My Fairy Tail Stories

Chapter four: Misi Pertama Lucy! Part three

Hai! Hana senang sekali hari ini karena Hana tak menyangka kalau 'Misi pertama Lucy' akan menjadi 3 part, tapi sepertinya akan sampai 4 part… Hana tahu kalau biasanya orang-orang hanya membuat cerita sampai 3 part, tapi karena Hana ingin membuat cerita ini makin seru maka jadilah 4 part!

Lucy: apaaa! Aku tidak mau, dasar Author gila! Aku sudah tidak tahan lagi di mansion berhantu itu!

Hana: umm… Lucy, sebenarnya itu bukan mansion berhantu tapi mansion biasa…"

Lucy: apanya yang mansion biasa! Kalau memang biasa kenapa mansionnya gelap lalu aku diculik apa dan banyak tangan yang mengincar kakiku, hah? Ayo cepat jelaskan!

Hana: uuh… j-jangan marah dong Lucy… . . . . Karena kau menyeramkan… *berbisik

Lucy: apa kau bilang!

Hana: t-t-tidak apa-apa… Tenang saja Lucy! Semua teka teki itu akan terpecahkan di chapter ini!^^" . . . . atau mungkin di chapter selanjutnya, aku tak tahu… *berbisik

Lucy: hmph, kuharap begitu- EEH? Enak saja! Aku maunya tamat sekarang!

Hana: sabar saja ya Lucy… . . . . Huh, tahu begini lebih baik kau tetap kuikat saja… *berbisik

Lucy: hmm? Kau bilang apa barusan!

Hana: umm… eeh… . . . . dasar nenek sihir… *berbisik

Lucy: mau sampai kapan bisik-bisik hah? Kuhajar kamu! *berlari kearah Hana dengan membawa palu

Hana: GYAAAAA! HELP MEEE~ *kabur

A/N: terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah me-review! Hana senang sekali^^

Karena Hana berpikir repot kalau menggunakan PM, jadi hana membalas review readers sekalian(bagi yang tidak di PM) di bawah ini:

Haruka Yukito: yah… Natsu memang bisa menggunakan sihir api, tapi Hana pikir lebih seru kalau gelap begitu hehee…(dan lagipula Natsu terlalu ga peka untuk menyadari hal itu dan yang lain terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing sehingga tak menyadarinya, begitulah~)

Mugi-chan: terima kasih^^ Hana akan terus semangat!

Disclaimer: tokoh cerita ini milik Hiro Mashima

Chapter four: Misi pertama Lucy(part three)

Di tempat Erza dan Gray…

"ka, kamu!" di balik Erza dan Gray, tampaklah seorang bapak-bapak yang usianya sekitar 30-40 tahun. "siapa ya? Hehe…" "'gedubrak!' Dasar bodoh! Bukan waktunya bercanda! Ada kemungkinan dia adalah pelakunya, jangan lengah Gray" kata Erza memberitahu Gray. "tak usah dikasih tahupun, mauku memang begitu!" Erza dan Gray yang tidak mengenali orang tersebut, mulai waspada karena siapa tahu orang itulah yang menyebabkan semua ini. Seperti bisa membaca pikiran kedua orang itu, bapak itu berkata "tidak usah waspada begitu, saya tidak seperti apa yang anda pikirkan" "kalau begitu siapa kau?" Tanya Erza bersiap untuk mencabut pedangnya. "tunggu, tunggu! Saya hanyalah adik dari pemilik mansion ini!" kata bapak itu sambil mengangkat tangannya mempertahankan dirinya.

'adik pemilik mansion ini?' pikir Erza dan Gray bersamaan. Lalu mereka berdua teringat akan kata-kata Liana ketika menjelaskan tentang mansion ini '…pertama-tama, namaku Liana, putri tunggal pemilik mansion itu…' dan '…sebenarnya pamanku juga menghilang…'. 'Liana adalah anak pemilik mansion ini yang berarti ayahnya… Dan orang ini adalah adik dari pemilik mansion ini… Jangan-jangan dia…' akhirnya mereka berdua sadar dari pikirannya masing-masing dan bertanya "jangan-jangan… Anda adalah pamannya Liana ya?" bapak itu sedikit ragu-ragu untuk menjawab tapi akhirnya bapak itu mengaku "ya, memang benar. Bagaimana kalian bisa tahu?" "tentu saja karena keponakan andalah yang mengirim kami, wizard guild Fairy Tail, kesini untuk membereskan masalah ini" jawab Erza sudah tidak waspada lagi "jika boleh tahu, nama bapak siapa ya?" "nama saya Edward" dan dengan jawaban Edward, yang mengaku sebagai paman Liana, mereka diam tanpa bertanya-tanya lagi…

Mereka bertiga hening selama beberapa waktu sampai Erza memecahkan keheningan dengan bertanya "tapi sesuai cerita yang kudengar, bukankah anda harusnya menghilang di mansion ini setelah terkurung di ruangan ini?" Edward diam sebentar dan menjelaskan bagaimana semua terjadi "begini… Sebenarnya saya memang terkurung disini, tapi sebenarnya saya tidak menghilang…" Edward berhenti sebentar untuk mengambil nafas dan melanjutkan "…anda berdua pasti sudah mendengar dari keponakanku, Liana, bahwa saya berteriak setelah masuk ruangan ini kan?" Tanya Edward kepada Erza dan Gray. Mereka berdua mengangguk dan mempersilakan Edward melanjutkan ceritanya. "Saya berteriak karena tiba-tiba ada seseorang yang membawa saya ke suatu tempat, saat itu kesadaran saya sudah mulai hilang karena orang itu menutup mulut dan hidung saya dengan saputangan yang sudah disemprot dengan parfum menyengat. Tentu saja sebelum kesadaran saya menghilang sepenuhnya, saya mencoba melihat wajah orang yang menculik saya. Tapi saya tidak bisa melihat wajah orang itu karena keadaannya gelap seperti sekarang ini… Dan saya rasa hal yang sama terjadi pada teman perempuanmu, apa saya salah?" "tidak. Lalu apa yang terjadi setelah bapak dibawa oleh seseorang itu?" Tanya Erza cepat ingin segera mengetahui apa yang telah terjadi dengan bapak itu.

"sepertinya kau sudah tidak sabar lagi ya, sabar saja, saya akan menjelaskan hal ini pelan-pelan…" Edward melirik ke arah Erza dan Gray seakan meminta izin untuk melanjutkan ceritanya. Mereka berdua mengangguk dan Edward segera melanjutkan ceritanya "nah, setelah saya dibawa ke suatu tempat, saya membuka mata dan tersadar. Saya berpikir bahwa sepertinya tempat ini adalah ruangan bawah tanah karena terlihat lebih gelap dibanding ruangan atas. Saat saya mau berdiri, saya merasakan tangan saya diikat oleh sesuatu dan ternyata benar, menyadari hal itu sayapun sadar bahwa mulut saya ditutup oleh suatu kain. Saya mencoba melepaskan ikatan tangan saya tapi saya kesusahan, saya beruntung karena ada pecahan kaca yang menempel di dinding dan saya gunakan untuk melepaskan tali yang mengikat lengan saya dan saya berhasil. Begitu ikatan talinya terputus saya langsung membuka ikatan kain yang menutup mulut saya dan langung pergi untuk mencari jalan keluar ke ruangan yang kita tempati saat ini…" "dan anda berhasil menemukan jalan keluar itu?" "tentu saja saya menemukannya! Karena kalau tidak, saya tak mungkin ada disini sekarang" jawab bapak itu sedikit tertawa karena pertanyaan Gray yang sudah jelas itu.

Erza berpikir sebentar dan bertanya kepada Edward "kalau anda sudah menemukan jalan keluar dan sudah sampai disini, kenapa anda tidak keluar saja dari sini dan melaporkan hal ini pada polisi?" "alasannya sederhana, pintu ruangan ini hanya bisa dibuka dari luar dan tidak bisa dibuka dari dalam" "hmm… Kalau memang begitu, kenapa saat kami masuk anda tidak kabur saja?" Tanya Erza lagi dengan tenang tanpa memikirkan jawaban dari Edward barusan. "seperti yang kalian lihat, pintu itu akan langsung tertutup bila ada orang yang sudah memasuki ruangan ini. Kalaupun saya sempat, kalian pasti akan terkejut dan mengejar saya karena mengira saya adalah penjahatnya, bukankah begitu?" Edward menjawab dengan nada pasti atau fakta(Hana tidak tahu harus menyebutnya apa… Tapi anda sekalian mengerti kan?).

"iya, anda memang benar…" jawab Erza sambil tertawa kecil dan lanjut berbicara "…apakah anda masih ingat dimana letak jalan keuar yang anda temukan itu?" "tentu saja saya ingat, baru 3 hari saya menemukan jalan keluar itu. Jalan itu ada di belakang sebuah lemari besar di belakang kalian" jawab Edward menunjuk ke arah lemari besar yang ada di belakang Erza dan Gray. "baik, terima kasih" kata Erza tersenyum, sementara itu reaksi Gray… "hah? 3 hari? Pantas anda terlihat kurus begi- ummph!" sebelum Gray sempat menyelesaikan kalimatnya, Erza sudah menghentikannya duluan dengan menutup mulutnya. "berhentilah mengoceh atau kurobek mulutmu!" Erza mengancam Gray dengan nada menyeramkan dan menatapnya dengan tatapan death glare membuat Gray tidak bisa berkata apa-apa. "ba-baik nyonya Erza…"

Sebelum pergi Erza berkata "Bahaya jika anda ikut dengan tenaga seperti itu dan jika tertangkap lagi sia-sia perjuangan anda. Setelah membereskan masalah disini aku akan segera kembali untuk mengeluarkan anda"Edward hanya tersenyum dan membiarkan mereka berdua pergi. "ayo kita pergi, Gray! Siapa tahu Natsu dan Lucy ada di dalam jalan bawah tanah ini!" "OSH!"

Di tempat Natsu dan Lucy…

"Natsu, sudahlah… Kau pasti capek kan? Sudah 1 jam kamu menggendongku" "tidak masalah, lagipula aku ini kuat kan?" Natsu menjawab dengan nada bangga. "ah dasar kamu ini!" Lucy memukul pundak Natsu tidak terlalu keras sambil tertawa karena candaan Natsu. "oh iya, Lucy…" Natsu memanggil Lucy seakan baru menyadari sesuatu dan direspon oleh Lucy dengan "hm?" "Sepertinya jalan rahasia tadi ada di sekitar sini…" kata Natsu celingak-celinguk mencari jalan rahasia itu. "benarkah? Hmmm… apa lorong yang itu?" Tanya Lucy menunjuk ke sebuah lorong gelap. "wah, benar! Kamu hebat Lucy! Ayo kita ke sana!" "jangan terlalu girang Natsu, itu kan belum ten-" kata-kata Lucy terputus mendengar suara hentakan kaki orang yang berjalan di dalam lorong itu.

Natsu menurunkan Lucy dari gendongannya perlahan dan mendorong Lucy ke belakangnya dengan tangan kirinya yang mengisyaratkan agar Lucy bersembunyi di belakang Natsu, sedangkan tangan kanannya mengeluarkan api seperti sudah bersiap untuk membakar seluruh ruangan yang ada disitu. Api di tangan Natsu semakin membesar ketika ia melihat bayangan 2 orang yang sepertinya perempuan dan laki-laki. Saat kedua orang tersebut mulai menampakkan dirinya, Natsu sudah bersiap melemparkan bola api ke mereka. Sesaat sebelum Natsu melemparkan bola api ke kedua orang itu, salah seorang dari mereka berteriak "Natsu!" membuat Natsu menghentikan serangannya 'eh? Sepertinya aku mengenali suara itu…?' "ini kami, bodoh!" Natsu dan Lucy melihat baik-baik wajah mereka dan… "Erza! Gray!" teriak Lucy berlari kearah mereka diikuti Natsu dari belakang.

"Lucy! Syukurlah kamu selamat!" kata Erza girang dan menarik Lucy untuk memeluknya, dan tentu saja reaksi Lucy… "sakit!" …seperti biasa(mengingat Erza selalu memakai baju besinya). Setelah beberapa menit, mereka saling menceritakan apa yang terjadi saat mereka berpisah dan tentu saja ada banyak pertanyaan di kepala mereka. "jadi… Kamu dibawa ke suatu ruangan dan saat sadar tangan dan mulutmu diikat lalu tiba-tiba ada tangan-tangan yang ingin menangkap kakimu dan setelah itu Natsu menyelamatkanmu dan menggendongmu karena kakimu terkilir sampai kalian bertemu dengan kami?" jelas Erza memastikan apakah ceritanya benar. "ya… begitulah singkatnya" Lucy menjawab sambil mengingat-ingat kejadian tadi.

"sementara itu, kalian bertemu dengan paman dari Liana yang hilang dan diberitahu tentang kejadian-kejadian yang dialami dan diberitahu dimana jalan rahasia itu? Tidak adil! Aku harus mencari-cari dulu jalan rahasianya sedangkan kalian diberitahu!" kata Natsu menggembungkan pipinya dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. "sudah, sudah! Kau jadi terlihat seperti anak kecil kalau begitu!" kata Lucy menenangkan Natsu. "hmph" Lucy tidak menyangka kalau dia akan menurut begitu saja, tapi ya sudahlah…

Mereka tidak sadar kalau mereka dilihati oleh Erza dan Gray sampai akhirnya Gray berkata… "hei, daripada pasangan mesra kalian lebih terlihat seperti ibu dan anak, huaahahaha!" "aku tidak melihat ada yang lucu dengan itu!" protes Natsu dan Lucy bersamaan dengan wajah merah. "hmm? Sepertinya kalian sudah kembali menjadi pasangan biasa!" ejek Gray menggoda mereka. "ka-kami bukan pasangaaan!" "kalau begitu kenapa kalian selalu ngomong bersamaan dan malu-malu bersamaan? Aku melihat ada yang aneh dengan itu" sekarang godaan Gray hamper membuat Natsu dan Lucy meledak karena kesal tapi mereka mencoba menahan amarahnya… "dan lagi Lucy, barusan katanya kamu digendong Natsu karena kakimu terkilir? oh, so sweet" 'teeeeeeeet' kesabaran Natsu dan Lucy sudah habis, sekarang mereka berdua sudah seperti ingin membunuh seseorang. "apalagi katanya kamu digendong ala bride sty- uh?" Gray memutuskan ucapannya ketika ia melihat ada 2 orang yang menatapnya dengan tatapan membunuh. "u-umm… Ampuni aku! Aku cuma bercanda!" Gray memohon ketakutan sambil memundurkan langkahnya, sementara mereka berdua tetap maju tanpa menghiraukan semua omongan Gray. Sekarang mereka berdua sudah membunyikan tinjunya…keras. Erza yang melihat hanya bisa menganga saking kagetnya dan ia berpikir 'Natsu dan Lucy sangat menyeramkan saat sedang marah…' pikirnya sambil sweatdropped(A/N: tak bisa kubayangkan bagaimana ekspresi Gray yang sangat ketakutan dan Erza yang melongo dengan wajah berwarna ungu juga Natsu dan Lucy yang super marah sampai ingin membunuh Gray! Huaahahaha! Hana kejam sekali ya! XD).

Dan begitulah, mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan 2 orang yang sangat puas, 1 orang yang babak belur dan 1 orang yang wajahnya masih berwarna ungu. "u-umm… Kalau begitu bukankah kita lebih baik mengecek tangan-tangan yang kalian sebut itu? Kurasa dibanding mengejar orang yang menculik Lucy, lebih baik kita lihat selokan yang ada di ruangan tempat Lucy dibawa. Kalian bilang saat tangan-tangan itu muncul dan hilang yang ada hanya sebuah selokan yang tempatnya sangat gelap sehingga tidak kelihatan bukan? Siapa tahu selokan itu adalah tempat tangan-tangan itu berasal" Erza mengusulkan. Lucy menjawab "aku sih tidak masalah… Tapi kan tempatnya sangat gelap, bagaimana kita mau mengetahui kalau selokan itu benar-benar tempat tangan-tangan itu berasal?" "fufu… Untuk saat-saat seperti ini aku sudah menyiapkan senter" jawab Erza dengan bangganya. "t-tapi bagaimana caranya kamu membawa senter itu tanpa kantong?" Tanya Lucy heran. "itu tidak penting. Ayo kita pergi!" perintah Erza layaknya seorang bos. 'Erza itu misterius sekali dan sepertinya dia sudah balik ke sisi cool nya… Tapi aku ga mau bilang ah! Bisa-bisa aku dibunuh!' pikir Lucy ketakutan.

Saat mereka sudah sampai ke tempat yang dituju, mereka langsung menuju selokan itu dan menyinarinya dengan senter. Ketika tombol senter nya di-klik, mereka menemukan… "i-ini!"

Wah… Kira-kira apa yang mereka temukan di dalam selokan itu ya…? Jika ingin tahu, tunggu chapter selanjutnya dan tolong di review oke?^^

Erza: oi, kenapa sepertinya baru sekarang peran kami banyak? *death glare…

Gray: setuju! *menyiapkan tinjunya

Hana: t-t-tunggu dulu! Bukankah dari chapter s-sebelumnya peran kalian sudah kubuat lumayan banyak?

Gray: mungkin Erza iya! Tapi aku tidak! Apalagi tadi nasibku sial sekali! Dihajar dan dibuat babak belur oleh Lucy dan si penyihir naga api bodoh itu? Cerita yang bagus sekali author bodoh!

Natsu: siapa yang penyihir naga api bodoh hah? Ngajak berantem!

Gray: kalau iya kenapa? Hah?

Natsu & Gray: grrr…

Lucy: hmm… Sebenarnya aku lumayan suka dengan adegan yang barusan…

Gray: apa? Dengan adegan mu dengan Nat-

Lucy: diam kamu! Atau mau kubuat babak belur lagi! *ekspresi dingin, membunuh, menyeramkan, dan sebagainya…

Gray: ti-tidak, tuan putri Lucy… *ngompol sambil nangis…

Hana: . . . . *tidak berani masuk dalam wilayah amarah Lucy…

Erza: sudah, jangan berantem lagi! Lebih baik kalau kita melakukan 'itu' kan?

Lucy: oh 'itu' ya? Baiklah!

Gray: 1…

Natsu: 2…

Hana: 3!

Hana, Natsu, Lucy, Erza, & Gray: REVIEW PLEASE!:D