4. Doubt and Confuse

Keesokan harinya, Hinata masih dalam keadaan yang kusut. Rambut si indigo yang biasanya tertata rapi dengan poni sejajar yang ada diatas matanya tak lagi terlihat seperti itu. Hinata tau sebenarnya ini bukanlah hal yang harus di pusingkan sampai-sampai menyisakan lingkar hitam bagai mata panda di matanya yang indah itu. Lagi-lagi ia tak bisa tidur. Beruntung ia tak terlambat untuk kedua kalinya.

Kata-kata "Aku akan bergabung dengan klub senimu" selalu terngiang saat Hinata mencoba untuk tidur. Sebenarnya Hinata adalah orang yang ramah kepada siapapun. Ia akan menyambut orang-orang yang ingin bergabung ke klub nya. Hinata juga sebenarnya tak ambil pusing karena Minami ingin bergabung ke klubnya. Tapi.. yang Hinata pikirkan adalah bagaimana caranya bersikap kepada Minami saat dia sudah mengetahui bahwa Minami adalah teman masa kecil dan sekaligus mengaku sebagai tunangan orang yang ia cintai.

"Yoooo Hinata… ada apa lagi dengan mu? Akhir-akhir ini sepertinya tak cukup tidur ya?" sapa Ino yang membuat Hinata menjadi tambah Badmood. "Sudahlah tolong jauhi aku hari ini sepertinya aku hanya ingin tidur" dengan cueknya ia melewati Ino. Belum sampai ia ke meja nya lagi-lagi ada saja orang yang membuatnya kesal.

"Yang benar saja seorang Hinata mengatakan ingin tidur di kelas? Sepertinya kisahmu menjadi semakin rumit ya sampai-sampai membuat mu seperti ini… dan lihat seperti nya ada seseorang yang menaruh sesuatu di mejamu daaaan itu pasti diaa kan" Hinata yang tidak mengerti apa yang Sakura bicarakan hanya menatap polos si rambut merah muda itu.

"Jika keadaanku sudah lebih baik akan aku ceritakan sakura. Sekarang biarkan aku duduk" dari jauh terlihat bunga berwarna ungu tergeletak di meja Hinata. "Siapa yang mengirim ini?"

"Yaaa jelas si pangeran mu itu kan" Sakura tak mempedulikan mood Hinata pagi ini.

Hinata duduk dan mendapati surat di kolong mejanya. Sebaris kata tertulis 'Aku pasti akan mendapat jawaban iya darimu dalam 3 hari ini Hinata' ya begitulah isi suratnya. Dan itu hanya membuat Hinata tersenyum.

-0-

"Kira-kira apa Hinata sudah menerima bunga dariku ya?" terlihat kecemasan di wajah si rambut pirang. Naruto tak sabar melihat bagaimana reaksi Hinata saat menemukan hadiah untuknya nanti. Naruto bergegas keluar kelas untuk melihat apakah pujaannya itu sudah melihat pemberiannya. "hey mau kemana kau jagoan sebentar lagi bel berbunyi" Shikamaru merasa pusing setelah bertabrakan dengan Naruto. Tapi si rambut nanas hanya menghiraukannya saja. "ah paling-paling Hinata. Dasar si Naruto itu"

Naruto sampai di depan kelas Hinata. Senyum terkembang di bibir Naruto karena sesuai harapannya. Ia melihat Hinata tersenyum sambil mencium bunga ungunya. "Yosshh sepertinya ia senang" hanya itu. Ya setelah nya Naruto lekas kembali ke kelasnya. "Ada apa denganmu pirang?"

"Sepertinya Hinata menyukai bunga pemberianku" Shikamaru yang mendengar hal itu hanya tersenyum.

-0-

"Rasanya aku tak ingin ke perpustakaan hari ini" ucap Hinata pada dirinya sendiri. Langkah kaki gontai seakan tak tau arah tujuan dan membuat kecelakaan kecil di depan tangga kelas 3. BRUKK! "Duh… merepotkan tolong gunakan matamu saat berjalan" si pria yang di tabrak bangun dari posisinya. Hinata hanya meminta maaf sambil menunduk. "Eh kau Hinata rupanya.. ada apa denganmu baru kali ini aku melihatmu seperti ini" Hinata menggeleng, ternyata orang yang ditabrak adalah Shikamaru. Hinata hanya menjawab tidak apa-apa. "Aku mau ke kantin, apa kau sudah makan siang. Mungkin kita bisa makan siang bersama hari ini"

Hinata tidak terlalu suka keramaian jadi mereka makan di bangku taman dekat gedung olahraga. "Jadi, apa kau ada masalah dengan Naruto?" Hinata terbelalak. Shikamaru memang orang yang to the point. Sambil memakan rotinya Shikamaru terlihat sangat santai. "Ah tidak… hanya saja aku sangat bingung bagaimana harus menghadapi Minami sedangkan aku tau kenyataannya dia adalah teman masa kecil Naruto."

"Kau tau terkadang seseorang tak selalu ingin berhubungan dengan orang yang ada di masa lalu melainkan orang yang muncul di hidupnya tanpa sengaja" Shikamaru berhenti sejenak. "Harusnya kau tak perlu pusing memikirkannya bersikaplah seperti biasa anggap ia temanmu dan walaupun kau menganggapnya rival, kau harus bersaing sehat dengan nya. Tapi aku yakin kau sudah tau bagaimana akhir dari kisahmu ini karena kau pasti merasakannya kan" lanjutnya.

"Aah.. aku tak mengerti apa yang kau bicarakan Shikamaru" sandwhich yang Hinata pegang bahkan belum di buka nya. "Baiklah sepertinya aku harus pergi Hinata. Kau pasti bisa! lagipula Minami adalah gadis yang baik" Hinata tersenyum dan mengangguk.

Dari lantai 3, Naruto melihat Shikamaru berbincang dengan Hinata. Naruto tidak tau bagaimana harus mengartikan ekspresi wajah Hinata. Sedangkan Minami yang dari tadi berada di samping Naruto berusaha untuk menyuapkan nasi ke mulut Naruto. Tapi jelas saja di tolaknya. Itu membuat Minami murung. Minami sebenarnya tau bahwa Naruto tak menginginkannya. Tapi selama Naruto belum ada ikatan dengan Hinata, ia masih bisa berharap. "Yosshh aku akan berusaha untuk mendapatkannya dan dekat seperti dulu" ungkap Minami,

-0-

Ruang klub seni,

Mulai hari ini Uehara Minami akan bergabung bersama kita. Hinata sebagai ketua klub memperkenalkannya "Mohon bantuannya yaa" ucap riang Minami. 'aku harus tenang, aku harus bersikap biasa terhadap Minami' ucap Hinata dalam hati. "Hari in kita akan membicarakan mengenai lomba yang sudah kita bicarakan kemarin. Aku akan mengirim 2 kelompok ke dalam lomba ini dengan masing-masing kelompok 3 orang." Hinata menjelaskan. "Tunggu sebentar.. lomba apa ini?" potong Minami. "Jadi kita akan mengikuti lomba manga yang akan di adakan 1 bulan lagi. Jika kita bisa berhasil memenangkan lomba ini. Klub seni akan bisa mengikuti lomba nasional yang akan diadakan di akhir tahun" Jelas Hinata lagi.

"Aku ingin kalian membentuk kelompok sendiri dan buat manga kalian dalam 3 hari. Hasil terbaik dari kalian akan aku sertakan lomba untuk bulan depan" Hinata bersikap seperti biasa. Anggota klub langsung membentuk kelompok. Hinata melihat Minami cepat mengakrabkan diri dengan yang lain. "Anoo… Hinata apa aku sebagai anggota baru juga boleh ikut berpartisipasi?" tanya Minami. Ternyata sikap Minami sangat berbeda. Tak seperti yang ia bayangkan. Minami adalah orang yang ramah dan ceria. "Boleh saja, tak ada larangan. Kau bisa mencobanya" dan setelah nya Minami mengatakan terimakasih.

Sepulang pertemuan klub, tak sengaja Hinata bertemu Naruto. "Ehmm Hinata,, apa kau menerima bungaku tadi pagi?" Naruto terlihat bingung bagaimana ia harus bersikap. Padahal Naruto sudah tau jawabannya tapi ia sengaja pura-pura tidak tau. Naruto baru bisa berbincang dengan Hinata untuk hari ini. Dan rasanya, Naruto sudah sangat merindukannya. Biasanya ia mengobrol lama-lama tapi suasana canggung saat ini sangat menjengkelkan Naruto.

"Terimakasih aku sangat menyukainya. Tapi kau harus menunggu dua hari lagi untuk menerima jawabanku"

"ah iya aku akan sabar menunggu, semoga jawaban itu tak mengecewakan ku" Naruto memandang Hinata dengan serius. Minami berjalan tak jauh dari tempat mereka berdiri. Pastilah ia ingin menghampiri Naruto. "Ah baiklah Naruto aku pulang duluan ya.. hati-hati di jalan" Naruto hanya bisa menerimanya. "Aaaah cepatlah keadaan seperti ini berlalu aku sangat tidak menyukainyaaaa.. kapan aku bisa berbicara biasa lagi dengan Hinata tampaknya ia selalu menghindar?"

"Narutoooo ayo pulang bersamaaa.." wajah Naruto berubah. Gadis yang selalu mengikutinya kini ada di depan matanya. Padahal ia ingin tak bertemu Minami lagi setelah melihat Hinata. "Minami, sepertinya aku tak bisa pulang bersamamu. Ada hal yang harus kulakukan. Kalau begitu sampai jumpaaa" Naruto dengan sepihak meninggalkan Minami sendirian. Sebenarnya sangat menyedihkan.

Minami menampakkan raut wajah murung. Dari kejauhan si rambut nanas melihat kejadian itu dan nampak tak tega melihat Minami. "Hey kau tidak pulang rambut hitam?" tanyanya dari kejauhan membuat suaranya agak menggema karena sekolah yang sudah sepi. "ah aku baru ingin pulang" Shikamaru melihatnya butiran bening sedikit keluar dari ujung matanya. Ternyata dia menangis. Bingung. Shikamaru bingung harus berkata apa. "lebih baik kita pulang hari sudah mulai sore". Akhirnya Minami berjalan beriringan bersama Shikamaru. "Jadi kau menginap di rumah Naruto?" Minami mengangguk. "Ya hanya selama aku belum menemukan apartemen saja"

"Hey Shikamaru, kau teman baiknya Naruto kan? Menurutmu Naruto orang yang bagaimana?" Shikamaru merasa pembicaraan ini sudah mulai merasuk ke masalah mereka. "Aaaah Naruto itu orang yang menyebalkan kurasa, ia sering cengar cengir sendiri seperti orang gila. Tapi ku pikir dia adalah orang yang hebat. Karena jika dia sudah mengatakan sesuatu. Ia akan berusaha sampai itu terjadi"

"Ya kupikir juga begitu. Dia adalah orang yang hebat" Minami berjalan sambil menunduk. "hey kurasa aku akan menyerah saja" Shikamaru mengerutkan dahinya. "Aku tak ingin dengar, itu bukan masalahku. Kau bisa mengambil keputusan sendiri kan" Shikamaru mengatakan hal yang jahat pada seorang gadis. "Ah maaf, kau orang yang sangat simple ya Shikamaru" ucap Minami sambil tertawa. "terkadang ku pikir aku lebih baik menyukai orang sepertimu" Shikamaru hanya tertawa dan tak membalas perkataan Minami. "ah baiklah cukup sampai sini saja terimakasih sudah menemaniku" Shikamaru hanya mengangguk.

-0-

"Aku pulaaangg…" keadaan rumah Nampak sepi sepertinya Naruto belum pulang. Minami bergegas ke kamar dan membersihkan diri. Setelah beberapa jam, Minami menunggu Naruto belum juga pulang. Jarum pendek sudah menunjukkan angka 8. Cklek! Pintu terbuka.. Naruto jalan sempoyongan.. Minami yang melihatnya langsung menghampiri Naruto. "kau kenapa?" Minami memegang tangannya. tangan Naruto panas, Minami mengecek suhu badannya. Tak mungkin demam nya kembali lagi bahkan lebih parah. "Hinataaa… Hinataaa…"

"sepertinya ia mengigau… Naruto ayo pergi ke kamar dan kompres badanmu.." Naruto diam sejenak dan memandang Minami. "Kau terlihat cantik Hinata" Minami rasa ia sudah parah bahkan dirinya pun dibilang Hinata. Saat ingin merangkul pundak Naruto dan Cup! Naruto mencium Minami dan jatuh pingsan. "hey Narutoo… apa-apaan dia setelah menciumku lalu ia pingsan. Pasti ia menyangka aku Hinata"

'kurasa aku tak bisa menang dari Hinata' ucap Minami dalam hati.