"ーSingkat cerita, mereka lebih terlihat seperti partner seks."
"Ha?"
.
.
Chanyeol tertegun. Kedua matanya mengerjap pelan. Neuron-neuron di dalam otak berusaha memproses kata demi kata yang Jongin ucapkan padanya. Seperti ada dorongan impuls yang timbul ketika dia mulai mengerti informasi yang didapat, " ーapa maksudmu?" Dia ingin memperjelasnya.
"Kau sungguh ingin tahu?" Jongin agak skeptis untuk menceritakannya. Namun anggukan antusias pemuda itu terlihat begitu yakin, " ーapa kau yakin perasaanmu tidak akan berubah dan kau bisa menerima 'keadaan' Baekhyun setelah tahu masa lalunya? Aku sih tidak yakin." lanjutnya seraya menyesap kembali rokok yang semakin memendek. Menatap lurus manik hitam Chanyeol yang bening, lalu berdecak saat sorot mata itu benar-benar mengingatkannya akan masa lalu.
Chanyeol menelan ludah. "Jujur saja, apapun masa lalu yang dilalui Baekhyun, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku yakin aku bisa menerima itu semua, karena aku menyukai segala kelebihan dan kekurangannya. Kupikir cinta tak butuh alasan. Kau sendiri tahu 'kan bagaimana reaksiku jika melihat Baekhyun akan melakukan 'one night stand' dengan yang lain?"
"Makanya sudah kubilang, menyerah saja. Tidak ada gunanya kau menjadi 'anjing' penjaga tiap hari di kafenya hanya untuk menjaga dia tidak 'bermain'. Baekhyun itu keras kepala dan cukup temperamenーsi manusia es yang sulit didekati."
Tanpa sadar, Jongin mengerti alasan lain mengapa pemuda itu datang setiap hari ke kafe dibalik alasan klise 'aku jatuh cinta padanya' karena ternyata, pemuda itu 'menjaga' Baekhyun agar tidak sembarangan bermain dengan orang lain. Dia bahkan ingat kejadian 3 minggu lalu saat ada seseorang yang menjemput Baekhyun untuk pergi ke hotel, namun dihadang oleh Chanyeol hingga menimbulkan perkelahian yang tak bisa dihindari. Membuat mood Baekhyun begitu buruk dan meninggalkan dua bocah yang masih adu tinju di depan kafe dan kembali ke apartemen dengan acuh. Lalu meneleponnya dan mengomel perihal tingkah bocah bernama Park Chanyeol yang membuatnya tidak bisa melakukan seks dari waktu terakhir dia melakukannya dengan pemuda ituーlebih dari 6 bulan yang lalu saat secara tak sengaja Chanyeol berkunjung ke kafe Baekhyun yang sepi, jatuh cinta pada pandangan pertama, lalu melakukan one night stand hingga membuatnya besar kepala perihal hubungan mereka yang spesial.
Sex deprived.
"Tsk, kau tidak mengerti situasinya." Chanyeol semakin dibuat frustrasi. Kalau memang bisa, tentu dia akan meninggalkan Baekhyun untuk mencari orang yang bisa menerima cinta dan perhatiannya ーseperti saran Baekhyun. Tapi keyataannya tidak bisa. Sekuat apapun dia mencari yang lain, sekeras apapun dia melupakannya, Chanyeol tidak bisa merasakan letupan-letupan manis seperti yang dirasakan pada Baekhyun dengan orang lain. Dia kepalang jatuh cinta pada pria yang jauh lebih tua itu.
Cinta pertama itu memang rumit.
"Justru karena aku cukup mengerti situasinya, aku setuju dengan saran Baekhyun untuk melupakannya. Kau masih muda. Sayang sekali kalau kau hanya terjebak dalam kemelut perasaan yang kau sebut cinta pada sosok Baekhyun. Perasaan manusia itu bisa berubah semudah kau membalikkan telapak tangan. Apalagi saat mengetahui masa lalunya yang kelam."
"Menyerah bukan suatu hal yang bisa kulakukan sekarang. Aku yakin aku bisa membuka hatinya. Meskipun rasanya ingin sekali aku menguliti orang-orang yang pernah tidur dengan Baekhyun. Aku yakin ada pemicunya mengapa dia melakukan itu. Kalau memang masa lalu membuatnya sangat terluka, aku harap aku bisa menyembuhkan luka itu di masa sekarang. Loves heal, right?" Chanyeol masih berusaha karena dia merasa sangat yakin mampu membuat Baekhyun jatuh cinta padanya.
"..."
"..."
"Hahahahaha~ astaga! Kau ini benar-benar masih bocah, huh? Your words are full of shit, you know that?" Jongin tertawa melihat keseriusan Chanyeol. Well, meski ucapannya sarkas, namun sejujurnya dia hanya ingin memastikan saja bahwa bocah itu memang benar-benar serius.
Masa lalu yang kelam itu sungguh seperti luka bakar yang membekas. Terlihat 'buruk rupa' untuk dipertontonkan. Jongin tak ingin asal untuk menunjukkan luka itu pada orang yang tak bisa menerima Baekhyun apa adanya.
"Ugh.. bukan begitu maksudku."
Chanyeol salah tingkah. Kedua pipi semakin terlihat memerah. Dirinya yang masih remaja tanggung memang tidak banyak pengalaman. Mungkin bagi mereka yang sudah merasakan asam garam kehidupan dan 'jatuh cinta' untuk kurun waktu yang lebih lama, kalimatnya sungguh terdengar seperti bualan semata. Tapi setidaknya, dia akan berusaha untuk membuat Baekhyun melupakan masa lalu dan menemukan kebahagian dengan caranya.
"Baiklah~ aku tahu kau memang serius." Ujar Jongin tersenyum miring. Tentu saja dia hanya menggoda Chanyeol. Dia yakin, sorot mata itu benar-benar sama seperti sorot mata Baekhyun yang yakin akan cintanya, meski pada orang yang salah sekalipun.
Perasaan yang tulus dan mendamba hingga rela melakukan apapun.
Dasar bodoh.
"Uhm ーkembali lagi pada bahasan sebelumnya. Jadi, apa yang terjadi dengan masa lalu Baekhyun?" Chanyeol mengembalikan topik bahasan sebelumnya. Penasaran dengan apa yang terjadi. Dia masih harus mengorek banyak informasi untuk bisa mengerti Baekhyun seutuhnya dan melakukan strategi pendekatan yang tepat. Meski mungkin masa lalu kelam itu cukup membuat urat-urat menegang atau mungkin membuat emosinya meluap.
But that doesn't matter.
Jongin tertawa pelan, merasa takjub dengan kegigihan pemuda itu.
"Well seingatku, masa lalu keduanya sangatlah berbeda. Seperti dua kutub yang bertolak belakang. Percintaan Baekhyun lebih seperti kisah cinta platonik yang datar-datar saja, sedangkan dia.. aku bahkan tidak bisa menjelaskannya."
"Maksudmu?"
Lagi, Jongin melirik pemuda itu dari sudut mata sebelum akhirnya menjawab, "Entahlah apakah asumsiku selama ini benar atau salah, karena yang kutahu, Baekhyun hanya mencari tempat pelarian saja dengan mengencani orang-orang yang bahkan tidak dia kenal." Jongin mengenang memori masa lalu, " ーkau tahu, bagaimana rasanya mencintai seseorang yang begitu dekat denganmu tapi terasa begitu jauh untuk bisa kau gapai? Rasanya seperti 'apapun rela kau lakukan agar bisa terus berada di dekatnya sekalipun hanya menjadi partner seksnya'. Baekhyun terlalu mencintainya hingga rela melakukan itu demi bisa bersama dengannya."
"Memangnya seperti apa orang yang menjadi cinta pertama Baekhyun? Apa dia orang hebat dan populer yang bisa membuat orang tergila-gila padanya? Bahkan sampai Baekhyun rela menjadi..uhm.. partner seksnya?" nada suara Chanyeol terdengar gusar. Tak bisa dipungkiri, ada rasa cemburu dan amarah yang kini menggerogoti. Meski tadi dia sudah memantapkan hati untuk tak terlalu memikirkannya, tapi tetap saja, membayangkan Baekhyun berada di pelukan orang lain sudah cukup membuat ubun-ubunnya mendidih.
"Populer iya, tapi hebat? Hahaha jangan membuatku tertawa. Dia lebih mirip seperti bajingan yang pernah ku kenal selama aku hidup di dunia ini. Dia seperti jelmaan iblis yang menjerat dan menyiksa manusia." Ada raut amarah yang terpancar dari wajah Jongin. Seolah dia sangat menyesali kejadian yang pernah terjadi di masa lalu.
"Apakah seburuk itu? Jika orang itu begitu.. uhm.. 'buruk', kenapa Baekhyun masih juga mencintainya? Bahkan setelah dia pergi meninggalkannya?"
Jongin menghisap rokoknya, lalu mengembuskan asap putih kelabu itu ke udara. Otaknya seperti kaset usang yang memutar memori-memori masa lalu. Dia sendiri tidak habis pikir, bagaimana bisa Baekhyun begitu mencintainya setelah apa yang orang itu lakukan. Luka yang tertoreh pada diri Baekhyun nampaknya begitu dalam dan berbekas hingga dia tidak bisa melupakannya.
Apa yang Baekhyun lihat dari orang brengsek seperti itu hingga membuatnya terlihat begitu menyedihkan karena mencintai orang yang salah?
Baekhyun seolah terjerat dan terikat oleh perasaan tabu yang membuatnya tidak bisa mencintai orang lain. Dia terjebak di dalam perasaan kelam dan tersesat di dalam labirin yang diciptakan orang itu untuknya. Seolah sengaja mengurung Baekhyun hingga membuatnya tidak bisa melepaskan diri.
'Cinta' yang diberikannya pada Baekhyun seperti sebuah kutukan.
"Jongin ssi!" Chanyeol sedikit menaikkan nada suara ketika lawan bicara yang duduk di hadapannya hanya diam melamun menatap langit-langit tenda. Suara tingginya bahkan mencuri perhatian orang-orang yang duduk di dekat mereka.
"Maaf ー" Jongin meminta maaf karena sudah tersedot ke dalam memori masa lalu dan membiarkan Chanyeol tenggelam dalam kebingungan.
"Tidak apa-apa. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, Jongin ssi." Ucap Chanyeol memaklumi.
Jongin menahan napas beberapa detik, seraya menatap sepasang manik hitam yang juga sedang menatapnya.
"Aku tahu, pasti banyak sekali pertanyaan yang berputar di dalam kepala kecilmu. But, times out. Aku harus kembali ke tempat kerjaku." Ucap Jongin seraya mematikan rokok ke dalam asbak alumunium di atas meja. Dia harus kembali bekerja hanyalah alasan kecil yang dia buat, karena menceritakan masa lalu Baekhyun pada orang lain bukanlah menjadi tanggung jawabnya. Dia masih belum sepenuhnya yakin.
Biar Baekhyun sendiri yang mengurusnya, kenapa juga harus dia yang pusing merangkai kata mendongengkan kisah masa lalu untuk dimengerti oleh pemuda itu?
"Tunggu.. tunggu, Jongin ssi." Chanyeol menahan lengan Jongin yang hendak berdiri, " ーapa kita bisa bertemu lagi?" seolah mengerti maksud Chanyeol, lelaki itu sangat memakluminya.
"Tsk~ ini bukan one night stand." Senyum miring Jongin membuat wajah Chanyeol yang merah karena pengaruh alkohol semakin memerah tanpa alasan, " ーtapi tentu saja, setiap pertanyaan yang kau ajukan padaku tidaklah gratis."
Chanyeol menelan ludah, "Kau tahu, aku hanya seorang mahasiswa tingkat 3 yang bekerja paruh waktu di akhir pekan saja. Uangku tidak banyak."
"Kalau begitu, kau harus cari uang yang lebih banyak lagi." Jongin mengacak surai coklat maple Chanyeol sebelum akhirnya beranjak berdiri dan meninggalkan pemuda itu di dalam kedai tenda.
"Jongin ssi!" panggil Chanyeol mengejar. Jongin berhenti melangkah dan menolehkan kepala kebelakang, menatap pemuda yang kini sudah berdiri di belakangnya.
"Tolong jawab satu saja pertanyaanku. Apa yang membuat dia membenci musim dingin? Apa karena cinta pertama Baekhyun pergi meninggalkannya saat musim dingin?"
"..."
Jongin mengerjap pelan menatap tubuh jangkung Chanyeol. Lalu mendongakan kepala menatap langit hitam yang sedikit mendung. Jeda beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.
"Sepertinya kau memang belum sepenuhnya memahami Baekhyun." Jawab Jongin, " ーlagipula, mereka berpisah dipertengahan musim semi saat puncak bunga sakura bermekaran." Lanjutnya menyangkal.
"Aku berusaha untuk semakin memahaminya." Suara Chanyeol terdengar frustrasi, "Apa karena cuacanya yang tidak bersahabat hingga membuat Baekhyun tidak menyukai musim dingin?"
"Tsk~ kau banyak bertanya, akan kumasukkan ke dalam daftar tagihanmu."
"Apa kau menerima sistem pembayaran kredit?"
"Aku bukan rentenir, bocah sialan."
Chanyeol terkekeh.
"Jadi, mengapa Baekhyun tidak menyukai musim dingin?"
"Bukan musim dingin yang dia benci."
"Lalu?"
"Matahari."
"Ha?"
"Dia benci melihat matahari tenggelam meninggalkannya."
.
.
ーTo be continuedー
Hai hai~~~ sabtu jadwal nya setor update :D
Moga2 msh keep interest ama ceritanya~ hehehe
Jgn lupa vote and comments~ 💕
