"Ino?"
"Sasuke… kenapa kau begitu tega? Kau begitu jahat padanya…."
"Halah, pura-pura. Biasanya kalau sudah seperti ini kan Haruki pasti selalu minta tidur denganmu dan Sakura, hihihi."
"Tenang saja. Aku tak sempat melihat siapa yang menelepon."
"Iya, lain kali aku akan hati-hati. Oh iya, kan sudah kubilang, kau jangan meneleponku malam ini, aku harus menjaga Haruki, Ayah dan Ibu sedang di luar kota."
Entah mengapa, ia merasa begitu senang—tak menyangka Sakura akan mengecup dahinya diam-diam. Malam itu, Sasuke pun melupakan apa yang jadi beban pikirannya sejak Sakura mengangkat telepon tadi. Dalam hati, ia terus bergumam : Tidak mungkin. Tidak mungkin Naruto yang menelepon Sakura. Aku pasti salah lihat. Dia 'Kabuto', bukan 'Naruto'.
Penyejuk Musim
Naruto © Kishimoto Masashi
'This is SasuSakuNaru's fiction'
.
.
.
#4 Dingin: Perubahan
Winter: Alteration
Pagi hari ini, burung bercicit lebih berisik dari biasanya. Padahal, bukan adat Naruto untuk bangun pagi. Namun, suara cicitan yang begitu berisik itu, membuatnya tak punya pilihan lain. Ingin tidur lagi pun susah, matanya sudah terlanjur terbuka.
Begitu bangkit dari tidurnya, Naruto segera meraih ponselnya. Ia tersenyum begitu melihat wallpaper apa yang ia pasang untuk ponselnya.
Samar-samar, telinganya menangkap sebuah suara. Karena penasaran, ia menyingkap sedikit tirai jendela di sampingnya. Ah, tak ada apa-apa. Jalanan di depan apartemennya masih sesepi biasanya. Namun, belum selesai Naruto mencari tahu lebih lanjut, suara bel apartemen memanggilnya untuk segera bangkit.
Siapa pula yang bertamu pagi-pagi begini? Oh, bahkan Naruto belum sempat mencuci mukanya. Mungkinkah Sakura? Rasanya tidak mungkin. Gadis itu kan sibuk dengan pekerjaaannya. Mampir ke apartemen Naruto pun hanya sekali.
Begitu membuka pintu, Naruto mendapat kejutan.
Hyuuga Hinata berdiri di depan pintu apartemennya sambil menunduk. Gadis itu memainkan jarinya. Seperti biasa, wajahnya memerah—Naruto hampir tidak pernah melihat wajah gadis itu tidak memerah. Pagi ini ia datang dengan pakaiannya yang sederhana. Hanya berbalut mantel cokelat tua dengan tudung berbulu dan memakai celana panjang berwarna hitam—oh, tapi kalau dilihat-lihat, ia seperti habis melakukan perjalanan jauh.
"Hinata?" Naruto menaikkan sebelah alisnya.
Hinata cepat-cepat mengangkat wajah. "N-Naruto-kun, selamat pagi…," sapa gadis itu cepat.
"Bukankah kau berada di Oto?"
"Emm." Hinata menggigit bibirnya, lalu menunduk.
Naruto menghela napas, lalu membuka pintu apartemennya lebih lebar. "Masuklah," perintahnya.
Hinata menurut. Pipinya semakin bersemu. Gadis itu kelihatannya sangat gugup. Bahkan ketika sudah duduk di sofa, wajahnya tetap tertunduk.
"Maaf, ya. Berantakan," sesal Naruto.
"T-tidak apa. Haha, Naruto-kun tidak berubah ya," sahut Hinata, ia menatap Naruto dengan hangat—bermaksud mengubah atmosfer suasana agar tidak terlalu tegang.
"Eng, kau sudah sarapan belum?"
Hinata menggeleng pelan dengan wajah malu-malu.
Naruto pun menggaruk bagian belakang kepalanya. "Mau ramen, tidak?"
"B-boleh…," jawab gadis itu tanpa ragu. Setelah itu Naruto meninggalkan Hinata menuju ke dapur. Hinata segera memegang pipinya yang semakin memanas.
Beberapa menit kemudian, tercium bau yang begitu sedap dari arah dapur. Kemudian, Naruto datang sambil membawa dua mangkuk ramen dan dua gelas air putih. "Makan di sini saja. Ruang makanku berantakan."
Hinata mengangguk. Lalu ia mulai sarapan bersama Naruto. Rasanya begitu menyenangkan. Sudah lama Hinata tidak merasakan ramen buatan Naruto—lebih tepatnya sudah sebulan. Rasanya tidak berubah, tetap sama. Sungguh rasa masakan yang membuatnya rindu.
"Jadi, Hinata. Kenapa kau kemari?"
"Ah, umm…. Hinata menunduk, mengarahkan pandangannya pada genangan kuah ramen pada mangkuk di tangannya. "Kudengar… Naruto-kun akan bekerja tetap di Konoha…."
Naruto menatap Hinata dengan alis mengerut. Sejenak, ia berhenti mengunyah, memperhatikan gadis di hadapannya bingung. Apa maksudnya si Hinata ini?
"Ng, a-aku… aku hanya… ingin…."
"Jadi kau juga memutuskan untuk tinggal di sini?" tebak Naruto cepat. Ia memutar bola matanya, lalu kembali menyeruput ramennya.
Hinata menunduk semakin dalam. Wajahnya sangat merah sekarang. "N-Naruto-kun tidak suka?"
"Haha, Hinata, Hinata. Kau aneh sekali ya. Memangnya kau sungguh tak bisa punya teman di sana?" kekeh Naruto. "Kau itu jangan pesimis. Kau kan gadis yang begitu baik. Hanya saja, kau tidak mau berusa—"
"B-bukan begitu, Naruto-kun!" potong Hinata. Sebenarnya, ia sangat malu saat Naruto mengatakan bahwa dirinya adalah gadis yang begitu baik. "Aku… aku…," Hinata merasakan matanya memanas. Ia berkaca-kaca.
Naruto menghela napas, lalu tersenyum kecil. Ia menepuk kepala Hinata dengan lembut. "Iya, iya, aku mengerti," bisiknya. "Kau memang kesepian, dan hanya aku yang bisa mengobati rasa kesepianmu itu…," ujar Naruto pelan.
Hinata mengangguk pelan.
"Haha." Naruto mengangkat dagu Hinata, tentu saja hal itu berefek buruk bagi Hinata. Hinata bisa saja pingsan saat itu juga. "Ya sudah, jangan sedih lagi." Setelah membuat Hinata mengangkat wajah, Naruto segera membereskan mangkuk dan gelas. Lalu ia membawa benda itu ke dapur, menyisakan Hinata yang menghela napas lega.
"Syukurlah Naruto-kun mengerti…," desahnya senang. Gadis itu memegangi dadanya yang berguncang. Lalu senyuman tipis terpatri di bibirnya yang merah muda. "Memang hanya Naruto-kun… hanya Naruto-kun… yang mengerti aku…."
Naruto mencuci mangkuk dan gelas bekas sarapannya dan Hinata sambil menggeleng-gelengkan kepala. Hinata itu meski sudah dewasa, tapi masih saja seperti anak-anak. Sebenarnya Naruto memaklumi mengapa gadis manis itu begitu. Lahir di keluarga terpandang, namun kurang kasih sayang. Dan Naruto adalah penyelamat rasa kesepian yang amat menyiksa Hinata.
Yah… paling tidak Naruto benar-benar menganggap Hinata sebagai adik yang disayanginya.
Memang agak mengesalkan juga sih. Ia tidak suka Hinata terus mengikutinya. Bagaimanapun juga, Hinata secara fisik terlihat dewasa—meski secara mental tidak. Bagaimana kalau tersebar gosip yang tidak-tidak? Apalagi kalau sampai Sakura salah paham. Ah, jangan sampai itu terjadi.
Tapi Naruto juga tahu diri. Ia harus balas budi. Hinata terlalu baik padanya. Memberikan pekerjaan yang sangat susah didapatkan olehnya dan memanjakannya sampai membuat Neji—kakak sepupu Hinata—menjadi kesal pada Naruto. Ngomong-ngomong soal Neji, kalau tidak salah sih dia memang tiinggal di Konoha—tapi Naruto tak tahu kabarnya. Kalau saja Naruto bilang kalau ia tidak suka Hinata tinggal di sini, mungkin saja Hinata akan menggunakan alasan bahwa ia tak bisa menolak permintaan Neji untuk ke Konoha.
"Haaah, rasanya seperti diikuti penguntit," gumamnya.
Dan pagi ini, Naruto menghabiskan waktunya bersama Hinata. Mendengarkan cerita panjang gadis itu selama sebulan ditinggalkannya. Hinata meminta secara khusus pada Naruto untuk berlibur kerja hari ini dan menemaninya—secara, Hinata adalah putri bos. Hinata tidak berubah, masih lembut dan sehalus biasanya. Cara tersenyum, tertawa, juga bicara, tak ada yang berubah. Sebaliknya, Hinata merasa Naruto agak berubah. Namun gadis itu sulit untuk mendeskripsikan apa perubahan Naruto. Mungkinkah… karena pria itu jadi lebih ceria? Raut wajah yang penuh kebahagiaan, belum pernah Hinata lihat selama ia bersamanya.
0o0o0
Malam ini, Sasuke tidur nyenyak sekali. Sebaliknya, ia tak tahu kalau Sakura sama sekali tak bisa tidur semalaman dan membuat gadis itu bangun agak kesiangan. Di saat Sasuke dan Haruki sudah membuka mata, Sakura masih saja terlelap. Tidak seperti biasanya.
Sakura tak bisa membedakan ini mimpi atau bukan. Tapi rasanya begitu nyata. Pipinya ditepuk-tepuk berulang kali. Rasanya begitu berat untuk membuka mata. Tapi, ketika telinganya mendengar suara tirai dibuka, cahaya matahari yang masuk tak bisa berkompromi dengan matanya. Itu sangat silau. Dan Sakura membuka mata.
"Bangun, Bu Dokter!" teriak Haruki dengan ceria.
Sakura mengucek mata. Setelah menarik napas, ia menyingkirkan Haruki yang duduk di atas perutnya. Lalu ia mengecek dahi Haruki. Dan beberapa detik kemudian, desahan kecewa terdengar. "Hari ini Haruki libur sekolah saja ya."
"Kenapa? Haruki udah sehat kok!"
Sakura tersenyum kecil. Memang anaknya ini. Tetap ceria meskipun sedang sakit. "Belum terlalu sehat. Nanti kalau masuk sekolah, Haruki sakit lagi. Terus bisa-bisa kau masuk rumah sakit." Sakura menakut-nakuti dengan suaranya yang dibuat menyeramkan.
"Aaah! Nanti Haruki sendirian di rumah!" Haruki menggeleng pertanda ia menolak. "Haruki mau sekolah! Lagian, hari ini ada murid pindahan di sekolah Haruki!"
Sakura berdecak. Benar juga, Mikoto kan tidak ada di rumah. Jadi, tidak ada yang bisa menemani Haruki.
"Sudahlah, biarkan saja. Lagipula, panas tubuhnya turun kan?" usul Sasuke.
Sakura menoleh ke Sasuke yang berdiri di dekat jendela—ah, sepertinya pria itulah pelaku yang membuat mata Sakura silau. Sekali lagi Sakura menaruh tangannya di dahi Haruki.
"Nanti aku yang akan mengantar dan menjemputnya." Sasuke berkata lagi.
Wajah Haruki menjadi sangat cerah. Mungkin ia sangat senang bisa dijemput ayahnya. Selama Mikoto tidak ada di rumah, ia memang selalu dititipkan pada Guru Iruka. Dan ketika hari sudah sore, maka Sakura atau Sasuke—bahkan Itachi—akan menjemput anak itu.
"Haha," Sakura mengacak rambut Haruki yang berantakan. "Terserah kau deh."
0o0o0
Kira-kira, ini pukul sembilan tiga puluh pagi.
Setelah memarkir mobilnya, Sasuke langsung berlalu menuju kelas Haruki. Padahal seharusnya ia terlambat karena Sasuke baru meninggalkan kantor pukul sembilan, tepat ketika Haruki pulang sekolah. Oh, tapi, kenapa di kelas Haruki masih ramai begitu?
Butuh beberapa menit menunggu sampai kelas benar-benar sepi. Anak-anak sudah pergi menuju ke jemputannya masing-masing. Tanpa menunggu lebih lama, Sasuke bisa melihat Haruki berjalan menuju ke arahnya. Ia tidak sendirian, tapi bersama seorang anak perempuan berambut kuning dan dikuncir kuda.
Hei? Haruki masih terlalu kecil untuk menyukai lawan jenisnya, bukan?
"Ayah, Ayah! Ini murid pindahan itu! Ternyata dia Shikata!"
Alis Sasuke terangkat sebelah. Ia memandang teman Haruki yang memandangnya ramah. Mata biru kehijauan yang gelap itu menatapnya dengan berbinar. Shikata? Siapa sih?
"Mirip!" Shikata berkata dengan nada terkejut.
"Hehe, sudah kubilang, kan? Aku memang punya ayah yang sangat tampan!"
Wajah Shikata memerah. Oh, jujur, belum pernah ia melihat ada orang dewasa setampan ayah Haruki. Bahkan omnya yang terkenal paling tampan satu kota saja kalah! Buru-buru, Shikata membungkuk di hadapan Sasuke. "Pagi Om, salam kenal, namaku Shikata."
Sasuke mengerjap. Ah, ini adalah kali pertama baginya untuk berkenalan dengan teman Haruki. Sasuke begitu gugup. Ia tak tahu harus bilang apa. "Ya… salam kenal juga," jawabnya datar. Percayalah, setelah itu Sasuke mengutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa menjawab sedatar itu pada seorang anak perempuan kecil yang ramah? Terlebih perempuan itu adalah teman anaknya.
"Shika—Haruki?" Gumaman kaget seseorang membuat baik Sasuke, Haruki, maupun Shikata menoleh ke sumber suara. Di sana berdiri seorang pemuda berambut hitam dengan alis berkerut dalam. "K-kau, beneran Haruki?"
"Om Shikamaru!" teriak Haruki girang. Ia segera berlari menuju Shikamaru—pemuda tadi—dan memeluknya erat.
"Astaga, kau sekolah di sini?" Shikamaru mengerjapkan matanya berulang kali. "Jadi—" pandangan Shikamaru tertuju pada Sasuke yang menatapnya heran. "Dia…," Shikamaru terdiam memperhatikan Sasuke. Pemuda yang begitu tampan dan terlihat masih muda. Namun, wajahnya benar-benar mirip Haruki. Mungkinkah?
Sasuke menghampiri Shikamaru. Ia membungkuk sopan. "Selamat pagi."
Masih menganga, Shikamaru balas membungkuk. "Selamat pagi."
Agak lama keduanya terdiam. Saling tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Shikamaru menggaruk belakang kepalanya. "Aku Nara Shikamaru. Ayah dari Shikata," ujar Shikamaru memperkenalkan diri. "Eng, kau—"
"Aku Uchiha Sasuke. Ayah dari Haruki."
Dan terjawab sudah pemikiran Shikamaru. Ternyata tebakannya memang tidak salah.
0o0o0
Sasuke menyesap tehnya perlahan-lahan. Tak berbeda jauh dari Shikamaru. Bedanya, Sasuke dengan tenang meminum, sementara Shikamaru tak bisa melepaskan pandangannya dari Sasuke—sedikit-sedikit menoleh.
"Aku… tetangga Sakura di Suna," ujar Shikamaru memulai pembicaraan. "Dan Shikata adalah teman Haruki sejak kecil," tambahnya sambil melirik Haruki yang tengah bermain perosotan bersama Shikata di tempat itu. Mereka berada di sebuah kafe yang tak jauh dari sekolah. Di dalam kafe ini, terdapat taman bermain anak-anak. "Namun, aku memang berasal dari Konoha."
Sasuke tak mengatakan apa-apa. Diam-diam, ingatannya beralih ke malam di mana hari pertama Sakura tiba di Konoha. Apakah orang ini yang diceritakan Mikoto berasal dari Konoha? Orang yang diceritakan Sakura dengan segala kecerobohannya dan tindakannya yang tanpa pikiran menghamili seorang perempuan hanya karena tak mendapat restu dari mertua? Kelihatannya pemuda di hadapannya ini pintar, sayangnya berpikiran pendek. "Sakura pernah bercerita tentangmu."
Shikamaru mengeluh. "Ah, perempuan itu. Pasti dia membuka aibku ya?"
Sasuke mengangkat bahu. "Mungkin," sahutnya singkat. "Kalau aib yang kaumaksud adalah tindakanmu menghamili putri kepala desa di sana."
Shikamaru tak bisa menahan tawanya. Ia mengutuk Sakura dalam hati. Kenapa perempuan itu terlalu blak-blakan sih? Coba lihat apa reaksinya saat bertemu Shikamaru nanti. Pasti ia takkan menyangka, dikiranya ia takkan bertemu dengan Shikamaru lagi? Hah, jangan kira. Shikamaru berasal dari Konoha, ia juga tak bilang akan selamanya tinggal di Suna. "Ya, kau benar."
Huh. Sasuke mendengus, sambil tersenyum kecil. Benar-benar aneh pemuda di hadapannya ini.
"Ternyata Haruki memang mirip sekali dengan ayahnya," gumam Shikamaru. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Hn?" Sebelah alis Sasuke terangkat.
"Dulu kupikir kau bukan ayahnya. Haruki tidak mirip dengan orang yang kukira adalah ayahnya. Ah, emm, bagaimana ya? Bingung menjelaskannya."
Sasuke membuka matanya lebih lebar—ia tertarik untuk mengikuti pembicaraan yang dimulai Shikamaru. Tapi apa yang dimaksud Shikamaru? Ia tidak mengerti.
Ditatapnya Shikamaru dalam. "Aku tak mengerti. Memang kau pikir siapa ayahnya? Bagaimana kau bisa berpikir bahwa dia ayah Haruki?"
"Awal Sakura datang ke Suna, aku merasa dia sama dengan Temari—istriku. Dia pasti hamil di luar nikah. Kupikir orang yang menghamili Sakura tak mau bertanggung jawab. Karena pada awalnya… aku selalu melihat Sakura memandangi foto seseorang sambil menangis. Foto seorang laki-laki, dan kupikir, dialah yang menghamilinya.
" Tapi Ibu Mikoto menyanggah saat kutanya itu. Dia bilang, ayah dari bayi yang dikandung Sakura mau bertanggung jawab. Hanya saja karena ada masalah, mereka pindah ke Suna. Dan aku tak pernah mempermasalahkan soal itu lagi." Shikamaru mengambil napas dalam. "Tapi aku sangat kaget saat Haruki lahir. Wajahnya tidak mirip dengan pria yang pernah kulihat di foto yang sedang ditangisi Sakura. Yah… meskipun sudah lama sih—tapi aku masih ingat.
"Setelah Haruki lahir, aku tak pernah melihat Sakura menangisi foto itu lagi. Jadi, aku tak peduli lagi. Lagipula, tidak baik terlalu mencampuri urusan orang. Dan kupikir, itu adalah keajaiban genetik. Mungkin Haruki mirip dengan neneknya, Ibu Mikoto."
Butuh beberapa detik bagi Sasuke untuk mencerna maksud dari kata-kata Shikamaru. Namun sesaat kemudian, ekspresi wajah Sasuke menjadi kaku. Tubuhnya menegang. Dan Shikamaru menangkap ada sesuatu yang aneh dengan pria di hadapannya ini.
"Ada apa?" tanya Shikamaru curiga. Sasuke hanya diam sambil memandangnya tak percaya.
"Bagaimana… ciri-ciri laki-laki yang kaulihat di foto Sakura itu?"
Shikamaru memiringkan kepalanya. "Sudah lama sekali. Aku agak lupa." Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di kepala. "Yang kuingat… ia berambut kuning, dan yang terpenting," Shikamaru menunjuk pipinya, " Ada tiga goresan di masing-masing pipinya."
Oh.
Sasuke bisa merasakan sebagian nyawanya terasa melayang saat itu juga. Hatinya terasa mengacungkan sebilah pedang tajam pada perasaannya. Ia seperti tertembak peluru, dan akan mati seketika. Tangannya sudah terkepal, namun masih saja bergetar. Bibirnya terkatup, namun ingin memaki. Matanya menatap lurus ke depan, namun ingin sekali terpejam dan menumpahkan cairan.
"Hei, Sasuke. Ada apa?"
Sasuke menggeleng kecil. Dalam keadaan ingin berteriak seperti ini pun, ia tetap harus bisa menjaga emosinya.
"Memang kau kenal siapa dia? Ini tak sopan sih, aku hanya bertanya."
Perlahan-lahan namun pasti, Sasuke tersenyum simpul. "Mungkin kakaknya Sakura. Keluarga Sakura sudah tidak ada sejak dia kecil. Dan Mikoto adalah ibuku. Sakura diasuh keluargaku sejak kecil."
Shikamaru mengangguk tanda paham. "Aku baru tahu. Mungkin waktu itu Sakura rindu sekali pada keluarganya." Lalu ia tersenyum kecil pada Sasuke. "Oh iya, ia pasti senang sekali bertemu denganmu. Aku jarang melihatnya ceria ketika di Suna. Mungkin ia bisa lebih ceria sekarang. Temari sangat mengkhawatirkannya."
Sasuke balas tersenyum, namun senyumnya begitu terkesan dipaksakan. Oh, bagaimana mungkin ia tersenyum lembut, dan bisa tertawa. Hatinya tak bisa berbohong, kawan. Ia… merasa hatinya telah remuk, berkeping-keping.
Kenyataan bahwa 'mungkin bukan dirinya' yang membuat Sakura tersenyum, menyelip masuk ke dalam pemikiran Sasuke.
0o0o0
Pasti akan sulit membawa Sakura ke pelukannya. Sasuke sudah tahu itu, namun kenapa ia masih terus berharap? Seharusnya Sasuke sudah paham. Sejak dulu, perasaan Sakura tak berubah. Namun hal itu selalu disangkalnya. Sasuke selalu berharap setiap manusia pasti bisa berubah seperti halnya dirinya. Tapi kenapa? Semua terasa begitu sulit?
Mati-matian Sasuke melupakan kejadian malam itu. Malam pertama kali ketika Sakura datang ke Konoha membawa Haruki padanya. Malam saat Sasuke bertandang ke kamar perempuan berambut merah muda itu. Ketika tiba-tiba Sakura tak sadarkan diri, wanita itu menggumamkan sebuah nama yang ingin Sasuke hapus dari ingatannya.
Sasuke, kau tak bisa membohongi diri. Jelas-jelas kau mendengarnya menyebut nama Naruto, bukan?
Ya, Sasuke tahu itu. Tapi saat keesokan harinya Sakura bersikap seperti tak terjadi apa-apa, Sasuke merasa lega. Terlebih, gadis itu sama sekali tak canggung terhadapnya. Sasuke menganggap igauan Sakura saat itu hanya igauan sesaat dan harapannya ia bisa membuat Sakura melupakan Naruto sepenuhnya.
Bukankah kini mereka telah memiliki ikatan? Haruki adalah pengikat mereka berdua, kan?
Sasuke juga bukan orang yang terlalu naif, ia hanya terlalu percaya diri. Bukankah Naruto tak ada di Konoha? Yang ada di dekat Sakura kini adalah dirinya. Sakura hanya bisa memandang dirinya. Kecuali… Sakura memang tidak bisa melupakan Naruto, apapun yang dilakukan Sasuke untuk menarik perhatiannya.
Tiba-tiba perasaan takut itu datang menyelinap. Kemungkinan yang mustahil, tetap bisa terjadi. Ada saja kemungkinan Naruto bisa berada di Konoha, dan Sakura bertemu dengannya. Dan jika kemungkinan itu memang benar….
Ah, bisa saja kan? Semuanya bisa saja terjadi… dan orang yang menelepon Sakura ketika malam itu… mungkin memang Naruto!
Sasuke memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Itu membuat hatinya panas. Ia merasa… seperti dihianati dan dibohongi.
Sasuke memegang dahinya dan ia memejamkan mata. Memang ada kemungkinan… Sakura bisa berbohong padaku…, batinnya sakit hati. Mungkin saja kecupan Sakura di dahinya malam itu adalah kebohongan. Memang tak ada bukti Naruto di Konoha, namun semua yang diceritakan Shikamaru adalah bukti. Meski Naruto tak berada di Konoha sekalipun, keberadaan pria itu akan selalu berada di hati Sakura.
0o0o0
Hari ini, Sasuke sudah berniat untuk tak bekerja demi menemani anak tersayangnya. Entah mengapa, meski sedang kesal sekalipun, Sasuke merasa tenang dan senang jika berada di dekat Haruki. Rasa cintanya sebagai seorang ayah kepada anaknya begitu meluap-luap.
Tuhan, bolehkan ia berharap agar bisa hidup bahagia? Hidup bahagia bersama Haruki, dan ibu dari anak ini?
Sasuke memejamkan mata. Jika suatu saat Naruto benar-benar kembali ke dalam kehidupan Sakura, apa yang akan ia lakukan? Jika suatu saat Sakura akan memilih Naruto, apa yang harus ia perbuat? Jika suatu saat Sakura membawa Haruki dan meninggalkannya untuk hidup bersama Naruto…. Demi Tuhan, Sasuke sudah terlanjur, terlanjur mencintai Sakura dan juga anaknya.
"Ayah kenapa?" tanya Haruki cemas sambil memegang kedua belah pipi Sasuke.
Sasuke memandang anaknya sedih. Ia pun menggenggam kedua tangan anaknya yang begitu mungil. Mata obsidiannya menyorot penuh ke dalam permata emerald di depannya.
"Ayah sedang sedih?"
Sasuke menggeleng sambil tersenyum kecil. "Kalau disuruh memilih… Haruki ingin bersama Ayah atau Ibu?"
Haruki menggantung alisnya heran. Ia menatap ayahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Agak lama anak itu terdiam mencari jawaban. "Boleh Haruki minta buat sama Ayah dan Ibu?"
Sasuke tersenyum kecil, lalu memeluk anaknya. Diusapnya rambut Haruki dengan lembut.
Ia tak mau kehilangan anak ini dan juga kebahagiannya yang begitu sederhana dan polos. Apa jadinya jika Haruki memang harus memilih antara ia dan Sakura?
"Ayah… Haruki ngantuk…." Setelah berkata seperti itu, Haruki langsung menguap.
Sasuke melirik jam di tangannya. Ini sudah pukul satu, Haruki memang harus tidur siang. Anak itu juga tampak lelah, mungkin belum sepenuhnya sembuh dari sakit.
Setelah menggendong Haruki ke kamarnya dan menidurkan anak itu, Sasuke berniat beristirahat juga. Ia menuju ke kamarnya. Namun, baru saja setelah ia menutup pintu, rasa pusing melanda kepalanya. Rasa pusing yang teramat sangat. Kepalanya berdenyut. Sasuke cepat-cepat berjalan menuju ke ranjangnya. Rasa pusing itu semakin jadi. Dan belum sempat Sasuke bisa menyentuh bantal dan selimutnya, tubuhnya telah tumbang di atas lantai.
0o0o0
Hari ini Sakura sama sekali tak berhubungan dengan Naruto. Hal itu dikarenakan Naruto tengah sibuk meladeni Hinata. Sebenarnya Sakura cukup diherankan karena Naruto sama sekali tak menghubunginya hari ini. Diam-diam Sakura berpikir, mungkinkah Naruto marah karena tadi malam secara sepihak ia memutus teleponnya?
Ah iya, aku lupa apa yang Naruto katakan tadi malam, jangan-jangan dia benar-benar marah.
Sakura mulai berpikir yang tidak-tidak. Tapi rasanya aneh. Naruto bukan tipe orang yang mudah ngambek hanya karena hal seperti itu. Dulu, ketika mereka masih bersekolah, Sakura pernah seharian tidak mengangkat telepon dari Naruto atau membalas pesan pria itu. Tapi keesokan harinya Naruto hanya bertanya mengapa dan bersikap biasa saja kemudian.
Mungkin manusia memang bisa berubah seiring dengan perubahan waktu.
Hari ini Sakura pulang dari kerjanya pukul enam sore. Sebenarnya ia hendak berkunjung ke apartemen Naruto—hitung-hitung memberi kejutan—namun niatnya dibatalkan karena suatu hal. Ya, ia tak menduga akan bertemu dengan sahabatnya dulu dalam perjalanan menuju halte bus.
"Ino?"
"Sakura?"
Kedua wanita itu hanya saling bertatapan kaget sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mengobrol di Konoha Park. Kebetulan, mereka sedang berada di dekat situ.
"Sakura… sebenarnya, kau tak perlu menyembunyikannya lagi."
"Tentang apa?"
"Kau… sudah memiliki anak, bukan?" Ino menatap Sakura dengan raut wajah seperti menyesali sesuatu. "Kau melahirkan anak dari Uchiha Sasuke."
Sakura terdiam tak menyahut. Ia tampak tak terlalu terkejut dengan ini. Sebenarnya, sudah biasa baginya mendengar Ino mengatakan hal-hal yang sungguh di luar dugaan. Seperti kali ini. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Ino tertawa hambar. "Jadi itu memang benar," keluhnya menyesali diri. "Maaf, aku mengikutimu kemarin. Kulihat kau bersama seorang anak kecil yang memanggilmu 'Ibu'. Haha, kau tahu perasaanku saat itu, Sakura? Percayalah, aku menangis melihatnya. Sasuke begitu brengsek sampai membuatmu menderita seperti itu."
"Jangan salah paham," sanggah Sakura. "Aku tak menderita melahirkan Haruki."
"Oh, jadi namanya Haruki?" Ino mengalihkan pandangannya ke arah pohon yang ada di sekitarnya. Sakura melirik Ino dengan pandangan tidak suka. Terlebih dengan nada gadis pirang itu berbicara tadi. "Aku tak menyangka ia berhasil menghamilimu. Dan ajaibnya kau mau mempertahankan bayi yang kaukandung dari pria yang memaksamu membuatnya, haha." Suara Ino mulai serak. Ia tahu matanya mulai berkaca-kaca, karena itu ia memalingkan wajah.
"Aku ini manusia, bukan pembunuh berdarah dingin yang tega membunuh anaknya sendiri."
"Tapi dia bukan anak yang kauinginkan!" Ino mulai lepas kendali. Ia menatap Sakura dengan mata biru sejernih air yang menumpahkan air. Ino menutup mulutnya. "Seharusnya aku ada… saat itu… kau pasti—"
Sakura tersenyum tipis. "Aku tak menyesal melahirkannya. Dia anakku, bagaimanapun juga aku berkewajiban menjaganya sebagai Ibu, tak peduli siapapun ayahnya. Kau pasti akan tahu kalau kau sudah jadi ibu, Ino."
Ino menggigit bibir. Ia mulai bisa menahan emosinya. "Kau memang begitu, begitu bodoh. Bisa-bisanya mengorbankan kebahagiaanmu sendiri."
"Dengan kelahiran Haruki, aku malah jadi bahagia."
"Kalau aku jadi kau, aku takkan sanggup melihat anak yang wajahnya sangat mirip dengan orang yang sudah membuatku menderita!"
Sakura tertawa kecil. Ino… Ino… sahabatnya itu tidak berubah dari dulu. Tetap emosian, dan tak bisa memandang sesuatu dari sudut positif dengan mudah. Gadis itu selalu membesar-besarkan hal yang bernilai negatif.
"Jangan bilang kalau itu adalah balas budimu pada keluarga Uchiha sialan itu! Kau punya hak untuk memilih, Sakura! Dan kalau mau, aku bisa membantumu saat itu juga. Tak perlu bergantung pada keluarga itu!"
"Sudah Ino, cukup. Jangan menjelek-jelekkan keluarga Uchiha. Kau yang tak pernah berada di dalamnya takkan tahu apa-apa. Sudah kubilang… itu adalah kewajibanku sebagai calon ibu, bukan sekedar untuk membalas budi seperti yang kaupikirkan."
Ino menarik napas dalam. Lalu ia menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya. Tangannya menangkap kedua bahu Sakura. "Dengar, Sakura. Aku sungguh tak mengerti apa yang kaupikirkan saat itu, tapi—"
"Kau tak tahu apa-apa."
"Apa?"
"Semua yang terjadi biarlah terjadi. Kau tak mungkin mengerti keadaanku saat itu. Jadi, tolong… jangan bahas hal itu lebih lanjut." Sakura menyingkirkan tangan Ino dari pundaknya. "Kau sahabatku kan?"
Ino menatap Sakura nanar. Dirinya mencoba mengerti, tapi tidak bisa. Apakah ia adalah sahabat yang baik? Kenapa ia tak bisa memahami Sakura? Mengerti jalan pikirnya, mendukung keputusannya….
"Sasuke… bukan seperti orang yang kaupikirkan lagi…," ujar Sakura seraya menatap ke arah langit yang masih cerah. Memperhatikan sekelompok burung yang tengah bermigrasi ke suatu tempat, mungkin kembali ke sarangnya.
"Itu yang kaukatakan pertama kali padaku. Dan buktinya?"
"Aku sungguh-sungguh…." Sakura menunduk. Ia menoleh pada Ino, lalu tersenyum. "Dia adalah sosok ayah yang sangat baik."
Ino terlihat agak kaget. Dahinya berkerut dalam. "Kau menikah dengannya?" tanyanya.
Sakura menggeleng. Ia memalingkan wajah, lalu menunduk. Menatap jemarinya yang saling bersahutan satu sama lain.
Menikah? Tak pernah terpikirkan dalam benaknya akan satu kata itu. Untuk apa sebuah pernikahan itu? Apakah Sasuke sempat berpikir atau sekedar memikirkan tentang itu?
"Sasuke tak pernah melamarmu?"
Sakura menggeleng kecil.
"Dia main-main." Ino menggeram.
Sakura menggeleng lagi. Ia tak bisa membohongi diri. Mendadak pertanyaan itu muncul sendiri dalam benaknya. Apakah Sasuke sungguh-sungguh mencintainya? Jika iya, kenapa ia tak pernah mencoba melamarnya padahal sudah ada Haruki? Bukannya Sakura terlalu percaya diri, hanya saja… harusnya kan… ah. Tapi… jika itu terjadi… pasti masalahnya jadi tambah rumit. Karena bagaimanapun juga… Sakura tak bisa mengelak akan perasaannya. Ia masih memikirkan Naruto. Apakah lebih baik kalau seperti ini saja?
Ah, apakah jahat jika ada perasaan ingin memiliki dua pria sekaligus?
Sakura menunduk lebih dalam. Ada apa dengan perasaannya? Tapi tadi… kenapa ia sempat mengharapkan Sasuke akan melamarnya?
"Jangan katakan kau tinggal serumah dengannya."
"Aku memang tinggal bersamanya."
"Astaga! Apa sih yang kaupikirkan? Itu membuktikan kalau Sasuke tak benar-benar ingin bertanggung jawab!"
"Jangan campuri urusanku lagi, Ino. Sudah cukup kita membicarakan tentang diriku sampai sini!" bentak Sakura. Ia sudah tidak tahan. Ino terus saja menginterogasinya tanpa memikirkan perasaannya. Apa ia memang harus mengetahui kehidupan Sakura sedetail itu dan mengaturnya?
"Aku—"
Melihat ekspresi Ino, membuat Sakura merasa bersalah. Sakura tahu, Ino peduli padanya dan mencoba memberikan apa yang terbaik yang sedang dipikirkan gadis itu untuknya—walapun Ino tak tahu kalau caranya sungguh salah dan egois. "Maaf, maksudku… aku hanya tidak suka kau mencampuri urusan pribadiku terlalu jauh…," desah Sakura pelan. "Biarkan aku yang menjalaninya. Ini adalah kehidupanku."
"Aku mengerti," balas Ino tak kalah pelan. Sepertinya ia sudah mulai sadar diri.
Sakura membisu. Begitupula Ino. Sepasang sahabat itu pun dilanda kecanggungan dan keheningan yang menyesakkan. Suara-suara berisik dari orang-orang yang tengah sibuk menata tenda-tenda besar di depan mereka seakan hanya kumpulan orang-orang yang bergerak tanpa suara. Mereka berdua tenggelam dalam dunia masing-masing.
"Jadi, bagaimana denganmu sendiri? Kau ada niat untuk menikah?" tanya Sakura.
"Tidak tahu," sahut Ino ringan.
"Kau masih sendiri?"
Ino menggeleng. Sejurus kemudian ia mulai tersenyum. "Aku memiliki seseorang," ucapnya riang. Matanya mengerling ke arah Sakura. "Sebenarnya sekarang aku sedang menemani kekasihku menata untuk pamerannya nanti."
Sakura mengerjap. Ia memandang Konoha Park secara keseluruhan. Ah, sepertinya akan ada acara besar di sini. Kenapa ia tak menyadarinya sedari tadi? "Pacarmu seniman?"
"Begitulah," jawab Ino tersipu. "Akan ada pameran terbuka di sini. Pacarku jadi ketua panitianya."
"Wow." Sakura berdecak kagum. "Siapa namanya?"
"Shimura Sai."
"Ah, Shimura? Pelukis yang sedang naik daun itu ya? Orang-orang di daerahku tinggal saat rehabilitasi, banyak yang membicarakannya. Dia sangat terkenal. Aku tak menyangka kau adalah pacarnya."
Ino tersenyum manis. Pipinya bersemu kemerahmudaan. Ia memejamkan mata, tersipu-sipu. Ia merasa malu, sekaligus senang. "Sebenarnya dia ingin bertemu denganmu."
"Ha?"
"Yah… aku sering bercerita tentangmu padanya," Ino menggaruk pelipisnya dengan telunjuknya yang lentik.
"Sungguh? Aku jadi ingin tahu yang mana orangnya." Mata Sakura mencari-cari di antara kerumunan orang yang sedang sibuk menghias tenda besar.
"Dia sedang pergi," sesal Ino. "Ah, bagaimana kalau kau datang saja ke pameran nanti?"
"Hm? Boleh?"
"Tentu saja. Ini pameran terbuka. Acaranya besok lusa. Nanti akan kuperkenalkan kau padanya. Tenang saja, kau bisa datang malam harinya jika kau sibuk."
"Tak perlu. Kalau lusa, aku libur." Sakura tersenyum senang. Yah… sangat kebetulan sekali, bukan? "Boleh kuajak Haruki?"
Ino tampak berpikir. Mengajak anak yang mirip dengan Sasuke itu? Oh, bisa-bisa itu membuatnya kesal. Tapi… ada juga rasa penasaran melanda hatinya. "Boleh juga. Kalau perlu kau ajak Sasuke sekalian."
"Hm?" Alis Sakura terangkat sebelah. Ia menatap Ino heran.
"Tak ada apa-apa," kata Ino, seakan ia tahu apa pertanyaan Sakura padanya. "Aku hanya ingin melihat sosok 'ayah yang baik' dalam diri Sasuke. Seperti yang kaukatakan."
Sakura tersenyum ringan pada Ino, dan dibalas senyuman pula. Sepertinya Ino mulai mencoba untuk mengerti dan memahami dirinya. Mencoba menerima sudut pandang penilaiannya terhadap sesuatu, terhadap Sasuke.
Bukankah itu sosok sahabat yang baik?
0o0o0
Sakura tak tahu setan apa yang merasuki dirinya kalau sudah bersama Ino. Entah mengapa, ia tak bisa berhenti mengobrol. Kalau bukan karena gerimis yang tak datang tiba-tiba, mungkin sekarang Sakura masih bersama Ino—bahkan mungkin Sakura akan bertemu Sai.
Saat ini Sakura telah sampai di kediamannya tinggal. Ia melihat mobil Sasuke di garasi, dan menganggap kalau pria itu berada di rumah.
Pertama Sakura mengecek Haruki di kamarnya. Ternyata anak itu tengah tertidur pulas. Sakura mengecek dahi Haruki, dan yang ajaib, dahi anak itu sama sekali tak terasa panas—bahkan hangat pun tidak. Padahal seingat Sakura, pagi tadi kondisi anak itu masih belum membaik. Suhu tubuhnya masih tinggi.
Sakura mengecup dahi Haruki. Setelah itu ia segera menuju ke kamar Sasuke. Bukannya apa-apa. Setidaknya ia ingin menyapa sekaligus mengucapkan terima kasih. Bagaimanapun juga, Sasuke meninggalkan pekerjaannya demi merawat Haruki, bukan? Merawat Haruki, sebuah pekerjaan yang seharusnya dilakukan seorang ibu. Ah, Sakura jadi merasa tidak enak karena telah merepotkan Sasuke.
Namun, betapa kagetnya Sakura. Ketika ia membuka pintu kamar Sasuke, yang dilihatnya adalah tubuh Sasuke yang tergeletak di lantai!
"Astaga, Sasuke!" Sakura yang sangat panik langsung menghampiri Sasuke. Ia mengecek suhu tubuh pria itu, dan hasilnya mengejutkan! Sakura bisa memperkirakan suhu tubuh Sasuke mungkin mencapai empat puluh derajat! "Sasuke, kau demam!"
Sakura menepuk-nepuk pipi Sasuke, namun Sasuke tak sadar juga. Sakura begitu panik—padahal seharusnya sebagai seorang dokter, ia tidak berperilaku begitu menghadapi orang sakit.
Sasuke melenguh. Hembusan napasnya bahkan terasa panas.
Sakura tak punya pilihan. Dengan susah payah, ia memindahkan tubuh Sasuke ke atas ranjang. Wajah Sasuke memerah karena demam.
Sakura memandang Sasuke cemas. Ia langsung mengambil termometer yang berada di laci. Segera ia ukur suhu tubuh Sasuke. Dan benar, suhu tubuhnya tepat empat puluh derajat! Dengan segera Sakura membuka kancing kemeja Sasuke. Ia berniat mengganti baju Sasuke dengan piyama.
"Saku…ra?" igau Sasuke. Matanya terbuka sedikit. Sakura tahu, Sasuke pasti setengah sadar.
"Kau demam," sahut Sakura tergesa-gesa. "Nanti akan kuambilkan kompres dan obat," tambahnya cepat-cepat.
Sasuke memejamkan matanya. Ia membiarkan Sakura menelanjangi badannya. Beberapa saat kemudian terdengar suara lemari dibuka, kemudian Sasuke merasakan Sakura memakaikan piyama di badannya. Setelah itu ia mendengar suara pintu terbuka dan kemudian tak ada suara. Barulah sekitar satu menit berselang, Sakura datang membawa wadah berisi kompresan di tangan kanan dan sebuah nampan berisi air dan obat di tangan kiri. Kebetulan saat itu Sasuke membuka matanya sedikit. Ia melihat wanita itu kewalahan membawa berbagai benda di tangannya.
"Mungkinkah kau tertular Haruki?" tanya Sakura cemas. Melihat mata Sasuke yang setengah terbuka itu membuatnya merasa semakin cemas. "Kau harus minum obat dulu." Perlahan-lahan, Sakura membantu Sasuke untuk duduk, namun sama sekali tak berhasil. Sasuke malah memejamkan matanya lagi.
"Sasuke?" panggil Sakura. Ia menepuk-nepuk pipi Sasuke. "Kau harus minum obat."
Sasuke tak menyahut. Akhirnya Sakura tak punya pilihan. Ia memeras kompres untuk Sasuke dan menaruhnya di atas dahi pemuda itu. Di saat itulah mata pemuda itu kembali terbuka, meskipun hanya sedikit.
"Sa…ku…."
"Sasuke, kau harus minum obat!" Sakura buru-buru berkata, takut Sasuke akan memejamkan mata lagi.
Namun, hal yang tidak disangka Sakura terjadi. Ia hanya mematung dan menatap Sasuke penuh tanda tanya saat merasakan tangan pemuda itu terangkat dan menekan bagian belakang lehernya. Membawa kepalanya tepat ke atas kepala pemuda itu. Membuat bibirnya bersentuhan dengan bibir hangat pemuda itu.
Sakura terdiam. Ia hanya terdiam. Bahkan ketika bibir Sasuke mulai melumat bibirnya, menyesapnya perlahan-lahan, Sakura hanya terdiam, dan tak bicara apa-apa.
Ia terlalu kaget untuk memahami apa yang sudah terjadi.
Sakura bisa merasakan napas hangat yang keluar dari hidung pemuda di hadapannya membuat wajahnya menghangat. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tubuhnya tak menolak saat perlahan-lahan Sasuke membuatnya naik ke atas ranjang, dan membuatnya menindih pemuda itu.
Sasuke melepas ciumannya. Lalu ia berpindah posisi dengan pasti untuk berada di atas wanita yang berada di atasnya tadi. "Sakura…," gumamnya.
Sakura hanya menatap Sasuke tak percaya. Sungguh, ia masih belum bisa berpikir dan belum bisa mengerti apa yang sudah terjadi. Otaknya terasa lambat untuk menerima sebuah kejadian yang barusan menimpanya. Sakura baru menyadari semuanya saat menyadari kalau Sasuke hendak menciumnya kembali.
"Sasuke, hentikan!" Sakura meletakkan telapak tangannya di bibir Sasuke. Matanya menatap mata hitam kelam Sasuke yang terlihat sayu. Dan Sakura sungguh tak yakin. Apakah pemuda di hadapannya ini sadar dengan apa yang tengah ia lakukan?
Napas Sakura memburu dan bertabrakan dengan napas Sasuke yang panas. Wajah perempuan itu memerah, sama seperti wajah Sasuke yang memerah karena demam.
Sasuke hanya memandang Sakura hampa. Itu membuat Sakura langsung tahu bahwa pemuda berambut emo itu tidaklah sadar dengan apa yang dilakukannya. Itu adalah pengaruh demam yang terlalu tinggi.
"Katakan padaku… Sakura…," desah Sasuke. "Apakah manusia bisa berubah…?"
Sakura mengangkat sebelah alisnya. "Sasu…ke… kau demam…." Sakura mencoba untuk melepaskan diri. Dadanya terasa sesak. Sasuke membuatnya terjepit. Dan ketika Sakura berusaha untuk menyingkirkan Sasuke perlahan-lahan, Sasuke malah memberontak.
"Katakan padaku, Sakura! Apa manusia bisa berubah?"
Sakura diam tertahan dan menghentikan segala kegiatannya. Ia menatap Sasuke penuh waspada. Memperhatikan pemuda itu. Apakah Sasuke benar-benar sadar, atau hanya berhalusinasi? "Bisa… tentu saja bisa…," jawab Sakura pada akhirnya. Ia menjawab dengan pelan sekali. "Seperti dirimu yang telah berubah sampai sejauh ini. Manusia pasti bisa berubah, asal ada kemauan."
Sasuke terdiam. Ia menatap Sakura dengan tajam dan tepat sasaran. "Katakan padaku sekali lagi. Kalau begitu… apakah kau bisa berubah…?"
"Eh?"
"Bisakah kau merubah pandanganmu…? Untuk menoleh ke arahku… dan melupakan Naruto?"
Dan Sakura pun membeku dibuatnya.
Bersambung
A/N
Konbanwa…
Hoshi Yamashita di sini…
Chap 4: done.
Hwaah, saya bikinnya sambil merem nih *ngucek mata*
Akhirnya selesai juga musim yang keempat XD *halah* Ini chapter spesial untuk kalian yang sedang menunggu hasil kelulusan ujian :3 semoga lulus semuanya yaaaaa! :D
Oh iya, berhubung sebentar lagi saya akan UKK, mungkin update chapter depan bakal lama. Mungkin saya bakal ngelanjutin pas liburan. Tapi 'mungkin' ya XD. Soalnya saya udah bilang sama temen saya di DA kalau bakal bikin doujinshi SS pas liburan. Jadi kalau mendua sama bikin fic juga, kepala saya bakal pecah kayaknya.
Tapi, kalau bikin doujin-nya batal, mungkin saya bakal lanjut ke fic XD Tergantung mood sih, hehe.
Yap, soal adegan di atas, no comment lah. Saya memang nggak pandai membuat adegan seperti itu. Dan, pasti kalian bisa menebak gimana Naruto bisa tahu tentang kebohongan Sakura. Ayo tebak, tebak! XD
Balasan review :3
momijy-kun: Waduh... enaknya... ditunggu cake-nya XD Ng... tapi kok kayaknya di sini Naruto banyak ya..? O.o? Antara iya dan tidak Haruki kepikiran soal itu XD Tapi kemungkinan iya (lho?) Aaa... suka SuiKarin ya? (sok tau)#dor Ini udah updateee maaf kalo lama =3= RnR lagi?
HikariNdychan: Iya, perbedaan jg diperlukan untuk mengatasi kejenuhan #halah. Aduh, Haruki anak baik kok, pasti dia mau dipeluk Ndychan XD *sok tau*. Yosh, ini sudah update, RnR lagi?
NenSaku: Err... sebenarnya nggak harus sih, cuma pengin aja gitu tahu siapa aja yg baca fic ini btw, thanks ya udah tergerak buat revieeew XD Aaa... idenya bagus juga :3 nanti saya pikir lagi. Soal perasaan Sasuke sendiri, mungkin iya mungkin nggak (dia lagi galau tuh XD) Salam kenal NenSaku :) Ini sudah update, RnR lagi?
Sslove: Iya, makasih ya doamu untuk SasuSaku :) (saya jadi pengin didoain jg #plak) Waah, masa sih kayak drama film? jadi malu... Soal Hinata... tuh di atas dia udah nongol XD Yosh, RnR lagi?
Dark ANgel: Wah... sankyu atas reviewnya... Kayaknya di chapter ini isinya pergolakan batin Sasuke (bener gak sih?) jadinya kan seimbang, hehe :D Ini sudah update, maaf lamaaaa. RnR lagi?
WinterCherry: Wah... jarang ada yg bilang kalo Sakura bisa bikin greget XD Kayaknya iya tuh, soalnya kan dia tahu tentang hubungan ibunya sama Naruto *halah* Eh, boleh usul kok, boleh :D. Tapi... emangnya Sasuke nggak teges ya? (baru sadar) Nanti saya coba sebisa mungkin deh bikin dia teges Ini sudah update... RnR lagi?
SS: Kalo saya jadi Sakura jg saya pasti bingung setengah mati (tapi kayaknya gak bakal deh saya ada di posisi Sakura =_=) Dan 'ehem' itu apa? O.o? Yup, RnR lagi?
Aoi Ciel: Iyaaaa tapi masih imutan Undertaker XD (selera gaje) Semoga Sakura tobat deh, hoho. Yaks, RnR lagi?
me: Err... udah suka belumnya, sebenarnya sih udah, cuma masih malu buat bilang XD secara dia dulu pernah nyakitin Sakura. Ini udah update, RnR lagi?
Fivani-chan: 'Illfeel' mungkin? XD Waa... saya nggak kepikiran kalo Sasu punya mantan O.O tapi saya juga pengin sih bikin Sakura cemburu, cuma bingung gimana cara cemburunya Yah! Naruto jangan dibuang ke laut dong XD dia udah saya sewa buat main di fic saya #plak. Yo, RnR lagi?
Nanrina benci flamers: Wah... nggak papa kok :) Salam kenal jugaaaa! *pinjem speaker mushola juga* Aa... Sakuranya ngeselin ya... o_ov *peace* Ini sudah update, maaf kalo gak kilat XD RnR lagi?
GK: Hehe, di fic Sesal Sasuke jahat banget ya? *peace#dichidori. Perasaan Sakura sendiri ke Sasuke, buat sekarang sih kayaknya masih sebagai kakak :3 hihi.. tapi nggak tau buat ke depannya XD Ini dah dilanjutin kok... RnR lagi?
Mizuki Ruka: Amiiiiin (lho?) makasih atas reviewnya yaa, RnR lagi? :D
Soraka Menashi: Hehe, emang nggak kok... Eh masa sih kalo ada Karin bikin seru? O.o? Ini sudah update, RnR lagi?
Terima kasih juga kepada:
Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, momijy-kun, airashii-chan desu, Uchiha Annisuke ELF, Junsuina Ao Yuki, tomatcerry, Kirara Yuukansa, Haza ShiRaifu, Sindi 'Kucing Pink, Gracia De Mouis Lucheta, Karasu Uchiha, cherry kuchiki, Cherry No Blue, Soraka Menashi, Cha KriMoFe Doujinshi
Yo guys,
Review?
.
.
.
Love a lots,
Yamashita
