Diary : Dosen vs Mahasiswi
.
.
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
.
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
Diadaptasi dari Webtoon : My Prewedding dan Pasutri Gaje (Juga garagara dosen ganteng jomblo :3)
.
.
.
DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DLDR!
Selamat Membaca!
Sasuke memandang calon istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Otaknya menduga-duga tentang apa hubungan antara Gaara dan Sakura. Karena sedari tadi, Sakura hanya menunduk diam dan Gaara yang sedikit-sedikit mencuri pandang terhadap Sakura.
"Kamu pendiam sekali ya, Sakura-chan." Temari mencoba menggoda calon adik iparnya itu.
"Mungkin dia malu, nee-san." Gaara tersenyum tipis. "Di kampus, dia itu ceria dan senyumnya sangat menawan."
Sasuke bisa merasakan perempatan siku-siku di kepalanya. Dia tidak suka mendengar komentar yang dilayangkan oleh adik iparnya itu. Seolah-olah Gaara memang tahu tentang Sakura, padahal dia sendiri saja tidak tahu.
Sakura hanya tersenyum dan meneguk ocha hangatnya. Tidak tahu harus merespon seperti apa. Hatinya menjadi tak menentu dan jantungnya berdetak dua kali lipat dari biasanya. Dia bahkan tidak berani menatap calon suaminya ataupun Gaara.
Padahal di kampus dia mencoba menghindari Gaara karena merasa tidak enak karena telah menolak Gaara. Entah mengapa, dia merasa aneh ketika bertemu dengan Gaara. Apalagi ternyata Gaara tidak mengendorkan pertahanannya, melainkan semakin gencar mendekatinya. Padahal dia ingin fokus dengan hubungannya dan dosennya itu.
"Sakura, masakannya tidak enak ya?" tanya Mikoto.
"Enak kok, bibi." Sakura tersenyum.
"Uhh.. dia sangat manis sekali, Sasuke-kun." Mikoto tidak menahan tawanya. "Kaa-san sudah tidak sabar ingin menambah anak perempuan kaa-san di rumah ini."
Onyx milik Sasuke sempat menangkap pandangan tidak suka Gaara terhadapnya.
.
.
.
.
"Tadaima."
Sakura sampai di rumahnya tepat sebelum makan malam. Kedai milik kakaknya cukup ramai dan kakaknya bersama istrinya sibuk di dapur. Ayahnya sibuk menemani kedua keponakannya dan ibunya sibuk memasak.
"Biar Saku bantu ya, kaa-san." Sakura menggulung lengan bajunya dan bersiap untuk membantu ibunya menyiapkan makan malam.
"Tidak usah, Sakura. Kamu istirahat saja."
Menghela napas panjang, Sakura masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan dirinya diatas ranjangnya. Seharian dia menghabiskan waktu di kediaman Uchiha dan membantu calon mertuanya membuat banyak kue. Dia bermain dengan Keyko dan bocah perempuan itu sangat mirip dengan Natsumi. Menggemaskan.
Gaara selalu ada disana ketika dia membuat kue atau melakukan kegiatan lainnya. Dia merasa aneh dan tidak enak dengan calon suaminya karena Gaara selalu mengikutinya kemanapun. Lagi pula, dia tidak mau membuat hubungan keduanya menjadi buruk.
Ponselnya bergetar. Satu tangannya mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk.
Sabaku no Gaara : Apa kamu sudah sampai rumah? Jangan lupa mandi lalu makan.
Merasakan perasaan aneh di dalam dadanya. Dia meletakan kembali ponselnya dan memejamkan matanya. Padahal dia sudah mengatakan pada Gaara jika dia akan menikah, tetapi pria itu malah semakin gencar. Jika saja, Gaara bukan adik ipar Sasuke, mungkin dia akan menolak Gaara dengan lebih tegas lagi. Hanya saja.. tidak mungkin dia malah memperburuk suasana antara dirinya dan Gaara jika melakukan tindakan yang membuat emosinya keluar.
Ponselnya kembali bergetar. Dengan perasaan kesal, Sakura mengangkat telepon yang masuk.
"Apalagi maumu?!"
"Hn, Sakura?"
Eh? Wajahnya seketika menjadi seputih kertas. Dia bisa mendengar suara bariton yang dikenalnya dengan aksen yang khas. Calon suaminya sedang menelponnya.
"Maafkan aku, Sasuke-kun. Aku pikir temanku." Sakura mendudukan dirinya dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya kamu sangat kesal dengan temanmu itu."
"Yah, seperti itu."
"Apa temanmu itu Gaara?"
Rasanya jantungnya seperti turun ke mata kaki. Demi Kami-sama! Sepertinya bibi Mikoto dulunya adalah peramal. Bagaimana mungkin Sasuke bisa dengan tepat menebak apa yang terjadi padanya.
"Sikap kalian berdua sangat aneh tadi. Apa terjadi sesuatu diantara kalian?" tanya Sasuke. "Kita akan menjadi suami istri, Sakura. Aku menghendaki jika tidak ada kebohongan yang dapat meruntuhkan ikatan kita."
"Um ya." Sakura tidak bisa mengelak atau berbohong. Apalagi ketika mendengar perkataan Sasuke yang sarat akan ancaman. Menyebalkan. "Dia baru-baru ini menyatakan perasaannya padaku. Aku menolaknya karena akan menikah denganmu, Sasuke-kun. Dan rasanya sedikit canggung ketika aku bertemu dengannya."
Sasuke sedang berdiri di balkon kamarnya. Menghela napas panjang, dia menggenggam ponselnya erat-erat. Sudah dia duga, jika memang itu yang terjadi.
"Aku mengerti, Sakura. Aku senang kamu mau menceritakannya padaku." Sasuke mencoba memberikan saran yang terbaik. "Sebaiknya kamu tetap berteman saja dengannya, Sakura. Maksudku- kalian teman satu kelas, bukan? Aku yakin kamu tidak akan jatuh hati padanya, Sakura."
"Mana mungkin, Sasuke-kun." Sakura tertawa. "Hatiku bahkan sudah dibawa pergi olehmu. Aku.. tidak yakin bisa bersama yang lain jika itu bukan dirimu."
"Itu yang aku harapkan, Sakura. Aku sangat mencintaimu. Sangat." Sasuke tidak dapat menahan senyumannya. "Sebaiknya kamu segera tidur. Bukankah kamu besok ada pretest?"
"Ah, dosenku yang tampan akan memberikan nilai yang bagus untuk pretestku, bukan?" goda Sakura. "Baiklah, jangan forsir tubuhmu, tuan."
Sakura tidak bisa menahan senyumannya dan memeluk ponselnya. Jatuh cinta memang berjuta rasanya.
oOo
"Sakura, mau ke kantin?" Ino menghampiri sahabatnya yang sedang memberesi peralatan laboratorium miliknya.
"Iya."
Emerald miliknya menatap Sasuke yang sedang melakukan Acc pada hasil pengamatan bakteri yang dilakukan beberapa mahasiswanya. Saat onyx itu memandangnya, dia tersenyum dan Sasuke hanya tersenyum tipis. Matanya terus memandang Sakura yang keluar dari Laboratorium. Dia yakin setelah ini Sakura akan ke kantin.
Sebenarnya dia ingin ke kantin bersama calon istrinya untuk makan siang bersama, perutnya keroncongan karena belum diisi sedari pagi. Dia harus mengajar kelas pagi dan tidak sempat sarapan. Sayangnya, dia harus menuju ruang dosen untuk menghadiri beberapa rapat penting meski hanya sebentar.
Memberikan kode pada Sakura, wanitanya itu mengerti dan menganggukan kepalanya. Sungguh, dia sangat beruntung bisa menikahi Sakura.
Berjalan menuju kantin, seorang wanita berambut pirang mengibaskan rambutnya. Tubuhnya tinggi semampai dan berisi, dia lebih terlihat seksi dan sensual, bahkan beberapa mata memandang kearahnya. Saat mereka berpas-pasan, wanita itu tersenyum dan Sakura balas tersenyum, meski sebenarnya dia tidak mengenal wanita itu.
"Kau mengenalnya, Ino?" tanya Sakura memandang Ino.
"Entahlah. Kakak tingkat, mungkin?"
Mengangkat bahunya, mereka segera menuju kantin. Perutnya sangat lapar dan harus diisi.
.
.
Langkah kakinya menaiki tangga dimana ruang dosen Fakultas Ilmu Kesehatan berada. Beberapa mahasiswa sedang duduk di ruang tunggu, bermacam-macam mahasiswa yang harus mengurus segala urusannya berada disana, termasuk dirinya.
Mengibaskan sedikit rambutnya, dia bisa melihat seseorang yang sedang dicarinya sedang membaca beberapa dokumen mahasiswa. Mungkin sebuah buku pegangan untuk mengajar di kelas berikutnya. Memastikan dandanannya tidak rusak sama sekali, dia membuka pintu ruangan dosen.
"Selamat siang, Sasuke sensei."
Saat Sasuke mengangkat kepalanya. Matanya menatap wanita dihadapannya dengan pandangan tidak percaya.
"Shion?"
.
.
"Sakura, mau makan?"
Sakura tersedak minumannya ketika Gaara muncul. Pria berambut merah itu sukses membuat beberapa wanita menatap iri kearahnya dan dia merasa risih juga kesal. Belum selesai wanita-wanita itu menghujat dan mengatainya karena akan menikah dengan dosen tampan kesayangan mereka. Kini dia kembali dihujat dan dikatai karena dekat dengan cowok hits kampus mereka. Rasanya kesal juga.
Dia mencoba bersabar, namun Ino terkadang naik darah ketika mendengar beberapa wanita menghujatnya secara terang-terangan. Bahkan ada yang mengajak beberapa temannya untuk memusuhinya. Dia tidak peduli dengan semua itu dan tidak menganggapnya dengan serius. Dan Ino menganggap mereka seperti anak SMA yang masih labil.
"Eh? Ino sudah memesankanku makanan." Sakura tersenyum. Dia kemudian teringat kata-kata Ino.
Ino sudah memperingatkannya berkali-kali untuk tidak memberikan harapan lebih kepada Gaara. Dia mengerti hal itu dan mencoba untuk menjaga jarak. Dia juga tidak mau hubungan pertemanannya dan Gaara menjadi hancur.
"Gaara-kun."
Gaara menolehkan kepalanya dan memandang Sakura.
"Hn?"
"Ano.. aku tidak mau membuat Sasuke-kun salah paham dengan semua ini."
Gaara tidak bisa menahan tawa kecilnya. Dia memandang Sakura sebelum mengusap rambut merah mudanya dengan lembut.
"Ternyata dia adalah orang yang posesif, ya?" Gaara tersenyum. "Aku hanya ingin berteman denganmu, apa aku salah?"
"Eh?"
"Kau tidak seperti wanita lainnya, Sakura." Gaara memandang Ino yang datang membawa dua piring omurice. "Kalian berdua tidak seperti wanita berisik yang membuat telingaku sakit. Aku sudah tidak memikirkan tentang perasaanku, aku senang jika kamu bahagia dengan kakak iparku. Apa salah, jika sepasang lawan jenis saling bersahabat?"
Ah, jadi dia tidak perlu khawatir dengan semuanya. Gaara hanya ingin bersahabat dengannya dan dia tidak perlu mengkhawatirkannya. Apalagi dengan perasaan tidak nyamannya. Dia tertawa dan memukul bahu Gaara pelan.
"Kita bersahabat, ya kan?"
Emeraldnya menatap calon suaminya yang berjalan menghampiri beberapa dosen yang berkumpul dengan wajah merah padam. Tumben sekali Sasuke seperti itu. Apa ada sesuatu yang mengganggunya?
.
.
"Lama tidak berjumpa, sensei." Shion tersenyum. "Aku merindukanmu."
Sasuke memandang Shion dengan pandangan menyelidik. Mau apa mantan kekasihnya datang lagi kemari? Apalagi dengan dandanan nyentrik seperti itu.
Miko Shion adalah model yang sedang naik daun. Sebelumnya dia menuntut ilmu di kampus yang diajarnya sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah. Dia memang bodoh karena jatuh cinta pada Shion, karena pada kenyataanya dia hanyalah dompet bagi wanita itu.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi bahkan dosen menggunjing hubungan mereka. Mereka juga merasa heran, bagaimana bisa dosen sepertinya mau berpacaran dengan Shion yang hanya bermodalkan alat make up. Mungkin bagi beberapa orang, hubungan mereka sangat indah dan termasuk dalam kategori, Relationship goals atau apapun itu.
Mengingatnya saja membuatnya merasa jijik. Untung saja, sahabat pirangnya menyadarkannya. Juga beberapa gunjingan betapa bodohnya dia. Ya.. dia memang sangat bodoh saat itu.
"Apa maumu, Shion?" tanya Sasuke.
"Aku hanya ingin mengunjungi dosen tampanku." Shion duduk di salah satu kursi dan mengeluarkan ponsel canggih keluaran terbaru miliknya. "Aku melihat di ekstagram, jika kamu melamar seseorang dengan cara romantis. Kenapa kamu tidak melakukan hal itu padaku?"
Shion menunjukan ponselnya kepada Sasuke dan disana terputar video dimana Sasuke melamar Sakura disertai dengan sorakan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang ada di Laboratorium. Shion tersenyum dan memasukan kembali ponselnya.
"Dulu aku melamarmu berkali-kali dan kamu menolaknya." Sasuke berkata dengan sinis. "Bukankah yang kamu mau hanyalah uangku?"
"Aku tidak mengerti, sensei." Shion menatap Sasuke. "Apa bagusnya pinky ini? Dia sama sekali tidak mengerti fashion apalagi make up."
Cukup!
"Shion-"
"Oh, aku harus kembali ke kampusku." Shion tersenyum. "Sampai jumpa lagi, sensei."
Dan kepalanya terasa pening.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke membuka matanya ketika mendengar ketukan pintu kamarnya. Kepalanya terasa sangat pusing sesaat setelah bertemu dengan Shion. Akhirnya setelah mengajar, dia tidak memperdulikan apapun lagi dan memilih pulang kemudian tidur. Dia sedang tidak ingin memikirkan apapun.
"Sasuke, aku masuk ya." Itachi membuka pintu kamar adiknya. "Apa yang terjadi? Apa kamu sakit?"
"Tidak. Tidak apa-apa." Sasuke mendudukan dirinya.
"Sakura khawatir sekali denganmu karena tidak membalas pesan ataupun mengangkat teleponnya, jadi dia datang kemari."
Memandang kakaknya, rasanya dia seperti sedang bermimpi.
"Sakura ada disini?"
"Dia ada di ruang tamu sekarang."
Tanpa mengganti pakaiannya atau mencuci wajahnya, dia langsung berlari begitu saja menuju ruang tamunya. Kakaknya tidak berbohong. Sekarang Sakura sedang duduk bersama kedua orang tuanya dan juga kakak iparnya.
"Ah, Sasuke-kun." Sakura tersenyum. "Aku membawakanmu makanan."
.
.
.
.
"Terima kasih atas makanannya."
Sasuke meletakan piringnya yang sudah kosong keatas meja dan melirik Sakura yang sedang memakan kue buatan ibunya. Mereka berada dihalaman belakang kediaman Uchiha untuk menikmati makan malam. Ibunya yang menyuruh mereka agar tidak terganggu.
Matanya melirik Sakura. Wajah itu natural, hanya dilapisi oleh make up tipis yang sederhana. Cara berpakaian Sakura juga biasa saja, menandakan jika wanita itu adalah anak rumahan.
"Aku tidak mengerti, sensei. Apa bagusnya pinky ini? Dia sama sekali tidak mengerti fashion apalagi make up."
Kata-kata Shion terngiang begitu saja di telinganya. Sialan! Kenapa dia harus teringat dengan mantan sialannya itu?!
"Makanannya enak, Sasuke-kun?" tanya Sakura. "Aku yang membuatnya. Aku khawatir karena kamu tidak mengangkat teleponku atau mmebalas pesanku, aku pikir kamu sakit."
"Tidak, aku baik-baik saja."
Sakura mengangkat satu alisnya. Dia merasa ada yang mengganggu calon suaminya.
"Masalannya tidak enak ya? Aku yang membuatnya sendiri."
Perkataan Sakura menohok hatinya. Dia tidak membutuhkan wanita yang hanya bisa berdandan dan selfie. Dia menikahi Sakura untuk menjadi istrinya yang menemaninya, Sakura memang masih sembilan belas tahun dan dengan make up natural wanita itu tampak sangat cantik. Lagi pula, jika Sakura berdandan, dia tidak mau serigala lapar diluar sana mengincarnya.
Lagi pula, Sakura sangat dewasa dan bisa mengurus segala keperluannya. Dia tidak ingin menikahi boneka yang tidak bisa melakukan tugas seorang istri dan hanya bisa berdandan dan berfoto selfie saja. Dia merasa bersalah karena baru saja meragukan calon istrinya.
"Tidak Sakura, ini enak sekali." Sasuke tersenyum dan mengecup puncak kepala calon istrinya dengan lembut. "Aku mencintaimu, Sakura. Sangat, sangat mencintaimu."
"Sasuke-kun." Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk melabuhkan dirinya dalam pelukan Sasuke.
oOo
"Gaun ini terlalu sesak, sepertinya."
Sakura memutar-mutar tubuhnya di depan cermin dan Sasuke yang duduk di belakangnya. Mereka harus meluangkan waktu untuk mempersiapkan segala perlengkapan pernikahan mereka ditengah-tengah kesibukan yang melanda mereka. Dia sudah mengatakan pada Sakura untuk mengambil cuti, tapi sepertinya wanitanya itu tidak mau.
Sasuke tersenyum tipis dan menopangkan dagunya. Di matanya, Sasuke sangat tampan sekali.
"Kamu terlihat gendutan."
Bagaikan disambar petir, Sakura membalikan badannya dan menatap Sasuke dengan pandangan marah.
"Aku harus diet, Sasuke-kun! Aku harus diet! Huwaaaaa! Bagaimana ini?!"
Sasuke tidak bisa menahan tawanya dan bangkut untuk mengusap rambut calon istrinya dengan lembut. Di matanya sekarang, Sakura sangatlah menggemaskan.
"Kamu menggemaskan sekali, Sakura. Aku jadi ingin memakanmu." Sasuke menunjukan cengirannya.
"Mou, Sasuke-kun!"
.
.
.
"Rahim nona Sakura sehat dan bagus, begitu pula dengan organ intimnya. Tidak ada yang perlu ditakutkan." Seorang dokter tersenyum setelah melihat hasil USG Sakura. "Akan lebih baik, jika pasangan suami istri yang akan menikah diberi vaksin."
"Boleh dok."
Merasakan ponselnya bergetar, Sasuke mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk. Seketika dahinya berkerut.
Miko Shion : Jadi, kamu benar-benar akan meninggalkanku, sensei?
Sakura melirik Sasuke yang buru-buru memasukan ponselnya ke dalam saku celananya dan raut wajahnya berubah. Dia sebenarnya ingin menanyakannya, tetapi rasanya tidak tepat. Mereka sebentar lagi akan menjadi pasangan yang bahagia.
Menarik napas panjang, dia memandang dokter yang menyiapkan vaksin untuk mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa ramennya tidak dimakan?"
Sakura mengangkat kepalanya dan memandang Gaara yang sedang memandangnya dengan pandangan khawatir. Sedangkan Ino asyik memakan ramennya menolehkan kepalanya. Akhir-akhir ini, semenjak hubungan mereka membaik, Gaara semakin sering makan bersama mereka. Sesekali Sasuke atau Naruto akan bergabung bersama mereka.
Dia sudah menceritakan semuanya kepada Sasuke dan calon suaminya itu merasa senang. Tetapi, tetap mengingatkan agar dia dan Gaara tidak terlalu dekat. Biar begitu, Sasuke adalah orang yang pencemburu dan posesif.
"Oh, aku baru sadar jika wajahmu sangat pucat, apa ada masalah?" tanya Ino.
"Tidak, hanya saja.." Sakura menggantungkan kata-katanya. "Aku sebentar lagi akan menikah, rasanya sangat gugup sekali."
Gaara tertawa kecil dan Sakura langsung melotot memandangnya.
"Apanya yang lucu?!"
"Tidak. Hanya saja, apa kamu akan mundur setelah sejauh ini? Aku yakin, jika sekarang kamu merasa ragu untuk meninggalkan orang tuamu apalagi masa mudamu."
"Ba-bagaimana kamu bisa tahu?" Sakura merasakan pipinya merona merah.
"Dulu, saat Temari-nee akan menikah. Dia juga mengatakan hal yang sama. Saat itu aku tidak mengerti apa maknanya, tapi sekarang aku mengetahuinya."
"Apa kamu akan membatalkan pernikahanmu?" Ino memandang Sakura. "Tidak apa-apa sih, akku yang akan menggantikanmu saja."
"Ino jahat, mou!" Sakura menggembungkan pipinya. "Tidak. Aku tidak akan kabur atau membatalkan pernikahanku! Aku akan menikah dengan Sasuke sensei!"
Bangkit dari duduknya, Sakura memandang kedua sahabatnya.
"Aku akan menemui Sasuke sensei."
"Sakura! Ramenmu untukku, ya!" Ino berteriak setelah melihat sahabatnya pergi. "Baiklah, saatnya makan ronde kedua."
"Ino." Gaara memandang Ino dengan pandangan tanpa ekspresi. "Kau cantik tapi rakus."
"Apa?! Apa kau baru saja menantangku?!"
.
.
.
.
Sakura tidak bisa menahan senyumnya ketika berjalan menuju gedung dosen. Sudah tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Tadinya dia berfikir jika Sasuke memiliki seseorang yang lain yang dia sukai, tetapi sepertinya tidak masuk akal. Mungkin itu hanya ketakutannya karena akan menikah.
Mungkin, setelah menikah dia bisa meminta Sasuke untuk mengizinkannya tinggal bersama kedua orang tuanya dulu. Rasanya berat untuk berpisah dari ibunya dan juga kakaknya. Setelah dia merasa siap, barulah dia kan tinggal dirumah mereka sendiri.
"Sakura, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Naruto.
"Um, aku mau menemui Sasuke-kun." Sakura tersenyum lebar.
"Dia ada di ruangannya." Naruto tersenyum. "Baiklah, selamat bersenang-senang."
Melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Sakura menuju ruangan calon suaminya. Dan saat membuka pintunya, emeraldnya membulat tidak percaya.
"Hn, aku juga sama."
Disana. Calon suaminya sedang memeluk seseorang wanita berambut pirang. Dia tidak bisa melihat wajah wanita itu karena membelakanginya, tetapi dadanya terasa sangat sesak. Sesak sekali.
Keduanya berpelukan dengan erat, bahkan tidak menyadari kehadirannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Yamanaka, tunggu sebentar."
Ino yang sedang melepas jas Laboratoriumnya menolehkan kepalanya. Dia bisa melihat dosen tampannya ada dihadapannya.
"Ada apa, Sasuke sensei?"
"Apa kamu tahu Sakura ada dimana? Dia tidak bisa dihubungi." Sasuke memandang Ino.
"Aku juga tidak tahu, sensei. Dari semalam aku juga mencoba menghubunginya tetapi tidak ada respon. Dan sekarang ponselnya mati."
"Hn, terima kasih, Yamanaka."
Aquamarine milik Ino memandang dosennya yang berjalan menjauh dengan panik. Helaan napas terdengar dan Ino berjalan menuju kantin.
"Sial, betapa beruntungnya dirimu, Sakura."
.
.
.
"Dia ke Kyoto."
"Kyoto?"
Sasori mengangkat satu alisnya heran. Dia memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya.
"Dia tidak memberitahukannya padamu?" tanya Sasori. "Sakura bilang, dia sudah izin padamu. Apa kalian sedang bertengkar?"
"Aku tidak tahu, nii-san." Sasuke mengusap rambutnya. "Dia dari semalam susah dihubungi. Aku akan ke Kyoto untuk menyusulnya, terima kasih."
Sasori mengusap belakang kepalanya. Dia membiarkan Sasuke berjalan menjauh. Tersenyum, Sasori melanjutkan kegiatannya.
Dia percaya, jika adiknya akan baik-baik saja.
.
.
.
.
.
.
.
Tujuan terakhir, Kyoto stasiun. Diulangi, tujuan terakhir Kyoto stasiun. Kereta akan berhenti dalam lima belas menit.
Mendengar pengumuman dari pengeras suara, membuat lamunannya buyar. Bangkit dari posisi duduknya, Sakura membenahi tasnya. Dia akan pergi berlibur sejenak. Dia ingin melupakan apa yang dilihatnya kemarin.
Andai dia bisa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Nb : Sakura belum tahu kalo itu adalah Shion ya XD
Akhirnya bisa up, akhirnyaaaaa!
Special's thanks to :
Matarinegan, Sarahachi, Applessian, Ahza Pink, Guest (1), Hanazono Yuri, Izha Rin-chan, Kenma Plisetsky, D Cherry, SS, Emeraald US, Harayuki, Saskey Saki, Anya Noberu, Karazuka, Reo Malida
Dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan. Pokoknya terima kasih banyak! Jangan lupa reviewnya!
Sampai ketemu di chap depan!
-Aomine Sakura-
