Yaoi Area
Chanbaek
Chanyeol - Baekhyun
Sky Of Love by : pcy-bee
Mpreg
Sorry for Typo
Cast Bertambah Sesuai Kebutuhan
.
.
.
.
" APAAAA?!"
Baekhyun dan Chanyeol berteriak bersamaan detik kemudian saling berpandangan dengan begitu canggung. Lalu beralih untuk kembali menatap pada si biang keributan.
" Kenapa tidak satu kamar dengan Tae saja?" si ibu adalah yang pertama kali memulai protesnya.
Bukannya apa-apa, tapi Baekhyun sudah terbiasa tidur sendiri. Dan lagi ibu cantik itu mempunyai kebiasaan buruk jika sedang tidur. Tak ingin saja jika kebiasaan buruknya nanti malah menggangu tidur Chanyeol muda.
" Tidak ! kaki tae sedang sakit, mom~. Bagaimana jika Chanyeol hyung banyak bergerak dan menimpa kakiku?" Sekali lagi si licik melancarkan serangan.
" Kan masih ada kamar tamu." kata Baekhyun lagi.
" Kamar tamu kita belum sempat di bersihkan. Memangnya mommy mau tamu kita tidur di tempat kotor?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya lemah. Memangnya tuan rumah mana yang tega membiarkan tamunya tidur dalam keadaan tak nyaman.
" Tak apa, aku bisa tidur di sofa ruang tamu." Chanyeol yang sedari tadi diam kini berusaha menengahi.
" Tidak hyung ! di ruang tamu banyak nyamuk." Jawab Taehyung ngotot. Biar bagaimana pun rencananya kali ini harus berhasil seperti rencana sebelumnya.
" Bagaimana kalau menginapnya lain kali saja?" kata Chanyeol lagi. Merasa tak enak saja dengan si pemilik rumah.
" Tak apa, Chan... Tidur saja di kamarku. Lagipula ini sudah terlalu malam, tak baik menyetir malam-malam begini apalagi besok kalian harus pergi sekolah."
Baekhyun akhirnya mengalah dan hal itu membuat Taehyung bersorak penuh kemenangan dalam hati.
" Oke, Masalah selesai...Tae akan naik ke atas untuk tidur. Seperti kata mommy, besok Tae harus pergi ke sekolah jadi tak baik tidur malam-malam."
Bocah licik itu bangkit dari kursinya, mengambil kruk dan mulai berjalan pelan menuju arah tangga.
" Apa perlu mommy bantu?" Baekhyun bertanya pada anaknya yang berjalan tertatih menapaki anak tangga.
Taehyung berbalik sebentar. " Tidak, mom... Tae bisa sendiri. Kalian selesaikan saja makan malam dan segera pergi tidur. Selamat malam mom, selamat malam juga hyung."
" Selamat malam juga, sayang. / Selamat malam juga, Tae."
.
.
.
.
" Jimin-ah apa kau tadi jadi berangkat sekolah bersama Taehyung?" Luhan bertanya pada anaknya yang sedang sibuk menyuapkan nasi ke dalam mulut.
Saat ini Jimin memang sedang makan malam bersama kedua orang tuannya.
" Tidak bunda." Jawab si anak singkat.
" Kenapa tidak? bukankah tadi pagi bunda bilang untuk menjemputnya? apa mommy Baek yang mengantar tae ke sekolah?" tanya Luhan lagi.
" Tidak bunda." singkatnya lagi.
" Jimin sayang~. Jawab dengan benar jika bunda sedang bertanya." Luhan kan jadi gemas sendiri.
" Ish, apa bunda tidak lihat jika anak tampanmu ini sedang mengunyah nasi? bagaimana jika aku sampai tersedak?"
Oh, benar juga apa yang dikatakan anaknya itu. Mana mungkin bisa menjawab dengan benar jika mulutnya saja penuh dengan makanan.
Remaja enam belas tahun itu meletakkan sumpitnya lalu menegak habis satu gelas air putih dalam sekali teguk. Setelah di rasa cukup, maka Jimin mengalihkan perhatiannya pada sang bunda.
"Jimin menjemputnya di rumah, bun. Tapi saat Jimin datang ke rumahnya untuk mengajak berangkat bersama, kata mommy Baek tae sudah berangkat bersama Chanyeol sunbae." yang paling muda menjelaskan.
" Chanyeol !?" Sehun terkejut, kenapa nama kakaknya di bawa-bawa? ia lalu menatap bingung pada dua orang lainnya yang malah sibuk menikmati makan malam mereka. Apa di sini hanya dirinya saja yang ketinggalan gosip terbaru.
Luhan mengerti raut wajah bingung sang suami. " Ah, itu ... Chanyeol adalah senior mereka di sekolah."
" Bukan bunda ! Chanyeol itu adalah daddy barunya tae." Jimin menyela.
" Kau ini bicara apa, sih?"
" Memang begitu kok, tae sendiri yang bilang akan menjadikan Chanyeol sunbae sebagai daddy barunya. Dan Ayah, aku pastikan ayah akan terkejut jika melihat Chanyeol Sunbae. Dia benar-benar mirip dengan Daddy Yeol." Jimin berucap bangga pada ayahnya, persis seorang bocah yang tengah memamerkan mainan barunya.
Luhan mengangguk setuju. " Jimin benar, sayang. Bahkan nama dan marga mereka juga sama."
" Mana mungkin hal semacam itu ada? kalian itu terlalu banyak menonton drama." Sehun tak semudah itu di bohongi dengan cerita omong kosong dua orang kesayangannya.
" Awalnya aku dan Taehyung juga berpikir begitu_." kata Jimin
" Saat pertama kali melihat Chanyeol sunbae, kami pikir mungkin kami butuh ke dokter mata karena salah lihat. Tapi nyatanya setelah melihatnya berkali-kali di sekolah, kami percaya bahwa kami tak salah lihat. Dan sejak saat itu Taehyung bersih keras mendekati Chanyeol sunbae untuk di ajak pulang kerumah dan di kenalkan pada mommy Baek."
" Kau tidak sedang bercanda kan, nak?" Sehun bertanya pada anaknya.
Jimin sudah akan membuka mulut untuk menjawab ayahnya, tapi tidak jadi karena sang bunda sudah mewakilinya.
" Tidak sayang, aku dan Baekhyun bahkan sempat shock saat pertama kali bertemu dengannya di rumah sakit. Ku pikir kalian memiliki saudara yang kalian sembunyikan. Atau mungkin Chanyeol hyung memiliki anak dari orang lain sebelum menikahi Baekhyun."
" Apa mereka semirip itu?"
" Sangat sangat mirip." Ucap Luhan dan Jimin bersamaan.
" Jadi Baekhyun juga sudah pernah melihatnya?" tanya Sehun lagi.
" Hm, kami bertemu di rumah sakit dan ternyata bocah itu yang telah menabrak Taehyung kita. Tapi Baekhyun mengatakan padaku bahwa bukan sepenuhnya salah Chanyeol, karena kenyataanya Taehyung sendiri yang melemparkan diri kearah mobilnya." Luhan menjelaskan.
Saat itu Sehun memang tak sempat menjenguk keponakannya, karena dia harus mengantikan Baekhyun untuk menghadiri rapat penting.
" Tapi Jimin-ah, apa Tae benar-benar akan menjadikan sunbaemu itu daddynya?" Luhan bertanya pada sang anak.
" Hm, tapi menurutku mungkin itu adalah hal yang sulit terjadi, bunda." Jimin bicara sok dewasa.
" Kenapa sulit?" Sehun bertanya, sekarang ia merasa mulai tertarik dan penasaran untuk tahu lebih jauh.
" Pertama, umur Chanyeol sunbae dan mommy Baek berbeda jauh. Kedua, mereka itu asing satu sama lain dan tidak saling mengenal sebelumnya. Dan yang ketiga sekaligus yang terakhir, Jika pun mereka bersama suatu saat nanti, takutnya mommy Baek hanya menganggap Chanyeol sunbae sebagai daddy Yeol suaminya karena wajah mereka yang sangat mirip. Itu akan menyakitkan untuk keduannya, bahkan bagi Taehyung juga."
" Itu hanya sulit dan bukannya mustahil, sayang~" Luhan tak setuju dengan pendapat sang putra.
" Cinta itu tak memandang umur dan status, jika mereka merasa asing maka mereka hanya perlu saling mengenal lebih dekat lagi. Dan jika pun sunbaemu itu dan daddy Yeol memiliki wajah dan nama yang sama bukan berarti mereka memiliki sifat dan kepribadian yang sama pula. Baekhyun bukanlah orang bodoh yang tak bisa membedakan suaminya sendiri." ucap Luhan dan di angguki mengerti oleh Jimin.
" Tapi semua itu tergantung keduanya, sekeras apapun Taehyung berusaha menyatukan mereka. Jika mereka tak memiliki ketertarikan satu sama lain usaha Taehyung hanya akan berujung sia-sia." Sehun menimpali.
" Aku akan membantu Taehyung, ayah." Jimin berkata dengan sepenuh hati.
" Aku juga." Luhan menambahi, sementara Sehun hanya geleng-geleng kepala. Sejak kapan anak dan suami cantiknya itu menjadi kompak?
Sementara itu di tempat lain atau lebih tepatnya kamar Taehyung. Remaja tampan enam belas tahun itu membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah sempat meletakkan kruknya bersandar di dinding kamar.
Senyum licik yang tadi sempat bersemayam di wajah tampannya kini menghilang tergantikan dengan wajah sendu. Matanya melirik pada gelapnya malam berbintang yang tersembunyi di balik jendela kaca kamarnya.
" Taehyung telah menentukan pilihan, dad. Ingat saat terakhir kali Tae mengunjungi daddy? saat itu Tae bilang jika Tae akan membahagiakan mommy dengan cara Tae sendiri. Dan saat ini Tae sedang berjuang untuk itu, jadi Tae harap daddy setuju dan mendukung pilihan anak tampanmu ini dari atas sana. Jangan cemburu, oke?" Bocah itu tersenyum mendengar ucapannya sendiri.
" Bukankah Daddy mencintai mommy sebanyak mommy mencintai daddy? Ah, tentu saja ! mengapa aku menanyakan hal yang sudah pasti." Kini Taehyung terlihat seperti orang gila yang berbicara dan kemudian di jawab sendiri.
" Taehyung sayang daddy dan mommy_tapi daddy telah meninggalkan kami dan telah berbahagia di sana. Kami bahagia disini, sungguh!. Tapi bukankah lebih baik lagi jika kami memiliki satu seseorang yang bisa melindungi kami seperti yang daddy lakukan dulu?" Bocah itu masih menatap menerawang menembus jendela.
"_Tentu saja daddy akan tetap ada dihati kami selamanya. Jangan katakan bahwa anakmu ini adalah anak durhaka, oke. Tae tak mau di kutuk menjadi jelek." Bocah itu kini terkekeh geli.
" Taehyung telah memilih satu, dad. Dia memang masih muda, dia juga sangat tampan persis seperti daddy tapi tentu saja lebih tampan aku."
Taehyung dan segala kepercayaan dirinya memang tak terkalahkan.
"_ Sedikit keras kepala dan menyebalkan memang, tapi daddy tenang saja! anak cerdasmu ini pasti bisa menjinakkanya." Taehyung masih menerawang pada langit yang sama.
" Jadi daddy, langsung saja pada intinya ... yang ingin anakmu ini katakan adalah, berikan restumu untuk kami. Bantu Tae untuk terus berjuang memperjuangkan kebahagian kami. Bantu Tae untuk menyatukan mereka dan juga izinkan Tae membawanya masuk kedalam keluarga kita. " Taehyung tersenyum sendu di sela curahan hatinya.
" Tae harap dady tak keberatan."
" Selamat malam, dad ! Taehyung menyayangi daddy."
.
.
.
.
Hening melanda, karena tak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Canggung tentu saja, tak ada salah satu pun yang bergerak dari tepatnya. Dan panas? entahlah...mereka sendiri juga tak mengerti mengapa suasana kamar tiba-tiba menjadi panas padahal kamar itu di lengkapi dengan AC.
Dua manusia dengan postur badan berbeda itu kini tengah berbaring di ranjang empuk milik si mungil. Jangan berpikir kotor, karena nyatanya mereka tidur dengan saling memunggungi.
" Apa paman sudah tidur?" Chanyeol adalah orang pertama yang memecah keheningan. Tubuhnya ia bawa untuk berbaring terlentang sambil memandangi langit-langit kamar.
" Belum, apa kau merasa tak nyaman? Apa aku perlu pindah ke sofa?" Baekhyun ikut berbalik, ia juga membawa tubuhnya untuk tidur terlentang namun dengan kepala menghadap pada Chanyeol.
" Tidak, aku baik-baik saja, paman." Chanyeol kini membawa kepalanya untuk menatap Baekhyun yang juga tengah menatapnya.
Hening lagi untuk beberapa saat, hanya terdengar deru nafas keduannya yang saling beradu lembut.
" Aku ingin bertanya sesuatu jika paman tak keberatan." Itu suara Chanyeol lagi.
" Tanyakan saja jika itu bisa mengobati rasa penasaranmu."
" Itu... Aku melihat foto keluarga di ruang tamu. Apa itu foto keluarga kalian?"
Deg
Jantung Baekhyun tiba-tiba bertalu. Chanyeol pasti telah melihatnya, pemuda bongsor itu pasti telah melihat foto suaminya.
" Tentu saja, bukankah kau melihat aku dan Taehyung di sana?" Baekhyun membawa kepalanya beralih dari yang tadinya menatap Chanyeol kini berpaling memandangi langit-langit kamar. Ia tahu cepat atau lambat Chanyeol pasti akan melihat dan menayakan perihal foto itu.
" Iya aku melihat kalian, tapi yang ingin aku tanyakan adalah seseorang Pr_"
" Pria tampan yang berfoto bersama kami, iya kan?" Baekhyun memotong kalimat Chanyeol dan kembali menatap Chanyeol. " Pria itu suamiku, ayah Taehyung."
Chanyeol tak begitu terkejut dengan jawaban yang lebih kecil. Karena dia memang sudah bisa menebak-nebaknya sendiri.
" Oh, begitu rupanya tapi kenapa begitu mirip denganku?" gumam Chanyeol pelan tapi masih terdengar oleh Baekhyun.
" Kau benar, sangat mirip bahkan nama dan marga kalian juga sama. Yang membedakan hanya usia kalian. Kau delapan belas dan Chanyeolku tiga delapan jika ia masih bersama kami."
Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung. Bersama kami? mungkinkah ayah Taehyung tinggal terpisah dengan keluargannya? tapi bocah itu tadi bilang padanya jika sang ayah sibuk bekerja.
Baekhyun terkekeh pelan melihat ekspresi kebingungan si bongsor. " Daddy nya Taehyung pergi meninggalkan kami lima tahun yang lalu?"
" Apa beliau menikah lagi?"
" Enak saja menikah lagi ! akan ku potong penisnya jika berani melakukan itu."
Jawaban frontal Baekhyun entah mengapa membuat penis Chanyeol tiba-tiba merasakan nyeri.
" Kecelakaan." kata Baekhyun lagi.
" Eh?" Si delapan belas tak mengerti.
" Daddy Taehyung meninggal karena kecelakaan, Chan."
" Me-meninggal? Oh ya tuhan ! maafkan aku paman." Chanyeol bangkit dari berbaringnya, duduk di atas ranjang dan menatap menyesal pada Baekhyun.
Baekhyun menyentuh tangan Chanyeol lembut, tak menyadari bahwa aksi spontannya itu membuat yang lebih muda serasa terserang aliran listrik.
" Tak apa~...Chanyeol kami sudah tenang di surga. Jadi kembalilah tidur, besok kau harus bangun pagi untuk sekolah."
Chanyeol kembali membaringkan tubuh bongsornya, ia bawa matanya menatap menyesal pada punggung sempit pemilik kamar yang kini telah berbaring membelakanginya. " Selamat malam, paman."
" Hm, mimpi indah, Chan."
Akhirnya mereka berdua memejamkan mata untuk memulai mengarungi dunia mimpi masing-masing.
Hamparan bunga matahari adalah hal pertama yang menyambut Baekhyun saat pertama kali menginjakan kaki di sebuah taman tak berpenghuni. Mata cantiknya reflek terpejam dan bibirnya mengulas senyuman manis menikmati angin musim semi yang berhembus sepoi. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat akan suaminya.
" Baby!"
Panggilan itu, tentu saja Baekhyun menginggatnya di luar kepala panggilan kesayangan yang suaminya sematkan pada dirinya. Tubuh mungilnya ia bawa berbalik ke aras sumber suara.
Benar saja, disana tepat di depan sana suaminya tengah berdiri dan tersenyum hangat kearahnya.
" Chanyeol-ah, kau kah itu?" tanya si mungil, dalam hati berharap jika ia tak sedang salah lihat.
" Tentu saja! kau tak merindukanku?" Yang lebih tinggi merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Mata cantik Baekhyun mulai berkaca-kaca, langkahnya ia bawa selebar mungkin untuk cepat sampai dan menghambur dalam pelukan hangat orang yang amat sangat ia rindukan.
" Rindu, sangat rindu hingga rasanya benar-benar membuatku gila." Baekhyun terisak dalam dekapan hangat yang tak ingin dia lepaskan.
" Aku juga merindukanmu, Baby Baek."
" Jangan tinggalkan aku lagi ! bawa aku bersamamu, Chan." tangan mungil itu semakin melingkar erat.
" Tentu saja aku ingin, tapi tidak untuk saat ini, Baby. Putra kita masih membutuhkan ibunya, apa kau tega meninggalkannya sendirian?"
Baekhyun masih di sana, kepalanya mengeleng berkali-kali tanda bahwa ia juga tak ingin berpisah dengan putranya. Isakannya semakin menjadi kala yang lebih tinggi menghujaninya dengan kecupan kupu-kupu di puncak kepala.
" Hei, kenapa selalu seperti ini saat aku datang menemuimu, hm?" Sang suami melepaskan pelukan mereka untuk sedikit memberi jarak agar bisa melihat wajah tersedu lelaki cantiknya. Jemari panjangnya ia bawa untuk mengusap lelehan air mata yang mengalir deras dari wajah cantik kesayangannya.
" Baby, apa kau tahu kenapa aku membawamu kesini?" yang lebih tinggi bertanya sementara hanya gelenggan yang ia dapat sebagai jawaban.
Pria tampan itu lalu membawa suami kecilnya kembali pada dekapannya. " Kau ingat aku pernah berjanji ingin membuatkanmu taman yang hanya ditumbuhi bunga matahari?"
Yang lebih kecil menagangguk lucu dan lekas mendapatkan kekehan gemas dari suami tampannya.
" Kau ingat apa yang aku katakan tentangmu dan bunga matahari?"
Baekhyun mengangguk lagi." Bunga matahari menginggatkan ku pada senyuman mu, Baek...Bersinar cerah dan menghangatkan."
" Kau benar sayang. Maaf karena aku belum sempat menepati janjiku padamu." si tampan mengelus punggung sempit si cantik yang tengah menggeleng kecil dalam dekapannya seolah mengatakan bahwa itu bukan masalah untuknya.
"_ tapi setelah ini tetaplah ingat seberapa indah dan hangatnya bunga matahari. Jangan melupakannya saat kau mulai menyukai bunga yang lebih cantik. Apa kau paham?"
Baekhyun membawa kepalanya mendongakkan untuk melihat wajah tampan suaminya, di sisi lain dia juga tak memahami apa yang suaminya itu coba katakan. " Kenapa begitu?"
" Kau akan tahu nanti." si tinggi melepaskan pelukan mereka. Tangannya ia bawa pada bahu sempit suami kecilnya. " Aku harus pergi, berjanjilah untuk tidak lagi menangis dan selalu bahagia bersama putra kita. Aku titip Taehyung padamu, jangan biarkan dia sakit lagi."
Baekhyun menggeleng berkali-kali tak mau di tinggal lagi, isakannya tadi sempat menghilang kini kembali terdengar. " Tidak Chan ! kau harus tetap bersama kami, jangan tinggalkan aku lagi."
" Kau tahu kan aku sangat mencintaimu, mencintai putra kita, mencintai kalian. Aku janji akan selalu datang saat kau rindu, akan memelukmu dalam setiap tidurmu. Dan akan selalu tinggal dalam sudut kecil hatimu. Jadi, baby ! berbagialah sampai Tuhan kembali mempersatukan kita."
Pria tampan itu menyempatkan diri mengecup lembut bibir tipis lelaki cantiknya sebelum berbalik dan berjalan menjauhi pujaan hatinya.
" Chanyeol ! Chanyeol ! kau mau kemana?" Baekhyun berteriak, ingin mengejar suaminya namun kakinya seolah terpaku di tempat. Ia melihat suaminya yang berbalik, hanya berbalik dan tidak untuk kembali mendekat ke arahnya. Suaminya melambaikan tangan dengan senyum hangat, hal itu membuat Baekhyun berteriak panik.
" Tetap di sana, Chan! jangan tinggal kan aku lagi..." Baekhyun semakin tak terkendali.
Chanyeol terjaga dari tidur nyenyaknya kala merasakan pergerakan dari arah samping. Matanya melirik jam yang menempel di dinding kamar, masih jam dua dini hari. Sosok di sampingnya kini malah semakin bergerak gelisah, masih dengan memejamkan mata cantiknya namun keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahi dan pelipis. Oh, jangan lupakan mata terpejamnya yang telah basah karena air mata.
" Chanyeol ! Chanyeol ! kau mau kemana?" Baekhyun berteriak dalam tidurnya, tangannya mengapai-gapai udara kosong.
" Tetap di sana, Chan ! jangan tinggal kan aku lagi..." si kecil semakin bergerak tak nyaman.
Chanyeol muda menepuk pelan pipi Baekhyun, mencoba membangunkannya dari mimpi yang sepertinya buruk. " Paman, bagunlah!...Paman, bangun!"
Yang sedang dibangunkan malah semakin menjadi-jadi . " Chan, jangan pergi...Chanyeol !"
" Aku di sini, bangunlah...aku di sini bersamamu." Chanyeol yang ikut panik tak menyadari bahwa tangannya kini telah mengenggam lembut tangan Baekhyun.
Pemuda delapan belas tahun itu mencoba membaca situasi, pikirnya Baekhyun pasti sedang memimpikan Chanyeol sang suami karena sedari tadi si mungil terus meneriaki nama itu.
" Chanyeol ! hah...hah..." Baekhyun akhirnya terbangun dan terduduk dengan nafas terengah-engah seakan baru saja selesai lari maraton. Keringat dingin bercucuran deras membasahi piyama tidurnya. Wajah cantiknya juga tak kalah basah, entah karena keringat atau air mata.
" Chanyeol?" Baekhyun menatap sayu pada sosok yang kini ikut terduduk di sampingnya.
" Hm, iya ini aku Chanyeol." Entah dorongan dari mana, tapi nyatanya kini Chanyeol membawa Baekhyun ke dalam dekapan hangatnya.
" Chanyeol. Jangan pergi?" Baekhyun tak sadar melingkarkan tangannya pada pinggang yang lebih muda.
" Aku di sini, Baek. Aku tidak akan pergi." Si tampan mencium puncak kepala yang lebih tua berusaha menenagkan, entahlah dia sendiri bingung kenapa melakukannya.
" Sekarang kembalilah tidur, ini masih sangat pagi." Chanyeol menundukkan kepalannya mengamati wajah yang tengah mendongakkan kepala dan sedang menatapnya penuh kerinduan.
Tatapan itu lagi dan entah mengapa membuat yang lebih muda serasa tercubit kecil tepat di sudut hatinya. Itu seperti tatapan yang sama yang Baekhyun berikan saat pertama kali mereka bertemu. Chanyeol sadar jika sebenarnya tatapan sarat kerinduan itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk seseorang yang jauh disana. Jantung si pemuda tampan berdebar tak terkendali, mengalahkan kerja paru-parunya sendiri sehingga membuatnya tiba-tiba merasa sesak untuk sekedar bernafas. Kenapa rasanya sakit? batinnya dalam hati.
" Janji tak akan pergi?" tanya si mungil.
" Aku janji."
" Kau pasti berbohong, kau akan meninggalkanku saat aku tertidur lelap, benar bukan?"
" Tidak, aku akan tetap di sini menemanimu, memelukmu sampai kau membuka mata pagi nanti." Chanyeol pikir dia mulai gila. Kenapa ia harus? lalu kemana perginya kewarasan yang selalu dia banggakan?
Dan Chanyeol benar-benar sudah gila karena berakhir kembali berbaring namun dengan Baekhyun yang tengah berada dalam pelukannya. Mereka saling berpelukan satu sama lain, Baekhyun yang bersandar pada dada bidang Chanyeol untuk mencari kehangatan dan Chanyeol yang menenggelamkan wajahnya pada harumnya rambut Baekhyun.
" Kau tak memberikan ciuman pengantar tidur?" yang lebih tua memainkan jarinya pada dada bidang milik pemuda tampan.
"Huh?"Chanyeol mengernyitkan alis bingung dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Chup~
Baekhyun tak memberinya waktu untuk berlama-lama dalam menikmati kebingungan karena nyatanya ia telah mendapatkan jawaban tersirat dari sumbernya. Chanyeol meraba bibir tebalnya yang kini terasa sedikit basah. Apa tadi Baekhyun menciumnya?
" Seperti itu, Chan!_" Baekhyun berucap seolah memberi tahukan pada Chanyeol bahwa kecupan pada bibir adalah hal yang harus si tampan itu berikan untuknya. "_ kau lupa dengan ciuman selamat malam yang selalu kau berikan padaku sebagai pengantar tidur?"
" Ahh, y-ya a-aku melupakannya. Maafkan aku, oke." Chanyeol tergagap masih mencoba menetralkan pompaan jantungnya yang mengila.
" Karena aku sudah mengingatkannya, jadi lakukan~ !" rengekan manja terlontar dari bibir tipis Baekhyun.
" Huh?" Lagi, otak cerdas Chanyeol kini hilang entah kemana.
" Aish, cium aku. memangnya apalagi?"
" Tak bisakah kita kembali tidur saja?" Chanyeol mencoba mengelak tentu saja.
Ini gila! Baekhyun itu sedang menganggap dirinya sebagai sang suami. Jika ia menuruti permintaan si mungil maka sama saja dia mengambil kesempatan dalam kesempitan.
" Kau tak mau menciumku?" Si mungil menatap yang lebih muda dengan mata berkaca-kaca. Namun justru terlihat sangat mengemaskan di mata Chanyeol.
' Oh, shit ! Kau membuatku lemah, Baek...bagaimana bisa aku menolak saat kau memasang wajah seperti itu.' Chanyeol mengumpat dalam hati.
" Kau tak menyayangiku lagi?" si cantik kembali memelas dengan terisak lirih.
" Bu-bukan seperti itu...hanya saja aku tak bisa melakukannya." Chanyeol gagap sekaligus panik. Bagaimana jika Baekhyun menangis?
Dan benar saja, penolakan Chanyeol membuat isakan Baekhyun mulai menjadi. "Apa aku tidak cantik lagi? Apa kau mencintai orang la_"
"..."
Hening melanda dan kalimat Baekhyun tadi tak pernah bisa berlanjut sebab Chanyeol telah menutup bibirnya dengan bibir yang lebih tebal.
Persetan! Chanyeol tak akan keberatan jika ada yang mengatakan bahwa ia sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi ia tak sepenuhnya bersalah. Memangnya lelaki normal mana yang akan menolak saat di suguhi rengekan dan tatapan manja seperti yang Baekhyun lakukan padanya. Hanya orang gila yang akan menolak hal seindah itu.
Lebih parahnya lagi, saat ini Chanyeol bukan hanya memberikan ciuman selamat malam seperti yang Baekhyun praktekkan padanya tadi. Pemuda tampan itu mulai melumat lembut bibir manis si cantik, menekan tengkuk Baekhyun untuk memperdalam pangutan mereka. Ciuman Chanyeol lebih seperti ciuman mendamba namun juga meragu. Tapi kala yang lebih kecil mulai membalas lumatan lembutnya, keraguan Chanyeol mulai menguap entah kemana.
"Eungh~ " suara lenguhan Baekhyun menyadarkan Chanyeol dari kegilaannya. Ia lalu membawa bibirnya menjauh dan tentu saja membuat tautan mereka terlepas.
" Kenapa berhenti? Bukankah ide bagus untuk memberikan Tae seorang adik?" Baekhyun bertanya dengan wajah bingung serta nafas yang terengah pasca ciuman tadi.
Tak tahukah Baekhyun jika saat ini Chanyeol sedang berusaha menahan diri untuk tak memakannya. Dan lagi, apa-apaan dengan pertanyaan itu? Memberikan Tae adik? Tentu saja Chanyeol dengan senang hati akan melakukannya.
Chanyeol menghembuskan nafas kasar. Untung saja dia masih sedikit menyisakan kewarasannya. Kalau tidak, maka habislah Baekhyun malam ini.
" Tidak, Baek...kita lakukan lain kali saja. Kau harus kembali tidur, bukankah besok kau harus bangun pagi untuk membuat sarapan?"
Yang lebih muda mencoba bicara selembut mungkin. Mata mereka masih bertemu tatap, dengan Baekhyun yang sesekali berkedip lucu. Oh Tuhan! Cobaan macam apa ini? Begitulah kira-kira ratapan hati Chanyeol.
" Kau benar, kasihan anak kita jika dia sampai tak sarapan karena ibunya terlambat bangun."
Tak tahunya jawaban si mungil membuat Chanyeol akhirnya bisa bernafas lega." Jadi, apa sekarang bisa kembali tidur"
"Hm, selamat malam suamiku." Baekhyun berucap sambil membenarkan posisinya untuk mencari tempat ternyaman dalam dekapan Chanyeol.
Yang lebih muda melakukan hal yang sama. Melingkarkan lengannya pada pinggang si mungil agar mereka bisa tidur dengan nyaman." Selamat malam juga, Bae-Baby."
Tak butuh waktu lama untuk mereka kembali tertidur, kenyamanan itu nyatanya membuat dua orang yang saling berbagi kehangatan itu mengarungi malam dengan tertidur nyenyak. Tak ada lagi mimpi buruk yang menghampiri si mungil, setidaknya untuk sisa malam ini.
.
.
.
.
Bias mentari menyapa pagi yang mulai datang menyongsong hari. Park Taehyung terbangun dari tidur nyenyaknya dengan wajah berseri-seri. Setelah semalam sempat meluapkan segala beban perasaannya, kini otak liciknya telah kembali bekerja. Ingatannya semalam yang membuat ibu dan kakak tingkatnya tidur bersama mulai mengalun indah di atas kepalanya.
Oh, Taehyung tak sabar untuk secepatnya mendapatkan seorang adik. Jimin benar tentang Taehyung yang mulai mengalami gangguan kejiwaan.
Pemuda itu bangun dari ranjang dan mengambil kruk yang beberapa hari ini menemaninya berjalan kesana-kemari. Kakinya ia bawa ke luar kamar untuk melangkah menuju kamar sang ibu. Bukan untuk membangunkan, hanya iseng saja ingin melihat apa yang kedua orang itu sedang lakukan di dalam kamar.
Taehyung pikir ibunya pasti masih tidur karena kelelahan setelah melakukan olahraga malam bersama kakak tingkatnya. Tak perlu di jelaskan olahraga malam seperti apa yang Taehyung maksud, hanya orang-orang berhati bersih saja yang mengerti. Oke, lupakan !
Cklek.
Pintu kamar ibunya ia buka dengan hati-hati. Kepalanya ia julurkan untuk mengintip keadaan di dalam kamar, sebenarnya ia takut menganggu jika saja dua orang di dalam sana tengah berganti melakukan olahraga pagi di atas ranjang. Sudah ku bilang hanya orang-orang berhati bersih saja yang mengerti.
Namun yang di khawatirkan Taehyung tak benar terjadi. Mata polosnya (?) malah di suguhi dengan pemandangan dua orang pria berbeda tinggi badan yang sedang tidur dengan posisi saling berpelukan. Senyuman jahil terpatri indah di wajah tampan yang paling muda. Ia kembali menutup pintu kamar ibunya pelan lalu mengambil nafas dalam-dalam bersiap untuk berteriak.
" MOMMY ! AYO CEPAT BANGUN !? MAU SAMPAI KAPAN KALIAN TIDUR SAMBIL BERPELUKAN !?"
Taehyung mendekatkan telingannya pada daun pintu. Tak lama kemudian ia tertawa terbahak setelah mendengar teriakan melengking ibunya.
" AAAAAAAAAAAAA..."
Pagi yang indah bukan? begitulah pikir Taehyung.
.
.
.
.
TBC
Bagaimana dengan pagi kalian? Apa sama indahnya dengan paginya tetet?
Oke, sampai di sini dulu dan terima kasih buat kalian yang udah mampir, review, fav dan follow Sky Of Love. Jangan lupa tinggalkan jejak, kawan :)
salam ChanBaek is REAL !
