Tittle: Rise of The House of Black

Summary: Ketika seorang Draco Malfoy tidak lagi sepaham dengan ayahnya, dan Harry Potter kehilangan kepercayaannya pada orang-orang yang ia anggap keluarga. Takdir baru tercipta dan sisi lain terbentuk.

Disclaimer: This story is mine. But not with the characters.

Warning: Typos, OOC, absurd, OC, etc.

Genre: Fantasy, Adventure.

.

.

.

Grimauld Place No.12, London

Draco duduk dengan tenang seraya menunggu menu penutup sarapan paginya siap di ruang makan. Pagi ini, ia nampak sudah rapi dengan pakaian ala muggle. Ia mengenakan kaos putih polos ditutupi dengan jumper berwarna coklat pucat. Tak lupa celana jeans yang tidak terlalu longgar berwarna hitam dan sepasang sepatu olahraga berwarna biru tua bertali putih. Rambutnya nampak dibiarkan terurai berantakan, membuatnya tampil begitu tampan. As usual, right? Begitu memukau.

Claude berjalan menghampiri meja makan dengan nampan berisi sarapan pagi serta tehnya. Dengan perlahan ia menyajikan semua itu ke atas meja di hadapan Draco. "Menu penutup hari ini adalah teh hijau dari Kangra Valley dan jelly dengan gooseberry dan elder flower."

Draco mengangguk lalu menyantap menu penutup paginya dengan tenang. Beberapa kali mengecap makanannya, sebelum berkomentar. "Lumayan."

Claude nampak mengawasi sang tuan dengan cermat. "Apakah Anda puas dengan makanannya?"

"Hn."

Claude menghela napas pelan, memahami tuannya yang memang benar-benar irit bicara."Kalau begitu, saya ingin memberitahukan bahwa hari ini jadwal Anda kosong, tuan."

Draco menghentikan suapannya. Ia kemudian menatap Claude dengan tatapan yang seakan mengatakan 'aku-sudah-mengetahuinya. Membuat Claude kembali menghela napas pelan akibat kelakuan tuannya itu. "Lalu, apa yang Anda ingin lakukan?"

Membersihkan mulutnya lalu merapikan pakaiannya, Draco lalu berdiri menghadap Claude. "Aku akan pergi ke kota sebentar."

Claude mengangkat sebelah alisnya penasaran, menatap Draco dengan pandangan bertanya namun tak mengucapkan satu katapun. Seakan mengerti, Draco menjawab pertanyaan tak terungkapkan dari Claude. "Aku hanya ingin berjalan-jalan sejenak."

Mendengar hal itu, Claude hanya mengangguk paham. "Tolong berhati-hati, tuan."

Dengan itu Draco pergi dari Grimauld Place No.12.

London, England

Harry nampak keluar dari sebuah limousine putih mewah dengan pintu yang dibukakan oleh seorang pelayan tua. Tersenyum, Harry kemudian menatap sang pelayan tua itu. "Terima kasih, Tuan Tanaka. Anda bisa meninggalkan saya di sini. Anda bisa menjemput saya nanti sore. Saya ingin berjalan-jalan terlebih dahulu setelah ini." Ujarnya sopan.

Tanaka, pelayan tua tadi, nampak mengangguk setuju. Nampun tak dapat dipungkiri raut khawatir terlukis di wajah khas asianya yang sudah menua. "Apa Anda akan baik-baik saja, tuan muda?"

Harry mengangguk pelan, sudah tidak sabar untuk menelusuri kota London. Bahkan sebuah kamera CLR tergantung apik di lehernya. Harry nampaknya sudah merencanakan matang-matang mengenai 'acara tamasya' nya hari ini.

Melihat itu, Tanaka jadi tak tega membantah permintaan sang tuan muda. Siapa yang bisa menolak ketika Harry sudah mengeluarkan ekspresi bahagianya? Doe eye-nya yang nampak makin membesar dengan manik emerald yang berkilau, rona merah yang kini turut hadir di pipinya, dan senyum indah yang tak kunjung lepas dari bibir plum kemerahan nan mungil miliknya. Dengan semua itu, siapa yang tega merenggut kebahagiaan yang tengah dirasakan sosok mungil itu? Tanaka hanya tersenyum dan menatap hangat ke arah sang tuan muda. Lagipula ia bisa mengawasi sosok manis itu dari jauh.

"Baiklah, tuan muda. Tetapi tolong berhati-hati." Dengan itu, Tanaka pun masuk kembali ke dalam limousine tadi.

Senyum Harry bertambah lebar setelah itu. Ia melambaikan tangannya dengan pelan ke arah mobil limousine yang kini pergi meninggalkannya sendirian di tengah keramaian kota London. Kemudian ia memutuskan untuk memulai jalan-jalannya. Harry nampak sibuk memandangi jajaran toko dan kesibukan pagi ala kota London sambil sesekali memotret ketika menemukan hal yang menurutnya menarik.

Sosok Harry benar-benar begitu menawan. Dengan rambut hitam kelamnya yang tertata tidak terlalu rapi, wajah yang cantik dan penuh kebangsawanan, serta tubuh mungil dan ramping yang dibalut kulit seputih susu. Semua itu ditambah dengan kaos kebesaran berlengan panjang berwarna coklat tua, skinny jeans berwarna biru muda, dan sepasang sneakers berwarna hijau dengan tali hitam. Harry nampak seperti malaikat berjalan. Kalau bukan karena mantera Notice-Me-Not, ia pasti sudah menjadi pusat perhatian banyak orang. Dan dengan itu Harry terus melanjutkan perjalanannya menikmati segala hal yang disajikan kota London.

Ketika sepasang manik emeraldnya melihat dengan penuh ketertarikan ke arah benda pajangan di etalase sebuah toko, Harry pun tanpa berpikir panjang segera masuk ke toko itu. Suara derit pintu dan suara lonceng tua terdengar memenuhi ruangan itu. Sesampainya di dalam Harry disambut dengan banyak laci yang disusun hingga atap toko di sekeliling ruangan. Begitu tidak biasa menurut Harry, namun selebihnya toko itu seperti toko pada umumnya.

Mendekati meja kasir, Harry disambut oleh seorang pria tua yang sepertinya merupakan pemilik toko. Dengan senyum ramah pria tua itu menyambut Harry. "Selamat datang, tuan muda. Apa yang bisa saya bantu?"

Harry tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Saya lihat di depan bahwa Anda menjual berbagai macam tongkat. Kebetulan saya sedang ingin memesan sebuah tongkat. Apa bisa?"

Pria tua itu tertawa ringan, kemudian mengangguk antusias. "Ya, saya bisa membuat satu yang spesial untuk Anda. Kalau boleh tahu tongkat seperti apa yang tuan muda inginkan?"

Dengan senyum gembira, Harry nampak merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas lalu menyodorkannya kepada sang pria tua. "Ini mengenai detail tongkat yang saya inginkan, sir."

Pria tua itu menerima kertas itu dan membacanya kemudian. "Ah, benar-benar selera yang bagus. Jika sudah jadi, Anda ingin membiarkan saya mengantarnya atau diambil dari toko langsung?"

"Biar saya nanti meminta seseorang untuk mengambilnya di sini. Saya tidak mau merepotkan." Harry berbicara secara halus sambil tersenyum merasa tak enak. Hal itu membuat sang pemilik toko kembali tertawa ringan.

"Jangan dipikirkan, nak. Sudah begitu lama saya tak melihat seorang tuan muda dengan perilaku sopan dan manis seperti Anda. Bila diibaratkan, ini benar-benar seperti berhasil menemukan air di padang pasir yang gersang dan kering."

Ketika melihat reaksi malu-malu tuan muda di hadapannya, membuat pria tua di hadapanya tesenyum lebar.

"Nah tuan muda, tolong percayakan semuanya pada saya, oke?"

Harry mengangguk pelan lalu tersenyum manis ke arah sang pemilik toko sambil melambaikan tanganya perlahan. "Baiklah. Terimakasih, sir. Semoga hari Anda menyenangkan!"

Dan Harry pun meninggalkan toko itu, melanjutkan kembali perjalanannya yang tertunda.

Ice Cream Shop, London

Draco mengawasi orang-orang berlalu lalang di luar toko melalui tempat duduknya di salah satu bangku yang berada di sudut toko dekat dengan jendela. Draco sadar, banyak orang yang melirik ke arahnya terutama para gadis muda dan wanita. Menghela napas, Draco mencoba menghiraukan semua itu dan memberikan pandangan tak tertarik. Ia mencoba memfokuskan pendengarannya kepada obrolan orang-orang di sekelilingnya, mencoba mencari informasi sebanyak yang ia bisa.

Pemuda tampan itu mengambil sesendok es krim berasa coklat di hadapannya lalu melahapnya perlahan, mencoba menikmati lelehan manis itu di mulutnya. Memejamkan matanya, Draco tidak menyadari seseorang mendekati tempat duduknya. Draco baru menyadarinya ketika mendengar suara tenor yang manis menyapa indra pendengarannya yang sedari tadi terfokus ke sekelilingnya.

"Permisi, apakah tempat ini kosong?"

Draco membuka sepasang matanya, menampilkan manik aquamarine tajam namun mempesona miliknya. Dan Draco harus menyembunyikan rasa terkejutnya ketika melihat Harry Potter di hadapannya, membawa semangkuk besar es krim berasa vanilla. Ia lihat remaja itu sendiri juga terkejut melihat Draco di sini. Meski begitu, dengan cepat Draco mengumpulkan kesadarannya dan mengangguk sopan.

"Heir Potter."

Remaja itu mengangguk kecil. "Heir Black. Uhm, apakah tempat ini kosong?" tanyanya merasa tak enak sekaligus gugup. Tubuhnya nampak bergerak tak nyaman.

Draco akui ia sedikit terkejut dengan perubahan manner remaja mungil di hadapannya. Selain itu mengingat, Potter tahu tentang dirinya yang bukan pewaris Malfoy lagi-Ia mengasumsikan berdasarkan sapaan Harry tadi. Tapi ia tidak heran setelah mendengar laporan dari Blaise dan Pansy. "Maaf. Tentu Heir Potter, silahkan duduk."

"Terima kasih." Ujarnya pelan.

Untuk beberapa saat keheningan mengisi meja tersebut. Masing-masing nampak menikmati es krimnya. Draco nampak mengawasi sosok kecil di hadapannya. Ia melihat beberapa perubahan pada sosok itu. Ia terlihat lebih segar dan sehat, meski kulitnya masih memiliki rona pucat dan tubuhnya masih sekurus biasanya. Namun, ia nampak lebih... gembira.

Draco memutuskan untuk memulai pembicaraan. "Bagaimana musim panasmu, Heir Potter?"

Harry nampak terkejut mendengar pertanyaan dari Draco. Hm, mungkin ia tak menyangka seorang Draco Malfoy akan menjadi ramah terhadapnya yang notabene merupakan rivalnya selama dua tahun belakangan ini. Tapi, Draco sendiri nampak tidak terganggu dengan semua itu.

Harry tersenyum kecil menanggapi pertanyaan itu. Mungkin... mungkin saja ini dapat menjadi awal yang baik? Oh, Harry hanya bisa berharap. Kalau benar, Harry tidak ajan mengancurkan kesempatan ini. "Musim panasku berjalan dengan baik pada akhirnya. Meski harus diakui memang banyak yang terjadi."

Draco mengangguk pelan, seakan mengerti makna tersirat dari perkataan Harry. "Ah, begitu."

Harry tidak yakin bagaimana ingin melanjutkan pembicaraan itu. Namun ia mencoba memberanikan diri. "Bagaimana kabarmu, Heir Malfoy?"

Draco menatap Harry untuk sesaat.

"Baik." Ujarnya singkat.

"Syukurlah." Harry tersenyum tulus, pipinya nampak merona merah.

Melihat itu, tentu membuat Draco tanpa sadar tersenyum kecil. Sangat kecil, sampai-sampai jika kita tidak sangat teliti kita tidak akan memperhatikannya. Draco pikir Harry Potter itu orang teraneh yang pernah ia kenal. Draco telah mengatakan banyak hal-hal menyakitkan terhadap remaja manis itu, tapi tetap saja ia peduli dengan keadaannya. Harry Potter itu memang aneh, Draco menyimpulkan. Hah, tapi kalau dipikirkan kembali Draco akui saat itu ia masih buta oleh ayahnya.Saat itu ia masihlah seorang anak yang mengidolakan ayahnya. Dan untuk hal itu Draco ingin meminta maaf.

Tiba-tiba Draco menegakkan tubuhnya, menatap Harry dengan serius. Hal itu tentu membuat Harry kebingungan dan menatap penuh tanda tanya ke arahnya. "Aku ingin meminta maaf atas perkataan maupun tingkah laku selama ini yang mumgkin menyakitimu, Heir Potter. Kalau bisa aku ingin kita memulai semuanya dari awal lagi."

Saat ini Harry nampak menatap penuh pengertian ke arah Draco, senyum hangat nampak mengembang di wajah yang menuritnya cantik-ketimbang tampan-itu. "Aku menerima permintaan maafmu, Heir Malfoy. Akupun juga ingin meminta maaf mengenai hal yang sama. Aku harap hubungan kita ke depannya dapat membaik. Aku sangat setuju dengan keinginamu mengenai memulai semuanya dari awal lagi."

Draco mengangguk dan tersenyum tipis, ia menyodorkan tangannya kehadapan Harry untuk berjabat tangan. "Halo, namaku adalah Draconis Black. Cukup panggil saja Draco.Senang bertemu denganmu."

Harry menyambut tangan Draco dengan tangannya sambil tersenyum manis. "Halo, Draco. Namaku adalah Harriel Potter. Tolong paggil saja Harry. Senang bertemu denganmu juga."

Untuk sesaat mereka hanya berjabat tangan dan saling melempar senyum satu sama lain. Harry sendiri nampak menikmati hangatnya tangan Draco ketika menggenggam tangannya. Rona merah muncul di pipinya ketika menyadari apa yang ia pikirkan. Dan bertambah merah ketika melihat besarnya perbedaan antara telapak tangannya dengan telapak tangan milik Draco. Telapak tangan Draco lebih besar darinya dengan jari-jarinya yang ramping dan panjang seta tak lupa kehangatan yang disediakan telapak tangan itu ketika menggenggamu, sedangankan tangannya sendiri terlihat rapuh, seperti akan hancur jika diperlakukan terlalu keras karena ukurannya yang mungil dan jari-jarinya yang lentik.

Saat menatap Draco, Harry tak bisa menghindari rona merah yang kini menyebar bukan hanya ke seluruh wajahnya saja, tetapi juga ke lehernya. Bagaimana tidak? Pemuda kelewat tampan dan menawan itu kini mentapnya dengan kilat terhibur di matanya. Ia seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Harry dan merasa terhibur dengan hal itu. Merlin, Harry benar-benar merasa malu sekarang. Ia buru-buru melepas jabatan tangannya dengan Draco, mencoba mengabaikan perasaan kecewanya ketika tangan hangat dan besar itu tak lagi menggenggamnya.

"Maafkan aku! Tolong jangan salah paham. I.. ini..."

Draco sendiri nampak tak bisa menyembunyikan rasa terhiburnya, kedutan di bibirnya tak bisa menyembunyikan betapa terhiburnya ia saat ini. Harry benar-benar terlihat imut sekaligus menggemaskan menurutnya. Draco harus menahan rasa gemasnya terhadap remaja imut itu.

"Ku harap kau tidak lupa dengan pertemuan di hari Minggu, Harry?" Tanya Draco memotong ucapan Harry, masih tetap dengan senyum terhiburnya.Sebenarnya hanya untuk mengalihkan atensi remaja mungil itu.

Harry sendiri nampak masih mencoba untuk menenangkan dirinya, namun ia tetap mencoba melempar senyum kecil ke arah Draco. "Tentu!"

Mendengar hal itu, cukup membuat Draco menggangguk puas. Ia lalu bangkit dari duduknya lalu berjalan ke samping Harry. Diulurkan tangannya ke arah sosok menggemaskan itu. "Nah Harry, sebagai tanda pertemanan kita, bagaimana kalau kita merayakannya?"

Perbuatan Draco itu mau tidak mau membuat Harry kembali bersemu merah, lalu mengangguk kecil dan meletakan tangannya di atas tangan Draco untuk digenggam. Draco hanya tersenyum tipis ketika melihat hal itu. Membantu Harry untuk berdiri di atas kedua kakinya, Draco lalu melepaskan gengaman tangannya dan menuntun Harry ke arah kasir. Merekapun keluar dari kedai es krim itu setelah menciptakan sedikit drama. Dengan Draco yang berniat membayar semua tagihannya, dan Harry yang dengan keras kepala menolaknya. Yah, walaupun pada akhirnya Draco memenangkan perselisihan itu entah dengan cara apa. Harry bahkan tidak mengerti, rasanya otaknya masih belum bisa memproses segalanya. Damn.

Unknown Street, London

Harry nampak berjalan ke tempat yang ia janjikan dengan Tuan Tanaka. Senyum gembira dan rona merah masih menghiasi wajah bak boneka miliknya. Hatinya sudah lega, lantaran masalahnya dengan Draco selama ini dapat terselesaikan dengan baik. Ditambah lagi, ia senang pewaris Black itu telah membaik setelah peristiwa itu. Harry bersyukur untuk itu.

Harry terus berjalan dengan langkah ringan. Langkah itu terhenti ketika sepasang mata emerald miliknya menangkap sosok anjing Grim dengan bulu sekelam malam di antara semak-semak di seberang jalan. Anjing itu terlihat sangat besar namun begitu kurus dan kotor. Tiba-tiba sekelebat memori melintasi matanya.

Prongs. Moony. Padfoot.

PADFOOT. Oh, Uncle Siri!

Harry bergegas berlari ke arah sosok animangus itu. Entah bagaiamana, rasanya perjalanan dari tempat sebelumnya ia berada menuju ke seberang jalan terasa begitu panjang dan lama. Perasaan bahagia, lega, dan syukur membuncah memenuhi dadanya. Dipercepat langkahnya ketika ia melihat sosok itu nampak meloncat dan menggonggong gembira dengan ekor yang bergerak lincah ke sana kemari dari tempatnya berdiri, yang ia pikirkan hanyalah sang paman, ayah baptisnya.

Ketika sudah berada di tempat tujuan, Harry langsung memeluknya dengan erat. Sirius sendiripun juga nampak merapatkan tubuh besarnya ke tubuh mungil Harry. Meletakkan kepalanya di bahu ringkih dan sempit milik Harry, menghirup aroma khas vanilla dan pohon cemara yang dikenalnya dengan baik sejak lama, yang hanya dimiliki anak baptisnya. Sirius tidak tahu bagaimana mungkin Harry masih mengingatnya dan mengenalinya, namun ia senang. Semua yang ia lakukan selama ini adalah semata hanya untuk anak baptisnya tercinta. Termasuk dirinya yang dalam pelarian saat ini.

"Uncle Siri... Padfoot. Syukurlah!" Harry nampak terisak, air mata telah mengalir membasahi wajah cantiknya. Sirius menggeram pelan, ia tidak suka melihat Harry menangis. Diusapnya pipi Harry dengan sisi wajahnya, mencoba menghapus air mata yang mengalir. Harry memeluk sosok animangus itu makin erat, kini disertai tawa geli akibat perlakuan Sirius.

"Padfoot, hentikan!" Harry tertawa kegelian sedangkan Sirius bertambah semangat untuk terus mendusal dan menjilati wajahnya. Sosok animangus itu menggonggong gembira ketika dilihatnya Harry sudah tidak menangis lagi. Akhirnya Sirius menjauhi Harry, membiarkan sosok kecil itu mengambil napas.

"Ew, Padfoot... Kau menjijikan."

Harry mengusap pipinya yang kini basah dengan wajah merengut lucu. Sedangkan Padfoot-Sirius-nampak menyeringai ala anjing-memang bisa?

"Aku senang kau bisa bertahan sejauh ini, Padfoot. Aku berusaha untuk terus mencarimu."

Harry tersenyum cerah, lalu bangkit dari posisinya yang terduduk di trotoar. Ia menghampiri Sirius, lalu mengusak bulunya pelan. "Padfoot, ayo pulang."

Mendengar kata rumah membuat hati Sirius menghangat. Ditambah bonus senyum gembira dari Harry, Sirius merasa tidak ingin pergi dari sisi Harry lagi. Rasa-rasanya ia ingin membundal Harry dalam selimut yang super hangat, besar, dan halus, kemudian menyembunyikannya dari dunia.

Sedangkan Harry melihat Sirius mengangguk antusias meski masih dalam sosok animangusnya. Membuatnya tertawa, dan Sirius menghembuskan napas lega-jika anjing bisa-ketika mendengar tawa manis Harry.

"Ayo!" Merekapun pergi dari sana. Harry berjalan dengan Sirius tepat di sampingnya. Merlin, Harry baru sadar kalau tinggi Sirius mencapai panggulnya. Bahkan Sirius dalam wujud animangus saja sudah sebesar ini. Dunia memang tak adil, batinnya menggerutu.Harry mengajak Sirius untuk mempercepat langkahnya ketika melihat Tanaka sudah menunggu dengan limousine yang masih sama dengan yang tadi pagi.

"Selamat sore, tuan Tanaka."

Tanaka hanya tersenyum ketika disapa dengan begitu riang oleh sang tuan muda. Ia tahu betul apa-apa saja yang membuat sang tuan muda begitu gembira hari ini. Dan semua itu karena dua pemilik nama Black. "Selamat sore, tuan muda. Dan saya percaya ini adalah 'Tuan Padfoot'?"

Harry menggangguk antusias dengan senyum lebar di wajahnya. Ia paham dengan isyarat Tanaka mengenai Sirius. "Ne, Tuan Tanaka. Perkenalkan ini Padfoot. Dan Padfoot, perkenalkan ini Tuan Tanaka."

Sirius hanya memberikan anggukan kecil ke arah Tanaka yang dibalas Tanaka dengan anggukan hormat. "Silahkan masuk, tuan-tuan. Makan malam telah menanti Anda di rumah. Dan saya yakin tuan-tuan sekalian membutuhkan mandi dan istirahat yang nyaman."

Harry pun masuk ke dalam limousine ketika Tanaka membukakan pintu untuknya, diikuti dengan Sirius. Merekapun pergi setelah Tanaka masuk dan menjalankan limousine nya. Meninggalkan keheningan di tempat mereka sebelumnya berada.

Phantomhive Mansion, England

Sirius sebenarnya masih agak merasa di awang-awang.Sweet Merlin, ia telah menemukan anak baptisnya. Detik sebelumnya ia masih seperti anjing liar yang berkeliaran di gang-gang sempit kota London. Namun detik berikutnya ia berada di sebuah Mansion besar dan mewah milik anak baptisnya. Bukan hanya itu, Sirius tidak pernah merasa sesegar ini. Ia jadi bertanya-tanya, kapan terakhir kali ia merasakan nikmatnya air yang membasuh tubuhnya dan shampoo serta sabun membersihkan tubuhnya? Ia pikir itu sudah lama sekali hingga ia sudah tak ingat lagi akan sensasinya.

Sirius hanya terkekeh kecil ketika mengingat kejadian ketika Harry yang dengan cepat membawanya keluar dari limousine dan membawanya ke salah satu kamar tamu. Segera ia memanggil pelayannya-siapa namanya? Sebastian?- dan memintanya untuk segera menyiapkan air hangat untuk Sirius membersihkan diri sedangkan Harry sendiri merapikan tempat tidur, yang dengan cekatan dilakukan oleh pelayan itu. Setelah selesai, Harry meninggalkan Sirius di kamar itu diikuti dengan sang pelayan. Remaja imut itu memutuskan untuk memasak makan malam sendiri lalu menyuruh Sebastian untuk mempersiapkan meja makan dan membiarkan Sirius istirahat sambil membersihkan dirinya. Meninggalkan Sirius yang masih bingung dengan segala sesuatunya dan bahkan belum sempat berbicara padanya. Hell, Sirius bahkan belum berubah ke wujud manusianya saat itu.

Sirius menggelengkan kepalanya pelan, merasa terhibur dengan tingkah Harry tadi. Ia menatap dirinya ke arah cermin besar di hadapannya. Ia kini sudah nampak lebih segar, namun masih terlihat begitu kurus, nyaris seperti tulang hidup. Tapi Sirius memutuskan itu jauh lebih baik daripada beberapa waktu yang lalu.

Sirius kini memperhatikan penampilannya dengan senyum penuh kepuasan. Rambut yang tadinya panjang dan berantakan, kini telah dipotong rapi dengan model pendek kekinian. Kulitnya yang tadinya kotor, kini sudah bersih menampakkan kulit putih terlampau pucat khas keluarga Black. Meski masih terlalu kurus, hal itu tetap tak mengurangi ketampanan pria itu. Wajah khas beangsawan dengan rahang tajam dan tulang pipi tinggi, garis mata tajam dengan sepasang iris berwarna azure yang lagi-lagi khas keluarga Black, serta hidung mancung dan bibir tipis berwarna pink pucat. Tubuh tinggi kurusnya dibalut dengan satu set pakaian kemeja putih, jas dan celana abu-abu, seta dasi berwarna hijau. Keseluruhan, Sirius tampil sangat baik untuk ukuran tawanan yang baru saja melarikan diri dari penjara dan menjadi buronan.

Membahas mengenai hal itu, Sirius memutuskan untuk memikirkannya nanti ketika sedah waktunya. Untuk sekarang, ia lebih baik pergi ke ruang makan. Salahkan Harry yang terlalu pandai memasak hingga aroma sedapnya sampai ke hidung Sirius, membuat perutnya mengeluarkan bunyi yang meyedihkan. Dengan pikiran itu pun, Sirius meninggalkan kamarnya. Oh yes, kamarnya.

Eits, ngomong-ngomong mansion ini milik siapa?

Oh, Sirius yang malang... Apa kau baru menyadarinya?

Grimauld Place No.12, London

Claude tampak mengguncang pelan tubuh sang tuan, mencoba membangunkannya. Draco sendiri nampak membuka matanya perlahan, lalu dengan cepat segera bangkit dari posisi tidurnya beralih terduduk di atas kasur dengan selimut tersibak yang masih menutupi seluruh kakinya.

"Ada apa?" tanya Draco tajam.

Claude sendiri nampak memberikan Draco pandangan meminta maaf. "Maaf membangunkan Anda tengah malam seperti ini, tuan. Tapi Anda harus melihat ini." Ia lalu menuntun Draco ke arah ruang bersantai dan menghadap ke arah pohon silsilah keluarga yang secara ajaib terukir di tembok.

"Apa ini?" Gumam Draco pelan. Matanya dengan cepat bergerak mencari kejanggalan yang mungkin terdapat di sana. Setelah menemukan apa yang dimaksud, matanya nampak membulat terkejut.

"Ia masih hidup? Bagaimana bisa?" Ujar Draco tidak percaya.

Claude menunduk hormat, "Maaf tuan, saya tidak tahu bagaimana. Bahkan saya tidak tahu keberadaannya saat ini. Yang jelas ini baru saja muncul ketika sihir keluarga secara aneh dan tiba-tiba muncul di semua properti dan artefak milik keluarga Black. Seakan mempersiapkan segalanya untuk sesuatu yang akan datang. Lalu namanya kembali muncul begitu saja dalam pohon keluarga setelah sebelumnya sempat lenyap."

Draco nampak berjalan pelan ke arah jendela terdekat. Sepasang manik aquamarine miliknya nampak memandang hamparan permadani hitam yang dihiasi rangkaian bintang yang indah nan cantik dengan pandangan tak terbaca.

Semuanya akan dimulai sebentar lagi.

.

.

.

To Be Continued

Ah, maafkan Ji yang hampir sebulan ini tidak update. Itu semua karena Ji baru sibuk dengan kewajiban Ji sebagai pelajar. Tapi Ji janji akan berusaha tetap update paling tidak sebulan sekali. Ji harap kalian memaklumi.

Dan... Ji mau berterimakasih atas kalian yang sudah me-review dan membuat cerita ini jadi cerita favorite. Ji benar-benar menghargai semua itu, meski Ji tidak bisa menuliskan nama kalian satu-satu di sini. Tapi ketahuilah, Ji benar-benar menghargainya.

Akhir kata... kira-kira Ia itu siapa ya?