CHAPTER 4

.

.

Hari tamasya itu akhirnya tiba dan diikuti oleh 6 peserta, termasuk Changmin dan Yunho. Tentu saja manajer dan coordi tidak ikut serta karena tidak akan menyia-nyiakan kesempatan libur yang langka seperti ini. Karena keterbatasan ukuran mobil pribadi akhirnya 6 orang ini dipisah jadi 2 kendaraan dan kali ini Changmin tidak merelakan mobilnya. Dia hanya bawa badan, makanan, dompet dan baju ganti serta berperan jadi penumpang yang rusuh.

Yunho tidak tahu kalau Changmin bisa bersikap berantakan di saat santai.

Sepanjang perjalanan memang tidak banyak bicara tapi setiap kalimat yang dilontarkan Changmin selalu berbuntut panjang dan membuat mereka tertawa. Dia yang biasanya maha cerewet dengan kebersihan kali ini diam saja melihat snack berserakan bercampur dengan barang bawaan lainnya. Tapi Yunho berusaha tak menunjukkan ketertarikannya dan pura-pura acuh pada Changmin sepanjang perjalanan menuju Joellado.

Ya, akhirnya rombongan kecil tapi super berisik itu menuju ke Jeolla. Rencananya sih ingin ke kebun teh Boseong dan hutan bambu Juknokwon di Damyang. Sebenarnya peserta lain menyebut pilihan Changmin itu konyol karena dua tempat itu sering dijadikan lokasi syuting drama dan sejenisnya. Terlalu mainstream lah untuk seorang Shim Changmin.

Tapi Changmin berdalih sengaja ingin merasakan jalan-jalan ke tempat itu sebagai orang biasa dan untungnya semua percaya. Alasan sebenarnya sih lebih konyol lagi, karena Changmin ingin punya kenangan jalan bersama orang yang disukainya di tempat indah yang sering dikunjunginya untuk bekerja. Cinta memang berhasil membuatnya bodoh (bahkan dia tidak memikirkan opsi patah hati dan berakhir trauma ke tempat itu).

Karena itulah rombongan hore -Changmin menyebutnya begitu- pergi di hari lokasi wisata paling sepi alias pertengahan weekdays. Benar saja, dengan begitu Changmin bisa berkeliaran tanpa memakai topi ataupun hoodie jaket tanpa dikenali. Selain tempatnya sepi juga karena Changmin tersamarkan oleh pengikutnya yang semuanya orang biasa.

Hari pertama itu dihabiskan di jalan dengan santai oleh rombongan hore menuju kebun teh Boseong. Akhirnya rombongan yang dari tadi riuh itu mendadak hening karena ikut meresapi kedamaian suasana serba hijau perkebunan teh. Semua berpencar dengan kegiatan kesukaannya sendiri-sendiri. Hamparan hijau bak karpet terbentang di depan mata membuat Changmin lega bukan main. Inilah yang ia cari selama ini di tengah kesibukannya menjalani kehidupan artis. Hijau dan hijau. Changmin menghirup udara Boseon sekuat tenaga seolah akan habis dalam sekali tarik nafas.

Yunho hanya memperhatikan dari jauh bagaimana wajah Changmin yang terlihat begitu teduh dan seluruh tubuhnya rileks saat berjalan-jalan di sepanjang jalur teh. Dia senang melihat Changmin bahagia begini. Ya, dia memang semakin peduli.

Changmin sendiri berusaha menempel pada Yunho, mumpung Jang Woo Hyuk tak ada. Tapi sejak datang Yunho tidak mau jauh-jauh dari Ahn Soo. Changmin yakin Yunho masih menjauhinya karena leader-nya itu. Changmin pun kehilangan jejak karena Yunho berhasil menyelinap dengan cepat sehingga yang dilakukannya gentayangan sendirian.

Ya sudahlah, toh memang tujuannya semula ingin menyepi.

Memandangi hamparan hijau sendirian membuat Changmin merasa sedikit melankonlis tapi menikmatinya. Kadang kenangan masa kecilnya terlintas, bergantian dengan masa-masa yang dilaluinya sebagai artis, teman-teman yang baik maupun yang menusuknya dan wajah keluarganya. Lalu wajah Yunho juga melintas tanpa diminta, membuat Changmin terkesiap.

Jengkel.

Gara-gara itu akhirnya Changmin baru sadar ternyata sudah berjalan terlalu jauh dari rombongan. Perkebunan ini memang luas karena berbukit-bukit. Tepat saat itu dia juga ditelepon diberitahu bahwa semua orang mencarinya, tapi Yunho yang paling panik. Changmin senyum-senyum saja mendengar temannya itu merutuki Yunho yang begitu panik seolah-olah Changmin hilang di tengah laut. Rupanya Yunho langsung melesat menjemput Changmin meski sebenarnya sudah diberitahu tinggal menunggu saja.

Changmin susah payah menyembunyikan seringai bodohnya melihat Yunho tiba di hadapannya dengan nafas satu-dua karena berlari. Wajahnya terlihat agak nge-blank karena panik tapi kemudian berusaha disembunyikannya. "Nggak nyasar kan hyung?"

"Sempat nyasar tadi," jawab Yunho yang nafasnya mulai stabil. Changmin yang bermaksud bercanda jadi khawatir sungguhan. "Serius?"

"Kwenchana."

"…"

"Kamu jatuh hyung?" Changmin melihat lutut Yunho yang terluka terpapar jelas karena dia memakai celana pendek pas lutut. Sepertinya kulitnya tergores batu karena bengkak merahnya mulai berdarah.

"Tadi aku tersandung. Tapi tidak apa-apa kok. Lebih baik kita cepat balik saja."

Yunho langsung main balik badan begitu saja dan Changmin tidak punya pilihan lain selain mengikutinya berjalan pelan. Luka itu memang terlihat sepele namun Changmin yakin pasti lama-lama terasa nyeri jika kulit digerakkan untuk jalan karena lukanya masih baru. Meski di tanah landai baik-baik saja tapi begitu menanjak tampak Yunho berjalan terpincang. Changmin tak tahan lagi dan menyambar tangan Yunho, menghentikan langkahnya.

"Berhenti dulu hyung," Changmin menarik paksa Yunho hingga duduk di tanah bersamanya. Semula Yunho ingin protes tapi tidak jadi karena tahu itu percuma. Changmin lalu mengeluarkan sapu tangannya dan mengikat luka itu cukup kencang hingga Yunho meringis. Namun beberapa detik kemudian ia merasa lukanya tak terlalu menyiksa lagi.

Lalu mendadak hening dalam posisi mereka masih duduk berhadapan dengan canggung.

Yunho berusaha tidak memandang Changmin dan mulai beranjak tapi ditahan.

"Yunho-ya…." Changmin tahu-tahu menggenggam tangan Yunho erat. Panggilan hanya nama itu membuat hati Yunho mencelos. "Aku sudah tidak punya cara lagi untuk meyakinkanmu. Aku hanya bisa bilang, aku tidak akan menyakitimu. Aku akan melindungimu, apapun yang terjadi nanti. Aku belum akan menyerah."

Yunho yang tanpa ekspresi ditatap oleh Changmin. Tajam dan penuh keyakinan.

"Percayalah… kamu pantas mendapatkanku."

Yunho mulai menunjukkan emosinua, menatap penuh keraguan, tapi mata Changmin malah tersenyum membentuk bulan sabit yang tidak sinkron. Mata itu tersenyum hanya untuknya, di sana hanya ada sosoknya dan semakin mendekat padanya hingga tak berjarak. Changmin sama sekali tak peduli mereka di tempat terbuka.

Permukaan bibir Changmin menyentuh milik Yunho dan membuat mereka berdiri kaku. Lembut dan tenang. Bukannya menjadi romantis, tindakan Changmin itu malah membuat situasi mereka jadi tegang apalagi Yunho tak merespon.

Hening.

Changmin menarik tubuhnya takut-takut, merasa gamang namun memberanikan diri menatap Yunho. Sedangkan pria itu diam tanpa ekspresi, tanpa mau menatap balik. Tiba-tiba udara segar perkebunan teh terasa begitu menyesakkan bagi Changmin dan kini dia mati kutu tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Untunglah pengganggu paling klasik sedunia datang, ponsel Changmin berdering.

"Ya hyung?...oh aku tadi ingin jalan-jalan saja tapi tidak tahu kalau jalan sejauh ini. Iya Yunho-hyung bersamaku. Iya, iya kami sedang jalan buat balik," jawab Changmin sekenanya tanpa selera. "Lututnya luka jadi kami tidak bisa jalan cepat."

"Ayo kita balik," ajak Changmin canggung yang dijawab tanpa kata oleh Yunho yang berjalan di belakangnya, karena memang jalannya setapak hanya untuk satu orang. Diam-diam dia memperhatikan punggung Changmin. Yunho merasa punggung itu terlihat lelah meski tampak tegap oleh kemudaannya menantang dunia hiburan yang penuh kepalsuan. Changmin kini sudah berani menaklukkan kepalsuan itu terhadapnya. Menyeberangi zona aman dan nyaman demi dirinya.

Yunho ingin memanggil Changmin namun diurungkannya.

Mereka akhirnya berjalan dalam diam sampai di mobil yang sudah siap berangkat ke penginapan. Sepanjang perjalanan suasana diam tak nyaman memenuhi seluruh mobil dan membuat lainnya saling melirik penasaran. Yunho pura-pura tak tahu tatapan penuh tanya teman-temannya.

Setelah perjalanan satu jam yang terasa satu tahun itu akhirnya mereka semua tiba di penginapan di wilayah pedesaan. Mereka menyewa satu cottage yang berisi dua kamar dan satu ruang tamu dengan kamar mandi dan dapur kecil. Awalnya Changmin berencana mengincar sekamar dengan Yunho dan Ahn Soo tapi sekarang berubah pikiran. Changmin tak tahu Yunho merasa sedikit kecewa ketika menjawab nama Dong Jik ketika ditanyai ingin tidur di kamar siapa.

Sesuai rencana, malamnya mereka menikmati makan bersama dengan bahan yang dibeli di perjalanan. Changmin mentraktir membelikan daging iga sapi yang kini dijadikan rebutan di meja makan. Suasana benar-benar santai sekarang berkat makanan, juga karena Changmin dan Yunho memisahkan diri.

Changmin ingin kesal tapi berusaha dilupakannya dengan bercanda. Ini lebih sulit dari yang dibayangkannya, tapi dia sudah berjanji sebelumnya untuk tidak mengeluh. Kekecewaannya sedikit terobati mendengar gelak tawa Yunho saat bercanda dengan lainnya.

Sayang, tawa itu bukan karena dia.

.

.

.

Hari kedua dan kini rombongan hore berhasil tetap menuruti rute semula yaitu ke hutan bambu.

Kali ini suasana sudah kembali ceria, kalaupun di dalam mobil hening bukan karena diam yang canggung. Tapi Changmin dan Yunho tetap duduk dipisahkan Ahn Soo di tengah. Untunglah jaraknya tak sejauh ke kebun teh sehingga mereka cepat sampai.

Meski kejadian kemarin masih meninggalkan rasa tak nyaman diantara mereka namun Changmin tak menyerah. Setidaknya dia tidak ingin merusak suasana liburan ini demi tim dance-nya. Changmin berusaha kembali bersikap ceria dan untungnya Yunho juga mulai bisa bercanda.

Changmin pun terus-terusan mencuri pandang ke arah Yunho saat menginjakkan kaki di hutan bambu karena orang itu cenderung menghindarinya sedari berangkat tadi. Changmin berusaha mendekati Yunho yang terus menempel dengan lainnya. Changmin sudah sengaja tidak mengajak Woo Hyuk namun manajernya malah menawarkan, untunglah dia ada pekerjaan sehingga tidak bisa ikut meski sempat memandangnya curiga.

"Aku sudah tidak ingat kapan terakhir kali ke sini, saat masih sekolah sepertinya, bersama adikku," Yunho bicara pada Ahn Soo namun Changmin langsung ikut berjalan di sebelahnya. Yunho hanya melihat sekilas dan kembali acuh.

"Aku malah tidak pernah, ternyata cakep begini ya tempatnya," Ahn Soo benar-benar menikmati pemandangan yang terkurung bambu nan hijau. "Kalau Changmin-shii pasti sering ke sini ya?"

Changmin ingin bersorak karena akhirnya diikutkan dalam pembicaraan, tapi dia tetap berusaha menjawab tak berlebihan. "Aku juga sudah tidak ingat kapan, yang pasti ke sini untuk syuting iklan."

Taman bambu ini sebenarnya dulu adalah sekolah confusius yang ditata ulang agar cocok untuk destinasi wisata. Di dalamnya terdapat paviliun, pusat observatory, kolam serta air terjun buatan. Pengunjungnya juga dapat mencicipi teh Jukro yang ditanam di sela-sela pepohonan bambu. Keindahan taman bambu itu makin lengkap dengan latar belakang gunung Seonginsan.

Secara natural rombongan 6 orang itu terpisah saat berjalan-jalan santai di sepanjang walking path yang panjang dan luas. Changmin juga berhasil menyingkirkan Ahn Soo dengan halus hingga Yunho baru tersadar hanya berduaan ketika sudah jauh terpisah dengan yang lainnya.

Berdua di tempat sepi. Nice.

Yunho memberikan tatapan kesal pada Changmin ketika sadar sudah dijebak. Changmin sendiri dengan cueknya hanya membalas dengan senyuman memangnya-ada-masalah-apa-? yang akhirnya malah membuat Yunho semakin kesal. Tidak ada kata-kata apapun yang terlontar dan Yunho mempercepat langkahnya untuk meninggalkan Changmin.

Oke, sekarang kesabaran Changmin sudah terkuras habis.

"Yah! Hyung!" Changmin mulai berteriak memanggil Yunho namun tak digubris hingga terpaksa ia berlari kecil mengejarnya. "Yunho-shii! Aish….Yunho-yah!"

Tak disangka, panggilan terakhir itu akhirnya bisa membuat Yunho langsung berhenti mendadak hingga Changmin nyaris menubruknya. "Jangan memanggilku seenaknya!"

"Coba kalau kamu langsung berhenti sejak aku panggil hyung kan aku tidak perlu memanggilmu asal-asalan," Changmin membela diri sambil menarik tangan Yunho yang jelas ogah menurut.

"Yah! Kamu mau bawa aku kemana?!"

"Hyung jangan berisik mentang-mentang sepi," Changmin mengeratkan pegangannya hingga Yunho mendesis kesakitan padahal dia tidak berontak. "Tenang, aku tidak akan memperkosamu."

Jaminan tidak diperkosa itu tidak membuat Yunho lantas tenang ketika nyatanya sekarang ia digiring ke sudut semakin dalam dan tentu saja sangat sepi. Ada bangku panjang di sana dan Changmin menarik paksa tangan Yunho agar duduk di sebelahnya.

"Oke, aku minta maaf kalau kemarin membuatmu tidak nyaman. Aku tidak akan memaksamu lagi karena, jujur saja, menyakitkan jika kamu mengacuhkanku begini. Jika kamu tidak ingin membicarakan ini lagi maka aku akan diam. Janji."

Changmin menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan kalimatnya. "Jika kamu ingin menjaga jarak, aku akan menurutinya. Tapi tolong jangan menghindariku."

Kata-kata "tidak akan membicarakan lagi" dan "menjaga jarak" itu malah membuat Yunho tersentak. Tiba-tiba merasa ditinggalkan, dienyahkan sebagai orang yang spesial…dan dia tidak suka itu.

Yunho senang dianggap spesial oleh Shim Changmin.

Yunho ingin itu berlaku untuk selamanya.

Eksklusif.

Changmin masih menatap Yunho menunggu respon selanjutnya karena pria itu tampak mengernyit.

Yunho yakin dirinya juga tak tahu kenapa tapi toh badannya terlanjur digerakkan oleh naluri. Sepertinya naluri tidak ingin ditinggalkan oleh seseorang yang selama ini tulus memperhatikannya dengan menganggalkan status keartisannya. Yunho mencium bibir Changmin. Changmin kaget hingga tanpa sadar tangannya menggenggam lengan Yunho, bukan menghentikannya tapi sekedar refleks.

Keterkejutan itu karena Yunho menciumnya dengan…ganas.

Yunho yang biasanya menanggapinya netral dan cenderung menghindar, tapi sekarang malah mengajak french kiss di tempat publik seperti ini. Ini ciuman pertama mereka pula. Changmin sempat berpikir untuk membubarkan ciuman ini tapi karena ingat wajahnya tidak terlihat dari jalan jadi ya lanjutkan saja.

Posisi duduk sudah tidak jadi masalah dan dengan cepat mereka menyesuaikan diri agar lebih nyaman. Setelah itu dunia fana sudah tidak eksis lagi. Tenggelam dalam sensasi yang membangkitkan seluruh syaraf di sekujur tubuh…di hari seterang ini. Merasa agak salah sih, tapi ya sudahlah.

Suara desiran daun bambu bergesekan sama sekali tidak menenangkan. Suara yang seharusnya untuk relaksasi itu kalah oleh suara kecapan lidah beradu terlanjut lebih dulu masuk ke telinga mereka.

Oh god…why he is so damn good?

….

"Kamu sering ciuman?"

"Nggak."

"Bohong. You're a good kisser," Changmin berusaha mengambil nafas ketika matanya lekat mengagumi wajah Yunho dari dekat. Tampan sekali ya. "You are…amazing."

Yunho menggunakan lengannya, bukan telapak tangan, untuk menutupi mulutnya saat mendengar pujian itu. Changmin tak melihat ada kesan tersipu-sipu di wajah itu maupun tersanjung dan itu membuatnya semakin heran. Tahu-tahu Yunho sudah menyurukkan bibirnya kembali pada Changmin yang menyambut dengan sukarela.

"Entah sudah berapa tahun tidak…kamu yang pertama….laki-laki," Yunho berbicara tak jelas di sela-sela ciumannya. Mereka terus saling mengecap, menjilat dan menggigit apa saja yang terjangkau oleh lidah dan gigi. Tidak ada sungkan-sungkannya. Seperti tak pernah berciuman saja, bahkan untuk seorang Shim Changmin yang kerap melakukannya di depan kamera atau saat flirty di pesta-pesta.

Memang, berciuman dengan orang digilai-gilai memiliki rasa jauh berbeda. Priceless.

Tanpa sadar Changmin sudah merebahkan punggungnya di sandaran bangku dan membiarkan Yunho mendominasinya. Kini Changmin malah yang lebih mirip diperkosa Yunho karena kerah bajunya ditarik kuat. It's feels so sex deprived but I don't fucking care.

"Hyung…." Changmin berusaha melepaskan diri karena telinganya mulai mendengar ada langkah kaki di kejauhan. Menjadi penyanyi memberikanya keuntungan pada telinganya yang sensitif terhadap suara. Changmin tidak mau jadi headline di internet telah berbuat mesum di tempat publik. Bersama laki-laki pula. "Ada yang datang. Hyung~~"

Sayang Yunho tak mendengarnya. Changmin akhirnya mendorong keras tubuh Yunho ketika dia yakin namanya terus diteriakkan berulang kali dari kejauhan. Changmin mengenali sosok itu adalah Ahn Soo.

"Hei! Aku di sini!" Changmin akhirnya menarik perhatian Ahn Soo setelah memisahkan diri dan memastikan sudah rapi. Yunho masih menutup mulut dengan lengannya tapi dengan cepat menggantinya dengan beanie-nya yang jatuh ke tanah karena ulah mereka tadi.

"Maaf, terlalu lama ya? Kami tadi membicarakan hal penting."

"Ah tidak apa-apa, aku khawatir kalau seperti kemarin," jawab Ahn Soo yang tampak tidak curiga. "Yunho-shii…kamu kenapa?"

"Sepertinya aku agak alergi dengan bambu," Yunho menjawab masih dengan menutup mulutnya pakai beanie abu-abunya.

"Kenapa tidak bilang sejak awal? Tapi kamu baik-baik saja kan? Ada yang sakit?" cerocos Ahn Soo yang memang sudah dikenal gampang panik itu.

"Tidak apa-apa. Hanya bersin-bersin," jawab Yunho dengan nada suara stabil yang membuahkan tatapan bertanya-tanya dari Changmin. Jelas Yunho mengalihkan perhatian tapi kenapa pakai topi?

"Oh…sayang sekali ya, padahal ini tempat yang indah," Ahn Soo masih betah mengajak mengobrol saat jalan balik ke mobil.

Changmin akhirnya menimpali obrolan dari Ahn Soo agar tak membuat orang itu curiga. Namun ia masih saja memberikan tatapan kamu-kenapa-sih-? yang hanya dijawab Yunho dengan memutar bola matanya. Jengah.

Tak lama kemudian ponsel Changmin berbunyi dan menampilkan chat dari Yunho.

"Kamu membuat bibirku bengkak. STUPID!"

Changmin memandang Yunho dengan tatapan tak percaya meski membuat wajahnya memerah malu dan salah tingkah sendiri. Bahkan message itu tak sanggup dijawabnya. Peduli amat Ahn Soo melihatnya senyam-senyum bodoh.

Akhirnya rombongan hore itu melanjutkan perjalanan dengan Changmin dan Yunho duduk dipisahkan Ahn Soo yang heboh sendiri. Yunho yang mengganti beanie dengan masker pemberian lainnya duduk membuang muka ke jendela. Changmin dan Yunho berusaha tidak saling melirik agar tak ketahuan. Aneh memang, mereka belum berbicara namun secara natural sudah paham untuk langsung merahasiakan hubungan ini. Sepertinya benar-benar jodoh, batin Changmin menutupi seringainya dibalik tangannya yang menyandar jendela mobil.

Eh?

Changmin tiba-tiba melirik Yunho dan beberapa detik menyadari kenapa pria itu langsung menyembunyikan mulutnya hingga sekarang. Damn! Tanpa menunggu waktu lama dia langsung mengirim pesan ke ponsel Yunho.

CH : Yah! Copot maskermu sekarang juga.

YH: Jangan harap

CH: Pasti sekarang kamu sedang tersenyum bodoh.

YH: Dasar sirik ;p

Changmin bersumpah melihat sekilas pipi Yunho yang memerah sebelum memalingkan wajahnya. Ternyata sejak awal dia memang sengaja menyembunyikan wajahnya agar bebas tersipu-sipu atau cengar-cengir bodoh tanpa perlu menutupinya. Kini tinggal Changmin sendirian berusaha keras menjaga ekspresinya tetap cool. Sialan!

"Kalian chatting?"

"…."

"Kalian berdua bicara pake hape?"

"…."

Changmin ingin sekali memukul kepala Ahn Soo atas pertanyaan cerdasnya itu. Untung dia pernah main serial jadi tidak keburu menuruti refleksnya dan tetap bersikap cuek. "Nggak. Aku chatting dengan Kyuhyun."

Ahn Soo kemudian berpaling menatap Yunho dengan menyelidik tapi hanya diberi tatapan datar dan akhirnya case closed.

Changmin dan Yunho sukses saling diam dan bersikap seperti tidak pernah terjadi hal istimewa hingga mereka pulang ke Seoul. Changmin hanya memberinya pesan untuk datang ke suatu restoran untuk menemuinya saat tengah malam setelah semua pekerjaan selesai, 3 hari kemudian.

.

.

.

Yunho benar-benar tak tahu kenapa melakukan hal ini, menuruti perintah Changmin pergi ke sebuah yang hanya diketahuinya bernama Nobody Knows. Tadinya dia bertanya-tanya dalam hati kenapa memberi nama seaneh itu untuk bisnis resto, namun jawaban langsung didapatnya ketika memasuki resto atau kafe atau apapun sebutannya itu.

Sesuai perintah, Yunho menyebutkan nama Changmin pada pelayan yang berdiri di kasir. Ia kemudian digiring ke bagian dalam yang lebih remang dan harum seperti aromaterapi. Berbeda dengan bagian depan yang terang dan interior manis, ternyata di lantai dua bergaya elegan dan privat. Yunho agak sedikit tak nyaman ketika melewati ruangan seperti bilik-bilik yang meski tanpa pintu namun terkesan tertutup, membuatnya membayangkan apa saja yang bisa dilakukan di sana.

Membayangkan apa yang akan dilakukannya bersama Changmin di sana.

"Silahkan Yunho-shii," ucap pelayan mengembalikan dunia Yunho ke tempatnya semula. Lalu Changmin muncul di hadapan Yunho, mengenakan baju kasual yang sangat kontras dengan tampilan interior restoran ini. Sepertinya selesai kerja. Tapi setidaknya itu membuat Yunho merasa tidak seperti alien karena hanya mengenakan jaket kaos hoodie belel dan topi sport.

"Apa ini kencan?"

Yunho menaikkan alisnya melihat beberapa hidangan manis dengan setting candelight dinner di meja. Untung tidak ada buket mawar dan sekotak cokelat. Setahunya Changmin sebenarnya romantic, tapi bukan tipe seperti ini.

"Salahkan Danny-shii, yang punya tempat ini, karena tahu-tahu seperti ini saat aku datang. Aku hanya bilang pesan tempat untuk ketemu pacarku kok."

Pacar?

Jika membalas ciuman berarti otomatis jadi pacar ya?

Tapi Yunho diam saja dengan pemikirannya itu dan memilih menyipit memperhatikan Changmin dengan tajam. Untung yang dipandang segera merasa.

"Oke…aku mengaku. Ini memang aku. Bodoh ya? Aku hanya…." Tiba-tiba saja Changmin nampak begitu gugup, berbeda jauh dengan yang dikenal Yunho sebagai artis. "Hanya ingin membuatmu senang."

Yunho tersenyum teduh mendengar penuturan kliennya yang kini tahu-tahu sudah jadi pacarnya itu. "Gomawoyo, tapi kurasa lebih baik kita jalani biasa saja. Aku merasa agak aneh."

"Tapi aku menyukai ini kok," sambung Yunho langsung karena melihat roman muka Changmin yang sedikit kecewa. "Romantis juga ya kamu."

Siapapun suka dipuji apalagi masih baru saja jadian seperti ini, Changmin pun tidak bisa menyembunyikan cengirannya yang mungkin terlihat seperti anak SD malu-malu. Tapi pada akhirnya mereka malah duduk bersebelahan dengan canggung karena mendadak hening. Ini jadi pertemuan pertama mereka setelah ciuman di hutan bambu Juknokwon, 3 hari lalu. Setelah itu mereka telpon dan chatting juga tapi tidak intens. Kesibukan yang membuat Changmin terpaksa harus menahan diri.

Akhirnya Yunho yang berinisiatif memecah keheningan diantara mereka. "Mulai sekarang kamu tidak usah bersikap sok berantakan. Kamu itu nggak bakat. Gagal," Yunho menyindir segala tingkah ajaib Changmin selama tamasya bersama geng hore kemarin.

Changmin terdiam beberapa detik baru kemudian tertawa. Keras sekali sampai refleks bertepuk tangan. "Kok kamu tahu hyung? Bagaimana kamu tahu?"

"Tentu saja. Biasanya kamu itu kalau tidur seperti ikan mati, diapa-apakan tak bereaksi, tapi kemarin itu badanmu bergerak-gerak terus. Pasti bawah sadarmu tidak nyaman berada di tempat seperti itu. Masih banyak lainnya yang aneh juga."

Changmin pasti masih meneruskan tawanya kalau saja Yunho tidak menyentuh wajahnya. "Jangan memaksakan diri. Aku tahu kita bertolak belakang dan aku tidak masalah," ibu jari Yunho membelai pipi yang belakangan ini semakin chubby itu.

Sesaat Changmin merasakan wajahnya memanas dan jantungnya berdetak lebih cepat namun disusul rasa nyaman yang menyenangkan. Dia mengusap tangan Yunho di wajahnya dan menggenggamnya.

"Sejauh itulah aku berusaha menarik perhatianmu hyung."

"Kalau begitu jangan diulang. Itu tidak cocok buatmu."

Yunho mengakhiri kalimat dengan sebuah ciuman di bibir Changmin, manis dan ringan. Changmin merasa agak sedikit aneh dengan hal ini, sejauh ini Yunho yang selalu lebih dulu berinisiatif menciumnya. Terlihat terbiasa melakukannya.

"Berapa kali kamu pacaran hyung?"

"Belum pernah," jawab Yunho singkat yang membuat Changmin mengkerutkan alisnya. "I know…I know…kalau mau tertawa silahkan saja."

"Bohong. Kamu kan menarik hyung."

"Tapi aku tidak tertarik."

"Kenapa?"

"Sepertinya terlalu patah hati saja."

Changmin melihat jelas Yunho tersenyum kecut saat mengatakannya. Terlalu sering patah hati sepertinya hingga berakhir jadi manusia pesimis terhadap cinta. Refleks Changmin menggenggam tangan itu dan digenggam balik.

"Pertama kali menyukai seseorang harus langsung membunuhnya hanya karena orang-orang bilang itu tidak normal. Sesuatu yang tidak lazim tertarik dengan sesama laki-laki. Dan itu terulang lagi tanpa bisa berbuat apa-apa. Jadi lebih baik diam saja kan."

Suasana yang seharusnya romantis itu mendadak jadi gloomy meski Changmin senang Yunho mau terbuka menceritakan perasaannya tanpa dipancing. Yunho meneguk seluruh isi gelasnya dan terdiam sebentar. "Yang pertama itu kamu. "

"Lucu ya?"

Changmin membelalakkan matanya tak percaya. Jadi selama ini mereka sebenarnya saling tertarik? Tiba-tiba ia ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok. "Karena itu kamu bersikap lunak padaku dulu?"

Yunho menggangguk menatap meja. "Salah satu temanku sadar aku sering memperhatikanmu. Tadinya dia semakin kasar padamu karena kesal padaku, tapi lama-lama dia mengerti dan berusaha menjauhkan lainnya agar tidak memalakmu. "

Samar-samar Changmin ingat memang ada salah satu diantara preman sekolah itu yang kadang baik hati padanya selain Yunho. Namun karena Yunho selalu berusaha menghindar menatapnya membuat Changmin lebih memperhatikannya. Tapi dia tak menyangka Yunho juga diam-diam memperhatikannya.

"Berarti kamu tahu aku kadang menguntitmu?"

Yunho mengangguk namun kali ini balas menatap Changmin. "Tapi mereka bilang itu tidak normal jadi aku tidak mendekatimu. Lagipula saat itu aku juga takut kamu menolak dan malah menjauhiku."

"Hyung…berarti pertemuan kita sekarang ini memang takdir, jika memang hatimu bilang ingin bersamaku maka tak perlu menghindar lagi," Changmin menangkupkan kedua tangannya di pipi Yunho. "Kamu berhak untuk bahagia hyung."

Mata Yunho memantulkan cahaya lilin, mendengarkan suara Changmin yang begitu berbeda saat mengatakannya. Suara yang Yunho yakin tak pernah digunakannya di publik dan kini hanya untuknya. Suara yang sangat dalam. Yunho memejamkan matanya saat pria itu menciumnya lembut.

Semua orang berhak untuk bahagia hyung.

Kalau kebahagiaanmu itu aku maka kamu berhak untuk memilikiku.

.

.

*TBC*

.

.

Author's speak up!

Inilah efek mendengarkan "Jodoh Pasti Bertemu"-nya Afghan lalu mendadak diingatkan "Menanti Sebuah Jawaban" dan "Tak Hanya Diam"-nya Padi #okesip #jumpintothecliff

Begini….saia tetiba berubah pikiran. Sebelumnya saia bilang akan bikin ini sangat klise dan chapter sedikit. Awalnya ingin tamat saat MinHo jadian tapi ternyata saia terlanjur suka dengan cerita ini jadi bakal aku terusin. Entah akan berakhir di chapter berapa tapi yang pasti isinya akan very-very-domestic dan very-very-MinHo dan tetap klise ^^"

Ano…saia juga minta maaf kalau ada yang merasa aneh kenapa tiba-tiba banyak kissu-kissu atau malah kissunya yang aneh alias ga natural ^^" Sebenarnya aku tidak berencana begitu tapi mereka memang membutuhkannya. Maaf kalau membuat tidak nyaman. Chapter selanjutnya masih banyak kissu tapi setelah itu akan mulai konflik baru *sok ngasih bocoran*

Sekali lagi saia ucapkan terima kasih yang sudah review. Kalian unyu-unyu sekali! *kasih permen atu-atu*.

Selamat datang juga buat para reader baru. Senang bertemu kalian! Semoga betah ya~ *kasih permen lagi*

Ah saia jadi diabetes~