Hungry Duck's Bar. California, United States.
Gadis itu sedikit terdiam. Ia menaikkan alis saat pemandangan dihadapannya entah kenapa.. sangat asing untuk tempat-tempat clubbing yang selalu dirinya masuki. Sakura melirikkan mata kearah Shikamaru, yang masih dengan wajah malasnya dan kedua tangan berada di dadanya.
"Jangan menatapku seperti itu," Shikamaru berbisik, tapi tidak melirik Sakura. "Kau yakin Naruto ada disini, hah?"
Sakura menyeringai tipis. "Tentu, instingku tak pernah salah."
Suasana disana tidaklah seperti klab-klab malam yang biasa Sakura lihat maupun kunjungi. Disana tidak ada suara musik hardcore yang dapat memekikkan telinga, disana juga tidak ada lampu diskotik yang bisa membutakan mata.
Suasananya tenang. Sepi.
Ruangan itu hanya diisi dengan meja bundar dengan empat kursi mengelilinginya. Dan semuanya hampir sudah terisi oleh beberapa pria yang kini duduk berhadapan.
Dan matanya tak lupa menjelajah.
Dia mengincar pria Uzumaki itu.
Shikamaru hanya bisa menghela nafas saat Sakura kembali menyeringai. Apa benar wanita itu polisi? Kalau benar dia adalah polisi resmi yang dikirimkan oleh Tsunade untuknya, mengapa di mata Shikamaru... gadis itu masih terbilang muda. Tubuhnya tidak tinggi semampai, badannya pendek, serta wajah bersih kinclong seperti itu bukanlah wajah-wajah seseorang yang pernah bertempur dengan para penjahat, 'kan?
Shikamaru sedikit tersentak saat para pengunjung disana tiba-tiba menoleh—menatap mereka yang masih di ambang pintu masuk klab. Pria dengan rambut nanas itu melirik Sakura, yang masih saja tersenyum ramah kepada manusia-manusia yang memelototi mereka berdua-Sakura lebih tepatnya.
Gadis berambut merah muda itu sama sekali tidak menyadari dengan tatapan lapar para pria disana.
Dengan rasa angkuh yang sedikit menguar, Sakura melangkahkan kakinya ke pojok ruangan, dimana disana masih ada tempat untuk para pengunjung. Tanpa basa-basi pula, Shikamaru mengikutinya dari belakang, namun matanya masih mengawasi orang-orang yang memandangi Sakura dengan tatapan siap menerkam.
Saat Shikamaru sudah duduk berhadapan dengan Sakura, pria itu memajukan wajahnya, memelototi Sakura yang baru saja mengambil sebuah novel dari saku bajunya. "Bisa kau memakai pakaian yang lebih sopan? Kau mengundang para pria hidung belang yang ada disini!"
"Eh?" Dan dengan wajah polosnya pula, Sakura memiringkan wajah. "Sorry. Mantelku ketinggalan di mobil."
Shikamaru memutar bola mata. "Kau benar-benar ingin menjerumuskan dirimu ke kandang serigala, ya?"
Sakura tersenyum kecil, dia tidak menanggapi perkataan Shikamaru yang agak puitis itu. Ia lebih memilih membaca novelnya dengan suasana damai sejahtera, dan menghiraukan tatapan heran Shikamaru yang ingin meminta penjelasan.
"Kenapa kau bersantai begitu? Seharusnya kau cari pemuda Uzumaki itu, Sakura!"
"Geez, bisa kau santai sedikit?"
Shikamaru menggeram pelan. "Aku tidak bisa bersantai kalau ada seorang istri yang menungguku di rumah, kau memaksaku datang kesini 'kan? Jadi cepat selesaikan masalahmu dan antar aku pulang!"
Sakura menghela nafas bosan, dengan rasa kesal dan tidak enak ia memasukkan kembali novel favoritnya ke dalam saku. Ia bertopang dagu, menatap Shikamaru yang kini bersandar di kursinya.
"Arah jam dua."
Perkataan Sakura membuat Shikamaru langsung menoleh ke arah yang tertuju. Dan pria itu menangkap seorang pria berambut pirang sedang menyeringai ke arah mereka, dan mengedip genit pada Sakura.
"Lihat? Simpel, 'kan?"
Shikamaru menutup mata—sedikit frustasi. "Kau benar-benar jenius untuk memikat hati seorang pria."
Sakura tersenyum lebar. "Kuanggap itu sebagai pujian."
Gadis berambut softpink itu bertopang dagu, menatap Uzumaki Naruto yang ada di ujung sana, sedang memandangi area tubuh dan wajahnya. Mereka saling bertatapan, hingga pria blonde itu dengan bahasa tubuhnya—menyuruh Sakura untuk duduk di mejanya.
Dan Sakura mengerti semua itu.
"Shika, kau tunggu disini."
"Kau mau kemana?"
Sakura mengedip ke arah Shikamaru, "Menjalankan misi."
Shikamaru mengikuti langkah gadis itu, dan terkejutlah ia saat Sakura sudah ada di hadapan Naruto. Pria itu tampak bahagia saat gadis imut nan mempesona seperti Sakura telah menghampirinya.
"Hei," Naruto bertopang dagu, menatap Sakura dengan pandangan genit. "What's your name, milady?"
"Hm?" Sakura tersenyum manis, ia mengarahkan tangannya kepada Naruto. "Haruno Sakura, sir."
"Uzumaki Naruto." Naruto menjabat tangan Sakura, dan di kesempatan inilah, pria muda itu sedikit mengelus dan menggenggam tangan putih milik gadis itu.
.
.
GANGSTER SQUAD
Naruto by Masashi Kishimoto
Tales of Gangster Squad by Paul Lieberman
Gangster Squad by stillewolfie
Rated M
[ Uchiha Sasuke & Haruno Sakura ]
Crime/Drama
OOC, AU, typo(s), etc.
.
.
Everything to get...
.
.
"Kau pendatang baru?"
Sakura mengangguk. "Iya."
Naruto pun menyeringai, tangannya mulai mengeluarkan sesuatu di saku, membuat Sakura meliriknya dengan sedikit curiga.
Sekotak kartu remi tergeletak manis di atas meja.
"Kita bertaruh."
"Eh?" Sakura pura-pura memiringkan wajah-bingung. "Apa maksudnya, sir?"
"Kau bisa main poker, 'kan?" Sakura mengangguk, Naruto tersenyum penuh arti. "Kalau aku menang.. kau harus ikut denganku."
Sakura terdiam sesaat. Hening. Ia hanya menatap Naruto dengan kedua iris emerald yang membesar. Namun dia belum berkata apa-apa. Apa yang dikatakan Naruto barusan membuatnya mengerti. Pria itu menyuruh dirinya untuk ikut dengannya, 'kan? Pasti ada yang diinginkan oleh lelaki itu dari Sakura.
Dan ia tahu apa maksudnya.
'Such a pervert..'
"Okay, tapi kalau kau kalah—" Sakura tersenyum, ia bertopang dagu, menatap Naruto dengan pandangan penuh arti. "—kau harus ikut denganku. Deal?"
Disinilah dimulai—
Naruto tersenyum lebar. "Deal."
—pria dengan rambut blonde itu telah menggali lubang kuburnya sendiri.
.
.
Segelas red wine tidak membuat hati Shikamaru tenang. Ia terus saja memelototi sebuah meja yang telah terisi oleh Sakura dengan seorang pria yang bernama Uzumaki Naruto itu. Pria muda itu hampir saja menepuk jidatnya saat Naruto mulai mengeluarkan satu pak kartu kepada Sakura, kemudian dua manusia itu kembali berbincang. Entahlah bicarakan apa, dari jarak yang membentang membuat Shikamaru tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan.
Meskipun tidak pernah bertemu, Shikamaru tahu tentang desas-desus dari sang Uzumaki. Pria dengan rambut blonde itu bisa dibilang.. seorang pecandu wanita dan satu-satunya orang yang pernah dekat dengan Uchiha Sasuke. Yang jelas Naruto itu memang sedikit berbahaya. Shikamaru sering melihat dirinya dikejar-kejar oleh sekelompok pria berjas hitam dan berkelahi di jalan raya. Reputasinya buruk. Dan Shikamaru sudah berkali-kali berharap untuk tidak berhubungan dengan pria seperti Naruto.
Tapi apa daya jika Sakura memilih pria itu sebagai anggota ketiga? Shikamaru tahu kalau gadis itu memang gila. Hanya saja, kenapa di setiap jutaan orang hebat di kota ini.. mengapa harus Naruto?
Apa karena Naruto lah mantan sahabat dari target mereka?
Shikamaru memijit keningnya.
Ia berdoa saja semoga kelompok ini tidak akan membuatnya kerepotan ke depannya.
.
.
~ gangster squad ~
.
.
Dengan percaya diri Naruto membagikan kartu pada Sakura. Masing-masing memiliki dua belas kartu. Naruto dan Sakura sama-sama mengambil kartu mereka, dan menyusun kartu tersebut sesuai dengan kriteria.
Saat melihat kartu yang ada di tangannya, Naruto sedikit menyeringai senang. Sesuai harapan, kartunya lumayan untuk dirinya yang sudah ahli dalam permainan poker. Sedangkan Sakura hanya mengerjap, lalu memasang poker face andalannya.
Salah satu peraturan untuk bermain poker adalah.. lawan tidak boleh mengetahui kartu yang ada di tangan kita. Sebagus apapun, sejelek apapun, tetaplah kita tidak boleh memberitahu mereka melewati 'bahasa' wajah, 'kan?
"Kartu apa yang kau inginkan, Naruto sir?"
"Tiga wajik." Naruto menjawab.
Sakura segera melemparkan kartu itu di tengah-tengah meja.
Saat Naruto sudah siap mengeluarkan kartu balasan, Sakura tiba-tiba langsung mengeluarkan tiga hati, empat keriting, lima hati dan enam waru, membuat Naruto mengernyitkan alis pada Sakura.
"Straight. Sekarang giliranmu, tuan."
"Kau mengeluarkan set kartu?"
'Gunakan otak kalau bermain. Dasar bodoh...'
Sakura terkikik kecil. "Tidak boleh ya?"
Naruto mengernyit tajam. Ia segera mengeluarkan lima wajik, enam wajik, delapan wajik, dan sembilan hati ke tengah permainan. Membuat Sakura melotot tak percaya, kemudian gadis itu kembali menghela nafas.
'Hanya untuk straight dia mengeluarkan deret kartu?' Sakura tertawa dalam hati. 'Sudah kubilang, gunakan otakmu kalau bermain, Naruto..'
Sakura segera mengeluarkan flush keriting yang terdiri dari tiga, empat, dan sepuluh jack dan ace, membuat Naruto melotot tak percaya. Lelaki itu sedikit berdesis, lalu melirik kartunya yang tersisa.
'Dia mengeluarkan flush, aku tidak bisa keluarkan straight queen waru-ku. Fuck!'
Sakura terdiam, menunggu Naruto untuk kembali melempar kartu. Tapi lelaki itu diam saja, lalu melirik Sakura dengan tatapan kesal. Dan hal itu membuat Sakura tersenyum lebar.
Sakura kembali melempar beberapa buah kartu di meja. Kartu tiga hati dan tiga waru. Two of kind.
'Dia mengeluarkan kartu rendah seperti two of kind di tengah-tengah permainan? Apa yang sebenarnya wanita ini pikirkan!?'
Naruto dengan tampang heran mengeluarkan sembilan wajik dan sembilan waru, disusul dengan Sakura yang mengeluarkan kartu queen wajik dan queen waru. Naruto yang ingin mengeluarkan kartu tiba-tiba berjengit saat Sakura mengeluarkan kartu setinggi queen untuk two of kind.
"Kau tidak rugi mengeluarkan kartu sebagus itu untuk two of kind, Ms. Sakura?"
"Maaf," Sudah kubilang gunakan otakmu dalam bermain! "Dalam permainan poker harus ada strategi 'kan, Tn. Uzumaki?"
Naruto menatapnya dengan seringaian. Kemudian terkekeh, padahal dalam hati dirinya menyumpah-nyumpahi jalang yang ada di hadapannya itu. "Kau benar. Kurasa kau sudah ahli dalam poker, heh?"
"Tidak juga," Sakura mengangkat bahu—cuek. "Aku jarang bermain poker, karena kurasa benda ini—" Sakura menunjuk kartunya, "—hanya digunakan dalam hal-hal yang tidak berguna, judi misalnya." Gadis itu kemudian tertawa. "Tapi aku tidak menyangka kalau poker can be used for fun."
Naruto terdiam kemudian tertawa juga. Lelaki itu tidak bodoh. Pasti dari perkataan perempuan itu tadi Naruto yakin kalau Sakura menyindirnya secara tidak langsung! Apa-apaan?
"So, pass?"
Naruto melirk kartu Sakura yang terakhir, kemudian dengan berat hati ia berkata, "... pass."
Sakura segera menyingkirkan tumpukan kartu tersebut dan kembali memulai babak baru. Dengan percaya diri ia mengeluarkan kartu lima waru di atas meja.
Naruto terdiam, kemudian ia berdecak kesal.
Dan dengan terpaksa pula pria bermarga Uzumaki itu mengeluarkan kartu sembilan keriting miliknya. Sebenarnya dia ingin menggunakan kartu tersebut untuk deret straight, hanya saja... Naruto merasa malu kalau dirinya terus-terusan saja pass di depan Sakura.
Padahal dia yang memulai taruhan, terus kenapa dia yang kini posisinya telah terancam?
'Shit!'
Hening. Sekarang Naruto lah yang menunggu Sakura untuk mengeluarkan kartunya, tapi tetap saja gadis itu diam saja, hanya menatap tumpukan kartu di depan mereka dengan pandangan datar. Ia melirik sebentar kartunya, lalu senyuman tipis terulas kembali di bibirnya.
Di tangannya masih ada enam kartu, dan otak Sakura mulai berpikir keras.
"Ada apa?" Naruto yang merasakan kejanggalan Sakura, bersuara. "Pass? Kalau begitu—"
"Tidak.." Sakura dengan cepat menyela. Ia segera menjatuhkan kartunya tepat di atas kartu sembilan keriting milik Naruto. Tiba-tiba, sepasang iris shappire itu terkejut bukan main.
Kartu dua waru. Poker card.
"A-APA!?" Naruto ternganga, "Hanya sembilan keriting kau rela mengeluarkan poker card!? Oh c'mon!"
"Tn. Uzumaki, dalam permainan poker harus menggunakan otak loh," Dengan rasa percaya diri, Sakura meletakkan jari telunjuknya ke pelipis kepala. "Otak itu untuk berpikir, jadi sebelum bermain, gunakanlah otakmu untuk menciptakan taktik."
Naruto menggeram. "Kau menyindirku?"
Sakura terkikik. "Maybe?"
'Jalang sialan...'
Sakura segera menyingkirkan tumpukan kartu tersebut dan bergabung ke tumpukan lainnya. Sakura kembali menang dalam dua babak, dan itu memberikan peluang untuk taruhan mereka tadi.
Sakura harus mendapatkan Naruto... apapun caranya.
.
.
Melihat ekspresi terkejut Naruto tadi, membuat Shikamaru yang sedari tadi menonton menyimpulkan kalau Sakura melakukan sesuatu diluar nalar mereka. Pria itu dengan malas menopang dagunya dan menatap kedua manusia itu dengan pandangan mengantuk.
Ini sudah pukul satu malam, tapi tetap saja urusan Sakura belum saja selesai. Gadis itu malah asyik bermain kartu dengan Naruto. Shikamaru tahu, mereka berdua telah memasang taruhan. Entah taruhan apa, yang jelas taruhan tersebut bisa menjadikan Naruto sebagai anggota kelompok mereka.
Dan Shikamaru sangat menyayangkan Naruto. Pria blonde itu telah salah memilih lawan bermainnya.
"Semoga saja kau tidak membuat masalah, Sakura..."
.
.
Meskipun baru berusia 19 tahun, Sakura sudah mengetahui seluk-beluk dalam permainan poker. Jujur saja, ia jarang bermain kartu, karena menurutnya itu hanya akan menghambur-hamburkan uang saja—tidak memberi keuntungan pula. Namun ia pernah melihat teman-teman kampusnya bermain poker, maka dari situlah otaknya mulai bekerja. Ia menggunakan otaknya dengan baik, sehingga bisa menciptakan taktik khusus yang dapat memudahkannya untuk mencapai kemenangan.
Sakura kembali mengawali babak baru. Ia mengeluarkan enam keriting.
'See? Dia saja mengeluarkan kartu lemah seperti enam keriting? Sedangkan tadi? Poker card!? Fucking bitch!'
Baru saja Naruto mau mengeluarkan kartunya, Sakura sudah mengeluarkan enam hati.
Two of kind.
"Two of kind?" Naruto segera mengeluarkan delapan wajik dan delapan waru. Di tangannya masih ada tiga buah kartu jack.
Naruto merasa tertantang melawan Sakura kali ini.
Sakura mengeluarkan delapan wajik dan delapan waru, lalu disusul oleh Naruto lima wajik dan lima keriting. Gadis itu mengernyit, kemudian melirik kartunya yang tersisa.
Dia tidak punya two of kind lagi...
"... pass." Sakura berkata datar.
Naruto menyeringai puas. Segera ia menyingkirkan tumpukan tersebut dan memulai babak baru.
Akhirnya, Naruto menang satu babak juga...
Pria Uzumaki itu dengan percaya diri mengeluarkan kartu ace hati dan ace waru di hadapan Sakura, membuat perempuan bersurai softpink itu terkejut.
"Apa kau tidak merasa rugi mengeluarkan kartu setinggi itu, tuan?" Jika Naruto tadi yang bertanya, maka sekarang Sakura lah yang bertanya. Hei! Ini baru awal babak baru, jadi untuk apa menggunakan kartu ace sebagai pembuka? Apa tidak aneh?
'Seharusnya kartu setinggi itu digunakan di saat yang terdesak. Dasar pirang bodoh...'
Sakura tidak membalasnya, membuat Naruto kembali menyeringai licik. Ia menyingkirkan kartu ace-nya dan lagi-lagi menjadi pembuka babak baru. Pria berambut pirang itu kembali mengeluarkan tiga kartu dari tangan miliknya.
Jack hati, waru, dan wajik.
Three of kind.
Sebuah pilihan yang cukup langka bagi Sakura, tapi itu tidak membuatnya mundur, berkata pass saja tidak. Ia menatap Naruto yang masih berseringai penuh kemenangan, seolah-olah dirinya lah yang akan memenangkan babak ini. Namun tetap saja gadis bermata emerald bening itu hanya bengong sembari memandangi tiga kartu miliknya.
Kemudian ia menghela nafas. "Sudah kubilang, Tn. Uzumaki..." dengan suara lirihan, Sakura berkata, "Kalau bermain itu harus menggunakan taktik."
Dan dengan begitu, Sakura mengeluarkan seluruh kartunya yang tersisa—sisa tiga, tepatnya.
King keriting, waru, dan hati.
Three of kind.
Iris biru shappire itu melebar tak percaya. Dan saat melihat tangan Sakura sudah tidak terisi oleh kartu apapun, membuat dirinya tahu kalau Naruto.. kalah.
Dia kalah melawan seorang perempuan.
"Baiklah, aku menang." Sakura tertawa pelan, karena melihat wajah Naruto yang membatu—itu tidak ternilaikan. "Sesuai perjanjian... kau harus ikut denganku."
"Cih! Memang kau ada urusan apa denganku?" Bukan dengan suara genit nan lembut yang Naruto berikan, malahan ucapan sarkastis dan dingin seperti biasa.
Bukannya malah heran, Sakura hanya menyeringai ke arah Naruto, membuat pria itu mengernyitkan alis bingung. "Kau akan tahu kalau kau ikut denganku, Uzumaki Naruto."
.
.
~ gangster squad ~
.
.
Olvera street. Los Angeles, United States.
BRAKH! PRANK!
Suara tendangan dari tong sampah itu amat sangat terdengar di gang kecil di daerah terpencil kota Angels tersebut. Saat melihat aksi tadi, Haruno Sakura hanya bisa menghela nafas sambil melipat kedua tangannya. Ia memiringkan kepala, menatap Uzumaki Naruto yang ada di hadapannya yang kali ini telah mengamuk.
"Kau ingin aku ikut dengamu.. untuk memberantas si Uchiha itu? HA!" Naruto tertawa keras. "You just a bitch! Memang kau siapa sampai bisa menantang Uchiha itu, hah!?"
"Bukan siapa-siapa," Dengan santai Sakura menjawab. "Aku hanya ingin melakukan tindakan, apa itu salah?"
"SALAH!" Naruto menjawabnya dengan nada tinggi. "Kau tidak tahu apa yang telah kau lakukan!"
"Aku tahu apa yang kulakukan," Sakura mendesis pelan. "Aku sudah memikirkannya dengan baik. Maka dari itu, aku memintamu untuk bergabung denganku!"
"Sudah kuperingatkan, perbuatanmu itu salah.. salah total! Lebih baik urusi hal yang lain daripada kau mengurus si brengsek itu! Lupakan! Aku menolak!" Naruto dengan gusar melewati Sakura yang ada di hadapannya, namun langkahnya terhenti saat sudah ada Shikamaru yang menghalangi jalannya.
"Siapa dia? Pengikutmu, heh?"
"Bisa dibilang begitu," Shikamaru lah yang menjawab, "Pikirkan dengan kepala dingin Naruto, ini adalah peluangmu untuk kembali menyadarkan Sasuke."
"Jangan seolah-olah kau tahu tentangku, brengsek!" Naruto meneriaki Shikamaru dan mendorongnya menjauh. "Sudah! Aku mau pulang, jangan harap—"
Grep.
Pegangan kencang di bahunya membuat Naruto sontak menoleh, ia mengernyit tajam saat Sakura dengan kurang ajarnya memegang bahunya dengan kencang. Pria itu menggeram dan menepis tangan kecil itu, namun hal tersebut tidak membuat Sakura mundur. Gadis itu langsung berlari dan menghalangi jalan depan gang kecil itu—menghalangi Naruto untuk pergi.
Naruto berdecak. "Menyingkir dari sana! Kau membuatku muak, Haruno!"
"Tidak sebelum kau menerima tawaranku!" Shikamaru mengutuk kekeraskepalaan Sakura. "Aku tidak akan pergi sebelum kau bergabung denganku, Naruto!"
Naruto mendesis, ia melirik ke belakang tubuhnya, dimana ada Shikamaru yang berjaga—melarang Naruto untuk pergi dari jalur belakang—sambil menatap pria itu dengan tajam.
"Kenapa harus aku, hah? Kenapa tidak yang lain saja!? Asal kau tahu, aku ini bodoh!"
"Lalu apa? Meski kau bodoh, kau adalah orang terdekat si Uchiha, Naruto!"
"Oh? Jadi kau menginginkanku sebagai saksi, begitu?"
Sakura mengangguk, "Benar."
"Kutolak." Naruto dengan nada mengancam, mengeluarkan sebuah belati dari balik sakunya. "Pergi atau aku akan melakukan kekerasan padamu."
Sakura menatap Naruto tajam. Namun ada seringan kecil menghiasi bibirnya. "Silahkan," Sakura melipat kedua tangannya di dada. "Lakukan apa yang kau bisa, Uzumaki."
Well, ini bisa dibilang untuk melihat kekuatan Naruto yang sebenarnya.
Sejauh apa yang dia bisa, heh?
Melihat Sakura yang ada di hadapannya, Naruto jadi ragu-ragu juga. Masalahnya adalah; Sakura itu perempuan. Naruto itu 'kan lelaki sejati, jadi tidak mungkin 'kan dirinya harus rela melukai seorang wanita hanya untuk jalan masuk gang? Tidak, 'kan? Tapi tetap saja, gadis itu meminta dirinya untuk bergabung dengan kelompok tak jelas miliknya, dan jika dirinya ikut, maka secara langsung Naruto akan kembali berhadapan dengan seorang pria brengsek bernama Uchiha Sasuke.
Tidak, dia tidak mau.
Dan maka dari itulah, Sakura hanya mengernyitkan dahi saat Naruto kembali memasukkan pisau belatinya. Lalu ia berjalan menuju Sakura dengan tangan kosong. Mereka berdua telah berhadapan.
"Minggir."
"Tidak."
"Minggir bocah!"
"Tidak sebelum kau—"
"CUKUP!"
Naruto sudah mau melemparkan tinjunya ke arah Sakura, namun dengan sigap gadis itu menghindarinya dan menggenggam erat tangan Naruto. Pria itu menggeram, segera lelaki itu memutar tubuhnya dan berniat menendang gadis berusia 19 tahun itu dengan kakinya. Namun tetap saja; bisa dihindari dengan mudah.
"Jangan menganggap remeh seorang wanita, Tn. Uzumaki."
BUAKH!
Dengan telak tinju manis dari Sakura terkena ke pipi Naruto, membuat pria pirang itu tersentak dan mulutnya mengeluarkan darah. Ia terjatuh di aspal yang dingin dengan posisi telungkup. Sakura menyeringai kejam, dengan rasa tidak berdosa dia menginjakkan kakinya tepat di kepala Naruto. Gadis itu dengan senyum terpatri di wajahnya, semakin menekan kekuatan injakannya hingga membuat Naruto meringis kesakitan.
"—Gh! L-Lepaskan aku, j-jalang sialan!"
"Kau yang memaksaku untuk melakukan ini 'kan? Akan kulepaskan kalau kau mau ikut denganku!"
"Sampai mati pun aku tidak akan mau menurutimu!"
"Oh ya?"
"H-Hei, Sakura..." Setelah lama tak bersuara, akhirnya Shikamaru menginterupsi. "Kalau dia tidak mau biarkan saja! Kau bisa mencari yang lain, 'kan?"
"Tidak," Dengan suara dingin, Sakura membalas. "Aku sudah terlanjur menyukainya. Dia punya skill yang bagus."
"Tapi—"
Shikamaru menghentikan ucapannya saat Naruto kembali berteriak keras saat Sakura semakin menekan tekanan kekuatannya di kepala Naruto. Pria dengan marga Uzumaki itu meringis. Kepalanya serasa mau pecah, pusing, dan matanya pun berkunang-kunang.
Kenapa dia bisa bertekuk lutut pada Sakura hanya karena satu tinjuan saja?
"JALANG! KAU SAMA SAJA DENGAN SASUKE! KALIAN SAMA-SAMA BRENG—"
DOR!
"Jangan samakan aku dengannya!" Naruto melotot tajam pada Sakura yang ada di hadapannya.
"Memang apa susahnya kalau kau ingin bergabung denganku, Uzumaki? Aku tahu segalanya tentangmu.." Dengan kasar Sakura menarik jaket hitam yang dipakai oleh Naruto—menyuruhnya untuk berdiri. "Kau adalah mantan sahabat Uchiha Sasuke, yang dihianati hanya karena harta semu. Ya 'kan?"
Naruto menutup kedua matanya. Ia terlalu pusing hanya untuk menatap Sakura. "Tidak, bukan itu.."
"... atau karena Hyuuga Hinata diambil darimu?"
Perkataan itu sontak membuat mata Naruto kembali terbuka sepenuhnya. Ia menatap Sakura yang menyeringai penuh kemenangan. "Am i right, sir?" ucap perempuan itu.
"D-Darimana... darimana kau tahu semua itu!?" Naruto menggenggam tangan Sakura kasar dan menepisnya dari kerah jaketnya. "Apa hubunganmu dengan Hinata!?"
Sakura tersenyum. "Sudah kubilang, aku tahu semuanya tentangmu, Uzumaki Naruto." Gadis berambut softpink itu bersuara. "Jadi bagaimana? Kau bisa menyelamatkan Ms. Hyuuga dari cengkraman si Uchiha itu.. kalau kau bergabung denganku. Well, kau tahu apa maksudku, 'kan?"
Sakura dengan santai menyimpan revolver kesayangannya itu kembali di saku rok. Ia menatap Naruto yang terdiam sambil menatapnya dengan pandangan menginterogasi.
Tangan Naruto terkepal erat. Matanya tertutup rapat.
'Hinata...'
Pikirannya kembali terlempar ke masa lalu saat dirinya masih menjalin hubungan dengan Hyuuga Hinata, gadis keturunan Asia yang merupakan anak dari pimpinan perusahaan ternama yang cukup berpengaruh di kota bisnis seperti Los Angeles. Awalnya, mereka hidup bersama dengan bahagia...
... saat bencana itu mulai terjadi.
Uchiha Sasuke—sahabatnya pada saat itu—dikabarkan telah membantai seluruh keluarga Hyuuga. Entah karena apa, namun hal itu berkaitan dengan Hyuuga Neji—kakaknya Hinata—berani menentang keputusan sang Uchiha mengenai uang negara yang diambil secara besar-besaran oleh pria berambut raven itu. Dan pada saat malamnya, Neji telah tergeletak tak berdaya dengan penuh percikan darah di lantai apartemennya.
Lalu seminggu kemudian, kini keluarga besar Hyuuga kembali terkena imbasnya. Seluruh orang yang ada di mansion Hyuuga itu tewas tak tersisa. Semuanya dibunuh oleh pembunuh bayaran kiriman Uchiha Sasuke. Namun saat itulah Sasuke dan Hinata bertemu, akhirnya pria itu dengan senang hati mengampuni nyawa Hinata. Tapi dengan satu syarat—
—Hinata harus menjadi geisha miliknya.
"Bagaimana? Masih mau menolak?"
Sakura tahu, dirinya itu licik. Ia memaksa Naruto untuk bergabung dengannya dengan cara memanipulasi keberadaan kekasihnya yang sebenarnya memang berada di tangan Sasuke. Tapi inilah satu-satunya jalan. Toh, kalau semuanya berjalan lancar, semuanya akan selamat 'kan? Baik Naruto maupun Hinata, pasti semuanya akan baik-baik saja ke depannya.
Ini semua demi masa depan mereka semua.
"Sakura," Shikamaru berjalan dan berhenti di samping Sakura, "Apa ini tidak berlebihan? Kau—"
"Baiklah," Dengan suara berat, setelah keheningan Naruto akhirnya bersuara. "Beritahu rencanamu, Haruno."
Shikamaru terdiam. Sakura tersenyum kecil.
"Bagus," Sakura berbalik, berjalan di depan kedua pemuda yang berjalan di belakangnya. "Kau akan tahu setelah kita menemukan anggota berikutnya, Naruto."
'Sabaku Gaara...'
.
.
~ gangster squad ~
.
.
Uchiha's Basement, Mansion Uchiha. Los Angeles, United States.
"GAH! AAARGH!"
CTAR! CTAR! CTAR!
Tali tambang itu terus mengenai tubuhnya, membuat punggungny merasakan betapa perihnya rasa sakit yang diakibatkan oleh benda tersebut. Matanya saja sampai mengeluarkan air mata. Ia tidak bisa melawan, karena kedua tangannya pun sudah diikat dengan tali yang sama. Yang dilihat hanyalah gelap, tidak ada apa-apa, yang dirasakan hanyalah sakit, sakit, dan sakit.
Posisinya sekarang sudah terikat di sebuah tiang dengan mata dilapisi dengan kain berwarna hitam.
CTAR!
"AAAARGH!"
Lolongan itu saja bahkan bisa terdengar sampai lantai atas. Nafasnya memburu. Dia lelah. Dia ingin segera pergi dari sini.
Pria itu lelah. Lelah dengan semua kebohongan ini.
Ruangan itu gelap, dan sedikit berbau tidak sedap. Di seluruh sudut ruangan terdapat berbagai organ vital makhluk hidup disejejerkan hingga menyerupai sesuatu yang cukup mengerikan. Terutama manusia. Hati, paru-paru, bola mata, ginjal, bahkan jantung pun ada. Anggota gerak dengan berbagai ukuran dibuat secara terpisah. Lengan, sepasang telapak kaki dengan berbagai ukuran itu merupakan organ-organ manusia yang pernah menjadi korban dari pembantaian besar-besaran seluruh penentang yang pernah melawan Uchiha Sasuke.
Tawa yang amat familiar itu kembali terdengar. Membuat si korban menggeram kesal. Punggung, tenggorokan, dan kepalanya sakit karena terus aktif selama ia tinggal di basement terkutuk itu.
"BRENGSEK KAU, UCHIHA!"
Kembali tawa itu terdengar, namun disusul dengan suara gaduh di depan sana. Inuzuka Kiba menggigit bibir bawahnya, mengutuk dirinya sendiri karena sudah mengatakan hal tabu tersebut di hadapan sang Uchiha.
"Tn. Inuzuka.. apa bekerja di kepolisian itu membuat kehilangan akal sehatmu?" Langkahnya begitu pelan, namun secara bersamaan merupakan ancaman. "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan, hn?"
Dengan nafas putus-putus Kiba membalasnya dengan desisan. "L-Lakukan! Lakukan apapun yang kau mau, AKU TIDAK MAU MENURUTI PERINTAHMU LAGI! KAU BRENGSEK!"
"Begitu?" Bukannya marah, Sasuke berjalan mendekat dan memegang dagu Kiba. "Apa kau tidak puas dengan semua yang kuberikan? Harta? Uang? Wanita? Semuanya sudah kuberikan padamu, 'kan?"
"S-Se-Semua itu tidak kubutuhkan. Yang kuinginkan kau mundur dari usaha ini dan keluar dari organisasi busukmu ini!"
Sasuke mendengus pelan, ia segera lepaskan cengkramannya dari Kiba. Dan menoleh, menatap anak buahnya yang berdiri sambil membawa tongkat baseball di tangannya.
"Berikan padaku." Satu perintah itu membuat sang anak buah langsung sigap memberikannya untuk sang majikan. Sasuke memainkan tongkat tersebut dengan tangan. Lalu ia memandangi Kiba yang sudah awut-awutan.
"Bagian mana yang kau inginkan hancur terlebih dulu, Inuzuka?"
Kiba—yang masih bingung apa maksud perkataa tersebut—menggertakkan gigi. "Bicara lah yang—"
BUAGH!
"Kuanggap itu sebagai kepala."
BUAGH!
Kiba diam saja. Toh, dengan keadaan terikat seperti ini, dirinya tetap tidak bisa melawan. Jadi dia hanya meringis saat merasakan pening luar biasa di kepalanya. Darah pun sudah berkali-kali mengucur di bibir serta daerah pelipisnya. Tapi tetap saja, Sasuke tidak puas dengan semua hal itu—dia ingin Kiba mati perlahan-lahan.
BUAGH! BUAGH! BUAGH!
"Jadi, katakan padaku. Siapa dalang dibalik semua ini?"
"A-Aku tidak akan mengatakannya padamu—"
BUAGH!
"Apa alasanmu menghianatiku, hn?"
"S-Sudah kubilang 'kan—" Kiba terengah, kesadarannya mulai menipis. "—aku ini penghianat, jadi lebih baik aku mati daripada membocorkan semuanya p-padamu..."
"Baiklah,"—BUAGH!—"Akan kuturuti permintaanmu, pecundang."
Dan di detik itu jugalah, teriakan itu semakin terdengar nyaring di mansion Uchiha. Entahlah apa yang dilakukan oleh Sasuke, yang jelas perlakuan tersebut bisa membuat nyawa Kiba sudah ada di ujung tanduk.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
buat poker no komen deh ya, soaln'na aku juga agak-agak nyontek ama internet, hahaha. Nda pernah maen sih soalnya, kata papa itu dilarang :3 #buagh
.
.
SPECIAL THANKS TO
Anggunyu, hotaru, Shana Kozumi, Whitemour, ruleson, kevinlegnard, adora13, Mizuira Kumiko, Aika Yuki-chan, miyoko via, Sukakamu, Ah Rin, Little pinky mouse, Fitri-Chan, Naya Aditya, Febri Feven, chi, ravenpink, A-kun, sudoerarekndapblekputrakeramat, Guest
.
.
Quest's
Bete sama fictnya, banyak SasuHina. Haha iyaa terserah saja. Seneng kalo authornya bilang ini SasuSaku, bukan SasuHina. Iya :') SasuSaku-nya ketemunya masih lama? Iya, Gaara ama Sai belum muncul. Kamu nggak bermaksud bikin Sasuke sama Hinata jadi couple 'kan? Ini SasuSaku loh. Genrenya gak ada romance, nggak papa deh kalo SasuSaku nggak bersatu. Haha liat aja nanti yaa. Saku keren. Thanks lah. Kangen suara cipratan darah sama tembak-tembakan. Bagian itu kayaknya di chap depan deh ya. :) Pengen liat dark-mistery-nya. Ga ada misteri disini. Scene pertarungannya dibuat lebih rumit lagi ya. Kuusahain di chap depan. Sasuke seksi. Dari sononya udah seksi :p Kenapa milih Hinata jadi wanita penghibur Sasuke? Nanti dijelasin lebih detail di kedepannya. Nanti kalo udah ketemu semua, mereka bakal serbu Sasuke? Iya. Shika temennya Saku sejak kapan? Sejak Shika memutuskan buat kerjasama. Aku berharap lebih. Doakan bisa ya. Entah kenapa aku menantikan kedatangan Gaara. Iya aku jugaa :" Soal Hinata nggak kupermasalahin. Thanks ya. :') #hugs Jangan patah semangat hanya karna kehilangan satu reader, maju terus ya. Wah, makasih banyak! Iya, aku berjuang terus kok! :") Liat konflik ini jadi keinget kotomiya rei. Ha? Apaan tu? Nanti ada yang mati nggak? Sasuke atau Sakura? :)
.
.
Terima kasih sudah membaca!
Mind to Review?
