Chapter 3 : New Friends
Entah mengapa, aku ingin jam sekolah ini cepat-cepat berakhir.
Aku berjalan menuju lokerku untuk mengambil buku untuk pelajaran selanjutnya. Langkahku mulai melambat ketika melihat seorang cowok bertubuh mungil berdiri bersandar pada lokerku. Cowok mungil itu adalah saudara tiriku – Park Hooyeol. Meskipun kami tidak memiliki hubungan darah. Namun, aku sudah menganggapnya sebagai saudara kandungku sendiri. Hooyeol berdiri canggung dengan kepala tertunduk membuatku mulai menebak-nebak kalau ada yang tidak beres dengannya.
"Hi, Yeol." Sapaku sembari mengacak-acak rambutnya. Hooyeol segera mengangkat kepalanya dan berusaha untuk menarik senyum. Sebuah senyuman getir menghias wajah sendunya. "Waeyo?" Awalnya, Hooyeol hanya terdiam sembari menggelengkan kepalanya. "Ayolah, kau bisa bercerita kepadaku. Memangnya, kau tidak percaya dengan kakakmu ini?" Bujukku lalu memasang wajah sedih.
"Umm," Hooyeol menatapku beberapa saat. Ia terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu. Sebelum akhirnya ia menghela nafas dan aku tahu kalau aktingku berhasil. "tapi tidak di sini, hyung." Ia melirik ke sekelilingnya merasa risih dengan berbagai macam tatapan yang dilemparkan ke arah kami. Meskipun Hooyeol adalah saudaraku, bukan berarti semua orang ikut menyukainya. Mereka suka membicarakan Hooyeol diam-diam. Membisikkan rumor-rumor miring tentangnya yang membuatku marah dan berakhir meninju seorang senior. Hooyeol yang bertubuh mungil, pemalu serta sedikit lemah membuat dirinya mendadak dicap sebagai gay – sama seperti Baekhyun.
Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka yang terkadang begitu mudah menghakimi seseorang. Kenapa mereka bisa begitu mudah memberikan suatu cap kepada seseorang yang lemah hanya karena tampilan fisik serta gaya mereka? Kenapa mereka tidak bisa memberikan cap buruk kepada mereka yang lebih kuat serta yang dianggap sebagai orang-orang populer di lingkungan sekolah?
Aku mengikuti Hooyeol yang menuntunku ke perpustakaan. Aku tidak pernah ke perpustakaan sebelumnya. Jujur saja, aku bukan tipikal orang yang suka membaca. Tetapi, bukan berarti aku tidak tertarik akan pengetahuan yang berada di dalam buku-buku tersebut. Aku lebih suka mendengarkan rangkuman suatu buku dari orang lain ketimbang membacanya.
Ketika kami melewati lapangan, aku dapat melihat tawa serta tatapan sinis dari para atlet sekolah terhadap Hooyeol. Mereka itu tipikal pem-bully dan aku kenal sebagian dari mereka. Ada Junho yang menyeringai di antara beberapa bajingan itu. Jika mereka berani melakukan hal-hal yang dapat melukai Hooyeol, aku tidak akan segan-segan menghabisi mereka.
"Chanyeol-ah, hati-hati dengan saudara tirimu. Kudengar dia sedang menjalin hubungan dengan cowok dari-"
"Jaga mulutmu." Potongku membungkam seluruh atlet di sana. Mereka tahu kalau aku bukan seseorang yang mudah dikalahkan serta memiliki tempramental yang tinggi. Sehingga, ada baiknya kalau mereka meninggalkan kami berdua sebelum ada yang terluka nantinya.
Cowok atlet itu mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. Aku dapat mendengar helaan nafas Hooyeol lalu dia kembali melangkah di depanku. Aku menatap tajam sekumpulan atlet bodoh itu sebelum mengikuti Hooyeol kembali menuju perpustakaan. Ketika kami berada di dalam perpustakaan, Hooyeol berjalan terus hingga berada di pojok perpustakaan seolah ia sengaja ingin bersembunyi di belakang sana.
"Siapa yang mengganggumu kali ini? Beritahu, hyung."
Hooyeol duduk bersila dan bersandar pada salah satu rak buku. Ia memejamkan matanya dan tangannya mengepal erat. Aku dapat melihat ketakutan di dalam matanya ketika ia menatapku. "Tidak ada yang menggangguku, hyung."
"Bullshit!" Aku nyaris berteriak. Karena sungguh kebohongannya kali ini membuatku muak. "Berhenti berpura-pura seperti ini, Yeol. Aku tahu kalau semua omong kosong itu mengganggumu. Kau tahu, aku bisa membersihkan rumor itu-"
"Bagaimana kalau rumor itu benar?" Potong Hooyeol membungkam diriku.
Aku terdiam menatapnya dengan mata membulat. Setengah diriku berpura-pura kalau aku mungkin salah dengar. Namun, setengah diriku yang lainnya.. tidak tahu harus berkomentar apa. Tanpa aku sadari, aku mulai menjauh darinya. Hooyeol menatapku dengan mata berkaca lalu mulai menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis kemudian. "Bagaimana kalau itu benar?" Gumamnya berulang kali membuatku tersadar kalau aku tidak salah dengar. Hooyeol benar-benar..
Aku sadar kalau meskipun selama ini aku tidak pernah menjadi homophobic. Bukan berarti, aku dapat menerima dengan mudah jika ada salah seorang keluarga atau temanku yang tiba-tiba mengaku kalau mereka itu menyukai sesama jenis. Aku tidak pernah menyangka kalau suatu hari nanti Hooyeol akan mengakui hal seperti ini kepadaku. Memang, aku selalu meremehkan dirinya dalam bidang olahraga dan menjadikan sisi maskulinnya sebagai bahan lelucon. Namun, aku tidak pernah sekalipun memikirkan kalau saudara tiriku ini adalah.. gay.
"Kau tetap saudaraku, Yeol. Apapun yang terjadi." Namun, aku tidak memeluknya dan hanya terdiam menatapnya.
Hooyeol menggelengkan kepalanya lalu berkata dengan dinginnya, "Kau yang harusnya berhenti bicara omong kosong seperti ini! Jika kau malu memiliki saudara sepertiku ini, bilang saja! Aku bukan saudara kandungmu juga, kan? Jadi, sekarang kau bisa berhenti melindungiku karena apa yang mereka katakan itu benar!"
Lagi-lagi, aku hanya terdiam menatapnya. Aku tidak bisa membantah dirinya karena jujur saja sebagian dariku tidak bisa menerimanya. Aku tetap menyaanginya dan menganggapnya adikku. Sampai kapanpun, aku akan selalu melindunginya karena itulah kewajibanku. Namun, kali ini.. aku benar-benar bingung harus melakukan apa. Ini bukan soal diriku saja. Melainkan, orangtua kami dan pandangan masyarakat terhadap dirinya. Korea Selatan bukan Amerika Serikat yang begitu liberal terhadap homoseksual serta semacamnya.
"Lebihbaik kau pergi sekarang." Kata Hooyeol lalu ia berkata lebih keras, "Pergi!"
Aku mengikuti kemauannya dan pergi meninggalkan Hooyeol, berusaha keras untuk tidak menoleh ke belakang atau bahkan terlihat kecewa di hadapan teman-temanku nantinya. Aku tidak ingin mereka tahu apa yang terjadi. Bukannya, merasa malu karena memiliki suatu hubungan keluarga dengan Hooyeol atau apalah. Aku.. aku hanya tidak ingin Hooyeol mengalami yang lebih parah dari apa yang dihadapinya sekarang hanya karena orientasi seksualnya. Aku tidak ingin melihat adik kecilku menangis dan melihat teror di dalam matanya. Aku hanya ingin dia bahagia. Dan jika pilihannya kali ini dapat membuatnya bahagia, aku akan belajar untuk menerimanya.
Hooyeol tetap adikku. Apapun yang terjadi.
Selama jam pelajaran, aku sama sekali tidak bisa fokus. Aku menghiraukan pandangan penasaran dari teman-temanku dan memilih untuk menyindiri ketika jam istirahat. Dan entah aku sadar atau tidak, kaki ini membawaku ke ruang aula. Kali ini, aku tidak menemukan Baekhyun di sana. Entah mengapa, aku merasa sedikit kecewa tanpa alasan yang jelas.
Aku berjalan memasuki ruang aula dan duduk di atas panggung. Menerawang jauh ke sebrang ruangan, memikirkan berbagai macam hal yang seharusnya tidak kupikirkan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapan orangtua kami ketika mengetahui kalau Hooyeol ternyata gay. Selama ini, Hooyeol dan diriku selalu mencari alasan untuk menutupi rasa penasaran mereka setiap kali Hooyeol pulang dengan luka baru entah di wajah atau tubuhnya. Ibu terlihat mulai curiga dengan alasan kami yang semakin janggal. Tetapi, aku tahu ibuku bukan tipe orang yang pengadu sehingga ia lebih memilih untuk memendam rasa curiganya untuk dirinya sendiri.
Seandainya, Hooyeol mengaku kepada salah satu diantara orangtua kami. Aku yakin ayahnya lah yang paling kecewa. Ibu pasti tetap akan menerimanya karena dia adalah wanita yang penyayang.
Aku mendengar suara nyanyian dari arah pintu ruangan. Baekhyun berjalan masuk ke dalam ruangan hendak menuju panggung. Namun, ketika melihat diriku sedang duduk menatapnya di atas panggung. Dia berhenti melangkah dan menatapku dengan tatapan takut serta bingung. Keningku mengerut melihat reaksinya. Apa aku terlihat begitu mengintimidasi dimatanya? Aku tidak mau dia menyamakanku dengan para cowok populer bodoh yang suka menindas seseorang tanpa alasan yang jelas atau hanya demi kesenangan mereka. Aku.. mungkin lebihbaik daripada cowok-cowok idiot itu.
"Um, hai?" Baekhyun terlihat canggung di bawah sana. Aku mengulum senyum dan mengangguk kepadanya. "Kau tidak keberatan kan kalau aku-"
"ini tempat bebas jadi tentu saja boleh." Potongku membuatnya mengangguk lalu berjalan menaiki tangga panggung. Dia duduk di sebelahku dan sebelum dia kembali bertanya aku langsung menjawabnya, "Boleh, kau boleh duduk di sini."
Baekhyun melempar senyumnya padaku dan kami terdiam cukup lama. Aku tidak tahu apa yang Baekhyun lakukan di sampingku. Entah mengapa, aku tidak berani menatapnya atau memulai percakapan dengannya. Jadi, aku memilih untuk diam saja dan menikmati keheningan ini. Jarang sekali aku menemukan keheningan semacam ini, mengingat seperti apa teman-temanku dan lingkungan sekitarku di sekolah. Aku yakin setelah semua ini berakhir. Aku akan merindukan keheningan ini.
"Kau berbeda dari yang lainnya." Gumam Baekhyun membuatku langsung beralih menatapnya. Baekhyun yang sedang mengayun-anyunkan kakinya menunduk beberapa saat sebelum dia beralih menatapku dan tersenyum. "Kau tidak merasa jijik duduk di sampingku?"
Keningku kembali mengerut. Pertanyaannya terdengar amat bodoh, menurutku. "Kenapa aku harus jijik denganmu?" Tanyaku.
Baekhyun menyipitkan kedua matanya seolah sedang mencari sesuatu di dalam mataku. Aku hanya terdiam menatapnya sampai dia berhenti menatapku seperti itu. "Kau pasti dengan rumor yang beredar di sekolah, bukan? Kata mereka aku gay dan menyukaimu." Baekhyun terlihat takut dan mulai bergeser menjauh dariku. Dia pikir aku akan meninjunya? Aku berusaha menahan senyumku. Namun, sayangnya aku tidak bisa.
"Aku tidak percaya rumor." Walaupun, terkadang ada beberapa rumor yang ternyata benar. Contohnya saja.. rumor tentang Hooyeol. Aku menarik nafas berusaha menjernihkan pikiranku. Aku tidak mau terdengar kecewa kepada Hooyeol. Bagaimanapun juga, itu adalah keputusannya. Dan jika itu membuatnya bahagia, maka itu seharusnya bukan suatu masalah bagiku.
"Baguslah kalau begitu." Baekhyun menghela nafas lalu memejamkan matanya. "Karena aku bukan gay atau bahkan menyukaimu. Terkadang, aku suka tidak mengerti dengan penilaian mereka yang hanya didasari oleh fisik dan sisi subjektif mereka saja. Bisa tidak mereka mulai menilai dari sisi objektif atau setidaknya urusi saja hidup mereka sendiri dan berhenti mengacaukan hidup seseorang? Kenapa kehidupan sekolah ini terkadang lebih kejam daripada dunia sebenarnya?"
Aku hanya tertegun menatapnya. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanya yang aku yakin dia sendiri pun tidak mengharapkan seseorang menjawabnya. Baekhyun menundukkan kepalanya dan aku pikir dia sedang berusaha menyembunyikan tangisnya. Namun, ketika dia mengangkat wajahnya dan aku melihat matanya. Aku hanya dapat melihat kemarahan di dalamnya.
"Aku tidak pernah punya teman sebelumnya. Itu bukan karena aku aneh atau menyebalkan. Hanya saja.. aku memang terlahir canggung seperti ini. Aku tidak bisa beradaptasi dengan mudah di lingkunganku. Aku selalu takut atau mungkin merasa malu setiap kali harus berkenalan dengan orang baru." Jelas Baekhyun. Matanya menerawang jauh ke sebrang ruangan. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Mungkin, potongan-potongan memori akan masa lalunya. Lagi-lagi, aku hanya bisa terdiam menatapnya. "Bagaimana denganmu? Kau lebih terlihat seperti tipe pendiam yang-"
"Aku memang orang yang pendiam sebenarnya." Potongku membuat Baekhyun terdiam. Ia mulai menggeser dirinya lebih dekat padaku. Dia menunggu kelanjutan ceritaku. Tetapi, sayangnya aku bukan tipe orang yang mudah membuka diri. "Umm, bagaimana kalau kita bolos sekarang? Ayo, kita ke rumahmu." Ujarku berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku tahu kalau Baekhyun menyadarinya. Baekhyun terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia mengangguk.
"Aku yakin pasti ibuku merasa bangga karena akhirnya aku membawa pulang seorang teman." Gumam Baekhyun ketika kami berjalan menuju pagar belakang sekolah.
"Memangnya kita berteman?" Godaku membuat wajah Baekhyun berubah. Ia kembali terlihat takut kepadaku dan aku membencinya setiap ia menatapku seperti itu. "Aku bercanda. Tetapi, ada baiknya kalau kau memintaku secara resmi untuk menjadi temanmu." Godaku lagi dan kali ini ada senyum kecil di sudut bibirnya.
"Oke. Kalau begitu, Park Chanyeol, maukah kau menjadi teman pertamaku?"
Tanpa keraguan, aku mengangguk. "Tentu saja aku mau, Byun Baekhyun."
.
.
Rumah Baekhyun tidak begitu jauh dari sekolah. Sehingga, kami hanya perlu jalan kaki saja. Sepanjang perjalanan, Baekhyun dan diriku terus membicarakan berbagai hal dari yang kami sukai sampai hal paling aneh yang entah bagaimana bisa kami bicarakan. Aku menemukan banyak kesamaan pada diri Baekhyun. Dia suka memainkan berbagai macam game horor seperti Outlast dan The Last Of Us – dua game favoritku. Dia tergila-gila dengan serial TV American Horor Story – serial favoritku. Hanya selera musik kami saja yang berbeda jauh. Baekhyun menyukai Lana Del Rey dengan segala lagu depresinya dan aku menyukai band rock semacam My Chemical Romance dan Panic! At The Disco.
"Kau suka SNSD?" Tanyaku ketika kami sampai di pekarangan rumah Baekhyun.
Baekhyun langsung mengangguk lalu menggembok kembali pintu pagar rumahnya. "Taeyeon."
"Yuri, Yoona, Tiffany, Jessica."
"Kau hanya boleh punya satu bias, Chanyeol!"
Aku mendengus keras, "Siapa yang membuat aturan semacam itu?"
Baekhyun menyeringai lalu berkata, "Aku!"
Baekhyun berjalan mendahuluiku dan aku hanya mengikutinya dari belakang. Bahkan sampai kami berada di dalam rumah, aku tidak berhenti mengikutinya. Aku tidak melihat ayah Baekhyun sehingga aku dapat merasa lega entah mengapa. Baekhyun mengajakku ke dapur untuk menemui ibunya. Lagi-lagi, aku hanya bisa mengikutinya. "Ibu aku pulang. Dan oh, ini Chanyeol!" Sebelum wanita paruh baya itu menanyakan kenapa anaknya pulang begitu cepat, matanya langsung berbinar ketika melihat diriku yang berdiri canggung di belakang Baekhyun.
"Hai, Chanyeol! Kau teman baru, Baekhyun?"
"Ya, bisa dibilang begitu." Aku tersenyum ramah kepadanya. Wanita itu mengingatkanku pada ibuku di rumah. Meskipun, aku memiliki banyak "teman" di sekolah. Sesungguhnya, aku tidak pernah mengajak mereka ke rumah. Orangtuaku mengetahui reputasiku lewat Hooyeol yang entah mengapa selalu membanggakanku di rumah.
"Um, aku dan Chanyeol akan mengerjakan tugas kami di atas. Kalau sudah waktunya makan siang, panggil aku!" Ujar Baekhyun lalu balik berjalan menuju tangga yang letaknya berada di sebrang dapur. Di samping tangga ada tembok pembatas yang membatasi dapur dengan ruang tamu atau keluarga. Aku melempar senyum terakhir kepada ibu Baekhyun yang tidak bisa menutupi kebahagian di dalam dirinya.
Ketika kami berada di kamar Baekhyun dan Baekhyun mengunci pintunya, aku memberanikan diri untuk bertanya. "Apa sebelumnya kau tidak punya teman sama sekali?" Wajah ceria Baekhyun langsung meredup. Ia berdiri canggung di hadapanku dan kemudian mengangguk pelan. "Maaf, kalau pertanyaanku meng-"
"Tidak apa kok." Baekhyun sudut bibir dengan kedua jarinya menunjukkan sebuah senyuman. "Lihat, aku tidak apa-apa kan?" Dia berbicara dengan tidak jelas membuatku tertawa kecil dan tanpa sengaja, mataku beralih pada tangannya.
Dan aku melihat luka goresan yang berbaris tidak jauh dari pergelangan tangannya itu.
.
.
Rin's note :
I'M SO SORRY FOR THIS SHORT CHAP! Next, sekitar tanggal 3 Januari aku bakal update dan dijamin lebih panjang dari ini! Because my father come home and I can use his laptop! Horeeee
Anyways, thanks for all your support.. until this moment, aku nggak pernah self harm lagi! Karena well aku mulai bisa ngendaliin emosiku ke hal-hal lain. Dan aku harap siapapun yang punya 'how to handling emotion' issue like me.. bisa mulai belajar untuk cari cara bagaimana cara mengalihkan emosi kita ke hal-hal lain yang mungkin bisa menguntungkan kita dan bukannya malah merugikan kita..
Umm, kemarin ada yang nanya soal Lana Del Rey itu addict nggak sih sama hal-hal berbau suicide?
Aku pernah baca artikelnya kalau memang itu genre music Lana. Kayak kebanyakan lagunya itu sad and mellow song kayak Young & Beautiful. Nggak semuanya tentang suicide cuma yah gaya dia kan kayak vintage-vintage gitu terus lirik lagu dia kan puitis-puitis pake perumpaan gimana gitu ya.. soo, memang mungkin itu genre musiknya aja. Dia milih buat bikin lagu yang dark song gitu. Tapi, kalau memang karena ada faktor lain.. aku kurang tahu juga deh. (Btw, suara dia memang rada bikin merinding gimana gtiu saking bagusnya. Jadi, entah kenapa mendukung aja kalau nyanyi lagu buat depressed person lol)
P.S Cuma pesan aja, kalau kalian ngerasa depresi atau tertekan about something in your life. Mendingan sharing deh ke orang terdekat atau orang yang pernah ngalamin dan tahu bagaimana ngatasinnya. Karena kadang kalau kita ngomong ke orang yang sama sekali nggak tahu rasanya depresi itu gimana, mereka cuma bakal pura-pura ngerti dan hanya bisa nenangin kita tanpa bisa kasih solusi. Karena pada intinya, They don't understand what we're feeling now.
