STORY BY YURIKO REI


NARUTO DKK MILIK OM MK (rei cuma minjem tp nggak bilang-bilang)

RATE T

WARNING : GAJE, TYPO(S), EYD, DAN WARNING-WARNING YANG LAINNYA


.

.

HAPPY READING :D


KEPULANGAN HANABI

Sang Raja Surya dengan perlahan meninggalkan tahta megahnya, menggantikan warna langit yang semula biru menjadi merah kehitaman yang membentang luas dilangit. Satu persatu bintang-bintang pun mulai bermunculan, menampakkan dirinya yang sempat tertutup terangnya cahaya matahari.

Hiruk pikuk khas kota terdengar semakin ramai seiring tenggelamnya Sang Raja Surya. Warna-warni lampu jalan dan tempat perbelanjaan terlihat berkerlap-kerlip ria dan meriah, banyak orang yang berlalu lalang kesana kemari, suara deru mobil-mobil terdengar begitu memekakkan telinga, Menampilkan keramaian khas kota besar pada malam hari.

Dengan langkah ringan, Hinata menyusuri jalanan ramai tersebut. Tangannya mencengkram tas punggungnya erat. Bibir tipisnya tak henti-hentinya berkomat-kamit , menggerutu pelan, merutuki betapa bodohnya ia karena bisa-bisanya lupa membawa jaket atau mantel atau apapun itu yang dapat melindunginya dari udara malam yang dingin nan menusuk ini . menengadah ke atas, matanya melihat untaian langit hitam, kelopak matanya menutup dengan pelan, menyembunyikan amethysnya dari keadaan dunia yang megah ini. Hidung mancung nan mungilnya menghirup oksigen dalam-dalam, menyetorkannya kedalam paru-parunya, menyesapi hawa khas udara malam. Matanya terbuka cepat saat mengingat jika sebentar lagi Jepang akan memasuki musim dingin.

"pantas udaranya terasa lebih dingin" gumamnya pelan, ia melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda tadi.

Gadis Hyuuga tersebut menambah kecepatan berjalannya, kaki-kaki jenjangnya melangkah semakin cepat menyusuri jalan ramai yang penuh akan lautan manusia itu. Ia tidak ingin akibat kelalaiannya karena lupa membawa jaket, menjadikan ia jatuh sakit karena kedinginan.

Tak membutuhkan waktu lama, Hinata telah sampai di mensionnya. Gerbang mension yang kokoh, tampak menjulang tinggi dengan angkuhnya, menjadi pelindung dari sebuah istana yang indah nan megah yang di dalamnya.

Para maid penjaga gerbang segera membuka gerbang raksasa tersebut, memberi sambutan kepada Hinata yang tak lain merupakan majikan mudanya, membungkukkan badannya dengan sopan serta memberikan ucapan sambutan 'selamat datang' yang dibalas anggukan beserta senyum lebar dari sang pemilik surai indigo itu.

Cklek

"tadaima-"

"H-Hanabi?!" seru Hinata tak percaya, ia terkejut akan kemunculan saudara kembarnya yang tiba-tiba berada di depannya atau lebih tepatnya berada diruang tamu dengan pose berdiri tegap, tangannya bersilang di depan dadanya.

Bruk

Gadis dengan surai indigonya itu langsung menghambur memeluk Hanabi dengan erat, hampir saja Hanabi terjungkal dibuatnya, kedua tangannya melingkar erat di pundak saudara kembarnya itu. memberondong nya dengan berbagai pertanyaan yang keluar dari bibir mungilnya.

"kapan kamu pulang, uh? Kenapa tidak mengabariku dulu? Kenpa tidak mengajakku untuk menjemputmu?"

Hanabi terkekeh ringan, ia membalas pelukan Hinata sama eratnya, tak dapat memungkiri, bahwa ia juga sangat merindukan Hinata "khe, sebegitu rindunya kah kau padaku,Hinata? Padahal baru delapan hari aku tinggal, apa diriku ini termasuk tipe orang yang ngangenin?" tanyanya bercanda.

Menguraikan pelukannya, Hinata tersenyum lembut"entahlah, menurutku tidak" nada canda ia gunakan dalam pelafalan kalimatnya tersebut.

…..WHO THE LAST LAUGH?...

"b-bagaimana keadaan nii-san? A-Apa nii-san m-menanyakan keadaan ku d-dan tou-san?" tanya Hinata semangat, tangannya dengan lihai memotong hidangan yang disajikan oleh para maid sebagai menu sarapan pagi ini yang tak lain bernama steak, menjadi potongan-potongan kecil kemudian melahapnya.

"s-seharusnya aku juga ikut pergi kesana" Hinata mengerucutkan bibirnya kesal.

Hiashi dan Hanabi menanggapi ucapan Hinata hanya dengan kekehan. Tangan sang ayah terulur, mengacak pelan rambut halus nan lembut milik Hinata.

"kau kan bisa berkunjung kesana saat liburan, Hinata" ujar sang ayah, ia mangambil sebuah gelas yang berisi teh hangat kemudian meneguknya pelan.

"h-ha'I ayah"

"dan t-tentunya Hanabi tak perlu ikut" lanjutnya sambil tersenyum jahil, mata pearlnya melirik usil ke arah Hanabi yang masih asyik mencomot roti dengan selai kacang kesukaannya.

"tentu saja aku ikut! Iya kan, ayah?" protes Hanabi dengan nada manja, mulutnya tak berhenti mencomot sehelai roti yang telah ia olesi dengan margarine dan selai kacang.

"kurasa lebih adil bila kau tidak ikut Hanabi. Benarkan Hinata?" sepertinya Hinata telah menularkan virus jahilnya kepada tou-sannya, lihat saja ekspresi Hiashi yang sedang menatap putri bersurai coklatnya jahil, persis seperti yang Hinata lakukan tadi, mungkin mereka memang sudah bersekongkol untuk menggoda Hanabi.

"hey hey hey! Tidak bisa begitu! Aku kan juga ingin kesana lagi!"

Hinata dan ayahnya tertawa bersama-sama, melihat ekspresi lucu saat Hanabi sedang cemberut dan kesal yang terpajang di wajahnya sungguh merupakan kesenangan tersendiri bagi ayah dan anak itu.

"Hinata" panggil Hanabi yang sudah pulih dari acara cemberutnya.

"um, ada apa Hanabi?"

"nanti kita berangkat bareng, ya?" kalimat yang lebih mirip disebut sebagai kalimat perintah mutlak ketimbang kalimat ajakan itu terlontar dari bibir gadis dengan surai coklatnya itu, menuntut Hinata untuk menuruti keinginannya.

"tapi-"

"kenapa? Kau selalu saja berjalan kaki. Tidak mau memakai mobilmu. Tidak mau di antar sopir, dan terakhir kau selalu menolakku saat aku akan mengantar mu kesekolah, kenapa? Apa kau malu mempunyai saudara seperti ku, Hinata?" kali ini Hanabi berujar dengan nada yang mungkin bisa di katakan marah, wajah kesalnya terpatri jelas di wajah cantiknya, menandakan bahwa ia sedang benar-benar kesal, sangat kesal.

Hinata terlonjak kaget. Bicara apa saudara kembarnya ini? Malu mempunyai saudara sepertinya? Apa maksudnya itu? haha jangan bercanda.

Hinata menunduk dalam, tangannya meremas kuat rok lipitnya, hatinya terasa seperti tersayat belati tajam tak kasat mata, mengirisnya menjadi potongan-potongan kecil yang tak mungkin dapat disatukan kembali-sangat sakit. Kenapa dia bisa berkata seperti itu, seharusnya Hinatalah yang berkata seperti itu, bukan Hanabi. "b-bukan s-seperti i-itu"

'harusnya aku yang bilang seperti itu, apa kau tak malu mempunyai saudara seperti ku hm, Hanabi?' lanjutnya dalam hati, ia tak sanggup, benar-benar tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, ia tak sanggup melihat Hanabi juga ikut menjadi bahan celaan dan ejekan teman-temannya hanya kerana ia mempuyai saudara sepertinya, saudara yang lemah, saudara yang culun sepertinya. Sungguh ia tidak ingin Hanabi bernasib sama sepertinya, cukup ia saja yang bernasib seperti itu.

"Hanabi!" suara baritone sang ayah mengintrupsi perdebatan kedua putrinya yang asyik berdebat, nadanya begitu dingin dan menusuk.

Hanabi menunduk, merasa bersalah akan apa yang tadi ia ucapkan. "maaf" ujarnya lirih.

Hiashi menghela nafas berat, memijat keningnya pelan "kau tidak seharusnya berkata seperti itu Hanabi, hanya karena masalah sepele seperti itu. ayah tidak pernah mengajarkan mu untuk berkata seperti itu"

"dan kau Hinata, Hanabi itu saudara mu, kenapa kau selalu menolak ajakan Hanabi untuk berangkat sekolah bersama? kalian itu saudara" lanjut sang ayah menasehati.

"maaf" ujar mereka bersamaan, mereka menunduk dalam sambil berkata lirih.

"baiklah Hinata, kalau kau menolak-"

"baiklah, ayo kita berangkat bersama" Hinata tersenyum lebar yang ditujukan kepada Hanabi. Hanabi yang melihat Hinata tersenyum kepadanya, secara reflek membuat senyum Hanabi ikut mengembang.

…..WHO THE LAST LAUGH?...

"waktu kalian tinggal lima belas menit lagi! Cepat selesaikan!" suara tersebut mengglegar, mengisi ruangan yang tadinya hening karena ulangan dadakan dari sang guru yang terkanal killer tersebut, Anko mitarashi namanya.

Suara kusak kusuk para murid mulai terdengar, ada yang sedang berbisik-bisik meminta jawaban, ada yang sibuk memberi kode-kode jawaban, ada juga yang dengan ekstrim nya meminta jawaban langsung secara terang-terangan kepada temannya.

"Shika! apa jawaban nomor lima, tujuh, Sembilan, sebelas, dan tiga belas?" teriak bocah kuning dengan model duren tersebut gamblang.

Ya kira-kira seperti bocah kuning itu, entah karena ia merupakan orang yang ekstrim atau bodoh atau memang ia merupakan orang yang over kreativ, sehingga ia dengan beraninya meminta jawaban dengan cara yang mungkin kebanyakan orang menyebutnya G.I.L.A . tapi ada juga yang mengerjakan soalnya sendiri dengan diam dan hikmat, tanpa menoleh kanan kiri, tanpa bisiki-bisik meminta jawaban. seperti Hinata, Shikamaru, Sasuke, dan lain sebagainya yang mengerjakan soal dengan jujur, yah walaupun jumlah mereka dapat di hitung jari.

"Naruto! Apa yang kau lakukan?! Cepat kumpulkan lembar jawab mu sekarang juga! Begitupun kalian semua! Saya tidak mentoler kalian, karena kalian sudah berani-beraninya mencontek! Cepat!"

"hehe lima menit lagi sensei, ya?" bocah berdarah Namikaze tersebut masih sempat-sempatnya menawar waktu untuk mengumpulkan lembar jawabannya tanpa takut, walaupun kiriman deathglare gratis tanpa bayar dari sang guru killer sudah diterimanya dan jangan lupakan hukuman-lagi manis yang siap menantinya.

"tidak ada lima menit- lima menitan, cepat kumpulkan! Kalian semua juga!"

Karena tidak mau amukan itu terus berlanjut yang mungkin bisa membuat gendang para murid jebol, segeralah para murid berdiri untuk mengumpulkan lembar jawaban mereka masing-masing. Satu persatu ah bahkan dua, para murid tersebut maju kedepan dengan membawa lembar jawabannya masing-masing untuk dikumpulkan di meja guru.

Hinata berdiri dengan agak tergesa-gesa, ia melangkahkan kakinya menuju meja guru yang letaknya di depan, disamping papan tulis.

Melihat Hinata yang berdiri, Sakura pun ikut berdiri, langkahnya pelan namun cepat.

Saat berpapasan dengan Hinata, segeralah ia mengambil kertas lembar jawaban Hinata dengan sekali hentakan, mengambil lembar jawaban tersebut dengan paksa kemudian memberikan lembar jawabannya atau bisa disebut menukar lembar jawabannya dengan milik Hinata, tak lupa ia juga membisikkan sebuah kalimat bernada ancaman kepada Hinata "awas saja kalau kau berani mengadukan tentang hal ini!"

Dengan cepat Sakura melangkah dan langsung meninggalkan Hinata, menghampiri sebuah bangku yang terletak dua baris dari depan, mengambil penghapus tinta bolpoin, dan mengganti nama 'Hyuuga Hinata' menjadi namanya 'Haruno Sakura', lalu segera kedepan untuk mengumpulkan lembar jawabannya errr… maksudnya lembar jawaban Hinata yang telah ia rebut dan telah ia ganti namanya.

….WHO THE LAST LAUGH?...

Setelah ulangan yang melelahkan dan menegangkan tersebut selesai, bel pertanda istirahatpun berbunyi. Para muridpun menghela nafas lega, keluar kelas untuk menuju ke kantin, ada juga yang masih sibuk memaki-maki sang sensei karena ulangan dadakan tadi, tentu saja setelah sang sensei pergi meninggalkan ruangan yang mereka sebut 'nerakanya sekolah'-mereka masih sayang nyawanya.

"ugh, kenapa aku bisa lupa membawa bekal?" Hinata dengan terpaksa melangkahkan kaki mungilnya, berjalan menuju kantin sekolahnya, sepertinya ia harus menyalahkan Hanabi, karena dengan seenak jidatnya mengajak Hinata berangkat siang dan setelah itu, menyuruh Hinata untuk cepat-cepat berangkat karena takut terlambat dan berakhirlah Hinata yang tidak membawa bekalnya.. yes! good job Hanabi!

Menghela nafas sejenak, ugh! Jujur ia agak errrr… bisa dibilang sedikit… takut. Yeah ia sedikit takut, takut kejadian dulu terulang lagi.

Saat itu, ia pergi untuk membeli beberapa makanan dan minuman di kantin, dan berakhir dengan rambut indahnya-semula berhiaskan krim kue akibat ulah dari Sakura dkk, dan setelah itu, ia tidak pernah pergi kekantin atau bisa di bilang kejadian tersebut, merupakan kejadian dimana ia terakhir kali pergi kekantin.

Langkahnya terhenti saat sebuah kantin yang berukuran lumayan besar itu berada didepannya, dengan langkah perlahan, ia memasuki kantin tersebut dengan perasaan gugup dan was-was. Ia langsung melangkah untuk membeli sebuah roti dan sekotak susu, tak lupa ia membayar semua makanan dan minumannya kepada ibu kantin.

Ia membalikkan tubuhnya, memandang semua penjuru kantin, guna menemukan sebuah tempat duduk kosong yang dapat ia gunakan untuk makan.

"ah! Ketemu!" guamamnya senang. segera ia melangkah menghampiri meja tersebut tanpa memperdulikan tatapan 'jijik' dari kebanyakan murid yang mereka kirimkan pada Hinata, ah masa bodoh! Yang penting ia bisa makan sampai kenyang, toh ia sudah kebal akan tatapan seperti itu.

Saat Hinata akan menduduki kursi tersebut, Sakura beserta gank nya menghadang Hinata sambil menyilangkan tangannya ke depan dada dengan angkuh "e eh! Aku-yang-ingin-memakai-tempat-ini-sekarang!" ujarnya dengan penekanan penuh disetiap kalimat yang ia lontarkan.

"t-tapi H-Haruno-san, a-aku-"

"hei gagap! Kita tidak butuh alasanmu! Yang kita butuhkan tempat duduk ini, dan kau" timpal teman Sakura yang bernama Shion, telunjuknya mengerah ke dahi Hinata "pergi dari sini!" bentaknya kasar.

Tanpa berkata apa-apa Hinata langsung pergi meninggalkan tempat duduk tersebut, mencari bangku lain yang mungkin bisa ia gunakan.

Dan beribu-ribu syukur kepada Kami-sama, Hinata akhirnya menemukan tempat duduk yang kosong, segeralah ia menduduki bangku tersebut, namun ternyata dia tidak sendirian. Disampingnya, seorang Uchiha Sasuke, dengan segala kebetulannya juga baru saja menduduki kursi disampingnya yang kebetulan memang kosong dan segeralah ia membuka minuman botol lalu meneguknya.

Kami-sama! Apalagi sekarang?!

Dengan tangan yang gemetar menahan gugup dan takut, ia mengambil susu kotaknya, meneguknya perlahan, lalu meletakkannya kembali kemeja. Ia menghela nafas panjang, menetralisir jantungnya yang berdetag liar. Bukan, bukan karena ia juga menyukai Sasuke ataupun salah satu dari fansgirl nya si Sasuke, itu hanya reaksi tubuhnya ketika ia merasa gugup atau takut. Walau kenyataannya Hinata mengalami keduanya-gugup dan takut.

"kau Hyuuga Hinata?" uchiha sasuke, secara tiba-tiba bertanya kepada Hinata yang membuatnya kaget bukan main.

"eh! I-iya"

Sasuke menyerahkan sebuah kotak bento berwarna ungu muda yang tadi sempat ia taruh disamping tangannya tanpa berkomentar apapun.

Hinata yang tidak mengerti akan apa yang dimaksud sasuke, memiringkan sedikit kepalanya, menampilkan raut tanda tanya, sungguh ekspresi Hinata yang seperti itu membuatnya sangat-sangat-sangat terlihat imut.

"bukankah seorang Hyuuga Hinata terkenal akan kecerdasannya?" Sasuke berujar dengan nada tajam, bermaksud menyindir sang putri Hyuuga itu.

"eh? A-apa maksud U-Uchiha-san?"

Sasuke menghela nafas sejenak, berusaha menenangkan hasratnya untuk tidak mencekik leher gadis yang berada disampingnya itu "itu" sasuke menunjuk kotak bekal tadi menggunakan telunjuk nya yang panjang "tadi seorang wanita bermata seperti mu memberikan itu kepadaku, ia menyuruhku untuk memberikan bento tersebut kepada seorang Hyuuga Hinata, me-nger-ti Hyuuga Hinata?" lanjutnya, ia memberikan tatapan tajam kepada Hinata dan sukses membuat Hinata menciut, sungguh ia benar-benar tak suka berkata panjang lebar.

"o-oh, k-kalau s-seperti itu, t-terimakasih U-Uchiha-san?" Hinata sedikit menundukkan kepalanya, gagapnyapun bertambah parah, ia benar-benar sangat takut sekarang.

"hn"

Sakura Haruno, seseorang yang sedari tadi mengawasi kegiatan mereka tampak menahan amarah, wajah tirusnya menampakkan raut yang amat kesal, tangannya mengepal erat bahkan telapak tangannya sampai memutih.

"lihat nanti apa yang akan aku lakukan" seringai yang syarat akan kebencian terpatri jelas di wajah Sakura.

.

.

TBC


hy minna! gomen ya, Rei baru up. sebenarnya ini chap udah jadi sekitar seminggu lebih yang lalu, di chap ini sebenarnya Rei mau jadiin satu sama chap depan, namun karena wordnya kebanyakan akhirnya Rei jadiin dua. rei sebenarnya-lagi- ingin segera ke langsung masalahnya (perubahan Hinata) namun kalo terlalu maksa jadinya mainstream.

gomen chap ini terlalu maksa buat up. trus buat adegan Sasuhinanya kurang banyak, gomen nggak bisa nepatin janji, tapi Rei usahaain Sasuhinanya dan Gaahina kapan-kapan rei banyakin.

oh iya, Rei hampir aja lupa. berdasarkan masukan dari teman-teman (termasuk readers, review), rei tetap menjadikan cerita ini aman alias RATE T

oh ya, Rei mau minta pendapat nih.

1. apa genre Hurt-nya dihapus atau di ganti aja ya? soalnya Rei sadar kalo fic ini, feel-nya hancur dan kurang terasa. tapi kalo di ganti, diganti apaya?

2. apa ada event buat Gaahina? ini Rei beru rencana mau ikut event Sasuhina-kalo jadi-, Rei suka sama dua pair itu...

REVIEW (BUAT YANG TIDAK LOG IN)

Chanchan

Rei juga nggek sabar untuk perubahan Hinatanya :)

nana chan

iya, ini udah lanjut :D

nayasant japaneze

em..mungkin, bisa jadi tuh. ::DD

onyxlave14

arigatou :D tetep aman kok.

secret

Rei pastikan chap 6 udah menjurus ke perubahan Hinata. Hinata? em.. bisa jadi :)

A-Chan

tentu saja, rating nya nggak berubah kok. arigatou ya semangat dan dukungannya :). masalah pair, gomen Rei belum bisa jawab.. keep reading :)

Guest

hah? jadi? apanya yang jadi? #bingungtujuhkeliling *plak #author alay

Uzumaki Dilri

hy dobe! akhirnya kau review lagi. em.. Rei belum tahu, masih bingung #gomen

Uchiha nanda

arigatou:D. hinata udah cantik koK, ya tapi dia agak culun. tenang chap depan (6), udah di mulai perubahan Hinata.


Gomen kalau ada yang belum Rei jawab Reviewnya


HUWEEE...GOMEN MINNA, CERITANYA SEMPAT REI HAPUS, SOALNYA LAGI EROR, REVIEW PARA READERS NGGAK BISA DILIHAT, AWALNYA MAU REI EDIT, EH MALAH JADINYA REVIEWNYA NGGAK BISA MUNCUL TERUS CERITANYA NGGAK ADA PERUBAHAN HASIL EDIT

GOMEN GOMEN GOMEN

REI HARAP, PARA READERS MAU MEMBERIKAN REVIEWNYA LAGI. GOMENNASAI


RnR?