Dua blankar didorong bersamaan memasuki ruang operasi. Hiruk-pikuk suara langkah kaki di tengah koridor berangsur sunyi, hanya ada suara embus napas dan detak jantungnya yang terdengar dari sisi telinga. Para suster yang sudah mengenakan pakaian serba hijau khas ruang pengoperasian mulai mengepungnya dari dua sisi, hanya ada beberapa yang dapat Sasuke kenali, salah satunya adalah Shizune. Hal itu cukup menenangkan ketakutan akan aroma asing yang masuk ke dalam saluran pernapasannya.

"Kau yakin ingin melakukan ini?" tanya Shizune sekali lagi, berharap Sasuke akan berubah pikiran dan berhenti menempatkan dirinya dalam bahaya. Karena Shizune sangat tahu kalau keadaan fisik Sasuke saat ini jauh dari kata bugar.

Untuk sesaat Sasuke terdiam, ia mengalihkan perhatian pada satu unit blankar yang terisi sosok kakaknya. Itachi membutuhkan pertolongan, Itachi bisa mati jika ia tidak melakukan hal ini. Apapun untuk Itachi, dan Sasuke akan selalu merelakan segala hal hanya demi menyelamatkan nyawa kakaknya, walaupun itu artinya ia harus berkorban nyawa sekalipun.

"Aku siap," Satu anggukan penuh tekad ia lakukan. Mata Sasuke bergulir menatap suster Shizune yang sedang memasangkan sebuah masker oksigen di mulut dan hidungnya, sementara wanita itu sendiri mengenakan masker bedah sama seperti yang dikenakan kebanyakan suster dan dokter di ruangan ini.

Lamat-lamat Sasuke bernapas normal, udara yang tercium dari dalam masker itu seketika membuatnya mengantuk. Bentuk masker yang dipakai Sasuke berbeda dengan yang biasa dipakai Itachi, yang ini berbentuk seperti belalai gajah dan ada kantung di bagian bawahnya. Mungkin disanalah aroma asing itu berasal hingga menyebabkan dua mata Sasuke berangsur menutup.

"Sasuke-kun, kau bisa mendengar suaraku?" Seorang dokter berusaha mengajaknya berinteraksi.

Sasuke kembali membuka mata walau kelopaknya terasa sangat berat sekali. "Hn."

"Kalau boleh tahu dimana sekarang kau bekerja?" tanya dokter itu lagi sambil melakukan sesuatu terhadap perut Sasuke. Tapi sayangnya Sasuke tidak menyadarinya atau merasakan apapun yang dilakukan dokter itu terhadap tubuhnya.

"Aku..." Bunyi pendeteksi detak jantung yang berdegup statis semakin memberatkan sepasang mata hitam Sasuke. "Uh...aku tidak...bekerja..." Pandangannya berbayang, samar-samar Sasuke hanya mampu menangkap gerakan mulut sang dokter tanpa dapat mendengar suaranya. Keheningan melanda dunia Sasuke, ia tak lagi dapat bergerak dan kesadarannya semakin tertarik menuju kegelapan.

"Sasuke-kun..." Entitas suara dan sentuhan lembut di pipinya membangunkan Sasuke. Mulutnya meleguh, dan tak lama mendesis. Efek obat bius yang menyerangnya perlahan mulai terkikis.

"Air..." Ia berucap serak. Seluruh tubuhnya bergetar tapi tak mampu bergerak. Persendian ototnya terasa beku, untuk sekadar menggeser kepala saja rasanya ia tidak mampu. "Aw..." Bibir kering pucat itu merintih lagi. Bagian perutnya terasa panas dan nyeri.

"Minumlah ini..." Pelan-pelan suster Shizune menyendokkan sesuap air ke dalam mulutnya. Keadaan Sasuke pasca operasi masih sangat lemah, dan Shizune cukup tahu kalau Sasuke pasti tidak akan bisa bergerak secara leluasa selama beberapa saat. "Kau mau lagi?"

Sasuke mengangguk lemah. Bibirnya masih membuka sedikit demi meraup sesendok kecil air yang diberikan Shizune secara bertahap ke dalam mulutnya. "Sudah cukup, Suster."

Setelah Sasuke selesai minum, Shizune mulai memeriksa keadaan Sasuke, di mulai dari kantung cairan infus yang menggantung di atas tiang —masih tersisa setengah, berlanjut pada denyut nadi Sasuke yang perlahan berangsur normal, lalu terakhir mengecek pupil matanya.

"Suster... Perutku sakit sekali," ringisnya.

"Nanti akan kuberikan obat pereda rasa sakit untukmu. Sepertinya efek obat bius itu sudah menghilang."

"Suster, lalu bagaimana dengan kakakku?"

Shizune tak segera menjawabnya, ia benar-benar mengambil obat pereda rasa sakit lalu menyuntikkan obat itu ke selang infus Sasuke.

"Suster," Sasuke memanggil sekali lagi karena ia merasa belum mendapatkan jawaban yang melegakan hatinya.

"Tenang saja, Sasuke-kun. Itachi-san sudah melewati masa kritisnya dengan baik."

Terdengar helaan napas lega dari mulut Sasuke. Matanya berbinar senang. Seluruh ketakutannya serasa terangkat dari sepasang pundaknya. "Lalu dimana, Niisan?"

"Dia ada disini," Shizune beranjak ke arah tirai yang berada di samping ranjang Sasuke kemudian menyibaknya pelan-pelan. "Kalian selalu bersama, bahkan setelah operasi selesai dilaksanakan. Aku yang meminta pihak rumah sakit untuk menempatkan kalian dalam satu ruangan yang sama."

Kehangatan menelusup penuh ke hati Sasuke. Ia ingin bergerak tapi baru sesenti ia menggerakan badan, perutnya terasa ngilu kembali. Padahal beberapa detik lalu rasa sakitnya mulai memudar, efek obat pereda rasa sakit yang diberikan Shizune kepadanya.

"Kau masih belum boleh banyak bergerak. Istirahatlah dulu, nanti jika keadaanmu mulai membaik, kau bisa menghampiri kakakmu."

"Aku ingin memeluknya, Suster. Aku ingin meyakinkan diriku bahwa Niisan masih berada di sisiku."

"Sasuke... Ini semua bukan mimpi. Niisanmu masih disini, dia masih bersamamu."

Mata hitam Sasuke mematri sendu raut wajah Itachi di dalam tidurnya. Kakaknya begitu rapuh, dan dia juga terlihat sangat pucat. Seakan-akan aliran darah di tubuhnya membeku. Sasuke sangat takut jika apa yang ada di dalam pikirannya benar-benar terjadi. Tetapi ketika ia melihat gerak napas pada dada dan perut Itachi, seketika ketakutannya berganti dengan sebersit senyum tipis di bibirnya. "Ya, Niisan baik-baik saja. Dia masih bersamaku. Dia tidak akan meninggalkanku. Benar begitu kan, Suster?"

Sebentuk belaian kasih sayang mengusap helai rambut Sasuke yang berantakan. Shizune merapikannya sembari membalas senyum Sasuke dengan senyum keibuan yang cukup hangat di mata. "Ya, tentu saja. Mana mungkin aku berbohong padamu."

Sasuke kemudian mengangguk. Tak ada lagi ketakutan di hatinya. Itachi sudah berhasil terselamatkan. Itachi tidak akan meninggalkannya seperti Kaasan dan Tousan. Sasuke menguatkan tekad keyakinannya, bahwa suatu saat nanti Itachi pasti akan membuka mata dan kembali memeluknya seperti dulu.

"Aku mengantuk... Jam berapa ini, Suster?"

"Tidak usah memikirkan waktu. Kau harus beristirahat, jadi tidurlah. Tidak perlu memikirkan hal lain yang memberatkanmu."

Itu benar. Suster Shizune benar. Tidak seharusnya Sasuke memikirkan hal lain selain kondisi kakaknya, biarlah ia beristirahat sebentar sebelum memulihkan keadaannya untuk kembali beraktivitas. Tapi bagaimana dengan Naruto? CEO kejam itu pasti sedang mencarinya. Ah, Sasuke begitu takut tapi matanya justru terpejam merasakan lembut belaian dari tangan Shizune yang cukup hangat. Sasuke terbuai, ini seperti belaian mendiang Kaasannya saat masih hidup dulu. Dan lamat-lamat ketenangan dari alam mimpi lekas menghampiri Sasuke di dalam tidurnya.

Sasuke tertidur cukup lama sekitar 8 jam setelah ia terbangun pasca operasi. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Cukup mengejutkan, sampai berhasil membuat Sasuke terlonjak dari kasur. Tapi kemudian ia merintih, perutnya sakit dan ia lupa pada keadaannya yang baru selesai di operasi.

"Niisan..." Ia memanggil lirih. Tenggorokannya kering lagi. Sasuke memutar pandangan dan menemukan segelas air penuh di atas nakas. Pelan-pelan ia gerakan tangan kanannya yang tidak terpasangi jarum infus, meraih gelas itu lalu meminum isinya sampai habis tak bersisa. Ia seperti penderita dehidrasi kalau begini. "Ngh..." Sasuke meletakkan gelas itu kembali, dan bergerak sedikit demi sedikit untuk menuruni kasur pasiennya. Ia ingin menghampiri Itachi.

Ruangan tempat Sasuke dan Itachi berada sangat sepi, tidak ada tanda-tanda kehadiran suster Shizune. Mungkin wanita itu sedang sibuk mengurusi pekerjaannya atau sedang melakukan tugas jaga di meja resepsionis. Sasuke tidak terlalu memikirkannya, ia sudah terlalu banyak merepotkan suster Shizune. Jika hanya untuk berdiri dan berjalan menuju ranjang Itachi, ia masih bisa melakukannya sendiri.

Sasuke berhasil menjejakkan kakinya di lantai, walau rasa ngilu terhadap perutnya yang diperban masih terasa jelas. Ia melangkah pelan-pelan, sedikit demi sedikit, sambil mendorong tiang tempat kantung infusnya berada, dan benda itu masih terlihat penuh. Shizune pasti baru menggantinya beberapa menit yang lalu.

"Niisan..." panggilnya lagi. Ada kursi di sebelah ranjang Itachi dan Sasuke memutuskan untuk duduk disitu. "Kapan kau akan bangun? Ayolah... buka matamu, aku rindu."

Tangan kanan Itachi terasa dingin di telapak tangan Sasuke. Ia meremas tangan itu, berusaha menyalurkan sedikit kehangatan yang ia punya untuk kakaknya. "Dulu Niisan selalu melakukan ini di saat aku sakit, sekarang akulah yang melakukannya untukmu. Niisan... Kalau seandainya kau tahu apa yang telah terjadi padaku, apakah kau akan membenciku?"

Genggaman Sasuke pada lengan Itachi menguat, kelopak matanya menyayu. Ada kegetiran dan ketakutan yang bercokol dalam sorot kelamnya. Sasuke tak dapat membayangkan jika seandainya Itachi sadar dan mengetahui semuanya —tentang Sasuke yang menjual harga dirinya kepada Naruto, apa yang akan Itachi lakukan terhadapnya? Mustahil jika Itachi tidak kecewa dan marah ketika adik kesayangan satu-satunya melakukan hal-hal rendah seperti itu. Sudah pasti kakaknya itu akan marah dan membencinya.

"Aku tidak siap... Suatu saat kau pasti akan terbangun lalu mengetahui semuanya. Tapi Niisan harus tahu, aku melakukan semua ini demi Niisan. Jika menurutmu ini salah, maka tolong maafkan aku. Beri tahu aku mana yang benar dan mana yang salah, bukankah kau janji akan menjadi seseorang yang memberitahuku semua itu? Dan jika kau benar-benar marah, Niisan harus tahu, aku selalu menyayangimu."

Isakan lirih mengalun dari bibir tipis Sasuke. Tak ada yang menyesakkan dadanya selain bercerita pada Itachi yang sedang koma. Ia memang menyesal, tapi menyesali sesuatu yang telah terjadi juga tidak akan mengubah apapun. Sasuke tetap kotor. Ia bukan lagi pemuda yang polos setelah membiarkan seorang Namikaze Naruto mengoyak-ngoyak harga mati dirinya. Tapi bila dikatakan menyesal itu artinya Sasuke tidak bersyukur pada keadaan sang kakak yang telah berhasil melewati masa kritisnya setelah operasi pencangkokan itu selesai beberapa jam yang lalu. Dan semuanya terjadi karena dukungan uang yang diberikan Naruto kepada Sasuke.

Tidak ada sesuatu hal yang sia-sia disini. Sasuke menyadari mungkin ini memang jalan hidupnya —takdirnya. Tidak ada yang perlu disesali dengan ini. Bukankah yang terpenting nyawa Itachi berhasil diselamatkan?

Jam berdetik memecah kesunyian dalam ruangan. Sasuke sadar ia sudah terlalu lama melamun. Ketika berpaling menghadap jam di atas dinding, waktu telah menunjukkan pukul 3.28 pagi. Sasuke berpikir keras, apa yang harus ia katakan pada Naruto setelah pulang ke apartemen pria itu nanti? Haruskah ia berbohong atau...

Apapun itu, Sasuke tidak yakin jika pria angkuh itu akan menerima penjelasannya baik-baik. Memikirkannya saja sudah membuat Sasuke takut, tapi mengelakpun percuma karena Naruto sudah resmi membeli seluruh hidupnya dengan uang.

Ya, Sasuke membutuhkan uang. Tapi ia menolak jika disamakan dengan pria murahan pengejar harta di luar sana. Sasuke murni melakukan semua ini demi keselamatan kakaknya, bukan karena hal lain.

Pagi menjelang begitu cepat. Sasuke terus terjaga sejak ia terbangun dan melamun di samping ranjang Itachi. Matanya pasti sudah cekung dan menggelap seperti mata panda, tapi Sasuke tidak peduli.

Beberapa jam selanjutnya Sasuke masih nampak diam, ia bahkan mengabaikan permintaan suster Shizune untuk makan dan meminum obatnya. Sasuke bukannya tidak mendengar, ia hanya sedang berpikir keras mengenai alasan yang akan ia berikan kepada Naruto.

Hingga haripun akhirnya beranjak siang, dan Sasuke memutuskan kembali ke apartemen mewah tempat Naruto membawanya kemarin, dengan masih mengenakan pakaian lusuh yang sudah tiga hari ini tidak diganti. Sungguh Sasuke tidak menyadarinya, dan ia cukup merutuki kebodohannya sendiri karena terlihat begitu menyedihkan di mata para pengunjung rumah sakit dan juga para pejalan kaki. Sampai di lobby apartemenpun tatapan merendahkan yang dilayangkan orang-orang masih turut menyertainya hingga ke depan pintu apartemen Naruto.

Persetan dengan semua itu. Meski Sasuke merasa tersindir akan ulah para pengguna lift yang seakan tidak mau berdekatan dengannya, ia berlagak saja tak menyadarinya. Mereka pikir Sasuke bau? Meskipun pakaiannya tidak diganti dan juga lusuh, ia selalu menjaga kebersihan tubuhnya secara menyeluruh. Dasar orang-orang sial!

Decakan dan umpatan yang berasal dari dasar hatinya bergemuruk layaknya badai. Sasuke berjalan dengan langkah yang sedikit gontai —menghampiri pintu. Ditatapnya sejenak sebelum memutuskan untuk menekan belnya. Tetapi belum sempat ia menyentuh benda sakelar bulat itu, tiba-tiba saja pintu terbuka, disusul sosok tegap Naruto yang sedang memandanginya dengan tatapan murka.

Sasuke membeku. Mulutnya bergetar mengikuti gerak spontan tubuhnya. Ia ketakutan.

"Brengsek, kemari kau!" umpat lelaki pirang itu. Dia segera menarik lengan Sasuke memasuki apartemen dengan gerakan kasar.

"Ah!"

Bahkan pekikan kesakitan Sasuke tidak dipedulikan oleh lelaki pemarah itu.

"Kemana saja kau?! Jangan bilang kau berniat kabur, dasar jalang!"

"Tidak —aw! Aku... Aku tidak kabur, Namikaze-san. Aku hanya menyelesaikan urusanku, itu saja."

Naruto memindai penampilan Sasuke dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Berantakan. Hanya satu kata itu yang cocok menggambarkan keadaan sang raven. Naruto berdecak, ini memalukan harga dirinya.

"Tolong jangan menyakitiku," pinta Sasuke kalut. Ditatap berlama-lama dengan sorotan setajam itu pastinya membuat Sasuke gentar. Belum lagi rasa nyeri yang menghantam perut sisi kirinya. Tadi Naruto yang sedang kalap justru malah mendorong Sasuke sampai jatuh menabrak lantai undakan kayu.

"Kau kemanakan otakmu itu, Uchiha? Kau pergi dengan penampilan seperti ini? Setengah dari penghuni lobby apartemen ini mengetahui kau itu datang bersamaku saat kemarin siang, kau itu bodoh atau apa?!" hardik Naruto.

"Maaf... Aku tidak membawa bajuku yang lain saat datang ke tempat ini."

"Lalu kau pikir untuk apa aku memiliki lemari di kamar tidurku?!"

"Aku...aku tidak berani meminjam pakaianmu. Kupikir itu tidak sopan, jadi...jadi sebaiknya aku mengambil seluruh pakaianku di rumah lama—"

"Kalau begitu, kemana pakaianmu? Kau sudah mengambilnya, bukan?"

Sasuke menggeleng agak terbata. Naruto sangat menakutkan ketika marah, dan bodohnya ia baru menyadari hal ini setelah dua kali menantangnya, sebelum Sasuke mengemis uang dan menjajakkan tubuhnya pada lelaki itu dua hari lalu.

"Lalu untuk apa kau keluar dari apartemen ini? Apa maksud urusan yang kau katakan tadi? Kau pasti bermain-main di belakangku, kau pasti merencakan diri untuk kabur dari pengawasanku!"

"Tidak! Sama sekali itu tidak benar. Aku sungguh-sungguh ada urusan, dan kukira akan sebentar, tetapi...tetapi di luar perkiraanku ternyata cukup lama."

Naruto diam mengamati. Segala ekspresi yang terpahat di wajah Sasuke tak luput dari perhatiannya.

"Aku bersumpah. Maafkan aku..."

Naruto mendengus, membuang muka. Emosinya masih nampak menggelora di raut kerasnya yang hampir meledak. "Sekarang bersihkan dirimu!" titahnya dengan nada suara yang masih terkesan kejam seperti biasanya. Lalu perhatian mata biru Naruto terpaku pada Sasuke. "Kenapa masih diam? Cepat bersihkan dirimu!" Setengah tidak sabar, Naruto kembali menarik lengan Sasuke kemudian menyeretnya ke kamar mandi. Setelah sampai ia lekas menghempaskan tubuh kurus itu di dalam bathtube, menuai rintihan lirih yang lagi-lagi mengalun dari bibir tipis sewarna pink itu.

"Tapi—"

Tangan Naruto segera mencengkram dahu Sasuke. Hal itu sukses menghentikan niatan Sasuke untuk berbicara sesuatu. Tapi sepertinya Naruto sudah paham apa yang akan dikatakan pemuda raven itu.

"Cepat mandilah dan temui aku di luar," ujarnya setengah mendesis. Lagi dan lagi tatapan tajam dari sepasang iris sapphire itu berhasil menggentarkan nyali Sasuke dan membuatnya menurut.

Tak ada lagi yang diucapkan pria blonde itu. Naruto bergegas melangkah meninggalkan kamar mandi sambil membanting pintunya. Menyebabkan Sasuke tersentak kemudian merintih seraya menitikkan airmata. Sepuluh menit kemudian, Sasuke telah selesai melakukan ritual mandi. Sebenarnya ia tidak benar-benar mandi, hanya menggosok tubuhnya dengan handuk kecil yang tersedia di samping wastafle yang ia beri rendaman air terlebih dahulu. Kata suster Shizune, Sasuke tidak diperbolehkan mandi untuk satu minggu ke depan, tapi jika ingin membersihkan diri cukup dengan menggosok bagian-bagian tubuhnya dengan handuk basah. Setidaknya sampai luka jahitan di perut kiri Sasuke mengering.

Jadi tidak heran jika Sasuke keluar dari kamar mandi tanpa adanya aksen tetesan air yang mengalir dari ujung rambutnya yang basah. Karena rambut Sasuke tetap kering, dan karena itulah Naruto menatapinya kembali dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu duduk di tepian kasur dan tetap terlihat arogan di mata Sasuke. Untunglah Sasuke memakai handuk di atas perut, menyembunyikan bebatan perban yang tak ingin diketahui oleh Naruto.

"Kau tidak membasuh rambutmu?" tanya Naruto pedas.

Sasuke tersentak sebelum menghentikan kakinya yang gemetar di atas lantai kayu apartemen. "Ti..tidak...aku...aku merasa sedikit pusing jadi..."

Sebelah tangan Naruto terangkat memberinya isyarat untuk diam. "Terserah. Sekarang perhatikan ini baik-baik," tunjuknya, "isi dari lemari hitam itu adalah milikku, dan yang berwarna biru itu seluruhnya adalah milikmu. Lupakan pakaian busukmu di rumah karena aku sudah membelikanmu pakaian baru, mengerti?" delikan sadis dari sepasang mata biru itu selalu menakuti perasaan Sasuke. "Apa lagi yang kau tunggu? Cepat ambil bajumu dan pakai sekarang juga!"

Teriakan keras itu menyentak Sasuke untuk yang kesekian kalinya. Buru-buru pemuda raven itu berjalan terpatah-patah menuju lemari, ia membuka pintu kayu besar itu pelan-pelan lalu mengambil sepasang pakaian secara asal.

"Mau kemana kau?" sela Naruto tiba-tiba ketika melihat Sasuke berjalan ke arah kamar mandi. Sebelah alisnya menukik tajam, terlihat tidak senang dengan kelakuan Sasuke yang baginya terkesan tidak sopan.

"Memakai pakaianku di—"

"Pakai disini!" tegas Naruto. Lelaki itu bangkit dari kasur kemudian berdiri, menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil melontarkan tatapan menghakimi ke raut wajah Sasuke. "Dasar tidak sopan. Aku bahkan sudah melihat dan menandai seluruh tubuhmu," ia berdecih.

"Maaf, kupikir tidak sopan jika aku telanjang di depanmu."

"Cepat lakukan saja!" bentak Naruto tak ingin dibantah. Apapun bisa ia lakukan, dan kalau Sasuke masih tetap menolak, Naruto akan benar-benar menarik lepas handuk itu dari tubuh Sasuke dan membiarkannya telanjang seharian. Tapi rupanya pemuda raven itu cukup penurut, dia segera memakai kaos lengan pendek berwarna biru dongker, kemudian melepas handuk untuk mengenakan celana panjang hitam berbahan kain yang menggantung sampai semata kaki.

Sialnya Naruto tidak sempat melihat sesuatu yang tergantung di antara selangkangan Sasuke. Baju biru dongker sialan itu menutupinya dengan sangat baik.

Naruto mendengus setengah kesal, ia melenggang begitu saja ke luar kamar meninggalkan Sasuke seorang diri dalam keadaan canggung, tapi itu tak lama karena Naruto segera kembali dengan membawa satu nampak berisi sepiring makanan dan segelas minuman untuk Sasuke.

"Makanlah, dan tidak ada pembantahan."

Tentu saja Sasuke menerimanya, ia belum makan sejak kemarin dan bahkan saat pertama kali Sasuke dibawa ke apartemen ini ia juga tidak menyentuh sesuap pun makanan ke dalam perutnya.

Sasuke berjalan menuju tepi ranjang, lalu duduk disana sambil menyantap rakus makanan yang diberikan oleh Naruto. Ia hanya tidak sadar kalau lelaki pirang itu sempat mendengus seraya berbalik pergi ke luar kamar untuk yang kedua kalinya.

Selang beberapa menit setelah Sasuke menghabiskan makan siangnya, Naruto kembali ke dalam kamar sambil membawa gulungan tali serta lakban. Sasuke terperanjat dari kasur, berusaha berdiri, tapi Naruto dengan cepat mencengkram lengannya. Ia diseret naik ke atas ranjang, kemudian didorong sampai tubuhnya menyentuh permukaan kasur empuk dengan keadaan menelungkup. Dua tangannya lekas ditarik, lalu diikat dengan tali begitu juga dengan kedua kakinya.

"Namikaze-san, aku mau diapakan?"

Namun Naruto tak menjawab. Dia tetap bungkam dan tetap menggerakan tangannya untuk mempererat simpul tali di tangan dan kaki Sasuke. Setelahnya Naruto menempelkan lakban di mulut pemuda itu dan menutup matanya dengan sapu tangan hitam.

"Sekarang kau tidak akan bisa kabur lagi," ujar Naruto puas, lalu ia meraih jas di lemari seraya menjinjing sebuah tas kerja berisi dokumen penting.

Rupanya Naruto berniat meninggalkan Sasuke yang terikat di dalam apartemen. Dengan keadaannya yang terbatasi bebatan tali, Naruto yakin ia tidak akan kehilangan pemuda raven itu dan bisa dengan leluasa menjalankan pekerjaannya di kantor.

Sebelum Naruto benar-benar menutup pintu kamar, ia masih dapat melihat Sasuke yang menggeliat lalu menggumam walau suaranya teredam dan terdengar serak. Tapi Naruto justru tertawa, ia benar-benar tenang meninggalkan pelacurnya di apartemen seorang diri. Dan sekarang Sasuke tidak akan pergi kemanapun hingga berhasil membuatnya resah seperti kemarin sore.

Tbc

Notes : Saya kira chapter depannya penuh dengan hal-hal mesum, karena itu saya memutuskan untuk memotongnya sampai disini. Mungkin setelah lebaran baru akan saya posting kembali. Peace :v