The Disconnected Line
A YunJae FanFiction presented by Duckymomo
Romance-Family
Typo(s), OOC, Alternative Universe. Please don't miss understanding if right here there much Homin moment –as Dad and son, sure! DLDR!
Chapter 4 : Yunho, My Great Guardian Angel
[1st FLASHBACK] 17 Years ago
Musim semi telah tiba. Banyak orang bilang jika musim semi itu musim yang paling indah untuk memadu kasih. Dan hal itu rupanya diakui juga oleh sepasang namja ini, Jung Yunho dan Kim Jaejoong.
"Joogie, cepatlah! Kita bisa kehabisan tempat untuk melihat bunga sakura kalau jalanmu lambat" ujar Yunho yang sudah berada cukup jauh didepan Jaejoong.
Jaejoong yang berjalan di belakang hanya bisa mendengus kesal. Bagaimana bisa Yunho berjalan secepat itu meninggalkannya? Dia sendiri juga heran, kenapa belakangan ini dia sering sekali gampang lelah padahal ia tak melakukan apa pun.
"Ya! Tunggu aku, Yunnie!" teriak Jaejoong manja sembari berjalan lebih cepat untuk mengejar Yunho yang kini berhenti untuk menunggu kekasihnya. Namun baru setengah jalan, Jaejoong sudah kelelahan.
"Kau baik-baik saja, Jae?" tanya Yunho yang kini sudah berada disamping Jaejoong. Dilihatnya kekasihnya yang kini tengah duduk di rumput sembari mengipasi dirinya sendiri. Keringat deras mengucur dari kening namja cantik itu.
"Entahlah, Yun. Belakangan ini aku gampang sekali lelah" ujar Jaejoong yang membiarkan Yunho untuk mengelapi keningnya yang penuh dengan keringat.
"Jja! Kalau begitu, sini. Biar aku gendong" ujar Yunho sembari menaikkan Jaejoong ke punggungnya.
"T-tapi….Yun….banyak yang melihat kita" Jaejoong menundukkan kepalanya dalam-dalam ke pundak Yunho. Ia sama sekali tak berani menunjukkan mukanya karena menyadari kalau orang-orang melihat kea rah mereka sekarang.
Menyadari hal itu Jung Yunho hanya bisa terkikik geli melihat kelakuan kekasihnya. "Waeyo? Bukankah ini bagus? Mereka jadi tau kalau kita pasangan romantis" ujar Yunho sembari terus melangkahkan kakinya menuju pohon bunga sakura yang akan mereka tuju.
PLAK
Sontak Jaejoong memukul pelan pundak Yunho. Wajahnya memerah otomatis gara-gara perkataan kekasihnya. Yunho kembali tertawa karena kelakuan kekasihnya ini.
"Yun, apa masih jauh?" tanya Jaejoong ketika ia sadar kalau Yunho belum juga berhenti melangkahkan kakinya.
"Tidak. Sebentar lagi kita sampai" jawab Yunho.
Karena penasaran, akhirnya Jaejoong memberanikan diri untuk membuka matanya.
"Sugoiiii" ujarnya dalam bahasa jepang dengan nada yang sangat rendah. Ia bahkan nyaris tak bisa bersuara saking terpananya dengan pemandangan yang ada didepan matanya.
Sebuah danau yang masih alami, masih perawan dengan pepohonan yang mengelilinginya. Airnya begitu jernih, nyaris berwarna biru, saking jernihnya kau bahkan bisa melihat langsung dasarnya yang merupakan perpaduan antara bebatuan berwarna putih dan juga tanah berlumut yang tumbuh di pinggiran danau. Dan tak jauh dari sana, berjarak tak sampai 300 meter, terlihat air terjun yang tidak terlalu tinggi, arusnya pun tidak terlalu deras. Sementara di bibir danau tempat dimana Jaejoong menginjkakkan kakinya sekarang terdapat beberapa bunga sakura yang bermekaran dengan indahnya. Sesekali angin datang melewati pepohonan tersebut, menerbangkan kelopak-kelopak kecil bunga sakura ke permukaan danau. Membuat pemandangan indah tersendiri yang tak akan kau temukan dimana pun.
"Kau suka?" tanya Yunho sembari melirik Jaejoong yang masih berada di gendongannya. Sebuah senyum terukir di wajahnya ketika melihat binar kagum yang terpancar dari mata sang kekasih. Dengan hati-hati, diturunkannya Jaejoong dari gendongannya.
"Ne. Aku suka" ujarnya tanpa memandang wajah Yunho. Matanya sibuk mengagumi keindahan alam yang tersaji didepannya. "Gomawo, Yun" ujarnya kemudian, memberikan senyuman terindah yang ia miliki terhadap sang kekasih.
Krasak….krasak….
Sebuah suara terdengar dari semak-semak di belakang mereka, membuat Yunho dan Jaejoong menolehkan kepala secara otomatis. Apa ada orang lain yang tau tempat ini selain mereka?
Tidak ada siapa-siapa.
Krasak….krasak…..
Namun suara itu kembali terdengar. Jaejoong dan Yunho sekali lagi menolehkan kepalanya ke belakang dan tak menemukan apapun selain semak belukar yang tumbuh dengan liar.
Mereka saling berpandangan. Tidak mungkin tempat ini berhantu kan?
Krasak….krasak….
Suara itu terdengar kembali. Dan tepat pada saat Jaejoong menolehkan kepalanya, ia melihat semak-semak disana bergoyang pelan dan sedetik kemudain seekor kelinci kecil berwarna cokelat muda muncul dari sana.
"Ah! Kelinci!" pekik Jaejoong. Matanya membulat melihat hewan bertelinga panjang itu. Satu yang ada di pikirannya saat melihat hewan itu:imut!
Namun siapa sangka kalau kelinci itu malah segera berbalik dan menghilang ke balik semak-semak. Tentu saja gara-gara kelinci itu kaget mendengar teriakan Jaejoong dan juga karena ia tak terbiasa dengan manusia.
Yunho hanya bisa menahan tawa melihat kejadian itu.
"Ya! Yunho jangan tertawa!" omel Jaejoong saat melihat kekasihnya itu tengah membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya sementara matanya menyipit karena menahan tawa.
"Hahahahaha" bukannya berhenti teryawa Yunho malah semakin tertawa lepas melihat kekasihnya ngambek begitu.
Jaejoong memanyunkan bibirnya melihat sikap kekasihnya itu. Aish! Dari pada mengurusi Yunho lebih baik ia mencari kelinci imut tadi saja.
"Ya! Jae! Mau kemana?" teriak Yunho melihat kekasihnya yang hendak memasuki semak-semak yang mengarah menuju hutan. Meski ia yakin di hutan ini tak akan ada binatang buas mengingat letaknya yang dekat dengan resort da pemukiman warga namun tetap saja ia takut Jaejoongnya kenapa-kenapa.
"Mengejar kelinci tadi! Kau disana saja! Jangan ikut!" balas Jaejoong.
Dilangkahkannya kakinya menuju semak-semak tempat kelinci tersebut berlari. Sesekalia merunduk untuk menghindari ranting-ranting pepohonan tanpa melepaskan pandangannya sedikit pun dari kelinci tadi. Kelinci tadi memercepat larinya, membuat Jaejoong juga memercepat langkahnya. Hingga akhirnya kelinci tadi berhenti didepan sebuah pohon oak dan berjalan memasuki lubang di dekat akar pohon. Sepertinya itu rumahnya.
Jaejoong berjongkok dan matanya membulat melihat ada empat ekor kelinci lain yang ada di lubang tersebut, lima dengan kelinci tadi. Salah satunya bertubuh lebih besar dari yang lain, yang kemungkinan adalah induknya, namun semuanya nyaris memiliki warna yang sama –cokelat muda.
"Hai kelinci-kelinci manis" sapa Jaejoong. Diulurkannya tangannya hendak mengelus kelinci tadi.
Keluarga kelinci itu sontak mundur ke belakang, mata mereka menatap Jaejoong intens. Antara heran dan takut kenapa ada anak manusia yang sampai disini?
Sang induk kelinci menatap Jaejoong intents. Seolah tengah memberi peringatan agar menjauh dari anak-anaknya dan menganggap Jaejoong sebagai ancaman. Namun entah karena Jaejoong tidak tau atau bagaimana, bukannya menjauhkan tangannya Jaejoong malah mendekatkan tangannya. Sontak sang induk kelinci yang merasa nyawa anak-anaknya terancam segera maju dan hendak mencakar Jaejoong.
"Ya!" Jaejoong kaget dan terjatuh ke belakang. Untung saja dia cepat-cepat menarik tangannya. Namun namja cantik itu tidak kapok dan malah memilih untuk mengamati anak-anak kelinci tadi.
Kesal, induk kelinci tadi langsung melompat ke badan Jaejoong. Jaejoong yang tak siap kembali terjungkal dan kali ini ia bangkit sebelum induk kelinci itu mengejarnya. Namun sial baginya karena bukannya kelinci tadi kembali ke sarang sekarang malah ia berlari mengejar Jaejoong.
Jaejoong yang tak tau apa-apa dan takut kena cakar untuk yang kedua kalinya sontak berlari menghindari kejaran sang induk kelinci.
"Kyaaaa! Yunnieeee! Tolong! Aku dikejar binatang buas! Kyaaaa!" teriak Jaejoong heboh. Matanya tak berani menoleh ke belakang karena takut kelinci itu masih mengejarnya.
BRUG!
Jaejoong menubruk sesuatu begitu ia keluar dari semak-semak. Yang jelas ia yakin itu bukan pohon. Karena mana mungkin ada pohon yang bisa mencengkeram tangan orang agar tidak jatuh kan?
Jaejoong membuka matanya dan melihat Yunho yang tengah menahannya erat-erat.
"Yunhoooo! Syukurlah ada kau! Tadi aku takut sekali. Ada binatang buas yang mengejarku!" oceh Jaejoong setengah ngawur. Nafasnya menderu akibat berlari tadi.
Yunho menjawil hidung Jaejoong. "Yang benar saja, Jiji. Itu hanya kelinci. Lihatlah" ujarnya sembari membalikkan badan Jaejoong dan menunjuk kea rah semak-semak yang memperlihatkan bokong kelinci berbulu cokelat dengan ekor mungil berwarna putih. "Dan kelinci bukan binatang buas, Jiji" ledeknya sembari menepuk kepala Jaejoong.
Jaejoong mempoutkan bibir cherrynya. "Ya! Tetap saja tadi itu mengerikan. Bagaimana kalau aku dibunuh olehnya?"
"Hahahahahaha! Jangan mengada-ada, Jaejoong! Aku bahkan belum pernah melihat berita kelinci jenis Flemish Giant* membunuh orang!" ledek Yunho yang kini tak henti-hentinya tertawa melihat kelakuan kekasihnya.
Kontan saja Jaejoong pergi menjauh dari Yunho dan memilih duduk di pinggiran danau sembari membersihkan kakinya yang kotor karena mengejar kelinci tadi. Sepatu sneakersnya sudah ia lepas dan ia taruh di pinggir danau agar tak terkena air.
"Hei, bagaimana kelinci tadi? Apa kau berhasil menemukan sarangnya?" ujar Yunho yang kini sudah duduk di sebelah Jaejoong.
Jaejoong memilih membasuh kakinya dalam diam.
"Kelinci tadi sangat lucu, ya? Pasti menyenangkan punya peliharaan selucu mereka" ujar Yunho.
Jaejoong kembali diam.
Intinya sekarang Jaejoong mengabaikan Yunho.
Apa mungkin karena aku meledeknya tadi?, batin Yunho.
"Ya….Jiji-ya, jangan diam terus begini. Kau bisa membuatku mati bosan?" ujar Yunho dengan nada merajuk. "Ya! Jiji-ya!" kini ia mulai menarik-narik lengan Jaejoong seperti anak kecil.
"Ya! Berhenti memanggilku Jiji! Kau kira aku ini kucing?" omel Jaejoong.
Dan sebelum mood Jaejoong berubah semakin buruk, Yunho segera memutar otaknya. Tidak mungkin ia menghabiskan kencan ini dengan Jaejoong yang ngambek hanya karena seekor kelinci! Oh yang benar saja! Mood swing Jaejoong belakangan memang sangat mengerikan.
Awalnya Yunho berniat untuk bermain air dengan Jaejoong tapi mengingat tempat ini lumayan jauh dari rumah bibi Yunho, tempat mereka menginap.
Yunho mengulurkan tangannya kea rah Jaejoong. "Jja! Kita berteduh. Kau tidak mau kepanasan kan?" bujuk Yunho.
Jaejoong memandang tangan Yunho. Meski sebenarnya ia agak enggan karena masih ingin bermain air, namun rasanya tak salah juga menuruti kata-kata kekasihnya ini. Diraihnya tangan Yunho yang langsung menariknya bangkit berdiri. Namun baru saja ia berdiri mendadak kakinya terasa lemas. Sontak, Yunho dengan sigap langsung menahan tubuhnya.
"Yunnie…." panggil Jaejoong lemah.
Dengan sigap, Yunho menggendong Jaejoong dengan bridal style karena nampaknya terlalu susah untuk menggendong Jaejoong dipunggung.
"Kan sudah kubilang tadi jangan lari-lari. Kau malah tidak mendengarkanku" Yunho mulai berceramah.
Jaejoong yang kini tengah berada di gendongan Yunho hanya bisa tersenyum kecil sembari menyembunyikan wajahnya dari sinar matahari di dada bidang Yunho.
Perlahan, Yunho menurunkan Jaejoong dengan hati-hati begitu mereka sampai di bawah pohon sakura yang paling besar dari yang lain. Batangnya yang bercabang luas dan berdaun lebat membuatnya terasa sejuk, belum lagi dengan bayangan besar yang dihasilkannya.
"Jja! Minumlah!" Yunho menyodorkan sebotol jus apel yang telah ia buka.
Jaejoong mengambil botol tersebut dan menenggaknya hingga habis. Hihihi. Sepertinya namja cantik ini benar-benar kehausan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Yunho sembari menghela nafas pelan. "Lelahnya…." ujarnya.
Yunho hanya tersenyum ketika melihat wajah kelelahan Jaejoong. Dibiarkannya kekasihnya beristirahat sejenak sembari menikmati semilir angin musim semi yang berhembus pelan.
"Yunnie…." Panggil Jaejoong.
"Ne?" Yunho membalas tanpa mengalihkan mata musangnya yang tengah memandangi permukaan danau.
"Dari mana kau menemukan tempat seindah ini, Yun?" tanya Jaejoong. Matanya melirik ke wajah kekasihnya.
"Apa aku harus mengatakannya? Bagaimana jika aku tak mau?" goda Yunho. Manik mata musangnya menatap intens ke sepasang manik doe eyes didepannya.
"Ish! Kalau kau tak mau mengatakannya, aku akan langsung pulang sekarang!" Jaejoong langsung mengomel dan berdiri –bersiap untuk pergi kalau Yunho tak cepat-cepat mencegahnya.
"Hei! Memangnya kau tau jalan?" perkataan Yunho sukses membuat Jaejoong menghentikan langkahnya. Melihat kesempatan itu, Yunho bergegas bangkit dan mengajak kekasihnya untuk kembali duduk disana. "Aku menemukan tempat ini 10 tahun yang lalu, ketika umurku baru 13 tahun ketika bermain ke tempat ajhumma aku selalu menyempatkan diri main kesini. Tempat ini sangat sepi, nyaris tak ada orang yang berkunjung disini. Namun tempat ini memiliki pemandangan yang sangat indah. Bukankah ini menakjubkan? Yah bisa dibilang ini tempat persembunyian rahasiaku" ujar Yunho panjang lebar.
Kini giliran Jaejoong yang terkekeh kecil mendengar perkataan Yunho. Bagaimana bisa tempat ini menjadi tempat rahasia Yunho lagi jika Jaejoong sudah mengetahuinya sekarang? Meski begitu Jaejoong menyetujui kata-kata Yunho. Tempat ini memang terlalu sepi. Mungkin dikarenakan letaknya yang berada ditepian hutan dan sedikit tersembunyi dari pemukiman penduduk yang menjadikan tempat ini tak banyak diketahui orang.
"Anou, Yunnie….. tapi mengapa kau mengajakku ke tempat ini? Bukankah kau bilang ini tempat rahasiamu?" ujar Jaejoong. Pertanyaan itu muncul begitu saja, mengusik benaknya untuk mencari tahu.
Yunho menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia memutar bola matanya. "Haruskah aku mengatakannya sekarang?" gumamnya lirih, lebih ke diri sendiri disbanding ke Jaejoong.
"Ye?" ujar Jaejoong yang ternyata mendengarnya.
Yunho mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Melihat hal itu, mau tak mau membuat Jaejoong khawatir sendiri. "Apa ada sesuatu yang terjadi?" doe eyesnya menatap sepasang mata musang didepannya, seolah-olah tengah mencari kebenaran yang tersembunyi disana.
Yunho menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Diraihnya kedua tangan Jaejoong dan menggenggamnya. Tanpa melepaskan genggaman tangannya, ia menatap Jaejoong dalam-dalam. "Kim Jaejoong, aku tau mungkin ini sedikit cepat dan mungkin ini tidak terkesan romantic atau semacamnya" ujar Yunho yang membuat Jaejoong mengerutkan keningnya bingung. Sementara namja bermarga Jung itu sudah berkali-kali mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan saking gugupnya! Oh! Shit! Yunho tak pernah belajar untuk hal semacam ini! "Kim Jaejoong, kumohon dengarkan aku sekali ini saja karena aku tak akan mengulanginya" ujarnya. Untuk yang kesekian kalinya ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Kim Jaejoong, maukah kau menerima cinta dari namja yang sederhana ini dan hidup bersamaku selamanya hingga kematian memisahkan kita?" ujar Yunho dalam satu tarikan nafas. Ditatapnya wajah kekasihnya didepannya yang tak bisa berkata apa-apa lagi. Dalam hati, ia berharap-harap cemas juga dengan keputusan Jaejoong.
Jaejoong memutuskan kontak matanya dari Yunho dan menatap karpet yang mereka gunakan sebagai alas. Ia bingung harus menjawab apa. Dalam hati ia ingin sekali menerima lamaran Yunho! Demi Tuhan! Ini adalah impiannya! Memiliki seorang 'pangeran' yang mencintainya sepenuh hati, mencintainya karena dia adalah Jaejoong bukan karena kekayaan kedua orang tuanya, pangeran yang dapat membuatnya tertawa dan selalu ada disisinya baik sebagai kekasih maupun sahabat! Namun…. Ia juga mengkhawatirkan orang tuanya. Ah tidak. Tepatnya ia mengkhawatirkan namja didepannya ini jika berhadapan dengan orang tuanya kelak. Yunho saat ini hanyalah seorang mahasiswa S1 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris, pekerjaan paling bagus yang akan disandangnya adalah seorang guru. Jaejoong sendiri tak keberatan dengan hal itu. Ia masih bisa membuka café atau restoran atau took roti dengan kemampuan memasaknya yang hebat untuk membantu calon suaminya kelak. Tapi bagaimana dengan kedua orang tuanya? Jaejoong tau persis orang tuanya tak akan mau menerima seorang yang 'biasa' saja untuk putra mereka. Dan Jaejoong sudah tau jika kedua orang tuanya tak akan merestui hubungannya dan Yunho dari awal hanya karena status social Yunho yang bukan dari kalangan atas. Dan Jaejoong sekali Kim Heechul, yeoja dengan harga diri paling tinggi yang pernah ia kenal. Yang sayangnya orang itu adalah ibunya sendiri. Sedangkan sang ayah Kim Hangeng? Ia merelakan apa pun untuk kebahagiaan sang putra. Meski begitu ia yakin ibunya tak akan mengijinkannya menikah dengan Yunho sampai kapanpun!
"Jae?" panggil Yunho seolah tengah menyadari apa yang telah dipikirkan Jaejoong.
"Mianhe, Yun. Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Aku…."
Perkataan Jaejoong terputus saat ia merasakan Yunho mengelus kepalanya penuh rasa sayang.
"Kau mengkhawatirkan kedua orang tuamu, eoh?" tebak Yunho.
Jaejoong langsung mendongakkan wajahnya menatap sepasang manik mata musang didepannya.
"Tenang saja, Jae. Kau tidak perlu khawatir masalah itu. Biar aku yang mengatasinya" jawab Yunho. "Kau tau? Aku baru saja mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 di Inggris. Kau tau? Kalau aku berhasil menyelesaikan pendidikanku dengan baik aku bisa melamar menjadi dosen disini? Bukankah itu bagus?" cerocos Yunho panjang lebar dengan semangat membara.
Melihat semangat dimata Yunho, Jaejoong jadi tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya jika namja tampan nan baik itu kemungkinan tetap ditolak oleh orang tuanya, tepatnya ibunya hanya karena status social dari keluarganya yang berbeda. Bagaimana pun, Jaejoong tak ingin merusak perasaan bahagia Yunho. Mianhe, batin Jaejoong. Jujur saja saat ini dadanya terasa sangat sakit seolah baru saja ditusuk dengan pisau yang tak tampak. Ia meria merasa sangat bersalah pada Yunho, seperti telah mengkhianatinya.
"Jae? Kau baik-baik saja?" ujar Yunho khawatir ketika melihat air mata jatuh di pipi kekasihnya.
Jaejoong mengangguk. "Aku baik-baik saja, Yun" ujar Jaejoong. "Aku hanya terharu dan merasa sangat beruntung memiliki kekasih sebaik dan sehebat dirimu" lanjutnya kemudian sembari memeluk Yunho dan membenamkan wajahnya dalam-dalam didada bidang kekasihnya untuk menahan suara isak tangisnya. Ia merasa bersalah karena telah membohongi Yunho. Tapi kalau berbohong untuk melindungi orang yang kita cintai tidak apa-apa, kan?
"Aku juga, Jae. Aku merasa beruntung memiliki kekasih yang pengertian dan sebaik dirimu, Jae" balas Yunho sembari mengecup sayang kepala kekasihnya.
Setelah Yunho yakin jika Jaejoong sudah berhenti menangis, perlahan ia menarik dirinya dan melepaskan pelukan Jaejoong. Dirogohnya saku celananya dan dikeluarkannya sebuah kotak berbalut kain beludru berwarna biru gelap sewarna langit di malam hari.
Dan Jaejoong kembali dibuat speechless ketika Yunho membuka isi kotak itu yang ternyata adalah sebuah cincin sederhana yang terbuat dari perak. Demi Tuhan! Jaejoong benar-benar speechless dan kaget. Ia tak menyangka jika Yunho akan melamarnya karena namja bermata musang itu tak mengatakan apapun tentang lamaran atau semacamnya!
Yunho hanya bisa tersenyum melihat ekspresi kekasihnya itu.
"Jae?" panggil Yunho, membuat Jaejoong kembali ke dunianya setelah sempat dibuat melayang oleh kekasihnya ini. Jaejoong menoleh menatap Yunho. "Maukah kau menerima cincin pemberianku? Sebagai tanda jika kau adalah milikku seorang mulai sekarang, esok dan selamanya" ujar Yunho.
Jaejoong tak dapat berkata-kata atau bahkan melakukan hal lain selain menganggukkan kepalanya. Kakinya bahkan sudah terasa sangat lemas saking bahagianya ketika Yunho menarik pelan tangannya dan memasangkan cincin itu di jari manis tangan kanannya. Oh God! Betapa bahagianya ia! Ingin rasanya ia berteriak pada dunia kalau dia telah memiliki Yunho sekarang! Yah meski belum resmi dan sah oleh ikatan pernikahan.
"Jae, kau tau? Didalam cincin itu terukir nama kita berdua, YunJae. Yunho dan Jaejoong" bisik Yunho seolah belum cukup ia memberikan kebahagiaan pada namja cantik itu yang membuatnya kembali melayang.
Oh Yunho! Kau benar-benar….! Aish! Jaejoong tak tau harus mengatakan apalagi untuk mendeskripsikan Yunhonya ini. Yang jelas, ia sangat bahagia untuk hari ini.
Terima kasih Tuhan, karena kau telah mengirimkan malaikat pelindungmu, batin Jaejoong bahagia.
[END 1st OF FLASHBACK]
XoXoXoXo
"Ajhussi? Bagaimana kelanjutan ceritanya?" tanya namja berambut ikal pada namja cantik didepannya.
Namja cantik yang dipanggil ajhussi itu tersenyum melihat antusias si pendengar. "Kau yakin mau mendengar kelanjutannya, Kyu?" ujarnya. Sejenak, tatapan matanya berubah hampa dan sedih.
Kyuhyun jadi merasa bersalah meminta Jaejoong untuk melanjutkan ceritanya. "Anou….kalau ajhussi keberatan sebaiknya–"
"Ah. Tidak. Tentu saja aku tidak keberatan" ujar Jaejoong cepat-cepat sebelum terjadi salah paham. "Hanya saja, apa kau yakin ingin tau kelanjutan kisahnya? Karena…. bagian ini sedikit menyedihkan" ujarnya kemudian.
Kyuhyun mengangguk pelan. "Kalau ajhussi tidak keberatan" jawabnya. Awalnya namja berambut ikal itu mengerutkan keningnya ketika melihat Jaejoong yang malah berdiri dari kursinya. Mungkinkah Jaejoong akan pergi dan melanjutkannya lain waktu?
"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan di ruanganku. Karena sepertinya sebentar lagi hujan akan turun" ujarnya saat mendengar suara petir dan juga angin yang bertiup kencang.
TBC
Saya gak bisa janji chapter selanjutnya akan cepat. Saya harus ngurus laporan magang sama buat penelitian untuk tugas akhir kuliah saya. Maklum udah semester tua. Jadi maaf kalau missal akan ngaret 1-2 hari. Tapi saya usahain buat ending m_m
Sekali lagi, terima kasih untuk yang sudah membaca, favrit/follow dan review. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya.
Eotte? Semoga suka, nde?
Kritik, saran, masukan? Saya terima di kotak review ^^
Sign
Duckymomo
