Chapter sebelumnya…
"Eommonim"
Sang Ratu menyerngit saat melihat sang Putri memotong kalimatnya.
"Iya, anakku"
"Aku ini… p-perempuan atau laki-laki?"
DEG
Seketika airmata yang ia tahan sedari tadi meluncur begitu deras. Orang tuanya membohonginya, ia bukan Putri, melainkan pangeran. Tapi mengapa ia harus mengenakan hanbok perempuan setiap hari? Belajar kesopanan bak seorang perempuan?
Jadi selama ini ia telah di bohongi?
"P-Putri"
"Aku perempuan atau laki-laki, Eommonim?" suaranya bergetar, meski ia masih kecil, tapi ia merasakan sakit di bohongi, apalagi oleh orang tuanya sendiri.
"Eommonim bisa jelaskan"
"Kalian berbohong kepadaku, hikss.. kenapa hikss.. aku laki-laki kan? Eommonim aku laki-laki kan? Hiksss"
Tak tahan melihat sang anak begitu terpukul menerima kenyataan ini Jung Soo pun merengkuh tubuh mungil Sungmin dan mengecup kepala Sungmin berkali-kali.
"Maafkan Eommonim, ini demi kebaikanmu..hikss.. maafkan Eommonim"
Sementara Sungmin tak tahu harus berbuat apa, yang jelas saat ini ia hanya ingin menangis dan menangis.
.
.
.
KYUMIN FANFICTION
CAST :
*LEE KANG IN
*LEE JUNG SOO
*LEE SIWON
*LEE SUNGMIN
*CHO HANGENG
*CHO HEENIM
*CHO KYUHYUN
*CHO HENRY
Genre : Drama/Romance/Hurt
Gender : YAOI !
Disclaimer : This Story is Mine! All the cast are belongs to God ^^
Warning : If you doesn't Like it, just don't Read it, if you Read it, JUST REVIEW IT ! :^)
Yeppeuna137
©present
.
.
UNCONDITIONALLY
.
.
Chapter 3
Flashback
Suara raungan hewan-hewan penghuni hutan mulai bersahutan tatkala selongsong panah hampir saja menghunus seekor rusa yang sedang menikmati segarnya dedaunan hutan tempat tinggalnya.
Sang pemilik panah itu menghela nafasnya dan mata elangnya menelanjangi kembali seisi hutan.
"Hari sudah gelap Yang Mulia, sebaiknya kita sudahi acara berburu kita kali ini" ucap seorang pengawal kepada sang Raja yang sangat bersemangat berburu. Padahal mereka telah berburu seharian, namun hal tersebut tidak membuat sang Raja merasa puas karenanya.
Sang Raja menghela nafas seraya berkata. "Baiklah, kita kembali ke Istana sekarang" titahnya yang langsung di patuhi oleh para pengawalnya.
5 ekor kuda yang mengangkut manusia itu berjalan pelan meninggalkan long-longan srigala, desisan ular, dan ramainya suara serangga malam untuk kembali menuju Istana.
.
.
Memasuki bulan ke 7 kehamilan sang Ratu membuat Raja semakin memperhatikan keadaan Istri dan calon buah hatinya. Sang Ratu pun sangat senang karena dengan kehadiran calon pewaris tahta mereka itu seluruh penghuni Istana maupun seluruh penduduk Kerajaan merasa senang dengan kehamilan Ratu mereka. Tapi sangat di sayangkan, sag Ibu suri yang sangat ia hormati tidak dapat melihat cucu pertama mereka dikarenakan penyakit yang menggerogoti tubuh sang Ibu Suri membuatnya tak dapat hidup sedikit lebih lama untuk melihat kelahiran cucu pertamanya.
Malam telah menggeser kedudukan Siang, bulan pun kini telah menyingkirkan sang Matahari. Dalam ruangan dengan penyinaran tidak terlalu terang itu, seorang wanita yang tengah tersenyum sumringah itu mengusap lembut perutnya yang telah membuncit, seolah perutnya itu adalah benda paling berharga dan paling rapuh yang ia miliki. Senyuman manis itu tak henti-hentinya tersungging mengingat hanya 2 bulan lagi bayi yang ia nanti-nanti kehadirannya akan lahir ke dunia dan memperlihatkan pesonanya kepada dunia.
"Sibuk dengan calon Putra kita, Ratu-ku?" suara bass yang sangat ia kenali muncul dari belakang dengan senyuman menawan bertengger disana.
Sang Ratu pun berdiri danmenyambut kedatangan sang Suami penuh dengan suka cita.
"Baginda baru selesai berburu?" tanyanya dengan membuka pakaian terluar dari sang Suami.
Dengan masih tersenyum menawan, Kang In menundukkan kepalanya dan menyejajarkan wajahnya dengan perut buncit Jung Soo.
"Annyeong jagoan, Abeoji sangat menunggu kelahiranmu. Apa kau siap?" bukannya menjawab pertanyaan dari sang Istri ia malah mengajak berkomunikasi bayi yang masih berada di dalam perut Jung Soo.
"Kkkkk~" Jung Soo hanya terkekeh saat melihat Kang In yang berusaha berkomunikasi dengan calon anak mereka.
" –Tentu saja Abeoji~" sahut Jung Soo menirukan suara seorang anak kecil.
Mereka berdua pun tertawa menyadari kekonyolan mereka. Sebuah moment sederhana namun langka untuk mereka lalui, mengingat banyaknya urusan yang harus Kang In lakukan hingga membuat waktunya dengan Istrinya sangat kurang. Di tatapnya mata menyejukkan milik Istrinya, betapa ia snagat teramat mencintai perempuan yang sebentar lagi akan melahirkan seorang anak untuknya dan memberikannya title 'Ayah' untuk dirinya.
"Saranghae… Teuki-ah" hati Jung Soo a.k.a Teukie bergetar mendengar pernyataan cinta dari sang Suami, bahkan sang Suami memanggil nama kecilnya yang selama ini jarang keluar dari bibir tipis Kang In. matanya berkaca-kaca dan menggumamkan kalimat.
"Nado Kanginie"
Kang In menarik tubuh Jung Soo untuk lebih dekat dengan dirinya, dan mengusap lembut punggung Jung Soo.
Chu
Bibir tipis Kang In menempel sempurna pada permukaan bibir Jung Soo, hanya mengecupnya sebentar. Dan itu mampu membuat Jung Soo merasakan desiran lembut yang menguar dari dalam dirinya.
.
.
.
Suara batuk yang menggelegar terdengar dari sebuah paviliun besar yang di jaga oleh beberapa pengawal yang siap siaga.
"Uhuukk uhuukk… Pengawal Shin, apa kau di –uhuukkk di luar?" panggilnya dengan suara terbata-bata karena batuk yang tak kunjung sembuh.
"Iya Yang Mulia" sahut 'Pengawal Shin' dari luar.
"Panggil Yang Mulia Raja kemari, ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya" ujarnya pelan karena meredam batuk yang ingin keluar, ia terlalu lelah untuk batuk. Mungkin umurnya tidak akan lama lagi.
"Saya mengerti, Yang Mulia"
Laki-laki yang usianya hampir berusia 90 tahun itu memandang kosong langit-langit kamarnya seraya berujar.
"Semoga semua akan baik-baik saja" lirihnya.
.
.
.
Setelah mendapatkan pesan dari pengawal setia sang Ayah, Kang In pun melangkahkan kakinya bergegas menemui sang Ayah. Sedangkan Jung Soo yang beberapa waktu lalu menghabiskan waktunya dengan sang Suami hanya bisa menatap khawatir kearah punggung Kang In yang mulai menjauh dan menghilang di balik tembok.
"Semoga tidak terjadi apa-apa" ujarnya dengan mengusap perutnya yang semakin membuncit. Perasaat tidak menyenangkan menyelimuti dirinya, dan ia berharap-harap cemas Kang In segera pulang dan membawa berita bagus.
.
.
"Yang Mulia Raja telah tiba" ucap para pengawal yang berada di luar paviliun Sang Ayah.
Pintu besar itu terbuka dan Kang In memasukinya dengan perasaan campur aduk. Jarang sekali sang Ayah menyuruh dirinya datang ke paviliunnya di waktu malam seperti ini.
"Ada apa Ayahanda? Apa Ayahanda merasa tidak sehat?"
Selama ini sang ayah memang menyembunyikan penyakitnya dari Kang In, ia tak ingin sang anak terbebani dengan dirinya yang lambat laun melemah karena digerogoti usia dan penyakit.
Ia hanya ingin sang anak hidup dengan baik dan mengurus rakyatnya dengan baik, ia tak ingin Kang In mengabaikan tugasnya dan mengkhawatirkannya.
"Ayah hanya ingin bicara sesuatu kepadamu anakku" ujarnya lemah.
Kang In menyerngit melihat kondisi sang Ayah yang selama ini ia kira baik-baik saja.
"Ayah –"
Tangan sang ayah terangkat memperingati sang anak supaya tidak memotong bicaranya terlebih dahulu.
"Dengarkan ayah, mungkin waktu ayah sudah tidak lama lagi… jadi.. ayah berpesan agar… kau –uhukk"
Batuk yang ia tahan selama ini keluar dan membuat Kang In semakin khawatir dengan keadaan sang Ayah. Apa sang Ayah selama ini menderita? Apa Ia kurang menaruh perhatian kepada sang ayah? Ia sangat merasa bersalah.
"-agar kau tidak melahirkan.. 2 calon Raja –" mata Kang In membulat mendengar ucapan sang Ayah. 2 calon Raja? Itu artinya 2 anak laki-laki? Kenapa?
"Ayah tidak ingin –uhukk kejadian di masa lalu terulang kembali" lanjut laki-laki bermata sipit dengan kerutan-kerutan di wajahnya.
mata sipit itu menerawang kejadian mengerikan yang sempat ia alami di masa lalu.
Pertarungan saudara mengerikan yang membuat Kerajaan hancur dalam sekejab. Cerita yang sebenarnya belum pernah ia ceritakan kepada Kang In yang menjadi putra tunggalnya.
Cerita kelam dimana sang Ayah dan saudaranya berebut kekuasaan untuk menjadi Raja di Kerajaan Lee. Cerita lama yang menyayat hatinya. Seluruh Kerajaan hancur dan banyak memakan korban yang tidak sedikit. Dirinya yang sewaktu itu masih kecil hanya bisa menangis melihat tubuh mayat-mayat perajurit berlumuran darah tergelatak dimana-mana.
Sang Ayah, sang Ibunda dan saudara dari ayahnya beserta seluruh perajuritnya tewas dalam peperangan tersebut.
saat itu usianya baru 15 tahun di daulat menjadi Raja selanjutnya karena hanya dirinya yang selamat dari kejadian tersebut. Hal itulah yang menjadikan dirinya kuat untuk bertahan hidup lebih lama dan membangun Kerajaan Lee kembali hingga seperti sekarang.
Kang In tertegun untuk beberapa lama. Ia menatap sendu sang Ayah, satu fakta yang baru ia ketahui, jika sang ayah sangat berjasa besar dalam perkembangan dan bahkan pembangunan Kerajaan yang baru ini.
berkat perjuangan beliau juga ia bisa menjadi Raja sekarang ini.
"Baik Ayahanda, hamba mengerti" di pegang erat ultimatum dari sang ayah dan ia bersugesti jika memiliki 2 anak lelaki adalah bencana bagi Kerajaan Lee.
Sang ayah hanya menatap sang anak dengan penuh harap. Ia tak ingin sang cucu mengalami hal yang serupa dengan mendiang ayahnya.
'Hal itu tidak boleh terjadi…lagi' batinnya berprinsip.
.
.
.
1 bulan berselang sang ayah yang telah lama menyembunyikan penyakitnya pun tidak dapat bertahan lebih lama. Ia menghembuskan nafas terakhirnya sebelum bisa melihat cucu pertamanya.
Kang In dan Jung Soo merasa sangat kehilangan beliau. Mereka dan seluruh Kerajaan bersedih atas peristiwa tersebut. Bahkan Jung Soo sempat pingsan dan akhirnya tidak bisa menghadiri upacara pemakaman tersebut.
Pemakaman pun berlangsung lancar dan sangat memilukan.
.
.
.
.
Rintihan, teriakan yang teredam sayup-sayup terdengar dari sebuah kamar dengan pencahayaan temaram.
Seorang laki-laki berperawakan tegap dan wajah yang menawan namun terlihat sekali gurat kekhawatiran di wajah menawan itu. Kaki tegapnya melangkah kesana-kemari seakan kakinya tak dapat diam. Dengan sesekali ia melihat kearah kamar yang mengeluarkan rintihan memilukan itu.
'Berjuanglah, Teukie-ah' batinnya berharap-harap cemas.
Baru kali ini ia sangat merasa gelisah dan khawatir. Saat dimana ia dan sang Istri sangat nanti-nantikan telah tiba. Sang pewaris tahta yang beberapa saat lagi akan menghirup udara kebebasan dan merasakan dinginnya kehidupan dunia membuat seisi istana mengharapkan kehadiran bayi mungil itu.
Sedangkan di dalam kamar.
"Emmmphhhhbbb.. eengghhh.. heehhh.. heehh.. enghhh" teriakan serta rintihan Jung Soo teredam dengan lilitan kain putih yang tersumpal di mulutnya membuat dirinya semakin kuat menggigit kain putih itu. Peluh membanjiri wajah dan seluruh tubuhnya. Tubuhnya lemas, ini adalah pengalaman pertamanya melahirkan seorang bayi yang sangat ia nanti-nantikan.
Untuk beberapa saat ia mengatur nafasnya mengikuti intruksi dari sang tabib. Kepalanya pening, namun di saat-saat ia merasakan kesakitan yang amat mendalam ia melihat siluet dirinya dan Kang In tersenyum sembari menggendong seorang bayi yang terlihat sangat tampan.
Ia tersenyum tipis, sangat tipis dan itu pun tertutup oleh lilitan kain di mulutnya. Entah energy darimana, ia pun kembali mengejan dan berjuang dengan sekuat tenaga, bahkan meski ia harus bertaruh nyawa untuk kelahiran sang bayi, ia rela. Ia akan berjuang dengan keras.
"Ayo Yang Mulia, anda pasti bisa. –Lihat, kepalanya sudah terlihat. Anda pasti bisa Yang Mulia" ucapan-ucapan postif terucap dari bibir kecil seorang tabib Kerajaan yang bertugas membantu sang Ratu melahirkan sang pewaris tahta. Ucapan sang tabib membuat dirinya semakin terpompa semangatnya dan dengan sekuat tenaga ia mengejan untuk yang ke sekian kalinya.
"EENNGGHHHHH –"
"OEKKKK… OEKKKK"
"Yang Mulia, anda berhasil" senyuman haru terukir di bibir sang tabib. Lega, 1 kata yang menggambarkan perasaannya detik ini, Ia hanya bisa tersenyum lega saat mendengar tangisan bayinya, tangisan yang membuat hatinya bergetar. Ia menjadi ibu sekarang..
Pandangannya mulai mengabur dan tenganya sudah terkuras habis pasca melahirkan. Ia hanya ingin istirahat sejenak sebelum ia ia menggendong sang anak dan menyusuinya.
Diluar kamar.
Kang In tertegun. Jantungnya serasa berhenti selama sedetik. Tangisan seorang bayi terdengar dari bilik kamar yang sedang ia tunggui. Ia bernafas lega, dirinya telah resmi menjadi ayah sekarang.
Hatinya sangat bahagia, dan kabahagiaan itu sama sekali tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Kau berhasil, Teukie-ah" lirihnya terharu.
.
.
.
Lee Siwon. Nama yang di berikan kepada anak pertama pasangan Raja dan Ratu Kerajaan Lee. Lee Siwon tumbuh menjadi pemuda kecil yang pemberani dan sopan. Paras tampannya membuat seluruh istana terpesona dengan paras menawannya.
Senyuman manis dengan lesung pipi di kedua pipinya terukir indah saat ia merasa senang.
Siwon yang sudah berumur 5 tahun sangat senang saat mendengar sang Ibunda tengah hamil lagi anaknya yang kedua.
Siwon kecil sangat tidak sabar menanti kehadiran sang adik. Pasti sangat menyenangkan jika ia bisa bermain bersama dengan adik kecilnya. Namun tidak dengan Kang In, ia sangat berharap-harap cemas dengan kedatangan calon buah hati mereka yang kedua.
Pasalnya ia khawatir jika anak keduanya adalah seorang pangeran. Kang In harus segera memberitahu sang Istri tentang hal ini.
.
.
"Ratu-ku"
Sesosok perempuan dengan paras cantik itu menoleh kearah sumber suara. Senyuman manis tersungging di wajahnya tatkala melihat sang Suami tercintalah yang sedang memanggilnya. Namun senyumannya sedikit memudar saat melihat Kang In mendatanginya dengan wajah yang terkesan serius dan penuh tekanan.
"Ada apa Yang Mulia?" tanya Jung Soo dengan lembut.
Kang In melembutkan sorot matanya, bahunya merosot dan memperlihatkan sosok Kang In dengan segala kelemahannya. Jung Soo melihat keadaan sang Suami dengan segera mendekat kepada sosok yag tengah dalam keadaan rapuh itu.
Sorot mata lembut Jung Soo menatap intens sang Suami yang tak juga membuka suara lagi.
Ada apa? Hingga Kang In seperti ini. Masih menunggu kata-kata yang keluar dari bibir tipis sang Suami ia pun mengusap lembut pundak Kang In.
Kang In mendongak. Ingin rasanya ia tak menyampaikannya, tapi… ini semua demi kebaikan semua.
"Ratu-ku" lirih Kang In dengan tegar menatap manic lembut sang Istri.
Jung Soo hanya menanti kata-kata yang lebih dari sang ia yakin sang Suami sedang ingin mengutarakan sesuatu, namun terlihat sulit bagi sosok panutan itu.
"Aku… berharap. Anak kedua kita adalah seorang Putri" akhirnya. Kalimat itu meluncur dengan lancer meski terdapat bumbu keraguan disana.
Jung Soo menatap Kang In dengan dahi berkerut. Rupanya sang Suami menginginkan seorang Putri untuk anak keduanya kelak.
Kemudian seulas senyum tipis pun merekah dari bibir merah nan tipis milik Jung Soo.
"Semoga kita segera memilikinya" terselip doa di dalam kalimat Jung Soo yang membuat Kang In sedikit lega dan sedikit terangkat beban di bahunya. Keduanya saling melempar senyum dan tak mengetahui jikalau takdir tak sesuai dengan harapan mereka.
Takdir yang membuat sesorang harus merasakan kerangkeng ghaib yang membelenggu hidupnya.
.
.
.
FLASHBACK OFF
Jung Soo merasakan tubuhnya kaku. Aliran darahnya mengalir deras tak normal. Telinganya serasa tuli. Lemas, melihat sang 'Putri' kecilnya telah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.
Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang dengan melihat 'Putri' kesayangannya menangis sesenggukan. Tak tega melihat sang 'Putri' yang hanya berdiri di depannya dengan terhalang meja kecil sembari menangis deras.
Hati ibu mana yang tak tergores –ah ani. Hati ibu mana yang tak hancur melihat sang anak menangis karena ulah orang tua mereka sendiri, apalagi ini masalah kehidupan dan.. masa depan anaknya.
"Sungmin-ah" suara dengan getaran yang kenatara itu mengalun menyakitkan di telinga Sungmin kecil.
Ia hanya bisa menangis, menangis, dan menangis dengan kencang. Tak peduli jika ia mendapat predikan 'cengeng' ia sama sekali tak peduli dengan hal itu.
Hati Jung Soo merasa di tancap berpuluh-puluh panah dengan cara paksa. Perlahan ia berdiri dan mendekati tubuh mungil sang anak yang bergetar hebat.
Diusapnya kepala Sungmin sayang. Hatinya ikut hancur melebur dengan hancurnya perasaan sang anak.
"Dengarkan.. Eommonim" dengan terbata-bata ia merangkai kata-kata untuk membuat penjelasan kepada sang anak.
"Maafkan Eommonim… dan juga Abeoji-mu yang selama ini membohongimu sayang. Usiamu masih terlalu dini untuk mengetahui cerita dibalik ini semua. Eommonim mohon… anak Eommonim yang baik ini bersabar untuk mendengar penjelasan Eommonim sampai waktunya tiba nanti. Nde?" Jung Soo tak dapat menahan airmatanya dan menangis dalam diam sembari merengkuh tubuh Sungmin kecil yang semakin bergetar.
.
.
15 tahun telah berlalu…
Tanpa disadari Putra mahkota Lee Siwon tumbuh menjadi laki-laki yang gagah dan berparas tampan mempesona. Banyak sekali Raja-Raja dari berbagai Negara datang dan menawarkan Putrinya untuk di jodohkan kepada Siwon melalui perantara Raja Kang In tentunya.
Namun, laki-laki berusia 25 tahun itu menolak semua tawaran tersebut karena ia beralasan ingin menemukan calon Istrinya sendiri sesuai dengan perasaannya.
Berbeda dengan Siwon yang selalu berinteraksi dengan rakyatnya, Lee Sungmin sang 'Putri' Kerajaan sangat jarang berinteraksi dengan rakyatnya. Bahkan ia selalu mengenakan cadar ketika ia keluar dari istana. Sejak ia mengetahui jika ia adalah seorang laki-laki, ia tak seceria dahulu. Bahkan ia yang biasanya berceloteh ria sekarang lebih suka berdiam diri dan mengurung dirinya di kamar.
Flashback 2 tahun yang lalu..
Seorang 'perempuan' cantik dengan surai panjang terurai menatap kosong ke lantai yang sedang ia simpuhi.
2 orang di depannya tak henti-hentinya menceritakan sejarah dirinya yang sampai sekarang harus menjadi orang lain selama belasan tahun.
Ia sudah tidak menangis, ia sudah besar. Dan ia sudah mengetahui dengan detail bagaimana dirinya yang seorang laki-laki harus berpakaian dan bersikap layaknya seorang wanita pada umumnya.
Ia ingin sekali marah. Marah kepada orang tuanya? Bukan.
Percuma ia marah kepada orang tuanya yang membuatnya seperti ini. Toh, sampai kapanpun mereka tetaplah orang tuanya, dan selama ini pula kedua orang tuanya telah merawatnya hingga sebesar ini dengan kehidupan yang layak pula.
Ia marah kepada keadaan. Keadaan yang membuat kakek buyutnya berselisih dan berebut kekuasaan hingga mengakibatkan perang saudara dan yang paling memilukan adalah….. membuat dirinya menjadi seorang 'Putri'.
.
.
"Putra Mahkota telah tiba" suara dayang yang berada di luar paviliun Sungmin membuat sang empu yang ada di dalam kamar paviliun berjengkit. Ada perasaan senang dan juga pedih dalam satu waktu.
Pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sesosok pemuda berparas tampan dengan pakaian Kerajaan yang sangat terlihat pas dan gagah jika di kenakan oleh Siwon.
"Hyung" lirih Sungmin.
Siwon tertegun saat mendengar panggilan tersebut. Ia sadar memang apa yang diucapkan Sungmin memang benar jika adik kesayangannya itu memanggilnya dengan sebutan 'hyung' tapi tetap saja ia tak bisa mengabaikan penampilan fisik sang adik yang masih tetap perempuan. Dan ia lebih suka jika Sungmin memanggilnya dengan sebutan 'Oppa'.
"Nde" sahut Siwon kemudian.
Grep
Sungmin merengkuh tubuh kekar Siwon dan melesakkan kepalanya di dada hangat milik sang kakak.
"Hyung, aku lelah" ucapan ambigu Sungmin membuat pikiran Siwon bercabang kemana-mana. Kata lelah sangat multitafsir hingga membuat dirinya harus menelaah baik-baik kata-kata tersebut.
"Istirahatlah" sahut Siwon sekenanya.
Diusapnya kepala Sungmin lembut dan menyesap wangi tubuh Sungmin yang membuat Siwon betah berlama-lama memeluk sang adik.
"Temani aku, hyung" ucap Sungmin dengan mendongak dan menatap penuh harap kepada Siwon.
'Oh tidak, Puppy eyes itu' batin Siwon menggeram.
Bagaimana tidak? Saat sang adik melancarkan puppy eyes itu ia tak dapat berkutik lagi. Dan itu membuatnya mati kutu.
"Arra, cha… sudah malam, istirahatlah. Oppa akan menemanimu"
Sungmin mendengus saat mendengatt Siwon memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'Oppa'
'Padahal aku lebih suka memanggilnya, Hyung' batin Sungmin miris.
.
.
.
Annyeong~~
Typos are everywhere hahaahha… I know.
Bagaimana? Panjang kaan? Hahaha… hampir 3k lho.. hahaha..
Makasih buat saran2 serta masukan2 yang sangat dibutuhkan oleh penulisa amatiran yang berusia 18 thn ini hahaha… sita seneng bgt klo di kasih masukan. Engga tersinggung ato marah ko, malah sita seneng . so, jika ada ah maksudnya bnyak kesalahan dalam penulisan sita mohon di koreksi yaaaakkk :*
Makasih buat yang selalu Review di ff buluk ini huksss *Lemvar Ingus hahaaa..
Dan juga yang ngefav, ngefollow BAHKAN SIDERS juga hahaa..
Tobatlah engkau wahai siders sayang :*
Oh iya, yang mau berkawan yuk mari sita open house *eh maksudnya buka tangan lebar-lebar kok untuk menyapa kalian hehehe…
Buat yang mau aja^^ BBM 539DFFAC
Buat yang punya wattpad, yuk mampir di akun sita sita888 hehehe…
Sekian cuapcuap sita intinya Terima kasih udah ngesupport FF ini :*
BIG THANKS FOR :
Kyuna36, nuralrasyid, Doyeng, intan ps, dhantieee, hanna, razbel cho, LauraChoilau324, kimikyumines, Kamira Fujika, ovallea, Nanda829, Guest, Rere, Park Heeni, julihrc, xiu. Zhiying, Guest(2), Lusiwonest, KyuMin ELF, TiffyTiffanyLee, Harusuki Ginichi-137411, KyuMin EvilAegyo, Altree Velonica, Calum'sNoona,fitriKyuMin, Za KyuMin, pumpkinEvil137,orange girls, chu, ShinYangChoi,cloudswan, imKM1004, adekyumin joyer, Kim hyun nie,fitri, Kyu. Rin. 71, Cywelf
Yang namanya belum kecantum tegur sita aja ya ^^ hehe..
Semakin banyak Review semakin cepat updatenya ^^
So, RnR jusseyooo
