Balas Review! :D

Honey Sho: Developer itu NPC (kalaupun bisa dibilang begitu) dari Lost Saga yang rambutnya kribo dan pake kemeja putih dan bisa ditemu di HQ! *maklum, dia baru main LS bulan lalu!* Thanks for Review! :D

Happy Reading! :D


Thundy Shocka selaku Narator di sini mempersembahkan Part 3 dari fic 'Rose Absurd Day'!


~When See His Child Photo...~

Saat istirahat sekolah, Rose melihat Giro memainkan HP-nya di Kantin. Entah kenapa, dia jadi ingin melakukan sesuatu.

Dengan sigap, gadis itu langsung mengambil HP pemuda berambut hitam ponytail itu.

"Hey!" seru Giro kesal karena HP-nya diambil dan berusaha mendapatkannya kembali.

Tapi Rose berusaha mencegat pemuda itu mengambil kembali HP-nya (yang ditonton oleh Mathias dan Ryder dari belakang dengan tampang skeptis) sambil mencari sesuatu yang menarik, sampai...

Dia menemukan sebuah foto anak kecil yang sedang berada di bak mandi di galeri fotonya.

"Ja-jadi... Di-dia itu beneran cowok?!" tanya gadis itu shock dengan background petir di belakangnya.

Alhasil, Rose pun langsung pundung di pojokan dengan aura suram. Ryder yang melihatnya hanya bisa sweatdrop, sementara Giro yang berhasil mengambil kembali HP-nya pergi meninggalkan Kantin sambil bergumam, "Rose-pyon lebay ah..."


Catatan dari Thundy sang Narator: Sebenernya Author udah bikin versi komiknya, tapi masih 'faceless' dan non-dialog! Kalau mau liat, cari aja di FB-nya!


~The Problem?~

Lance dan Natalie menoleh serentak ketika mendengar suara derak tanda pintu kamar dibuka. Rose pun menatap sang Gunner dan Magician itu sambil mengajukan pertanyaan tanpa suara.

"Masuk aja, kagak apa-apa kok!" jawab Natalie dengan suara yang agak rendah dan nyaris seperti bisikan.

Rose pun mengangguk dan memasuki kamar sambil menutup pintu dengan hati-hati di belakangnya, kemudian berjalan menuju ranjang. Dia mengambil posisi di sisi seberang Lance dan Natalie yang duduk bersebelahan di sisi kiri ranjang. Matanya menatap kasihan sesosok gadis bertubuh kecil yang tengah terbaring di ranjang.

"Eve masih belum sadar juga, ya?" tanya gadis itu sambil menghela nafas dan mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut sosok itu.

Gadis Nasod itu tengah terbaring di ranjang dalam kondisi tidak sadar (atau lebih tepatnya, shut down).

"Gue udah ngelakuin semua yang gue bisa, bahkan sampe buka bodi dia dan mengeringkan beberapa sirkuitnya secara manual! Tapi tetep aja gue kagak tau dan kagak bisa jamin kapan dia bakalan sadar! Maksud gue, dia bener-bener sampe kerendem gitu..."

Lance bergidik karena sebagai seorang yang tau banyak soal mesin, dia tau betul kalau mesin sangat tidak kompatibel dengan air.

Kalau meminjam kamus metafora milik Andre, ibaratnya seperti memasangkan David Black dengan Deimos yang jelas-jelas berakhir saling mematikan.

Salahkan Ryder yang tak sengaja menceburkannya ke kolam lele terdekat di kost mereka karena iseng dan walaupun Natalie langsung dengan tanggap (dan sedikit panik) mengangkat Eve dari kolam dengan kekuatan sihirnya, hasilnya sudah terlihat. Kerumunan lele di kolam itu pun langsung 'almarhum' semua, sementara Eve sendiri langsung korslet dengan tubuh yang melemas dan percikan-percikan kecil bermunculan di kulitnya.

Alhasil, Rose pun memerintahkan Natalie dan Lance untuk menggendong Eve dan membawanya masuk ke dalam kost untuk melakukan P3N (Pertolongan Pertama Pada Nasod). Sementara Ryder sendiri, dia terpaksa mengungsikan para lele yang tewas ke tempat aman untuk nanti dikuburkan di pemakaman ikan terdekat.

Pahit memang, tapi mereka tidak punya pilihan. Daripada diamuk massa sama Elsword dan kawan-kawan pas pulang nanti, lebih baik menolong Eve sebisanya.

Natalie menepuk punggung Lance untuk menghiburnya agar tidak terlalu sedih.

Eve bukan hanya sekedar Nasod belaka, dia adalah rekan yang setia dan juga teman seperjuangan mereka dalam menghadapi para murid nista NNG. Melihatnya korslet dengan kemungkinan sembuh mendekati nol persen seperti ini rasanya...

Suara 'bip' samar langsung menyita perhatian ketiganya. Eve membuka mata dan mengerjapkannya perlahan sambil menggerakkan kepalanya menatap satu per satu para penjenguk yang terperangah.

"Eve? Lu beneran sadar, kan?" tanya Rose yang tak percaya dan juga teramat sangat lega.

"Lance! Lu berhasil! Eve kagak mati! Syukurlaaaaaah!" teriak Natalie sambil memeluk Lance sekilas sebelum beranjak ke sisi tempat tidur dan menggenggam tangan kanan Eve erat.

"Syukurlah, Eve! Kau membuat kami semua khawatir..." ujar Rose sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Eve.

Tapi hal itu dihentikan dnegan sebuah cengkeraman kaku di pergelangan tangannya dari sang Nasod yang baru saja terbangun dari koma.

"Eve?"

Komentar Lance sama sekali tidak didengar ketika Eve menarik tangan Rose dan Natalie, kemudian menyatukan keduanya di dadanya seperti penghulu yang menyatukan dua insan di pelaminan.

"Papa dan Mama sampai mengkhawatirkanku seperti ini..."

Dafuq?!

Lance dan Natalie hanya bisa jawdrop dan mereka pun memandang Rose tanpa berkedip.

Mereka berharap gadis yang biasanya paling berkepala dingin itu mengatakan sesuatu untuk membebaskan mereka dari situasi awkward barusan.

Tapi rupanya itu adalah salah satu dari sedikit skenario langka yang sukses membuat seorang Rose sampai kehabisan kata-kata.

"Aku senaaaang sekali..."

Tapi diucapkan tetap tanpa ekspresi.

Silakan bayangkan sendiri seberapa creepy-nya!


Catatan dari Thundy sang Narator: Jangan tanyakan aku kenapa bisa seperti itu, wong Author-nya yang buat! -_-/ *ditabok Girl-chan.*


~Aib Berwald~

Di suatu malam, Rose sedang mengikuti acara minum teh yang diadakan Nordic Five bersama Lance, Ieyasu, Ryder, dan Ancle.

"In' buk'n 'ir p'p's, k'n?" tanya Berwald sambil memperhatikan air di cangkirnya.

"Itu teh!" jawab Lance agak risih.

"Sverige masih tengsin sama kejadian itu?" tanya Lukas datar.

"'Paan, s'h?!" bantah Berwald sewot.

"Terus, kenapa situ masih suka parnoan?" tanya Lukas lagi dengan cengiran jahil.

"Memangnya kenapa?" tanya Ryder penasaran.

"Etto, dulu saat Svi masih kecil dan tinggal bersama Dan dan Nore (sebelum ada aku dan Fin), dia pernah melakukan sesuatu yang memalukan!" balas Emil.

"Bisa diceritakan?" pinta Rose sambil melipat tangannya.

"H'y, 'tu k'n r'h'sia!" seru Berwald kagak terima.

"Oh, sudah saatnya dibocorkan~" sahut Mathias sambil nyengir nista. "Jadi begini ceritanya..."


-Flashback- (Warning: Chibi SuDenNor di zaman pertengahan dimana seharusnya tidak ada TV! *Narator dihajar yang bersangkutan.*)

"'Ku h'uc!" kata Berwald.

"Bental dulu, ini kan lagi celunya!" balas Mathias yang lagi nonton 'How to Train Your Dragon'.

"Aku bikinin, ya!" ujar Lukas sambil berjalan ke arah dapur.

Beberapa menit kemudian, Lukas datang membawa tiga gelas air dan ikut menonton bersama kedua temannya. Dia menghabiskan minumannya sampai habis dan meletakkan gelasnya di atas meja.

Tanpa mereka sadari, ada seorang anak berambut putih yang datang dan pipis di gelas itu.

Berwald yang masih haus pun segera mengambil gelas itu dan meminumnya tanpa bertanya.

"Lho, Sve, itu ail ciapa?" tanya Lukas heran.

"'Ni puny'mu, k'n?" Berwald malah nanya balik.

"Ailku cudah habic!" balas Lukas bingung.

"Teluc, itu ail apaan?" tanya Mathias yang juga bingung.

"Maaf, tadi aku pipic di citu!" kata anak berambut putih tadi.

"JADI YANG KUMINUM TADI AIL PIPIC?!"

-Flashback End-


"NYAHAHAHAHAHAHAHA!"

Sontak, Lance, Ieyasu, dan Rose yang mendengarnya pun langsung ngakak gegulingan di lantai.

"Aduh, sakit perut!" gumam Ieyasu sambil memegang perutnya. "Aku kagak nyangka kalau Oxenstierna-san minum air kencing!"

"Hmm, Tino?" tanya Ancle sambil menengok ke arah sang Finnish.

"Pffffffft!" Tino menutup wajahnya dengan buku.

"Dia kenapa, sih?" tanya Ryder bingung.

"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" Tino pun langsung ngakak menggelegar.

"Tertawa di atas penderitaan teman sendiri..." gumam Emil sweatdrop.

"Grrrrrrrr... RASAKAN RENTETAN KEMARAHAN 'THE LION OF NORTHERN' INI!" teriak Berwald ngamuk sambil ngeluarin tongkat besi keramatnya plus dark aura super sadis miliknya.

"ANJER, BERWALD-SAN/SVERIGE NGAMUK!" pekik Lance dan Mathias kaget.

"KABUUUUUUUUUUUUR!" jerit yang lainnya sambil ngacir menjauhi Berwald.

Dan malam itu pun berakhir dengan suasana rumah Nordic yang hancur berantakan.


Catatan dari Thundy sang Narator: Aneh memang, tapi yang jelas, aku merasa kasihan dengan Berwald!


To Be Continue...


Review! :D