REALIZE

NARUHINA'S FANFICTION

DISCLAMER: MASASHI KISHIMOTO

STORY: SHOKUDAYO

RATED: T SEMI M

WARNING: OOC, AU, TYPOS, ABAL-DESU, PLOT PASARAN, DLL

DLDR YA! SUDAH DIPERINGATIN

.

.

.

"Ada badai ya suster?" Gadis cilik itu bisa mendengar sekaligus melihat petir dan guntur yang bersahut-sahutan dibalik tirai putih kamar tempatnya dirawat.

Sang suster yang sedang membenahi salah satu selimut dibangsal anak-anak yang sedang dijaganya segera menghampiri pasiennya yang didapatinya belum tidur padahal waktu sudah lewat dari jam tidur yang sudah ditentukan. Mendudukkan pantatnya yang terbalut seragam perawatnya, dia membantu sang anak perempuan untuk kembali berbaring diatas peraduannya.

"Kenapa belum tidur, hm?" Tanya sang suster mengusap-usap poni ratanya berusaha membuat sang anak nyaman agar segera menyusul teman-temannya yang sudah pergi melalang buana di dunia mimpinya.

"Aku khawatir pada mereka." Gumamnya kecil mengeratkan pegangannya boneka beruang kecil berukuran sedang yang selama beberapa hari ini menjadi teman tidurnya. "Apakah mereka sudah sampai dirumah?" Pertanyaan yang tak ada jawabannya karena si suster pun tidak tahu menahu perihal keberadaan orang-orang yang gadis itu maksud.

"Tenang saja! Mereka pasti sudah dirumah." Balasnya yakin mencoba menghapus rasa khawatir penyebab insomnia pasiennya tersebut. "Nah sekarang kamu harus tidur. Kalau tidak dokter pasti marah. Kau mau cepat sembuhkan?" Tanya sang suster menyikap poni yang menutupi dahi sang anak. "Tuhkan, suhu badanmu naik lagi!" Kaget karena kondisi pasiennya kembali memburuk sang penanggungjawab yang panik segera keluar untuk mencari obat sebagai pertolongan pertama untuk orang yang sedang terkena demam.

Melihat sang penjaganya menghilang dibalik pintu bangsal tempatnya dirawat, sang gadis cilik pemilik iris saphire dan rambut panjang blonde itu melirik jendela yang terkadang berkelap-kelip menakutkan menampilkan fenomena alam yang terjaidi malam ini. Menautkan kedua alisnya sedih, samar-samar bibirnya berbisik, "Semoga mama, nee-chan dan nii-chan tidak apa-apa. Dan papa-" Jeda sejenak. Mata birunya terlihat sedih mendapati semakin banyak tetesan air hujan yang jatuh dari langit. "Semoga suatu saat kita bisa bertemu. Amin." Mengatupkan kedua tangan seraya berdo'a. Dirinya memejamkan mata menyongsong alam tidurnya sebelum akhirnya sang suster kembali masuk dengan terburu-buru dan memberinya suntikan penurun panas.

.

.

.

Naruto membawanya keluar, karena takut akan isak tangisnya akan menganggu tidur nyenyak ibu dan saudara kembarnya. Menggendongnya dan menepuk punggungnya, sang pria berumur 27 tahun itu berusaha meredakan tangis yang masih mendera malaikat ciliknya.

"Yukka, jangan menangis. Akan paman katakan padanya agar menemui kalian secepatnya." Sakit, hatinya sakit saat membicarakan dirinya seolah orang lain.

Yukka masih belum menghentikan tangisannya, sesekali menyeka air matanya dengan kedua tangannya. Sang gadis kecil yang wajahnya sudah kusut masai itu kembali berceloteh.

"Tapi mama bilang papa sudah tidak ada!" Yukka menjerit, Naruto yang melihatnya semakin turut dibuat nelangsa. Kami-sama! Lihat apa yang sudah diperbuatnya! Membuat sengsara kehidupan darah dagingnya sendiri hingga seperti ini. Bolehkan jika dia dihukum saja dengan hukuman yang setimpal?

"Aku tahu mama bohong, karena jika papa sudah tak ada. Kenapa kami tak boleh mengunjungi makamnya?" Pertanyaan cerdas dari anak yang masih berumur empat tahun membuat Naruto bagai dirajam timah panas. Tidak! Dia tidak meninggal! Papamu disini! Ini papamu yang sedang menggendongmu!

"Karena papamu memang tidak pernah meninggal, Yukka." Jelas sang pria lamat-lamat mencoba untuk mengatakan kenyataan yang ada walaupun dia paham akan konsekuensi yang nanti harus dihadapinya. "Papamu dia-"

"Jadi benar dia membenci kami makanya Papa pergi?" Pertanyaan pamungkas yang ditanyakan kedua kalinya kembali membungkam bibir Naruto yang mulai berceloteh nyaring tentang pembelaan dirinya. Masihkah pantas baginya untuk berkelit? Bukannya dia meninggalkan mereka begitu sajakan? Dia tidak tahu apa-apa tentang anak yang dikandung Hinata kala itu! Dia yang tak memberitahunya. Ah, bukannya saat itu Hinata sudah 'berusaha' memberitahunya? Naruto saja tak memberikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan kalimatnya. Pada akhirnya, mencari pembelaan seperti apapun hanya akan membuat sang pemilik kulit tan itu semakin menyalahkan dirinya.

Kembali, Naruto kebingungan atas pertanyaan yang diajukan oleh putri kecilnya. Bagaimana ini? Apa yang sebaiknya Naruto katakan untuk meredam kesedihan putrinya? Setidaknya sebelum membeberkan identitas aslinya. Dia ingin terlebih dahulu mendapat izin dari Hinata karena sang pria itu tahu kalau sampai saat ini dia memberitahukan siapa dirinya pada anak-anaknya. Yang adalah hanyalah amuk-murka dari Hinata yang masih belum menerima keberadaannya. Dan yang pasti setelah itu, Hinata akan menghilang lagi. Jauh-dan dia tak tahu apakah dirinya bisa seberuntung ini untuk mengikuti jejaknya lagi.

"Se-setidaknya-wa-walaupun-hiks-" Yukka masih menangis hingga kesulitan untuk bicara. Naruto pun tak habis pikir, dibalik tawa riang yang selalu mengiringinya tadi siang. Tersimpan luapan emosi yang membuat jiwanya ikut carut-marut terhanyut akan kesedihan putri tercintanya. Tangannya tak henti-henti mengusap punggung ringkih anak perempuannya yang meringkuk rapuh dipelukannya. Berusaha menenangkannya walau tak ada hasil nyata yang didapatkannya.

"Ka-kalau memang Papa tidak mau menemui Yukka dan Yukki. Tapi-tapi-" Yukka semakin terisak. Dilain pihak Naruto pun semakin gelapan dibuatnya. Apa? Apa yang ingin putrinya ini sampaikan?

"Paman-tolong sampaikan pada Papa. Yukko-Yukko di-dia ingin bertemu. Sekali saja-" Yukka meratap mengenggam kemeja tidur Naruto erat-erat.

Naruto menaikkan kedua alisnya. Kebingungan akan nama asing yang baru didengarnya. Yukko? Siapa itu?

"Yukko?" Naruto mengulang nama tersebut dengan kebingungan. Jangan bilang kalau-

"Uhm-" Mengusap air mata yang berlinang membasahi pipinya setelah tangisannya sedikit mereda karena kehabisan tenaga. Putri sulungnya tersebut menganggukan kepalanya lamat-lamat. Masih dengan nafas yang terputus-putus dan ucap kata yang terbata-bata, dia berusaha menjelaskan sosok asing yang barusannya disebutkan olehnya. "Di-dia adik kembar kami yang ketiga."

'ASTAGA! Mereka triplets. Terkutuklah kau, dasar manusia bajingan tak tahu diuntung!' Secara spontan Naruto meraung menyumpah serapahi dirinya sendiri. Bagaimana bisa? Bukan cuma duo kembar yang menjadi anak by accident miliknya. Tetapi tiga! TRIPLETS! Dan hell! Selama ini dia tidak mengetahuinya? Berleha-leha menjadi sosok single diluar sana sedangkan kenyataannya dia adalah ayah yang bertanggung jawab atas kembar tiga yang dikandung oleh Hinata semata-mata hanya karena perbuatan bejatnya malam itu. Apakah ini yang membuat Hinata marah dan merasa tercurangi?

"Kalian tiga bersaudara dan semuanya kembar?" Naruto bertanya, tergelitik untuk memastikan. Fenomena kembar saja sudah menjadi sesuatu yang jarang dalam peristiwa kehamilan seorang wanita. Ini triplets?

"YA!" Yukka berteriak histeris. "DAN KAMI TIDAK PUNYA PAPA!" Semakin histeris mengingat kenyataan bahwa tidak ada satupun orang yang mengakui mereka sebagai anaknya. "Mama, Mama selalu bilang Papa mengawasi dari surga. Tapi kenapa semua orang bilang kalau sebenarnya kami anak haram? Apa itu anak haram, paman? Apakah sesuatu yang buruk sampai-sampai mama dan yang lainnya selalu diolok-olok oleh yang lain? Apakah karena itu Papa meninggalkan kami?" Pertanyaan bertubi-tubi yang dilayangkan langsung pada dirinya membuat hati Naruto semakin diiris rapi. Dari caranya berbicara, Naruto tahu bahwa putri pertamanya ini memiliki tingkat intelegensi diatas rata-rata. Tapi demi Tuhan! Anak ini baru berumur 4 tahun dan dia harus menerima beban mental seperti ini? Betapa kejamnya dirinya! Naruto ingin menghapuskan kesedihan yang terpancar dalam mata sewarna miliknya. Mengantikan dengan binar kebahagiaan yang sempat dilihatnya tadi pagi.

"Yukko, dia berbeda dari kami. Badannya gampang sakit. Sudah tiga hari dia tidur dirumah sakit. Paman, bisakah sampaikan pada papa, Yukko ingin sekali bertemu. Tidak apa-apa papa tidak mau menemui kami asalkan papa mau menemui Yukko. Bisakah?"

Fakta baru yang membuat sang pria semakin memucat. Anaknya yang ketiga badannya lemah? Kemana dia? Kemana dirinya disaat sang buah hati membutuhkan perhatiannya? Kenapa waktu itu dia gampang sekali meninggalkan Hinata yang hendak memberikan informasi mengenai kehamilan para malaikat titipan Tuhan miliknya? Cukup! Berita apa lagi yang harus dia dengar sekarang? Naruto masih diam seribu bahasa. Satu hari yang melelahkan dimana semua rahasia yang tak tersinggung selama bertahun-tahun tiba-tiba terangkat kepermukaan. Bagaimana ini? Bolehkah? Bolehkah dia mengakuinya saat ini juga kalau orang yang dia mintai tolong adalah sosok Papa mereka itu sendiri?

"Yukka, paman-"

"STOP!" Sebuah pekikan nyaring menyurutkan niat Naruto untuk membeberkan segala kebenaran yang ada. Sosok kecil yang ada didepannya pun disambar cepat oleh Hinata yang terbangun karena suara ribut-ribut yang diakibatkan diskusi panas mereka berdua.

"Maaf Namikaze-san, ini masalah keluarga kami." Mencoba menjaga jarak dan melantunkan pernyataan dengan nada sinis, Hinata membawa Yukka dalam gendongannya. Sedikit tersedu mengingat kondisi adiknya yang sedang tidak baik, sang gadis kecil menyenderkan kepalanya dibahu mungil sang ibu.

"Maaf karena Yukka bilang yang nggak-nggak." Mencoba meminta maaf pada sang mama karena menguak rahasia dalam keluarganya pada orang asing. Yukka berbisik lirih didekat telinga Hinata, mencoba menyampaikan penyelasannya yang terdalam.

Hinata mengangguk maklum. Dia sadar bahwa anaknya tersebut dalam keadaan ingin memiliki orang untuk bersandar melepaskan keluh-kesah masalah yang selalu ada disekitarnya. Dan sialnya, entah sadar atau tidak, atau mungkin karena hubungan darah yang mengikat mereka. Sang anak sangat nyaman untuk menceritakan semua yang menganggu pikirannya pada Naruto. Pria tak bertanggung jawab yang menjadi akar dari semua permasalahan.

"Sebaiknya kau kembali tidur. Besok pagi-pagi kita akan menemui Yukko." Mengelus rambut. Seleher yang tergerai lembut melebihi sedikit lehernya. Hinata menggotong Yukka untuk kembali ke ranjang. Tetapi setelah Hinata berbalik, yang dirasakannya hanya sebuah cekalan tangan dilengannya yang membuatnya tidak bisa melanjutkan langkahnya.

"Be-besok aku ikut." Pinta Naruto dengan terbata-bata. Tubuhnya bergetar menahan tangis yang hendak tumpah mendengar banyak rahasia besar yang berhasil dikuaknya hari ini.

Hinata menoleh sebentar untuk memandang Naruto dengan sorot mata tak percaya. Menapati sinar penuh tekad yang berpendar pada mata saphirenya, sang wanita tersebut hanya bisa menghela nafas sebelum berbalik kembali melangkahkan kakinya menuju kamar tempat dimana dia dan anaknya akan meneruskan acara tidurnya.

"Terserah kau saja." Ucapnya pasrah disusul dengan derap kaki langkah Naruto yang mengikuti jejaknya setelah melihat lambaian tangan Yukka yang memintanya untuk segera menyusulnya kembali tidur bersama mereka.

.

.

.

Bau tanah basah masih menguar diudara, jejak-jejak tanah yang menempel dilantai rumah sakit masih tercetak jelas membuat para office boy rumah sakit sibuk membawa kain pel dan sapu berlari kesana-kemari untuk menjalankan tugasnya membersihkan lantai-lantai rumah sakit saat para tamu mulai berdatangan menjenguk sanak-saudara atau teman mereka yang sakit. Tak lupa dengan Hinata dan anak-anaknya ditambah Naruto yang muncul dari pintu masuk disambut oleh para perawat yang sudah lama mengenal Hinata. Naruto terlihat sedikit kewalahan menggotong-gotong boneka berbentuk rubah berekor sembilan dengan size yang lumayan besar bersama dengan keranjang-keranjang berisi mainan dan buah-buahan segar. Salahkan dirinya yang begitu antusias untuk menjengguk si bungsu hingga tak sadar bahwa semua hadiah yang dibelinya rupanya sudah melebihi kapasitas beban angkut kedua tangannya. Tersadar bahwa dirinya tertinggal sedikit jauh dari Hinata. Naruto berlari-lari kecil membuntuti Hinata yang melenggang santai menggandeng si kembar dikedua tangannya.

"Selamat pagi, Hinata-san." Sapa perawat senior bernama Anko yang menyapa mereka saat Hinata sibuk melepaskan mantel Yukki, sedangkan Yukka sibuk menoleh kebelakang sesekali menawarkan bantuan untuk membantu membawakan sebagian kecil barang yang Naruto bawa walau pada akhirnya selalu sang pria itu tolak dengan halus karena tak mau membuat anaknya kesusahan karena kesalahannya sendiri.

"Selamat pagi, Anko-san." Hinata menjawabnya diselingi dengan senyum tipis yang selalu menghiasi wajahnya.

"Kemarin Yukko menanyakan kalian lalu—" Pertanyaan terhenti, matanya terpaku akan sosok Naruto yang menjulang ditengah sosok-sosok mungil ketiganya. "Ti-tidak mungkinkan?" Anko menanyakan pertanyaan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Hinata yang mengerti akan tindak-tanduk mencurigakannya segera menengahi untuk mencegah adanya keributan yang mungkin ditimbulkannya apabila Anko benar-benar menepis rasa sungkannya dan menanyakannya secara langsung didepan anak-anaknya.

"Yukko menanyakan apa?" Hinata menyela Anko yang tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Terkesiap menghadapi Hinata yang tiba-tiba berada didepannya dengan sigap Anko segera membenahi raut wajahnya yang terlihat penasaran.

"Yu-Yukko menanyakan kehadiran kalian. Tapi aku sanksi kalian bisa mengingat badai yang terjadi tadi malam. Oh iya, dia melewati jam tidurnya-lagi- dan sedikit terserang demam." Jelasnya singkat sebelum pamit undur diri ketika rekan kerjanya memanggil untuk segera mengantarkan rekam medis pasien kepada dokter yang bertugas pagi itu.

Hinata menghela nafas, sudah bukan kabar asing mendengar anaknya belum tidur walau waktu sudah melewati batas tidur pasien anak-anak seusianya. Nakal, cukup nakal, ternyata yang namanya buah toh tak jatuh jauh dari pohonnya. Bisa dibilang, anaknya yang satu ini kloningan kualitas super dari Naruto. Melirik Naruto yang kesulitan menyeimbangkan badannya dan hampir berberapa kali tersungkur karena barang bawaannya sendiri, Hinata tidak waspada akan pandangannya yang memancarkan rasa rindu penuh luka mengenang masa lalu, masa kenalan sang Namikaze muda tersebut hingga iris sapphire itu bersirobok dengan iris amnesthynya.

"Apa?" Tanya Naruto, sedikit ngilu terasa didadanya mendapati pandangan Hinata yang terlihat terluka. Lebih sakit lagi saat Hinata dengan mudahnya memutus kontak mata mereka dan memalingkan wajah acuh tak acuh.

"Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kita segera bergegas. Aku harus menyiapkan barang-barang Yukko karena hari ini dia sudah boleh keluar rumah sakit." Jawab Hinata lugas segera berbalik memunggungi Naruto untuk segera melangkahkan kakinya menuju bangsal timur tempat Yukko dirawat.

.

.

.

"MAMA!" Wajah gadis itu terlihat riang mendapati sang mama muncul dibalik pintu masuk bangsal kamar rawat inapnya. Sapphire birunya berpendar girang ketika refleksi kehadiran orang tua tunggalnya setelah sehari tak bertemu karena Hinata sibuk bekerja dan tak bisa menjengguknya setelah pekerjaannya selesai karena badai yang datang. Tetapi teriakan nyaringnya tak memancing rasa ingin tahu pasien-pasien kecil lainnya, mereka pun sepertinya sibuk dengan keluarganya yang juga datang menjenguk sehingga bangsal tersebut terasa ramai oleh celoteh-celoteh kecil mereka yang asyik bercengkrama dengan sanak-saudaranya.

"Pagi sayang, bagaimana kondisimu?" Sapa Hinata mengecup kening sang gadis dan segera mengambil posisi untuk duduk disamping ranjangnya.

"Aku sudah sehat!" Berteriak lantang menyuarakan keadaannya, sang gadis kecil dengan semangat langsung berdiri dikasurnya. Apalagi infus yang dipasang ditangannya sudah dilepas tadi pagi, hingga dia bisa bergerak bebas seperti sekarang. "Hari ini kita pulangkan?" Tuntutnya pada sang mama mengetahui hari ini adalah jadwal kepulangannya dari rumah sakit.

"Yup, asal kau berjanji tidak melewatkan jam tidur lagi!" Perintah Hinata mengingat kelakuan sang putri yang tidak disiplin akan waktu padahal itu demi kesehatannya sendiri.

"Pasti suster Anko yang cerita pada Mama." Menggerutu tanda tak senang bahwa perilaku bandelnya dilaporkan pada Mamanya, Yukko segera menyilangkan kedua tangannya didada dan memasang muka cemberut.

Sepersekian detik bertahan dengan posisinya. Yukko baru menyadari keabsenan kedua saudara kembarnya. Bukannya biasanya mereka selalu datang menjemput, apalagi ini hari kepulangannya. Dimana gerangan mereka? Kenapa daritadi mereka tak nampak juga? Yukko kira mereka akan segera menyusul begitu mendapati Hinata yang sudah memasuki ruang rawat inapnya. Tapi kok sampai sekarang mereka masih belum ada?

"Loh? Loh? Yukka-nee dan Yukki-nii kemana?" Duduk bersila setelah lelah berdiri. Yukko duduk disamping Hinata yang sedang membuka plastic pembungkus nampan berisi sarapan dan obat yang harus sang anak minum pagi ini.

"Se-sebentar lagi mereka datang." Terbata-bata menyadari bahwa sang putri bungsu akan menyusul bertemu dengan ayah kandungnya hari ini juga.

Hinata sebisa mungkin menenangkan dirinya untuk tak membayangkan berbagai spekulasi peristiwa yang akan dihadapinya bila Yukko dan Naruto bertemu. DEMI TUHAN! Dengan melihat sekilas saja pasti orang-orang akan percaya bahwa mereka adalah ayah dan anak. Bahkan kedua anaknya yang lain sepertinya menyadari itu, walau Hinata tak tahu sejauh mana mereka akan menduga kalau Naruto adalah ayah mereka. Heck, bahkan dari awal Hinata sudah merasakan bagaimana ikatan kuat yang terjalin antara Naruto dan anaknya sesaat setelah mereka bertemu.

"Mereka lama sekali. Yuck, Mama! Please Yukko nggak suka bubur rumah sakit. Pahit!" Menyadari bahwa Hinata sudah bersiap menyedokan sesendok bubur bertabur sayuran kering kemulutnya. Yukko buru-buru memprotes dan hendak kabur kalau saja Hinata tak mencekalnya.

"Tapi sayang, kau harus memakan sarapanmu dan obatnya. Setelah itu kita langsung pulang kerumah." Rayu Hinata membujuk sang anak untuk memakan sarapannya. Sedangkan Yukko meronta menutupi mulutnya dengan kedua tangannya menolak satu sendokan besar bubur yang dirasanya tak enak agar tak memasuki lambungnya.

"Tapi nanti—"

"Yukko, anak pintar pasti mau makan tanpa pilih-pilih makanankan?" Muncul dibalik pintu dibarengi dengan Yukka dan Yukki yang berlarian kearah ranjangnya. Naruto yang melongokan wajahnya dibalik gunungan tinggi barang bawaannya sedikit terkejut melihat sosok personifikasi Yukko yang tak lain adalah putri bungsunya. ASTAGA! INI SIH DIA VERSI PEREMPUAN! KEAJAIBAN DNA. Ternyata darah Namikaze yang menurun padanya memang memiliki gen dominan pada Yukko sehingga yang sang pria lihat dari ujung kepala sampai ujung kakinya juga merupakan cerminan dari dirinya. Matanya, kulitnya, bahkan tiga garis tanda lahir dikedua pipinya pun mirip minus rambutnya yang panjang dan jenis kelaminnya yang tentu saja berkebalikannya dengannya.

Disisi lain, Yukko juga tak kalah terkejutnya. Siapa gerangan seorang paman yang berdiri canggung didepan pintu tempatnya dirawat membawa-bawa bertumpuk-tumpuk barang yang ya ampun! Bahkan Yukko tak peduli apa yang dibawanya. Karena keberadaannya sendiri sudah menghipnotis atensi Yukko untuk mengamatinya dari ujung-ujung. Paman dengan perawakan yang oh Tuhan! Mirip dengan dirinya. Jangan bilang jangan bilang kalau sang paman itu—

"PAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Dan tanpa berpikir dua kali. Dirinya langsung meloncat dari ranjangnya dan berlari menghambur pada Naruto yang sebenarnya tidak siap akan reaksi sang anak begitu melihat dirinya. Berteriak senang dan menangis terisak pada satu waktu karena Kami-sama mengabulkan do'anya.

.

.

.

Sudah update. Maaf lama karena smt 2 ini banyak praktikum dan tak sempat menulis. Terus hape yang biasanya buat nulis sudah wafat. Jadinya makin males kalau kudu buka leppi dan nulis via leppi.

Plot triplets disini diilhami dari FF TRC yang ngeplot twist tahu" punya kembar triplets. Hwhwhw, suka banget sama ff-nya tapi lupa judul. Ada yang pernah baca dan masih ingat judulnya?

Oh iya, karena kepentingan, mungkin sifat si triplets ini sedikit uwow buat anak seumurannya. Apalagi Yukka~ Anggap aja Yukka jenius gitu ya.

ENJOY

Kripik dan Singkong?

With Love, Sho-kun