—How Crazy Your Love—
Author: Rin
Chapter: EPILOGUE
Disclaimer: All casts is belong to themselves.
Rated: T, only for this chapter.
Pair: ZhouRy (Zhou Mi – Henry), slight YeKyu, SiWook.
.
Warning: AU, YAOI, OOC, Crack Pair, GS for Ryeowook, NO-NC just drama ^^
.
Genre: Romance – Crime
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Untuk Twin yang—ngakunya—kece, padahal nggak. ._.
.
.
Zhou Mi melangkahkan kakinya perlahan, memasuki pekarangan sebuah rumah berukuran sedang. Rumpun yang dibentuk layaknya sebuah pagar itu membuatnya tidak harus mengetuk pagarnya. Namja berambut merah itu sesekali memandangi keadaan rumah itu. Sepi, mungkin karena ini sudah hampir malam.
Ia tidak habis pikir. Kenapa dua orang itu memilih untuk tinggal di tempat sekecil ini? Yah, tidak terlalu kecil sih, tapi untuk ukuran seorang namja yang merupakan seorang direktur utama sebuah perusahaan ternama, bukankah ini terlalu... sederhana? Rumah ini biasa saja, tapi entah kenapa memberikan rasa nyaman baginya—bahkan hanya dengan melihat pekarangannya saja.
Zhou Mi berdiri tepat di depan pintu, sedikit ragu untuk menekan bel yang ada di samping kanannya. Ia ragu, sedikit terpikir apakah keputusannya ini benar atau salah. Ia butuh seseorang untuk diajak bicara mengenai apa yang—menurutnya—salah pada dirinya. Yesung bukan orang yang dirasanya tepat, sekalipun ia tahu kalau namja yang lebih tua darinya itu mungkin bisa jadi pendengar—sekaligus pemberi saran—yang baik. Tapi yang ia butuhkan adalah seseorang yang juga bisa mengerti dirinya dalam banyak hal mengenai ini.
Mengenai dirinya... dan juga Henry.
Dan yeoja itu adalah satu-satunya orang yang bisa melakukannya—walaupun hingga kini ia sendiri tidak pernah mau mendengarkan apa yang selalu dikatakannya.
Ting tong.
Pada akhirnya, diam justru tidak akan membawanya pada apapun. Hanya memberanikan diri untuk menekan bel pintu bahkan lebih berat dibandingkan dengan menyuruh seseorang untuk membunuh beberapa orang sekaligus. Menggelikan bukan?
Cklek.
Suara pintu terbuka, dan seorang yeoja muncul di baliknya. Masih sama seperti sebelumnya, saat pertemuan terakhir mereka dulu, tepatnya ketika hari pernikahan yeoja ini dengan namja yang kini menjadi suaminya. Hanya yang membedakannya mungkin tanpa setelan formal yang biasa dikenakannya ketika ia bekerja padanya atau gaun putih ketika hari pernikahannya.
"Ah... Zhou-sajangnim...?"
Zhou Mi sedikit terkekeh. Bahkan cara memanggilnya pun masih sama. Tidakkah ia ingat kalau dirinya itu bukan sekretarisnya lagi? "Berhenti memanggilku seperti itu, Ryeowook-ssi, aku sudah bukan atasanmu lagi..."
"Dan berhenti memanggilku seformal itu. Anda tahu, usia kita bahkan hanya terpaut satu tahun dan anda membuatnya jadi terlihat kalau usia kita terpaut belasan tahun..."
.
.
.
Keduanya terduduk, di sofa yang ada di ruang tamu. Agak berhadapan, dengan Zhou Mi yang malah menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. Dua cangkir teh tergeletak manis di hadapan keduanya.
Ryeowook menghela nafasnya. Sudah lima belas menit mereka tenggelam dalam keheningan. Kelihatannya Zhou Mi tak ada niat sedikit pun untuk membuka mulutnya, sekedar mengatakan apa tujuannya kemari.
"Apa aku orang yang menyebalkan?"
Yeoja berwajah manis itu mengerjap, beberapa kali, sedikit tidak percaya dengan apa yang tertangkap oleh indera pendengarannya. "Kau mau aku jawab jujur atau tidak?"
"Terserah..."
Ryeowook memutar matanya. Jawaban seenaknya seperti biasa. "Kau menyebalkan, puas?"
Zhou Mi sedikit menarik sudut bibirnya. Tatapannya fokus pada rangkaian bunga di atas meja. "Kau benar, aku memang menyebalkan... wajar saja kalau dia malah membenciku kan..."
"Ah..." Ryeowook sadar kemana ini berlanjut. Ia diam, tak ingin menginterupsi apapun, dan Zhou Mi tidak terganggu akan hal itu.
"Kalau dia kulepaskan... bagaimana?" Zhou Mi sedikit menyapukan pandangannya. Rumah ini benar-benar terasa nyaman. Dindingnya yang berwarna soft-cream, ditambah dengan beberapa rangkaian lavender dan primrose di beberapa sudut ruang tamu sedikit memberikan ketenangan. Tapi tetap saja... tidak bisa menghentikan kekalutannya.
"Kau bicara seperti kau bisa melakukannya saja..." Ryeowook menatap miris mantan atasannya itu, "aku pernah bilang kan, kalian saling mencintai, lalu apa?"
"Dia membenciku."
"Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyangkalnya."
"Kalau begitu, menurutmu bagaimana?" Zhou Mi menatap Ryeowook. Yeoja itu hanya menghela nafasnya.
"Aku tidak bisa memberimu saran apapun, karena itu pasti hanya bersifat teoritis... kalian terlalu... berbeda..."
"Aku tahu..."
Ryeowook diam. Ingin sekali rasanya ia bisa mengatakan sesuatu yang berguna. Tapi ia bingung. Hubungan kedua orang ini berbeda, walau bukan hubungan yang tidak mungkin terjadi. Cinta yang didasari oleh benci, dan cinta yang didasari oleh obsesi bukan hal yang indah sebenarnya.
"Sekalipun Henry-ah membencimu, tapi rasa cintanya jauh lebih besar kurasa..."
"Apa?"
"Ini hanya pendapatku saja, tapi… kalau dia benar membencimu, pasti sejak awal dia sudah berusaha untuk kabur kan?"
Zhou Mi diam. Ia memang sempat kepikiran soal itu, tapi ia berusaha untuk mengabaikannya. Itu masuk akal, tapi bisa jadi sangat mustahil. Henry membencinya dan itu adalah satu-satunya hal yang ia yakini—hanya itu saja.
"Sajangnim… pulanglah, kurasa tidak baik meninggalkannya sendiri…"
.
.
.
Zhou Mi melajukan mobilnya perlahan. Iris gelapnya menatap kosong jalanan yang agak sepi. Pembicaraannya tadi dengan mantan bawahannya itu—walau tak ingin ia akui—masih membekas dalam ingatannya. Satu kesimpulan yang bisa ia dapat dari ucapan Ryeowook adalah… ia harus berubah.
Masalahnya adalah… apa ia bisa?
Kembali kepada realita, itu semuanya sudah terlanjur terjadi.
Kalau saja ia tidak pernah bertemu dengannya lalu mencintainya. Kalau saja ia memilih kata hatinya untuk melupakan anak itu ketika ia sadar kalau ia mulai mencintainya.
Itu hanya pengandaian. Nyatanya semua terjadi kebalikannya. Kalaupun pengandaian itu benar-benar terjadi, apa ia juga bisa menjamin kalau itu tidak akan berakhir sama? Atau mungkin malah lebih buruk lagi?
Zhou Mi memegangi pelipisnya. Ia bahkan baru memikirkan hal itu sekarang. Bukankah itu sudah sangat terlambat? Semuanya sudah terlanjur terjadi, lalu?
"Hhh…"
Ia berhenti, menepikan mobilnya di pinggiran jalan yang benar-benar sepi. Hanya ada satu-dua mobil yang lewat. Hari sudah gelap, dan lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan. Ia sendiri. Secara konotasi, ia memang sendiri—sejak awal.
Pulang?
Atau tidak?
Lebih baik menghilang? Atau bagaimana?
Zhou Mi menggeleng. Benar apa yang dikatakan oleh Ryeowook. Pergi dan melepas Henry adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tidak akan pernah bisa ia lakukan. Itu sama saja seperti membuang setengah bagian dirinya—dan jelas, itu sama saja dengan mati. Atau mati mungkin saja jauh lebih baik…
"Jadi bagaimana?"
.
.
.
Yesung menatap namja di hadapannya dengan malas. Sedikit merasa terganggu karena menginterupsi kegiatannya menghukum Kyuhyun—ah, ia meninggalkannya di rumah dalam keadaan naked, terikat dan holenya yang dimasuki oleh vibrator, sedikit menyiksanya tidak masalah kan?
"Sejak awal kau yang memulainya, lalu apa?"
Zhou Mi mendengus kesal. Harusnya ia tidak meminta Yesung untuk menemuinya, apalagi dalam keadaan orang ini yang sedang badmood, itu hanya akan merusak suasana.
"Tinggal katakan kau mencintainya, dan selesai."
Zhou Mi mengerang. "Kalau bisa semudah itu, aku tidak akan kemari memintamu untuk menemuiku."
Saat ini keduanya ada di salah satu café kecil yang ada di dekat apartemen Zhou Mi. Entahlah, rasanya ia ingin saja meminta pendapat orang ini, walau ia tahu kalau itu mungkin sebenarnya sia-sia…
Yesung segera beranjak. "Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Harusnya kau lebih tahu apa yang harus kau lakukan. Toh anak itu tidak pernah punya keinginan untuk pergi darimu kan?"
Dan setelah kalimat itu, namja berambut hitam itu langsung menghilang dari hadapannya.
"Tidak pernah ya… apa itu benar?"
.
.
.
Zhou Mi melangkahkah kakinya masuk ke dalam apartemen. Sepi dan gelap. Harusnya Henry masih ada di sini, tapi kalau masih tertidur rasanya agak mustahil. Setidaknya, anak itu harusnya sudah bangun tepat ketika ia pergi tadi. Tapi… entahlah…
Ia berjalan ke arah dapur. Mungkin dengan minum atau sekalian saja makan, itu bisa sedikit menenangkan pikirannya.
"Eh?"
Langkahnya terhenti, ketika didapatinya sosok kekasihnya itu kini tengah tertidur di atas meja makan. Sejak tadi kah?
Zhou Mi menarik nafasnya. Mungkin tidak ada salahnya untuk mencoba. Setidaknya itu tidak akan membuatnya mati kan? Walau mungkin saja anak ini tidak akan menerimanya semudah itu…
Namja bertubuh tinggi itu melangkahkan kakinya mendekati meja. Diam sesaat, ia sedikit menggeser kursi yang digunakan oleh Henry dengan gerakan sehalus mungkin, berusaha untuk tidak membangunkannya. Ia menyelipkan salah satu tangannya di bagian belakang lutut Henry lalu mengangkat tubuhnya perlahan.
"Huft…"
Tidak seberat yang ia pikirkan. Atau memang sebenarnya berat tubuhnya terus mengalami penurunan?
Zhou Mi berjalan ke kamar mereka, melupakan tujuannya ke dapur. Anak ini jauh lebih penting dibandingkan dengan hal sepele semacam itu.
Ia menurunkan Henry di atas ranjang mereka, lalu menyelimuti tubuhnya. Entah dalam keadaan sadar atau tidak, namja yang lebih muda darinya itu langsung menggerakkan tubuhnya pelan, menyamankan posisi tidurnya. Melihat hal itu, tanpa bisa dicegah seulas senyum tipis terlihat di wajahnya. Zhou Mi membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Henry. Ia mengusap pelan rambut anak itu, lalu mencium dahinya dengan lembut—untuk pertama kalinya.
"Jaljayo… wo ai ni…"
Mungkin tidak ada salahnya kalau ia memulai semuanya dari awal lagi…
.
.
.
Five Years Later
"Aish… ini bahkan sudah lebih dari kata terlambat…" Namja berpipi chubby itu merengut kesal sambil menatap ke arah luar. Mobil melaju dengan kecepatan normal—dan itu dikarenakan pengemudinya yang, entah sengaja atau tidak, tetap mengemudikannya dengan kecepatan yang statis.
"Sabar sedikit. Lagipula kita datang terlambat atau tidak juga tidak berpengaruh apa-apa…"
Ia memutar matanya. Yang benar saja…
Iris gelapnya beralih ke luar. Langit musim semi yang sangat cerah—ah, by the way, ini bukan Korea sebenarnya. Ini Paris.
"Gege…"
"Hm?"
"Kenapa mengundurkan diri?"
Namja yang mengemudikan mobil itu diam. Iris gelapnya masih fokus pada jalanan, walau perhatiannya tertuju pada hal lain. Surai kemerahannya sedikit berantakan ketika angin dengan sengaja masuk melalui celah-celah kecil yang terbuka.
"Menikmati hidup kurasa…"
Plak.
"Yaak! Apa yang kau lakukan, mochi sangar?"
"Itu bukan jawaban, gege…" Ia memilih untuk mengabaikan teriakan itu.
"Aku serius. Terlalu lama berada di perusahaan itu aku benar-benar bisa gila nantinya…"
Ia diam.
Mobil berhenti. Lampu merah dengan sedikit kemacetan gara-gara kecelakaan kecil. Ini indikasi bahwa mereka benar-benar akan terlambat menghadiri upacara pernikahan dua orang itu.
Yesung dan Kyuhyun.
Kedua orang itu benar-benar akan menikah hari ini. Lalu mereka sendiri?
"Gege…" Suara itu lagi.
"Wae?"
"Ng… aniya."
"Hah?"
"Lupakan."
Ia mengerutkan alisnya. Ada yang aneh dengan anak ini, dan ia tidak tahu apa.
Mobil benar-benar tidak melaju lagi. Kali ini macet total.
"Henly~"
"Hm—"
Belum sempat ia menjawab, bibirnya telah lebih dulu membungkam miliknya. Tak menunggu waktu lama, hingga ia pun turut tenggelam dalam ciuman itu. Berharap saja semoga tidak ada yang melihat ke dalam mobil mereka.
.
.
"Bagaimana kalau kita menikah hari ini juga?"
"Mwo!?"
.
.
Beberapa hal ada yang berubah ataupun statis. Tapi memulai segalanya dari awal, jelas adalah perubahan yang bagus. Jauh lebih baik, karena tidak akan ada tangis lagi yang terlihat—
—semoga saja.
.
END
.
a/n ada beberapa alasan kenapa saya bikin epilog ini dan tanpa NC. Tapi intinya saya ingin mereka gak berakhir tragis. ;) Apa yang terjadi dalam waktu lima tahun itu silakan tebak dan bayangkan sendiri ya~ xD
Saya hiatus bikin ff NC selama puasa ya, kecuali kalau saya lagi gak puasa. :D Atau mungkin bisa saya publish tengah malem… xD *plak
No sekuel ya, otak saya ntar mesti mikir lagi. xD Saya sekarang fokus buat ff requestan ya… :D kalau mau request juga boleh. xD tapi usahain crack pair~ *plak
Sekian dari saya~ See You~
.
BEST REGARDS
—RiN—
.
