Beautiful Sakura

Disclaimer : I don't own Naruto, all charcters belong to Masashi Kishimoto, but this story is mine.

Pairing : Sasuke x Sakura

Warning : AU, OOC, typo, etc.


Sakura memejamkan matanya ketika benda kenyal nan lembut menyapu bibirnya perlahan. Menekan secara lembut bibir lembab miliknya hingga membuat ia tak mampu untuk bernafas secara normal. Sapuan demi sapuan terasa memberikan gelenyar aneh yang menggelitik sampai ke dasar perut. Tubuhnya begitu lemas, tak kuasa menahan gejolak yang tak bisa ia pahami. Dan ketika matanya terbuka lampu sudah tidak lagi padam, sehingga dengan jelas matanya dapat menangkap kedua bola mata hitam yang menatapnya dalam, penuh gairah, dan mempesona.

Jedug!

"Aw!"

"Apa-apaan sih?!" Sakura membentak gadis pirang yang sudah melakukan tindak kekerasan pada dahi antik miliknya.

"Buat kamu sadar."

Ino duduk di hadapan Sakura dan memasang cengiran tanpa dosa. Beberapa menit yang lalu Yamanaka Ino menemukan sahabat pinknya asik menatap jendela dengan tatapan kosong dan wajah bersemu. Tentu saja hal itu membuat dirinya gatal untuk berbuat usil.

"Yah, kira-kira dong, No! Masa dahi mulus aku jadi sasaran," ujar Sakura masih tidak bisa terima dahinya menjadi korban tindak penganiayaan sahabatnya sendiri, "pakai ini lagi," tunjuknya pada sebuah sumpit yang sempat mendarat di dahinya."

"Ya salah siapa aku datang kamu masih saja melamun."

Ino melambai pada seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka duduk.

"Kamu belum pesen 'kan, Ra? Pesen sekarang saja ya?"

Sakura hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Ino.

Setelah mencatat pesanan kedua gadis berbeda warna rambut itu, sang pelayan undur diri untuk mengambilkan pesanan.

"Jadi kamu lagi suka sama seseorang nih ceritanya?"

Sakura membetulkan posisi duduknya. Lebih merapat pada sisi meja di depannya. "Entahlah, aku juga masih bingung dengan perasaanku."

Kening Ino berkerut, menatap Sakura dengan tatapan menyelidik."Kok bisa? Masa kamu nggak tahu?"

Ino kemudian mengambil handphone di dalam tas yang ia bawa lalu mengeluarkannya dan menekan tombol kunci untuk membuka.

"Susah sih memang kalau yang belum pernah pacaran." Sakura mendelik, kurang suka dengan sindiran yang dilayangkan Ino. Di tempat umum lagi. Bisa turun pamor kalau banyak orang yang tahu sudah sebesar ini dirinya belum pernah yang namanya pacaran. "Lihat nih, aku saja sudah jadian lagi sama Sai-kun." Ino memamerkan wallpaper handphonenya yang sudah terpampang foto dirinya tengah berduaan dengan seorang pria tampan berkulit pucat.

"Yee... memangnya kamu, suka ganti-ganti pacar. Eh, Shikamaru terus kemana?"

"Entahlah, katanya sih sekarang sama mbak-mbak yang agak mirip sama aku. Sepertinya sih susah move on ditambah biar ngetrend mungkin jadi sama yang lebih tua."

Sakura hanya menganga tak percaya. Kenapa bisa teman-temannya secepat itu putus kemudian dapat pacar baru. Sedangkan dirinya tidak tahu kenapa sampai saat ini tak jua menemukan laki-laki yang tepat. Padahal sudah berkepala dua masih saja belum ada yang cocok.

Bukannya Sakura tidak laku, tapi ia memang tipikal gadis yang sulit untuk jatuh cinta. Ia tidak ingin menjalin hubungan jika merasa belum menemukan laki-laki yang benar-benar ia sukai.

Tapi semenjak ia bertemu dengan Sasuke, ia tidak tahu mengapa perasaanya menjadi aneh. Ia sering salah tingkah, jantung berdebar-debar tak karuan dan parahnya lagi sering merasa kangen dengan mahluk bernama Uchiha Sasuke. Ia sering bertanya-tanya dalam hati. Apa ini yang dinamakan dengan jatuh cinta? Apa ia dia menyukai duda tampan itu? Kalau memang ia apa kata keluarga dan teman-temannya kalau tahu dia menyukai seorang pria yang jauh lebih pantas jadi pamannya. Sudah punya anak lagi. Lagipula memangnya Sasuke mau dengan gadis kekanakkan seperti dirinya?

"No, kamu percaya cinta pandangan pertama?"

"Nggak, kenapa?"

"Rasanya baru sebulan tapi sepertinya aku sudah suka sama dia..." Sakura menerawang mengingat awal pertemuan dirinya hingga banyak kejadian-kejadian menakjubkan yang terjadi antara dia dan Sasuke.

"Dia itu siapa?"

"Hmm... itu Sasuke, polisi yang beberapa minggu lalu nilang aku. Awalnya ya begitu, semakin lama aku semakin dekat sama dia. Dia itu ganteng, tegas, baik, yah... walaupun orangnya jutek plus galak."

"Wah, dia polisi? Cie... ternyata selera kamu pak polisi yang galak galak. Sangar dong ya? Hehehe..."

"Apaan, sih! " Sakura cemberut. "Kamu nggak tau sih kalau dia lagi jutek, ngomongnya itu beuh... sakitnya tuh di sini," tunjuk Sakura tepat di dadanya.

Namun tiba-tiba raut wajah Sakura berubah lesu, ia melipat kedua lengannya untuk menopang dagu diatas meja.

"Tapi, Ino... dia itu..."

"kenapa?"

"Aduh, dia itu lho... rasanya aku sama dia itu nggak mungkin."

"Kenapa bisa begitu?

"Dia itu lho... "

"Apaan, sih?"

"Dia... duda anak satu."

Hening.

.

Hening.

.

Hening.

.

"What?!"

Sakura menghela napas lemah, wajahnya semakin bertambah lesu. Ia sudah menduga, pasti orang-orang akan kaget kalau tahu siapa Sasuke. Laki-laki yang diam-diam ia sukai saat ini memang punya prediket yang sedikit 'wah' kalau disandingkan dengan dirinya.

"Serius kamu, Ra?"

Sakura menganguk lemah. "Usianya juga sudah 36 tahun.""

Ino hanya menatap dengan wajah super syok. Seperti baru saja mendengar siaran perkiraan cuaca bahwa besok akan ada hujan uang.

"Beneran deh, aku nggak nyangka kamu sekalinya suka sama yang sudah matang begitu," ujar Ino dengan nada yang masih tidak percaya bercampur takjub, "kelewat matang malah," tambahnya yang membuat Sakura semakin menunduk lemas. Mengubur wajahnya di lipatan tangannya.

"Aku tahu, kamu juga pasti kaget aku sudah tahu. Dan memang rasanya... sulit. Bahkan hampir mendekati mustahil."

Sakura pasrah, kalau orang-orang mau mengatakan dia itu gadis aneh atau sinting sekalian ia tidak peduli. Mau bagaimana, dia juga tidak pernah tahu akan jatuh cinta dengan pria semacam Sasuke. Dan dia juga tidak pernah meminta untuk bisa jatuh cinta dengan pria seperti Sasuke.

"Hei, Jidat. Cinta 'kan nggak pandang umur dan status," ucapan Ino sukses membuat Sakura mengangkat kepalanya. "asal statusnya bukan suami orang, aku rasa nggak masalah, kok. Yang penting saling mencintai, kenapa nggak?" Ino tersenyun manis setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia senang melihat ucapannya sepertinya bisa sedikit mensugesti sahabatnya satu ini. Setidaknya ia bisa melihat wajah Sakura nampak lebih bersemangat. Dan itu yang memang Sakura butuhkan. Semangat.

.

.

.

"Sasuke-kun, mau sampai kapan kau akan sendiri terus? Ingat, Hikari sedang dalam masa pertumbuhan ia juga membutuhkan figur seorang ibu."

Sasuke mendengus, malas mendengar pertanyaan yang selalu Ibunya lontarkan kepadanya. Jika saja Hikari tidak meminta bertemu dengan nenek dan kakeknya ia benar-benar malas untuk pulang ke rumah utama keluarga Uchiha . Masih bisa dihitung dengan jari dalam setahun berapa kali ia pulang ke rumah orang tuanya. Kalaupun sesekali mampir itu hanya menitipkan Hikari pada ibunya, sedangkan dirinya seringkali hanya menunggu di luar saat menjemput dan mengantar Hikari. Bukan bermaksud menjadi anak durhaka, tapi ia malas jika harus di hadapkan dengan topik seperti ini. Apa yang ibunya katakan memang ada benarnya. Tapi ia belum siap untuk memulai kembali menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Terlebih sekarang sudah ada Hikari. Ia tidak bisa sembarangan memilih perempuan untuk menjadi istri sekaligus ibu bagi Hikari.

"Ibu tidak usah khawatir, aku bisa menjaga dan mengurus Hikari sendiri."

Uchiha Mikoto, ibu dari Uchiha Sasuke ini memasang wajah kesal saat melihat putranya selalu bersikap malas-malasan menanggapi semua kata-katanya. Entah sudah berapa kali ia harus mengatakan ini. Tapi putra bungsunya tak pernah mau mendengarkan nasihatnya.

"Ibu bukan hanya bicara soal Hikari, tapi juga soal kau sendiri. Demi Tuhan, kenapa hanya menikahi satu perempuan saja begitu sulit, Sasuke?" Mikoto menghela napas panjang "Ibu ingin melihat kau mempunyai pendamping. Seseorang yang bisa mengurus dirimu, bukan hanya Hikari." Beberapa saat terdiam tanpa ada sahutan dari Sasuke, Mikoto melanjutkan dengan nada sepelan mungkin.

"Apa perlu Ibu menjodohkanmu dengan anak teman Ibu?"

Sasuke menoleh cepat, membalas tatapan sang ibu yang begitu sarat akan kekhawatiran dengan wajah serius.

"Cukup satu kali Ibu menyuruh aku menikahi perempuan pilihan Ibu. Seandainya aku menikah pun, perempuan itu harus pilihanku."

Sasuke bangkit dari duduknya meninggalkan sang ibu dengan raut wajah sedih dan rasa bersalah.

Mikoto masih menatap punggung putranya yang semakin menjauh. Ia tahu beban berat yang pernah dialami putranya tidaklah mudah untuk dilupakan. Ia juga merasa ikut andil dalam keterpurukkan putranya dulu. Waktu memang tidak dapat diputar, tapi setidaknya ia juga cukup tahu diri untuk tidak mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Ia hanya menginginkan melihat putra kebanggaannya bahagia dan kembali seperti dulu.

"Nenek..." Hikari mendekati sang nenek sambil membawa boneka barbie pemberian Sakura. Panggilannya berhasil menyadarkan lamunan Mikoto."Temani Hikari maen yuk, Nek?"

Mikoto tersenyum. Melihat cucu satu-satunya ini telah tumbuh menjadi gadis cantik yang menggemaskan adalah suatu kebahagiaan yang tak ternilai. "Ayo, Hikari mau main apa?" Mikoto melirik boneka yang berada di tangan Hikari. "Main boneka ya? Bonekanya bagus sekali, Sayang. "

Hikari naik ke pangkuan Mikoto. "Bagus yah, Nek? Siapa dulu yang beli, Bunda Sakura!" jelasnya dengan nada bangga. "Kita maen boneka di taman ajah yuk, Nek!"

Mikoto mengernyitkan dahi, merasa ada yang asing dari kata-kata Hikari yang baru saja diucapkannya.

"Tadi bunda siapa, Sayang?"

"Bunda Sakura."

Hikari masih asik merapikan rambut boneka yang ia pegang dengan sisir mainan.

"Siapa itu Bunda Sakura?" Mikoto tidak bisa untuk tidak bertanya. ia benar-benar penasaran. Bagaimana tidak, setelah sekian lama akhirnya ia mendengar ada nama seoarang perempuan yang berkaitan dengan cucunya dan kemungkinan besar berkaitan dengan putranya juga.

"Bundanya Hikari, Nek," akunya dengan percaya diri,"suka main ke rumah, suka main sama aku sama ayah juga. Orangnya cantik, baik lagi."

Mikoto sudah pasti terkejut mendengar penuturan cucunya. Jadi selama ini ada seorang perempuan yang dekat dengan cucu dan anaknya. Bagaimana mungkin ia tidak mengetahuinya? Seperti menemukan sebuah titik terang di kegelapan Mikoto tersenyum penuh arti menatap cucu semata wayangnya yang begitu asyik bermain―tanpa tahu efek dari ucapannya barusan akan berdampak besar nantinya.

.

.

.

"Jadi kalian berciuman?"

Rupanya ino masih betah mengorek cerita tentang kisah romantika antara sahabatnya dengan pria bernama Uchiha Sasuke. Dirinya cukup penasaran dengan pria yang telah membuat sahabatnya yang satu ini jatuh hati. Hanya saja jika dilihat dari foto-foto yang mereka peroleh melalui internet, Ino tidak heran Sakura bisa terpikat oleh pria setampan Sasuke. Bahkan ia tidak menyangka jika usia Sasuke sudah lewat kepala tiga dengan wajah sekeren itu. Tapi untuk soal sikap jutek dan galak Sasuke yang Sakura ceritakan padanya, ia yakin itu bukan bualan Sakura. Karena semua foto yang ia lihat memang nyaris tak pernah menampilkan wajah Uchiha Sasuke yang sedang tersenyum.

"Aku juga nggak percaya, entahlah aku nggak tahu mengapa kami bisa melakukannya." Sakura meringis, wajahnya memanas kala ia teringat kembali ciumannya dengan Sasuke.

"Aku rasa kamu beneran jatuh cinta dengan Sasuke," Ino memicing menatap penuh penilaian, "dan aku yakin Sasuke juga punya rasa sama kamu, walaupun aku nggak tahu apa rasa itu sama besarnya sama perasaan kamu."

"Terus aku harus bagaimana?"

"Dekati dia dan katakan kalau kamu menyukainya."

"Nggak, aku nggak mau! Aku ini perempuan, harusnya laki-laki yang menyatakan terlebih dahulu."

"Emansipasi, Sakura. Daripada diambil orang."

Sakura hanya mendengus. Mana mungkin ia mengikuti saran Ino yang baginya cukup memalukan. Apalagi laki-laki incarannya adalah pria dewasa bukan laki-laki sebayanya. Ia adalah gadis yang kurang peka dan cukup pemalu untuk urusan asmara. lain dengan Ino yang lihai dalam urusan menggaet laki-laki. Sepertinya ia sudah salah orang, bertanya mengenai kisah asmaranya pada Ino yang terkenal dengan segudang kekasih sama saja bunuh diri.

.

.

.

Untuk kesekian kali Sakura bertandang ke kediaman sederhana Uchiha Sasuke. Ucapkan terima kasih atas rengekkan Hikari pada ayahnya yang meminta bertemu Sakura. Tentu saja hal ini dimanfaatkan Sakura untuk lebih dekat dengan ayah Hikari. Atas dukungan Ino dan Tayuya ia akan berusaha mendekati Sasuke secara bertahap kemudian menarik perhatiannya supaya pria itu bisa melihatnya bukan sekedar sebagai teman atau pengasuh anaknya, melainkan perempuan yang spesial di hatinya. Memikirkan itu saja sudah membuat Sakura tersenyum dan bersemu.

"Mobil kamu di mana?"

"Di bengkel, sedang di service."

Sasuke bertanya saat Sakura tengah barada di dapur dan ia duduk di meja makan. Hari ini hari minggu, Hikari libur sekolah begitu pula Sakura, tidak ada jadwal bertemu dosen untuk bimbingan hari ini. Sedangkan Sasuke, ia harus pergi sebentar lagi karena ada keperluan mendadak yang berkaitan dengan pekerjaannya. Sasuke mau tidak mau meminta Sakura untuk menjaga putrinya, setelah sebelumnya Hikari merengek meminta untuk Sakura yang menemaninya di rumah. Kontan Sakura mengiyakan walaupun ia harus menggunakan taxi untuk pergi karena mobil miliknya sedang berada di bengkel. Beruntung saat Sakura hendak berangkat menuju rumah Sasuke. Sasori, tetangganya itu menawarkan diri untuk mengantar.

"Kamu diantar siapa?"

"Oh, itu tadi tetanggaku."

Sakura tengah menyiapkan susu untuk Hikari dan menyiapkan sandwich untuk ia dan Sasuke. Sejak insiden ciuman itu, tanpa Sakura sadari ia sudah semakin dekat dengan Sasuke. Berinterakasi dan mondar-mandir di kediaman Sasuke bukan lagi hal yang aneh buatnya.

"Tetangga kamu punya nama, kan?'

Sakura menghentikan kegiantannya sesaat. Ia heran, apa ini hanya perasaanya saja atau bukan, tidak tahu mengapa ia merasa seperti sedang diinterogasi.

"Sasori. Akasuna Sasori."

"Rumahnya dekat sekali dengan rumahmu?"

"Yah, rumah kami bersebelahan. Memangnya ada apa?"

"Hn, tidak."

Sakura mengernyitkan dahi, memandang Sasuke yang duduk di kursi ruang makan dengan tenang. Laki-laki itu sekarang sedang meminum kopinya dengan hikmat. Sakura heran, terkadang Sasuke bisa menjadi orang yang sulit untuk ditebak apa maksudnya. Tidak ingin ambil pusing Sakura kembali melanjutkan kegiatannya membuat sandwich sebelum suara Sasuke mnginterupsi.

"Lain kali jika mobilmu tidak ada, kau bisa memintaku untuk menjemputmu."

.

.

.

Hati Sakura sekarang tengah berbunga-bunga, kata-kata Sasuke sebelum ia berangkat masih terngiang di telinganya. Sasuke ternyata peduli padanya, bahkan mau menjemputnya. Hal sekecil itu saja sudah membuat dirinya begitu bahagia. Ia jadi merasa seperti anak SMU yang baru merasakan cinta. Walaupun pada kenyataannya ia memang baru merasakannya. Hanya saja ia merasa usianya sudah sangat cukup untuk menjalin hubungan asmara dengan kondisi yang stabil dan tidak labil seperti remaja pada umumnya.

Sakura memeluk Hikari erat, sesekali menciumi puncak kepala gadis kecil itu yang baunya masih harum khas bayi.

"Bunda kenapa? Lagi seneng ya?" tanya Hikari merasa Sakura sedikit berbeda. Sejak tadi ia melihat tingkah Sakura yang senyum-senyum sendiri.

"Iya, Sayang. Bunda lagi seneng."

Sakura menatap gadis kecil yang ia harap kelak menjadi anak tirinya, yang artinya ia akan jadi ibu dan istri ayahnya. Reflek Sakura menutup wajahnya, merutuki pemikirannya yang terlampau jauh.

"Bunda kenapa? kok jadi aneh?"

Sakura menyengir, malu dengan sikapnya yang membuat Hikari merasa dirinya aneh. Tidak-tidak, jangan sampai Hikari jadi takut dengannya.

"Hehe... nggak apa-apa. Oh, ya Bunda mau tanya sesuatu, boleh?"

Hikari menganggukan kepalanya.

"Kalau Bunda... hmm nanti benar-benar ja-jadi bunda Hikari, Hikari mau?"

Sakura menatap Hikari dengan pandangan harap-harap cemas, takut kalau-kalau gadis kecil ini menolak menerima dirinya sebagai ibu yang sesungguhnya.

"Tentu saja mau, Hikari pasti senang sekali!"

Sakura tersenyum. Hatinya benar-benar lega sekarang. Jadi tinggal menunggu Sasuke, sasaran utamanya.

.

.

.

Mikoto menatap gadis muda di depannya dengan seksama. Rasa penasaran dengan perempuan yang waktu itu diceritakan cucunya membawanya untuk datang ke kediaman putra bungsunya. Dan ketika ia mengetuk pintu, betapa kagetnya ia. Ternyata dirinya tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui siapa gadis yang menurut Hikari sering bersama cucunya itu.

"Maaf, Bibi mencari siapa?"

Mikoto tersadar dari pemikirannya sendiri. Ia balas tersenyum ramah pada gadis cantik di hadapannya. "Saya Uchiha Mikoto. Saya ingin menemui anak dan cucu saya, apa mereka ada?"

Bagai disiram air es, Sakura mendadak kaku. Bagaimana tidak, wanita di depanya adalah ibu dari pria yang ditaksirnya. Sakura sangat menyesal tidak merapikan rambut dan pakainnya yang kusut―karena habis bermain dengan Hikari―terlebih dahulu.

"A-ano... sa-saya... ah, maksud saya silahkan, Hikari ada di dalam. Tapi Sasuke-san sedang keluar," ujar Sakura gugup. Membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan Mikoto untuk masuk.

Mikoto tersenyum kecil, berjalan memasuki rumah putranya lalu kemudian berhenti tidak jauh dari ambang pintu.

"Hm nak, maaf anda..."

Sakura yang mengerti dengan maksud Mikoto yang sepertinya ragu-ragu atau sungkan untuk melanjutkan kata-katanya segera menjawab, "Saya Haruno Sakura, saya... teman Sasuke-san," ujar Sakura spontan. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Jika dibilang teman rasanya ia dan Sasuke bukanlah teman, kenalan juga bukan. Tapi mereka dekat, bahkan terkadang terlihat lebih dari sekedar teman. Sudah kepalang basah, Sakura tidak punya pilihan lain. Hanya itu jawaban yang terlintas di kepalanya. Terserah nanti Sasuke mau menerima pernyataan sepihaknya atau tidak. Sedangkan Mikoto juga tidak terlalu mengindahkan jawaban Sakura. Justru Mikoto lebih memilih untuk terus mengamati Sakura yang merasa kikuk dan salah tingkah dengan kehadirannya. Gadis di depannya benar-benar lugu dan menggemaskan. Mikoto mencoba terus mempertahankan senyumannya, setidaknya ia tidak ingin menakuti gadis di depannya ini dengan rasa ingin tahunya yang besar.

"Bunda, ayah sudah datang?"

Suara Hikari memecah keheningan yang sempat tercipta diantara Mikoto dan Sakura. Hikari berdiri tidak jauh di belakang Sakura. Wajahnya langsung cerah ketika mendapati neneknya ada di rumahanya saat ini.

"Nenek!" seru Hikari, lalu berlari menghampiri sang nenek dan memeluk kaki Mikoto.

"Nenek, kapan datang?"

"Baru saja. Ayah Hikari-chan sedang keluar , ya?"

"Iya, ayah tadi keluar jadi Hikari sama bunda sama nenek Chiyo di rumah." Hikari menatap Sakura lalu menatap neneknya. "Nenek sudah kenalan sama bunda?"

Mikoto menatap Sakura sesaat kemudian kembali menatap Hikari. "Sudah, bundanya Hikari cantik yah," ujar Mikoto yang sukses membuat Sakura semakin salah tingkah.

Hikari tersenyum lebar lalu dengan bangga ia berujar, "Tentu saja, bundanya Hikari!"

Sakura tidak tahu harus berbuat apa. Ini merupakan lampu hijau untuknya atau hanya sekedar pujian belaka. Tapi jujur saja ia merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertemu dengan ibu Sasuke. Pertama, ia tidak punya persiapan. Dan yang kedua, bagaimanapun ia merasa malu karena pagi-pagi sudah ada di rumah seorang laki-laki. Ia tidak mau jika ibu Sasuke berpikir yang tidak-tidak tentangnya.

"Nak Sakura, tinggal di mana?" Mikoto kembali memulai percakapan.

Merasa ada kesempatan dari pertanyaan Mikoto untuk mengklarifikasi mengenai keberadaannya, Sakura mencoba menjawab sekaligus menjelaskan. "Saya tinggal tidak jauh dari sini, Bi. Semalam Sasuke-san menghubungi saya untuk menemani Hikari. Jadi pagi-pagi sekali saya sudah datang kemari."

Mikoto lagi-lagi tersenyum. Nampaknya Sakura adalah gadis baik-baik. Gadis ini sepertinya takut jika dirinya berpikir yang tidak-tidak mendapati seorang gadis ada di rumah putranya sepagi ini. Hal itu nampak saat Sakura menjelaskan apa yang sebenarnya tidak ia tanyakan.

"Oh, begitu. Apakah Nak Sakura rekan kerja Sasuke-kun?" Nada bicara Mikoto sebenarnya biasa saja. Tapi karena Sakura sedang dilanda kegelisahan jadi efek dramatis ucapan Mikoto terasa seolah sedang memojokkannya.

"Bu-bukan, kami berkenalan di TK tempat Hikari bersekolah. Saat itu mm... saya sedang menjemput keponakan saya," jawab Sakura canggung. Tidak mungkin jika Sakura menceritakan pertemuan pertama mereka saat ia ditilang oleh Sasuke. Itu sangat memalukan.

Mikoto tertawa kecil. "Ah, sudah kuduga. Rasanya tidak mungkin rekan kerja Sasuke-kun semuda, Nak Sakura."

Sakura menunduk malu. Rasanya hari ini akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan. Mungkin tidak ada salahnya ia mengenal ibu Sasuke lebih jauh. Lagipula Uchiha Mikoto nampak sangat ramah. Memulai pendekatan dengan orang-orang terdekat Sasuke sepertinya bukan pilihan yang buruk. Setidaknya ia akan berusaha untuk menyesuaikan dan memahami lingkungan Sasuke. Agar usahanya mendapatkan hati Sasuke bisa semulus yang ia harapkan.

.

.

TBC


A/N : Big thanks buat semua pembaca dan reviewer setia cerita ini. Saya mohon maaf lagi-lagi nggak bisa bales satu-persatu review kemarin. Tapi percayalah saya selalu menghargai semua review yang di berikan untuk saya. Baik itu masukan, komentar dst. Saya harap buat semuanya jangan bosan-bosan untuk mengisi kotak reviewnya ya...:) sekali lagi terima kasih. Enjoy this chap. Sampai jumpa!