Cup 04 : Berkendara yang Baik
Kalau raja-raja zaman dahulu punya kereta kencana, pengusaha kaya punya helikopter pribadi, aku mempunyai sebuah Mio.
Ya, cukup simple, sebuah motor yang menjadi sarana transportasi utama bagiku. Sialnya, tuh Mio juga merupakan motor pertama yang kukendarai. Motor yang banyak menyimpan kenangan-kenangan pahit dan manis yang tak terlupakan. Motor yang bahkan umurnya lebih tua dibanding console game milikku, motor yang tetap ada walaupun aku sudah berganti dari sepeda dua kali. Intinya, motor itu adalah motor pertama yang kupake waktu baru bisa naik motor. Baik perjalanan saat panasnya siang, atau pun saat dingin malam memeluk, dia selalu ada untukku. Inti dari intinya, dia adalah motor yang dengan sukses berhasil aku siksa.
Selayaknya pengendara yang baru belajar naik motor, waktu itu aku benar-benar buta dalam hal kecepatan. Jadi tanpa berpikir dua kali – mikir sekali aja enggak, langsung tarik gas hingga kecepatan penuh, terkadang aman-aman saja, sialnya sih kalau ada polisi tidur. Entah sudah berapa kali aku dan Mio jatuh mencium aspal, trotoar, hingga nyaris mengenai orang yang kebetulan lewat. Mungkin hubunganku dan Mio jauh lebih romantis dibanding sinetron. Ngelebihin pacaran 'deh pokoknya. Jatuh bersama, lecet bersama, nabrak bersama, ditilang bersama, hingga main air bersama – jatuh ke kali. Semua bekas luka itu masih membekas di body Mio, hingga ada bagian yang harus dijahit dengan kawat.
Aku sendiri juga belajar dari semua kecerobohan yang pernah kulakukan ketika berkendara. Perlahan-lahan aku mulai sadar, kalau lampu merah harus berhenti, kalau mau belok menyalakan lampu sein dulu, kalau ada polisi tidur harus mengurangi kecepatan, dan yang penting, polisi lalu lintas itu beda dengan polisi tidur.
Namun, bukan berarti setiap insiden yang kualami dengan Mio adalah kesalahanku. Pernah suatu saat ketika aku sudah rada jago mengendarai motor, ada seorang ibu juga mengendarai motor, lampu sein tuh ibu menyala di kanan, jadi aku kira dia mau belok ke kanan jadi aku pun menyalipnya dari kiri. Namun, tanpa ada guntur tuh ibu tiba-tiba juga belok ke kiri hingga roda depan motornya menabrak bagian samping dari Mio. Dan dengan tragis trotoar pun menjadi sasan utama benturan.
Ibuku yang meneliti hal ini berkata bahwa mungkin keseringanku menabrakkan Mio adalah karena hobiku yang juga sering menabrakkan sepeda dulu. Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya ketika aku mengendarai sepeda ketika SD, entah alasannya apa, aku sering menabrakkan roda sepeda ke apapun yang kelihatannya seru buat ditabrakkin. Dari mulai pagar rumah, ayam lewat, sampai satpam mini market. Walaupun begitu, aku tidak terima dengan pernyataan ibuku itu. Pasalnya, menabrakkan motor karena seru itu hal yang bego.
Bayangkan saja kalau misalnya sedang mengendarai motor siang-siang sambil bersiul-siul lalu menabrak seorang tukang sayur yang sedang lewat. Nggak mungkin, 'kan, ketika di kantor polisi ditanyain kenapa kita sampai menabrak tukang sayur malang tersebut kita jawab; "Seru aja, Pak. Pas kelindes suaranya kaya ngijek jambu biji, gitu. Bapak mau coba juga?"
Tentu saja, dana juga termasuk faktor tidak memungkinkannya menabrakkan motor sesuka hati. Pasalnya, mengganti roda motor, tidak sama dengan mengganti roda sepeda, belum lagi spare part motor tidak semurah sepeda. Dan lagi, ketika dulu menabrak satpam dengan sepeda, paling si satpamnya cuma kaget lalu ngingetin doang. Kalau hal ini dipraktekkan dengan motor, satpam tersebut akan kaget dan masuk rumah sakit. Untungnya aku belajar naik motor ketika masuk SMP, mungkin jika naik motor ketika SD dan melindas polisi lalu lintas, paling cuma melengos dan menyamakan polisi itu dengan polisi tidur.
Keamanan berkendara, hal yang tidak pernah bosan ibuku katakan padaku. Mulai dari jangan ngebut-ngebut, jangan lupa mengecek ban sebelum berpergian, jangan lupa mengisi bensin seminggu sekali, pastikan seluruh lampu motor berfungsi, jangan lupa berdoa sebelum naik motor, dan selalu mengadakan syukuran setelah motor kembali dengan selamat sehabis kupakai. Sebenarnya yang paling sering dikhawatirkan beliau adalah waktu itu aku belum punya kartu legendaris penanda layaknya seseorang diperbolehkan mengendarai motor, SIM.
Ajaibnya, aku jarang ketilang atau pun berurusan dengan polisi. Entah kenapa setiap ada tilangan aku hanya menarik gas dan melewati kumpulan polisi itu dengan pedenya, ketika ada yang memberi salam, tinggal dibalas anggukkan. Sialnya sih kalau tilangannya sepi, kemungkinan untuk ditilang meningkat. Helm, juga merupakan hal yang tidak boleh terlupakan ketika menggunakan motor. Sebenarnya tujuan utama selalu memakai helm ketika berkendara itu untuk melindungi wajah. Yap, hampir setiap aku mengendarai Mio, kaca helm selalu sedia menutupi wajah. Well, hal ini disebabkan karena terkadang ketika berkendara, normalnya; ada debu atau pasir yang masuk ke mata, bahayanya; kadang-kadang ada serangga yang tiba-tiba menclok di muka, extreme-nya; ada burung kurang ajar yang tiba-tiba berak dan ampasnya kena muka.
Ketika masuk SMA, tentu saja kemampuan mengendarai Mio pun meningkat. Dari Kaito yang dulunya pengendara motor matic ugal-ugalan, menjadi pengendara motor matic ugal-ugalan yang sedikit mahir. Aku merasa seperti F*ng yang bertambah kuat setelah Fury-nya hancur, aku juga bertambah mahir setelah semua tabrakkan yang kualami. Bedanya, F*ng cukup satu kali Fury -nya hancur untuk power up, sedangkan aku harus kecelakaan lebih dari sepuluh kali untuk power up.
…
"Wah, Kai, diboncengin ama kamu enak banget. Serasa naik jetkoster," tutur salah satu teman sekelasku yang pernah kuantar pulang naik motor. Aku hanya ketawa renyah membalasnya.
Kalau dipikir-pikir, kebanyakkan anak-anak cowok di sekolahku mengendarai motor laki. Salah satunya adalah si Yuuma. Dia selalu mengendarai motor gede setiap berangkat sekolah. Mudah mengenali suara motor Yuuma yang mirip suara kaleng pecah itu, setiap motornya lewat orang-orang akan segera masuk ke rumah, bersembunyi di bawah meja sambil menutup telinga mereka dengan bantal. Mirisnya, motor milik Yuuma dan Mio-ku punya warna yang sama – merah – dan sebenarnya akan lebih cocok kalau kami tukaran motor. Pasalnya, dengan postur tubuh Yuuma yang kurang memadai, dia harus sedikit lebih memiringkan motornya lebih dari normal dan sedikit berjinjit untuk bisa menahan motor sembari menaikinya. Sedangkan aku sendiri sebenarnya terlihan unik ketika mengendarai Mio, kaki harus benar-benar menekuk dengan helm full-face berkaca hitam.
Yuuma sendiri termasuk anggota dalam kelompok perkumpulan kami, yang biasanya terdiri dari: aku, Gumiya, Yohio, dan Lily sebagai satu-satunya perempuan yang sering ngumpul bersama kami. Kebetulan, waktu itu hanya ada aku, Gumiya, Yohio, dan Yuuma yang sedang ngumpul bareng di café. Kelihatannya sih keren, ngumpul-ngumpul di café, tapi sebenarnya selain Gumiya nggak ada yang pesan makanan. Di saat begini biasanya kami bertiga hanya melakukan kegiatan rutin yaitu Comot Makanan Gumiya dengan khusyuk. Kebetulan waktu itu hari Jumat, jadi kami berempat berencana untuk main ke Yogyakarta Sabtu besok.
Sebenarnya sih ini awalnya karena si Yohio nyeletuk pengen makan McD, tapi di sini nggak ada. Lalu si Yuuma mengusulkan biar kita berempat main ke Jogja aja weekend ini.
"Sekalian cuci mata," katanya.
Kami pun sepakat untuk pergi ke Jogja, namun sayangnya motor Gumiya dipake oleh bapaknya, dan Yohio yang memang tidak diperbolehkan naik motor harus menebeng. Terpaksa aku dan Yuuma harus menarik uang bensin pada kedua biji siswa SMA ini.
Singkat cerita, besoknya kami berempat kumpul di alun-alun kota. Yang pertama sampai adalah aku, lalu Gumiya yang datang jalan kaki – rumahnya memang di daerah situ – terakhir Yuuma yang sudah boncengan dengan Yohio datang. Sebenarnya rada aneh melihat Yuuma yang memboncengi Yohio dengan motor gedenya. Pasalnya, Yohio – yang tingginya kira-kira sama denganku – jelas lebih cocok sebagai pemegang kemudi. Mungkin biar nggak terlalu kelihatan menyedihkan karena nggak ada yang boncengin cewek, Yuuma bisa disuruh memakai daster dan wig, lalu dadanya disumpeli bola kasti, dia melingkarkan tangannya di pinggang Yohio disinari cahaya senja dengan pipi keduanya bersemu merah… geli abis.
"Hah? Gua ama Kaito?" tanya Gumiya, dengan nistanya menunjukku yang sudah duduk di atas Mio.
"Iyalah, kamu mau ngejar sampe Jogja?" kata Yohio di balik helmnya.
"Waduh! Kaya'nya mesti balik ke rumah dulu, nih!"
"Kenapa, Gum?" tanyaku.
"Gua lupa bawa tasbih."
Akhirnya kita berempat langsung gas ke Jogja. Aku sendiri cuma berniat ke Gramed dan membeli DVD-R baru, karena yang di rumah tinggal sedikit. Di perjalanan menuju ke kota Yogyakarta, tepatnya di sebuah jalan dengan jalan yang menikung tajam, aku dengan pedenya menambah gas dan membuat motor matic merah ini miring melebihi kemiringan wajar yang kalau disenggol sedikit saja pasti bagian samping motor udah noel aspal. Gumiya? Tuh anak kayanya lagi baca doa di belakang. Akhirnya setelah hampir dua jam di perjalanan – tanpa nyasar – kita berempat sukses sampai di kota Yogyakarta.
Kami pun melancarkan rencana pertama setelah sampai di Jogja, makan. Tentu saja tempat makan yang kita incer adalah McD. Setelah makan dan muter-muter nggak jelas, terakhir aku pergi membeli DVD-R. Waktu selesai, kulihat Yohio menunggu bosan dan Yuuma celingak-celinguk cuci mata.
"Udah semua, kan? Pulang, yuk," pinta Yohio sambil nunjuk jam tangannya.
Emang sih, udah jam dua siang, kalo nggak cepat-cepat pulang bisa gelap. Kami bertiga pun langsung bergegas ke parkiran. Sebelum keluar parkiran Yuuma meminta kami untuk mengecek barang-barang, siapa tahu ada yang ketinggalan.
DVD-R, ada. Novel, ada. Komik, ada. Dan kami pun langsung meninggalkan parkiran untuk pulang ke kota kecil kami dengan riang bahagia.
Entah kenapa di perjalanan menuju rumah aku merasa aneh, selalu merasa kaya' ada yang kurang. Sambil terus memacu Mio, aku coba mengingat barang-barang yang aku beli tadi. DVD-R, komik, novel… kayanya ada semua. Apa barang yang kubawa ada yang kurang? HP? Aku langsung mengecek kantong celana, ada. Dompet? Kali ini kantong bagian kanan, ada juga.
"Gum, kamu ada yang ketinggalan nggak?"
Nggak ada yang jawab.
"Gum? Denger nggak?"
Masih nggak ada yang jawab.
Ini mulai aneh.
Aku pun melepaskan tangan kiri dari kemudi dan mencoba menepok Gumiya yang membonceng di belakang. Tapi… kosong. Masih kurang yakin, aku kembali mencoba nepok jok belakang lagi. Masih kosong. Kemudian sambil takut-takut melirik ke arah spion.
…
…
…
Fix, ini motor cuma ada pengemudinya doang.
Karena sadar akan situasi, aku langsung menepikan motor ke kiri jalan. Kemudian Yuuma dan Yohio yang ada di belakang ikut melakukan hal yang sama.
"Napa, Kai?" kata Yuuma sambil membuka kaca helmnya.
"Kalian sadar nggak?"
Mereka berdua saling lirik, terus si Yohio tiba-tiba teriak, "Woy! Gumiya mana, Kai!?"
"Ya Allah, Kaito bin Mahsyudin, anak orang lu kemanain!?" Yuuma yang mulai sadar akan ketidakberadaan Gumiya yang seharusnya berada di jok belakang motor Mio-ku.
Aku cuma menggeleng. Kami bertiga diam, bagai perajurit yang sedang mengenang rekan-rekan seperjuangan yang telah gugur di medan perang dan tertembak mati. Bedanya, kalau pun ini perang, Gumiya bukan gugur karena tertembak mati atau pun diserang musuh, Gumiya bakal gugur karena ketinggalan di ladang ranjau yang ditanam pasukannya sendiri. Mungkin satu-satunya cara Gumiya bisa selamat dari ladang ranjau itu adalah dengan memanjanggan bulu dadanya dan menggunakan baju kerlap-kerlip, lalu menari bagai orang ayan diiringi lagu India.
Tak lama, HPku pun bergetar, tanda ada telepon masuk. Kemudian kami bertiga sama-sama melihat nama yang terpampang di layar HP itu.
[Gumiya bin Sukidin]
Aku pun melihat ke arah Yohio, lalu Yuuma. Kami bertiga mengangguk bersama, seolah-olah harus menjinakkan bom, di mana ada dua pilihan tombol, tombol merah atau tombol hijau. Aku pun memencet tombol hijau.
"Nomor telepon yang Anda hubungi tela-"
"WOY! Napa pada ninggalin gua!? Kampret lu pada!"
Kemudian kami pun kembali menjemput sahabat kami tersayang.
…
Berkendara memang memerlukan kehati-hatian. Kita harus memperhatikan kondisi motor. Pakai helm, membawa surat-surat berkendara, dan yang paling penting… jangan pernah lupakan penumpang yang ikut pada motor kalian. Jangan… pokoknya jangan…
~END~
Author's Territorial
Pagi/siang/malam, buat kalian yang membaca fanfiction ini. Yap, ini saya Kuro 'Kaito' Neko kembali dari hiatus. Well, kemungkinan aktif cuma 30% sih. Maaf buat yang menunggu fic-fic saya (kaya' ada aja). Semoga dengan comeback ini, saya bisa kembali meramaikan fandom Vocaloid Indonesia. Mohon kerja samanya~ (pergilu).
