berumur tiga tahun tersebut untuk mendekat. Telapak tangan pria itu meraih bokong si anak.
"Di sini?" tanya Yongguk dibalas anggukan cute wajah yang sudah memerah dan bibir mengerucut maju. Samar namja tersebut mengulum senyum, merasa gemas dengan sikap polos balita di hadapannya.
"Puk puk, sebentar lagi sakitnya hilang. Gwaen-cha-na, gwaen-cha-na," ujar Yongguk sembari menepuk lembut pantat kecil di tangannya tanpa melepaskan mata dari bocah yang perlahan tidak lagi menunjukkan ekspresi takut dan ingin menangis. Pria itu mencoba tersenyum, menenangkan balita yang kemudian ikut menyunggingkan senyum malu-malu.
"Nah, sakitnya sudah hilang. Kau tidak perlu menangis. Ne?" ujar Yongguk kembali mendapat anggukan kecil. Namja tersebut mengambil boneka kodok yang terjatuh di lantai lalu memberikannya pada si anak.
"Kau sendirian?" tanya Yongguk yang kali ini dibalas dengan gelengan.
"Ani. Eomma. Di tini. Duduk. Di tana (Anni. Eomma. Di sini. Duduk. Di sana)." Bocah itu menunjuk sebuah arah.
"Diwon. Ayi. Umm—(Jiwon. Lari. Umm—)" si anak memutar mata, menyelipkan telunjuk di antara kedua bibirnya, seolah dia sedang berusaha menemukan kosakata untuk menjelaskan isi kepalanya sementara di depan dia Yongguk hanya dapat menahan tawa mendengar kalimat cadel yang terucap sepotong-sepotong dan terlampau menggemaskan. Dengan pelan ditariknya keluar telunjuk mungil dari dalam mulut bocah di hadapannya.
"Jangan mengemut jarimu. Kotor," ujarnya.
"Diwon. Eomma. Ayi. Batido tudada—"
"Kau ke sini dengan Eomma dan kau lari-lari? Eomma-mu ada di sana?" Yongguk mencoba menerjemahkan, tangannya menunjuk ke arah yang tadi ditunjuk oleh balita berpipi serta berbadan bakpao.
"Eum!" anak itu mengangguk cepat, senyuman lebar tersungging membelah wajah polosnya menjadi dua.
"Kyeo~" desis Yongguk dengan mata meleleh menghadapi bocah yang hanya memberinya sebuah kekehan lucu.
"Kembalilah ke Eomma, Eomma pasti mencarimu sekarang. Jangan lari-larian sendiri. Ne?" lanjut namja tersebut yang lagi-lagi mendapat anggukan sederhana.
Si balita berbalik, melambaikan telapak tangan kecilnya pada Paman tinggi bersuara berat namun punya mata lembut dan senyuman hangat yang tidak dia kenal sebelum kemudian kembali melangkahkan sepasang kaki pendeknya pergi menjauh dari Yongguk yang tanpa dia tahu terus memperhatikannya hingga sosok mungil tersebut menghilang di keramaian. Perlahan pria itu bangkit berdiri, masih dengan senyum tersimpan di bibirnya.
Menggemaskan sekali, batin Yongguk, seketika kedua matanya menerawang. Anakku nanti apa akan selucu itu—
"Yonggukie!"
Yongguk tersentak, sekejab menoleh dan senyuman langsung menghilang dari bibirnya begitu dia menemukan seraut wajah berseri-seri setengah berlari ke arahnya.
"Kenapa kau pergi? Bukankah sudah ku bilang untuk menunggu di sana saja," cerocos Himchan begitu sampai di hadapan Yongguk.
"Bukankah kau sudah disuruh untuk tidak berlari?" nada suara si namja terdengar datar dan ketus, menyimpan kesal pada sikap sembrono ibu muda yang kian hari perutnya semakin membesar seiring dengan bertambah usia kandungannya.
"Aku tidak apa-apa." Himchan terkekeh, diraihnya lengan Yongguk. "Ayo ke sana, sebelum ada yang memainkannya lagi! Ayo!" dengan sepihak wanita itu menarik tangan di genggamannya. Yongguk menghela napas gusar namun tetap saja dia membiarkan dirinya diseret-seret seperti kambing oleh gadis yang lebih muda.
Yongguk berjalan mengikuti langkah Himchan, melewati keramaian orang dan deretan berbagai macam mesin game mulai dari arcade, Maximum Tune, hockey meja, DDR, hingga akhirnya mereka tiba di area game street basketball yang sedang kosong salah satu biliknya. Yongguk memandang ring basket bergantian dengan wajah Himchan yang menatap penuh binar.
"Kenapa?" tanya sang pria dengan nada rendah suara beratnya.
Himchan menyodorkan dua buah koin yang biasa dipakai untuk menyalakan mesin game. "Buatlah stiker sebaaanyak-banyaknya," pinta gadis itu.
"Kenapa tidak kau lakukan sendiri?" Yongguk melengos.
"Aku tidak bisa main basket." Himchan merengut. "Lagipula namja biasanya lebih pintar olahraga 'kan?"
Yongguk memandang gadis di sebelahnya, menghela napas, dan melangkah hendak pergi namun segera gerakannya dihentikan oleh Himchan.
"Ayolah, Bang Yongguk~ aku mohon~ aku butuh banyak stiker. Dua puluh stiker cuma bisa ditukar dengan satu koin." Wanita tersebut merajuk.
"Kalau kau mau menggandakan koin, beli saja dengan uang," gusar Yongguk.
"Sayang uangnyaaa~" Himchan merengek. "Aku akan menraktirmu es krim!"
"Kau pikir aku anak kecil!" namja yang lebih tua menghardik, menaikkan sedikit suaranya tapi kali ini tidak membuat Himchan terjengat kaget hingga kaku. Wanita tersebut mulai terbiasa.
"Aku akan memberimu satu boneka!" Himchan mengubah tawarannya.
"Hah?" alis Yongguk terangkat.
"Boneka," ulang gadis di depannya. "Dari itu." Telunjuk lentik terangkat dan mengarah pada mesin penjepit boneka yang berada tak jauh dari pojok street basketball.
"Tapi aku tidak pintar memainkan itu dan lebih banyak kalah. Makanya aku butuh banyak koin. Bantu aku, Bang Yongguk. Bantu aku. Ne? Ne? Nee?" Himchan menggoyang-goyangkan lengan Yongguk, melakukan apa yang disebut orang-orang sebagai 'aegyo', dan untuk itu pria di dekatnya malah menepis genggaman tangannya.
Yongguk mendengus, kedua alis tegasnya sudah menyatu, dan Himchan hanya dapat terdiam, mempersiapkan diri untuk dibentak maupun diteriaki lagi. Namun pria berkulit tan tersebut tidak melakukan apa-apa. Dia tidak bicara apa-apa membuat sepasang mata bulat Himchan menatapnya lekat dengan sorot keheranan.
Yongguk mengambil koin dari telapak tangan halus gadis di depannya, memasukkannya ke dalam lubang koin mesin basket dan ketika bola-bola oranye itu menggelinding turun, dengan cepat dia mengambilnya satu per satu lantas melemparkannya ke dalam ring.
Satu bola masuk.
Dua.
Tiga.
Empat.
Enam.
Sepuluh.
Yongguk tidak melewatkan satu pun bola dan tembakannya tidak meleset sama sekali, melihat itu mata Himchan berbinar terang.
"Bang Yongguk, fighting!" dia bersorak dengan kedua tangan terangkat. "Cheer up baby! Cheer up baby! Jom deo himeul nae!"
Perlahan, Yongguk mengulum senyum tipis.
-o-
Ruang kantor lengang, hampir tak ada suara, pemiliknya—Jieun—nampak tengah duduk di kursi di belakang meja dengan ponsel menempel di salah satu telinga memperdengarkan nada dering di seberang sambungan telpon.
"Halo." Suara pria menyapa.
"Hai," balas Jieun dengan bibir langsung menyunggingkan senyum. "Apa aku mengganggumu?"
"Tidak. Aku baru selesai mandi. Kau tidak bekerja?" pria itu menjawab dengan santai.
"Anniya. Yongguk membawa pasienku kabur, jadi aku tidak ada kerjaan," gurau Jieun.
"Mereka keluar lagi?"
"Eum." Wanita tersebut mengangguk kecil. "Himchan gampang sekali bosan di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa. Aku bermaksud memberinya sesuatu untuk dikerjakan tapi Yongguk melarangku. Dia bilang sekalinya gadis itu diberi pekerjaan, dia tidak akan bisa berhenti. Jadi aku membiarkannya."
"Kemana mereka pergi kali ini?"
"Game center. Himchan bilang dia ingin bermain game, lalu Yongguk membawakannya PS3 tapi dia menolak. Kh, anak itu hanya ingin berjalan-jalan." Jieun mengesah.
"Mungkin dia mengidam."
"Eh?" mata indah si dokter muda membulat kaget. "Benar juga! Kenapa aku tidak kepikiran itu? Sejak kemarin permintaan Himchan selalu aneh dan sangat memaksa. Yongguk sampai kesal dibuatnya."
"Nah 'kan. Beritahu Yongguk, kalau dia tidak tahu bisa-bisa dia akan melakukan hal yang salah."
"Aku tidak yakin Yongguk bisa marah pada Himchan." Jieun terkekeh.
Terdengar tawa kecil dari seberang. "Sepertinya Yongguk mendapatkan orang yang cocok."
"Sangat cocok," timpal sang dokter. "Himchan benar-benar mengagumkan."
"Aku jadi tidak sabar menemuinya."
"Kapan kau pulang?"
"Minggu depan. Kalau kau sibuk kau tidak perlu menjemputku."
"Lalu siapa yang akan menjemputmu? Yongguk sudah tidak mungkin melakukannya, dia ada deadline pekerjaan yang penting." Jieun mencibir.
"Pekerjaan apa? Training untuk menjadi hot daddy?"
Sekejab Jieun tergelak. "Dia akan memakimu kalau mendengarnya."
"Katakan padanya, seorang calon ayah tidak boleh mengucapkan kata-kata kotor karena itu bisa langsung menurun pada anaknya kelak. Kalau dia membantah bilang saja aku lebih berpengalaman."
Kembali Jieun tertawa. "Astaga, kalian berdua benar-benar menggelikan."
Hening sejenak.
"Apa Yongguk sudah memberitahu Himchan tentang rencana kami?" suara pria di seberang terdengar pelan.
"Sepertinya belum," desis Jieun. "Apa semuanya akan baik-baik saja?"
"Tenanglah, Yongguk tidak akan melepaskannya."
"Tapi Yongguk terlihat tidak tertarik sama sekali dengan Himchan. Dia terus saja ketus padanya dan mereka sering bertengkar," bantah Jieun.
Suara kekehan menggema lagi dari seberang. "Kau masih belum memahami anak itu. Yongguk tidak terlihat seperti apa yang dia perlihatkan di luar. Kau tidak bisa dengan mudah menebak jalan pikirannya."
"Kau pikir dia akan menyukai Hime?"
"Hime? Siapa?"
"Himchanie. Hime adalah nama kecilnya, dia bilang begitu padaku. Dia bilang waktu kecil ibunya suka memanggilnya Hime sebab dia terlihat sangat cantik seperti seorang putri," jelas Jieun.
"Ibunya orang Jepang?"
"Mungkin."
"Kyeo sekali. Sudah pasti Yongguk akan menyukainya."
"Benarkah? Aku tidak menyangka tipe Bang Yongguk yang badass ternyata wanita imut begitu." Seringaian muncul di bibir sang dokter muda.
"Sudah ku bilang, kau tidak akan bisa menebak isi kepala Yongguk."
Kembali hening.
"Jadi kalian akan benar-benar melakukannya?" Jieun mendadak merendahkan suara.
"Di antara kami, Yongguk-lah yang paling ingin melakukannya. Dia sudah pernah kehilangan kesempatan, dia tidak akan melewatkannya kali ini."
Jieun terdiam. Perlahan sebelah tangannya bergerak, menyentuh perutnya sendiri. Kedua mata wanita tersebut meredup, bibirnya bercelah, namun sebelum suaranya keluar pria di telpon sudah mendahuluinya bicara.
"Gwaenchana." Dia diam sejenak. "Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak lagi membicarakannya?" terdengar nada suaranya melunak.
Jieun tersenyum kecut. "Ne..." jawabnya nyaris berbisik.
"Istirahatlah, ini kesempatan bagus selagi pasienmu sedang diculik orang. Tidurlah sampai mereka kembali."
"Oke," wanita itu tersenyum. "Kau juga tidurlah, di sana sudah malam 'kan?"
"Sangat malam." Si namja mengeluarkan suara seolah dia sedang menggeliatkan badan. "Selamat malam, Sayang. Selamat tidur."
"Selamat tidur, Yongnam-ah," balas Jieun.
Hening mengisi jeda hingga suara kembali muncul dari speaker ponsel dokter wanita tersebut.
"Matikan dong~"
Jieun terkekeh. "Iya iya, selamat malam."
"Kisseu?"
"Yah, jangan kolokan." Wanita tersebut pura-pura marah.
"KISSeu?" suara di seberang menuntut membuat Jieun tergelak.
"Muach!" dia mengecup ponselnya sendiri. "Sudah puas 'kan? Tidur sana. Selamat malam."
"G'd nite, Baby. Love you, miss you~"
Tut tut tut, telpon terputus.
Jieun meletakkan ponsel di meja, di atas tumpukan berkas laporan kesehatan Himchan dan selembar foto hitam putih hasil jepretan USG isi rahimnya pagi tadi. Wanita itu merebahkan punggung di sandaran kursi, kedua matanya menerawang dengan sebelah tangan masih berada di atas perutnya yang datar, berbagai gelombang perasaan menyatu di raut wajah dokter muda itu hingga tidak dapat dipilah satu per satu. Perlahan dia menyentuhkan jemari pada kancing kemejanya.
Tolong bantu mereka kali ini, Himchan-ah.
-o-
"Kim Himchan dijebak." Jongup memulai ceritanya siang itu. "Aku sudah memeriksa semua bukti, kronologi, dan pengakuan para saksi tapi tetap saja ada hal yang janggal."
Yongguk diam, memilih untuk mendengar dan menunggu.
"Sketsa yang dia buat tidak banyak yang memiliki salinannya, lebih tepatnya hanya Himchan, ketua tim, dan Junhong yang memegangnya."
"Junhong?" mata Yongguk beralih pada gadis berambut pirang sebahu yang duduk di samping Jongup.
"Apa aku belum mengatakannya?" Junhong menjawab dengan pertanyaan. "Aku dan Himchan Eonnie satu kantor saat dia kena kasus itu. Setelah persidangan dia mengundurkan diri dan tidak pernah lagi memberi kabar padaku."
"Saat itu Kim Himchan sedang terlibat dalam proyek pembuatan album dan Junhong adalah bagian dari sie marketing," tambah Jongup.
"Aku sangat yakin aku menjaga copy-an sketsa itu dengan baik. Aku meletakkannya di kantor, di dalam laci dan terkunci. Bahkan waktu aku pulang aku juga mengunci kantorku. Tidak mungkin ada yang masuk dan mencurinya," tutur Junhong.
"Lalu bagaimana dengan ketua tim yang juga punya salinannya?" tanya Yongguk.
"Itu masalahnya. Kesaksian dia aneh dan berbelit-belit. Seluruh alibinya tidak jelas, bahkan orang yang terlibat dalam alibinya juga terlihat tidak meyakinkan," jawab Jongup.
"Yang lebih aneh lagi, aku tidak dimasukkan ke dalam daftar saksi," desis Junhong kembali membuat Yongguk menatapnya. Gadis berkulit seputih susu tersebut menghela napas panjang.
"Semua orang tahu aku sangat dekat dengan Eonnie dan pasti akan memberikan kesaksian jujur tentang sketsanya. Awal aku tahu aku tidak ikut dipanggil polisi untuk diinterogasi, aku langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres."
"Dan kau diam saja?" tanggap Yongguk.
"Tentu saja tidak!" balas Junhong cepat. "Aku mencari polisi yang bertanggung jawab dalam penyelidikan, aku bertemu Jongup Oppa, dan aku langsung menceritakan semuanya."
"Aku memasukkan kesaksian Junhong ke dalam berkas, namun esok paginya semua laporan itu tidak ada lalu aku dialih tugaskan dari kasus Himchan," imbuh Jongup.
Alis Yongguk mengerut.
"Aku sudah memberitahumu di awal, Yongguk-ssi. Kim Himchan dijebak. Dia sengaja ditempatkan di posisi seperti itu. Kau produser, kau pasti tahu bagaimana politik bisnis di dunia hiburan," desis Jongup.
"Untuk apa Himchan dijebak sampai seperti itu?" suara Yongguk merendah namun keras mulai menguasai raut wajahnya.
"Royalti." Kali ini Junhong yang menjawab. "Royalti untuk setiap gambar Eonnie sangat tinggi." Dia melanjutkan.
"Dan mungkin terlalu tinggi hingga perusahaan tidak sanggup untuk membayarnya lalu dengan sengaja menjualnya ke agensi lain guna mengumpulkan uang," sambung Jongup.
"Aku yakin Eonnie menerima ancaman seperti 'Kami tidak akan memasukkanmu ke penjara dan mengakhiri kasus ini begitu saja asal kau mau menurunkan harga royaltimu'. Aku yakin dia pasti pernah diancam seperti itu. Banyak seniman wanita yang ditekan begitu di perusahaan hiburan. Aku bekerja di sana, jadi aku tahu rasanya. Benar 'kan, Yongguk-ssi?"
Jongup meraih lengan Junhong membuat gadis di sampingnya menoleh dan pria itu menggeleng.
"Tenanglah," pinta Jongup. Junhong terdiam, perlahan menundukkan kepala.
"Maaf," lirihnya. "Aku selalu hilang kontrol kalau membahas kasus Himchan Eonnie. Aku menyesal, aku benar-benar kesal pada diriku sendiri karena tidak bisa membantunya. Aku sudah berusaha menghubungi semua polisi, membuat laporan berkali-kali, aku bahkan sampai mendatangi pengacara dan jaksa yang mengurus kasusnya tapi tidak ada satu pun yang memberikan respon. Mereka bersikap seolah aku tidak pernah melaporkan apa-apa. Mereka menganggap seolah aku tidak pernah datang. Mereka menghapus semua kesaksianku begitu saja—" Junhong menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya, terdengar isakan kecil.
"Maaf, aku ke toilet dulu." Gadis tersebut bangkit berdiri dan dengan langkah cepat pergi meninggalkan Yongguk serta Jongup yang memandangnya hingga menghilang di tikungan kamar mandi.
Suasana hening sejenak.
"Junhong menganggap Himchan seperti kakaknya sendiri. Himchan bekerja di perusahaannya yang lama sudah hampir lima tahun sejak dia masih kuliah dan dia juga yang banyak membantu Junhong ketika baru masuk bekerja di sana," ujar Jongup.
Yongguk diam. Kedua mata kelamnya nampak tenang. Ketenangan yang menghanyutkan, sebab kilat di permukaan irisnya menunjukkan jika dibalik sikap diamnya tersebut otaknya tengah bekerja, memproses seluruh cerita serta penuturan yang dia dengar bergantian dari Jongup dan Junhong.
"Jadi orang yang meletakkan Himchan pada kasus ini adalah perusahaannya sendiri?" Yongguk menarik kesimpulan.
Jongup mengangguk. "Menurut pengamatanku juga begitu. Seluruh bukti, saksi, ditambah dengan cerita Junhong soal tidak ada satu orang pun yang merespon dia, bisa dipastikan kasus ini adalah setting-an untuk memojokkan Kim Himchan."
"Kalau begitu, bukankah seharusnya ada banyak celah untuk menyangkalnya?"
"Itu tidak mudah," sanggah Jongup. "Kau tidak dengar apa yang dikatakan Junhong tadi? Bahkan pengacara dan jaksa penuntut juga tidak mengindahkan ceritanya. Semua oknum yang ada di pengadilan sudah menjadi aktor bayaran."
Yongguk bergerak menyentuh pelipisnya yang mendadak berdenyut. Entah karena pusing, entah karena marah, dia sendiri tidak tahu. Kisah masa lalu ini terlalu menggemaskan untuknya.
"Royalti Himchan tidak setinggi itu," desis Yongguk dengan suara berat yang datar. "Apa mereka begitu miskinnya sampai tidak bisa membeli?"
"Kalau menurutku, ada alasan lain."
Sekejab namja yang lebih tua memandang Jongup, menunggu kelanjutan kata-katanya.
"Royalti tinggi adalah pendapat Junhong. Kalau menurutku Kim Himchan pasti punya alasan sebenarnya kenapa dia sampai dipojokkan begitu. Mungkin ada masalah antara dia dan perusahaan yang tidak diketahui oleh Junhong," ujar Jongup. "Junhong adalah orang yang cukup berpengaruh di tempatnya bekerja. Posisinya memang tidak tinggi tapi dia adalah adik dari direktur di tempat itu dan bukankah wajar orang akan langsung berpikir Himchan mungkin memanfaatkan kesempatan dengan mendekati Junhong?"
"Apa Junhong tahu hal ini?" tanya Yongguk. Detektif muda di hadapannya menggeleng.
"Aku tidak bisa membicarakannya, dia menjadi sangat emosional setiap kami membahas kasus Himchan. Aku takut dia akan marah lalu bertindak gegabah dan malah memicu kasus baru yang bisa saja di-setting lagi dengan mengkait-kaitkan nama Himchan."
Yongguk mengangguk kecil, setuju dengan pemikiran namja yang lebih muda di depannya.
"Jadi tetap saja semua kuncinya ada pada Himchan," desis pria tan tersebut.
"Seandainya Kim Himchan mau terbuka dan menceritakan semuanya, aku mungkin bisa melakukan lebih baik." Kalimat Jongup keluar sebagai sebuah penyesalan. "Tapi dia bersikeras tidak mau mengatakan selain yang sudah dia katakan di pengadilan bahkan setelah dia tahu aku dipecat dari kasusnya."
Yongguk meletakkan kedua siku di atas meja, menyangga dagu dengan kesepuluh jarinya yang terjalin.
Apa yang dipikirkan wanita itu... batinnya.
"Kau tahu kira-kira apa alasan Himchan?"
"Kenapa kau begitu ingin tahu soal Kim Himchan?"
Kalimat Yongguk dan Jongup keluar bersamaan, saling bertindihan, membuat keduanya sama-sama terkejut. Suasana hening sejenak.
"Kenapa kau ingin tahu soal Kim Himchan?" Jongup yang pertama mengulang pertanyaannya. "Aku lihat kau lebih dari sekedar ingin tahu masalahnya. Lagipula untuk ukuran seorang produser ternama, bukankah terlalu beresiko bagimu memperkerjakan karyawan yang pernah berurusan dengan hukum? Apalagi di kasus plagiat yang berhubungan langsung dengan royalti, hal terpenting di bidang kalian. Apa yang kau rencanakan?"
Yongguk membisu, menatap lurus Jongup yang juga memberinya sorot tajam, mempelajari raut wajah detektif muda itu, ekspresi tenangnya yang nampak santai namun menyembunyikan ketegasan serta kecerdasan yang tersalur melalui sinar kedua matanya. Yongguk sadar, tak ada gunanya berbohong pada namja muda tersebut. Mengendus kebenaran agaknya sudah menjadi insting Jongup.
"Kalau tujuanmu ingin menyakiti Kim Himchan, silakan. Tapi jangan coba-coba melibatkan hukum karena aku tidak akan tinggal diam," desis Jongup tanpa ada maksud mengancam walau nada suaranya mengatakan lain.
Yongguk menarik napas panjang. Baru dia membuka mulut hendak mengucapkan sesuatu, sosok tinggi Junhong sudah berhenti di dekat mereka. Yongguk sekejab mengalihkan pandangan bersamaan dengan Jongup yang meraih cangkir kopinya dan menyeruput minuman berlagak seolah tidak pernah terjadi apapun.
"Maaf, toiletnya antri. Apa aku ketinggalan sesuatu?" gadis putih berambut pirang tersebut memasang senyum manis hingga nampak kedua tulang pipinya terangkat.
"Tidak juga, tidak banyak yang kami bicarakan." Jongup yang lebih dulu menjawab, memasang senyum simpul pada gadis di sampingnya.
Junhong memandang Jongup lantas menatap Yongguk, raut wajahnya mengatakan jika dia tidak percaya. "Benarkah?" desisnya.
"Kau meragukanku? Jahat sekali." Jongup melengos, pura-pura marah sambil meneguk lagi kopinya.
"A-aniya, bukan begitu, Oppa~" seketika Junhong merajuk membuat sebelah alis Yongguk terangkat. Bergantian dia memperhatikan si gadis tinggi dan detektif muda yang bersamanya, namja itu baru menyadari ada aura tidak biasa yang menetap di antara mereka.
"Kalian pacaran?" cetus Yongguk begitu saja membuat dua anak muda di hadapannya menolehkan kepala dengan cepat.
Jongup mengedipkan mata diam. Pun dengan Junhong yang terpaku.
Suasana membeku seketika.
-o-
Yongguk duduk seorang diri di sebuah bangku, wajahnya datar, kedua matanya tenang tanpa riak. Dengan nyaris tak berkedip dia menatap ke depan, ke orang-orang yang berlalu-lalang, melewatinya tanpa ingin merepotkan diri menyapa apalagi mengucapkan permisi. Lebih dari sepuluh menit namja itu berada di sana, tak bergerak, tak beranjak, bergeming layaknya patung ukiran abad terkini hingga kemudian sebuah lengkingan suara membuyarkan seluruh balon pikirannya, membuat pria tersebut menoleh dan seketika membelalakkan mata demi melihat sosok Himchan yang setengah berlari ke arahnya dengan tangan membawa gelas kertas berisi es krim warna-warni.
"Yah—" Yongguk memekik tertahan karena tiba-tiba Himchan terantuk kakinya sendiri dan hampir terjerembab ke depan. Untung refleks pria di hadapannya lebih cepat, Yongguk menerima tubuh gadis itu dengan kedua lengan dan memegangnya kuat dengan dua tangan.
"Kau mau mati!?" Yongguk menghardik, separuh suaranya tertahan di tenggorokan, dia membantu Himchan untuk berdiri tegak dan baru sadar jika gadis tersebut sedikit lebih berat dari terakhir dia mengangkatnya di kantor.
"Yah..." kedua ujung mata Himchan jatuh. "Es nya tumpah." Dia mengeluh memandang warna ungu dan pink yang tercecer di lantai yang merupakan bagian dari gunung mungil es krim di tangannya.
"Kau lebih mengkhawatirkan es krim daripada dirimu sendiri?" tanya Yongguk tidak percaya.
"Harganya mahal!" suara Himchan meninggi. "Ah, padahal aku juga sudah capek-capek mengantri untuk membelinya." Dia melanjutkan dengan gerutuan sembari merebahkan pantat di kursi yang tadi diduduki Yongguk.
"Apa yang kau lakukan? Duduk sini," tegur Himchan kemudian pada namja yang masih bergeming di tempat dia hampir jatuh dengan perutnya terlebih dulu. Yongguk memutar mata. Tak ada gunanya berdebat dengan orang seperti Kim Himchan, dia membatin. Dengan ogah-ogahan, pria tan tersebut mendudukkan diri di sebelah wanita yang sudah mulai asyik menyendoki es krim untuk dimasukkan ke dalam mulut.
"Kau mau?" Himchan menyodorkan cup es krim di depan muka Yongguk.
"Tidak, terima kasih," tolak namja tersebut.
"Enak lho, kau yakin tidak mau?" si gadis seolah sedang meledek.
Yongguk tidak menjawab, hanya mengedarkan mata ke sekeliling, kembali memandang keramaian mall tempatnya mengantar Himchan bermain di game zone.
"Aku tidak tahu kau suka tigger," celetuk calon ibu muda, meletakkan es krim di sebelahnya lalu ganti meraih boneka berbentuk macan yang tergeletak di tengah-tengah dirinya dan Yongguk.
Yongguk menoleh, melihat Himchan memainkan kedua tangan boneka yang barusan dia panggil tigger. Boneka itu adalah satu dari dua boneka yang berhasil dia ambil dengan mesin penjapit. Benar pengakuan gadis itu soal dirinya yang tidak pintar memainkan penjapit. Ada hampir sepuluh koin di tangannya dengan lima kali permainan dan setiap permainan dia punya tiga kesempatan untuk menjapit, tapi sampai akhir boneka yang bisa dia ambil hanya sebuah tigger serta beruang Ryan bermantel biru.
Himchan sangat kesal, dia nyaris tidak mau melepaskan mesin malang tersebut dan kalau saja Yongguk tidak menyeretnya pergi wanita itu sudah pasti melunjak dengan menghabiskan seluruh uangnya hanya untuk mencoba peruntungan (kesialan) menjapit boneka yang bahkan jahitannya jelek dan kainnya kasar. Yongguk tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran perempuan.
"Yongguk-ah, kau mau makan apa sehabis ini?" celetuk Himchan menuai tatapan datar namja di sebelahnya.
"Kau masih mau makan?" tanya Yongguk simpel.
"Memang kapan aku makan? Kita belum makan siang," jawab Himchan membulatkan mata dengan polos, ekspresi yang paling tidak disukai Yongguk.
"Kau sudah makan sosis dan es krim—"
"Mana bisa itu disebut makanan," sela Himchan cepat. "Itu cemilan."
Yongguk menghela napas panjang.
Kembali pria tersebut mengedarkan pandangan namun kali ini sambil memikirkan beberapa pilihan tempat makan di dalam kepalanya hingga tak sengaja dia menangkap sosok Jongup dan Junhong di kejauhan.
Mereka sudah sampai? Batin Yongguk.
Junhong sempat meminta Yongguk mempertemukannya dengan Himchan. Si namja tan tidak ingin membawa gadis itu ke rumah sakit sebab bisa saja jika Junhong mendengar Eonnie-nya ada di rumah sakit dia akan memikirkan hal yang tidak-tidak. Maka Yongguk memilih waktu ketika Himchan minta ditemani jalan-jalan, saat mereka ada di luar, dan berada di tempat yang lebih santai serta leluasa untuk mengobrol, melepas rindu maupun mengenang kisah masa lalu. Lagipula, Yongguk merasa perlu bertemu lagi dengan Jongup. Ada banyak hal yang masih ingin dia bahas bersama pria itu. Tentang Himchan dan cerita lamanya.
Grak, Yongguk tersentak saat mendadak ada gerakan di sampingnya. Dia mendongak, memandang Himchan yang sudah berdiri dari duduknya. Wajah gadis itu nampak tegang memandang ke depan, kedua tangan yang berada di sisi badannya perlahan bergetar dan Yongguk baru menyadarinya. Pria tersebut ikut berdiri, berada di sisi Himchan, mengikuti arah pandangan wanita di sebelahnya. Alis Yongguk mengerut begitu yang terlihat olehnya adalah sosok Jongup dan Junhong yang semakin mendekat.
"Eonnie!" si gadis tinggi berambut pirang memanggil dengan tidak sabar bahkan sebelum dia benar-benar tiba di hadapan Himchan.
Yongguk menoleh pada Himchan, memandang bagaimana wajah wanita tersebut semakin tegang, pucat. Perlahan kaki jenjangnya bergeser ke belakang.
"Himchan-ah..." Yongguk mendesis.
"Eonnie!" Junhong kembali memanggil, senyuman tersungging lebar di bibirnya, namun tidak dengan gadis yang berdiri di dekat Yongguk.
"Himchan-ah, kau baik-baik saja?" suara Yongguk nyaris tak terdengar. Rasa heran berubah cemas saat ekspresi wanita yang dia panggil semakin memucat. Di detik selanjutnya Himchan beranjak, hampir berlari menjauh dari Yongguk.
"Himchan-ah!" suara Yongguk menggelegar.
Di kejauhan Junhong ikut terkejut, pun dengan Jongup. Gadis tinggi tersebut segera berbalik, mencoba untuk menyusul Himchan yang memang tidak bisa bergerak cepat.
"Eonnie, tunggu!" Junhong berhasil meraih lengan Himchan yang langsung ditepis oleh wanita yang lebih tua. Himchan membuat jarak, melangkah ke belakang dengan kedua tangan memeluk perutnya penuh protektif.
"Eonnie, kenapa kau lari?" tanya Junhong. "Kau lupa padaku? Aku Junhongie, Choi Junhong."
Himchan tidak menjawab, hanya kembali menggeser kaki ke belakang.
"Eonnie, aku merindukanmu. Aku ingin bertemu denganmu, tapi kau pergi dan sama sekali tidak memberiku kabar—"
"Pergilah," potong Himchan. "Aku tidak ingin bertemu denganmu."
Junhong seketika terdiam. Terpaku. Mematung. Dia laksana gelas yang mendadak jatuh dari meja. Pecah berhamburan. Gamang dan kosong.
"Eo-Eonnie..." suara Junhong bergetar, begitu pula dengan kedua pusat matanya.
"Jangan mencariku, Junhong-ah. Aku benar-benar tidak ingin bertemu denganmu," ujar Himchan, kembali menggeser kakinya ke belakang dan beranjak. Meninggalkan Junhong tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Gadis berambut pirang masih bergeming untuk beberapa lama, seolah tengah berdebat dengan dirinya sendiri mengenai yang barusan dia alami apakah itu nyata atau hanya halusinasi kejam hingga mendadak sebuah kesadaran seolah menamparnya. Junhong tersentak mengingat penampilan Himchan terlihat tidak biasa barusan, sangat berbeda dengan saat terakhir dia bertemu wanita itu enam bulan lalu.
Junhong bergerak, hendak beranjak menyusul Himchan saat tiba-tiba sebuah lengan mendapatkan tangannya. Gadis tersebut menoleh dan langsung menemukan Jongup telah memeganginya dengan erat. Yongguk berhenti di sebelahnya.
"Jangan kejar dia. Itu hanya akan memperkeruh suasana." Suara Jongup terdengar tenang.
"Aku ingin bertanya padanya. Aku harus bertanya—" Junhong beralih menatap Yongguk.
"Bang Yongguk, apa kau menikah dengan Himchan Eonnie?"
"Hah?" mata Yongguk melebar.
"Apa kau menikah dengannya? Dia sedang hamil 'kan? Apa kau menikah dengannya? Apa itu anakmu?" kejar Junhong.
"Junhong-ah, tenanglah." Jongup mencoba menghentikan gadis yang lebih tinggi.
"Apa itu anakmu, Bang Yongguk-ssi? Apa kau sudah menikah dengan Eonnie-ku?" Junhong masih terus bertanya.
"Aku harus mengejar Himchan. Akan aku ceritakan waktu kita bertemu lagi," ujar Yongguk sebelum beranjak.
Jongup mengangguk, "Hubungi aku kalau kau ada waktu."
"Tunggu!" Junhong mencoba meraih Yongguk namun Jongup lebih sigap menahannya. "Apa itu anakmu, Bang Yongguk? Apa Eonnie menikah denganmu? Apa kalian menikah!? Bang Yongguk-ssi!"
"Junhongie, tenanglah. Kau membuat dirimu jadi pusat perhatian." Jongup mendekap Junhong namun gadis itu malah mulai terisak.
"Mereka menikah, Oppa. Himchan Eonnie menikah dengan dia. Eonnie benar-benar sudah meninggalkan Oppa-ku. Eonnie sudah mencampakkannya dan sekarang dia menjauhiku juga..." Junhong meraung. "Apa salahku, Oppa? Apa salah Oppa-ku?" gadis tersebut menangis di dekapan Jongup yang tidak dapat mengatakan apa-apa untuk menjawab semua pertanyaannya.
.
Yongguk berlari di tengah kerumunan manusia, memutar tubuhnya 360 derajat, mengedarkan pandangan, berusaha menemukan sosok seorang wanita hamil berbaju merah muda dengan rambut hitam digerai sedada. Namun hasilnya nihil.
Tidak mungkin 'kan Himchan turun dari lantai ini? Pikir Yongguk, meski begitu tetap saja dia bergerak menuju eskalator untuk mencapai lantai di bawahnya. Kembali namja tersebut berkeliling. Merasa tidak menemukan sosok yang dicari, Yongguk turun lagi ke lantai di bawahnya hingga tanpa sadar dia sudah berada di parkiran basement.
Pria itu terengah-engah, menundukkan badan dengan tangan memegang kedua lututnya, keringat sebiji jagung menetes dari ujung rambut ke lantai berdebu dan sisanya mengalir di pelipis menuju dagu. Yongguk bangkit menegakkan punggung, kembali berjalan, dalam hati berniat kalau kali ini dia masih tidak bisa menemukan Himchan dia akan membuat pengumuman di information cen—
Tidak perlu. Yongguk akhirnya melihat sosok wanita itu.
Namja tinggi berkulit tan menghentikan langkah di depan mobilnya yang terparkir berjejeran dengan beberapa mobil lain. Sepasang mata kelamnya nampak tajam memandang seorang gadis yang tengah berdiri bersandar pada pintu depan di sebelah sopir dan sedang menundukkan kepala. Himchan mendongak saat mendengar ada suara langkah kaki berhenti di dekatnya, dia nampak terkejut memandang Yongguk, bibirnya bercelah, tapi tidak ada kalimat yang keluar dari sana. Yongguk sendiri tidak mengatakan apa-apa.
Pria yang lebih tua memasukkan tangan ke saku celana, menarik keluar kunci mobil dan menekan tombol alarm.
"Masuklah." Hanya itu kalimat Yongguk, dia beranjak menuju pintu pengemudi.
Himchan terdiam, mematung dan bahkan tidak memegang knop pintu. Dia menatap pria yang sudah duduk di dalam mobil, meletakkan tangan di atas stir, dan memasang wajah datar lurus ke depan. Kurang lebih Himchan tahu apa yang sedang dipikirkan Yongguk sekarang. Pria itu marah, sudah pasti (sebagai tambahan, dia selalu melakukannya). Dan Himchan merasa jika dia tidak segera masuk ke dalam mobil, keadaan tidak akan menjadi lebih baik.
Yongguk menghela napas lega ketika mendengar pintu di sebelahnya dibuka dari luar dan sosok Himchan masuk merebahkan diri di kursi. Dia sempat berpikir jika gadis itu tidak akan mau pulang bersamanya dan lebih memilih mengikuti emosinya untuk pergi entah kemana mengingat sebelumnya dia pernah menghilang setelah kasus hukum yang menimpanya selesai.
Yongguk menyalakan mesin mobil, baru akan memasukkan persneling ketika dia merasa ponselnya bergetar. Namja tersebut melepaskan kemudi, merogoh saku celana dan segera melihat nama Daehyun berkedip di layar ponsel.
"Apa?" tanya Yongguk.
"Cek pesanku, Hyung!" jawab Daehyun cepat dan sambungan telpon berakhir. Yongguk mendengus, anak buahnya yang satu itu memang selalu saja tidak jelas.
Yongguk menggeser layar ke bawah, melihat ada satu pesan dari Daehyun disertai dengan lampiran foto. Dia menekan notifikasi tersebut dan segera membelalakkan mata melihat foto yang dikirim Daehyun bahkan sebelum dia membaca pesan yang datang bersama file tersebut.
Yongguk mematikan layar, melempar ponsel ke dashboard dan segera memasukkan persneling. Himchan agak terkejut ketika mobil sedikit terguncang akibat pedal gas yang diinjak terburu-buru.
"Ada apa?" spontan gadis tersebut bertanya namun hanya raut keras Yongguk yang menjawabnya. Tanpa kata pria itu membawa mobil keluar dari parkiran basement mall menuju jalan raya, setengah mengebut dia melarikan kendaraannya ke rumah sakit.
-o-
Brak! Daehyun terlonjak kaget dan dia menoleh untuk menemukan sosok Yongguk tengah berjalan ke arahnya dengan langkah cepat serta wajah merah padam menahan marah.
"Hyung—" namja yang lebih muda sempat melirik ke arah pintu ruang meeting yang barusan dibanting oleh atasannya, berharap properti kantor itu tidak mengalami kerusakan apa-apa.
"Apa maksud fotomu itu, Daehyun-ah? Jangan bercanda, kau tahu ini sama sekali tidak lucu." Suara berat Yongguk terdengar tegas dan dalam.
"Mana berani aku bercanda soal hal sepenting ini, Hyung," bela Daehyun. "Kemarilah. Aku sudah mencari datanya di internet." Dia menuntun Yongguk untuk mendekat pada laptop yang tengah dia hadap.
"Album itu baru dirilis tengah hari tadi dan baru keluar itunes-nya. Untuk album jenis fisik rencana akan dikeluarkan di pasaran mulai lusa." Daehyun mengutak-atik laptopnya.
"Bagaimana dengan PO? Sejak kapan dimulai? Bagaimana cara promosi mereka?" manik mata Yongguk mengikuti perubahan jendela demi jendela situs di layar gadget anak buahnya.
"Untuk PO hanya diumumkan soal album reguler, tidak ada pemberitahuan mengenai album spesial atau apapun itu. Yang dipajang juga foto album reguler mereka. Tapi mendadak kemarin ada pengumuman mengenai album spesial dan covernya sudah menggunakan gambar itu."
"Dan kau baru mengetahuinya sekarang!?" suara Yongguk naik.
"Maaf, Hyung!" Daehyun ikut mengeraskan suara. "Mereka cuma grup kecil, mereka bahkan tidak masuk di peringkat lima puluh besar. Aku melewatkannya, ini kesalahanku, maafkan aku." Namja itu mengaku salah sambil tidak menghentikan jarinya yang menari di atas keyboard.
"Selesai." Daehyun mengetuk tombol enter. "Begini mereka membuat promosi sebelum dan sesudah pengumuman soal album spesial itu. Ini cover untuk album reguler dan ini yang album spesial. Aku tidak menemukan kejanggalan lain di tracklist lagu maupun susunan package albumnya. Silakan lihat sendiri, Hyung. Aku mau menghubungi anak-anak." Daehyun menunjuk beberapa titik di layar laptopnya untuk memberitahu Yongguk mengenai maksud kalimatnya barusan. Begitu selesai, dia segera berdiri dari kursi yang langsung ganti ditempati oleh sang leader.
"Telpon Youngjae. Hanya Youngjae. Jangan memanggil yang lain," ujar Yongguk membuat Daehyun yang sudah menempelkan ponsel ke telinga menoleh.
"Kau yakin, Hyung?"
"Aku tidak butuh banyak orang untuk membahas ini. Kita harus menyelesaikannya dengan cepat. Aku yakin klien akan segera menghubungi kita, jadi sebisa mungkin kita harus menyiapkan pembelaan pertama." Yongguk bicara nyaris tanpa jeda dengan kedua mata tak lekang menatap layar laptop Daehyun. Tak jauh darinya, bawahannya menjawab dengan anggukan.
"Oh, Youngjae-ya? Kau dimana? Bisa kau ke kantor sekarang?" sapa Daehyun begitu mendengar panggilannya mendapat respon. "Ada hal penting yang harus kita bahas sekarang. Ini soal pekerjaan. Pokoknya darurat, cepat ke sini!"
Selagi Daehyun sibuk berbicara dengan rekan kerja sekaligus kekasihnya di telpon, Yongguk lekat mengamati gambar di layar laptop yang merupakan cover utama dari sebuah album yang baru dirilis siang tadi. Gambar hitam putih serupa sketsa yang memperlihatkan goresan kasar pensil hitam membentuk sebuah hati yang berada di dalam kotak yang terbuka dengan pita terurai mengelilinginya seolah dia adalah hadiah yang baru saja dibuka.
Gambar itu sama sekali tidak asing untuk Yongguk, setidaknya karena tiga hari yang lalu sketsa yang sama diberikan sendiri oleh tangan Himchan di dalam kamar rumah sakit padanya. Yongguk bahkan masih sangat ingat kalimat yang dikatakan gadis itu mengenai makna gambar yang dia buat.
"Kau membuat lagu cinta dengan irama rap yang rendah dan pelan hampir mirip dengan lagu sedih. Aku mencoba menyampaikan itu dengan gambar ini. Aku ingin orang tahu kalau cinta meskipun ada di dalam sebuah kotak yang kecil, dia akan tetap berupa cinta. Dia tidak berubah menjadi hal lain. Cinta adalah cinta, sekecil apapun itu, sediam apapun dia."
Yongguk mengesah pelan. Lemas sudah seluruh tubuhnya.
Bagaimana bisa gambar Himchan menjadi cover album milik orang lain? Bagaimana bisa sketsa yang seharusnya tersimpan rapi di dalam laci meja kerjanya jatuh ke tangan orang yang tidak dia kenal dan bahkan sudah digunakan tanpa ijin seperti ini?
Yongguk meremas rambutnya dengan kalut.
Plagiasi lagi.
Sial!
"Hyung, Youngjae sedang dalam perjalanan ke sini." Suara Daehyun sudah tidak dapat didengar oleh telinga Yongguk yang mendadak berdenging.
"Kau benar-benar tidak akan membiarkan orang lain melihat gambarku 'kan?"
Pertanyaan putus asa Himchan kembali menggema di ingatan Yongguk, membuat kepalanya berdenyut.
.
Maaf, Himchan-ah...
-TBC-
Kuy ini resmi jadi TBC -,-
Siyal Myka kalah lagi (dari readers), kenapa sih kalian itu ga bisa sekaliii aja ngebiarin Myka menang?
Kalian pinter banget nulis bujukan buat next-nya kan hati Myka jadi lemah, huhuhu
Rencana awal sih mau nulis chapter ini abis review mencapai 100 biji, tapi begitu udah sampai target eh malah mager
Maapin :"
NOIR KAMBEK! *eh salah
BAP KAMBEK! *maksudnya
Gak pa pa kalo emang BYG ga bisa ikut sih, yg paling penting tetep kesehatannya :* lagian Myka udah cukup dibuat gelindingan sama akting tembak-tembakan dia di MV
Tembak hatiku juga, Mas :"""
