Chapter 4 – Tantangan!
Discalimer: I don't own Pokemon! Just the story only.
"Uwaah, masih ngantuk nih." Boy terbangun dan segera menggaruk-garuk kepalanya. Cahaya mentari pagi yang menembus dedaunan membuat daerah di sekilingnya menjadi terang. "Eh, di mana ini yah?" Boy berpikir sejenak sambil melihat sekeliling, dilihatnya banyak pokemon yang berserakan dan Nido. "Nido? Woy kenapa kamu bisa ada disitu? Eh, apa ini?" Pokedexnya tiba-tiba berbunyi.
-NIDO grew to Level 20!-
"Apa? Kenapa bisa? Padahal kemarin Nido masih level 2!" Boy kaget, dengan posisi hendak melakukan joged disko tapi—"Kenapa di sini ada banyak Pokemon yang pada tepar/fainted yah? Wah jangan-jangan.." Boy ketakutan dan mundur beberapa langkah ke belakang. "Nido dan Pokemon yang lainnya pada joged disko sampai pada teler! Mereka tadi malam pasti pada ajeb-ajeb yah! Wah kenapa gak ngajak-ngajak sih!"
"BLETAKK!" sebongkah batu mendarat di kepala Boy, sukses membuatnya tepar.
"Nidoooo!" –PT(Po'okeTranslate) : 'Rasain tuh Rock Throw!'— Ternyata Nido terbangun dan langsung menyerang Trainernya.
"Sialan!" Boy hidup lagi sambil memegang kepalanya yang bertambah maju 10 cm. "Kenapa kamu ajeb-ajeb gak ngajak!" Si Nido langsung ditabokin sama Boy.
"Zriiiiiiinng!"
"Eh, apaan?" terlihat di sekiling Boy para Pokemon yang tepar bangkit dari kuburnya. "Waaddhepaak! Tuh Pokemon kenapa matanya pada kebakar gitu?"
-Wild Butterfrees, Caterpies, Kakunas, Beedrills, Metapods, and Weedles appeared!-
"Woy Nido bangun! Aduh Nido tepar nih gara-gara tadi saya tabokin!" Boy mulai panik, Nidonya yang tepar tidak dapat membantu. "Oke, cuma ada 1 cara untuk mengalahakan mereka!" Boy bangkit, memasukkan kembali Nido ke Poke Ballnya dan segera memasang kuda-kuda. "Ayo semuanya naik kuda-kudaan nih!" tapi para Pokemon berkata lain.
"Zleeeeebh!" Serangan telak dari arah belakang membuat Boy tak berkutik dan terjatuh.
"Beedrill yah? Hmm.. Lebah yang benar-benar mengganggu." di saat yang genting seperti itu Boy masih sempat-sempatnya melihat Pokedex. Sementara itu Pokemon yang lainnya sudah tidak sabar menunggu giliran mereka untuk menyerang. "Terima ini!" pukulan Boy melayang tepat mengenai Beedrill dan langsung membuatnya tersungkur, inilah pertarungan antara Pokemon dengan Trainer! "Ayo siapa lagi yang mau?" Pokemon yang lainnya langsung mengepung Boy dan bersiap menyerang, tapi—"Ibuuuuu!" Boy berlari.
-Got away safely!-
"Huh, huh, huh.. Sialan Pokemon-pokemon penggemar ajeb-ajeb itu masih aja ngikutin! Tapi ini di mana yah?"
-Kota Pewter-
"Wah, gak nyangka saya udah berlari jauh juga. Berarti sekarang saya bisa melawan Gym Leader yang ada di kota ini! Baiklah sekarang langsung aja ke Pokemon Gym!" Boy langsung bergegas pergi.
"Tunggu!" seseorang memanggil dari arah belakang Boy membuatnya kaget dan menghentikan langkahnya.
"Ai?" ternyata orang yang memanggilnya adalah Ai yang sedang bersama Pikachunya.
#Ai POV#
Seorang laki-laki bertopi hitam yang mengenakan baju putih yang terbuka dengan kaos biru didalamnya dan celana hitam yang bagian bawahnya dilipat sampai kelihatan sepatu hitamnya menoleh dengan kaget ke arahku. Laki-laki bertas hijau ini tidak lain adalah Boy, orang yang baru kemarin Aku kenal. Terlihat jelas dari mukanya yang memerah tertutup rambut hitamnya yang acak-acakan itu merpelihatkan kalau Dia baru saja kecapean.
"Ka.. kau mau ke mana Boy? Kayaknya kamu habis berlari jauh banget?" tanyaku penasaran melihat Boy yang dari tadi gemetaran.
"Eh, sa.. saya mau ke Pokemon Gym, i.. iya, tadi saya habis lari-lari pagi dari sana, ehehe.." katanya sambil menunjuk ke arah hutan Viridian.
"Oh, kau mau melawan Gym Leader Brock yah? Berarti kau udah punya Pokemon dong?" Aku bertanya lagi karena penasaran.
"I, iya kemarin saya baru saja mendapatkannya." lalu Dia mengeluarkan sebuah pokemon dari Poke Ballnya.
"Waah, Nidoran yah? Hmm, kalau gak salah ini yang laki-laki kan?" kembali Aku bertanya.
"Ehh, i.. iya. Kamu tahu banyak tentang Pokemon ya." Boy menjawab dengan gugup.
"Gak juga, tapi kelihatannya Nidoranmu lagi gak sehat. Emang kenapa?" tanyaku karena kulihat Nidorannya Boy terkulai lemas.
"Ahh, iya ya, ta.. tadi Dia kecapean, mungkin habis bertarung dengan Pokemon." jawab Boy dengan mencurigakan.
"Wah gawat, cepat bawa Dia ke Pokemon Center!"
"Pokemon Center? Apaan tuh Ai?" Boy bertanya kepadaku dengan bingung.
"Itu tempat untuk mengobati Pokemon yang terluka, di sana Pokemonmu akan di obati sampai sehat lagi. Cepat kau pergi ke bangunan yang berwana merah itu." Aku menunjuk ke arah Pokemon Center yang berada tidak jauh dari tempat kami.
"Iya baiklah!" Boy menjawab dengan tegas.
#Boy POV#
-Pokemon Center-
"Ini, Pokemonmu sekarang sudah sehat kembali." kata suster yang berbaju pink sambil mengembalikan Poke Ball Nido kepadaku. "Kami harap bisa melihatmu lagi." tapi sepertinya harapan mereka itu tidak akan terkabul.
"Iya." Saya cuma bisa menjawab iya karena mungkin akan melihatnya lagi.
"Hei tuan, apa kamu pengen mendengar pokemonku bernyanyi?" tanya seorang anak kecil yang berada didekat Saya.
"Huh, saya gak suka dengerin lagu, apa lagi musik!" bentakku keras karena saya paling benci dengan yang namanya musik.
"Wah padahal suara Pokemonku sangat indah loh." Anak itu kelihatan ingin merayuku.
"Suara kentutku jauh lebih bagus."
"Wah nantang nih orang! Ayo Jigglypuff! Sing!" Anak itu mengeluarkan Pokemonnya yang mirip seperti bola sepak berwarna merah muda.
-Jigglypuff used SING!-
Pokemon itu kemudian menyanyi dengan suara yang tidak jelas, sambil matanya dipejamkan. Suaranya terdengar bagus tapi tiba-tiba Trainernya terjatuh dan langsung tepar. Orang-orang yang berada di sini juga satu per satu tepar, hingga rasanya saya ingin sekali tidur.
#Normal POV#
"Bruukkk!" Boy terjatuh tak sadarkan diri, nyanyian Jigglypuff tadi ternyata membuat semua orang tertidur. Setelah sukses membuat semuanya tertidur Jigglypuff juga ikutan tidur—yah sepi deh—tapi tiba-tiba seseorang datang.
"Boy! Kau lama bange—eh kenapa malah tidur!" Ai panik melihat Boy yang kini tertidur dengan nyenyaknya di atas Spring Bed. "Spring Bed dari mana? Wah dari tasnya kali, tapi mesti dibina—" Pikachunya Ai melompat ke arah Boy. "—sakan dulu Dia, Pikachu! Thundershock!"
-Pikachu used Thundershock! - It's super-super-super effective!-
"Uwaaaaaahh!" Boy berteriak keras sambil loncat kegirangan karena tubuhnya kini sukses gosong, dan langsung melirik dengan asap ke arah Pikachu. "Heh, pengen saya blender?" bentak Boy sambil mengeluarkan seperangkat alat tulis.
"Hey Boy! Katanya pengen melawan Gym Leader!" teriak Ai menyadarkan Boy.
"Ah iya!" Boy baru sadar kalau Dia mimisan –terlalu lama lihat Ai nih—
-Pewter Pokemon Gym-
"Di mana Gym Leadernya?" Boy berteriak dengan keras menggunakan TOA yang baru saja dichargenya.
"Heh, ada di sini!" Seorang pemuda yang tidak memakai baju memelototi Boy dengan matanya yang sipit.
"Aaampun Bang! Jangan perkosa saya! Saya belum nikah ama Ai nih! Huehuehuee!" Boy berteriak histeris supaya pemuda berambut jabrik ini mau memper—bukan kosa yah!—lakukannya dengan biak eh baik.
"Ngapain! Saya kan Gym Leader di sini, mana mungkin saya berbuat Biadab seperti itu!" seru pemuda ini sambil menunjuk ke arah Boy yang sedang asyik menjilati ingusnya.
"Oh, jadi kamu Brock!" Ingus terakhir berhasil dihisapnya. "Kalau begitu saya tantang kamu untuk pertarungan Pokemon!" seru Boy sambil menodongkan telunjuknya yang masih ada bekas ingusnya ke arah Brock.
"Baiklah, aku terima tantanganmu!"
Maaf, baru update sekarang :D
