Chapter 3

" Kau tidak berhalusinasi sayang. Aku memang dihadapanmu beruang madu."

" Kau- kenapa kau ada disini huh?"

" Kenapa? Bukannya kau meridukanku hmm?"

" Dalam mimpimu."

" Ah kau benar, dalam mimpiku kau menangis memanggil namaku kekekekeke."

" Ani."

" Ne."

" Ani."

"Ani."

" Ne ge-ups."

" Nah sudah jangan menyangkal lagi beruang madu."

" Aku bukan beruang madu."

" Kau mirip beruang."

" Ya! Apa maksudmu eoh…"

" Kau enak dipeluk seperti beruang, kau tinggi seperti beruang, warna kulitmu seperti bulu beruang, dan Kau manis seperti madu, beruang madu."

" Aish,… dan kau rusa mesum."

" Yup, dan si beruang madu merindukan rusa mesumnya bukan."

" Aish ge,…. Kapan aku bisa menang berdebat dengan mu." Jongin mempoutkan bibirnya kesal.

" Hahahaha,….. dan manis, apa-apaan kacamatamu itu?"

" Ini? Kenapa memang?"

" Apakah dua minggu tak melihatku kau jadi menderita rabun?"

" Dasar, enak saja."

" Lepaskan saja kacamata jelek itu, memangnya kau mau menjadi rabun."

" Aish. Diamlah rusa bodoh. Ayo masuk!"

" Masuk kemana?" Luhan bertanya bingung.

" Ke mobilmu ge. Memangnya kemana lagi?"

" Ke hatiku mungkin."

" Dasar Gila. Ayo cepat Ge... Kau lihat banyak siswa memandangi kita aneh"

" Eh? Baiklah. Kau harus menjelaskannya nanti padaku beruang madu."

" Ge,… stop memanggilku beruang madu."

" Tidak, aku tidak mau."

" Rusa Jelek"

" Tapi kau suka kan?"

" Aish terserah."

Kedua orang tersebut meninggalkan pelatara sekolah Jongin. Sementara Sehun sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya ' berbeda sekali' batinya berkata.

.

.

.

.

.

" Ah,… Luhan, kau ke Korea nak?" nyonya kim bertaya begitu melihat putranya turun dari mobil bersama Luhan.

" Yo… aunty. Ni hao ma?"

" Luhan-ah, bicara dengan bahasa yang oemma mengerti!"

" Kekekekeke arraso aunty."

" Jongin, ganti baju kemudian makan siang bersama Luhan. Umma akan menunggu di meja makan ne."

Jongin tidak berbicara, ia hanya menganggukan kepalanya dan menuju ke kamarnya. Sementara Luhan dan nyonya kim menuju ke ruang makan.

" Uncle kemana aunty?" Tanya Luhan.

" Aish sudah ku bilang, panggil aku umma, bukan aunty."

" Ah,.. ani,.. aku akan memanggil umma pada mertuaku nanti, aunty. Apa aunty mau aku jadi menantu aunty,…. Uhh aku akan senang sekali, putra aunty kan manis semua kekekeke."

"Dasar, kau ini…."

"Memang siapa yang mau jadi pasanganmu rusa mesum?" Suara Jongin menginterupsi obrolan ringan mereka.

" Tentu saja beruang maduku ini lah, siapa lagi hmm?"

" Huh,… aku tidak mau jadi pasanganmu rusa mesum. Tinggikan badanmu dulu." Jongi berkata datar dengan memasang muka polos.

JLEB

Jantung luhan serasa ditusuk karena ucapan Jongin tepat menancap di jantungnya.

"Kalau begitu kau mau aku dengan Taemin berarti?"

"Andwe!" Jongin langsung memeluk Luhan posesif.

" Gege juga mau memilih Taemin?" Jogin berkata dengan lirih.

"Gege tidak boleh meninggalkanku ne.. ne.. ne, nanti Jongie dengan siapa? Halmonie kan sudah tidak ada.. Gege tidak boleh meninggalkan Jongie, nanti Jongie sendiri.."

Nyonya kim sungguh merasa sangat bersalah, bahkan ia baru tahu bahwa selama ini Jongin menganggap dirinya tidak ada, hanya halmonie dan Luhan yag menjadi tumpuannya, sekejam itukah dirinya waktu dulu mengabaikan Jongin? Ia sungguh tidak bermaksud memperlakukan Jongin berbeda denga Taemin sewaktu kecil. ia merasa bodoh sekarang, seperti inikah dulu yang dirasakan Jongin kecil? Merasa diabaikan da tidak dianggap, sangat menyakitkan.

Agaknya Jongin sedikit melupakan bahwa nyonya kim masih berada di sana.

"Ayo, sudah pelukannya, sekarang kita makan siang." Suara nyonya kim membawa kembali jongin mejadi seperti biasanya. Melapas pelukan Luhan, duduk tenang dan diam.

Jongin mengambil lauknya dalam diam dan tenang, tidak membuka bibirnya sidikitpun untuk ikut obrolan seru antara nyonya kim dan luhan.

" Aaaaa…" Luhan menyodorkan suapan potongan ayam goreng saus pedas pada Jongin. Jongin menerima dengan semangat.

" Mashita…" Ujarnya.

Hati nyonya kim sedikit menghagat melihat Jongin memuji masakannya. Selajutnya nyonya Kim mengangkat mangkuk berisi ayam saus pedas dan menyendoknya dan meindahkan ke piring Jongin.

Jongin tidak protes, ia dengan semangat menghabiskan ayam yang ada dipiringnya. Nyonya kim tersenyum tipis melihat tingkah polos jongin memakan lahap ayamnya. ' awal yang baik' pikirnya.

.

.

.

.

Jongin bangun pagi dengan wajah bahagia, nyonya kim nampak membangunkannya dan menyiapkan keperluan sekolahnya hari ini. Ia bahkan membuatkan nasi goreng ayam untuk Jongin sarapan. Jogin sangat senang pagi ini. Ia merasa dianggap keberadaannya. Bahkan saat sarapan nyonya kim terus saja memberinya ayam dan menanyakan apapun yang diinginkannya. Ia senang. Sangat senang hingga seperti mimpi rasanya.

Jongin ke sekolah diantar oleh Luhan, pria jelmaan rusa tersebut ternyata memutuskan untuk pindah kuliah ke korea menyusul Jongin. Ia tahu Jongin akan kesulitan membaur dengan keluarganya lagi setelah terpisah selama 12 tahun. Bahkan dulu tidak sekalipun Jongin mau kembali ke korea jika liburan sekolah, ia memilih untuk ikut keluarga Lu liburan dibanding pulang ke rumah keluarganya di korea. Bahkan ketika orang tuanya datang, jongin akan memilih bermain keluar bersama tema-teman sekolahnya atau menghabiskan waktunya di perpustakaan.

" Kenapa kau tersenyum terus dari tadi huh?"

" Tidak."

" Rambutmu kenapa kau tata seperti itu hmm?"

" Tidak ada."

" Kenapa memakai kacamata jelek seperti itu hmm?"

" Ingin saja"

" Aish jawablah pertanyaanku degan benar."

" Aish perhatikan jalan dihadapanmu dengan benar." Jongin mengembalikan kata-kata luhan.

" Hari ini aku harus ke kampus mengurusi administrasi kepindahanku, aku tidak bisa mejemputmu. Maaf."

" Gwenchana ge, aku bisa naik bis."

" Jangan, pulang saja dengan Taemin."

" Tidak, aku ingin naik bis pokoknya. Titik."

.

.

.

.

Pulang sekolah Jongin benar-benar melakukan perkataannya tadi, ia berjala menuju halte terdekat. Cuaca menunjukan kurang bersahabat, mendung sedikit menggantung menyatakan bahwa hujan bisa turun kapan saja. Jongin melangkahkan kakinya menuju ke semak-semak yang ada dibelakang halte, ia seperti mendengar suara rintihan.

" Omo."

Benar saja, seekor puppy berwara coklat nampak terluka kainya, tidak ada tanda pengenal pemilik puppy maupun aksesoris yang bisa dijadikan petunjuk bagi Jongin untuk mengembalikan puppy tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk membawa puppy tersebut dalam gendongannya dan berjalan menuju ke rumahnya karena bis yang ia tunggu tidak kunjung datang, meski dengan berjalan kaki memakan waktu yang lebih lama dan ia harus menggunakan jalan pintas yang cukup sepi tapi lebih baik jika dibandingkan dengan menunggu bus yang tak kunjung datang.

Setelah berjalan kurang lebih setengah jam akhirnya jongin sampai di rumah, rintik hujan sudah mulai turun ketika ia memasuki halaman rumah menyebabkan diriya berlari agar lebih cepat sampai di depan pintu.

" Astaga Jongin, kenapa lari-lari?"

" Hatchi" suara bersin Taemin dari arah belakang mengejutkan nyonya kim.

" Omo. Apa yang ada di gendonganmu itu anak anjing? Jongin sudah umma bilang Taemin alergi bulu binatang, cepat singkirkan binatang itu. Kau dengar Taemin bersin. Kenapa sulit sekali menurut?" Nyonya kim seolah lepas kendali memarahi Jongin karena membawa anak anjing pulang ke rumah.

" Umma ini hanya flu biasa."

Rumah keluarga kim begitu luas. Membiarkan anak anjing itu hidup di halaman belakang tidak akan membunuh Taemin. Jongin merasakannya lagi. Jantungnya serasa ditikam, hatiya di iris-iris. Ia berjalan mundur kebelakang.

" Kau selalu tidak meurut."

" Itu milik Taemin"

" Berikan pada Taemin."

" Taemin akan sakit."

" Taemin…."

" Taemin…"

" Taemin…."

Suara- suara dari masa lalu Jongin terus terngiang di telinganya, ia semakin memundurkan langkahnya. Nyonya kim nampaknya sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia membekap mulutnya sendiri pertanda menyesal.

Tes

Tes

Drrash..

Hujan sudah jatuh membasahi bumi, membawa aroma khas yang menenangkan seiring lelehya airmata Jongin yang segera berbalik dan berlari meninggalkan halaman rumah itu, ia berlari terus dan berlari. Tak dipedulikannya tubuhnya basah dan menggigil kedinginan. Hatinya jauh lebih sakit sekarang.

" Jongin kembali nak."

" Jongin!"

" Jongin, maafkan umma nak…"

" Jongin, kembali nak…"

Jongin mengabaikan panggilan-panggilan mereka. Ia bahkan tidak diijinkan merawat anak anjing yang terluka hanya karena Taemin bersin.

Dulu ia tak boleh mendekati taemin ketika sakit.

Dulu ia tak boleh membuat taemin kedinginan karena bermain air.

Dulu jongin kecil akan berlari ke kamar dan meangis dibawah selimutnya. Mengunci kamar hingga esok pagi datang menyapa.

Jongin kecil tidak pernah meminta. Jongin kecil hanya menerima apa yag diberikan kepadanya. Jongin kecil tidak pernah protes. Jongin kecil harus selalu mengalah.

Jongin kecil tidak boleh menangis ketika boneka pemberian Yifan hyungnya diminta Taemin.

Jongin kecil selalu menangis dibawah selimut bergambar kartun krong kesayangannya.

Ia terus berlari dibawah guyuran hujan, airmatanya tersamarkan dengan adanya tetesan air hujan namun tidak menyamarkan perih dan sakit dihatinya. Ia ingin kembali ke China, ia tidak ingin kembali ke korea.

China lebih baik, keluarga Lu bahkan memperlakukannya lebih baik. Jogin dianggap seperti anak kandung mereka. Mereka selalu bertanya tentang keinginan Jongin kecil.

Flashback On

" Jongie mau boneka apa? Lihat Lu ge sudah memilih boneka rusa kesayangannya." Nyonya Lu bertanya kepada Jongin kecil yang tampak diam dalam toko mainan.

Jongin kecil tidak menjawab. Ia hanya menggeleng.

" Jongin tidak mau boneka?"

" Uhm…" Jongin kecil hanya mengangguk.

" Ah, baiklah kalau begitu kita beli ice cream ya…."

Jongin kecil tidak beranjak, hanya terus memandangi boneka hijau, tokoh kartun favoritnya. Keluarga Lu sudah berjalan di depan. Nyonya Lu berhenti begitu mengetahui Jongin kecil masih di dalam toko.

" Kenapa Jongie tidak bilang kalau mau Krong eoh..?"

" Jongie boleh membawa klong aunty?"

" Tentu saja."

" Aunty tidak malah?"

" Kenapa harus marah?"

" Jongie mau klong."

" Sekarang Jongie ambil krongnya, sini aunty gendong."

" Aunty mau gendong Jongie?"

" Kenapa tidak?"

" Yey. Jongie cayang aunty."

Flashback Off

Jongin berteduh di halte dekat dengan sekolah, tak terasa ia berlari terlalu jauh. Puppy dipangkuannya nampak kedinginan, iba rasa hati Jongin membuatnya melepas blazernya dan menyelimutkannya pada puppy tersebut meski sebenarnya tidak terlalu membantu karena kondisinya yang basah.

Kilasan masa lalu terus berputar dibenaknya.

Jongin menyandarkan tubuhnya dikursi halte. Ia ingin menangis sekarang, ia ingin menelepon Luhan namun handphonenya telah padam terkena air hujan. Telepon umum pun tak ada di sekitar sana. Jongin pasrah jika ia harus bermalam disana.

Tin.. Tin

Suara klakson mobil mengejutkan Jongin.

" Apa yang kau lakukan disini Jongin-ssi?" Orang itu, Sehun turun dari mobilnya dan berlari ke halte.

" Emmm Sehun-ssi, bi-bisakah kau menolongku?" Sehun memperhatikan Jongin yang duduk dihadapannya, bibirnya yang mulai membiru karena kedinginan membuat sehun tidak tega.

" Ne?"

" Bisakah kau merawat anak anjing ini, ah- maksudku hanya mengobati lukanya saja, hari ini saja. Esok aku akan mengambilnya lagi."

" Ne, berikan padaku" Sehun menyetujui. Meski ia tidak suka binatang, namun karena tidak tega dengan anak anjing yag dibawa oleh Jongin akhirnya menyetujuinya.

" Ini—

Brukkk

Belum sempat Jongin menyelesaikan kalimatnya, ia telah jatuh pingsan. Untungnya sehun memiliki reflek yang bagus, tangan kanannya menerima puppy yang nampak terluka tersebut dan tangan kirinya menahan tubuh Jongin. Pergerakannya tidak memungkinkan untuk membawa keduanya secara bersamaan membuatya meletakkan kembali puppy di tangannya ke bangku halte. Ia mengangkat tubuh Jongin dan menidurkannya di Jok belakang. Setalahnya ia berlari lagi mengambil puppy yang tertinggal dan melajukan mobilnya.

Sesekali matanya nampak mengamati tubuh yag terbaring lemah di jok belakang dalam mobilya. Wajahnya pucat, kacamata tidak lagi bertengger di wajahnya, rambutnya acak-acakan terkena air hujan. Manis dan polos adalah kesan yang sangat cocok untuk menggambarkanya. Bajunya basah mecetak jelas tuhub rampingnya dibalik seragam putih sekolahnya. Sexy adalah kesan yang ia dapatkan. Mau tak mau Sehun mengakui bahwa namja yang ada dalam mobilya tersebut begitu menawan.

Sehun melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga kim. Ia cukup akarab dengan Taemin sehingga tidak menyulitkan dirinya ketika hendak menuju kesana.

.

.

.

" Tenanglah umma, mereka pasti bisa menemukan Jongin." Suara taemin terus menerus menenangkan nyonya Kim yang menangis menyadari kebodohannya.

Tuan Kim ampak tenang di sofa dihadapan nyonya Kim. Ia nampak mengatupka rahangnya keras. Kesalahan yang sama terulang oleh orang yang sama dengan kejadian yang hampir sama. Kepalanya serasa mau pecah.

Ia ingin sekali memarahi istrinya tapi ia tak sanggup melakukannya. Ia hanya diam untuk meredam emosinya.

Tok

Tok

Tok

Suara ketukan pintu yang terburu menyadarkan ketiganya. Taemin dengan segera menuju ke pintu depan dan membukanya.

" Omo."

" Apa yang terjadi dengan Jongin sehun-ah? Ia tidak apa kan? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?"

" Ssstttt. Diamlah dulu Tae, dimana kamar Jongin?"

Suara rebut-ribut membuat nyonya kim menyusul Taemin.

" Jongin! Bangun nak" Nyoya kim kembali menangis melihat putranya tak sadarkan diri dalam gendogan sehun.

" Kim ajhuma bisa tunjukan kamar Jongin?" sehun bertanya karena mulai kepayahan berdiri kedinginan diluar sambil menggendong tubuh Jongin yang memanas.

" Ah tentu."

Sehun segera berpamitan setelah meletakan jongin di ranjangnya. Nyonya kim segera mengganti baju Jongin dan mengompres keningnya.

"Halmonie."

" Halmonie"

"Jongie ikut."

Rintihan dari bibir Jogin yang tak sadarkan diri membuat nyonya kim mati-matian menahan airmatanya. Dokter keluarga telah di panggil dan saat ini memeriksa tubuh lemahnya.

" Kondisinya…."

TBC

astaga,... jeongmal kamsahamnida atas responnya terhadap FF ini

saya akan berusaha mengupdate tepat waktu...

review chingu sangat membantu

.

.

.

kekekekekke yang nebak abang naga muncul,... maaf ya anda belum beruntung kekekeke silahkan coba lagi.

kamsahamnida

bow