Upik Abu tak dapat melupakan kenangan malam itu, pun Sang Pangeran. Pangeran terus memimpikan gadis yang berdansa dengannya di pesta, membayangkan untuk mengulang kembali malam itu. Pangeran mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari tahu tentang gadis misterius itu. Namun, tak ada seorang pun yang mengenal gadis cantik bergaun biru itu. Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa gadis itu tidak nyata. Hanya ilusi sang pangeran saja.

Tidak. Pangeran tak pernah memercayai perkataan itu. Bagi Pangeran gadis itu senyata kenangan yang hidup di benaknya. Tidak mungkin sebuah ilusi bisa berdansa bersamanya. Pangeran berjanji akan menemukan gadis itu walau bagaimanapun caranya.

.*.

Disclaimer Bleach ©Tite kubo

(Saya hanya meminjam karakter-karakter di dalamnya tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun, selain kesenangan semata)

.*.

Not a Cinderella Story

by

Ann

.*.

Peringatan: AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s),

tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'

Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...

selamat menikmati!

.*.

Chapter 4

.*.

Di depanmu aku tidak ingin menjadi seorang pangeran. Aku hanyalah manusia biasa yang mencintaimu apa adanya.

.*.

"Kau baik-baik saja?"

Jika Ichigo menghitung dengan benar, ini sudah kelima kalinya dalam waktu sepuluh menit Rukia mengajukan pertanyaan yang sama.

"Memangnya kau pikir apa yang akan terjadi padaku kalau aku naik bus atau angkutan umum lainnya?" Ichigo balas bertanya dengan geli.

Wajah Rukia tampak memerah. "Siapa tahu kau akan terkena gatal-gatal karena naik angkutan rakyat jelata," jawabnya.

"Kecuali kau menaburkan bubuk gatal di kursi ini sebelum aku duduk, aku yakin aku akan baik-baik saja." Ichigo tertawa.

Rukia mencebik. "Aku mengkhawatirkanmu, sedang kau─" Membuang jauh pandangannya keluar jendela, Rukia enggan menatap Ichigo.

"Hei, jangan marah," bujuk Ichigo. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja. Ini bukan kali pertama aku naik angkutan umum. Waktu kuliah aku juga sering naik bus juga kereta bawah tanah, dan aku baik-baik saja. Tidak ada penyakit gatal, sesak napas, apalagi serangan jantung. Semua oke, Rukia. Kau tidak perlu khawatir. Meski menurutmu aku berbeda, tapi sebenarnya aku sama saja sepertimu, manusia biasa."

"Menurutku kau seorang pangeran." Rukia melirik Ichigo sambil menutup mulutnya dengan tangan. Kata-kata tadi meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa bisa ditahan.

"Dan pangeran ini adalah milikmu." Wajah Rukia kembali merona dan ia memilih mengalihkan tatapan dari wajah pangeran tampan di sisinya. Pangerannya.

.*.

Kencan normal ala Ichigo tak terasa benar-benar normal bagi Rukia. Yah, ini akan terasa normal jika mereka masih anak SMA, tapi─ah, sudahlah, meskipun tidak benar-benar normal, Rukia menikmatinya.

Ia menikmati perjalanan di taman hiburan bersama Ichigo. Menaiki berbagai wahana mulai yang santai hingga menguji nyali. Berphoto di photobox, bersama badut kelinci dan beruang, makan crepes, menikmati milkshakes, juga membeli souvenir. Kencan normal ala anak SMA ini nyatanya sangat menyenangkan bagi Rukia. Hal yang sedikit mengganggunya adalah ketika para gadis melirik Ichigo, ada yang dengan malu-malu, tapi tak sedikit yang dengan berani menggoda Ichigo. Rukia tahu bahwa Ichigo pria yang tampan, tapi tak bisakah mereka melihat bahwa Ichigo bersamanya, bahkan di sepanjang jalan selalu menggandeng tangannya.

"Setelah ini kau mau ke mana?" tanya Ichigo.

Rukia meletakkan kembali boneka kelinci biru ke rak, lalu menoleh pada Ichigo. Mereka tengah berada di toko souvenir, Ichigo berniat membelikan hadiah untuk kedua adik perempuannya dan Rukia membantunya memilih hadiah-hadiah tersebut. "Kencan ini idemu, kau saja yang tentukan tujuan selanjutnya, atau kita bisa langsung pulang setelah ini," kata Rukia.

Ichigo melirik jam tangannya. Pukul dua lewat dua puluh lima menit. "Masih sore," ujarnya, "Kita pulang setelah makan malam saja."

"Apa tidak terlalu malam? Pekerjaanku─"

"Hoho ... Nona Kuchiki, hari ini kau tidak boleh memikirkan pekerjaan. Hari ini kau hanya boleh memikirkan aku."

Rukia menunduk menyembunyikan semburat merah jambu yang kembali menghiasi wajahnya. Akhir-akhir ini, wajahnya memang seringkali memerah apalagi jika berada di dekat Ichigo. Pria itu begitu pandai membuatnya tersipu.

"Apa ada tempat yang ingin kau datangi?" tanya Ichigo.

Menelengkan kepala, Rukia memikirkan jawaban untuk pertanyaan Ichigo itu, tak mendapat satu pun tempat yang begitu ingin ia kunjungi, kecuali ...

"Pulang."

"Bukannya kubilang kita pulang setelah makan malam."

"Bukan pulang ke istanamu, tapi pulang ke rumahku," ujar Rukia.

"Oke," sahut Ichigo. "Apa kita perlu membeli sesuatu untuk dibawa ke rumahmu?"

"Kita perlu pergi ke fresh market, aku ingin memasak untuk orang-orang di rumahku."

Ichigo mengangguk tanda setuju. "Di dekat sini ada fresh market?"

"Ada. Kita bisa jalan kaki ke sana, tapi sebelum itu kau harus tahu rumah yang kumaksud bukanlah rumah biasa. Yang kumaksud rumah adalah panti asuhan tempatku dibesarkan."

Raut terkejut sempat muncul di wajah Ichigo untuk sesaat, kemudian ekspresinya kembali normal. "Pasti menyenangkan mengetahui tentang dirimu lebih dalam."

Rukia menggeleng. "Tak ada yang istimewa dalam diriku."

Ichigo menatap Rukia, berlama-lama menikmati sepasang iris violet di depannya. "Kau istimewa, kau hanya belum menyadari itu."

"Aku─"

"Jangan mendebat, Rukia. Terima saja saat seseorang memujimu, apalagi jika pujian itu datang dari tunanganmu."

"Kukira kau pangeranku," sahut Rukia.

"Hei, bukankah hari ini kita hanya akan jadi pasangan normal. Aku bukan pangeran dan kau bukan Cinderella."

"Tapi aku tetap merasa kau seorang pangeran."

"Kalau begitu kau seorang putri."

"Aku bukan seorang putri."

"Apa pun untukmu, Ratuku."

Ratuku. Sudah dua kali Rukia mendengar Ichigo memanggilnya begitu, tapi ia tak berniat memprotes. Karena ketika Ichigo memanggilnya seperti itu, Rukia merasa dirinya istimewa.

.*.

Akhirnya, mereka tak jadi pergi ke fresh market, karena mereka menghabiskan waktu lama di toko souvenir. Ichigo membeli banyak barang, hampir membawa pulang separuh isi toko. Bukan untuk dirinya sendiri, Ichigo membeli mainan dan boneka untuk dibagikan pada anak-anak panti. Saking banyaknya barang yang dibeli mereka tak bisa membawanya sendiri, terpaksa Ichigo memanggil Izuru untuk menjemput mereka.

Pukul lima sore mereka sampai di panti. Anak-anak panti menyambut mereka dengan penuh semangat, apalagi saat Ichigo mulai membagikan mainan. Anak-anak itu langsung antusias dan menjadikan Ichigo sebagai idola baru mereka. Bahkan Ichigo hanya sempat berkenalan sepintas dengan Manna-san, sebelum ditarik anak-anak untuk bermain. Awalnya, Rukia khawatir Ichigo tak bisa berbaur dengan bocah-bocah itu, tapi setelah lima menit ia dengan yakin meninggalkan ruangan bermain dan masuk ke dapur.

"Anak-anak menyukainya," komentar Manna saat Rukia bergabung dengan kepala panti itu untuk menyiapkan makan malam.

"Dia cepat berbaur," ujar Rukia sembari memotong-motong tomat.

"Jadi, kau akan menikah dengannya?" tembak Manna tanpa basa-basi.

Gerak tangan Rukia terhenti, kepalanya tertoleh pada wanita paruh baya yang sudah membesarkannya itu. "Manna-san! Dari mana kau mendengar hal itu? Aku bahkan belum memberitahumu."

Manna tersenyum. "Aku melihat beritanya di internet. Kalian jadi topik utama."

"Berita apa?"

"Kau tak tahu?"

Rukia menggeleng.

"Ah, anak ini sama sekali tidak update dengan berita terkini." Rukia meringis sementara Manna mengambil ponsel dari atas rak dan membuka portal berita terakhir yang dibukanya beberapa jam lalu. "Lihat ini."

Rukia tercengang melihat tampilan di layar ponsel Manna. Berita tentang Ichigo dan dirinya menjadi headlines di berbagai portal berita. Tak hanya laman berita gosip, pun media elektronik yang seringkali memberitakan tentang ekonomi dan bisnis ikut mengabarkan tentang dirinya yang menjadi Cinderella.

"Ini ..." Ia menatap layar ponsel dan Manna bergantian.

"Semula kupikir itu hanya hoax, tapi saat kau membawa sang pangeran kemari, aku tahu aku salah. Kau benar-benar menjadi putri seperti di dongeng-dongeng yang sering kau baca waktu kecil."

"Tidak begitu, Manna-san."

"Lalu apa? Kau tidak mungkin membawanya ke sini jika tidak ada hubungan apa-apa dengannya," ujar Manna.

Rukia menghela napas. "Semua begitu tiba-tiba, aku tak yakin ini benar-benar terjadi."

Senyum pengertian muncul di bibir tua Manna. Ditepuknya puncak kepala Rukia, seperti yang sering ia lakukan saat menenangkan Rukia kala gadis itu tengah dilanda masalah. "Terkadang cinta memang datang tiba-tiba."

"Cinta?" Rukia membeo. "Aku tak yakin apa yang terjadi di antara kami ini cinta."

"Lalu kau ingin menyebutnya apa? Keajaiban?"

"Ini lebih tampak seperti itu," sahut Rukia sembari kembali melanjutkan tugasnya.

"Kau tahu, Rukia." Perhatian Rukia kembali pada Manna. "Cinta adalah keajaiban."

.*.

Sisa hari itu berlalu dengan cepat. Rukia dan Ichigo duduk bersama anak-anak dan pengurus panti untuk makan malam, menyantap makanan sederhana yang Rukia kira akan membuat Ichigo tak nyaman. Namun, ia salah. Ichigo sana sekali tak terganggu dengan kesederhanaan itu, malah tampak sangat menikmatinya. Ini adalah sisi lain dari sang tuan muda yang baru Rukia ketahui. Walau terkesan cuek dan sombong dalam penampilannya, ternyata di balik itu ada keramahan dan kerendahan hati yang disembunyikan. Ichigo sosok yang hangat dan menyukai anak-anak. Pria itu tak segan bermain dengan bocah-bocah cilik, melakukan hal-hal yang bagi sebagian besar orang dewasa enggan dilakukan.

Saat mereka pamit pulang, beberapa anak menangis dan baru berhenti saat Ichigo berjanji akan datang lagi.

"Kakak akan datang lagi," ucap Ichigo sambil menepuk kepala anak perempuan bernama Haruka.

"Janji?" Haruka mengangkat jari kelingkingnya. Ichigo mengaitkan kelingkingnya di jemari kecil itu.

"Janji."

Manna dan anak-anak mengantar mereka keluar, melambai saat mobil yang mereka naiki melaju.

"Tadi itu menyenangkan," ujar Ichigo setelah panti tak lagi terlihat.

"Anak-anak sangat menyukaimu." Rukia tak dapat menahan senyumnya.

"Aku juga menyukai mereka, sudah lama sejak terakhir kali aku bermain dengan anak-anak."

"Kau menyukai anak-anak?"

"Seperti yang kau lihat, aku cukup menyukai mereka," jawab Ichigo. "Mereka luar biasa. Polos dan jujur. Aku ingin rumahku nanti dipenuhi dengan banyak anak." Tentunya yang Ichigo maksud adalah anak-anaknya sendiri dan ibu dari anak-anak itu adalah Rukia.

"Minimal ada tiga anak, dua orang perempuan dan berambut hitam seperti ibunya."

Rukia tak dapat berkata-kata. Keterusterangan Ichigo membuatnya gagu seketika. Untungnya, suara batuk Izuru menginterupsi momen itu.

"Kira mengemudi saja dengan benar, oke?" tegur Ichigo.

"Baik, Tuan Muda," sahut Izuru, nada geli terselip dalam suara pria itu.

Rukia berdecak. "Kau ini benar-benar. Seharusnya, kau tidak segamblang itu."

"Kenapa? Semua orang sudah tahu kau bakal jadi istriku."

"Ichigo!" Rukia memelototi Ichigo, yang dibalas gelak tawa oleh pria oranye itu. Rukia mendengus dan menjadikan pemandangan malam Karakura sebagai pusat perhatian.

"Rukia ..." Suara itu menggelitik telinga Rukia sehingga ia menoleh. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ichigo, membuatnya dapat menikmati seluruh lekuk wajah pria itu. Jika diperhatikan dengan saksama, wajah Ichigo tidaklah sempurna. Ada bekas luka samar di kening dan dekat telinga pria itu, membuat Rukia gatal ingin menyentuhnya.

"Terima kasih untuk hari ini." Ichigo menutup ucapannya kemudian menjauhkan wajah, meninggalkan Rukia dengan degup jantung tak beraturan dan pikiran yang tak karuan.

Cinta adalah keajaiban, dan terkadang datang secara tiba-tiba.

.*.

Keesokan harinya, Rukia tak melihat Ichigo sejak pagi. Ketika bertanya pada Sasakibe tentang keberadaan Ichigo, Kepala Staf itu mengatakan Ichigo pergi bersama Isshin pagi-pagi sekali. Rukia tak bertanya lebih jauh tentang tujuan dan alasan kepergian Ichigo, ia lebih memilih melakukan tugas harian seperti biasanya.

"Rukia-chan."

Rukia baru selesai membersihkan salah satu kamar tamu, saat Masaki memanggilnya.

"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya."

Masaki tersenyum. "Kita perlu melakukan sesuatu tentang pekerjaanmu juga panggilan Nyonya itu," ujar wanita yang mewariskan rambut oranye pada Ichigo itu.

Rukia tak membantah, hanya mengikuti ketika Masaki mengarahkannya memasuki ruangan berpintu putih yang merupakan ruang kerja wanita itu.

"Duduklah, banyak yang harus kita bicarakan."

Nada bicara Masaki yang serius membuat Rukia gugup. Ia tak langsung bergerak menuju sofa, hanya mematung dengan pintu tertutup di belakangnya.

"Rukia-chan?"

"Ah, sa-sa-saya ..."

"Tidak apa-apa. Kemarilah."

Rukia menurut. Di dekatinya Masaki yang sudah duduk nyaman di sofa.

"Duduklah. Jangan sungkan."

Duduk di sofa empuk sama sekali tak membuat Rukia merasa nyaman. Jantungnya masih berdegup kencang, penuh antisipasi menghadapi pembicaraan yang akan segera terjadi.

"Aku ingin meminta maaf padamu."

Rukia tercengang. Tak menyangka Masaki akan mengatakan hal itu kepadanya. "Sungguh, saya tidak mengerti kenapa Anda harus meminta maaf, Nyonya."

"Aku begitu senang karena Ichigo sudah menemukan pasangan sehingga lupa menanyakan bagaimana perasaanmu tentang hal ini. Aku merencanakan tentang pernikahan tanpa menanyakan kesediaanmu. Aku benar-benar minta maaf, Rukia."

"Anda tidak perlu meminta maaf, Nyonya. Saya mengerti yang Anda rasakan."

"Aku ingin kau berhenti memanggilku Nyonya."

"Akan saya coba," sahut Rukia.

"Kau gadis yang baik Rukia," ujar Masaki. "Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kau bekerja di rumah ini. Kau rajin dan pekerjaanmu rapi, juga perhatian pada Karin dan Yuzu."

"Terima kasih, tapi saya rasa itu terlalu berlebihan."

Masaki melambaikan sebelah tangan, mengabaikan protes kecil Rukia. "Kau tahu, malam itu aku hanya berharap Ichigo menemukan seseorang. Anak itu terlalu mencintai pekerjaan. Mungkin itu kesalahanku dan Isshin yang mendidiknya untuk menjadi pemimpin Grup Kurosaki sehingga ia terlalu terfokus pada hal itu dan melupakan yang lain."

Rukia memasang telinga baik-baik agar tak melewatkan setiap kata yang dikeluarkan Masaki.

"Seingatku terakhir kali Ichigo pacaran saat SMA, setelah itu tak ada hubungan spesial dengan perempuan mana pun. Saat aku mendesaknya, dia berbohong padaku tentang memiliki pacar selama di Amerika."

"Berbohong?" Rukia penasaran.

Masaki bertopang dagu. "Ya. Dia bilang punya pacar, tapi tidak ada seorang gadis pun. Ternyata yang dia maksud pacar adalah pekerjaannya."

"Ekh?" Fakta yang dikemukakan Masaki benar-benar membuat Rukia kaget. Ternyata Ichigo seorang workaholic.

"Makanya, aku memaksanya mencari jodoh dan dia menemukanmu." Masaki menutup kalimatnya dengan senyum lebar. "Kau adalah harapanku satu-satunya untuk membuat anakku kembali normal."

Rukia menelengkan kepala. Selama dua hari mengenal Ichigo, Rukia merasa Ichigo normal senormalnya pria pada umumnya, tapi Rukia tak banyak mengenal pria, jadi pendapatnya masih amat sangat diragukan.

Masaki bangkit dan duduk di samping Rukia, meraih kedua tangan Rukia dan menggenggamnya erat. "Tolong, buat putraku berhenti memacari pekerjaannya."

.*.

Black Sun Tower, kantor pusat Grup Kurosaki:

"Kau melakukannya dengan baik," ujar Isshin. "Para pemegang saham setuju dengan perencanaan yang kau ajukan."

"Mereka memang akan setuju karena keuntungan yang mereka dapat menjadi berkali lipat," sahut Ichigo sambil memerhatikan laporan trimester di layar komputer. "Produksi pabrik di Malaysia turun secara signifikan tiga bulan terakhir."

Isshin melangkah ke dinding kaca yang mengelilingi ruangan lantai teratas Black Sun Tower. Matanya menatap gedung-gedung bertingkat yang tingginya masih kalah dengan kantor pusat Grup Kurosaki. "Apa kau berpikir untuk menutupnya?"

"Tidak. Itu pabrik kedua kita di Asia Tenggara, dan masih bisa diselamatkan."

"Jika kau bicara seperti itu artinya kau sudah punya solusi."

"Aku akan pergi ke sana untuk mengecek apa yang bisa kulakukan."

"Kapan kau berangkat?"

"Besok," jawab Ichigo sembari mengganti halaman spreadsheet ke laporan yang lain.

"Ibumu tak akan senang mendengarnya. Kau baru kembali dan harus pergi lagi, dia tak akan menyukainya."

"Apa boleh buat, ini masalah pekerjaan."

"Dan kami memanggilmu pulang bukan untuk bekerja. Kau sedang cuti, Nak."

"Tapi─"

Isshin berbalik, mengunci mata Ichigo dengan tatapan 'Jangan bantah aku'.

"Bukankah kau menikmati cutimu kemarin?"

Ichigo memikirkan hari yang dilaluinya bersama Rukia kemarin. Seharian ia tak memikirkan pekerjaan sama sekali. Kemarin ia benar-benar menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. "Kemarin menyenangkan, tapi aku punya tanggung jawab. Otou-san sendiri yang memberikannya padaku."

"Memang, tapi aku tak ingin kau bekerja setiap hari seperti robot. Kau manusia, Ichigo, ada kehidupan lain yang harus kau jalani selain di kantor ini."

"Aku tak berniat hidup seperti robot. Aku sudah menemukan kehidupan lain yang Tou-san maksud, hanya saja keadaan pabrik di─"

"Ada orang lain yang bisa menanganinya. Kau sekarang sedang cuti, nikmatilah itu. Biasakan dirimu dengan ide memiliki keluarga."

Ichigo mengernyit. "Memangnya selama ini aku tak punya keluarga?"

"Anak bodoh." Isshin berdecak. "Memangnya berapa kali kau mengunjungi kami dalam setahun, hah? Kau hampir tidak pernah pulang. Kami yang harus datang menemuimu."

Ichigo merasa ditampar. "Maaf," ucapnya.

Isshin menghampiri Ichigo, menepuk bahu anaknya seraya berkata, "Nak, hidup tidak hanya tentang bekerja dan mencari uang, tapi ada hal lain untuk dijalani."

"Baiklah." Ichigo menegakkan tubuh. "Akan kunikmati masa cutiku, aku tidak akan ke kantor dan tak akan mau tahu urusan kantor. Semua kuserahkan padamu, Pak Tua." Ia melangkah cepat menuju pintu. Sebelum keluar Ichigo menoleh pada ayahnya. "Semoga berhasil dengan pabrik yang di Malaysia, juga pabrik di India."

"Ya ya ya, aku akan membereskannya."

Pintu menutup bersama kepergian Ichigo.

"Tunggu. Pabrik di India?" Isshi memerhatikan layar komputer di meja. "Ah, sial. Anak itu!"

.*.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini? Apa kita pergi kencan lagi?"

Sebelum makan siang Ichigo sampai di rumah dan sekarang sedang memerhatikan Rukia melakukan pekerjaan harian, yakni bersih-bersih.

"Kalau kau tidak turun dari tempat tidur bagaimana aku bisa merapikannya." Rukia sama sekali tak menjawab pertanyaan Ichigo.

"Tempat tidur ini sudah rapi, kenapa harus dirapikan lagi?"

Rukia bertolak pinggang, memelototi Ichigo yang berbaring telentang di atas tempat tidur yang spreinya separuh berada di lantai, bantal dan guling tak karuan letaknya dan selimut yang tergulung di kepala tempat tidur. Rapi? Pemandangan itu jauh dari kata rapi.

"Memangnya kau tidur bagaimana sampai seberantakan ini?" Rukia mengumpulkan bantal yang terjatuh ke lantai.

"Tidur saja denganku malam ini, maka kau akan tahu." Sebuah bantal mendarat di wajah Ichigo.

Rukia memberengut saat Ichigo tertawa keras karena berhasil menjailinya. "Apa kau tidak menemani pacarmu hari ini?" Rukia menarik selimut sekali lagi, kali ini Ichigo menyingkir dan membiarkannya merapikan tempat tidur pria itu.

Sebelah alis Ichigo terangkat. "Pacar?"

"Iya, pacar. Pacar imajiner bernama pekerjaan."

"Ekh?! Dari mana kau dengar─pasti ibuku yang bilang." Ichigo bersungut.

"Nyo─Masaki-san bilang kau pacaran dengan pekerjaan, apa itu benar?"

Ichigo mendengus. "Ibuku berlebihan. Mana bisa orang pacaran dengan pekerjaan. Memangnya aku terlihat seperti itu?"

Rukia mengedikkan bahu. "Mana kutahu, aku kan baru mengenalmu."

"Kalau begitu kau harus lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku. Ayo, pergi ke suatu tempat bersama."

"Memangnya kau tidak akan kembali ke kantor hari ini?"

"Aku diusir dari kantor."

Mata Rukia beralih pada Ichigo yang duduk di langkan jendela. "Kenapa?"

"Ayahku tak ingin aku ada di kantor, dia memberiku cuti panjang."

Rukia menghela napas lega. "Ternyata begitu."

"Memangnya kau pikir ada apa?"

"Bukan apa-apa," sahut Rukia sambil menyusun bantal dan guling di kepala tempat tidur. "Bukankah cuti panjang itu menyenangkan. Kau bisa melakukan apa pun dan pergi ke mana pun sesuka hati."

"Rencananya memang seperti itu, dan aku ingin kau menemaniku. Bagaimana?"

Belum sempat Rukia menjawab ajakan Ichigo, ponsel pria itu berteriak meminta perhatian. Ichigo langsung menyambar salah satu dari dua ponsel di nakas.

"Ya."

Rukia mengamati Ichigo yang tengah berbicara di telepon. Ekspresi pria itu berubah serius dan suaranya menjadi lebih tegas saat memberikan instruksi pada si penelepon, yang Rukia kira adalah salah satu bawahan Ichigo.

"Tidak. Tidak. Kau tidak bisa melakukan hal itu. Ada ribuan karyawan yang bekerja di pabrik itu. Kita masih bisa mengusahakan cara lain. Kalau kau tidak bisa, biar aku sendiri yang mengurusnya."

Ichigo menutup telepon, kemudian beranjak ke lemari untuk mengambil jas yang tersampir di sofa.

"Tidak jadi pergi?" Suara Rukia menghentikan gerak Ichigo.

"Ada hal yang harus kuurus," jawab Ichigo sambil memasang jas.

"Bukankah kau sedang cuti?"

"Memang, tapi─"

"Bukan cuti namanya kalau kau tetap pergi ke kantor. Memangnya kau tidak bisa mendelegasikan tugas pada orang lain?"

"Ayahku bilang dia yang akan mengatasinya, tapi─"

"Baiklah, silakan pergi. Aku akan menghabiskan waktu luangku di panti." Rukia berjalan melewati Ichigo menuju pintu. Ia berhenti tepat di depan pintu dan menoleh pada Ichigo. "Rupanya, kau benar-benar tak bisa meninggalkan pacar imajinermu barang sebentar," ujarnya sebelum memutar kenop dan menarik pintu hingga terbuka. Namun, sebelum sempat ia keluar pintu kembali tertutup.

"Aku tak akan pergi ke kantor. Hari ini, besok, dan besoknya lagi, sampai akhir minggu ini aku akan bersamamu."

Mata Rukia membelalak terkejut karena Ichigo begitu dekat. Rukia terhipnotis iris sewarna madu itu sehingga butuh lama baginya untuk merespon. "Aku tak ingin menyita waktumu sebanyak itu."

Ichigo menjejalkan ponsel ke tangan Rukia. "Pegang benda itu. Matikan. Supaya tidak ada yang bisa menggangguku."

Rukia memandang ponsel berlayar lima setengah inchi di tangannya, lalu memandang Ichigo. "Baiklah, jika itu yang kau mau."

"Sekarang, pergilah ke kamarmu dan ganti seragammu, kita akan pergi dalam lima belas menit."

"Ke mana?"

"Kau akan tahu nanti."

.*.

Rukia baru mencapai anak tangga terbawah lantai dasar saat Momo menghampirinya.

"Ada apa?" tanya Rukia, bingung melihat sikap Momo yang tak biasa.

"Ada kiriman untukmu."

Rukia mengambil amplop cokelat yang diberikan Momo. Surat itu terlihat biasa dengan nama Rukia tertulis di bagian depan, tapi saat Rukia membaliknya dan melihat nama pengirim, bola matanya melebar. Ishida Uryuu.

"Aku ingin tahu apa yang dikirimkannya untukmu," ujar Momo.

"Yang jelas bukan surat cinta," canda Rukia guna mengurangi kegugupannya. Jujur saja, ia benar-benar penasaran dengan isi amplop yang dikirimkan Ishida kepadanya. sembari membuka lidah amplop dan mengeluarkan isinya. Sebuah kertasjatuh ke tangan Rukia. Berwarna merah muda dengan ornamen unik di sisinya. Di bagian depan tertulis: Undangan Pernikahan.

.*.

bersambung ...

.*.

Hai, Minna. Maaf, baru bisa menyapa setelah sekian lama. Semoga kalian tidak lupa dengan jalan cerita fanfik ini, tapi kalau lupa pun saya tak bisa menyalahkan kalian soalnya fanfik ini sudah lama tak diupdate. Hehe ...

Sekali lagi, maaf saya tak bisa membalas review kalian satu per satu di chapter ini. Mungkin next chapter akan saya balas.

See ya,

Ann *-*